Sabtu, 26 Agustus 2017

Kajian Tauhid: K.H. Abdullah Gymnastiar

0

Image result for iman islam
pict from: favim.com

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Kajian Tauhid tanggal 9 Juli 2017

Oleh Ust. Bendri Jaisyurrahman dan K. H. Abdullah Gymnastiar

1. Salah satu ciri amal ibadah kita diterima di bulan Ramadhan adalah di bulan-bulan selanjutnya ibadah kita tetap istiqomah, bahkan lebih baik lagi.

2. Orang beriman ketika mendapatkan masalah, hal pertama yang diperiksa/dievaluasi adalah hubungan antara dirinya dengan Allah SWT.

3. QS Al-'Asr: 1-3
Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang (1) beriman, (2) dan mengerjakan kebajikan serta (3) saling menasihati untuk kebenaran dan (4) saling menasihati untuk kesabaran.


4. Beriman = paham kebenaran. Memupuk keimanan adalah dengan:
A. Ilmu. Sebaik-baik ilmu adalah ilmu mengenal Allah SWT. Pahami Al-Quran, tidak sekedar membaca, namun juga mempelajari terjemahnya.

B. Berkumpul dengan orang-orang yang yakin dengan Allah.

5. Beramal sholeh kuncinya adalah dua hal. Yang pertama adalah niat yang ikhlas. Yang ke dua adalah beramal dengan cara yang benar.

6. Saling menasihati dalam kebenaran. Orang yang bodoh, ketika mendengar/mendapat nasihat kebaikan/kebenaran, dia akan (1) membentengi dirinya/defensif, (2) mencari alasan/pembenaran, dan (3) balik menyerang orang yang menasihatinya.

7. Sabar dalam tiga hal:
A. Sabar dalam ketaatan.
B. Sabar dalam menjauhi maksiat.
C. Sabar dalam menghadapi cobaan.


Banyak-banyak melihat diri sendiri, jika masih sering sedih, galau, khawatir, itu tandanya kita kurang percaya kepada Allah. Padahal, tidak sedetik pun Allah lupa memberikan kita nafas. Padahal, tidak sesenti pun Allah lalai menata orbit benda-benda di angkasa. Mari saling mengingatkan dalam kebaikan. Semoga Allah senantiasa memeluk kita dengan hidayahNya.

Wallahu'alam bishshowwab

Kajian Tauhid: K.H. Abdullah Gymnastiar

0

Image result for dakwah
pict from: dakwahadventure.com
Bimillaahirrohmaanirrohiim


Kajian Tauhiid tanggal 13 Agustus 2017

Oleh Ust. Salim A. Fillah dan K.H. Abdullah Gymnastiar

1. Menimba ilmu/mencari kajian via internet itu baik, namun jangan sampai menghindarkan kita dari berkah dalam melangkahkan kaki ke masjid atau majelis ilmu.

2. Islam telah lama ada di nusantara, kurang lebih sejak abad 15 M.

3. Ada dua hal penting yang harus dicatat tentang dakwah Islam oleh para Ulama di masa silam, yaitu:
A. Jadilah solusi untuk umat
Maulana Malik Ibrahim dahulu belajar ke Mesir, di sisi lain beliau juga mempelajari cara masyarakat di sana mengelola Sungai Nil agar bisa dimanfaatkan secara optimal.
Beliau kembali ke Indonesia pada masa terjadinya perang paregreg yg akibatnya banyak merusak lahan-lahan pertanian. Dari sana Beliau menjadi solusi, berbekal ilmu ketika di Mesir, beliau mengajarkan cara bercocok tanam, bagaimana membangun sistem irigasi, bahkan membuat bendungan.
Banyak yg kemudian terkesan dgn akhlak beliau, dan tertarik memeluk Islam.


