| pict from: favim.com |
Sabtu, 26 Agustus 2017
Kajian Tauhid: K.H. Abdullah Gymnastiar
| pict from: dakwahadventure.com |
Selasa, 06 Juni 2017
Kehilangan Besar
Hujan belum berhenti sejak pagi tadi. Dari jendela ruangan ini, genangan-genangan di jalan tampak jelas. Rintik air seperti menari-nari saat jatuh ke tanah. Bagiku hujan selalu mendamaikan walau sejenak, selalu menenangkan walau sesaat.
"Mas, Marsya mana?"
"Eh udah bangun, ternyata. Nyenyak banget tidurmu, sayang.."
Aku menghampiri tubuhnya yang masih tergolek lemah itu. Wanita yang kucintai ini, tentulah sedang mengemban beban yang tidak ringan.
"Iiih, Marsya mana?" desaknya.
"Marsya masih dibawa sama Ibu, kamu tenang aja," kataku sambil mengelus rambutnya. Susah payah kutahan air mata agar tidak jatuh, serupa mendung yang berusaha keras menampung hujan, menunggu saat yang tepat untuk tercurah.
"Kan aku kangen.."
"Iya, aku tahu. Makanya, kamu cepet pulih yaa. Jangan banyak pikiran dulu.."
***
Hanya di saat seperti ini aku bisa mencuri waktu. Wanitaku sudah terlelap lagi. Berjingkat kutinggalkan ruangannya. Sebentar saja, bisikku dari kejauhan.
Aku butuh tempat berbagi.
"Nak, bagaimana nanti Ayah akan menceritakan semua ini pada Bundamu?"
Aku berbicara pada pusara Marsya yang basah. Bukan karena hujan, tapi air mataku sendiri.
Sabtu, 03 Juni 2017
Pasirku
Di salah satu senja yang paling jingga, satu deburan ombak telah membawanya pergi
Lihatlah, bahkan aku sanggup melihatnya menarik sauh dari dasar
Pun aku yang membantu mendorong sedikit bahteranya menemui lautan
Dan masih aku, yang berdiri melambaikan tangan, begitu percayanya jika takdir akan membawanya ke dermaga ini lagi
Suatu saat nanti
Sabit bertengger di atas kepala
Dinaungi bintang-bintang tuan para cahaya
Ada anak manusia yang gigih mengetuk pintu langit
Lantun katanya menceritakan kata pulang
Relung-relung batinnya mengisyaratkan ketidakmungkinan yang tak lelah ia percayai
Langkah-langkah kakinya terlatih pergi ke dermaga, membawa harapan yang ia lepaskan bersama sepoi dari kepak camar
Aku sedang berbicara padamu, wahai diri
Kamu yang tak henti meyakini, bahwa pasir yang dibawa ombak, kelak akan diganti kerang warna-warni yang memperindah pesisir
Lalu apakah ini tengadah tangan terakhirmu?
Setelah malam-malam yang kau habiskan untuk mencari dukungan semesta
***
Pagi itu aku masih ke dermaga
Tak ada ombak yang membawanya pulang, memang
Pasirku
Tuhan telah menggantinya dengan kerang warna-warni
03.06.2017
Senin, 29 Mei 2017
Kotak-Kotak
Bismillaahirrohmaanirrohiim
Allah SWT berfirman:
وَقُلْ لِّـلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَـضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اٰبَآئِهِنَّ اَوْ اٰبَآءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَآئِهِنَّ اَوْ اَبْنَآءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْۤ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْۤ اَخَوٰتِهِنَّ اَوْ نِسَآئِهِنَّ اَوْ مَا مَلَـكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى الْاِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَآءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِاَرْجُلِهِنَّ لِيُـعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّ ۗ وَتُوْبُوْۤا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung."
(QS. An-Nur 24: Ayat 31)
Kali ini saya memberanikan diri membuat postingan yang lebih islami. Kenapa memberanikan diri? Ya, karena saya amat takut, takut bahwa diri ini masih belum cukup baik untuk menyampaikan ini. Jadi, jangan dilihat siapa yang menyampaikan, tapi apa yang disampaikan.
Postingan ini bisa dibilang adalah suatu bentuk ungkapan keresahan saya. Bahkan lebih banyak curhatnya, hehe.
Perihal kewajiban menutup aurat, telah jelas tercantum dalam firman Allah di atas. Bahwa menutup aurat itu bukan pilihan, tapi kewajiban. Yang dikatakan pilihan itu bukan soal menutup auratnya, tapi pilihan apakah kita mau taat, atau tidak.
Sok banget lu, ul! Ya, nggakapapa dibilang sok, saya pun baru memutuskan berjilbab bulan Mei tiga tahun yang lalu. Saya terlalu banyak pertimbangan. Terlalu banyak yang jadi pemikiran, dan salah satunya adalah memikirkan apa kata orang.
Betul bahwa kita nggak perlu memikirkan apa kata orang kalau kita ingin berbuat baik. Sudah banyak artikel maupun nasihat yang mengulas soal itu. Tapi di sini saya ingin mengulas dari sudut pandang yang berbeda, yaitu dari sisi "orang"-nya, "orang" yang beropini soal perempuan berjilbab.
Masih ingat fenomena (maaf) jilboob dulu? Atau sekarang masih jadi fenomena ya?
Kita ambil contoh satu itu saja. Soal jilboob, yang nyatanya melukai hati muslimah yang telah lebih rapi menutup auratnya.
