Sabtu, 20 Juni 2015

Selalu Ada yang Pertama: Ramadhan Sendirian di Rantauan

4

Marhaban yaa Ramadhan... :)

Alhamdulillaah, dipertemukan lagi dengan bulan suci Ramadhan. Tahun lalu juga sudah mengalami Ramadhan di rantauan sih, tapi beda sama Ramadhan yang kali ini. Bedanya apa?

Kali ini aku bener-bener sendirian menjalani Ramadhan di tanah rantau. Mmm, oke mungkin agak lebay ya. Kalau di tanah rantaunya sih pastinya nggak bakal sendirian, ini sendirian dalam konteks sendirian di kosan. Tahun lalu masih ada mbak Nisa yang jadi temen sekamar kos. Tapi sejak penempatan definitif agustus tahun lalu, otomatis aku jadi sendirian di kos. 

Dan makin berasa lah kesendirian itu ketika puasaan begini. Tahun kemaren, masih ada temen untuk sahur sama-sama, buka sama-sama. Tahun ini, nggak ada.. T________T

Hari pertama puasa, berasa banget sendirian gitu sahurnya. Terus, jam kantor kan udah disesuaikan sama bulan puasa, alhasil pulangnya jadi lebih cepet, jadi jam 4 sore. Saking berasa sendirian-nya, aku sampe ngerasa males pulang cepet. Hahahaha. Langka banget nih! Padahal biasanya selalu nyari sela biar bisa pulang teng-go, nah ini malah males pulang cepet-cepet -____-

But, tetep ada sisi positif dari semua yang terjadi di dunia ini (tsaaaaaaaaaaaaaahhh..).. Hahahaha. Dengan sendirian di kos, aku emang jadi lebih rajin. Karena udah punya rice cooker, jadi berusaha membiasakan diri untuk masak. Emang cuma masak yang gampang dan cepet macam sayur kukus, dan tumis-tumis yang bumbunya cuma bawang-bawangan plus garam plus lada. Jangan ditanya rasanya deh, yang penting aku nggak sakit perut aja makannya. Hahahaha, maklum lah masih belajar. Pokoknya Ramadhan tahun ini, salah satu targetku adalah nggak ngemil gorengan untuk buka puasa, dan nggak minum yang dingin-dingin.

Cukup susah sih, apalagi kan kalau sahur tuh kondisi masih ngantuk, tapi mesti masak. Kalau buat buka puasa, masaknya pas weekend doang, pas weekday lemes, hahaha.. *lemah kamu siswi!* 

Yaaah, Ramadhan yang seorang diri tahun ini, hitung-hitung belajar jadi emak-emak deh. Jadi berasa kan betapa luar biasanya para ibu yang kudu bangun puagi-puagi untuk nyiapin sahur buat anggota keluarganya. 

Selalu ada yang pertama, seperti menjalani puasa sendirian yang aku alami saat ini. Tapi, selalu ada hikmah, selalu ada yang bisa dibuat belajar. Dinikmati aja, dijalani aja, semoga apa yang dialami hari ini akan selalu bisa membuat kita menjadi manusia yang lebih baik esok hari.

Selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan.. Untuk anak-anak rantau macam aku, jaga kesehatan, jaga perasaan (jangan melow-melow maksudnya), semoga kita semua diberikan kekuatan, kelancaran, dan kemudahan dalam menjalani semua ibadah di bulan suci ini.. Aamiin.. :) 

Minggu, 14 Juni 2015

Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri

1

Whaaat?? Jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh dirii? Yap, itulah memang judul buku terbaru dari Bernard Batubara. Sekilas didengar pasti judulnya membuat kita mengernyitkan dahi. Demikian pula itu yang aku rasakan ketika tahu judul buku barunya si Bara. Demi rasa penasaran dengan isi dari buku yang judulnya unik itu, aku sampai ikut pre order bukunya. Dan berhasil dapet tanda tangannya Bara juga, yeaaayy!! :D

Kalau umumnya jatuh cinta itu pasti kebayang yang manis-manis, bahagia, berjuta rasanya, maka dalam buku ini yang ada malah kebalikannya. Bisa dibilang bahwa ini sisi lain dari tulisannya Bara. Biasa ngebaca tulisan Bara yang sweet, dengan tema mainstream, tapi tetep dengan tata bahasa yang bikin "melayang" dan tersenyum plus menghela napas panjang saking sweetnya. Lalu kali ini baca tulisan Bara yang suramnya ampun-ampunan.

But, he did great!

Aku kagum banget dengan cara Bara menghadirkan kesan/rasa suram dalam tiap cerita di buku ini. Oh iya, buku ini bentuknya kumpulan cerita pendek, bukan novel. Aku memang lebih suka baca kumpulan cerita pendek daripada baca novel (mungkin karena ini juga ya, aku sampai sekarang belum keturutan untuk bisa bikin novel). Dan menurutku, setiap cerita dalam buku ini ajaib! :)

Ada 15 cerita pendek dalam buku ini, dan setiap cerita dilengkapi dengan ilustrasi yang menarik. Aku suka gambar-gambar hitam putih di setiap awal ceritanya. Alih-alih jadi punya gambaran (dan tepat) tentang isi ceritanya, aku malah jadi penasaran banget pengen baca ceritanya, nagih banget untuk langsung dihabiskan dalam satu periode ngebuka bukunya. Macam kalau lagi baca komik detektif Conan gitu, deh! :D

Selain tema-tema cerita yang antimainstream, banyak sisi yang dibawa Bara dalam cerita-ceritanya di buku ini. Ada sisi sosial masyarakat, budaya/tradisi, sampai hal-hal update yang sering terjadi saat ini. Buku yang kaya, kalau aku bilang. Kaya akan pengetahuan, kaya akan imajinasi, kaya akan rasa-rasa seputar cinta yang seringkali luput dari pandangan kita jika sudah berbicara tentangnya, tentang cinta.

