Rabu, 20 Maret 2013

sebelas duabelas

2

"Yaaah, dompetku ketinggalan, Yang.."

"Yaudah, aku aja yang bayar, nyantai aja..", sahut Anisa sambil tersenyum. Aku yang duduk di depan mereka berdua cuma bisa membatin. Anisa kok ya, mau-mau aja dikadalin sama Freno. Dikit-dikit minta bayarin, dikit-dikit lupa bawa dompet, dikit-dikit kok terus, lama-lama ya jadi banyak lah kalau gitu caranya.

"Aku bayarin kamu juga, ya Far?", tawarnya.

"Nggak usah, Nis. Makasih ya, tapi walaupun aku nggak bawa dompet, duitku aku kantongin kok, tenang aja..", jawabku sambil melirik ke arah Freno, sedangkan yang dilirik balas memelototi aku. Aku cuek saja, kulahap sisa pentol di mangkok baksoku.

Aku nggak habis pikir sama orang-orang macam Anisa. Entah mungkin mereka terlalu baik hati, jadi bisa dengan mudah dimanfaatkan sama orang yang nggak modal kayak si Freno. Kalau aku jadi Anisa, udah aku putusin tuh dari dulu. Enak aja, emang aku siapanya, bisa diminta bayarin ini-itu. Apa mungkin itu ya yang namanya terlalu cinta? Ah, entahlah. Untungnya sampai sekarang aku nggak punya pacar yang kayak begitu. Mmm, nggak punya pacar sih, lebih tepatnya. Males banget deh, kalau punya pacar yang parasit banget macam Freno.

"Halo? Far, sibuk nggak?"

"Nggak kok, Do, kenapa? Mau beli pulsa lagi?"

"Hehehe, iya.. Penting banget, nih. Minggu depan aku bayar semua, sekalian yang bulan kemarin, em, bulan kemarinnya lagi juga.. Ayo lah, Far, kita kan temen dari kecil.."

"Iya, iya, kayak biasanya ya? ke nomermu yang ini, kan?"

"Iya, thanks ya, Far!"

Klik! Telepon diputus. Aku menepuk jidatku sendiri.

(My) Impossible Journey

0

Positif thinking itu bekal yang sangat penting banget sekali dalam menjalani hidup. Aku berkali-kali mendapatkan pelajaran mengenai hal yang satu ini. Kadang, aku merasa takut akan sesuatu yang belum terjadi. Kadang-kadang, terlalu memikirkan risiko itu bisa berakibat buruk, sih. Makanya, aku kudu sering mengalami pelatihan buat hal ini. Syukurnya, pelajaran mengenai positive thinking ini muncul melalui perjalanan-perjalanan yang amazing. Perjalanan-perjalanan yang awalnya kupikir impossible tapi ternyata sanggup dilalui.

Aku suka jalan-jalan ke banyak tempat. Dan kebetulan, aku juga punya banyak temen (yang udah kuanggap keluarga) yang doyan mbolang ke mana-mana. Perjalanan pertama barengan sama mereka adalah ke pulau Sempu. Perjalanan yang sudah lama direncanakan dan nyaris gagal itu akhirnya dihelat di bulan Februari tahun lalu. Kita pergi ber-11, 6 orang cewek dan 5 orang cowok. Actually, kita belum pernah ke sana, cuma berbekal informasi dari internet. Setelah sampai di Sempu, kita semua terbelalak. Bayangan medan kayak Cuban Rondo (yang udah berkali-kali kita datengin) ternyata salah besar. Ini hutan men, hutan! Asli hutan, cagar alam. Singkat cerita, di sana tuh kita belajar survive banget. Banyak kejadian yang baru pertama kali itu kita alami, salah satunya adalah bermalam di tengah hutan. Tanpa tenda! Perjalanan di sana sungguh-sungguh mengesankan. Dengan sepatu-sepatu yang udah nggak karuan bentuknya, lumpur yang setinggi lutut. Semua hal itu sukses bikin aku pengen pulang. Aku sempet nangis di sana, takut nggak bisa pulang. Hahaha. Tapi aku bersyukur banget punya mereka. Mereka yang terus membantu dan menyemangati biar aku nggak takut dan sanggup ngelanjutin perjalanan. Kalo mau tau perjalanan kita di Sempu, baca deh part 1 nya di sini , part 2 nya di sini, dan part 3 nya di sini. Walaupun dengan keringat dan air mata (lebaaayy), akhirnya aku bisa juga nyampe Segara Anakan. Dan pastinya bisa kembali pulang di sini, di Surabaya tercinta. Hehehe. Ketakutanku pun nggak terbukti ternyata.