Saya pun tidak nyaman melihatnya. Saya pun rasanya tidak ingin disama-samakan. Saya pun merasakan luka, ketika perintah Allah seperti dilecehkan, diremehkan.
Tapi belakangan saya sadar.
Jangan-jangan, kita bahkan punya peranan dalam menimbulkan fenomena jilboob itu sendiri.
Pandangan-pandangan sinis kita..
Bisik-bisik kita yang bernada meremehkan..
Merasa telah baik, lalu mengizinkan diri ini angkuh berjalan di bumiNya..
Astaghfirullah.
Muslimah sholehah, mungkin ada baiknya kita merenung sejenak. Sudahkah kita merangkul dan menjelaskan bagaimana menutup aurat sesuai tuntunanNya? Sudahkah kita dengan ramahnya membuat mereka merasa nyaman berinteraksi dengan kita?
Ataukah kita malah menertawakan mereka? Ataukah kita masih membuat mereka enggan, membuat mereka minder karena merasa kita telah jauh lebih baik dari mereka?
Seringkali tanpa disadari, kita yang menciptakan kotak-kotak itu. Kita sendiri yang memberikan label-label tertentu. Kita yang ironisnya membuat jurang perbedaan itu semakin terlihat jelas. Dan celakanya, kotak-kotak ini yang mungkin menumbuhkan pemikiran "siapa lebih baik dari siapa", "siapa yang telah mencapai apa", pun bahkan "siapa yang tidak menjadi bagian dari siapa".
Perlu kita ingat bahwa tidak setiap orang mampu berhijrah secara drastis. Setiap orang punya alur prosesnya masing-masing. Dan, setiap orang menjemput hidayahNya dengan caranya sendiri-sendiri.
Muslimah sholeha, jika saat ini kita belum bisa sepenuhnya menghilangkan kotak-kotak yang tak kasat mata itu, setidaknya, mari kita berada di tepi-tepinya saja. Untuk apa? Untuk saling merentangkan tangan, menjadi jembatan antara yang berada di dalam dan di luar kotak.
Supaya apa?
Supaya kita bisa merangkul semua.
Supaya kita bisa menjadi teman hijrah.
Supaya tidak ada yang merasa disisihkan, ataupun ditinggalkan.
Menutup aurat adalah PR kita bersama, sebagai sesama muslimah. Saling mengingatkan, bukan mencemooh. Saling mengajak dalam kebaikan, bukan menghakimi. Saling belajar, bukan membanding-bandingkan.
Insya Allah, tempat yang istimewa telah menunggu bagi siapa saja yang menjadi perantara hidayahNya.
Wallahu'alam bishshowab.
Rabu, 10 Mei 2017
Selalu Ada yang Pertama: Rihlah Bolangs
| piknik makan siang ala-ala :D |
| green everywhere <3 |
![]() |
| jalan bebatuan :D |
![]() |
| melangkah ke depan |
![]() |
| Instagramable :p |
Sekitar jam setengah 4 sore, kamipun turun kembali menuju tempat parkir mobil yang pas banget di seberang pintu masuk bumi perkemahan Mandalawangi. Sebelumnya, kami sewa kompor dan nyari gas kalengan dulu, karena kami cuma bawa 1 kompor aja. Nggak lupa , kami juga beli sayuran, beras, teh celup, dan beberapa hal lain yang kami butuhkan.
![]() |
| kemping ceria :D |
![]() |
| pencitraan :p |
![]() |
| bapak-bapak lagi masak :D |
![]() |
| makan besar: nasi, mie rebus, nugget, bala-bala, kerupuk, dan pisang |
![]() |
| makan malam beratapkan bintang (bintangnya nggak keliatan, haha) |
![]() |
| yanasiib.. T.T |
| roti maryam, yummy :9 |
| bala-bala, adonan semalam ditambahin sayur lagi |
| sop, isinya wortel, sawi, cabe, sosis, dan royco :p |
| uwuwuwu, masak berdua :3 |
| like a boss :p |
| enak ya Ria? |
Setelah makan, main sambung kata, dan ngobrolin ini itu, kamipun beres-beres tenda, dan tak lupa berfoto bersama.. :D
![]() |
| foto dulu sebelum diberesin |
![]() |
| foto dulu sebelum diberesin (1) |
![]() |
| bye buper :) |
![]() |
| Iman didapuk sebagai minimarket berjalan :D |
| go go power ranger! |
![]() |
| bersama satria baja hitam :D |
| foto dulu di jembatan :D |
| Air terjun Cibeureum |
| Air terjun Cibeureum (1) |
| <3 |
![]() |
| adem ya, rus? |
![]() |
| adem ya, pis? |
| beauty :) |
| flower :) |
| flower (1) |
| ngapain sih, ul? |
| bukan kaki aku |
![]() |
| happy :D |
![]() |
| jump! |
![]() |
| happy! |
![]() |
| si lebay baju hitam :p |
Jazakumullah khair untuk:
Mas Yogi yang udah setia nyetirin pulang-pergi
Ria yang jadi bu bendahara trip
Iman yang kasih suggest soal tepung di malam itu
Rusdi yang telah sah dilantik jadi koordinator Bolangs
Terima kasih untuk sharing session yang "mengesankan", wkwkwk.
| Khafidz, Ria, Aku, mas Yogi, Rusdi, Iman |
























