Jumat, 25 Maret 2016

Selalu Ada Yang Pertama: Papandayan part 1

0

Akhirnya tahun ini posting lagi edisi "selalu ada yang pertama", setelah terakhir kali tahun kemarin ya, di triwulan satu (halah triwulan, kayak periode pelaporan penggunaan PMN aja, ul) 2016 ini, aku berkesempatan untuk melakukan hal baru. Apakah itu? Naik gunung! Harus kuakui, denger kata 'gunung' aja aku langsung ciut, masalahnya badan ini apa atuh kalau kudu nanjak naik gunung, hahaha. Takut nyusahin temen seperjalanan lah, ngerepotin doang. But, kali ini, setelah diajakin sama salah satu temen kantor yang anak gunung banget, ada sedikit rasa tertarik, pengen nyobain gimana rasanya naik gunung. Sedikit loh ya, sedikit, karena aku masih harus browsing cari info ini itu tentang Papandayan, sebelum yakin kalau itu gunung trek-nya masih mampu aku jalanin.

Awalnya ada banyak orang yang (kabarnya) mau ikutan trip Papandayan kali ini, tapi karena satu dan lain hal, akhirnya mrotoli sampai hanya tinggal empat orang. Lalu apakah kami batal ke Papandayan karena kekurangan orang? Tidak! Terlalu sayang untuk membatalkan perjalanan yang sudah direncanakan sejak jauh hari. So, kami tetep berangkat walau hanya beranggotakan empat orang, yaitu aku, mbak titis, mas yogi, dan mas imam. Semangat!

Seperti rencana semula, kami berangkat hari Jumat, sepulang kantor, tapi yaa agak maleman lagi sih, biar nyampe Garut nya nggak terlalu dini hari. Akupun memutuskan untuk pulang dulu ke kosan, sementara mas imam sudah bawa barang bawaannya yang segambreng ke kantor, niatnya nggak balik kosan dulu. Kami berempat memang sepakat berangkat bareng naik uber dari kantor ke terminal Pasar Rebo. Nah, karena eh karena mas imam dan barang bawaannya itu tepergok oleh pak bos besar, jadilah seharian Jumat itu kami (saya khususnya) ditanya-tanyaaaa mulu sama orang-orang kantor. Siapa aja yang ikut ke Papandayan, berangkat jam berapa, nginep di sana apa langsung balik, dan banyak lagi pertanyaan yang harus kami hadapi. Sabar ya kakak-kakak, gini emang risikonya kalau mau ngetrip ama artis (aku, red.) :p

Jam menunjukkan pukul setengah 8 pas aku nerima telpon mas imam, ngabarin kalau aku dijemput aja sekalian pake uber-nya. Aku jelas hepi lah, nggak usah repot-repot ke kantor lagi, hehe. Tapi segera aku telpon balik mas Imam..

"Mas, jangan dijemput dah, aku lupa kalau tadi belom absen pulang!!"

Hahahaha, untung inget lah, gara-gara fleksi dan pulang jam 5, aku sengaja nggak absen dulu pas pulang, kan malem bakal ke kantor lagi. Yah, apa boleh buat, aku memang ditakdirkan balik lagi ke kantor.

Untunglah kantor udah nggak rame-rame amat, jadi aku plus ransel plus matras yang kugendong nggak menarik perhatian (bukan apa-apa sih, tas plus bawaannya lebih gede dibanding aku yang ngebawa, ahahaha). Surprisenya, si cipi (silvi) ada, belom pulang dia. Cipi sengaja mau nungguin, mau nganterin aku berangkat (GR) :p. Kami berempat pun menunggu uber yang dipesan mas yogi. Jadi rutenya, begitu uber sampe kantor, kami anterin dulu cipi pulang sekalian jemput mbak titis, terus ke kosan mas yogi, barulah menuju terminal Pasar Rebo. Di tengah keheningan malam, tiba-tiba mas yogi nyeletuk..

"Eh, ternyata saya dulu juga pernah transaksi ama bapak uber yang ini! Waaah.."

Mungkin itu yang namanya jodoh mas, sejauh apapun terpisah, kalau takdirnya ketemu pasti ketemu juga akhirnya, hahaaha.. :p

Jadilah pas uber-nya datang, mas yogi semacam bertemu dengan belahan jiwa yang lama hilang, dia salaman, cipika cipiki ama bapak ubernya, hahaha. Nggak ding, bercanda.. :p

Mobil berjalan menuju cempaka putih, perjalanan kami menuju Papandayan resmi dimulai, start sekitar pukul setengah 9 malam. Di bawah jembatan penyeberangan Pangkalan Asem, mbak titis sudah menunggu, sementara cipi turun dari mobil dan pulang ke kosannya. Perjalanan lanjut ke kos mas yogi dulu, ambil barang-barangnya dia, barang-barang kami juga sih. Dan syok banget aku lihat tasnya yang tinggi, yang sepertinya muat sih kalo aku masuk ke tasnya, hehe.

Lanjut, mobil terus melaju ke terminal Pasar Rebo, lewat tol. Sesekali kami ngobrolin hal yang lucu-lucu, biar nggak ngantuk. Padahal nih di dalem hati udah nawaitu, mau bobok selama di bis nanti. Perjalanan ke terminal memakan waktu sekitar satu jam-an karena kendaraan-kendaraan di jalan lumayan rame, untungnya nggak sampe macet sih. 

Sesampainya di terminal, kami memutuskan untuk mampir mengisi perut dulu di salah satu warung yang ada di sana. Aku, mas imam, dan mbak titis pesen pecel ayam, sementara mas yogi, luckily dia mendapatkan soto ayam yang hanya tersisa satu porsi. But not bad, pecel ayamnya lumayan mantap sambelnya, Ah iya, nggak bosan-bosannya aku membahas bahwa pecel ayam ialah bukan nasi pecel dengan lauk ayam, tapi nasi ayam penyet, nasi sambel lauknya ayam (itulah bedanya Jakarta dan Surabaya, tempat dimana kosakata pecel ternyata punya arti yang berbeda). Selesai makan, kami berjalan menuju terminal di seberang jalan. Ternyata ada banyak kios buah di sekitar situ, kamipun tergiur untuk beli buah dulu. Setelah melalui perdebata panjang, terpilihlah kelengkeng, sebabnya kami bayangin makan kelengkeng yang dingin pas kemping, kayaknya maknyus. Kelengkeng sekilo harganya 35.000, dapat dua ikat, lumayan cukup paslah untuk kami berempat.