Kalau kalian mencari cerita cinta yang nggak mainstream, buku ini adalah buku yang sangat tepat. Sisanya, aku selalu suka cara Bara bercerita (tentang tokoh, tentang POV, tentang jalan cerita), aku selalu suka diksi yang dipakai oleh Bara, dan aku suka pengetahuan-pengetahuan baru yang dibawa Bara dalam tiap ceritanya (entah itu tentang bahasa lokal, adat, or everything yang bikin cerita-ceritanya selalu berwarna).

What a very veeerrryyyy goood job, Bara! I'm waiting for your new book :)  

Minggu, 07 Juni 2015

Aku Ingin Jadi...

6

pict taken from amiquote.tumblr.com



Aku ingin jadi secangkir teh hangat di meja tamanmu setiap sore hari. Dengan beberapa tetes madu kesukaanmu, aku akan jadi manis dan menenangkan. Lalu menanti kau meregukku pelan, dengan perasaan tenang setelahnya. Kecil saja perannya, tapi betapa beruntung jika aku bisa menemani sore yang jingga bersamamu. Ah, andai akulah secangkir teh itu.

Aku ingin jadi layar komputer yang seringkali menyita malam-malammu. Jam kerja sudah berakhir sore hari, tapi sering kau bawa tumpukan pekerjaanmu ke rumah, melanjutkannya. Lalu kamu pandangi terus layar komputer itu. Tapi, mungkin harus kupikir-pikir lagi lebih dulu jika aku jadi layar komputermu. Bukan, bukannya aku tak mau. Tapi, aku tidak yakin aku bisa terus menyala jika kamu pandangi berjam-jam seperti itu. Mungkin aku akan meredup sesekali, karena malu. Ah, andai akulah layar komputer itu.

Aku ingin jadi kacamata yang selalu kau kenakan itu. Tak pernah tertinggal, tak pernah terpisah se-senti pun denganmu. Hm, tapi bukan itu tepatnya alasanku ingin jadi kacamatamu. Kacamata membantumu untuk melihat segala sesuatu, kan? Maka itulah yang ingin kulakukan untukmu. Aku ingin berada di sisimu untuk melihat dunia, melihat sisi-sisi kehidupan yang mungkin tak bisa kau dan aku saksikan seorang diri saja. Ah, andai akulah kacamata itu.

Aku ingin jadi sepatu kesayanganmu. Aku tahu, sepatu kesayanganmu itu berwarna abu-abu gelap, kan? Mungkin kalau aku jadi sepatumu, aku mau pilih warna lain, yang lebih ngejreng, agar lebih terasa keberadaanku. By the way, aku ingin jadi sepatumu, karena dengan sepatu itulah kamu melangkahkan kakimu ke banyak tempat. Aku ingin jadi partner perjalananmu, kemana saja kamu melangkah. Menjelajahi keindahan alam raya, menengok sudut-sudut kemanusiaan yang sering luput dari pandangan. Sungguh aku ingin, berjalan bersamamu, membagi iringan langkah untuk meringankan lelah. Ah, andai saja akulah sepatu itu.

Ini adalah keinginan sederhana. Atau mungkin kau akan menyebutnya dengan keinginan konyol. Tak apa, ini juga hanya kiasan, kalau-kalau nanti kau bisa paham. Aku tahu, kau sama sekali tak berminat dengan sastra, hahaha.

Berandai-andai tak pernah menyelesaikan masalah, iya kan? Ya, aku tahu itu. Tapi malam ini aku hanya ingin menuliskan apa saja yang ada di benakku.

Mungkin malam nanti aku akan bangun, membisikkan keinginan-keinginan kecil pada bumi.

Agar langit mendengarnya.

Sampai jumpa di dalam sujud-sujud panjang :)

Jumat, 05 Juni 2015

Jutaan Cerita di Warung Pempek :"

0

Malam ini, di tengah-tengah kesibukan mantengin path, ada seorang teman yang check-in di Pempek Tjek Entis. Huwaaaaa.... *seketika ngiler*

Tersebutlah salah satu gerai Pempek Tjek Entis yang ada di sebelah supermarket Bilka, di jalan Ngagel. Tempatnya yang mudah dijangkau, di pinggir jalan, dan relatif dekat sama kampus, mungkin jadi salah satu faktor kenapa aku lumayan sering nongkrong di situ sama beberapa temen baik. Salah satu pempek yang enak di Surabaya sih, menurutku. Harganya terjangkau, enak, dan bikin kenyang.. :9

Kalau mau diceritakan satu persatu, mungkin nggak bakalan kelar sih sampe besok juga, hahaha. Tempat itu jadi saksi bisu deh, untuk setiap rahasia yang bocor (baik yang disengaja maupun tidak :p), untuk setiap tawa, kesedihan, cerita-cerita mulai yang ringan sampai berat. Kadang, saking lamanya nongkrong ngobrol-ngobrol. kami sungkan dan terpaksa beli pempek lagi. Nambah porsi gitu, cuma demi memperpanjang durasi nongkrong dan nggak salting sendiri gara-gara diliatin ama penjualnya. Mungkin tuh penjual ngebatin (dih ini rombongan berisik amat yak...). Hehehe :p

Ah, Surabaya memang selalu menghadirkan rindu.

lalu sendu.. :"

sanguinis? ;D

0

Teringat percakapan dengan salah seorang teman baik ketika pulang kantor. Aku lupa pada awalnya kami membicarakan apa, tapi nyambung-nyambungnya ke pembicaraan mengenai karakter manusia.

