Kamis, 20 Maret 2014

Jika Kamu Membenciku

5

Jika kamu tiba-tiba merasa benci kepadaku. Aku memang tidak bisa mencegahnya. Aku hanya bisa menyarankan, bacalah lagi blog ini. Bacalah beberapa postingan yang kamu tahu pasti itu bercerita tentangmu, tentang hari-hari yang pernah kita habiskan. Tentang hujan dan mentari yang pernah kita lalui untuk berusaha menghadirkan pelangi.

Jika kamu tiba-tiba merasa benci kepadaku. Aku memang tidak bisa menghalanginya. Aku cuma bisa mengingatkanmu, buka lagi kotak merah itu. Buka lagi beberapa lembar terakhir dari buku yang aku hadiahkan kepadamu. Itu buku pertamaku, buku bersejarahku. Dan kamu tahu kalau di bagian akhir, ada satu tulisan yang khusus aku buat untukmu. Bacalah lagi, di sana ada hal-hal yang dulu membuatku malu untuk menceritakannya padamu.

Jika kamu tiba-tiba merasa benci kepadaku. Aku memang tidak bisa menghentikannya. Maka maafkanlah aku. Ingat saja bahwa aku dan kamu pernah punya hari-hari yang demikian indah. Aku dan kamu pernah punya waktu yang dirangkai dengan hati-hati, dan tidak direncanakan untuk dilupa suatu saat nanti.

Jika kamu tiba-tiba merasa benci kepadaku. Aku memang tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi semoga rasa benci itu tidak membuatmu merasa sakit sendiri. Semoga rasa benci itu tidak menghilangkan kebaikan-kebaikan yang ada pada dirimu.

Jika kamu tiba-tiba merasa benci kepadaku, aku harap kebencian itu hanya sampai pada batas kata "jika".. :)

Nulisbuku Club Jakarta: Love Never Fails

0

Sabtu 15 Maret lalu, aku ikutan gatheringnya Nulisbuku Club Jakarta. Gathering kali itu sekalian sama pengumuman pemenang proyek menulis Love Never Fails yang diadakan sekitar dua bulan sebelumnya. Acaranya digelar di The Reading Room Kemang. Karena aku baru di Jakarta, aku nggak berani pergi sendirian. Jadilah aku ngajak temen sekamar kosku, mbak Nisa, sama temen baikku sejak kuliah, namanya Nia.

Acara gathering dimulai jam 4 sore, jadi aku sama mbak Nisa sudah cabut dari kosan jam setengah 3 sore. Awalnya kami berencana berangkat jam 2 siang, tapi rencana tinggal rencana, hhehe. Kami bertiga belum ada yang pernah ke Kemang, jadi perjalanan hari itu murni berdasarkan riset nanya-nanya temen yang udah pernah ke Kemang. Lanjut, jam setengah 3 sore kami jalan ke shelter busway deket kosan. Entah kenapa, busway nya lamaa banget. Ada kali hampir setengah jam, baru deh ada busway yang nganterin sampai ke Harmoni. Sekitar jam 4 kurang, kami nyampe Harmoni.

Perjalanan selanjutnya, kami nunggu busway lagi yang ke Blok M. Dan lagi-lagi, lamaaa banget. Tiap ada yang lewat, selalu penuh. Akhirnya kami mutusin naik busway yang ke Ratu Plaza. Jam setengah 5 kami nyampe di shelter Ratu Plaza, dan nunggu busway lagi untuk ke blok M. Syukurlah, nggak perlu nunggu terlalu lama, kami udah dapet busway dan nggak perlu waktu lama pula untuk nyampe ke shelter terakhir di blok M. Di blok M, kami ketemuan sama Nia. Lengkaplah rombongan mbolang hari Sabtu ini.

Jam 5 sore, perjalanan dilanjutkan dengan naik taxi sampai ke tempatnya, The Reading Room. Setelah muter-muter, jam setengah 6, sampailah kami di tempat acara.

Masih kebagian sedikit talkshow sama kak Feby Indirani, jurnalis yang udah ngepublish beberapa buku juga. Cantik orangnya, ramah, dan asik banget kalau nyampein penjelasan/jawaban dari pertanyaan peserta acara.

Beberapa menit kemudian, tibalah saatnya pengumuman pemenang..

Dan eng ing eeeeennnggg....