Nggak pakai nunggu lama, bis yang akan kami tumpangi datang, bis ke Garut. Setelah meletakkan tas-tas besar kami di bagasi, kamipun naik dan memilih tempat duduk. Aku dan mbak titis di bangku yang isinya dua orang, sementara mas imam dan mas yogi di sebelah, yang sebangku tiga orang. 

Jam 11-an malam, bis mulai melaju meninggalkan terminal. Papandayan telah selangkah lagi lebih dekat. Dan yaaa, seperti niat semula, dengan didukung perut yang sudah kenyang, kami berempat tidur dengan sukses selama di perjalanan.

Bangun-bangun, setelah kurang lebih empat jam berlalu, mataku yang belum beres-beres amat alias masih ngantuk mencoba melihat keluar jendela, mencari tahu berada dimana bis ini sekarang. Terminal Guntursari, itu yang aku baca dari plang kecil yang tampak dari dalam bis.

"Turun di sini," kata mas yogi. Awalnya aku mikir sih, oh kirain turunnya di terminal garut (?). 

Dengan mata yang masih separuh terpejam dan muka bantal, kami turun dari bis. Dan wooooww, terminal ini isinya pendaki gunung semuaaa! Ternyata, memang ada tiga gunung yang bisa dicapai dari terminal ini, ada gunung Papandayan, gunung Guntur, dan gunung Cikuray. Jadilah seisi terminal dipenuhi dengan pemuda pemudi yang di punggungnya menempel itu tas-tas segede gaban. Beberapa dari mereka ada yang langsung meneruskan perjalanan naik mobil pick-up, ada juga yang naik angkot. Karena tujuan kami nggak begitu jauh, kami memutuskan untuk santai-santai dulu. Kamipun keluar terminal, mencari kali aja ada warung yang buka, bisa dipakai singgah dulu sementara.

Waktu menunjukkan pukul setengah empat pagi ketika kami menemukan toko yang lumayan besar untuk singgah sementara. Ada tiga cowok yang juga lagi ada di sana, ngopi dan makan mie, ada juga satu dari mereka yang ngerokok. Pertama kali sampai, perhatianku langsung jatuh pada sosok salah satu dari mereka. Bukan apa-apa, bukan karena ganteng atau apa, tapi karena topi yang dia pakai. Tulisan di topi itu sangat inspiratif sekali, dan menggugah, tulisan di topinya tuh...

Insya Allah Move On.

Ngeri banget kan?!! Sayangnya aku nggak bisa curi-curi ngefoto tulisan di topinya, takut dia kegeeran dikira aku ngefoto dia -___-.

Di toko ini juga kami membeli alias menambah perbekalan. Air mineral, mie instan, gula, dan balsem juga nggak ketinggalan. Kamipun duduk-duduk di toko itu sambil menunggu waktu. Kami ngobrol, ngemil beberapa snack dari ransum yang jumlahnya satu tas lebih. Nah di sini ada satu peristiwa yang bikin aku bete. Kami disamperin anak kecil, ngamen gitu, tapi udah kayak preman. Awalnya satu doang, udah kami kasih. Eh temennya dateng, laaah minta lagi, pake colek-colek segala pula. Hiiiih nyebeliiiiinnn -_____-. Untungnya nggak lama, mereka ngacir.

Jam setengah 5, kami bersiap melanjutkan perjalanan. Masing-masing mengecek bawaan. Aku sempat nyobain tasnya mas imam. Bukan nyoba ngebawa ya, karena bahkan ngangkatnya aja aku nggak sanggup. Berat bingits!

Nah, di tengah kami yang lagi siap-siap ini, lahdalah dua anak tadi muncul lagi! Ampun dah, maksa minta lagi, dan nyolek-nyolek lagi. Untung dilerai ama mas imam, kalau nggak, bisa tak semprot tuh bocah (tapi mikir juga sih, serem euy tindikan-tindikannya T.T).



Baiklah kita sudahi cerita dua anak kecil yang nyebelin tadi (sebenernya kasihan juga sih ya, kecil-kecil kok ya udah preman gitu), kami berempat jalan menuju terminal lagi. Mas yogi yang udah banyak nyari info mengenai pendakian ini, nego sama sopir-sopir angkot yang banyak menghampiri kami. Nggak lama, dapat lah kami satu angkot. Tas kami juga udah dinaikin ke atas angkotnya. Karena sepertinya masih harus nunggu penumpang lain, jadilah kami duduk-duduk di kursi warung yang tutup, nggak jauh dari angkot tadi, sambil bikin video lucu-lucuan sebagai catatan perjalanan ke Papandayan :D



Sampai jam 5, belum juga ada tanda-tanda angkot akan berangkat. Kami sudah sempat disuruh masuk angkot, diminta uang ngiket tas, kemudian disuruh keluar lagi, ganti angkot. Semata karena kuota yang belum mencukupi (yanasib cuman berempat satu rombongan), sementara beberapa rombongan yang baru datang malah langsung berangkat karena jumlah mereka banyak. Kamipun memandangi penuh harap setiap bis yang masuk terminal, berharap segera banyak penumpang yang naik angkot, biar ndang berangkat. Akhirnya ada satu rombongan lagi yang ikut angkot kami, tiga orang, naga-naganya sih mereka terkatung-katung juga karena serombongan cuma tiga orang. Tak lama, persamaan nasib itupun membuat kami berteman, hahaha. Jam 5 lewat beberapa menit, adzan Subuh berkumandang. Setelah bilang ama mamang angkotnya, kami pamit sholat dulu. Ternyata, ada masjid di salah satu gang di terminal situ. Dan, sepertinya itu masjid memang jadi tempat istirahatnya traveller, karena banyak banget yang tidur di teras masjidnya.  



Selesai menunaikan sholat Subuh, kami kembali ke angkot dan menemukan bahwa angkotnya sudah hampir penuh, Alhamdulillah. Namun, nggak jauh beda dengan angkot pada umumnya, angkot inipun belum mau jalan kalau angkotnya masih sekedar penuh aja, bukan penuh banget -____-.