Sanguinis, Phlegmatis, Melankolis, dan Koleris.

Masih inget banget, pertama kali mengenal tipe-tipe karakter itu waktu ikutan Perisai 2006, acara MOS-nya SMAN 5 Surabaya. Dari sana aku tahu tentang tipe-tipe karakter manusia. Tipe-tipe karakter itu sifatnya nggak mutlak, maksudku, tiap orang punya empat karakter itu dalam dirinya, cuma, pasti ada dua tipe utama yang dominan. Umumnya, dua pasangan tipe dominan itu biasanya sanguinis-koleris atau melankolis-phlegmatis.

Kembali ke percakapanku sepulang kantor, teman baikku itu bertanya-tanya, apa karakter dominanku. Aku suruh dia menebak, hahaha.

"Sanguinis, ya?"

Aku tertawa.

Apakah aku terlihat seperti seorang sanguinis ya? :D

Senin, 01 Juni 2015

Selalu Ada yang Pertama: Ikutan Lomba Karaoke :D

0

1 Juni 2015, bulan ini berniat untuk ikut writing project-nya NulisBuku.com yaitu ajakan menulis random setiap hari selama satu bulan. Seru sih kayaknyaa :D

Postingan pertama di bulan ini, aku mau sharing aja deh, tentang pengalaman pertamaku ikut lomba karaoke di salah satu event di kantor.. :D

Berawal dari  hobi, sebenernya. Dari dulu aku emang hobi nyanyi, nyanyi di kamar mandi, nyanyi-nyanyi nggak jelas, karaokean gitu. Intinya sih nyanyi buat seneng-senengan aja, hehehe. Nah, beberapa hari yang lalu, ada event lomba karaoke yang dibikin sama salah satu stakeholder kantor. Sebenernya sih nggak ada niat untuk ikutan, karena aku tahu diri sama suaraku yang pas-pasan. Selain itu, aku kan pemalu, gampang banget grogi kalau disuruh tampil di depan orang banyak. Nah apalagi ini dijuriin, dinilai gitu. Tapi, karena dukungan dari temen-temen di kantor, akhirnya aku memutuskan untuk ikutan dengan pikiran "yaudah sih buat ngeramein aja", nggak ada bayangan untuk menang sama sekali.

Sampai pada saat aku tahu kalau hadiahnya lumayan besar, akupun sedikit prepare, dengan jalan karaokean sehari sebelumnya. Jadi, sehari sebelum lomba, sepulang kerja, aku ngajakin partner karaoke terbaik sepanjang masa, si Cece. Aku todong dia nemenin aku karaokean, haahaha. Jadilah malam itu dia nemenin aku karaokean. Karena aku berencana nyanyi lagu Bunda-nya Melly Goeslaw, akupun nyanyiin lagu itu berulang kali. Cece sabar banget deh dengerin aku nyanyi lagu yang sama berulang-ulang... *terharu*

Hari yang dinanti-nantikan pun tiba. Hari rabu yang lalu, sepulang kerja, aku, pak Hari, mas Budi, dan Silvi dateng ke TKP lomba karaoke. Dan jeng-jeeeeng....

Rame. Banget....

Aku sampe langsung grogi, nggak nyangka bakal seramai itu. Setelah sholat maghrib, kami menuju depan stage. Makin berasa grogi lah aku, menyaksikan peserta-peserta lain yang prepare buanget. Terutama peserta cewek, pada maksimal banget kostum dan make-up-nya. Sementara aku, pulang kerja, kucel, pake baju seragam (dan fyi, waktu itu seragamku lagi sama banget sama seragam orang katering, hahaha), dan yang pasti ya nggak bermake-up.

Dengan nomor urut 12, aku punya waktu prepare (berdoa, red.) selama kurang lebih 20 menitan (ada 6 peserta sebelum aku maju). Cuma bisa berdoa aja. Yang ada di pikiranku sih cuma yaaa at least nggak bikin malu-maluin amat lah. Silvi yang ada di sebelahku nyemangatin, dan sesekali ketawa pas tahu tanganku dingin banget. Hahahaha.

Ini adalah kali pertama aku nyanyi untuk dinilai. Biasanya mah nyanyi ya nyanyi aja, suka-suka. 

Nggak lama kemudian, giliranku tiba. Deg-degan buanget pas maju ke panggung. Setelah perkenalan dan sepatah dua patah kata pembukaan, akupun mulai bernyanyi.

Aku ngerasa banget suaraku gemetaran. Tapi, di luar dugaanku sendiri, mungkin karena kebawa suasana di panggung ya, yang biasanya aku nggak kuat nada tinggi pake suara asli di lagu itu, malah jadi kuat. Yang nggak berani aku lakuin adalah menatap para juri, hahaha, takuuut.. :p

paling kucel dan cupu, hahaha :p 

Kelar nyanyi di atas panggung, akupun turun, dan......

mendapati bahwa banyak panitia dan penonton yang meneteskan air mata... :""""


Pengalaman pertama banget ikutan lomba karaoke, dan nggak sia-sia. Karena, Alhamdulillaah, dapet juara 3, yeaaaaayyy!!! :D


