Sabtu, 26 Maret 2016

Trip to Papandayan Part 2

2



Setelah puas beberapa kali foto di camp David, saatnya hiking benar-benar dimulai. Aku menarik napas dalam-dalam sambil mengucap Bismillah. Bismillah semoga kuat, semoga nggak menyusahkan teman-teman, hehe. Trek awal yang kami jumpai adalah jalan beberapa tapak (bukan setapak, karena lebar) campuran antara tanah dan bebatuan, sementara kanan dan kiri rimbun pepohonan. Kondisi jalan masih landai, masih bisa nyanyi-nyanyi dan ngobrol ketawa-ketawa. Nggak seberapa lama, trek landaipun hilang, berganti trek batu-batu nan gersang, sementara di samping adalah kawah yang mengeluarkan asap. Keren!

kawah berasap di belakang

padahal aslinya mau foto pose kentut tuh :p



Jalanan yang mulai menanjak, lumayan bikin aku ngos-ngosan. Beruntunglah dapat partner perjalanan yang amat sabar dengan amatiran macam aku. Tanjakannya lumayan sih menurutku. Rasa ngos-ngosan jalan nanjak 3 menit tuh hampir sama kayak ngos-ngosannya abis lari muterin lapangan banteng 2 puteran (lemah -__-). Kami berhenti-berhenti tiap beberapa menit jalan. Sepanjang perjalanan, mataku nggak lepas dari terpesona dengan pemandangan di sekitar. Satu sisi adalah tebing dengan pepohonan hijau nan sejuk, sementara di sisi lain adalah hamparan putih setengah kuning gundukan belerang dan kawah yang asapnya nggak berhenti terhembus dari celah bebatuan. Tentu kami nggak lupa mengabadikan setiap momen berharga di sini :D

hijau hijau nan menyejukkan mataa :)



jalan dikit, cekrek!

Di sela-sela perjalanan, beberapa kali kami menjumpai bapak-bapak yang naik motor trail dan bawa barang segambreng di bagian belakangnya. Terlihat jelas banget usaha yang dilakukan beliau-beliau amatlah berat. Motornya harus beberapa kali berhenti, entah karena mesinnya yang mulai panas, atau bahkan rantai yang putus karena medan bebatuan yang lumayan terjal. Jadi banyak melihat ke diri sendiri lagi, betapa Allah Maha Baik mengkaruniakan pekerjaan yang baik dan mudah untuk aku, nggak perlu panas-panasan, nggak perlu naik motor trail, nggak berisiko tinggi.



Nah, ketika kami duduk sejenak untuk minum dan istirahat, tiba-tiba datanglah serombongan bocah-bocah yang naik gunung bersama orang tuanya. Mereka kelihatan semangat banget, dan nyantai gitu naiknya. Kami langsung ngefotoin tuh bocah-bocah, sembari bangkit berdiri. Aku yang ngelihat anak kecil-kecil itu lari-larian, seketika mbatin "jiah, kalau sampe kalah ama nih bocah-bocah, gengsi dong!".. :D



Ternyata kabar bahwa Papandayan adalah gunung yang ramah pendaki pemula memang benar adanya. Bahkan bocah-bocah kecil yang paling baru kelas 1 atau 2 SD bisa mendakinya. Satu kabar lagi yang kami dengar adalah ada warung dan toilet di area camp nanti, di Pondok Saladah, ini yang belum bisa kami buktikan, karena belum nyampe sana. Sewaktu di pos perijinan, penjaganya bilang kalau kami bisa sampai di Pondok Saladah sekitar 3 jam jalan santai. But, mengingat komposisi kami yang membawa 2 orang amatiran, kami sepakat untuk lebih santai lagi dari target waktu 3 jam itu, hehe. Kami banyak berhenti untuk istirahat, untuk foto-foto, untuk merekam video perjalanan juga.

sungainya kecil, unyu unyu :3



Sekitar jam 11an, kami sampai di pos pelaporan kemping. Jadi, ada dua area camp di Papandayan, yaitu Pondok Saladah dan Gubberhoed (moga bener gini deh tulisannya ya). Di pos ini, kami didata oleh abah-abah yang sudah tua dan lucu, didata kami mau camp di area yang mana. Kata si abah sih, kalau mau pemandangan yang bagus dan nggak perlu kemana-mana, Gubberhoed tempatnya. Tapi, mayoritas orang sih pilih buka tenda di Pondok Saladah. Karena kami berempat pada belum pernah ke Papandayan, mas yogi ambil inisiatif untuk melihat sekilas area camp Gubberhoed, sementara kami bertiga nunggu di pos. Sepuluh menit kemudian, mas yogi balik dan akhirnya memutuskan untuk camp di Pondok Saladah aja. Kamipun bersiap melanjutkan perjalanan. 

"Yaa, ke Pondok Saladah sih ada yang 15 menit sampe, ada juga yang 30 menit, macem-macem.."

Ah, bahkan di gunung juga penuh ketidakpastian *baper*.

Jalur menuju Pondok Saladah lumayan mencengangkan. Jalan setapak dengan tanah yang licin terbentang di hadapan kami. Ah bukan itu saja, jalan itu juga menanjak. Kembali aku menarik napas panjang, Bismillah moga nggak kepeleset. Mas yogi jalan paling depan, dan sepertinya nggak mengalami kesulitan sama sekali. Badannya kayak enteng aja gitu, padahal barang bawaan dia yang paling banyak di antara kami: carrier segede gaban ditambah tas kamera ditambah drybag penuh ransum yang berat juga bergelayut di punggungnya. Emang anak gunung staminanya beda :p

Sampai agak jauh beberapa langkah di depan kami bertiga, mas yogi malah tertarik nge-video-kan kami yang kudu jalan ngangkang. Lucu dah, kami kesusahan jalan, tapi malah ketawa-ketawa ngelihatn pose jalan kami sendiri. Apalagi mas yogi, dia ketawa paling kenceng ngelihat kami.



