Kamis, 15 Agustus 2013

Anugerah Terindah

0

Sheila On 7 -- Anugerah Terindah (Cover Version)


Melihat tawamuMendengar senandungmuTerlihat jelas dimatakuWarna - warna indahmu
Menatap langkahmuMeratapi kisah hidupmuTerlihat jelas bahwa hatimuAnugerah terindah yang pernah kumiliki
Sifatmu nan s'laluRedakan ambisikuTepikan khilafkuDari bunga yang layu
Saat kau disisikuKembali dunia ceriaTegaskan bahwa kamuAnugerah terindah yang pernah kumiliki
* :Belai lembut jarimuSejuk tatap wajahmuHangat peluk janjimu
Back to * :Anugrah terindah yang pernah ku miliki

Rabu, 14 Agustus 2013

Tas Plastik Hitam

0

"Buk, tas plastik hitam yang aku taruh di sini, mana ya?" tanyaku tergesa-gesa. Keringat dingin membasahi tanganku.

"Buntelan plastik di sebelah baju-bajumu yang udah nggak kepakai lagi?"

Aku mengangguk.

"Tadi Ibu kasi ke bapak yang biasa ambil sampah. Emangnya kenapa, toh?"

"Yaaah, ibuukk.. Itu tas plastik isinya bendera dari sekolah. Ira kan kepilih jadi paskibra buat upacara besok, nah karena benderanya agak kusam, Ira nawarin diri buat nyuci bendera itu di rumah..,"

"Maaf, sayang.. Ibu nggak tau.. Beli yang baru aja, ya? Ibu kasi uangnya.."

"Tapi itu bukan asal bendera, Buk. Itu bendera yang dipake tiap upacara 17 Agustus aja, ada nilai historinya buat sekolah. Hhh. Tadi bapaknya jalan ke arah mana, Buk?"

"Terakhir Ibu liat tadi bapaknya nyeberang jembatan, kayaknya mau ke kompleks seberang jalan.."

"Yaudah, Ira pamit dulu ya, Buk.. Doain Ira.."

Aku mengecup tangan ibu.

"Heei, kamu mau ke manaa???"

"Nyari benderanya, Buk..!!" teriakku dari kejauhan. Yang ada di pikiranku hanya satu, mengayuh sepeda sekuat tenaga untuk mencari bapak itu. Ke manapun.

Tak Ada CInta yang Lahir

0

"Raffaaaa, kamu gendutaaan..," Loli mencubit gemas perut Rafa yang sedikit buncit. Beda sekali dengan perawakannya beberapa tahun yang lalu.

"Auw!! Sakit, Lol ! Itu, si Vanya juga gendutan, kok..,"

"Enak aja! Aku langsing, kok.. Cuma pipinya doang yang gendutan, dikit pula!," sahutku membela diri.

"Hahaha, sudahlah kalian ini. Dari dulu emang cuma badanku yang paling keren, niiihh...," Leo menyahut sambil memamerkan otot lengannya. Tidak heran, dari dulu dia memang yang paling rajin olahraga.

Rumah makan ini masih saja tidak berubah, sejak beberapa tahun yang lalu, sebelum kami berpencar satu-satu karena pekerjaan. Sejak masa kuliah, kami suka sekali menghabiskan waktu di sini. Spot favorit kami ada di bagian taman, di mana ada satu meja dengan sofa rotan bulat berjumlah 5 buah, pas sekali dengan jumlah kami.

Aku memandangi satu sofa kosong, ada yang hilang. Ada yang tak datang dan duduk di situ seperti biasanya.

"Reno gimana kabarnya, sih? Kenapa dia nggak dateng?" tanya Raffa.

"Dia nggak bisa, ada meeting mendadak katanya, tadi aku telpon dia.." kata Leo.

Ya Tuhan, aku rindu..

Aku memandangi langit malam yang dihiasi bintang-bintang. Kalau saja ada satu yang jatuh, aku mau mengajukan satu permohonan, supaya semua bisa diulang, supaya tidak ada cinta yang lahir di hati kami berdua.

Minggu, 11 Agustus 2013

Kunjungan Istimewa :D

0

Hari ini, H+4 Idul Fitri, rumahku disambangi sama sahabat-sahabat unyu. Yaah, walaupun pada awalnya aku takut mereka bakal nyasar, soalnya kan rumahku jauh sendiri. Tapi ternyata mereka berhasil juga nyampai rumahku dengan selamat sentosa tanpa kekurangan suatu apapun :p

Jadi musafir sehari, deh yaa.. Hahaha..