B. Berdakwah dgn cara yang indah
Raden Said yg kemudian dikenal sbg Sunan Kalijaga, dahulu berdakwah dgn media wayang beber. Cerita dan tokohnya dimodifikasi sedemikian rupa sehingga dapat membawa pesan-pesan Islam.
Misalnya, beliau membentuk wayang sesuai dgn karakternya. Karakter ksatria digambarkan berperut kecil (karena banyak tirakat/puasa), matanya sipit/kecil (perwujudan ghaddul bashar/menjaga pandangan), dan bermulut kecil (simbol menjaga lisan).


Dakwah Islam dimulai dari 2 hal, yakni menjawab persoalan masyarakat dengan cara yang indah.

4. QS. Qaf ayat 16 - 18
"Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri. Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)".


A. Kita adalah ciptaanNya, kita tidak bisa memilih akan diciptakan seperti apa. Karenanya, bersyukurlah dgn apa-apa yg ada pd diri kita. Pasti ada alasan baik dari setiap bentuk kita, yang menjadi rahasia Allah.

B. Fisik yang bagus adalah ujian bagi pemiliknya, jangan menjadikan ujub. Sebaliknya, fisik yang (dirasa) kurang, jangan menjadikan minder. Kelebihan bisa jadi ujian, kekurangan bisa jadi tanda kasih sayang Allah.

C. Kita dihargai/dihormati manusia hanya karena 3 hal:
1) Allah menutupi kita dengan kulit
2) Allah menutupi apa-apa yang kita pikirkan
3) Allah menutupi apa-apa yang ada dalam hati kita


D. Allah Maha Mengetahui segala isi hati. Dan jangan lupa, selalu ada malaikat yang mengawasi. Pada hakikatnya kita tidak pernah benar-benar "sendiri".

Mari memulai dari yang kecil. Mari memulai untuk mencari dan menjadi solusi. Mari sama-sama belajar lagi, lagi, dan lagi.

Wallahu'alam bisshowab

Selasa, 06 Juni 2017

Kehilangan Besar

0

Hujan belum berhenti sejak pagi tadi. Dari jendela ruangan ini, genangan-genangan di jalan tampak jelas. Rintik air seperti menari-nari saat jatuh ke tanah. Bagiku hujan selalu mendamaikan walau sejenak, selalu menenangkan walau sesaat.

"Mas, Marsya mana?"

"Eh udah bangun, ternyata. Nyenyak banget tidurmu, sayang.."

Aku menghampiri tubuhnya yang masih tergolek lemah itu. Wanita yang kucintai ini, tentulah sedang mengemban beban yang tidak ringan.

"Iiih, Marsya mana?" desaknya.

"Marsya masih dibawa sama Ibu, kamu tenang aja," kataku sambil mengelus rambutnya. Susah payah kutahan air mata agar tidak jatuh, serupa mendung yang berusaha keras menampung hujan, menunggu saat yang tepat untuk tercurah.

"Kan aku kangen.."

"Iya, aku tahu. Makanya, kamu cepet pulih yaa. Jangan banyak pikiran dulu.."

***

Hanya di saat seperti ini aku bisa mencuri waktu. Wanitaku sudah terlelap lagi. Berjingkat kutinggalkan ruangannya. Sebentar saja, bisikku dari kejauhan.

Aku butuh tempat berbagi.

"Nak, bagaimana nanti Ayah akan menceritakan semua ini pada Bundamu?"

Aku berbicara pada pusara Marsya yang basah. Bukan karena hujan, tapi air mataku sendiri.