Di jalan yang sesempit itu, kami masih harus berbagi jalan dengan pendaki yang turun dari atas. Jalur masih full tanah licin, tapi untungnya di kiri kanan sesekali ada bebatuan yang bisa dibuat duduk sebentar kalau capek menanjak. Tepat pukul 12 siang, sampailah kami di Pondok Saladah!

Dan terbukti, di sana ada beberapa warung, toilet, dan bahkan mushola ala kadarnya dari kayu! Ini maaaah, nggak kemping-kemping banget lah yaa, haahaha. Nggak usah takut kelaparan, kekurangan bekal, atau takut nggak bisa mandi lah kalau kemping di sini.. :D

Sampai di sana juga ternyata sudah banyak tenda-tenda yang didirikan. Aku dan mbak titis ngikut mas imam dan mas yogi yang lagi pilih-pilih area untuk ndirikan tenda, area yang banyak pohonnya (karena mas yogi pengen pasang hammock), yang tanahnya nggak becek dan lumayan rata. Finally area sudah disepakati, jadi tas bisa diturunkan dari punggung, sementara mas yogi dan mas imam siap-siap masang tenda. Aku langsung lepas sepatu dan ganti sendal, huaaah akhirnya kakiku bisa bernapas lega, haha.



Sebelum masang tenda, kami sempat lihat semacam nisan horisontal gitu, mengenang seseorang yang meninggal, tulisannya sih gitu. Aku berasa agak serem dan nyaranin untuk pindah aja, jangan-jangan nantinya tenda kami berdiri di atas kuburan T.T



Tapi, kata mas yogi, itu cuman batunya aja, nggak berarti dikubur di sana, jadi kami tetap nggak berpindah lokasi. Aku dan mbak titis duduk-duduk sambil mengabadikan momen mas-mas mendirikan tenda. Ketika udara mulai terasa dingin, dua tenda telah tegak berdiri! Yeaaay, terimakasih kakaks, saatnya bergelung sebentar di dalam tenda.

Perdebatan pertamaku dengan mbak titis adalah:

"mbak, ini matras yang atas tuh yang kasar apa yang halus ya?"

Setelah perdebatan panjang dan nggak satu pun dari kami berdua yang tahu jawabannya, aku memutuskan untuk naruh bagian halusnya di bawah. Sleeping bag dikeluarkan, and taraaaaaa, jadilah kepompong!



Kaki mulai berasa capeknya. Adzan dzuhur sudah berkumandang, tapi badan masih capek, jadilah aku menyempatkan bobok dulu barang satu jam.

Setengah dua siang, aku bangun dan bersiap-siap ke toilet, lalu sholat. Alamak airnyaaaaa, duingin! Aku yang awalnya berniat untuk mandi jadi urung, hahaha. Akhirnyalah aku cuma wudhu dan beranjak ke mushola. Aku sendirian, karena para kakaks sudah sholat duluan. Nah, pas mau sholat, ternyata hujan turun dengan lebatnya. Sebenernya pas keluar dari toilet sih udah gerimis-gerimis syahdu gitu, lahdalah kok tambah deras. Jadilah aku terjebak di mushola bersama beberapa orang yang nggak aku kenal. Mushola ini bentuknya lebih kayak saung gitu, nggak berdinding, hanya ada atapnya. Jadi bisa dibayangkan kami di situ ketampes-tampes hujan, angin, dan kabut yang turun bikin hawa tambah dingin. Aku pasrah, sekalian aja dah nunggu Ashar.

Menjelang jam 3 sore, tiba-tiba datanglah si mantel merah, menjemput dan membawakan mantelku. Ah, akhirnyaaaa aku terselamatkan dari hujan ini, tengkyu mas yogi :D

Sampai di dalam tenda, ternyata sudah ada sepiring mie rebus. Literally sepiring penuh. Aku kaget, kan, jangan-jangan yang lain belum makan. Tapi mbak titis meyakinkan aku kalau semua udah makan, tinggal aku doang. Aku merasa nggak mampu menghabiskan.

Tapi ternyata tandas juga sih.. :p

Hujan turun sepanjang siang hingga sore itu. Hawanya dingin banget, dan bener-bener nggak ada yang bisa dilakukan ketika hujan macam begitu. Jadilah sesiangan dan sesorean itu kami berempat hanya menghabiskan waktu di tenda masing-masing. Aku dan mbak titis sibuk tidur, entah mas imam dan mas yogi.

Bangun-bangun, di luar sudah gelap. Aku mengamati arloji, jam 6 lewat. Setengah teriak, aku tanya ke tenda sebelah, udah pada sholat magrib apa belum, pada jawab belum. Mataku masih berat, kuputuskan tidur lagi beberapa menit setelah pesen untuk diajakin sholat magrib bareng. 

Lepas berwudhu, kami nggak jadi sholat di mushola karena ngantriiii, akhirnya kami balik sholat di tenda. Aku mengamati langit yang gelap, bener-bener gelap, sepertinya mendung masih betah menggantung di langit, menutupi cemerlangnya sinar gemintang untuk sampai ke penglihatan kami. Pondok Saladah ramai lalu lalang orang, ke toilet, ke mushola, atau sekedar bercengkrama dan bernyanyi bersama di warung sekitar. 

Selesai sholat di tenda, mas yogi masak air (biar mateng) untuk bikin minuman anget. Awalnya dia nawarin, masak makanan apa gimana, tapi kami kayaknya lebih pengen minum yang anget-anget aja. Jadilah dia bikinin teh dan energen untuk kami berempat. Nikmat banget rasanya, minum energen panas di tengah cuaca yang dingin. Kamipun lempar-lemparan snack juga, ngobrol, sembari ngabisin minuman masing-masing. 

Nggak lama, mas yogi keluar tenda, mungkin mau sholat ata buang sampah, entahlah. Baru beberapa langkah nggak seberapa jauh dari tenda, dia balik sambil setengah lari tergopoh-gopoh menuju tenda..

"Ih, ih, mas imam, ada babi mas! Ada babi! Besar banget, segini nih.." katanya sambil peragain pake tangan.