Mungkin sekitar jam 6 kurang, tuh angkot baru mau jalan, setelah penumpang memenuhi kuota. Oh ya, kami dikenai tarif 20.000 per orang, plus biaya ngiket tas 20.000, jadi total 100.000. Karena masih ngantuk juga, sepanjang perjalanan aku hanya tidur, nggak peduli dengan pemandangan di luar, hehe. Tau-tau jam 6.45 udah nyampe aja tuh, di pasar Cisurupan. Kami para penumpang akhirnya bisa turun dan ngulet-ngulet, secara empet banget di dalem angkotnya, hahaha. Dari sini, perjalanan masih harus dilanjut dengan ojek, atau mobil pick-up menuju Camp David, Papandayan. Camp David ini, bukan tempat ngediriin tenda, tapi yaa semacam wilayah pos untuk perijinan naik lah.



Tapi, berhubung nih perut udah krucuk-krucuk, mas yogi ngajakin mampir pasar dulu, nyari makan. Berjalanlah kami beriringan menuju pasar. Nantinya, formasi jalan kami hampir selalu sama: mas yogi di depan, aku dan mbak titis di tengah, mas imam paling belakang. Selintas aku jadi ingat pengaturan rombongan serigala yang akhir-akhir ini banyak dishare, hehe :p

Awalnya mas yogi ngajak wisata pasar, alias masuk ke dalam pasar, dia jalan duluan gitu mencoba jalan menyusuri pasar. Sementara aku, mas imam, dan mbak titis ngeliatin doang. Bukannya gimana, ini gembolan gede-gede kalau masuk pasar apa ya nggak nyenggol sana-sini, hahaha. Nggak lama kemudian mas yogi keluar pasar dan menghampiri kami.

"Kayaknya susah ya bawaan kayak gini masuk pasar.."

NAHHHH..

Beruntungnya ada yang jual nasi kuning di bagian luar pasar. Sementara itu, di seberang pasar juga ada toko yang masih tutup, ada terasnya gitu. Jadi kami memutuskan untuk beli nasi kuning aja, makannya lesehan di teras toko. Satu porsi nasi kuning yang banyaaak, lauknya telor bulat, orek tempe, plus kerupuk, minumnya teh anget. Nikmaat deh rasanya. Dan dengan porsi sebanyak itu, harganya cuma 10.000 per porsi :D



Perut kenyang, kami siap melanjutkan perjalanan. Kamipun kembali ke tempat kami turun dari angkot tadi. Di sana, sudah ada 1 pick-up yang siap berangkat (entah kemana) beserta penumpang yang jumlahnya kira-kira 10 orang lah (nggak sempet ngitung, pokoknya tuh mobil bak keliatan udah penuh aja sama orang plus tas bawaannya). Teringat obrolan pas makan tadi kalau aku excited banget pengen naik pick-up, nostalgia jaman KKN dulu, hehe. But, melihat pick-up dan penumpangnya, perasaan langsung nggak enak, jangan-jangan ntar kayak angkot lagi nih, nunggu penumpang, dioper-oper, molor lah berangkatnya. Oh iya, lupa, sebelum nyampe ke titik ini, kami lewat indomaret kan beli gas, ketemu lagi sama rombongan tiga orang tadi, sebut saja Furqon cs. Jadi kami jalan bertujuh deh.

Nah, di samping pick-up yang siap berangkat tadi, ada satu mobil avanza. Kami malah ditawarin naik itu aja. Nah di sinilah aku bimbang mau bersyukur atau sedih karena nggak jadi naik pick-up, hehe. Tapi yaudahlah, anggap saja ini rejeki, maka kami bertujuh naik mobil itu. Agak maksa juga sih, secara barang bawaan kami kan banyak, masuk mobil, yaa umpel-umpelan, but that's ok, camp David sudah nggak jauh-jauh amat, dan untungnya aku dan mbak titis cukup slim untuk nyempil di bangku belakang (separuh bangku ditempatin tas ya, jadi fix kami berbagi satu bangku untuk berdua). Mobil melaju, dari dalam mobil, kami bisa mengamati wajah-wajah penumpang pick-up yang juga mengamati kami. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka >.<

Di mobil inilah kami bertujuh cerita-cerita dan malah jadi sepakat untuk barengan pas pulangnya gara-gara pak sopirnya nawarin ngejemput pas pulang dengan tarif 45.000 aja sampai terminal! Tawaran yang terlalu menarik untuk dilewatkan...

Jam 8.21 kami tiba di Camp David, dan bener aja, di sini banyak pedagang, banyak stand-stand gitu. Mas yogi dan mas imam langsung ke pos perijinan untuk lapor, sementara aku dan mbak titis malah nunggu di luar sambil selpi-selpi :p




Kelar lapor, kami menyempatkan foto dulu, sebelum lanjuut perjalanan. Dari ritual melapor tadi kami mendapatkan satu formulir perijinan, dan satu lembar peta.

petanya lupa nggak kefoto :p






Udara yang segar cenderung dingin dan pemandangan hijau nan indah di sekitar, sekilas membuat aku lupa kalau ini mau naik gunung. Boleh dibilang, yang aku rasain pas mau ngetrip kali ini tuh antara excited dan takut. Seminggu sebelum berangkat, karena udah sebulanan nggak lari pagi, sabtu-minggu aku bela-belain lari keliling di lapangan banteng, buat persiapan, biar nggak nyusahin-nyusahin amat pas ke Papandayan. 

And here we are, tanggal 19 Maret, pagi itu, pengalaman pertamaku naik gunung bareng temen-temen kantor...

(to be continued)

   

Selasa, 15 Maret 2016

Flash Escape in Makassar

0

Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi salah satu kota besar di Pulau Sulawesi. Kota Makassar. Satu tahun yang lalu sebenarnya saya sudah mengunjungi kota ini juga, tapi hanya satu hari, full untuk bekerja, jadi nggak memungkinkan saya untuk bisa jalan kemanapun. Syukurnya, tahun ini ada kesempatan lagi untuk berkunjung ke sana. Dan, karena kali ini jadwal tidak terlalu padat, saya bisa menyempatkan diri untuk berjalan-jalan, walau yaa nggak jauh dari daerah sekitaran saya menginap.