Rasanya udah lama banget rumahku nggak dikunjungi temen-temen pas lebaran. And finally, tahun ini ada kalian yang main-main ke rumah. Seneng deh :D

Ramadhan tahun ini emang spesial banget buat aku. Dan ternyata, beberapa hari setelah Ramadhan pun hadiah dariNYA belum berhenti, yaa kedatangan kalian tadi tuh hadiahnya.. :)

Stay together ya, besties, Upil and Cimpretoo :)

Selasa, 06 Agustus 2013

Tahu Diri

0

"Selamat ya, Sofiii.. Hasil risetmu bikin klien kita puas banget.."
"Syukurlaah, moga-moga lembaga ini bisa makin berkembang lagi, ya, Rin.. Lagipula, ini kan juga hasil kerja bersama, bukan cuma aku.."
"Tapi kan kamu penanggungjawabnya, sekali lagi selamat yaa.."

Siang itu kantor terlihat dipenuhi hawa bahagia. Yah, mungkin memang keberhasilan riset tim-ku menjadi salah satu penyebabnya. Aku sudah cukup lama bekerja di lembaga riset ini, bulan depan genap 5 tahun. Selama jangka waktu itu, aku turut dalam banyak riset yang kebanyakan berhasil sukses dan sangat memuaskan klien. Spesialisasiku di riset sumber daya manusia, sesuai dengan apa yang serius kupelajari semasa kuliah.

Kawan-kawan seperjuangan seperti tidak lelahnya memberi ucapan selamat dan menyalamiku. Ah, aku benar-benar tidak bisa menutupi rasa bahagiaku juga. Senyumku terkembang sejak tadi pagi.

***

"Selamat pagi, perkenalkan, saya Rendi Suryagani, mulai hari ini, saya akan menjadi kepala divisi sumber daya manusia.."

Aku merasakan kakiku tidak lagi berpijak di bumi. Kalau ini bukan di kantor, mungkin aku sudah segera pergi.

Aku tidak lagi bisa berkonsentrasi dengan pekerjaanku. Semuanya terasa campur aduk. Rendi, pekerjaanku, hal-hal yang aku cintai di lembaga ini. Masa lalu seakan berputar-putar di kepalaku, menciptakan fragmen-fragmen yang seakan ditayangkan kembali di depan mataku. Ya Tuhan, kenapa harus Rendi?

Aku bersyukur ketika jam menunjukkan pukul 5 sore. Waktunya pulang.

"Sofi! Tunggu!"

Seseorang memanggilku dan aku sama sekali tidak asing dengan suaranya. Kalau dia bukan atasanku, aku bisa saja pergi, pura-pura tidak mendengarnya.

"Iya, Pak. Ada apa?"

"Kenapa panggil 'pak' , sih? Panggil Rendi aja. Oh iya, mau aku anter pulang?"

"Tidak usah, Pak. Terimakasih. Saya bisa pulang sendiri."

"Lho? Sejak kapan kamu bisa naik motor?"

"Sejak lama."

"Astagaa.. Masih inget yaa, dulu kamu nggak bisa kemana-mana kalau nggak ada aku. Hahaha. Kamu selalu butuh bareng-an. Eh, tapi kan kita udah lama nggak ketemu, jalan ke mana gitu, yuk, Sof. Ayo.."

Aku memasang helm-ku.

"Permisi, Pak, saya harus pulang."

Motorku sudah melaju beberapa meter. Aku mengamati spion. Rendi mencium pipi wanitanya.

***

"Selamat pagi, Pak, saya mau menyampaikan surat pengunduran diri," kataku sambil menyerahkan selembar amplop cokelat ke hadapan Rendi, ah, maksudku Pak Rendi.

"Mengundurkan diri? Kenapa?"

"Saya, saya merasa tidak bisa berkontribusi maksimal lagi di sini, Pak."

Aku tetap tidak menatap matanya. Aku tidak bisa.

"Ayolah, Sof. Kamu penting di lembaga ini, kamu penting, kamu sudah berbuat banyak untuk lembaga ini. Lembaga ini bener-bener masih membutuhkan kamu."

"Maaf, saya tidak bisa, Pak."

"Sof, kamu harus profesional!"