Kami langsung kaget kan. 

"Di mana babinya?"

"Itu tuh, di situ, dari sini kelihatan, tuh lihat tuh.." mas yogi ngarahin head lampnya ke arah si babi biar kami bisa ngelihat juga.

Bukannya ngusir, mas yogi malah ambil kamera, berniat ngefoto babi hutannya. Tapi dia balik lagi ke tenda karena nggak berhasil.

"Wah mas, babinya besar, kalau nyerang bisa robek nih tenda."

Ih amit-amit, batinku. Lalu mas yogi pun benar-benar pergi, kayaknya ke mushola sih. Nah, ketegangan baru saja dimulai setelah ini.

Aku dan mbak titis yang masih asik ngobrol-ngobrol dikagetkan dengan suara berisik di tendanya mas imam. Grasak grusuk, aku dan mbak titis lihat tenda mas imam gerak-gerak.

"Duh, babinya di belakang tendaku nih! Yog.. Yog.." seru mas imam.

Aku dan mbak titis jadi ikut panik, kan. Refleks kami langsung nutup tenda sambil teriak-teriak manggil mas yogi, tapi nih orang nggak muncul-muncul. Dilema, mau di dalam tenda takut babinya nyerang, mau keluar takut dikejar.

"Mas imam, gimana nih, apa kita keluar aja, kabur?" tanyaku sambil tetep panik.

"Yaudah lah keluar aja yuk, babinya masih di sini nih."

Akhirnya kami keluar dari tenda masing-masing, cepet-cepetan, kabur ke arah mushola, sambil sesekali nengok ke belakang, kali aja babinya ngejar.

Sudahlah kami pasrah, kalaupun tenda diacak-acak sama tuh babi, paling nggak kami nggak diserang juga. Ternyata bener, mas yogi ada di mushola. Ceritalah kami kalau babi hutannya nyerang tenda mas imam. Sementara mereka berdua kembali ke tenda, aku dan mbak titis mampir ke toilet dulu.

Nggak lama kemudian, mereka berdua balik, mas yogi nyuci rain cover tasnya.

"Tendanya sobek," kata mas imam.

"Seriusan??"

"Iya seriusan, lumayan gede. Pas balik ke sana tadi, tasnya yogi udah diluar, sempat diseret kayaknya sama babinya."

WHAT?!

Kamipun akahirnya memutuskan untuk kembali ke tenda. Aku masih aja deg-degan, takut babinya tiba-tiba nyerang lagi, kan. Tapi tenang, kami sudah dapat saran cara mengusir babi dari akang-akang yang jaga pos di depan mushola..

"Di-senter-in aja, sambil di-hus-hus gitu. Pokoknya jangan disakitin aja, nanti bisa makin marah.."

Tuh kan, babi aja nggak boleh disakitin, apalagi... Ah sudahlah.. *baper* *lagi*

Tapi yaaa, dengan babi hutan yang segede itu, dengan rusaknya tenda cowok, dengan ditariknya tas mas yogi yang berat, manalah bisa kami merasa tenang dengan saran "disenterin dan dihus-hus-in"??

Sesampainya di tenda, kami nggak langsung masuk.



"Ati-ati lho, jangan-jangan tuh babinya udah bobok di dalem tenda," mas yogi mencoba melucu.

Ketawa sih, dan kagum sempet-sempetnya nih orang ngelucu, padahal kami habis diserang babi.

tendanya robek :(

tas mas yogi yang abis diseret babi hutan >.<


"Jadi, ini malem kita mau masak lagi apa langsung tidur aja?" tanya mas yogi kalem.

Miapah dia masih nawarin masak lho! Makan!

Aku udah nggak berselera makan. Lapar sih, tapi pikiranku dipenuhi bayangan kalau babi itu bakalan mampir lagi ke tenda kami. Sebelum kembali masuk tenda, mas yogi pasang barrier pake tali gitu deh di sekitar tenda, sebagai usaha untuk menghalangi gangguan babi.



Barrier terpasang, kami masuk tenda masing-masing lagi dan bersiap untuk tidur.

Sebelumnya mas yogi berpesan...

"Sekalian diberesin aja, barang-barang dimasukin tas semua. Jadi paling nggak kan ntar kalau babinya narik tasnya berat, eh atau malah jadi narik kitanya ya? Hahha"

(to be continued)


Jumat, 25 Maret 2016

Selalu Ada Yang Pertama: Papandayan part 1

0

Akhirnya tahun ini posting lagi edisi "selalu ada yang pertama", setelah terakhir kali tahun kemarin ya, di triwulan satu (halah triwulan, kayak periode pelaporan penggunaan PMN aja, ul) 2016 ini, aku berkesempatan untuk melakukan hal baru. Apakah itu? Naik gunung! Harus kuakui, denger kata 'gunung' aja aku langsung ciut, masalahnya badan ini apa atuh kalau kudu nanjak naik gunung, hahaha. Takut nyusahin temen seperjalanan lah, ngerepotin doang. But, kali ini, setelah diajakin sama salah satu temen kantor yang anak gunung banget, ada sedikit rasa tertarik, pengen nyobain gimana rasanya naik gunung. Sedikit loh ya, sedikit, karena aku masih harus browsing cari info ini itu tentang Papandayan, sebelum yakin kalau itu gunung trek-nya masih mampu aku jalanin.

Awalnya ada banyak orang yang (kabarnya) mau ikutan trip Papandayan kali ini, tapi karena satu dan lain hal, akhirnya mrotoli sampai hanya tinggal empat orang. Lalu apakah kami batal ke Papandayan karena kekurangan orang? Tidak! Terlalu sayang untuk membatalkan perjalanan yang sudah direncanakan sejak jauh hari. So, kami tetep berangkat walau hanya beranggotakan empat orang, yaitu aku, mbak titis, mas yogi, dan mas imam. Semangat!