Perjalanan berikutnya, pelajaran berikutnya. Bulan November lalu, kita (aku sama mereka) mutusin buat mengadakan perjalanan lagi. Kali ini, tujuannya adalah Bromo. Perjalanan ke Probolinggo kita tempuh naik motor, iring-iringan gitu deh, seru pokoknya. Nah, di Probolinggo ini, menurut salah seorang anggota perjalanan yang pernah KKN di sini, ada air terjunnya. Jadilah kita juga tergoda buat ke sana. Akhirnya, kita beneran ke air terjun. Berbekal anak-anak kecil yang ikutan buat jadi penunjuk jalan, kita jalan dengan semangat menuju air terjun. Di luar dugaan, jalan menuju ke air terjunnya kok "amazing" banget gitu. Naik, turun, berpasir dan berbatu-batu. Walaupun nggak ada lumpur selutut kayak di Sempu, tapi naik-turunnya itu lebih parah, ada yang hampir 90 derajat. Ya walaupun nggak tinggi-tinggi amat, tapi kalo jatuh ya lumayan -_-. Lagi-lagi, aku ini terlalu mikirin "gimana nantinya". Gimana kalo jatuh lah, gimana nanti kalo nggak bisa naiknya lagi lah. Ya gitu deh pokoknya. Sometimes aku emang kebanyakan mikir gitu orangnya. Tapi yaaa ternyata, kembali lagi, pikiran-pikiran yang semacam itu ternyata hanyalah ketakutan yang berlebihan.

Sebenernya masih ada beberapa perjalanan yang bikin aku belajar, bahwa, kebanyakan mikir itu bisa menghambat. Hehehe. Perhitungan memang perlu dilakukan, tapi ketakutan berlebihan itu sama sekali nggak bagus. Kadang-kadang, kamu cuma perlu tekad, dan do it! Apalagi kalau orang-orang yakin kamu bisa. Kalau udah kayak gini, bisa dipastikan kalo segala pikiran buruk atau ketakutan itu cuma kekhawatiran kamu sendiri aja. Logikanya gini, kalau orang lain aja menilai kamu bisa (dengan catatan orang lain ini emang udah ngerti kamu dan hal yang kamu takutkan/akan kamu hadapi ya), masa kamu nggak yakin sama dirimu sendiri?

Hidup memang penuh dengan pesan-pesan yang terselubung. That's why, Bacalah! Bacalah pesan-pesan yang mungkin datang dengan cara yang tidak kita sangka. Setelah berhasil membaca, resapi dan pahami. Pasti ada sesuatu yang bisa kita ambil. Lebih dari sekedar tawa, kesenangan, kesedihan, ataupun air mata. Tapi ada sesuatu yang berharga di sana, yang sangat berharga buat kita menjalani hidup..

Selamat memBACA :)

Senin, 18 Maret 2013

tanah mendung hujan

0

tanah tengadah dalam kerinduan
mana rintiknya? mana hujannya?
mana air yang biasa menelusupi tiap celah antara hara dan liatnya?
ah, tanah lupa rupanya
bukankah mendung lebih sering bercengkrama dengan hujan
tanah selamanya akan di bawah, cuma bisa tengadah
ia tak mungkin jadi mendung, di atas sana, jauh

jadi tanah masih tengadah
diuapkannya rindu sampai ke awan
berharap pesannya sampai ke titik-titik air
ia merindu hujan
rindu sekali

Rabu, 13 Maret 2013

the wedding :)

4

Ruangan ini begitu indah, ya begitu indah, dengan dekorasi yang didominasi warna putih. Aku suka warna putih, aku yang meminta nuansa putih dan dia menuruti permintaanku. Beberapa sisinya aku meminta supaya ditambahkan nuansa warna biru, warna favoritku dan dia. Sekali lagi, dia menurutiku. Ah, aku mungkin meminta terlalu banyak hal padanya. Tapi, dia tak tahu, aku pernah meminta lebih banyak hal pada Tuhan, sampai Tuhan mengirimnya padaku.

Sosok yang bersahaja. Aku suka lelaki tampan, tapi dia tidak terlalu tampan. Aku suka menonton kontes binaraga di televisi, tapi dia berperut rata, yah, nyaris semuanya rata, sih. Tapi aku sangat nyaman ketika bersandar di bahunya. Aku suka lelaki puitis, sementara dia tidak puitis, hanya saja dia romantis dengan caranya sendiri. Cara yang membuatku selalu bisa merasa spesial ketika bersamanya. Aku meminta banyak hal pada Tuhan, dan Tuhan mencukupkan, merangkum semua permintaanku dalam sosoknya.

Is it Love that brings you here or Love that brings you life?
Oh there's Love, there is Love

Aku bertanya pada ibu mengenai datangnya hari ini. Lalu ibu bilang, bahwa hari ini bukanlah hari yang biasa. Bukanlah hari yang aku habiskan dengan berfoya-foya. Tapi hari ini harus dinikmati dengan sakralnya doa dalam suka cita. Ibu bilang, akan ada orang yang kepadanya aku harus mengabdi seumur hidupku. Memberikan cinta, eh, bukan, menyalurkan cinta dari Tuhan untuknya yang dilewatkan melalui aku. Aku berdecak, antara kagum, haru, dan tak percaya, kalau hari ini akan secepat ini datangnya.

"Saya terima nikah dan kawinnya Azalia Faradina...."

Oh the marriage of your spirits here has caused Him to remain
For whenever two or more of you are gathered in His name
There is Love. Oh there's Love.

So simple ;)

2

Sore yang indah, dengan sedikit capung beterbangan di atas kepala. Sepertinya akan hujan, capung itu penanda, demikian yang ibuku sering katakan kalau aku kecil. Tapi aku tidak pernah takut hujan, toh nanti akan terang juga. Selain itu, aku juga sangat suka pelangi. Dan setiap orang di dunia juga tahu kalau pelangi hanya akan muncul ketika rintik-rintik air dibiaskan oleh terik matahari. Yeah, pelangi butuh hujan. Akupun butuh hujan untuk melihat pelangi.