Aku nggak menang. Hihhihi

Nggakpapa, nggak terlalu kecewa juga, sih. Karena emang persiapanku ikut proyek ini agak minim, jadi ya sadar dirilah kenapa nggak menang. Satu kegagalan, berarti jatah gagalku udah berkurang satu lagi.. :)

Kelar acara, masing-masing peserta dapet notes gratis, ini penampakan notes-nya..

Lucu kan notes-nya? :)

Kelar acara, nyempetin juga buat foto-foto sama kak Feby..



Actually, masih banyak foto yang lain, tapi ilang gara-gara hp-nya Nia kena virus T.T huhuhuhu

Sekian dulu cerita dari ngikut gathering nya Nulisbuku Club Jakarta.. Selamat untuk para pemenang, dan tetap semangat untuk para pejuang lainnya.. Sampai ketemu lagiiii :)

Rabu, 19 Maret 2014

Ini Skripsiku, Mana Skripsimu??

0

Tiba-tiba jadi kepikiran untuk berbagi cerita tentang penulisan skripsiku gara-gara lihat tweetnya @bentangpustaka ngebahas skripsi. Secara keseluruhan, proses pengerjaan skripsiku memakan waktu hampir satu tahun. Skripsiku penuh lika-liku di sana-sini. Tapi, setelah semuanya selesai, baru terasa, kalau skripsi yang lempeng-lempeng alias lancar jaya itu nggak asik, nggak ada sesuatu yang bisa diceritain. Hehehe. Iya sekarang pas udah selesai aja bisa bilang kayak gini, pas belum selesai ya rasanya pengen nangis melulu.. :p

Sekitar bulan September 2013, pas semester 7, aku udah kelar nyusun pra-proposal atau yang biasa disingkat prapos. Prapos ini isinya cuma bab 1. Waktu itu udah dapet dosen pembimbing juga. Dosen pembimbingku namanya Bu Nuri, beliau juga menjabat sebagai Kepala Program Studi Manajemen di kampusku. Jadi, bisa dibayangkan lah ya, betapa sibuknya beliau. Karena itu juga, sistem bimbingan beliau pun beda dari dosen yang lain. Kalau yang lain bisa janjian langsung, aku nggak bisa. Sistemnya adalah, ngumpulin revisian ke sekretarisnya beliau, lalu, menunggu. Menunggu? Iya, menunggu dapet sms dari sekretarisnya bahwa revisian atau skripsiku udah dibaca dan diminta bimbingan hari apa di jam berapa. Nah dalam proses menunggu itu, daripada nggak ngapa-gapain, aku nyari banyak jurnal buat referensi.

Setelah prapos-ku diperiksa, Bu Nuri menyuruhku untuk melanjutkannya sampai ke bab 3 langsung, alias bikin proposal sekalian. Aku kerjakanlah itu sampai bab 3. Sekitar satu bulanan aku udah nyelesain sampai bab 3, dengan beberapa kali revisi di sana-sini, otomatis plus-plus proses menunggu tadi. Oh iya, selama ngerjain sampai bab 3, aku juga nyari referensi tempat penelitian. Setelah mempertimbangkan ini-itu, aku mutusin untuk kirim proposal penelitian ke salah satu perusahaan kosmetik di Surabaya.

Sejenis Penghematan Bahasa, kah?

2

Akhir-akhir ini, makin banyak singkatan di mana-mana. Singkatan apa? Singkatan macam HBD WYATB, GWS, dan sebangsanya. Jadi makin sering ngebaca singkatan-singkatan kayak gitu di facebook, twitter, chat, bahkan sms. Fenomena apa sih, ini? Efisiensi bahasa?

Aku sendiri nggak termasuk orang yang suka pakai singkatan-singkatan macam itu. Nggak tahu ya, rasanya kayak nggak niat, nggak bener-bener tulus dan senang hati untuk ngasih ucapan. Bahkan kapan hari, frase 'Happy Birthday' yang udah disingkat jadi HBD, disingkat lagi jadi HB. Oh meeen, HB apaan? Hemoglobin?

Kangen deh sama masa-masa beberapa tahun lalu, ketika HBD WYATB masih berupa ucapan selamat ulang tahun dengan doa yang panjang dan segambreng. Walaupun doanya terkesan itu-itu aja (panjang umur, sukses, sehat selalu), tapi kerasa lebih menyenangkan untuk dibaca. Kangen juga ketika GWS masih kalah populer sama ucapan 'semoga cepet sembuh, ya..' yang kalau dibaca lebih bisa memberi rasa hangat.