Seperti rencana semula, kami berangkat hari Jumat, sepulang kantor, tapi yaa agak maleman lagi sih, biar nyampe Garut nya nggak terlalu dini hari. Akupun memutuskan untuk pulang dulu ke kosan, sementara mas imam sudah bawa barang bawaannya yang segambreng ke kantor, niatnya nggak balik kosan dulu. Kami berempat memang sepakat berangkat bareng naik uber dari kantor ke terminal Pasar Rebo. Nah, karena eh karena mas imam dan barang bawaannya itu tepergok oleh pak bos besar, jadilah seharian Jumat itu kami (saya khususnya) ditanya-tanyaaaa mulu sama orang-orang kantor. Siapa aja yang ikut ke Papandayan, berangkat jam berapa, nginep di sana apa langsung balik, dan banyak lagi pertanyaan yang harus kami hadapi. Sabar ya kakak-kakak, gini emang risikonya kalau mau ngetrip ama artis (aku, red.) :p

Jam menunjukkan pukul setengah 8 pas aku nerima telpon mas imam, ngabarin kalau aku dijemput aja sekalian pake uber-nya. Aku jelas hepi lah, nggak usah repot-repot ke kantor lagi, hehe. Tapi segera aku telpon balik mas Imam..

"Mas, jangan dijemput dah, aku lupa kalau tadi belom absen pulang!!"

Hahahaha, untung inget lah, gara-gara fleksi dan pulang jam 5, aku sengaja nggak absen dulu pas pulang, kan malem bakal ke kantor lagi. Yah, apa boleh buat, aku memang ditakdirkan balik lagi ke kantor.

Untunglah kantor udah nggak rame-rame amat, jadi aku plus ransel plus matras yang kugendong nggak menarik perhatian (bukan apa-apa sih, tas plus bawaannya lebih gede dibanding aku yang ngebawa, ahahaha). Surprisenya, si cipi (silvi) ada, belom pulang dia. Cipi sengaja mau nungguin, mau nganterin aku berangkat (GR) :p. Kami berempat pun menunggu uber yang dipesan mas yogi. Jadi rutenya, begitu uber sampe kantor, kami anterin dulu cipi pulang sekalian jemput mbak titis, terus ke kosan mas yogi, barulah menuju terminal Pasar Rebo. Di tengah keheningan malam, tiba-tiba mas yogi nyeletuk..

"Eh, ternyata saya dulu juga pernah transaksi ama bapak uber yang ini! Waaah.."

Mungkin itu yang namanya jodoh mas, sejauh apapun terpisah, kalau takdirnya ketemu pasti ketemu juga akhirnya, hahaaha.. :p

Jadilah pas uber-nya datang, mas yogi semacam bertemu dengan belahan jiwa yang lama hilang, dia salaman, cipika cipiki ama bapak ubernya, hahaha. Nggak ding, bercanda.. :p

Mobil berjalan menuju cempaka putih, perjalanan kami menuju Papandayan resmi dimulai, start sekitar pukul setengah 9 malam. Di bawah jembatan penyeberangan Pangkalan Asem, mbak titis sudah menunggu, sementara cipi turun dari mobil dan pulang ke kosannya. Perjalanan lanjut ke kos mas yogi dulu, ambil barang-barangnya dia, barang-barang kami juga sih. Dan syok banget aku lihat tasnya yang tinggi, yang sepertinya muat sih kalo aku masuk ke tasnya, hehe.

Lanjut, mobil terus melaju ke terminal Pasar Rebo, lewat tol. Sesekali kami ngobrolin hal yang lucu-lucu, biar nggak ngantuk. Padahal nih di dalem hati udah nawaitu, mau bobok selama di bis nanti. Perjalanan ke terminal memakan waktu sekitar satu jam-an karena kendaraan-kendaraan di jalan lumayan rame, untungnya nggak sampe macet sih. 

Sesampainya di terminal, kami memutuskan untuk mampir mengisi perut dulu di salah satu warung yang ada di sana. Aku, mas imam, dan mbak titis pesen pecel ayam, sementara mas yogi, luckily dia mendapatkan soto ayam yang hanya tersisa satu porsi. But not bad, pecel ayamnya lumayan mantap sambelnya, Ah iya, nggak bosan-bosannya aku membahas bahwa pecel ayam ialah bukan nasi pecel dengan lauk ayam, tapi nasi ayam penyet, nasi sambel lauknya ayam (itulah bedanya Jakarta dan Surabaya, tempat dimana kosakata pecel ternyata punya arti yang berbeda). Selesai makan, kami berjalan menuju terminal di seberang jalan. Ternyata ada banyak kios buah di sekitar situ, kamipun tergiur untuk beli buah dulu. Setelah melalui perdebata panjang, terpilihlah kelengkeng, sebabnya kami bayangin makan kelengkeng yang dingin pas kemping, kayaknya maknyus. Kelengkeng sekilo harganya 35.000, dapat dua ikat, lumayan cukup paslah untuk kami berempat.




Nggak pakai nunggu lama, bis yang akan kami tumpangi datang, bis ke Garut. Setelah meletakkan tas-tas besar kami di bagasi, kamipun naik dan memilih tempat duduk. Aku dan mbak titis di bangku yang isinya dua orang, sementara mas imam dan mas yogi di sebelah, yang sebangku tiga orang. 

Jam 11-an malam, bis mulai melaju meninggalkan terminal. Papandayan telah selangkah lagi lebih dekat. Dan yaaa, seperti niat semula, dengan didukung perut yang sudah kenyang, kami berempat tidur dengan sukses selama di perjalanan.

Bangun-bangun, setelah kurang lebih empat jam berlalu, mataku yang belum beres-beres amat alias masih ngantuk mencoba melihat keluar jendela, mencari tahu berada dimana bis ini sekarang. Terminal Guntursari, itu yang aku baca dari plang kecil yang tampak dari dalam bis.

"Turun di sini," kata mas yogi. Awalnya aku mikir sih, oh kirain turunnya di terminal garut (?). 