"Mey, listen to me! I got some bad things today!", Arina merengut sambil duduk di sampingku. Akupun mengambil tasku dan meletakkannya di pangkuan, memberi tempat untuk Arina.

"Kenapa, Na? Ada apa?"

"Aku tadi kena macet parah di jalan, jadinya telat kuliah. Mana dosennya Bu Mira lagi, nggak boleh masuk deh aku. Nggak cukup di situ, tadi di jalan juga aku kena cipratan genangan air, basah nih celanaku."

"Udah? Itu aja?"

"Belum! Tulisanku nggak lolos seleksi buat ikut seminar nulis di Jogja..", lanjutnya sambil tetap merengut. Aku selalu merasa lucu jika melihatnya seperti ini, Arina selalu meledak-ledak.

"Tadi pagi, aku dapet telepon dari PT Infotel, proposal penelitian skripsiku ditolak. Aku baru mau kirim cerpen ke kompetisi lomba salah satu penerbit di facebook, eh ditolak juga gara-gara lebih 5 menit dari deadline. Aku juga nggak jadi ikut magang jurnalistik di Jakarta, salah satu peserta yang tadinya ngundurin diri ternyata jadi ikut, jadi kuotanya penuh, aku nggak jadi dimasukin."

"Whaaat?? I'm sorry to hear that ya, Mey..", kata Arina sambil membelai pundakku. Ekspresi merengutnya seketika berubah menjadi iba.

"Ngapain? I'm okay kok. Aku nyantai dan seneng-seneng aja.."

"Lah kok bisa gitu?", tanyanya heran.

"Yaiyalah, ini yang namanya hidup, Rin. Semua ada masanya toh. Ada masa kita berhasil, ada masa kita gagal. Ada masa kita seneng, ada masa kita sedih. Nikmatin aja, kalau lagi gagal, anggep aja kita lagi ngabisin jatah gagal kita.. So simple..", jawabku sambil tersenyum.

La la la la la la la life is wonderful
Ah la la la la la la life goes full circle
Ah la la la la la la life is wonderful
Al la la la la

Sabtu, 02 Maret 2013

:) :)

4

aku memimpikan malam yang cerah bertabur bintang
aku dan kamu berada di teras rumah atau di taman kecil belakang rumah
dua gelas teh hangat
aku sedang terkagum-kagum dengan bintang di sebelah
kamu yang bermain gitar dan menyanyikan satu lagu untukku

aku memimpikan satu hari
di mana kita sholat berjama'ah
aku mencium punggung tanganmu setelah rakaat terakhir
lalu kita tadarus, mengaji lagi dan lagi mengenai firmanNYA

aku memimpikan tentang dini hari yang romantis
kita tenggelam dalam penghambaan kepadaNYA
mengabaikan kantuk untuk mendapat keridhaanNYA bersama-sama

aku memimpikan suatu hari
ketika percobaan memasakku gagal
kamu tetap tersenyum dan mengelus pundakku
sambil berkata "besok kita coba lagi sama-sama ya" :)

aku memimpikan pagi hari yang indah
siluetmu sedang membuka tirai jendela
lalu mengecup keningku dan berkata "selamat pagi, cantik"
sekalipun wajah bangun tidurku adalah wajah teracak-acakan yang bahkan aku sendiri tidak suka

iya
aku memimpikan banyak hal untuk hari-hari setelah aku menjadi kekasih halalmu kelak :)

:)

0

jadi dari manakah awalnya?
sebab hari-hari indah seperti tidak mengenal lagi bagaimana dia dimula

hari-hari di mana rindu menjadi bingkai
terimakasih karena mengajarkan untuk menikmati rindu dengan indah
serupa air yang tak kan bertanya pada awan mengapa dia mengangkasa
aku yakin, jikapun ia bisa merindu langit, memaksa awan berubah menjadi mendung adalah ketidakmungkinan
karena ia mungkin ia menikmati rindunya

hari-hari di mana pertemuan dua-lima-menit-an terasa begitu berarti
terimakasih karena mengajarkan untuk selalu merasa cukup
seperti embun yang sempat menyapa pagi
untuk kemudian hilang lagi dipupus panas mentari
tapi esok dia kan datang lagi, kembali

terimakasih karena mengajarkan untuk menghargai dan mensyukuri hal-hal kecil
membuat waktu dan percakapan menjadi sangat berarti

entah bagaimana caranya semua ini terasa istimewa

seperti satu telepon pagi di suatu hari
hari yang spesial
membuatku spesial karena merasa diingat dan diberi hadiah

sama seperti permulaan yang tidak lagi kita kenali
semoga ini juga tidak mengenal akhir
bukan berharap padamu, tapi padaNYA, Sang Pengatur segala :)

Senin, 25 Februari 2013

Sempu part 3: Kembali Pulang

0

Pagi di hari ke tiga, hari di mana kita harus pulang. Kita bangun pagi-pagi, berkemas, bersiap-siap. Beberapa orang mulai bongkarin tenda, sementara yang lain masak buat sarapan. Mie instan, lagi-lagi mie instan. Tapi kita bersyukur, soalnya, jatah sarapan ini ternyata lebih banyak dari sehari sebelumnya. Salah perkiraan, haha, tapi masa bodo, yang penting perut ini bisa keisi. Selama di Segara Anakan, baru pas makan pagi itu aku ngerasa kenyang. Hari ini aku semangat banget, aku sudah bertekad untuk nggak nyusahin temen-temen yang lain kayak pas berangkatnya. Di benakku cuma ada orang-orang rumah, pengen banget cepet-cepet ketemu mereka.