Sabtu, 03 Juni 2017

Pasirku

0

Di salah satu senja yang paling jingga, satu deburan ombak telah membawanya pergi
Lihatlah, bahkan aku sanggup melihatnya menarik sauh dari dasar
Pun aku yang membantu mendorong sedikit bahteranya menemui lautan
Dan masih aku, yang berdiri melambaikan tangan, begitu percayanya jika takdir akan membawanya ke dermaga ini lagi
Suatu saat nanti

Sabit bertengger di atas kepala
Dinaungi bintang-bintang tuan para cahaya
Ada anak manusia yang gigih mengetuk pintu langit
Lantun katanya menceritakan kata pulang
Relung-relung batinnya mengisyaratkan ketidakmungkinan yang tak lelah ia percayai
Langkah-langkah kakinya terlatih pergi ke dermaga, membawa harapan yang ia lepaskan bersama sepoi dari kepak camar

Aku sedang berbicara padamu, wahai diri
Kamu yang tak henti meyakini, bahwa pasir yang dibawa ombak, kelak akan diganti kerang warna-warni yang memperindah pesisir
Lalu apakah ini tengadah tangan terakhirmu?
Setelah malam-malam yang kau habiskan untuk mencari dukungan semesta

***

Pagi itu aku masih ke dermaga
Tak ada ombak yang membawanya pulang, memang
Pasirku
Tuhan telah menggantinya dengan kerang warna-warni




03.06.2017

Senin, 29 Mei 2017

Kotak-Kotak

0

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Allah SWT berfirman:

وَقُلْ لِّـلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَـضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّ ۖ  وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اٰبَآئِهِنَّ اَوْ اٰبَآءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَآئِهِنَّ اَوْ اَبْنَآءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْۤ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْۤ اَخَوٰتِهِنَّ اَوْ نِسَآئِهِنَّ اَوْ مَا مَلَـكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى الْاِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَآءِ ۖ  وَلَا يَضْرِبْنَ بِاَرْجُلِهِنَّ لِيُـعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّ   ۗ  وَتُوْبُوْۤا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung."
(QS. An-Nur 24: Ayat 31)

Kali ini saya memberanikan diri membuat postingan yang lebih islami. Kenapa memberanikan diri? Ya, karena saya amat takut, takut bahwa diri ini masih belum cukup baik untuk menyampaikan ini. Jadi, jangan dilihat siapa yang menyampaikan, tapi apa yang disampaikan.

Postingan ini bisa dibilang adalah suatu bentuk ungkapan keresahan saya. Bahkan lebih banyak curhatnya, hehe.

Perihal kewajiban menutup aurat, telah jelas tercantum dalam firman Allah di atas. Bahwa menutup aurat itu bukan pilihan, tapi kewajiban. Yang dikatakan pilihan itu bukan soal menutup auratnya, tapi pilihan apakah kita mau taat, atau tidak.

Sok banget lu, ul! Ya, nggakapapa dibilang sok, saya pun baru memutuskan berjilbab bulan Mei tiga tahun yang lalu. Saya terlalu banyak pertimbangan. Terlalu banyak yang jadi pemikiran, dan salah satunya adalah memikirkan apa kata orang.

Betul bahwa kita nggak perlu memikirkan apa kata orang kalau kita ingin berbuat baik. Sudah banyak artikel maupun nasihat yang mengulas soal itu. Tapi di sini saya ingin mengulas dari sudut pandang yang berbeda, yaitu dari sisi "orang"-nya, "orang" yang beropini soal perempuan berjilbab.

Masih ingat fenomena (maaf) jilboob dulu? Atau sekarang masih jadi fenomena ya?

Kita ambil contoh satu itu saja. Soal jilboob, yang nyatanya melukai hati muslimah yang telah lebih rapi menutup auratnya.

Saya pun tidak nyaman melihatnya. Saya pun rasanya tidak ingin disama-samakan. Saya pun merasakan luka, ketika perintah Allah seperti dilecehkan, diremehkan.

Tapi belakangan saya sadar.

Jangan-jangan, kita bahkan punya peranan dalam menimbulkan fenomena jilboob itu sendiri.

Pandangan-pandangan sinis kita..

Bisik-bisik kita yang bernada meremehkan..

Merasa telah baik, lalu mengizinkan diri ini angkuh berjalan di bumiNya..

Astaghfirullah.