Dengan mata yang masih separuh terpejam dan muka bantal, kami turun dari bis. Dan wooooww, terminal ini isinya pendaki gunung semuaaa! Ternyata, memang ada tiga gunung yang bisa dicapai dari terminal ini, ada gunung Papandayan, gunung Guntur, dan gunung Cikuray. Jadilah seisi terminal dipenuhi dengan pemuda pemudi yang di punggungnya menempel itu tas-tas segede gaban. Beberapa dari mereka ada yang langsung meneruskan perjalanan naik mobil pick-up, ada juga yang naik angkot. Karena tujuan kami nggak begitu jauh, kami memutuskan untuk santai-santai dulu. Kamipun keluar terminal, mencari kali aja ada warung yang buka, bisa dipakai singgah dulu sementara.

Waktu menunjukkan pukul setengah empat pagi ketika kami menemukan toko yang lumayan besar untuk singgah sementara. Ada tiga cowok yang juga lagi ada di sana, ngopi dan makan mie, ada juga satu dari mereka yang ngerokok. Pertama kali sampai, perhatianku langsung jatuh pada sosok salah satu dari mereka. Bukan apa-apa, bukan karena ganteng atau apa, tapi karena topi yang dia pakai. Tulisan di topi itu sangat inspiratif sekali, dan menggugah, tulisan di topinya tuh...

Insya Allah Move On.

Ngeri banget kan?!! Sayangnya aku nggak bisa curi-curi ngefoto tulisan di topinya, takut dia kegeeran dikira aku ngefoto dia -___-.

Di toko ini juga kami membeli alias menambah perbekalan. Air mineral, mie instan, gula, dan balsem juga nggak ketinggalan. Kamipun duduk-duduk di toko itu sambil menunggu waktu. Kami ngobrol, ngemil beberapa snack dari ransum yang jumlahnya satu tas lebih. Nah di sini ada satu peristiwa yang bikin aku bete. Kami disamperin anak kecil, ngamen gitu, tapi udah kayak preman. Awalnya satu doang, udah kami kasih. Eh temennya dateng, laaah minta lagi, pake colek-colek segala pula. Hiiiih nyebeliiiiinnn -_____-. Untungnya nggak lama, mereka ngacir.

Jam setengah 5, kami bersiap melanjutkan perjalanan. Masing-masing mengecek bawaan. Aku sempat nyobain tasnya mas imam. Bukan nyoba ngebawa ya, karena bahkan ngangkatnya aja aku nggak sanggup. Berat bingits!

Nah, di tengah kami yang lagi siap-siap ini, lahdalah dua anak tadi muncul lagi! Ampun dah, maksa minta lagi, dan nyolek-nyolek lagi. Untung dilerai ama mas imam, kalau nggak, bisa tak semprot tuh bocah (tapi mikir juga sih, serem euy tindikan-tindikannya T.T).



Baiklah kita sudahi cerita dua anak kecil yang nyebelin tadi (sebenernya kasihan juga sih ya, kecil-kecil kok ya udah preman gitu), kami berempat jalan menuju terminal lagi. Mas yogi yang udah banyak nyari info mengenai pendakian ini, nego sama sopir-sopir angkot yang banyak menghampiri kami. Nggak lama, dapat lah kami satu angkot. Tas kami juga udah dinaikin ke atas angkotnya. Karena sepertinya masih harus nunggu penumpang lain, jadilah kami duduk-duduk di kursi warung yang tutup, nggak jauh dari angkot tadi, sambil bikin video lucu-lucuan sebagai catatan perjalanan ke Papandayan :D



Sampai jam 5, belum juga ada tanda-tanda angkot akan berangkat. Kami sudah sempat disuruh masuk angkot, diminta uang ngiket tas, kemudian disuruh keluar lagi, ganti angkot. Semata karena kuota yang belum mencukupi (yanasib cuman berempat satu rombongan), sementara beberapa rombongan yang baru datang malah langsung berangkat karena jumlah mereka banyak. Kamipun memandangi penuh harap setiap bis yang masuk terminal, berharap segera banyak penumpang yang naik angkot, biar ndang berangkat. Akhirnya ada satu rombongan lagi yang ikut angkot kami, tiga orang, naga-naganya sih mereka terkatung-katung juga karena serombongan cuma tiga orang. Tak lama, persamaan nasib itupun membuat kami berteman, hahaha. Jam 5 lewat beberapa menit, adzan Subuh berkumandang. Setelah bilang ama mamang angkotnya, kami pamit sholat dulu. Ternyata, ada masjid di salah satu gang di terminal situ. Dan, sepertinya itu masjid memang jadi tempat istirahatnya traveller, karena banyak banget yang tidur di teras masjidnya.  



Selesai menunaikan sholat Subuh, kami kembali ke angkot dan menemukan bahwa angkotnya sudah hampir penuh, Alhamdulillah. Namun, nggak jauh beda dengan angkot pada umumnya, angkot inipun belum mau jalan kalau angkotnya masih sekedar penuh aja, bukan penuh banget -____-.

Mungkin sekitar jam 6 kurang, tuh angkot baru mau jalan, setelah penumpang memenuhi kuota. Oh ya, kami dikenai tarif 20.000 per orang, plus biaya ngiket tas 20.000, jadi total 100.000. Karena masih ngantuk juga, sepanjang perjalanan aku hanya tidur, nggak peduli dengan pemandangan di luar, hehe. Tau-tau jam 6.45 udah nyampe aja tuh, di pasar Cisurupan. Kami para penumpang akhirnya bisa turun dan ngulet-ngulet, secara empet banget di dalem angkotnya, hahaha. Dari sini, perjalanan masih harus dilanjut dengan ojek, atau mobil pick-up menuju Camp David, Papandayan. Camp David ini, bukan tempat ngediriin tenda, tapi yaa semacam wilayah pos untuk perijinan naik lah.