Sebelum pulang, kita meninggalkan beberapa benda di sini. Aku ninggalin kaos sama sepatu yang udah nggak berbentuk lagi. Itsna ninggalin kaosnya, sementara mbuli ninggalin jaketnya. Berasa orang kaya deh selama di sini. Berat dikit, buang, kotor, buang, hahahaha. Tapi ya gimana lagi, emang harusnya kayak gitu. Kita pamitan juga sama bapak porter yang ngejagain bocah-bocah di tenda sebelah, kita kasih cemilan juga. Sebagai gantinya, tuh bapak kita maintain tolong buat fotoin kita untuk yang terakhir kalinya di Segara Anakan ini. Pengalaman yang tidak terlupakan bisa berada di sini.

Akhirnya kita berjalan menuju tebing pulang. Belum beberapa jauh jalan, kita ketemu rombongan yang baru nyampe. Wiwid sama Riza yang udah ada di depan pada ngobrol duluan sama mereka. Usut punya usut, ternyata mereka juga bernasib sama kayak kita, alias sempet nginep di tengah hutan. Kitapun meneruskan perjalanan. Kali ini rasanya lebih cepet. Mungkin karena faktor sepatu sewaan juga sih, bikin kita lebih bisa beradaptasi sama keadaan tanah yang licin, becek, dan berlumpur. Emang nyewa sepatu ini adalah keputusan yang sangat tepat.

Di perjalanan, beberapa kali kita berhenti buat istirahat dan minum. Tapi minumnya nggak boleh banyak-banyak, cuma satu atau dua teguk aja. Kalau istiahat pun usahakan jangan sampe duduk di tanah, karena bakalan susah buat bangun lagi nantinya. Beberapa menit berlalu, kita lalu sampai di pohon besar tempat kita nginep sehari yang lalu. Kita ngerasa amaze banget, karena nggak nyangka, kalo tempat kita ber-11 istirahat tuh kecil dan nggak nyaman banget. Aku jadi penasaran, kayak gimana sih pose kita pas tidur di sini, kok ya bisa cukup orang 11.

Nggak pengen membuang waktu, kita ngelanjutin perjalanan. Di tengah perjalanan, kita ketemu sama mas-mas yang ditemenin sama pemandu. Satu orang aja, men. Buset dah. Beberapa kali kita istirahat dan minum. Nggak kerasa, minum udah hampir habis dan kita jadi eman banget sama airnya, berusaha buat nggak minum. Sekitar beberapa puluh meter mendekati tepi pantai tempat kita turun dari perahu dua hari yang lalu, sinyal di hp mulai timbul. Akhirnya anak-anak nyuruh aku telpon pak perahu, biar jemput kita. Nggak lupa pesenan air beberapa botol. Haus banget. Setelah kita ngelihat pohon tumbang di mana kita shock karena “70 meter”, makin semangat buat segera sampe bibir pantai. Wuaaah, nggak kebayang rasanya bisa keluar dari hutan macam itu.

Akhirnya kita semua duduk-duduk di tepi pantai sambil nungguin perahu nomor 15 dateng. Luar biasa, perjalanan yang waktu berangkat memakan waktu sekitar 9 jam, ternyata berakhir dengan manis, cuma 2,5 jam kita selesaikan di perjalanan pulang. Luar biasa! Ini bener-bener jadi pelajaran buat kita, jangan pernah ke Sempu kalo musim hujan. Bahaya. Sembari nunggu perahu, Hendra ngiderin handycam-nya buat ngerekam pesan dan kesan kita tentang petualangan selama 3 hari 2 malem ini. Macem-macem deh kesannya :D

Selang beberapa menit, bapak porter dan bocah-bocah itu muncul. Ternyata mereka juga pulang hari ini. Seperti kemarin, bapak porter itu dikacangin sama mereka dan akhirnya malah ngobrol-ngobrol sama kita. Nggak lama kemudian, perahu kita akhirnya muncul juga! Seneng banget deh! Kitapun pamitan sama bapak porter dan bocah-bocah. Di perahu sudah ada suguhan paling nikmat, AIR! Langsung lah kita serbu itu air botolan, minum sebanyak-banyaknya. Kerasa banget nikmatnya air waktu itu, kan selama di Sempu kita dehidrasi parah.

Sesampainya di Sendang Biru, kita bersyukur banget. Dan, yang jadi jujukan utama adalah, kamar mandi! Ini badan udah lengket semua rasanya kena air laut. Maklum, selama di Segara Anakan kita ngapa-ngapain ya pake air laut. Cuci muka, cuci piring, wudhu juga pake air laut. Kitapun bagi tugas, ada yang ngebalikin sepatu plus ngelapor ke pos penjaga kalo kita udah pada balik dari hutan, ada juga yang bersih diri alias mandi keramas dan segala macam. Setelah selesai mandi dan sholat, kita nungguin elf jemputan dateng. Karena udah nggak tahan, aku ngajak bunda sama itsna buat makan di warung. Perutku udah nggak kemasukan nasi hampir 2 hari.