Entah apa yang terjadi sekarang. Apa mungkin orang-orang sudah tidak tertarik dengan bahasa? Apa sudah kehilangan rasa untuk mengungkapkan sesuatu dengan panjang lebar? Atau memang kekurangan stok kosa kata?

Lebih baik menjadi satu lilin yang menyala daripada ikut meredup bersama yang lainnya.

Itu prinsipku, dan berlaku pula dalam fenomena singkat menyingkat kata ini. Aku nggak cocok dengan style nyingkat-nyingkat gitu, jadi aku nggak ikut-ikutan hanya karena banyak orang yang melakukannya. Sampai detik ini, aku masih mengucapkan selamat ulang tahun dengan doa yang panjang dan personal. Aku juga masih mengucapkan semoga cepet sembuh disertai candaan dan tanda senyum di bagian akhirnya, siapa tahu itu bisa membuat si sakit merasa agak lebih baik dan bisa tersenyum juga. Who knows?

Memang semua bergantung sama niatnya, tapi, kalau niat memang baik dan tulus, nggak ada salahnya kan memberi sedikit 'rasa' lewat susunan kata yang indah? :)

Selasa, 18 Maret 2014

pernah kita takutkan

0

dulu
keadaan ini pernah kita takutkan
pernah menjadi sesuatu yang kita risaukan
pernah menjadi hal yang benar-benar kita pertanyakan

tapi sekarang tidak lagi

bukan karena kita sudah punya solusinya

tapi karena kita tidak lagi ada

suatu saat nanti

0

suatu saat nanti
yang kamu sesali tidak akan kembali
yang kamu sakiti tidak akan lagi peduli
yang kamu tinggalkan ternyata tak membuka pintunya lagi

suatu saat nanti
pasti tahu
dan mengerti
mengapa hujan turun
mengapa masih harus menari di saat badai menggemuruh
mengapa bisa menikmati panasnya matahari

bohong bila semua tidak selalu beralasan
bohong bila mencintai tidak perlu alasan
bila demikian adanya
maka kamupun akan meninggalkan dan berhenti mencinta tanpa alasan juga

semua ada alasannya
semua terjadi selalu ada pesan yang tersimpan di sana
entah sekarang
entah nanti
entah kapan pesan itu akan terbuka

suatu saat nanti
kamu pasti mengerti

Senin, 17 Maret 2014

Favorite Parts from Gajah

0

Baru-baru ini akhirnya Tulus ngelaunch album ke dua nya yang bertajuk Gajah. Irama lagunya beragam banget di album ini. Apalagi liriknya.. As usual, lirik yang dibikin sama Tulus itu memang "ajaib" ! Di bawah ini, beberapa part favoritku dari lagu-lagu di album ini...


Dia harus tahu, cinta ini benar
Bukan hanya mau biasa
Sedikit bagian dari lagu yang judulnya Bumerang. Sekilas, lagu ini seperti bercerita tentang seseorang yang suka mempermainkan perasaan orang lain. Membuat jatuh cinta, lalu tiba-tiba pergi tanpa jejak. Kenapa aku suka bagian ini? Soalnya, kesannya, bagian ini tuh kayak pengen bikin si orang ini sadar, kalau perasaan itu nggak main-main. Suka part ini juga karena nggak ada sedikitpun kemarahan yang tersirat walaupun feel sakit-nya juga kerasa banget.

Dulu lalu tinggal dulu
Inilah aku yang baru
Part dari lagu yang berjudul Baru. Aku suka banget musiknya lagu ini, lucu-lucu semangat gitu. Gimana rasanya sih, bisa membuktikan ke orang yang dari dulu nggak pernah nganggep kita, lalu kita kejutkan dia dengan kita yang baru! Wohooo! Suka part ini karena kalimatnya tegas banget, tegas menyatakan kalau sudah move up jadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Kadang ku jatuh cinta
Kadang naik si pitam
Kadang gelap malam
Kadang semua tuli
Lagu berjudul Bunga Tidur ini unik banget. Musiknya keren, kalem gitu. Dan liriknya super ajaib, karena sampai sekarang aku masih sibuk mendalami maknanya, mencoba mencari tahu pesan apa yang disampaikan lewat lagu ini. Kenapa suka part ini? Karena part ini manusiawi banget.. :)