Sedikit review perjalanan, semoga bisa membantu siapapun yang membaca artikel ini untuk memilih itinerary ketika (nggak sengaja) liburan ke Makassar dengan waktu yang nggak lama. Check this out!

1. Pantai Losari



Pantai Losari adalah sebuah pantai yang terletak di bagian Barat kota Makassar. Pantai ini juga menjadi landmark kota Makassar yang sangat terkenal. Sepertinya, belum sah ke Makassar kalau belum mengabadikan momen di pantai ini. Memang tidak akan ditemui panorama khas pantai berupa pohon kelapa, debur ombak, serta pesisir dengan pasir putih, tapi keindahan sunset di sini tidak diragukan lagi. Saya beruntung bisa menginap di tempat yang nggak jauh dari Pantai Losari, sehingga bisa menikmati sore dengan santai, menunggu matahari tenggelam dengan khidmat.




Pantai Losari jadi tempat yang lazim bagi warga Makassar untuk menghabiskan waktu. Di pagi hari, pantai ini dipenuhi orang-orang yang olahraga, entah itu bersepeda, jogging, ataupun hanya jalan santai di sepanjang garis pantai. Di sore hari, banyak juga yang berkumpul di sini, entah ramai-ramai, sendirian, entah untuk nongkrong bersama atau hanya menunggu pemandangan sunset (seperti saya). Di depan Pantai Losari juga banyak kios-kios yang menjual jajanan khas kota Makassar, pisang epe'. Kios-kios ini berada di seberang jalan, dan mulai buka di sore hari.

2. Masjid Amirul Mukminin


Masih di sepanjang pantai Losari, ada sebuah masjid unik yang juga menjadi ikon kota Makassar. Sebutlah nama Masjid Amirul Mukminin atau biasa terkenal dengan Masjid Terapung. Masjid yang yang memiliki tiga lantai ini menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan atau wisatawati seperti saya, hehe. Bukan hanya menjadi tempat ibadah, tapi dari masjid ini saya juga bisa menyaksikan pemandangan sunset yang indah.




Masjid Amirul Mukminin ini tampak sangat mencolok dengan dua kubah besarnya yang berwarna biru muda, serta dua buah menara yang menjulang di sisi kanan dan kiri masjid. Dari segi arsitektur (maaf saya sotoy, padahal bukan arsitek, hihi), masjid ini indah, unik, dan cute. Di kanan dan kiri masjid, ada tangga melingkar yang menuju ke lantai 2 dan lantai 3. Ada sedikit ruang terbuka (semacam balkon) di setiap lantainya yang biasa digunakan pengunjung untuk duduk-duduk menikmati pemandangan dan sejuknya angin. Penerangan di dalam masjid tampak cute dengan lampu-lampu berbentuk bulat yang menggantung di langit-langit. Harus banget ke masjid ini deh kalau ke Makassar :)



3. Masjid Raya Makassar


Masjid Raya Makassar terletak di jalan Bulusaraung. Masjid yang menjadi salah satu kebanggaan warga Makassar ini memiliki dua menara dan dapat menampung hingga 10000 jamaah. Salah satu hal yang menjadi kesukaan saya pada masjid ini adalah jendela-jendela besar yang memungkinkan sirkulasi udara berjalan amat lancar. Awal masuk kok sepi, ternyata lantai utama untuk sholat berada di lantai 2.




Nah, di lantai 2 inilah saya akhirnya bisa menjumpai Al-Quran Akbar, Al-Quran besar dengan ukuran  1x1,5 meter yang disimpan secara khusus dalam kotak kaca. Terbersit rasa kagum yang membuat merinding, ketika melihat indahnya tulisan dalam Al-Quran tersebut. Al-Quran Akbar ditulis tangan oleh K.H. Ahmad Faqih Muntaha dan membutuhkan waktu satu tahun penuh. Ditulis dengan tinta khusus yaitu campuran antara tinta bak china dan air teh kental, tulisan dalam Al-Quran ini diprediksi akan awet melekat pada kertasnya dalam waktu yang sangat lama.



4. Fort Rotterdam


Tidak jauh dari Pantai Losari, tersebutlah benteng terkenal di Makassar bernama Fort Rotterdam. Dari pantai Losari, saya tinggal mencegat angkot berwarna biru untuk bisa sampai tepat di depan Fort Rotterdam. Tidak ada biaya untuk masuk benteng ini, hanya harus mengisi buku tamu saja di bagian dekat pintu masuk. Setelah mengisi buku tamu, saya disuguhkan pemandangan indah kompleks benteng. Beberapa bangunan di sekeliling, taman dengan rumput hijau di bagian tengah, dan tidak ketinggalan, langit biru yang luas dan mempesona. Indah. Di kompleks benteng, terdapat bangunan Museum La Galigo yang menyimpan sejarah kehidupan masyarakat Makassar, kehidupan kerajaan Gowa Tallo, dan beberapa budaya Makassar seperti baju adat, dan lain sebagainya. Untuk masuk Museum, saya hanya harus membayar lima ribu rupiah.




Banyak spot menarik (untuk foto-foto) di Fort Rotterdam. Tamannya, bangunannya, bahkan reruntuhan bangunan yang ada di salah satu sisi benteng. Di sini jugalah terdapat bangunan tempat Pangeran Diponegoro diasingkan oleh Belanda hingga akhir hayatnya. Saya yang masuk dalam bangunan itu merasa sangat miris, membayangkan Pangeran Diponegoro harus mendiami ruangan yang amat sempit, dikelilingin tembok beton yang kokoh (konon katanya sih temboknya dibuat sangat tebal, karena Pangeran Diponegoro memiliki "ilmu" yang hebat, biar nggak bisa dijebol gitu maksudnya.






Oh iya, walau namanya Fort Rotterdam, benteng ini bukan dibangun oleh Belanda, lho. Benteng ini asli dibangun oleh masyarakat Makassar. Namun, sempat jatuh ke tangan Belanda dan akhirnya namanya diganti menjadi Fort Rotterdam.