Tapi, berhubung nih perut udah krucuk-krucuk, mas yogi ngajakin mampir pasar dulu, nyari makan. Berjalanlah kami beriringan menuju pasar. Nantinya, formasi jalan kami hampir selalu sama: mas yogi di depan, aku dan mbak titis di tengah, mas imam paling belakang. Selintas aku jadi ingat pengaturan rombongan serigala yang akhir-akhir ini banyak dishare, hehe :p

Awalnya mas yogi ngajak wisata pasar, alias masuk ke dalam pasar, dia jalan duluan gitu mencoba jalan menyusuri pasar. Sementara aku, mas imam, dan mbak titis ngeliatin doang. Bukannya gimana, ini gembolan gede-gede kalau masuk pasar apa ya nggak nyenggol sana-sini, hahaha. Nggak lama kemudian mas yogi keluar pasar dan menghampiri kami.

"Kayaknya susah ya bawaan kayak gini masuk pasar.."

NAHHHH..

Beruntungnya ada yang jual nasi kuning di bagian luar pasar. Sementara itu, di seberang pasar juga ada toko yang masih tutup, ada terasnya gitu. Jadi kami memutuskan untuk beli nasi kuning aja, makannya lesehan di teras toko. Satu porsi nasi kuning yang banyaaak, lauknya telor bulat, orek tempe, plus kerupuk, minumnya teh anget. Nikmaat deh rasanya. Dan dengan porsi sebanyak itu, harganya cuma 10.000 per porsi :D



Perut kenyang, kami siap melanjutkan perjalanan. Kamipun kembali ke tempat kami turun dari angkot tadi. Di sana, sudah ada 1 pick-up yang siap berangkat (entah kemana) beserta penumpang yang jumlahnya kira-kira 10 orang lah (nggak sempet ngitung, pokoknya tuh mobil bak keliatan udah penuh aja sama orang plus tas bawaannya). Teringat obrolan pas makan tadi kalau aku excited banget pengen naik pick-up, nostalgia jaman KKN dulu, hehe. But, melihat pick-up dan penumpangnya, perasaan langsung nggak enak, jangan-jangan ntar kayak angkot lagi nih, nunggu penumpang, dioper-oper, molor lah berangkatnya. Oh iya, lupa, sebelum nyampe ke titik ini, kami lewat indomaret kan beli gas, ketemu lagi sama rombongan tiga orang tadi, sebut saja Furqon cs. Jadi kami jalan bertujuh deh.

Nah, di samping pick-up yang siap berangkat tadi, ada satu mobil avanza. Kami malah ditawarin naik itu aja. Nah di sinilah aku bimbang mau bersyukur atau sedih karena nggak jadi naik pick-up, hehe. Tapi yaudahlah, anggap saja ini rejeki, maka kami bertujuh naik mobil itu. Agak maksa juga sih, secara barang bawaan kami kan banyak, masuk mobil, yaa umpel-umpelan, but that's ok, camp David sudah nggak jauh-jauh amat, dan untungnya aku dan mbak titis cukup slim untuk nyempil di bangku belakang (separuh bangku ditempatin tas ya, jadi fix kami berbagi satu bangku untuk berdua). Mobil melaju, dari dalam mobil, kami bisa mengamati wajah-wajah penumpang pick-up yang juga mengamati kami. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka >.<

Di mobil inilah kami bertujuh cerita-cerita dan malah jadi sepakat untuk barengan pas pulangnya gara-gara pak sopirnya nawarin ngejemput pas pulang dengan tarif 45.000 aja sampai terminal! Tawaran yang terlalu menarik untuk dilewatkan...

Jam 8.21 kami tiba di Camp David, dan bener aja, di sini banyak pedagang, banyak stand-stand gitu. Mas yogi dan mas imam langsung ke pos perijinan untuk lapor, sementara aku dan mbak titis malah nunggu di luar sambil selpi-selpi :p




Kelar lapor, kami menyempatkan foto dulu, sebelum lanjuut perjalanan. Dari ritual melapor tadi kami mendapatkan satu formulir perijinan, dan satu lembar peta.

petanya lupa nggak kefoto :p






Udara yang segar cenderung dingin dan pemandangan hijau nan indah di sekitar, sekilas membuat aku lupa kalau ini mau naik gunung. Boleh dibilang, yang aku rasain pas mau ngetrip kali ini tuh antara excited dan takut. Seminggu sebelum berangkat, karena udah sebulanan nggak lari pagi, sabtu-minggu aku bela-belain lari keliling di lapangan banteng, buat persiapan, biar nggak nyusahin-nyusahin amat pas ke Papandayan. 

And here we are, tanggal 19 Maret, pagi itu, pengalaman pertamaku naik gunung bareng temen-temen kantor...

(to be continued)

   

Selasa, 15 Maret 2016

Flash Escape in Makassar

0

Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi salah satu kota besar di Pulau Sulawesi. Kota Makassar. Satu tahun yang lalu sebenarnya saya sudah mengunjungi kota ini juga, tapi hanya satu hari, full untuk bekerja, jadi nggak memungkinkan saya untuk bisa jalan kemanapun. Syukurnya, tahun ini ada kesempatan lagi untuk berkunjung ke sana. Dan, karena kali ini jadwal tidak terlalu padat, saya bisa menyempatkan diri untuk berjalan-jalan, walau yaa nggak jauh dari daerah sekitaran saya menginap.

Sedikit review perjalanan, semoga bisa membantu siapapun yang membaca artikel ini untuk memilih itinerary ketika (nggak sengaja) liburan ke Makassar dengan waktu yang nggak lama. Check this out!

1. Pantai Losari



Pantai Losari adalah sebuah pantai yang terletak di bagian Barat kota Makassar. Pantai ini juga menjadi landmark kota Makassar yang sangat terkenal. Sepertinya, belum sah ke Makassar kalau belum mengabadikan momen di pantai ini. Memang tidak akan ditemui panorama khas pantai berupa pohon kelapa, debur ombak, serta pesisir dengan pasir putih, tapi keindahan sunset di sini tidak diragukan lagi. Saya beruntung bisa menginap di tempat yang nggak jauh dari Pantai Losari, sehingga bisa menikmati sore dengan santai, menunggu matahari tenggelam dengan khidmat.