Kau temanku..
Kau doakan aku..
Potongan dari lagu Gajah! Aku sukaaa banget sama lagu ini, suka terharu pas reff nya. Cerita tentang masa kecilnya Tulus. Kenapa suka part ini? Kerasa banget pentingnya teman di kehidupan kita. Tiap denger lagu ini, jadi inget temen-temen tersayangku di Surabaya. Yah, walaupun nggak bisa bertatap, semoga doa-doa kita bercengkrama di langit sana, ya.. :)

Buktikan sekarang
Angkat penamu, tulis
Bila gemar menulis
Perkeras suaramu
Bila gemar bernyanyi
Bagian kecil dari lagu Lagu untuk Matahari. Lagu tentang menyemangati seseorang yang mungkin lagi down karena omongan negatif orang-orang di sekitarnya. Musiknya seperti mewakili liriknya banget. Musiknya seolah-olah bilang "Udahlah, omongan orang buat enteng aja, nggak usah terlalu dipikir". Hehehe, gitu yang ada di pikiranku. Kenapa suka part ini? Karena part ini aku banget, suka nulis dan suka nyanyi.. :p

Jangan cintai aku apa adanya
Tuntutlah sesuatu
Biar kita jalan ke depan
Salah satu lagu favorit aku di album ini, judulnya Jangan Cintai Aku Apa Adanya. Keren lagunya. Makna dari liriknya dapet banget. Tuntutlah sesuatu, biar kita jalan ke depan. Sejatinya, kamu bisa tahu kamu sedang bersama orang yang benar ketika dengannya, kamu bisa menjadi orang yang lebih baik. Itu menurutku, sih. Kenapa suka part ini? Karena itu tadi, sesuai sama pendapatku tentang menjalani hubungan dengan someone special. Kalau dia tidak membawamu ke arah yang lebih baik, yaaa berarti nggak ada sesuatu yang bisa "diambil" dari hubungan itu sendiri.. *beraaaatt*

Kamu..
Cantik..
Meski tanpa bedak
Lagu ini musiknya lucu, aku suka. Judulnya Satu Hari di Bulan Juni. Kenapa harus bulan Juni? Nggak tahu, hehehe. Suka part ini, karenaaa terlihat banget kalau si laki-laki mengagumi si perempuan, meski tanpa make up sekalipun. Perempuan tidak dicintai karena mereka cantik, tapi mereka cantik karena dicintai.. *sedaaaappp*

Cinta memang banyak bentuknya
Mungkin tak semua bisa bersatu
Lagu ini udah lama keluar, dan udah lama aku suka. Judul lagunya Sepatu. Emang yaa Tulus ini bisaaa aja nyari analogi keren. Lagu ini nyeritain tentang sepasang anak manusia yang selalu bersama, tapi nggak bisa bersatu. Sakit sebenernya, tapi yaa mau gimana lagi. Aku suka banget sama bagian endingnya. Karena... Realistis.. :"

Menikmati tanah yang kau injak
Memandangi langit yang kau junjung
Judulnya Tanggal Merah. Lagunya berkisah tentang quality time bersama diri sendiri. Mirip sih sama aku. Waktu di Surabaya, aku punya waktu-waktu tertentu untuk me-time alias jalan-jalan sendirian. Ke mana aja boleh, yang penting sendirian. Kenapa suka part ini? Karena, di tanggal merah, bener banget kalau hal sesederhana apapun, yang di hari biasa nggak kita anggap spesial, bisa jadi sesuatu yang membahagiakan. Misalnya yaa ngelihatin langit yang bersih dan dihiasi awan-awan putih.. Efeknya bisa membahagiakan banget..


Itu tadi bagian-bagian lirik favoritku di albumnya Tulus yang ke dua. Coba dengerin lagu-lagunya, deh. Kereeeen semuaaa.. Hehehe.. 

Say thanks to you, orang yang sudah memperkenalkan Tulus kepadaku :)

Minggu, 16 Maret 2014

Kenapa harus kata?

0

Dalam kata-kata. Aku harap aku mampu menyimpan segalanya. Yang tak bisa disentuh dengan tangan. Yang tak bisa dihentikan barang sejenak. Yang tak bisa terulang sama persis. Yang tak bisa terhindar dari jalannya waktu.

Dalam kata-kata. Aku harap aku bisa mengabadikan. Emosi-emosi yang mudah menguar ke udara. Rasa-rasa yang mungkin seiring berjalannya waktu akan terlupa.