5. Pulau Lae-Lae


Masih berada di sekitaran Pantai Losari, ada beberapa pulau yang bisa dijangkau dengan waktu menyeberang hanya 10 sampai 15 menit saja, salah satunya adalah Pulau Lae-Lae. Untuk wisatawan yang belum puas dengan Pantai Losari, bisa mengunjungi pulau-pulau yang tidak jauh dari Makassar, seperti Pulau Lae-Lae, Pulau Khayangan, dan Pulau Samalona. Namun, karena keterbatasan waktu yang saya miliki, saya hanya sempat mengunjungi Pulau Lae-Lae.

Persis di seberang Fort Rotterdam, ada dermaga kecil tempat wisatawan bisa menyewa kapal/perahu untuk menyeberang ke Pulau Lae-Lae. Hanya dengan seratus ribu rupiah (pulang-pergi/carter), usut punya usut sih tarif menyeberang bisa lebih murah kalau pengunjungnya ramai-ramai, nggak sendirian macam saya kemarin T.T.




Pulau Lae-Lae adalah pulau kecil, ada penduduknya tapi nggak banyak. Pasirnya lumayan putih, dan cukup mengobati kerinduan saya sama pantai. Pulau ini memang nggak didesain untuk ada wahana olahraga laut dan sejenisnya, pantai ini hanya untuk menghabiskan waktu bersantai, menikmati pemandangan laut, mendengarkan debur ombak, dan merasakan sejuknya hembusan angin.





Nah, itu dia beberapa tempat yang berhasil saya kunjungi selama di Makassar. Saya beruntung karena jadwal tidak terlalu padat, dan kesemua tempat itu letaknya berdekatan satu sama lain, masih satu wilayah yang mudah dijangkau, baik dengan angkutan umum maupun kendaraan pribadi. Salah satu tips agar bisa mengunjungi tempat-tempat di atas dalam waktu yang nggak terlalu senggang adalah dengan menginap di Jalan Somba Opu, karena dekat sekali dengan Pantai Losari, paling cuma jalan kaki beberapa menit sudah sampai. Penginapan/hotel di sana juga punya banyak variasi harga, mau yang mewah ada, mau yang ramah kantong backpacker juga ada, bisa dipilih lewat aplikasi-aplikasi pemesanan yang sudah booming sekarang (saya sih biasa pakai traveloka dan agoda).

Bonus tips untuk kalian yang mungkin pergi ke sini tanpa persiapan, dan terpaksa harus jalan sendirian, ada baiknya disimak dulu:
1. Berpenampilanlah yang biasa banget, jangan mencolok. Karena, dengan bepergian sendiri itupun sudah membuat kalian terlihat mencolok, apalagi perempuan.
2. Nggak usah ragu menunjukkan tampang judes jika dirasa "perlu"
3. Kuasai baik-baik dulu tempat yang ingin kalian kunjungi (memastikan transportasi untuk mencapainya, kondisi sekitarnya, dll), bisa dengan bertanya pada teman, atau browsing di internet.
4. Jangan lupa berdoa :D

Saran terakhir sih, sebaiknya jangan pergi sendirian, lebih asyik kalau ada temennya, hehe. Okay, segini dulu cerita perjalananku selama di Makassar. Sampai jumpa di perjalanan-perjalanan selanjutnya :D

salam dari sunsetnya pantai losari :)

Sabtu, 12 Maret 2016

Book Review: Jodoh by Fahd Pahdepie

2



pict taken from goodreads.com


For the first time membaca karyanya Fahd Pahdepie. Saya sering mendengar maupun melihat namanya di sosmed, tapi baru kali ini berkesempatan untuk membaca bukunya. Judulnya Jodoh. Please jangan bilang saya galau, jangan bilang saya baper makanya milih buku ini, hahahaha. Awalnya sih saya tertarik sama covernya yang didominasi warna merah menyala. Ketika tahu nama pengarangnya, hmm, saya jadi ingin baca bukunya.

Novel Jodoh bercerita tentang sepasang anak manusia bernama Keara dan Sena. Lewat buku ini, saya seperti diajak untuk menyaksikan frame demi frame kisah cinta keduanya, mulai dari masa kanak-kanak, remaja, hingga mereka dewasa. Saya salut dengan gaya menulis Fahd yang bisa membuat saya seolah turut melihat, turut ada di sana dan menjadi bagian dalam cerita, walau tidak dengan menjadi tokohnya, ya. Biasanya, hal seperti ini akan bisa dirasakan ketika penulisnya menggunakan sudut pandang orang ketiga, tapi, Fahd dengan sudut pandang orang pertama-nya, bisa membuat saya merasakan hal yang serupa.

Kalau boleh saya bilang, secara keseluruhan isi cerita, bisa tertebak arahnya kemana, endingnya akan seperti apa, tapi menariknya adalah, Fahd bisa membuat saya tetap sabar dan menikmati jalan cerita. Itu keren, karena biasanya kalau merasa sudah bisa menebak ending, bacanya jadi males-malesan, hehe.

Oh iya, ada satu pemahaman mengenai kehidupan, mengenai takdir Tuhan, yang membuat saya sangat terkesan dalam novel ini. Dalam suatu percakapan antara Keara dan Sena mengenai hidup dan takdir..

"Takdir barangkali juga bekerja dengan cara semacam itu. Tuhan menyiapkan kemungkinan-kemungkinan dengan hukum sebab-akibat... Tentang takdir, mungkin Tuhan menyiapkan titik-titik peristiwa dengan jumlah kemungkinan yang tak terbatas itu. Lalu kita menentukan ke titik mana kita bergerak, ke titik-titik mana kita melanjutkan konsekuensi dari skenario yang kita pilih di titik takdir sebelumnya. Kita menyebut apa-apa yang sudah kita pilih, apa-apa yang sudah kita alami, sebagai nasib."

Dari keseluruhan cerita, saya paling suka bagian ini. Sedikit banyak, bagian ini bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari pernyataan bahwa "Segala sesuatunya sudah dituliskan oleh Tuhan". Yap, tulisan atau skenario Sang Maha Sutradara kehidupan tentulah tidak bisa disamakan dengan karya makhluk manapun. Jutaan atau bahkan skenario yang jumlahnya tak terbatas, hal ini telah menjelaskan pernyataan mengenai ketentuan Tuhan yang bisa diubah dan tidak, dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami.