Sekitar jam 1 siang, elf pun dateng. Kita segera siap-siap pulang. Tapi tiba-tiba, kita dikasi tau bapak-bapak sama ibu-ibu yang jaga kamar mandi, kalo ada anak cowok yang nggak bisa pulang gara-gara uangnya habis. Karena kasian, akhirnya kita nebengin dia. Ternyata dia anak UGM. Kok bisa kehabisan duit? Diapun cerita. Cowok ini penasaran sama yang namanya Sempu dan Tanya sama temennya. Temennya bilang kalo Sempu itu di Surabaya (sesat banget temennya). Akhirnya dia pergi ke Surabaya. Pas udah di terminal, dia Tanya orang, Sempu itu di mana, dan akhirnya dia tau kalo Sempu itu di Malang. Bukannya balik, dia malah nekad pergi. Dia ke sini naik angkot lho. Emang sih ada angkot yang ke Sendang Biru, tapi itu juaraaaang banget. Makanya, orang-orang di sana tadi nyaranin tuh cowok nebeng kita, soalnya bakal runyam kalo dia nunggu ada angkot yang ke sana lagi. Kita cerita-cerita gitu lah selama di elf.

Sebelum bener-bener melaju ke Surabaya, kita mampir ke Alfamart buat beli minum, makanan, sama sedikit cemilan. Mbeliin cowok itu juga, kasian men, dia belum makan, duitnya bener-bener ludes. Pertamanya dia ga mau, sungkan katanya. Tapi, setelah kita paksa dan ancem kalo dia ga mau dia bakal kita turunin di situ, akhirnya dia mau juga makan roti sama minum air.

Di perjalanan pulan, anak-anak masih sempet-sempetnya ngejahilin bunda, nyembunyiin handphone-nya. Bunda udah pasrah kalo hpnya ilang. Dia bahkan udah telpon ibunya. Yah, tapi ternyata mambol yang nyembunyiin, usil banget. Waktu udah deket kota dan ngelihat ada ATM, cowok itu pamitan minta turun. Kebersamaan kami berakhir sampe di situ. Cowok itu turun dan ngelanjutin perjalanannya lagi. Kita cuma bisa doain biar dia selamat sampe tujuan, dan nggak kehabisan uang.

Kita nyampe Surabaya sekitar habis maghrib. Kembali ke kampus. Kampus sepi, soalnya hari minggu. Untung juga sih, pas hari Minggu. Kalo nggak hari Minggu kita bisa dikirain gembel mungkin ya. Hahaha.
Menjejakkan kaki di Surabaya lagi, bersyukur banget. Setelah nungguin Umsi, Sarah, dan Redha yang dijemput, aku dan temen-temen yang lain, yang pada nitip motor di kosnya wiwid, segera menuju TKP. Kita jalan beriringan, dengan penampilan yang udah nggak banget. Ada yang bawa kompor portable, penggorengan juga. Serasa pandangan orang-orang di jalan pada ngelihatin kita. Tapi yah, cuek aja deh ya.
Akhirnya, dari kosan wiwid, perjalanan dilanjutkan ke tujuan masing-masing. Aku sama itsna pulang ke rumah, anak-anak ada yang pergi cari makan. Sepanjang perjalanan, itsna mikir, gimana mau jelasin baju yang belepotan semua nggak karu-karuan.

Banyak hal yang bisa diambil dari perjalanan kali ini. Kita yang emang udah deket karena 2 tahun jadi pengurus hima, malah ngerasa semakin deket banget setelah melalui perjalanan di Sempu. Kita jadi semakin tau sifat masing-masing, makin care satu sama lain. Dalam waktu 3 hari 2 malem, kita jadi berasa kayak keluarga yang udah kenal bertahun-tahun. Makasi banget buat kalian yang udah berusaha sabar ngadepin aku yang nangis di sana. Maaf ya.. Makasi juga buat bunda yang akhirnya nyemplung dalam petualangan konyol karena kita paksa buat ikut.

Dari perjalanan ini, kita udah jadi keluarga. Semoga Tuhan mengekalkan persaudaraan kita semua, ya. Sampai jumpa di petualangan selanjutnya! :D

Sempu part 2: Melanjutkan Langkah Kaki

0


Nggak butuh waktu lama, kita segera beres-beres wajan, kompor, dan barang bawaan lain. Di tempat ini, Itsna memutuskan untuk meninggalkan sepatunya yang sudah nggak berbentuk lagi. Kalo boleh dibandingin sih, sepatuku juga udah nggak berbentuk, tapi aku tetep nggak berani nyeker, jadinya aku pake terus aja itu sepatu. Setelah beberapa orang pipis dulu, kita pun ngelanjutin perjalanan. Mungkin skitar jam 7 pagi, kita lanjut jalan lagi menuju Segara Anakan. Jalannya naik-turun dan masih dengantingkat lumpur serta kebecekan yang sama seperti kemarin.