Pantai Losari jadi tempat yang lazim bagi warga Makassar untuk menghabiskan waktu. Di pagi hari, pantai ini dipenuhi orang-orang yang olahraga, entah itu bersepeda, jogging, ataupun hanya jalan santai di sepanjang garis pantai. Di sore hari, banyak juga yang berkumpul di sini, entah ramai-ramai, sendirian, entah untuk nongkrong bersama atau hanya menunggu pemandangan sunset (seperti saya). Di depan Pantai Losari juga banyak kios-kios yang menjual jajanan khas kota Makassar, pisang epe'. Kios-kios ini berada di seberang jalan, dan mulai buka di sore hari.

2. Masjid Amirul Mukminin


Masih di sepanjang pantai Losari, ada sebuah masjid unik yang juga menjadi ikon kota Makassar. Sebutlah nama Masjid Amirul Mukminin atau biasa terkenal dengan Masjid Terapung. Masjid yang yang memiliki tiga lantai ini menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan atau wisatawati seperti saya, hehe. Bukan hanya menjadi tempat ibadah, tapi dari masjid ini saya juga bisa menyaksikan pemandangan sunset yang indah.




Masjid Amirul Mukminin ini tampak sangat mencolok dengan dua kubah besarnya yang berwarna biru muda, serta dua buah menara yang menjulang di sisi kanan dan kiri masjid. Dari segi arsitektur (maaf saya sotoy, padahal bukan arsitek, hihi), masjid ini indah, unik, dan cute. Di kanan dan kiri masjid, ada tangga melingkar yang menuju ke lantai 2 dan lantai 3. Ada sedikit ruang terbuka (semacam balkon) di setiap lantainya yang biasa digunakan pengunjung untuk duduk-duduk menikmati pemandangan dan sejuknya angin. Penerangan di dalam masjid tampak cute dengan lampu-lampu berbentuk bulat yang menggantung di langit-langit. Harus banget ke masjid ini deh kalau ke Makassar :)



3. Masjid Raya Makassar


Masjid Raya Makassar terletak di jalan Bulusaraung. Masjid yang menjadi salah satu kebanggaan warga Makassar ini memiliki dua menara dan dapat menampung hingga 10000 jamaah. Salah satu hal yang menjadi kesukaan saya pada masjid ini adalah jendela-jendela besar yang memungkinkan sirkulasi udara berjalan amat lancar. Awal masuk kok sepi, ternyata lantai utama untuk sholat berada di lantai 2.




Nah, di lantai 2 inilah saya akhirnya bisa menjumpai Al-Quran Akbar, Al-Quran besar dengan ukuran  1x1,5 meter yang disimpan secara khusus dalam kotak kaca. Terbersit rasa kagum yang membuat merinding, ketika melihat indahnya tulisan dalam Al-Quran tersebut. Al-Quran Akbar ditulis tangan oleh K.H. Ahmad Faqih Muntaha dan membutuhkan waktu satu tahun penuh. Ditulis dengan tinta khusus yaitu campuran antara tinta bak china dan air teh kental, tulisan dalam Al-Quran ini diprediksi akan awet melekat pada kertasnya dalam waktu yang sangat lama.



4. Fort Rotterdam


Tidak jauh dari Pantai Losari, tersebutlah benteng terkenal di Makassar bernama Fort Rotterdam. Dari pantai Losari, saya tinggal mencegat angkot berwarna biru untuk bisa sampai tepat di depan Fort Rotterdam. Tidak ada biaya untuk masuk benteng ini, hanya harus mengisi buku tamu saja di bagian dekat pintu masuk. Setelah mengisi buku tamu, saya disuguhkan pemandangan indah kompleks benteng. Beberapa bangunan di sekeliling, taman dengan rumput hijau di bagian tengah, dan tidak ketinggalan, langit biru yang luas dan mempesona. Indah. Di kompleks benteng, terdapat bangunan Museum La Galigo yang menyimpan sejarah kehidupan masyarakat Makassar, kehidupan kerajaan Gowa Tallo, dan beberapa budaya Makassar seperti baju adat, dan lain sebagainya. Untuk masuk Museum, saya hanya harus membayar lima ribu rupiah.




Banyak spot menarik (untuk foto-foto) di Fort Rotterdam. Tamannya, bangunannya, bahkan reruntuhan bangunan yang ada di salah satu sisi benteng. Di sini jugalah terdapat bangunan tempat Pangeran Diponegoro diasingkan oleh Belanda hingga akhir hayatnya. Saya yang masuk dalam bangunan itu merasa sangat miris, membayangkan Pangeran Diponegoro harus mendiami ruangan yang amat sempit, dikelilingin tembok beton yang kokoh (konon katanya sih temboknya dibuat sangat tebal, karena Pangeran Diponegoro memiliki "ilmu" yang hebat, biar nggak bisa dijebol gitu maksudnya.






Oh iya, walau namanya Fort Rotterdam, benteng ini bukan dibangun oleh Belanda, lho. Benteng ini asli dibangun oleh masyarakat Makassar. Namun, sempat jatuh ke tangan Belanda dan akhirnya namanya diganti menjadi Fort Rotterdam.

5. Pulau Lae-Lae


Masih berada di sekitaran Pantai Losari, ada beberapa pulau yang bisa dijangkau dengan waktu menyeberang hanya 10 sampai 15 menit saja, salah satunya adalah Pulau Lae-Lae. Untuk wisatawan yang belum puas dengan Pantai Losari, bisa mengunjungi pulau-pulau yang tidak jauh dari Makassar, seperti Pulau Lae-Lae, Pulau Khayangan, dan Pulau Samalona. Namun, karena keterbatasan waktu yang saya miliki, saya hanya sempat mengunjungi Pulau Lae-Lae.

Persis di seberang Fort Rotterdam, ada dermaga kecil tempat wisatawan bisa menyewa kapal/perahu untuk menyeberang ke Pulau Lae-Lae. Hanya dengan seratus ribu rupiah (pulang-pergi/carter), usut punya usut sih tarif menyeberang bisa lebih murah kalau pengunjungnya ramai-ramai, nggak sendirian macam saya kemarin T.T.