"Anda yang tidak profesional!", tukasku cepat. Aku berusaha mati-matian menahan air mataku.

"Saya menghormati anda sebagai atasan saya. Tapi apa yang saya dapatkan? Anda selalu saja membahas masa lalu setiap ada kesempatan untuk bicara berdua saja. Sekarang siapa yang tidak profesional?!"

"Oke, oke. Aku minta maaf. Aku janji nggak akan gitu lagi. Tapi tolonglah, tetaplah di sini, Sof. Entah apa kata papa kalau aku nggak bisa mempertahankan kamu di sini."

"Andai kamu sekuat ini mempertahankan aku di sisi kamu."

Aku menghela napas panjang. Rendi tertunduk.

"Sekali lagi, Pak, saya mohon maaf. Saya tidak bisa terus bekerja di sini. Selamat pagi."


sungguh tak mudah bagiku
rasanya tak ingin bernapas lagi
tegak berdiri di depanmu kini
sakitnya menusuki jantung ini
melawan cinta yang ada di hati

Minggu, 04 Agustus 2013

jodoh itu...

0

sesungguhnya jodoh itu benar-benar rahasia Tuhan
hanya Ia yang tahu, kapan kita bertemu dengan jodoh kita

sesungguhnya jodoh itu benar-benar rahasia Tuhan
hanya Ia yang tahu, dengan siapa kita akan berjodoh nantinya

sesungguhnya jodoh itu benar-benar rahasia Tuhan
hanya Ia yang tahu, bagaimana kita akan bertemu dengan jodoh kita

sesungguhnya jodoh itu benar-benar rahasia Tuhan
bahkan orang yang sudah menikahpun tidak akan tahu apakah mereka menikahi jodoh mereka
yang mereka lakukan hanya meyakini bahwa suami/istri mereka adalah jodoh yang ditakdirkan Tuhan untuk mereka nikahi di dunia


sesungguhnya jodoh itu benar-benar rahasia Tuhan
benar-benar rahasia Tuhan,
yang bisa kita lakukan hanya meyakininya :)

Legenda Sampek-Engtay

1

Hari ini aku memutuskan untuk melahap habis buku yang baru kubeli beberapa hari lalu. Bukunya berupa kumpulan cerita pendek karangan Tere Liye, salah satu penulis favoritku. Buku ini bersampul merah bergambar hati yang dibalut perban, judulnya Sepotong Hati yang Baru.

Buku ini berisi delapan cerita pendek. Tapi, ada satu yang menjadi favoritku, judulnya Mimpi-Mimpi Sampek-Engtay.

Cerpen Sampek-Engtay berkisah mengenai pemuda ahli kungfu bernama Sampek, dan perempuan pandai bernama Engtay. Mereka berdua bersama menimba ilmu di biara Shaolin. Engtay yang seorang perempuan, menyamar sebagai laki-laki dan menjadi teman sekamar Sampek. Tahun berlalu, akhirnya Sampek mengetahui bahwa Engtay adalah seorang perempuan. Kemudian, bisa ditebak, bersemilah cinta di antara keduanya.

Kisah cinta mereka tidak mulus, Sampek hanya pemuda biasa, sedangkan Engtay adalah seorang putri yang akan dinikahkan dengan pewaris tahta kerajaan. Berbagai kejadian tragis mewarnai kisah cinta mereka.

Apa yang membuatku sangat menyukai cerita ini? Alasannya adalah karena banyak hikmah yang bisa dipetik.

Favorit dari yang terfavorit, adalah kejadian di mana Sampek berdialog dengan kakek tua renta dari Gunung Kwa-Loon.

Saat itu, kakek renta yang digendong Sampek ternyata adalah seorang yang amat sakti, yang bisa mengeluarkan jurus legendaris. Sebelum pergi, ia memberikan wejangan untuk Sampek yang telah selesai menceritakan luka hatinya karena akan ditinggal menikah oleh Engtay. Inilah yang dikatakan kakek renta itu:

"Kau tahu kenapa hanya orang-orang yang sakit hati-lah yang bisa mneguasai jurus tersebut? Karena orang-orang sakit hati lazimnya tidak lagi mencintai kehidupan dunia ini. Ia tidak menginginkan siggasana. Ia tidak ingin tumpukan emas. Ia hanya ingin sendiri dengan seluruh luka di hati.. Kesedihan yang terkendali sungguh bisa menjadi kekuatan tiada tara. Kesedihan yang terkendali bisa membuat hati bersih, hati yang siap menerima kabar baik langit, termasuk kekuatan langit.."