Sekitar 2 jam kemudian, masih juga belum Nampak tanda-tanda air. Tapi kita semua tetep semangat buat nyampe tempat idaman. Tempat di mana kita mengkhayalkan malam yang sempurna dengan bakar-bakar ikan. Kaki yang sudah lelah dan luka nggak karuan ini pun tetap dipaksakan melangkah. Akhirnya, beberapa menit kemudian, keliatan air, air dari Segara Anakan. Kita makin semangat berjalan. Badanku udah lemes nggak karuan, akhirnya air mataku netes lagi secara nggak sengaja. Bukannya gara-gara aku ngerasa nggak sanggup, tapi lebih karena sedikit “nelongso”, karena liburan yang kita harap menyenangkan bakal jadi begitu berat seperti ini. Tapi aku tetep jalan, aku nggak mau nyusahin. Bahkan Bolet sampe ngebawain tas ranselku, biar aku nggak keberatan, dan bisa jalan lebih cepet. Mendekati Segara Anakan, jalur semakin terjal. Agak susah juga lewat pinggir-pinggir gitu, soalnya tepinya udah laut. Nggak lucu kalo aku nyemplung, kan aku nggak bias renang. Jadi aku benar-benar mengatur langkahku, biar nggak kecebur. Hendra yang udah nggak sabar, malah nyebur dan berenang duluan. Hahaha. Coba aku bisa berenang juga. Di tepi-tepi itu juga aku ketemu sama bapak pemandu yang kemarin, dia nawarin buat nyewa sepatu khusus. Akhirnya aku catet deh nomor hapenya, kayaknya bakal penting dan berguna nih sepatu.

Sekitar sepuluh menit kemudian, sampailah kita di Segara Anakan. Aku rasanya pengen sujud syukur lagi, akhirnya nyampe juga. Aku pun nangis lagi, terharu dan seneng. Aku yang terakhir nyampe. Sementara anak-anak udah pada berenang, ada juga yang ngebangun tenda. Aku langsung ikut nyeburin diri. Seketika itu pula air yang tadinya jernih banget jadi pada keruh. Kena kotoran kita semua itu rek, haahaha. Baju, celana, semuanya penuh lumpur. Kakiku berkerut-kerut semua dan pucet banget, mati. Jempol kakiku rasanya juga kemeng banget rasanya, mungkin karena banyak tertekan buat tumpuan badan. Tapi berendam di air sungguh bias agak mengobati keletihan. Sumpah ini badan rasanya udah nggak banget. Sebentar kita foto-fotoan. Beberapa menit kemudian, aku keluar dari air dan memilih untuk duduk-duduk di tepi pantai sama Bunda. Kita ngobrol-ngobrol. Mengagumi sekaligus menertawakan kenekadan dan kegilaan kami semua. Hahaha. Usut punya usut, ternyata Bunda waktu ke Sempu dulu itu, dalam rangka even sama perkumpulan pecinta alam. Dan seperti yang kita tahu lah ya, kalo anak PA kan latihan fisiknya rutin, dan mereka juga ahli buat survive di keadaan macam apapun. Aku pun semakin menganggap kita semua gila. Tanpa latihan fisik, nggak ada yang tahu medan, tapi nekad berangkat. Tapi Alhamdulillah, Allah masih merestui kenekadan kita dan menyayangi kita. Jadi hari ini, kita masih bisa bernapas, berenang-renang, nyuci baju, tidur-tiduran, dan yang utama adalah, menikmati hasil ciptaanNYA yang luar biasa indah.



Segara Anakan ini serupa mangkuk (kalo dilihat dari atas), pantai yang dikelilingi tebing dan hutan. Tebing di salah satu sisinya, berbatasan sama laut, tebing itu juga berlubang. Jadi, air laut keluar masuk melalui lubang itu, mengisi pantai kecil di tepi pulau Sempu ini. Waktu itu suasana masih sepi, berasa punya pantai pribadi gitu. Pasirnya berwarna keemasan. Hmm, jarang-jarang bisa ke tempat kayak gini.

Awalnya, kita memutuskan untuk pulang hari ini, sesuai dengan rencana. Tapi, pertimbangan kelelahan fisik akhirnya memaksa kita buat rapat kecil-kecilan. Kalo pulang hari ini, risikonya adalah kita cuma punya waktu 2 jam untuk nyimpen tenaga. Sementara kalo pulang besok, elf sudah terlanjur dipesan untuk menjemput hari ini juga. Pasti biaya bakal nambah kalo minta dijemput besok. Sementara hp belum juga ada sinyal. Karena keterbatasan tenaga, kita akhirnya mutusin buat pulang besok hari. Sebagai implikasinya, kita berusaha keras buat ngehubungin bapak sopir elf, minta dijemput besok. Kita mulai nyari-nyari sinyal. Tapi susah banget. Nggak lama kemudian, ada dua orang mas-mas yang baru nyampe. Entah gimana ceritanya, Bolet sama Bunda kok bias kenalan sama mereka. Dan anehnya, hp mas-mas dua itu bias nangkep sinyal. Akhirnya kita pinjem dan minta pulsa mas-mas itu. Aku, Itsna, Bolet, ma Bunda berusaha cari sinyal juga, siapa tahu ada yg duluan bias ngehubungin bapak perahu sama bapak sopir. Selain itu, kita juga pengen ngehubungin orang-orang rumah, biar nggak khawatir, kan nggak jadi pulang hari ini. Setelah beberapa lama mencoba, akhirnya kita bisa ngehubungin semua stakeholder (halah.. hahaha).