Kalau kamu menyukai cerita-cerita yang sweet, dibumbui dengan sedikit puisi-puisi dan quote yang menarik, serta jalan cerita yang nggak menuntutmu mengerutkan dahi, buku ini cocok untuk kamu. Lalu bagaimana untuk kamu-kamu yang sedang menanti jodoh, apakah buku ini cocok juga, hmmm, hahaha, entahlah, kalau penasaran ya silakan beli bukunya :)

Jumat, 11 Maret 2016

Book Review: Hujan by Tere Liye

4

pict taken from goodreads.com


Kisah tentang Hujan karya penulis kenamaan Tere Liye ini diawali dengan percakapan antara paramedis bernama Elijah dan seorang gadis yang duduk di sofa hijau. Diceritakan bahwa, di jaman itu, di tahun 2040-an, teknologi pengobatan telah berkembang sangat pesat melebihi apa yang dapat kita bayangkan. Telah ditemukan oleh para ilmuwan medis pada saat itu, metode untuk bisa menghapus ingatan tertentu sesuai keinginan. Dan, gadis di sofa hijau itu menjadi salah satu pasien yang ingin menghapus ingatannya, menghapus ingatan tentang hujan.

Dua orang anak manusia bernama Esok dan Lail, dipertemukan dengan cara yang tidak biasa dalam takdir kehidupan mereka. Bencana alam, letusan dahsyat gunung purba membawa petaka bagi dua per tiga wilayah bumi, mendatangkan gempa bumi di negara Esok dan Lail, mereka yang sedang dalam perjalanan berangkat sekolah, terjebak di kereta bawah tanah. Ketika dalam usaha evakuasi lewat tangga darurat, malang, mereka justru sama-sama kehilangan anggota keluarganya. Esok kehilangan kakak-kakaknya, Lail kehilangan ayah dan ibunya. Sungguh bukan peristiwa yang menyenangkan, namun dari sanalah cerita tentang keduanya dimulai, ketika masing-masing dari mereka menjadi sangat berarti untuk satu sama lain.

Membaca buku ini, serasa kembali membaca karya Tere Liye yang mainstream, mainstream dalam arti nggak seperti yang saya rasakan ketika membaca Bumi dan Bulan yang penuh dengan imajinasi. Walaupun begitu, saya tetap terpesona dengan cara Tere Liye menggambarkan teknologi dan kehidupan masa depan dalam novel ini. Gaya deskriptif-nya saya suka sekali.

Hal lain yang membuat saya selalu suka dengan karya Tere Liye adalah selalu ada pesan baik tentang kehidupan yang bisa diambil dalam tiap karyanya. Sama halnya dengan novel Hujan ini, banyak pesan yang bisa dipetik, entah itu berupa quote secara langsung, maupun tersirat saja dalam ceritanya. Dalam Hujan, saya belajar banyak bahwa, menunggu, tidak akan terasa lama, tidak akan terasa membuang waktu semata, ketika kita mengisinya dengan sesuatu yang bermakna, atau bahkan melakukan banyak hal yang bisa menginspirasi orang banyak. Duhai, hidup hanya satu kali, bukankah semua manusia intinya hanya menanti ajal saja? Yang membedakan mereka semua adalah apa yang mereka lakukan untuk mengisi penantiannya itu.. :)

Pesan penting lainnya dalam novel ini adalah, baik buruk memori kita di masa silam, itulah yang membentuk diri kita saat ini. Segala kisah itu, baiknya dipeluk erat, dengan penerimaan yang baik, dengan rasa ikhlas yang meringankan, karena itu adalah bagian dari hidup kita saat ini.

Ending yang mengejutkan, itu yang bisa saya sampaikan dari keseluruhan cerita tentang Hujan. Hujan adalah cerita tentang cinta, persahabatan, pertemuan, dan tentang pilihan untuk melupakan. Siap menari di bawah hujan? :)

Minggu, 28 Februari 2016

Book Review: "Bulan" by Tere Liye

0

pict taken from goodreads.com


Setelah petualangan mendebarkan Raib, Seli, dan Ali di Klan Bulan, perjalanan mereka dilanjutkan dalam buku ini, Bulan, buku kedua dari serial "BUMI". Buku ini saya dapatkan secara tidak sengaja dari seorang teman, melalui acara tukar buku. Awalnya yaa asal aja, minta bukunya Tere Liye, nah dapat lah buku Bulan ini. Setelah saya selesai baca buku "Bumi", tertulis di halaman belakangnya "bersambung di Buku Bulan". Lah, pas banget!

Kalau di buku "Bumi" menguak asal-usul si Raib, maka di buku "Bulan" ini, kita akan disuguhkan sedikit riwayat dari Seli. Seli, teman Raib yang ternyata juga memiliki kemampuan khusus. Jika Raib bisa menghilang, maka Seli bisa mengeluarkan petir dari kedua tangannya. Hal ini tidak lain dan tidak bukan adalah karena Seli keturunan spesial dari Klan Matahari. Kondisi masa lalu mengakibatkan Seli dan orang tuanya harus tinggal di bumi.

Demi menjaga kelangsungan hidup yang damai antara empat Klan, petinggi-petinggi dari Klan Bulan mencari dukungan dari Klan lainnya, mereka menyasar Klan Matahari. Raib, Seli, dan Ali kembali diajak untuk pergi ke Klan Matahari oleh para petinggi Klan Bulan, yaitu Av, Miss Selena, dan Ily (anak tertua Ilo, baca buku Bumi dulu yah, makanya :D). 

Berbagai hal terjadi di luar dugaan ketika mereka sampai di Klan Matahari. Mulai terpaksa ikut Festival Bunga Matahari, melalui banyak rintangan yang belum pernah dijumpai sebelumnya untuk bisa menemukan bunga matahari yang mekar pertama kali, sampai harus menghadapi misi rahasia Fala-tara-tana II, Sang Ketua Konsil. Banyak yang harus dikorbankan, persahabatan dan kekuatan mereka benar-benar diuji, mampukah mereka menjalani itu semua?