Muslimah sholehah, mungkin ada baiknya kita merenung sejenak. Sudahkah kita merangkul dan menjelaskan bagaimana menutup aurat sesuai tuntunanNya? Sudahkah kita dengan ramahnya membuat mereka merasa nyaman berinteraksi dengan kita?

Ataukah kita malah menertawakan mereka? Ataukah kita masih membuat mereka enggan, membuat mereka minder karena merasa kita telah jauh lebih baik dari mereka?

Seringkali tanpa disadari, kita yang menciptakan kotak-kotak itu. Kita sendiri yang memberikan label-label tertentu. Kita yang ironisnya membuat jurang perbedaan itu semakin terlihat jelas. Dan celakanya, kotak-kotak ini yang mungkin menumbuhkan pemikiran "siapa lebih baik dari siapa", "siapa yang telah mencapai apa", pun bahkan "siapa yang tidak menjadi bagian dari siapa".

Perlu kita ingat bahwa tidak setiap orang mampu berhijrah secara drastis. Setiap orang punya alur prosesnya masing-masing. Dan, setiap orang menjemput hidayahNya dengan caranya sendiri-sendiri.

Muslimah sholeha, jika saat ini kita belum bisa sepenuhnya menghilangkan kotak-kotak yang tak kasat mata itu, setidaknya, mari kita berada di tepi-tepinya saja. Untuk apa? Untuk saling merentangkan tangan, menjadi jembatan antara yang berada di dalam dan di luar kotak.

Supaya apa?

Supaya kita bisa merangkul semua.

Supaya kita bisa menjadi teman hijrah.

Supaya tidak ada yang merasa disisihkan, ataupun ditinggalkan.

Menutup aurat adalah PR kita bersama, sebagai sesama muslimah. Saling mengingatkan, bukan mencemooh. Saling mengajak dalam kebaikan, bukan menghakimi. Saling belajar, bukan membanding-bandingkan.

Insya Allah, tempat yang istimewa telah menunggu bagi siapa saja yang menjadi perantara hidayahNya.

Wallahu'alam bishshowab.

Rabu, 10 Mei 2017

Selalu Ada yang Pertama: Rihlah Bolangs

0

Berawal dari wacana rihlah Bolang yang belum terlaksana, akhirnya tanggal 29-30 April lalu, direalisasikan juga rencana rihlahnya. Walaupun satu per satu peserta berguguran mendekati hari H dikarenakan berbagai halang rintang, kami tetap berangkats dengan lima orang personil saja, yaitu aku, Ria, mas Yogi, Iman, dan Rusdi.

Destinasi rihlah kali ini adalah Taman Nasional Gede-Pangrango (TNGP). Nggak, bukan mau mendaki gunung, sih. Kami mau kemping ceria di bumi perkemahan Mandalawangi, baru besoknya trekking syantik ke Air Terjun Cibeureum. Jadi gini, di TNGP tuh kayak semacam komplek wisata alam gitu. Di sana ada beberapa tempat wisata, diantaranya ada Kebun Raya Cibodas, Air Terjun Cibeureum, bumi perkemahan Mandalawangi, Gunung Gede, Gunung Pangrango, dan lain-lain.

Perjalanan dimulai di hari Sabtu pagi. Blok M dipilih menjadi meeting point rihlah kali ini. Sekitar pukul 07.30, mobil rombongan Bolangs berangkat menuju Cibodas. Bismillaah.. :D

Perjalanan lancar diselingi lalin padat beberapa kali (aih, dah kayak info lalin aja ini kalimatnya). Oh iya, sedari sebelum berangkat, mas Yogi sudah nyusun apa yang bakal jadi menu makanan selama kemping. Ada bala-bala alias bakwan sayur, martabak mie, roti maryam, dan sop. Ah iya, chicken gordon bleu juga :p. Banyak hal yang kami obrolin di mobil, salah satunya ya soal makanan. Seakan semesta mendukung, pas kami lagi ngomongin untuk bakar-bakar ubi, ada satu mobil pick-up bermuatan ubi melintas di sebelah mobil. Tinggal buka jendela, julurin tangan, hap! Hehehehe, nggak ding, bercanda aja.. :D