Makasih untuk SMF atas event Fun Karaoke nya, makasih untuk keluarga KND II yang sudah menyemangati (khususnya untuk pak Hari, mas Budi yang juga ikutan lomba, Silvi yang walau lagi nggak enak badan tetep mau ikutan nemenin aku lomba, ngefotoin, ngerekam video pas aku nyanyi, mbak Aci sekeluarga yang udah dateng untuk liat aku nyanyi lagi pas tanggal 31 kemaren, juga pak Dodok sekeluarga, pak Adi sekeluarga, mbak Ais beserta Aa' nya), makasih untuk Cece alias Nia yang udah mau nemenin aku karaokean dan dengerin lagu itu itu mulu yang aku nyanyiin, dan terimakasih untuk semua yang mengucapkan selamat, hehehe :)




dapet pialaaaa :D


bersama Bapak-Bapak KND II :D


(sebagian kecil) keluarga KND II :)


nyanyi lagi :D


Para Juara :D

nyanyi lagi (2) :D

Sekian dulu ceritaku tentang pengalaman pertama ikutan lomba karaoke. Hehehehe. Selain nulis, aku memang juga hobi nyanyi. Cuman, nggak pernah kepikiran aja gitu kalau bakal nyanyi sendiri di depan umum, pake ada jurinya segala, hahaha. Buatku, ini pencapaian yang luar biasa, melawan rasa grogi di atas panggung, seru banget! Hahaha :D

Baiklaah, sampai jumpa di momen-momen kesempatan pertama yang selanjutnyaaa... :D 

Senin, 25 Mei 2015

tentang Iman, dari Seorang Mualaf

0

Pagi itu hari Minggu, as usual aku menghadiri majelis ilmu di salah satu masjid favorit yang nggak jauh dari kosan. Hari itu, tema tausiyahnya adalah mengenai dakwah. Aku nggak akan cerita tentang materi ceramahnya, karena sudah pernah aku share di path, facebook, dan beberapa sosmed lain yang aku punya. Kali ini, aku akan menceritakan sekelumit kejadian yang membuatku merenung amat dalam. 

Singkatnya, hari itu sang Ustadz membawa mualaf bimbingan beliau yang baru memeluk Islam sekitar 1,5 tahun yang lalu. Beliau memintanya untuk membacakan beberapa ayat suci Al-Quran, dan memberikan sepatah dua patah kata untuk berbagi pengalamannya. Selain bacaan Al-Quran yang sangat fasih dan indah (sampe merinding dengernya), ada satu kalimat yang bikin aku merenung...

"Iman itu yakin kepada Allah SWT. Kalau masih ragu-ragu, apa bisa disebut beriman?"

Serasa ditampar.

Yakin di sini adalah sangat luaaaaas cakupannya. Bukan sekedar yakin bahwa Allah itu ada, bukan hanya itu. Tapi terlebih lagi, yakin pada janji-janji Allah.. Sudahkah?

Mungkin terdengar sepele, tapi... Bukannya justru ini yang sering lalai kita lakukan?

Lupa yakin pada janji Allah bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, begitupun perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik pula?

Eaaaa.. Masalah jodoh.. Ini topik terhangat di usia 20an, terutama untuk mereka-mereka yang dinilai sudah mapan dan waktunya untuk menikah. 

Maka ketika pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-pernyataan di sekitar mulai membuat kita galau, bisa jadi kita sedang lupa untuk yakin pada janji Allah. 

Oleh karenanya, bersabar dan yakin pada janji Allah itu adalah salah satu bentuk dari iman. Allah SWT Maha Besar, apa ada setitik kecil hal yang patut diragukan atasNYA?

Aku yakin semua sepakat untuk menjawab tidak.

Pada akhirnya, jika keyakinan itu sudah ada, yang tersisa hanyalah rasa ringan. Allah SWT sudah menjamin, apa lagi yang perlu dirisaukan? :)

Dalam hal jodoh, mari menyiapkan hal-hal yang bisa disiapkan, dimulai dari yang paling dekat, yaitu diri sendiri. Jika ingin yang agamanya baik, maka baikkan juga agama diri. Jika ingin yang penyabar, maka tingkatkan kemampuan sabar hati. Jika ingin yang menjaga dirinya hanya untukmu, maka jaga dirimu sebaik mungkin.

For the first time in my life (halah, hahaha) aku paling merasakan perlu mem-prepare sesuatu adalah soal ini. Prepare dari segi hal-hal yang berada dalam jangkauanku pastinya, hehehe. Ah, malah curcol -___-

Kembali ke topik awal, bahwa yakin kepada Allah itu sangat luas, termasuk yakin pada janji-janjiNYA. Karena iman itu naik-turun, maka kita perlu charger. Pilih tipe charger yang paling sesuai, misal teman yang bisa selalu saling mengingatkan, ikut pengajian, ikut komunitas dakwah, ikutan pesantren kilat, dan banyaaaak lagi macamnya. 

Salah satu hal yang tidak pernah lupa aku syukuri adalah, Allah selalu menempatkan orang-orang yang luar biasa baik di sekitarku. Berkenalan dengan masjid (yang sekarang jadi masjid favoritku di Jakarta), lebih akrab dengan masjid, juga melalui perantara yang Allah kirimkan.. :)

Akhir kata, yuk mari saling mengingatkan, sebab kadar iman itu harus dijaga sebaik mungkin, agar tidak terlalu lama berada di posisi 'turun' :)   

Minggu, 24 Mei 2015

KND II Family :D

0

Entah kenapa, beberapa hari yang lalu tiba-tiba kepengen nulis tentang KND II. Belum ada satu tahun aku ada di sini, tapi rasanya kayak udah deket banget (lebay, hahaha). Tapi iya sih, however, sehari-hari kan memang mostly dihabiskan di kantor. Jam kerja mulai jam setengah 8 pagi, sampai jam 5 sore. Ehm, udah jarang banget sih pulang jam 5 teng, hehehe. Belom lagi kalau ada rapat sampai malem kan. Ambillah rata-rata ada 10 sampai 11 jam yang dihabiskan di kantor. Tuh, hampir setengah hari! Buatku, orang-orang di kantor udah kayak keluarga (maklum, di Jakarta kan merantau, keluarga ada nan jauh dimatoo). Khususnya yaa, personil-personil subdit KND II.