Sembari kita nyantai-nyantai, ternyata di tempat ini banyak monyetnya juga, bahkan lebih agresif. Dari kejauhan tampak monyet-monyet bergelantungan ke sana kemari. Beberapa menit kemudian, kita ngumpulin perbekalan masing-masing. Mulai mie instan, air botolan, snack, roti, dan semua logistic yang kita punya. Semua harus cukup buat sampai pulang. Setelah terkumpul, kita ngebagi-bagi mie instan buat tiga kali makan, buat siang ini, malam nanti, sama besok pagi. Harus sabar, makanan bener-bener terbatas. Siang itu, masing-masing kami hanya makan tiga sendok mie instan. Aku yang nggak biasa nggak makan nasi, sebenernya masih lapar buanget. Tapi aku tau, kita semua sama-sama laper, jadi yam au gimana lagi. Aku cuma berdoa biar perutku nggak bereaksi aneh-aneh gara-gara aku nggak makan nasi seharian. Setelah makan. Kita beres-beres, makanan ma barang-barang ditaruh dalem tenda. Habisnya, tadi monyet sempet berhasil nyolong makanan kita. huh. Di sini, aturan monyet makan pisang sepertinya udah nggak berlaku lagi lho. Di sini monyet udah jadi pemakan segala. Ya roti, ya mie instan, bahkan margarine, semua disikat habis sama monyet-monyet. Setelah makan, kita pun sholat. Rasanya beda banget lho. Baru kali itu, aku sholat di pinggir pantai. Sholat untuk pertama kalinya semenjak tadi malam bergumul dengan ketakutan yang amat sangat. Angin semilir, suara ombak laut lepas, benar-benar bikin sholat jadi lebih khidmat. Setelah sholat, kita pada sibuk sama kegiatan masing-masing. Ada yang nyuci baju, tidur-tiduran, ada juga yang nyoba nyari ikan. Yah, gimana lagi, ikan-ikan udah habis dibuangin di sepanjang perjalanan. Bunda nggak ketinggalan juga jadi dokter keliling, ngobatin luka-lukanya anak-anak. Makasi ya bun :3. Nggak ketinggalan, anak-anak jalan-jalan ke tebing, mengunjungi daerah samping samudera. Pemandangannya emang bagus banget, tapi aku nggak ikutan, mau mengistirahatkan kaki.

Siang itu juga kita rundingan, mau nyewa sepatu apa nggak buat pulang besok. Aku nyaranin mending nyewa, karena aku nggak mau aja kakiku sama kakinya anak-anak luka semua (lagi). Yang nggak kalah penting, kayaknya, kalo pake sepatu sewaan itu, langkah jadi semakin cepet karena nggak takut kepeleset. Masih debat juga sih, soalnya harga sewa sepatunya lumayan mahal, 15ribu sepasang. Tapi akhirnya kita semua sepakat kalo jadi nyewa sepatu. Sembari nyewa, kita nitip juga beliin air mineral botol, karena persediaan air udah mau habis. Oiya, di Sempu, kita juga punya cemilan yang dimakan dengan gaya baru yang kita jamin masih satu-satunya di dunia. Karena laper, lagian di alam dan kondisi kayak gini kan semua makanan dan minuman rasanya enak aja pokoknya. Kita nyemil biskuit oops! dikasi kecap pedes. Entahlah gimana ceritanya, tapi rasanya enak kok. Sementara itu, bolet sama anak cowok mulai dobel juga nyelenehnya, sari roti dimakan pake kecap pedes juga, lahap banget juga makannya. Beberapa lama kemudian, mbuli, umsi, sama redha udah masuk tenda, terlelap dengan indahnya.

Agak sore, ada rombongan baru dateng, dari Jakarta. Ada beberapa orang cowok cewek gitu, kalo dari penampilannya sih, mereka kayaknya masih SMA gitu. Anak-anak cowok udah pada seger aja matanya tau ada makhluk-makhluk cantik, langsung deh jelalatan. Hahaha. Bawaan mereka yang bejibun banget dibawain sama bapak porter. Kasian deh liat bapaknya. Bapaknya nyariin tali buat jemuran, bikinin toilet ala kadarnya, udah gitu dikacangin pula sama anak-anak yang jadi tanggungannya di Sempu waktu itu. Akhirnya si bapak malah sering ngobrol-ngobrol sama kita. Hehehe. Sore itu juga aku sama itsna kebelet pipis. Segara Anakan udah mulai rame, banyak orang. Akhirnya kita pake sarung buat nutupin yang lagi pipis. Dibantu sama bunda, kita bertiga bikin toilet ala kadarnya dari sarung dan semak-semak. Darurat banget lah. Cowok sih enak, bisa pipis di botol. Konyolnya, kumpulan pipis di botol itu malah jadi ajang pamer satu sama lain, tebak-tebakan tuh botol punyanya siapa. Hahaha.

Menjelang malem, kita mulai nyumet api unggun. Sembari aku nyebarin garam krasak ke sekitar kompleks tenda yang udah kita bikin. Api unggun ada di tengah-tengah, pas buat menghangatkan diri di pantai yang mulai berangin dingin. Para wanita masak beberapa mie instan buat makan malem. Ada beberapa jenis mie sebenernya, mulai dari indomie veggie, indomie goreng, popmie, dan lain sebagainya, tapi semua dicampur jadi satu. Hahaha. Sebelum makan, kita ngebangunin redha, umsi, sama mbuli yang terlelap sejak siang. Akhirnya, kita makan malam pake mie instan (again and again).