Pulau Lae-Lae adalah pulau kecil, ada penduduknya tapi nggak banyak. Pasirnya lumayan putih, dan cukup mengobati kerinduan saya sama pantai. Pulau ini memang nggak didesain untuk ada wahana olahraga laut dan sejenisnya, pantai ini hanya untuk menghabiskan waktu bersantai, menikmati pemandangan laut, mendengarkan debur ombak, dan merasakan sejuknya hembusan angin.





Nah, itu dia beberapa tempat yang berhasil saya kunjungi selama di Makassar. Saya beruntung karena jadwal tidak terlalu padat, dan kesemua tempat itu letaknya berdekatan satu sama lain, masih satu wilayah yang mudah dijangkau, baik dengan angkutan umum maupun kendaraan pribadi. Salah satu tips agar bisa mengunjungi tempat-tempat di atas dalam waktu yang nggak terlalu senggang adalah dengan menginap di Jalan Somba Opu, karena dekat sekali dengan Pantai Losari, paling cuma jalan kaki beberapa menit sudah sampai. Penginapan/hotel di sana juga punya banyak variasi harga, mau yang mewah ada, mau yang ramah kantong backpacker juga ada, bisa dipilih lewat aplikasi-aplikasi pemesanan yang sudah booming sekarang (saya sih biasa pakai traveloka dan agoda).

Bonus tips untuk kalian yang mungkin pergi ke sini tanpa persiapan, dan terpaksa harus jalan sendirian, ada baiknya disimak dulu:
1. Berpenampilanlah yang biasa banget, jangan mencolok. Karena, dengan bepergian sendiri itupun sudah membuat kalian terlihat mencolok, apalagi perempuan.
2. Nggak usah ragu menunjukkan tampang judes jika dirasa "perlu"
3. Kuasai baik-baik dulu tempat yang ingin kalian kunjungi (memastikan transportasi untuk mencapainya, kondisi sekitarnya, dll), bisa dengan bertanya pada teman, atau browsing di internet.
4. Jangan lupa berdoa :D

Saran terakhir sih, sebaiknya jangan pergi sendirian, lebih asyik kalau ada temennya, hehe. Okay, segini dulu cerita perjalananku selama di Makassar. Sampai jumpa di perjalanan-perjalanan selanjutnya :D

salam dari sunsetnya pantai losari :)

Sabtu, 12 Maret 2016

Book Review: Jodoh by Fahd Pahdepie

2



pict taken from goodreads.com


For the first time membaca karyanya Fahd Pahdepie. Saya sering mendengar maupun melihat namanya di sosmed, tapi baru kali ini berkesempatan untuk membaca bukunya. Judulnya Jodoh. Please jangan bilang saya galau, jangan bilang saya baper makanya milih buku ini, hahahaha. Awalnya sih saya tertarik sama covernya yang didominasi warna merah menyala. Ketika tahu nama pengarangnya, hmm, saya jadi ingin baca bukunya.

Novel Jodoh bercerita tentang sepasang anak manusia bernama Keara dan Sena. Lewat buku ini, saya seperti diajak untuk menyaksikan frame demi frame kisah cinta keduanya, mulai dari masa kanak-kanak, remaja, hingga mereka dewasa. Saya salut dengan gaya menulis Fahd yang bisa membuat saya seolah turut melihat, turut ada di sana dan menjadi bagian dalam cerita, walau tidak dengan menjadi tokohnya, ya. Biasanya, hal seperti ini akan bisa dirasakan ketika penulisnya menggunakan sudut pandang orang ketiga, tapi, Fahd dengan sudut pandang orang pertama-nya, bisa membuat saya merasakan hal yang serupa.

Kalau boleh saya bilang, secara keseluruhan isi cerita, bisa tertebak arahnya kemana, endingnya akan seperti apa, tapi menariknya adalah, Fahd bisa membuat saya tetap sabar dan menikmati jalan cerita. Itu keren, karena biasanya kalau merasa sudah bisa menebak ending, bacanya jadi males-malesan, hehe.

Oh iya, ada satu pemahaman mengenai kehidupan, mengenai takdir Tuhan, yang membuat saya sangat terkesan dalam novel ini. Dalam suatu percakapan antara Keara dan Sena mengenai hidup dan takdir..

"Takdir barangkali juga bekerja dengan cara semacam itu. Tuhan menyiapkan kemungkinan-kemungkinan dengan hukum sebab-akibat... Tentang takdir, mungkin Tuhan menyiapkan titik-titik peristiwa dengan jumlah kemungkinan yang tak terbatas itu. Lalu kita menentukan ke titik mana kita bergerak, ke titik-titik mana kita melanjutkan konsekuensi dari skenario yang kita pilih di titik takdir sebelumnya. Kita menyebut apa-apa yang sudah kita pilih, apa-apa yang sudah kita alami, sebagai nasib."

Dari keseluruhan cerita, saya paling suka bagian ini. Sedikit banyak, bagian ini bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari pernyataan bahwa "Segala sesuatunya sudah dituliskan oleh Tuhan". Yap, tulisan atau skenario Sang Maha Sutradara kehidupan tentulah tidak bisa disamakan dengan karya makhluk manapun. Jutaan atau bahkan skenario yang jumlahnya tak terbatas, hal ini telah menjelaskan pernyataan mengenai ketentuan Tuhan yang bisa diubah dan tidak, dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami.

Kalau kamu menyukai cerita-cerita yang sweet, dibumbui dengan sedikit puisi-puisi dan quote yang menarik, serta jalan cerita yang nggak menuntutmu mengerutkan dahi, buku ini cocok untuk kamu. Lalu bagaimana untuk kamu-kamu yang sedang menanti jodoh, apakah buku ini cocok juga, hmmm, hahaha, entahlah, kalau penasaran ya silakan beli bukunya :)