Sudah beberapa kali mungkin posting mengenai kehidupan dan peristiwa-peristiwa yang dilalui selama di kantor, bersama Bapak, Ibu, Mbak, dan Mas di KND II. Maka, kurang lengkap sepertinya kalau nggak menceritakan satu per satu personilnya. Hahahaha... Uji nyali nih ceritanya, bercerita tentang senior-senior.. Maka sebelumnya, maafkeun apabila ada kata-kata yang salah.. :D

First of all, inilah foto para personil KND II :D




 Diawali dari siapa yaaa.. Hmmm, baiklah, sesuai dengan denah lokasi tempat duduk, berarti kita mulai dari Bapak Kasubdit...

Pak Dodok
Subdit KND II dipimpin oleh seorang kasubdit yang bernama Pak Dodok. Masih inget banget, pak Dodok yang pertama kali panggil aku "auu auuu auuul" (dengan nada ala-ala di film horor gitu deh -___-). Bahkan, ketika ketemu di festival lampion, beliau juga manggil aku dengan cara yang sama, sampe diliatin orang-orang deh akunya T.T, hehehe. Anyway, pak Dodok adalah kasubdit yang sangat bersahabat dengan kami semua. Beliau nggak membangun "jarak", tipe pemimpin yang dekat dengan followernya (serasa lagi kuliah leadership nih, bahasanya.. haha). Pak Dodok juga bikin terobosan-terobosan baru di KND II, diantaranya adalah bikin acara IHT tiap minggu (sharing knowledge dari para pelaksana yang bermanfaat buanget biar makin paham sama apa yang kami kerjakan, paham sama kerjaan temen-temen yang lain juga), bikin logbook yang fungsinya memantau kerjaan tiap hari. Yang aku rasakan sih, beliau tuh bisa membawa ritme kerja yang dinamis.. (thumbs up)

Nah, KND II itu punya tiga seksi, IIA, IIB, dan IIC, yang masing-masing dipimpin oleh satu orang Kepala Seksi. Mari kita jumpai beliau satu per satu.. :D

Pak Adi
Seksi KND IIA diketuai oleh Pak Adi. Awal-awal masuk KND, aku paling notice sama beliau. Kenapa oh kenapa? karena beliau adalah pengajar waktu DTSD. Inget banget pak Adi mengajar materi tentang KND pas aku DTSD (tapi pak Adi nggak inget sama aku, hiks). Pak Adi nih karakternya rame dan suka bercanda. Karena karakter beliau yang bersahabat, pak Adi deket banget sama semuanya. Beliau nggak segan untuk turun langsung ngebantuin anak-anak (buah) nya. Pak Adi baik hati pula, soalnya mesti ngajakin bareng temen-temen yang arah pulangnya searah, heehhe.. :p 

Pak Romy
Sementara itu, seksi KND IIB dipimpin sama Pak Romy. Saya termasuk di seksinya beliau, nih, mulai tahun ini. Hampir mirip sama pak Adi, pak Romy nih karakternya juga humoris. Ritme kerjanya pak Romy tuh cepet, nggak ada yang namanya nunda kerjaan. Sebisa mungkin semua kerjaan diselesaiin bersamaan. Pak Romy juga tipe pemimpin yang enak untuk diajak diskusi, detail kalo soal kerjaan, dan punya cara jitu yang bikin kita jadi belajar. I mean, beliau tuh tipenya bukan yang langsung ngasih tau ini itu, tapi semacam ngasi clue-clue yang harus kita cari tau sendiri. Efektif banget itu buat aku yang masih krucil dan kudu buanyyaaak belajar.. :D

Pak Hari
Nah, seksi KND IIC dipimpin sama Pak Hari. Nggak jauh berbeda sama karakter Bapak-Bapak yang aku ceritakan sebelum ini, pak Hari juga sosok yang humoris. Tapi, kalau menurutku sih, pak Hari nih yang paling pendiem kalau dibandingkan sama pak Adi, pak Romy. Beliau juga suka mendiskusikan hal-hal yang sifatnya filosofis, misalnya tentang pernikahan, jodoh, kehidupan. Lumayan berat-berat gitu deh topiknya, tapi tetep asik bawaannya, walau kadang kami kudu berpikir keras memahaminya, hehehe. Yang aku kagum sama pak Hari tuh, cara beliau menyampaikan pendapat, khususnya kalau lagi rapat. Cara penyampaiannya tuh, sistematis gitu, keren deh. 