Malam menjelang, air di Segara Anakan pun mulai naik, deket ke pesisir pantai. Suasana malam di sana bener-bener beda dari suasana di kota (ya iyalah). Sepi, angin sepoi-sepoi, dan yang paling indah adalah, lautan bintang di angkasa. Subhanallah banget pokoknya. Langitnya gelap, sekeliling juga gelap, jadi bintang-bintang bisa terlihat dengan sangat jelas. Kita pun memutuskan menikmati malam itu dengan tiduran di pinggir pantai. Sarung-sarung kita bentangkan di pesisir, kita tiduran berjajar kayak pindang. Pemandangan langit bikin kita semua terkagum-kagum. Diiringi mp3 dari hp-nya wiwid, lagu if-you’re-not-the-one mengalun merdu, bikin tambah romantis malam itu. Nggak banyak hal yang kita lakuin, cuma tiduran sambil ngelihat langit, menikmati lautan bintang yang nggak setiap hari bisa dinikmati. Awalnya kita berencana tidur setengah 9, buat nyimpen tenaga sebelum ngelakuin perjalanan pulang esok hari. Tapi, bintang-bintang di angkasa punya daya tarik yang luar biasa, sehingga kita baru pada tidur jam setengah 10. Aku satu tenda sama bunda sama itsna. Cukup lho ternyata :p. nggak ada bantal, tas pun kotor minta ampun, aku cuma bantalan mukena. Aku memejam mata, sambil berdoa dalam hati, semoga perjalanan besok lancar, dan aku nggak nyusahin temen-temen yang lain. Selamat malam, sampai jumpa besok.

Selasa, 05 Februari 2013

Lucky you, Ran Mouri

0



Haai, selamat sore, Ran, lagi latihan bela diri kah?

Hari ini, aku langsung inget Shinichi alias Conan lho, pas tau tema surat cintanya adalah tokoh fiksi. Sumpah aku suka banget sama Shinichi. Dia ganteng, putih, pintar, dan yang paling penting adalah, dia mencintaimu, pasti.

Walaupun cuma lewat komik, aku bisa menangkap perasaan yang Shinichi punya buat kamu lho. Makanya, aku kadang-kadang jadi geregetan sama kamu, kalo kamu masih aja ragu-ragu dan pengen memperjelas perasaan Shinichi ke kamu. Ayolah, Ran, mungkin itu memang cara Shinichi untuk mencintaimu. Dia mencintai dalam diam, dan menjagamu dari sudut yang tidak terlihat olehmu. How romantic he is!

Kadang aku berkhayal akulah kekasih Shinichi. Tapi bayangan itu segera kutepis, Shinichi buat kamu saja lah, Ran. Aku tidak mau menjadi orang ke tiga di antara kalian. Aku cuma kagum sama Shinichi, betapa kuat dia menjaga hatinya buatmu.

Jadi, aku cuma mau berpesan untuk kamu, Ran. Janganlah sekalipun kamu meragukan Shinichi. Kalau kamu sedang ingin mengungkapkan perasaanmu tapi tidak melihat keberadaan Shinichi, percayalah dia sudah tahu perasaanmu. Percayalah bahwa dia juga mencintaimu sebagaimana kamu mencintainya, atau malah mungkin cintanya lebih besar dan mendalam.

Semoga kamu langgeng ya, sama Shinichi. Aku mungkin akan terus mengagumi kisah cinta kalian :)

Senin, 04 Februari 2013

Untukmu, entah siapa

0


Aku ingin, ketika Allah mempertemukan kita,
kamu telah menjadi sholeh, dan aku sholehah
Hingga kita benar-benar memenuhi janjiNYA, lelaki yang baik hanya untuk wanita yang baik


Aku ingin ketika kamu memilihku dan aku memilihmu,
itu adalah suratan takdirNYA, dan bukan karena keinginan kita semata


Aku ingin ketika kamu melihatku,
kamu menemukan sosok yang tepat, yang sungguh kamu yakini untuk bisa bersamamu


Aku ingin ketika kita bersama pada akhirnya,
itu adalah karena seizinNYA, keridhoanNYA,
bukan hanya keinginan sesaat yang belum pasti pertanggungjawabannya


Aku ingin ketika seluruh dunia memusuhiku,
kamu menenangkan aku dan berkata "aku tak peduli bagaimana mereka memandangmu, yang penting adalah bagaimana kamu di mataku, keluargamu, keluargaku, dan keluarga kita nantinya"


untukmu,
yang aku tak tahu siapa


semoga kamu menjadikanku yang terakhir sebagaimana aku mengakhirkanmu


semoga kamu menjagaku seolah aku sangat rapuh, namun juga membutuhkan aku untuk bersandar seolah aku sangat kuat


semoga kamu tak henti membimbingku, namun juga mempercayai ilmuku


semoga kamu mengeringkan airmataku, atau bahkan tidak akan membiarkannya menetes


semoga kamu jadi pemimpin yang baik di depanku,
menjadi partner yang sejalan di sampingku,
dan menjadi pengawas yang tulus di belakangku


semoga kamu menyayangi aku dan keluargaku seperti kamu menyayangi dirimu sendiri dan keluargamu


untukmu
yang entah siapa


semoga Allah menyiapkan rencana dan episode terindah untuk kehidupan kita..