Alhamdulillah, jalur menuju Puncak pas banget lagi buka. Kalau pas tutup, mungkin bakal terhambat perjalanan kami ke tempat tujuan rihlah. Memasuki kabupaten Bogor, udara mulai segar. Mendung beberapa kali nampak, sempat bikin was-was. Kemping di kala hujan tetep asik sih, tapi nanti nggak bisa melihat langit yang dipenuhi kerlip bintang kayak diharap-harapkan Ria :p Mobil kami mampir dulu ke minimarket untuk beli tepung, minyak, keju, mie, dan beberapa cemilan. Di luar minimarket, ada bapak-bapak jualan pisang. Langsunglah para ikhwan beli pisang 3 sisir, wkwkwk. Aku sama Ria shock lihatnya, tapi mereka yakin kalau pisangnya bakal habis sampai besok. Baiklah :p

Sekitar jam 12 siang, kami sampai di kawasan TNGP. Setelah cari tempat parkir mobil, kami ke mushola untuk melaksanakan sholat Dhuhur. Selesai sholat, kami memutuskan untuk berkeliling dulu, dan Kebun Raya Cibodas yang jadi tujuan pertama. Kamipun jalan menuju loket masuk Kebun Raya, sambil nanya-nanya, kalau keliling Kebun dengan jalan kaki apakah memungkinkan. Dan ternyataaaaa.. Kebunnya luas bingiiits, hahaha, jadilah kami balik lagi ke parkiran untuk ambil mobil, keliling kebunnya naik mobil aja. Tapi sebelumnya, kami beli nasi bungkus dulu. Ceritanya, kami mau makan siang ala-ala gitu nanti di Kebun Raya.

Belum jauh mobil kami memasuki Kebun Raya, si Iman yang duduk di depan udah disapa aja sama mas-mas yang melintas di sebelah mobil, wkwkwkwk. Sabar ya, Man.

Setelah melihat-lihat sekitar, kamipun parkir di salah satu sisi Kebun Raya. Kami turun dari mobil dan mencari spot yang asyik untuk memulai piknik.

Flysheet digelar, posisi kami pewe banget lah. Sekeliling nggak begitu ramai orang, di kejauhan nampak pemandangan khas dataran tinggi. Pepohonan dan tanaman hijau di sana-sini, sejuk banget dipandang.


piknik makan siang ala-ala :D


Sembari makan siang, kami sekalian menobatkan Rusdi jadi Korlang alias Koordinator Bolang. Nggakpapa walau Rusdi nggak jadi Kortan, kamu selalu di hati para Bolangs :D

Lagi asyik-asyiknya kami makan dan ngobrol-ngobrol, tiba-tiba ada anak kecil cowok yang nyamperin tempat kami piknik. Bingung lah kami. Tapi itu bocah kok mandangin si Iman. Tapi nggak lama, anak kecil tadi pergi lagi. Setelah melihat ke sekitar, tahulah kami kalau ternyata abinya anak kecil tadi mirip banget sama Iman.. huahahaha, sama-sama pakai baju hitam pulak.. :p

green everywhere <3

Selesai makan, kami jalan ke sisi yang lain. Ada danau dan air mancur di tengah taman, ada juga jalur bebatuan dengan aliran air di tepinya, air terjun buatan pun ada. Instagramable banget lah ini Kebun Raya Cibodas :D

jalan bebatuan :D
melangkah ke depan
Instagramable :p

Sekitar jam setengah 4 sore, kamipun turun kembali menuju tempat parkir mobil yang pas banget di seberang pintu masuk bumi perkemahan Mandalawangi. Sebelumnya, kami sewa kompor dan nyari gas kalengan dulu, karena kami cuma bawa 1 kompor aja. Nggak lupa , kami juga beli sayuran, beras, teh celup, dan beberapa hal lain yang kami butuhkan.