Tangan-tangan yang pernah saling menggenggam. Mata-mata yang pernah saling memandang, kemudian bibir yang saling tersenyum karena saling paham apa yang ada di pikiran. Kaki-kaki yang menapak dalam satu jalur dan tujuan.

Maka ketika semuanya sudah terlewat. Aku ingin bisa membingkainya, membekukannya, dan merasakan kembali bagaimana rasanya ketika momen itu terjadi.

Sebab kata-kata bukanlah sekedar rangkaian alfabet. Bukan sekedar alat untuk berkomunikasi. Tapi di sanalah, aku mencoba mengekalkan apa-apa yang fana saja di dunia ini.

Jadi, jika di suatu malam yang hujan, aku merasa kedinginan, ada yang bisa kubaca kembali. Untuk sekedar merasa hangat lagi.

Analogi Pokopang

2

Hari Minggu adalah hari santai sedunia buat saya. Ritualnya sih yaa, bangun agak siang sekitar jam 6an. Terus nyuci, beli makan pagi plus makan siang (kosan ada di lantai 4, jadi males naik turun), makan, lalu merawat dan memanjakan diri sepanjang hari. Baru paham kenapa orang-orang yang sudah kerja lebih pengen di rumah aja untuk nikmatin hari liburnya. Karena bahagia itu sederhana, bisa leyeh-leyeh di rumah/kosan misalnya.

Kegiatan leyeh-leyeh saya cukup beragam. Bisa internetan, bisa bikin prakarya, bisa nulis, ngemil, tiduran, atau main game. Nah, akhir-akhir ini saya lagi doyan mainan Pokopang. Hehhehe. Telat ya? Booming nya udah lama ya? Itulah saya, cenderung tertarik sama sesuatu ketika dia nggak booming lagi. Salah satunya ya Pokopang ini. Tadi sore main Pokopang terus, nggak ada yang spesial, sampai saya menjauhkan ponsel lebih dari jarak pandang biasanya. Kemudian saya lebih lancar menemukan pola warna-warna serupa yang harus dibikin jalur daripada sebelumnya, ketika saya melihat ponsel dari jarak yang lebih dekat.

Dan, tiba-tiba saya menyadari, dari permainan sesederhana ini, ada pesan tersirat yang bisa dipelajari. Bukan pesan baru, hanya pesan lama, tapi mungkin seringkali lupa diterapkan.
Bahwa dalam menghadapi suatu masalah, jangan fokus pada masalahnya, tapi pada cara untuk menyelesaikannya. Pun, untuk menemukan penyelesaian, jangan terfokus pada satu atau dua hal saja, tapi perluaslah pandangan kita..

Anggaplah si monster yang mesti kita hancurkan itu adalah masalahnya. Bulatan warna-warni itu adalah cara yang harus kita tempuh untuk menyelesaikan masalah. Jarak pandang antara mata ke ponsel adalah sudut pandang kita.

Ketika kita fokus ke monster (ngamatin garis kuning yang menggambarkan kekuatan si monster), kita jadi bingung dan terganggu, efeknya apa? Kita jadi nggak fokus sama solusi alias pola yang harus kita buat dari bulatan warna-warni. Alih-alih pengen lihat garis kuningnya cepat hilang dan monsternya cepat mati, kita jadi nggak konsen mengamati bulatan-bulatan tadi.

Pun, ketika kita sudah fokus di area bulatan warna-warni, tapi masih cenderung mengutamakan gimana caranya si animal (senjata yang bisa cepet bikin monsternya keok) ini bisa keluar dan menghantam si monster, kita jadi terpusat di satu titik saja. Dalam hal ini, kita cuma fokus di satu solusi, yaitu si animal, tanpa sadar kita lupa, masih ada banyak solusi yang lain.

Cobalah agak menjauhkan layar ponsel, maka pandangan kita nggak akan lagi fokus sama animal, yang ada adalah ladang solusi yang lebih jelas terlihat. Dalam hal ini, kita sedang memperluas sudut pandang. Kita nggak lagi fokus pada satu solusi saja, tapi jadi lebih terbuka dan melihat kemungkinan-kemungkinan solusi yang lain.

Ini memang bukan nasihat baru, tapi ini seringkali terlupa. Pusing memikirkan masalah, sampai jadi lupa 
memperluas sudut pandang untuk mencari solusinya dari aspek yang lebih luas pula.