Bersyukurlah kami semua punya Bapak-Bapak pemimpin yang tipenya bersahabat, deket sama anak-anak buahnya, hehehe. Nah, sekarang giliran ngebahas Mbak-mbak dan Mas-masnya.. :D

Mas Budi
Mas Budi alias Kabuto nih bintang dangdutnya KND II. Gimana nggak, aku sudah menyaksikan sendiri playlist di komputernya, isinya mostly lagu dangdut. Yang paling sering diputer sih lagu-lagunya Roma Irama. Temen-temen paling suka ngeledekin aku kalo mas Budi udah nyetel lagunya Rhoma, ya secara mas Budi duduknya di sebelahku, dan yaaaa selera musik kami jauh berbeda (begitupun dengan usia kami, huahahaha :p). Mas Budi tuh sekilas pendiem, tapi ternyata kalo udah kenal yaa nggak se-pendiem keliatannya.. :p

Mas Hendro
Nah ini, mas Hendro nih mirip-mirip mas Budi (baik dari soal pendiemnya, maupun soal hal-hal yang menjadi topik favorit dalam pembicaraan beliau berdua). Awal-awal aku masuk KND II, kayaknya paling jarang ngobrol sama mas Hendro, soalnya aku kan duduk di belakang, sementara mas Hendro duduknya di depan deket pintu masuk. Tapi, semenjak aku duduk di depan, jadi lumayan sering ngobrol. Oh iya, mas Hendro nih juga pinteeeer banget bikin gombalan. Hahaha. Seringkali gombalannya jadi referensi, diturunkan pada mas Akbar, tapi mas Akbar selalu susah memahaminya. Siapa itu mas Akbar? Nanti kita bahas mas Akbar, dia duduknya paling ujung sih, jadi yaa sabar dulu ya.. :p

Bang Mael
Awalnya aku panggil mas Mael, karena aku kebiasaan panggil yang lebih senior pake mbak atau mas. Tapi, pas aku manggil mas Mael malah diketawain ama temen-temen yang lain. Akhirnya ikutan manggilnya Bang Mael (walau kadang masih suka nggak sengaja manggil mas, hihi). Pertama kali liat Bang Mael, aku kirain bang Mael galak, hahahahaha. Tapi ternyata salah banget, bang Mael orangnya humoris. Walaupun nggak sering-sering banget ngobrol, tapi sekalinya nyeletuk biasanya bikin ketawa.. :D

Mas Anton
Kalau ada orang Batak berlogat Sunda, pasti mas Anton lah orangnya. Hahahaha. Eh tapi, mas Anton bukan orang Batak sih, cuma namanya aja (karena usut punya usut, nama belakangnya yang serupa marga ternyata hanyalah nama, bukan marga beneran.. :p). Mas Anton nih orangnya lucu, suka bercanda. Dan, sebagai senior yang satu seksi sama aku, mas Anton tuh orangnya nggak segan untuk membagi ilmunya. Kalau aku tanya apapun, pasti dijelaskan sampai sejelas-jelasnya, mantap pokoknya.. :D

Mbak Tika
Nah, mbak Tika nih juga satu seksi sama aku, sama seperti mas Anton, mbak Tika juga oke banget kalo ngejelasin hal-hal yang belom aku paham. Kalau sama mbak Tika, ngobrolin apapun oke. Nggak cuma soal kerjaan, aku juga sering curhat sama mba Tika, hehe. Ohiya, bulan depan mbak Tika berangkat ke Australi buat lanjut sekolah. Sedih, tapi juga bangga sama mbak. Untungnya kita udah sempet nonton bareng ya mbak, setelah sebelumnya gagal nonton The Hobbit. Sukses di Australi nanti ya mbaktiiik :*

Mbak Aisyah
Dulu awal kenal mbak Ais pas di KND III, dan menurutku mbak Ais pendieeem banget. Yah mungkin karena ku belum begitu kenal sih, ya. Soalnya, ternyata, setelah berinteraksi tiap hari di KND II, mbak Ais nih rame juga orangnya, hihihi. Selain rame, mbak Ais juga doyaan ngemil. Tiap ke meja mbak Ais, pasti adaaa aja cemilan. Oiya, kadang-kadang, mbak Ais juga suka nonton korea pas jam istirahat. Teman diskusinya soal korea-koreaan adalah Silvi. Siapakah Silvi?? Baca terus makanyaa.. :D

Mbak Aci
Mbak Aci tuh ibunya anak-anak :* Mbak Aci tuh keibuan banget, mengayomi pokoknya, hahaha. Bisa dibilang sih, sebenernya, dewan pertimbangan yang asli tuh ya mbak Aci. Karena, apapun itu, kami hampir selalu minta pertimbangan mbak Aci. Mbak Aci orangnya caaaaare banget sama orang lain, dan peka banget gitu sama sekitar. Dan yaaa, nggak lupa, mbak Aci juga unyuuu sekali kalau sama pak Aci, hihihi :D

Mas Aan
Nama panjangnya adalah mas penatausahAAN, hahaha :p. Mas Aan nih penyiar radionya KND II, karena dia pulalah owner The Music Albums, jadi playlist koleksinya tuh lengkap banget. Mau lagu jadul, lagu baru, kayaknya dia tau semuanya deh. Duluuu, kukira mas Aan tuh orangnya pendiem, tapi ternyata aku salah -___-. Mas Aan itu suaranya bagus, tapi mesti nggak mau kalo disuruh nyanyi (kebalikannya ama aku, mesti doyan nyanyi walau suara ngga karuan, haha). Oiyaaa, dia juga yang mensabotase komputerku biar otomatis ngebuka website-nya dia tiap nyalain komputer. Padahal cuma ditinggal dinas 3 hari, komputerku berhasil disabotase -___-

Silvi
Naaah, tadi udah sempet ngomongin Silvi kan sebelum ini? Mari kita kenalan sama Silvi. Silvi nih, awalnya aku kira pendieem.. ternyataaaa.. pendiem juga sih, tapi nggak se-pendiem yang aku kira. Hahaha. Saking seringnya barengan kemana-mana ama dia, kami dijuluki Upin-Ipin, :p. Silvi itu orangnya tenang, dan anggun. Bertolak belakang banget sama aku, hahaha :p. Cipi juga sabaaar banget menghadapi aku yang seringkali nggak jelas (maap ya Cipi :3). Sebagai Ibu Koperasi KND II, di tangan Cipi lah kesejahteraan cemilan kami berada. Semangat belanja ya, Cipi :D      