Dalam buku ini, kembali saya dibuat terpesona oleh imajinasi Tere Liye ketika menggambarkan kondisi di Klan Matahari. Susunan nama penduduknya, nama tempat dan kota di sana, macam-macam binatang dan tumbuhan yang ada di sana, dan masih banyak lagi yang lain. Bagian ending yang tidak terduga, membuat saya nggak sabar menunggu buku selanjutnya yang katanya akan terbit di tahun ini, buku "Matahari".

Siap berpetualang lagi di dunia fantasi milik Tere Liye? Segera beli dan baca bukunya yaaa ! :D


untuk @nedd_

0

Hai Kakak Kangpos, pasti lagi baca-baca surat hari ini dengan muka sumringah, bahkan mungkin senyam-senyum sendiri ya? :p

Just want to say thankyou, karena sudah meluangkan waktu untuk membaca surat-surat aku, surat-surat kami yang berada dalam naunganmu (tsaaah, naungan :p). Nggak mudah pasti, perlu kesabaran untuk membaca semuaa surat cinta yang jumlahnya puluhan, atau bahkan ratusan setiap harinya. Di sela-sela kesibukanmu, semoga ini menjadi selingan yang menyenangkan. Semoga kamu menikmatinya :D

Ah iya, terimakasih karena selalu menyelipkan komen singkat atas semua postingan surat. Aku tahu kalau para Kangpos pasti membaca surat-surat karya anak buahnya, tapi, komen singkat dari Kakak tuh, kayak apresiasi tersendiri sih. Menunjukkan kalau surat cinta itu bisa menghadirkan sebuah opini dari pembacanya, nggak sekedar tulisan yang dibaca selintas lalu saja.

Kak punya aku smule ya? Soundcloud juga ya? Sama lho! Next time akan follow dan join, deh :D

Akhir kata, pertahankan prestasimu ya, kak! (macam pesan guru yang ada di raport anak SD, hahaha)

Oiya, last but not least. Terimakasih sudah pilih suratku jadi surat cinta favorit di hari ke 28, yaa.. :)

Hope to see you again on the next event, cao! :D

Sabtu, 27 Februari 2016

Book Review: Bumi by Tere Liye

0

pict taken from goodreads.com


Awal melihat novel ini di box best seller toko buku deket kosan, aku langsung tertarik. Tertarik karena cover nya yang bergambar telapak tangan? Tertarik dengan judulnya yang cuma satu kata "Bumi"? Tertarik karena pengarangnya yang Tere Liye (yang ini iya, sih)? Tapi, yang paling bikin tertarik pengen baca adalah setelah aku baca sinopsis di belakang bukunya.

........... Namaku Raib. Dan aku bisa menghilang.

Aku orangnya memang suka berimajinasi. Lalu sekalinya tau Tere Liye punya buku fiksi fantasi begini, wah, nggak pakai pikir panjang deh, langsung beli! Di kepalaku langsung menerka-nerka nih. Tere Liye kan biasanya nulis buku yang kalem, penuh maknsa hidup nan filosofis gitu. Lah kalau nulis buku yang bergenre fantasi bakal kayak apa yaa?

Lewat buku ini, maka aku langsung nggak merasa salah menempatkan Tere Liye sebagai salah satu penulis favorit yang aku tunggu-tunggu karyanya! Tere Liye memang serba bisa.

Bumi adalah buku pertama dari serial "BUMI", jadi akan ada lanjutannya nih buku. Kisah diawali dengan penceritaan mengenai si Raib, tokoh utama dari buku ini. Raib adalah seorang gadis biasa berumur 15 tahun. Dia hidup bersama ayah dan ibunya, menjalani kehidupan yang normal layaknya remaja lain di usia serupa. Hanya ada satu yang berbeda, Raib punya kemampuan khusus. Menghilang!

Dalam buku "Bumi" ini, Tere Liye berkisah tentang petualangan Raib bersama teman-teman baiknya, Seli dan Ali. Dunia yang dikira sederhana, ternyata menyimpan kehidupan yang kompleks, berjalan secara bersamaan, namun tidak pernah bersinggungan. Ada Klan Bulan, Klan Bumi, Klan Matahari, dan Klan Bintang. Tidak ada yang menyadari itu semua, sampai seorang dari Klan Bulan melompati dimensi, menemui Raib di bumi. Setelah tahun-tahun berlalu, akhirnya Raib, Seli, dan Ali, mengetahui jati dirinya masing-masing. Masa lalu mulai terkuak, lalu pertempuran semakin tidak terelakkan!

Setelah membaca novel Rindu-nya Tere Liye yang selow abis, membaca novel Bumi ini, mataku seperti nggak mau lepas dari bukunya. Pengen baca teruuuus sampai tuntas. Novelnya seru banget! Di buku ini, masih dijumpai di beberapa part, gaya nulis khas dari Tere Liye yang kalem, sabar, runut, dan filosofis. Tapi sisanya, aku diajak berimajinasi, diajak bertualang ke tempat-tempat yang tidak terbayangkan. Aku diajak turut merasakan kecemasan para tokohnya, ketegangan dalam perang, dan mendalami karakter-karakter yang ada dalam buku ini. Rasanya amazing!

Aku bisa bilang bahwa, ini adalah sisi lain dari Tere Liye. Salah satu yang harus dibaca! :D

Hei, Jodoh!

0

Apa yang kamu takutkan dari para traveller?

Kakinya yang tampak tidak bisa berhenti melangkah? Raganya yang seperti tidak bisa dibuat betah di dalam rumah? Jiwanya yang kau pikir selalu rindu kebebasan?

Sejauh-jauhnya seorang traveller melangkah, akan selalu ada rumah di dalam pikirnya.

Sebebas-bebasnya jiwa seorang traveller, akan selalu ada jiwa lain yang mengikatnya, membuatnya rindu untuk bertemu.

Sebanyak apapun destinasi yang menjadi impian-impiannya, berada di samping orang tercinta akan menjadi destinasi yang tak ternilai untuknya.

Jadi apa yang kau takutkan?

Ketika cincin telah melingkari jarinya, hari-hari bersamamu akan jadi perjalanan panjang yang paling menyenangkan untuknya.

Jadilah rumahnya, tempatnya selalu rindu untuk pulang.