Kalimat-kalimat itu, sungguh membuatku sadar. Coba deh, kita renungkan sama-sama. Pernahkah ngerasa sedaih? Pernahkan ngerasa ditinggalkan? Pernahkan ngerasa salah mempercayai orang? Pernahkah ngerasa patah hati?

Pernahkah ngerasa sakit hati sampai nggak ada lagi yang kalian inginkan?

Pada saat itu, yang kalian ingin hanyalah sendiri saja, menikmati merasakan rasa sakit yang menggerogoti hati. Sedih, sakit, semuanya menjadi satu. Lalu pelan-pelan, kalian menyadari bahwa segala sesuatu terjadi karena seizin Tuhan, bukan? Lalu kalian menyadari bahwa semuanya tidak luput dari rencana Tuhan. Lalu kalian perlahan berniat untuk melepaskan segalanya, mengembalikan semua pada Tuhan.

Menyerahkan hati yang terluka untuk bisa diobatiNYA...

Kesedihan yang terkendali dari orang-orang yang sakit hatinya, membuat mereka menyadari sesungguhnya isyarat-isyarat dan jawaban-jawaban Tuhan sudah seringkali dikirimkan, tapi dasar manusia, malah membuat penyangkalan dan beribu pembelaan dan pembenaran atas apa yang dilakukannya.

Hati yang sakit akan lebih siap menerima kabar baik langit.. Saat hati sakit, manusia meruntuhkan egonya, menyetujui bahwa ia memang bodoh, ia lemah, ia tak lebih dari pembuat kesalahan, penjaga yang lalai akan tugasnya, tugas akan menjaga hatinya sendiri. Oleh karenanya, setelah ego itu runtuh, pertanda-pertanda yang dikirim Tuhan akan terlihat lebih jelas, akan terlihat lebih banyak, akan tersadar, bahwa sesungguhnya diri ini yang mengabaikan jawaban-jawaban itu sejak dikirimnya doa.

Jadi, pesan untuk orang-orang yang telah atau sedang tersakiti hatinya, janganlah takut. Ini hanyalah awal untukmu menyadari kebesaran Tuhan. Ini adalah awal di mana kamu menyadari bahwa Tuhan sebenarnya sudah memberi banyak pertanda yang seenaknya saja kamu abaikan.

Kesedihan ini adalah kekuatanmu, asal kamu bisa mengendalikannya.

Kesakit hatian ini hanyalah hal kecil dibandingkan hal-hal besar, kekuasaan Tuhan yang mungkin pada akhirnya nanti kamu sadari.

Cerita legenda Sampek-Engtay ini sungguh hebat, sungguh penuh pelajaran.

Iqro' ... :)

Jumat, 26 Juli 2013

Kejutan yang Terlambat

0

Mataku bergerak-gerak mengamati etalase. Sebentar-sebentar aku menengok handphone, mungkin sudah ada pesan darimu nangkring dengan jelas di sana. Beberapa menit berlalu dan kamu belum juga membalas pesanku, pesan di mana aku memberikan dua pilihan untukmu. Aku melirik arlojiku, 15 menit lagi aku harus kembali ke kampus.

"Ah, lama banget balesnya. Bodo amat deh, aku ambil yang ini aja!"

Sekembalinya di kampus, aku bergegas menuju ruanganku. Jam dinding menunjukkan pukul 5 sore. Aku meletakkan sesuatu dari etalase tadi di pojokan meja, kututupi dengan jaket, agar tidak ada seorangpun yang tahu. Aku beralih menuju lemari besar di dinding sebelah pintu, aku mencari sebentuk silinder kecil warna-warni yang biasanya sering kulihat. Tapi susah sekali menemukannya. Selalu seperti ini ya, barang selalu susah dicari ketika kita sedang memerlukannya. Tapi syukurlah akhirnya usahaku berjinjit-jinjit sejak tadi membuahkan hasil, aku berhasil menemukan barang yang kucari. Akupun bernapas lega.

Ah, lupa! Aku butuh korek!