Mas Imam
Ini dia nih, The Master, mas Imam. Jangan coba-coba bikin mas Imam menoleh dengan percuma. Karena, setiap mas Imam melepaskan pandangan dari komputer, dolarnya akan melayang :p Mas Imam itu kayak mafia Jepang (kata Silvi, hahaha), soalnya orangnya serem gitu kalo lagi diem, padahal aslinya lucu kalo lagi ngelawak.. :p

Mas Ashadi
Tiang lampunya KND II nih, hahahaha. Kenapa tiang lampu, karena mas As tuh tuinggiiii (apalagi kalo dibandingin sama aku -____-). Kalau ngomong sama mas As tuh, butuh kesabaran ekstra. Kalo kita lagi serius, mas As orangnya selalu nyantai. Terus, tanggapannya tuh hampir selalu out of the box gitu. Oiya, mas As juga sering bikin celetukan-celetukan dan bertingkah yang bikin kami semua yang ada di sekitarnya jadi ngakak, geleng-geleng kepala, sampai ngelus dada.. -___-

Mas Akbar
Ini diaaa, raja gombal gembel, raja reptil juga! Mas Akbar nih referensi gombalannya ampun-ampunan dah, hahaha. Belakangan ini, kami suka sharing gombalan bersama mas Hendro, lumayan buat lucu-lucuan :D Mas Akbar juga doyan ngoleksi hewan-hewan yang out of the box, misalnya kecoa madagascar, kura-kura, dan lain sebagainya. Agak-agak ngeri gimanaaa gitu kalo liat koleksi-koleksinya mas Akbar -_____-. Oiya, mas Akbar juga punya hobi ngerampok makanan dari ruangan-ruangan sebelah. Tiap saat adalah waktu mengunyah yang tepat buat dia :p

That's all, para personil KND II. Aku juga termasuk sih, tapi yaa nggak perlu dibahas juga di sini lah yaa :p

Lebih dari partner kerja, buatku Bapak-Bapak di sini adalah orangtua di kantor, Mbak dan Mas di sini adalah kakak, kesemuanya adalah keluarga. Aku seneng banget bisa jadi bagian dari KND II. Personil-personil yang menyenangkan, dan banyak memberikan kesempatan untuk belajar. Sukses teruuuus KND II untuk tahun-tahun berikutnya..

I'm blessed to be a part of you all :) :*    


Selasa, 19 Mei 2015

Penjelajah Mimpi

1

taken from: http://nhne-pulse.org/dream-the-greatest-movie-ever-made/colorful-drawing-of-woman-dreaming/

Meda mengamati laki-laki yang duduk di bangku paling pojok kafe itu. Meda adalah pelanggan setia, hampir tiap weekend dia menghabiskan waktu di sana, sendiri ataupun bersama teman-temannya. Tapi kali ini ia sendirian, ia bisa dengan leluasa mengamati laki-laki yang kira-kira berada di jarak yang tidak terlalu jauh darinya. Kedua alis Meda bertaut, benaknya dipenuhi tanya. Meda seperti pernah melihatnya sebelum ini. Bukan, bukan satu atau dua minggu lalu saat laki-laki itu juga sudah ada di sana, tapi....
Meda merasa sering sekali bertemu dengan laki-laki itu, tapi di mana?

Greentea latte favoritnya sudah hampir habis, tapi pikiran Meda masih menjelajah kemana-mana. Siapa laki-laki itu?

***

"Med, lu kenapa sih?"
"Hah? Apanya yang kenapa, Tan?"
"Lu daritadi celingukan mulu. Abis celingukan, lu liatin terus tuh bangku paling pojok. Lu kenapa sih? Lu lagi nyari siapa?" Intan mulai penasaran dengan kelakuan sahabat baiknya itu. Yang ditanya hanya kembali menyeruput greentea latte nya pelan, mengacuhkan pertanyaan Intan, sebab di benaknya ada tanda tanya yang jauh lebih besar, jauh jauuuh lebih penting artinya.

Mana laki-laki itu? Mana laki-laki yang ternyata seringkali mampir di mimpinya itu?

***

Seorang laki-laki muda tampak sibuk di sudut ruang kamarnya yang gelap. Ada sebatang lilin putih yang menyala di hadapannya. Ditengoknya jendela, purnama membulat terang. Dibacanya beberapa baris mantra.
Penjelajah mimpi. Di samping tempat tidurnya, ada foto gadis penyuka greentea latte.

kosong

0

entah sudah tatapan ke berapa. sesungguhnya betapa ingin aku menyapa, lewat kata-kata. tapi, setiap kali menatapnya, akhir-akhir ini, aku sepertinya kehilangan kata. kehilangan kemampuan untuk mengungkapkan. kehilangan rasa untuk merangkai kata-kata.

entah pula pertemuan ke berapa. tapi di setiap itu pula aku cuma diam. seperti bertemu dengan kekosongan. sepi, diam saja.

bukan sedang tidak ada yang menarik untuk dibicarakan. bukan juga sedang datar-datar saja hariku.

ah, entahlah.