Senin, 15 Februari 2016

Kepada Tanya yang Rindu Jawaban

3

Kepada setiap tanya yang merindukan jawab,

Di suatu pagi ketika kau kembali mengusik ingatan
Maka kenanglah bagian indahnya saja
Aku paham jika segala sesuatu diciptakan berpasangan, pun dengan pertanyaan
Pasti berjodoh dengan satu jawaban sebagai pasangannya
Tapi akupun cukup mengerti bila tidak semua jawaban bisa mudah diungkapkan
Banyak pertimbangan, semakin dewasa, pertimbangan itu beranak-pinak
Tentang apa yang bisa dan tidak bisa
Tentang apa yang pantas dan tidak pantas dikatakan

Di suatu malam ketika kau kembali dari ketiadaan sementaramu
Maka besarkanlah hatimu
Luaskanlah penerimaan akan segala
Kau bisa memaksa diri sendiri bertanya
Tapi jawaban tidak, dia punya tuannya sendiri
Bukan wilayahmu untuk memaksanya memenuhi ingin tahumu

Lalu, di suatu senja jika pertanyaan-pertanyaan itu kembali menghadirkan ragu dan sendu
Maka nikmatilah saja senjanya
Rasakan syahdu warna langit luas
Tenggelamlah, dalam lautan jingga keikhlasan yang indah

Resapi, bahwa separuh hidup adalah menerima

Sabtu, 13 Februari 2016

Kepada Teman Baru yang Baik Hatinya

0

Hai, sudah tiga bulan lebih berlalu sejak aku menapakkan kaki di tanah Sumatra untuk pertama kali. Kota Medan, tempat kalian tinggal. Aku datang sebagai orang asing, yang bahkan hanya singgah dua hari di sana. Tapi kebaikan kalian menjadi salah satu hal yang akan terus aku ingat.

Hammam, tuan tanah Medan yang baik, menemani pelesir ke sana sini.

Agung, wirausahawan dari Aceh. Yang bahkan tidak ada kata "agung" dalam namanya. Sayang sekali yaa waktu aku ke sana nggak bisa nyobain smoochi nya. Udah diborong habis sama sang tetangga kontrakan.

Fauzi, happy wedding yaa Ji. Maafkan aku nggak bisa datang.

Dani, teman seangkatan yang nggak berubah sama sekali kelakuannya. Masih cerewet, masih gila seperti saat pertama kenal.

Terimakasih karena sudah menyambut dengan sangat ramah dan menyenangkan. Dua hari di Medan, dengan banyak kebaikan yang nggak terlupa. Terimakasih sambutan karaokean rame-ramenya. Terimakasih ke durian ucok-nya. Terimakasih sudah dicarikan jas hujan. Terimakasih karena telah membuat aku nggak merasa sendirian selama di Medan. Senang bisa kenal kalian semuaaa.. :D

See yaa next time, guys. Semoga bisa bertemu kembali :)

Jumat, 12 Februari 2016

Kepada Hujan

0

Rintik menari-nari di balik jendela kantor. Aku dari balik kubikel, memandang mendung di luar, jeruji hujan terus menghujam. Di bawahnya, kendaraan dan lalu lintas yang tersendat, arus pulang yang terhambat. Sesekali terdengar raungan klakson. Jalanan Jakarta di kala hujan mungkin sedikit banyak memicu emosi orang-orang yang tidak sabaran. Kupandang arlojiku, sudah jam 5. Aku belum ingin pulang, aku akan sempatkan menulis surat dulu kepadamu.

Kepada hujan yang akhir-akhir ini sering sambang, tahukah kamu bahwa aku menyimpan banyak sekali kenang, bahkan lebih banyak daripada genang yang kamu cipta?

Banyak kenangan yang kupunya di tengah rinai syahdumu. Duhai, apakah memang tetesanmu itu ditakdirkan untuk hal-hal melankolis romantis dan semacamnya?  Dulu sekali, aku pernah mengalami perpisahan di tengah hujan, air mata bisa terkaburkan. Atau juga satu pertemuan indah, masih manis untuk sesekali diingat, tapi aku tahu beberapa hal memang terjadi hanya sekali, tidak ada jalan kembali. Maka denganmu, air mata terkaburkan, senyum juga indah disembunyikan. Luruh dalam syahdu irama rintikmu.

Kepada hujan yang tampak belum ingin reda, tahukah aroma tanahmu yang menguar itu menguapkan banyak rasa yang terpendam kembali naik ke permukaan, bahkan lebih banyak dari yang dapat terbayang di akhir hari sebelum mata terpejam?

Untukku, kamu seperti mesin waktu. Rasa-rasa yang sudah jauh dipendam, setiap kali kau turun ke bumi, seperti menguap lagi menuju ke langit, melewati hati. Dalam butiran airmu ada berjuta rahasia, ada cerita-cerita sederhana yang mungkin tidak mampu disampaikan kata. Maka ketika butiranmu pecah sedikit saja saat menyentuh bumi, tanpa bisa dicegah, rasa-rasa beterbangan ke angkasa. Membuat sendu, juga rindu.

Kepada hujan yang datang bersama gemuruh langit kelabu, tahukah jika gelegarmu justru kadang menghadirkan sepi dalam diri, bahkan lebih sunyi daripada pagi yang paling dini?

Dan mendengarmu yang jatuh di atap rumah, di aspal jalan raya, di atas helai daun pepohonan, menghadirkan sensasi yang unik. Kamu riuh dalam ramaimu. Kamu damai berada dalam ributmu. Dan ada hawa kesendirian di balik ribuan jarummu. Rumit, huh? Tapi ada gelenyar damai, setiap menatapmu turun dari langit sana. Turun pasrah, seakan kamu mengerti itu hanya bagian dari sebuah siklus. Satu sesi yang harus dilalui untuk bisa berada di langit lagi. Sesederhana itu.

Wahai hujan, tidakkah kamu telah tahu bahwa aku punya tempat khusus di hatiku untukmu? Maka dalam setiap gerimis, setiap deras yang menderu, bahkan jika hanya berupa sisa tetes embun di pagi hari, aku selalu berdoa, semoga sejuk dan teduhmu senantiasa mengantarkan doa-doa ke langit sana, dan turun di teras rumah mereka yang namanya tersebut dalam doa.. :)