Setengah mati aku menjelajahi seisi ruangan ini, dan aku tidak menemukan korek barang sebatang pun! Sementara waktu yang aku punya sudah tidak banyak lagi. Aku segera berlari menuju pintu, menguncinya, kemudian melesat ke satu tujuan, Indomaret di seberang jalan. Aku tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang mengikuti langkahku setengah berlarian di koridor kampus. Entah bagaimana rupa rambut dan wajahku yang sudah letih sejak siang, aku tidak peduli. Aku terus memacu langkahku semakin cepat. Waktuku tinggal 15 menit lagi.

Di Indomaret, aku sekali lagi harus mengabaikan pandangan keheranan penjaga toko yang seperti berkata "He? korek? Kamu ngerokok, dek?" waktu aku menanyakan apakah ada korek yang mereka jual. Tak apalah, mungkin korek yang kubeli ini juga harus ditebus dengan pandangan-pandangan aneh. Huh. Akupun kembali berlari menuju kampus. Ah, 10 menit lagi!

Sampai di kampus, ternyata kamu sudah duduk menunggu di dekat ruanganku. Aku tersenyum sambil mencoba mengatur napas. Aku bahkan mengabaikan pertanyaan dan tatapan keherananmu yang menyaksikan aku terengah-engah. Di ruangan, aku menyusun semuanya, barang-barang yang kudapatkan sejak siang. Aku menyuruhmu duduk, dan...

"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday happy birthday, happy birthday to you... Maaf yaaa, telat banget ngasi surprise-nyaa..."

Kamu diam beberapa saat.

"Ayo ditiup!", kataku girang.

Kamu malah menggodaku, meniupkan napas ke wajahku yang berkeringat di sana-sini. Asal kamu tahu, tiupan itu nggak bikin dingin, tau! :p

Dan perayaan ulang tahun itu usai setengah jam kemudian, tapi tidak dengan rasa bahagianya... :)

Rabu, 10 Juli 2013

Tak Pernah di Hatimu

1

Aku masih tidak mampu melapaskan pandangan dari wajahnya yang pucat. Garis-garis rahang yang tegas dan biasa menyambutku dengan tawa itu sekarang hanya terkatup rapat. Tak ada suara yang keluar dari sepasang bibirnya yang kerap menyapa pipiku ketika kami bertemu setelah minggu-minggu yang penuh dengan kesibukan.

Aku sungguh mencintai lelaki yang sekarang terbujur di hadapanku ini. Aku mencintai kelembutan hati yang tersimpan dalam raganya yang kuat dan kokoh. Sebuah kebanggaan tersendiri buatku, saat dia menjadikanku sandaran atas segala keluh dan kesahnya. Itu membuatku merasa dibutuhkan.

Sekarang aku hanya bisa melihatnya terdiam, benar-benar diam.

Aku menyentuh tangannya perlahan. Dan, hei, dia membuka matanya!

Aku tak sanggup berkata-kata. Akhirnya ia bangun juga setelah koma beberapa minggu. Akupun bersiap keluar ruangan untuk memanggil dokter, sebelum tangannya menggenggam telapak tanganku dan berkata,

"Jangan pergi, Rheina.."

Air mataku jatuh. Aku menatap pandangan matanya yang kosong. Seketika aku tahu bahwa aku tidak pernah benar-benar ada di dalam hatinya.

"Aku Erika, bukan Rheina..," batinku.

Rabu, 12 Juni 2013

Ken dan Kai

0

Hiruk-pikuk mulai menghilang dari telingaku. Aku seperti terbius. Orang-orang yang tadinya ramai, lenyap satu per satu. Yang kutemui hanya sosok lelaki di hadapanku.

"Ken."

"Kaila."

Hanya dua kata itu yang bisa terucap. Tapi mata kita telah saling menatap dan berbicara banyak hal. Tentang masa lalu yang indah sekaligus menyakitkan. Telah kujelajahi konser demi konser, tempat satu ke tempat yang lain. Telah kukatakan pada diriku sendiri, bahwa aku pasti akan menemukanmu.

Menemukanmu di tempat sama seperti saat kita pertama kali bertemu. Lalu aku sekarang sudah menepatinya, sedang menepatinya.

Aku tidak lagi merasakan debum musik di bawah kakiku. Aku seperti melayang. Pertemuan ini bukankah sudah skenarioNYA? Setelah beberapa tahun silam kita memutuskan untuk berpisah. Bisa apa kalau semesta yang yakin untuk menyatukan lagi aku dan kamu menjadi kita?

Aku melihat diriku dalam matamu, Ken. Aku juga melihat masa depan kita di sana.

Selasa, 11 Juni 2013