-teruntuk halaman new entry di blog kesayanganku, berkali pertemuan tapi masih juga aku menjumpai kekosongan. bulan ini sudah melewati tengah, tapi baru ada satu postingan-

Sabtu, 16 Mei 2015

Selalu Ada yang Pertama: Pergi ke Dufan :D

0

Alkisah pada suatu hari libur kejepit yang terjadi di tanggal 14 Mei kemarin, mbak Ully, salah satu member JKT 48.. eh salah, maksudnya salah satu member dari DJKN 72 yang penempatan di Kendari berkesempatan untuk main ke Jakarta. Demi memanfaatkan kunjungan langka tersebut, kami yang ada di Jakarta berinisiatif mengadakan acara penyambutan berupa bermain ke Dufan!

Hal tersebut diselenggarakan atas request alias permintaan dari mbak Ully sendiri yang belum pernah ke Dufan. Actually, aku juga belom pernah ke Dufan sih, hehehe, jadi yaaa kebetulan, akupun menyambut antusias agenda nDufan tersebut :D

Hari Kamis jam 10an kami berenam berangkat menggunakan busway. Ternyata eh ternyata, letaknya Dufan tuh nggak jauh dari daerah jajahan kami, hehe. Cuma selisih berapa halte aja, mungkin setengah jam kami udah sampe di Dufan. Kesan pertama, mmmm, panas. Serius deh, mungkin Jakarta udah memasuki musim kemaraunya, karena hawa akhir-akhir ini jadi panas bin sumuk bin geraaah banget. Setelah keluar dari shelter busway terkait, kami pun jalan dikit untuk mencapai Dufan. Daaaaan.. jeng jeeeeengggg.... 

Terpampanglah pemandangan antrian yang bejubel semacam orang-orang yang ngantri mau nonton konser. Langsung ngedrop, tapi yaaa nggapapalah yaa, udah nyampe ini juga, marilah kita berjuang untuk mendapatkan tiket!

Satu jam berlalu, kami masih di urutan tengah agak belakang. Sudah berbagai macam topik obrolan dibicarakan sampe mulut berbusa, tak urung kami capek juga. Di kala suntuk mulai melanda, terngianglah pengumuman kalo antri tiketnya bisa diwakilkan, kami berempat pun serentak berinisiatif mbak Tiar dan suaminya aja yang ngantri. Secara, dalam kondisi sesumpek apapun, kalau mereka berdua yang antri kan tetep bisa menikmati suasana, secara penganten baru. Akhirnya aku, mbak Adel, dan Mbak Ully nunggu di pinggir trotoar. Kami makan permen, ngobrol, makan roti, dan foto-foto biar nggak mati gaya. Tapi beneran deh, antriannya ampun-ampunan. Aku kira kan longweekend orang-orang pada liburan ke luar kota, eh ternyata pada ke Dufan.

Sekitar setengah jam-an kemudian, tiket akhirnya berada di tangan. Thanks to mbak Tiar dan suami :3

Begitu masuk, yang pertama dicari adalah mushola, secara udah lewat waktu dhuhur. Setelah sholat, kami makan siang (lapeeeeerrrrr banget). Setelah makan siang, dimulailah penjelajahan kami...

Awal penjelajahan, aku dibuat terpesona. Nggak sih, bukan terpesona ama wahananya, tapi terpesona sama buannnyaknya orang di sana. Satu wahana tuh yang ngantri buannyyyyaaaakkk. Kayaknya sih nggak ada wahana yang nggak pake ngantri. Aku sih ke situ orientasinya nggak pengen nyobain wahana aneh-aneh, aku cupu dan penakut banget lah kalo suruh naik wahana aneh-aneh macam halilintar, histeria, dan kawan-kawannya. Yang ada di otakku pertama kali masuk adalah....

aku pengen naik bianglala.

Bianglala tuh kayak wajib dinaiki deh tiap aku ke wahana main-main semacam Dufan ini. Entahlah ya, aku seneng aja gitu naik sampe tinggi, ngelihat pemandangan sekitar dari ketinggian. Suka pokoknya :D

Mempertimbangkan antrian yang mengular dimana-mana, pilihan pertama jatuh pada wahana Ontang-Anting. Apa pasal? Wahana ini emang antriannya mengular sih, tapi jumlah seat tiap kloter kan banyak, jadi yaa kirakira sebanding lah sama antriannya, nggak sampe berjam-jam nunggunya.

Sesuai perkiraan, kami nunggu nggak sampe sejam. Mbak Ully yang udah deg-degan bahkan sebelum ngantri, akhirnya menaiki wahana pertamanya (lebay,, hahaha)..

Petualangan dilanjutkan hingga menjelang malam. Di hari yang gelap, ketika matahari sudah kembali ke peraduannya, kami menaiki dua wahana terakhir, komidi puter dan bianglala.. :)



Hari yang panjaaang. Mulai jam 1 siang sampe jam 7 malem, kami berhasil menaiki 5 wahana (ontang-anting, kora-kora, wahana cupu di deket ice age, bianglala, dan komidi puter). Cupu semua ya wahananya? Hahaha, biarlah, yang penting kan udah pernah ke Dufan. Ya nggak, mbak Ully? :p

Menurut aku pribadi sih, sistem antriannya tuh perlu diperjelas. Dikasih batas-batas yang jelas. Masalahnya, kalo udah berkerumun banget gtu ngantrinya, suka ada yang nyusup-nyusup curang, kan bete jadinya kalo ada yang nyelip-nyelip gitu. Kalau ditanya apa pengen ke Dufan lagi, hmmm, boleh sih, tapi nggak dalam waktu dekat. Mungkin nanti nanti lah yaaa, pas mbak Ully main ke Jakarta lagi.. :D




Setahun lebih di Jakarta, akhirnya aku ke Dufan juga... Better late than never, kan? :)   



ps: bahasaku udah terkontaminasi dengan bahasa nota dinas nih, hiks.