Sekian postingan kali ini. Semoga bermanfaat untuk kita semua.. mau main Pokopang lagi, ah.. see youuu :)

Minggu, 09 Maret 2014

Menghadiahi Diri Sendiri

0

Mungkin kita nggak sadar kalau sudah banyak menuntut diri sendiri. Misalnya nih, menuntut mata untuk terjaga sampai larut malam karena esoknya ujian, menuntut badan bekerja ekstra karena pekerjaan yang lebih bejibun dari biasanya, atau bahkan yang kecil-kecil aja sih, misal membiasakan diri buat olahraga minimal setengah jam tiap hari. Gampangnya, ketika kita bikin suatu target, atau ada kepentingan tertentu, mau nggak mau, kita punya tuntutan sendiri ke diri kita untuk memenuhi target itu.

Setelahnya semua target itu tercapai? Lalu apa? Apa berhenti pada rasa puas? Kalau saya sih nggak, hehe.

Sejak kecil, saya nggak pernah dibiasain sama iming-iming hadiah (misal kalau dapet nilai 100, bakal dibeliin baju, dll). Paling-paling ya nanti, beberapa bulan kemudian, kadang kalau ada rejeki, dibeliin sesuatu, sebagai hadiah. Tapi yang perlu dicatat adalah, hadiah ini nggak diperjanjikan sejak awal. Sejak kecil saya lebih dikasih penjelasan mengapa ini penting, mengapa harus begini, atau mengapa hal itu harus dicapai. Hal itu bertahan sampai saat ini di pola pikir saya. Makin dewasa, ya masa bakal dikasi hadiah terus sama orangtua? Malu dong ya, jadinya saya berinisiatif untuk ngasi hadiah buat diri saya sendiri setiap berhasil melakukan pencapaian tertentu.

Hadiah ini nggak selalu berupa barang, nggak selalu hal yang besar. Waktu kuliah dulu, biasanya, tiap selesai ujian semester, kan penat banget tuh, pasti deh langsung ngerencanain liburan sama temen-temen setelah nerima KHS. Itu salah satu cara saya menghadiahi diri sendiri, setelah dua minggu menuntut mata dan badan terjaga lebih lama.

Misalnya lagi nih, selama seminggu kan badan capek disuruh kerja, akhir minggu kasih hadiah deh buat istirahat, atau merawat diri. Bisa juga cuma duduk-duduk di balkon, lihatin bintang, bersantai sejenak.

Menurut saya sih, hadiah buat diri sendiri itu penting. Menghargai pencapaian diri sendiri itu wajib. Reward di sini juga macem-macem, yang saya sebutin di atas tadi berupa refreshing, itu contohnya. Masih banyak bentuk reward yang lain.

Jadi, kalau memungkinkan, berilah reward sama jiwa raga yang kita ajak melakukan banyak hal ini... :)

Sabtu, 08 Maret 2014

my rooftop

4

Sabtu malam. Demikian aku lebih suka menyebutnya. Hehehe. Anti mainstream dikit lah, masa kudu ikut-ikutan yang lain nyebutnya malam minggu :p

Malam ini, setelah nyari makan sama temen sekamar kosan, memillih untuk menghabiskan waktu dengan nongkrong di balkon kosan. Cerita dikit nih, kamar kosku ada di lantai 4, lantai paling atas, jadi satu sama tempat jemuran dan balkon yang lumayan luas. 

Malam hari, angin sepoi-sepoi, lampu jalan dan lampu kendaraan yang berpendar-pendar di bawah, serta playlist full lagunya Tulus... Nggak menyangka rasanya bisa senyaman itu. Lagi dan lagi, mata berkelana ke kejauhan, pikiran melayang ke mana-mana. Selintas terpikir mereka-mereka, orang-orang tersayang yang duabelas jam jauhnya waktu kereta api.

Begini saja sudah cukup mendamaikan. Walau kadang berkhayal ada partner yang nemenin main gitar, terus bisa nyanyi-nyanyi bareng, kayak pas di sekre HIMA, pas di basecamp PHKI juga. Tapi yaudahlah ya, nggakpapa nyanyi-nyanyi sendiri ditemenin suaranya Tulus.

Bahagia itu sederhana. Seperti ketika balkon kosan memberimu ruang untuk berkelana, sekalipun hanya dalam pikiran.. selamat malam :)