Sebelum masuk bumi perkemahan (buper), kami mau pencitraan dulu lah, pura-puranya kemping seriusan, wkwkwk.

kemping ceria :D
pencitraan :p
Memasuki buper, aku shock. Gimanalah area kemping kok ya ada kabel-kabel terjulur kemana-mana untuk suplai listrik. Belum selesai sampai situ, ternyata di dalam buper juga ada warung-warung, toilet umum, dan lain sebagainya. Wahahaha. Ini mah bener-bener kemping ceriaaa :D

Buper ramai banget, banyak yang ngadain event di sana. Mungkin karena liburan juga, ya. Setelah mencari beberapa lama, akhirnya kami nemu juga area yang enak untuk mendirikan tenda. Siapakah yang mendirikan tenda? Tentu para ikhwan, aku dan Ria membantu.............. dengan doa :D

Cuaca mendung, beberapa kali gerimis. Hawa mulai agak dingin. Ini yang aku suka di dataran tinggi, hawa dinginnya.. :)

Setelah tenda terpasang, aku iseng-iseng mau cek dalemnya. Eh ternyata retsleting tendanya nggak bisa dibuka! Nah lho.. Usut punya usut, ternyata retsletingnya agak karatan karena abis kena air laut pas mas Yogi kemping di pinggir pantai. Tapi Alhamdulillah, setelah berbagai upaya dilakukan (pakai minyak goreng untuk pelumas retsleting, narik-narik retsleting), akhirnya retsleting tenda berhasil juga dibuka. Horaaayy! Yang paling bersyukur sih para ikhwan, karena nggak jadi bobok di hammock, wkwkwk :p

Tenda dan flysheet terpasang, barang bawaan sudah aman di dalam tenda, maka saatnya mengeluarkan semua perbekalan. Dan, perbekalan kami udah kayak orang mau kemping seminggu!

logistik kemping seminggu
Tanpa membuang waktu, kami langsung motong-motongin sayuran. Ada wortel, sawi, daun bawang, cabe. Semua kami beli di pasar yang ada di TNGP. Pasarnya lengkaaapp, dan muraaaaahhh banget. Hanya dengan 13 ribu rupiah, bisa dapat satu ikat wortel yang isinya entah berapa batang saking banyaknya, seikat daun bawang, pokoknya udah kayak abis panen dari kebun sendiri deh :D

Hari semakin gelap, waktunya sholat maghrib. Kami bagi tugas. Mas Yogi dan Rusdi sholat duluan. Sementara Iman jagain aku dan Ria yang lagi masak buat makan malem. Masak bala-bala tentunya, wkwkwk. Di sinilah kegalauan dimulai.

Ria: Ini dipakai berapa banyak ya, tepungnya?
Aku: Udah, abisin aja sih, sebungkus. Kan kita beli tepungnya dua bungkus tadi.
Iman: Ih jangan, kebanyakan kalau sebungkus.
Aku: Yaudah, 3/4 bungkus dah.
Ria: (tuang tepung ke sayuran, lalu tuang air, dan aduk-aduk)
Ria: Kebanyakan nih airnya, keenceran. Tambahin aja lah ya tepungnya.

Dan endingnya, habis juga itu tepung dua bungkus gara-gara nuang airnya kebanyakan, hahahaha :p

Malam itu kami makan besar. Makan malam di bawah langit berbintang. Alhamdulillah, cuacanya cerah :)

bapak-bapak lagi masak :D
makan besar: nasi, mie rebus, nugget, bala-bala, kerupuk, dan pisang
makan malam beratapkan bintang (bintangnya nggak keliatan, haha)
Setelah makan malam, kamipun ngemil bala-bala yang masih tersisa. Sembari ngemil, kami main sambung kata, hukumannya pakai tisu. Gimana tuh main sambung kata? Susah dijelaskan dengan kata-kata, mending langsung main aja :p

yanasiib.. T.T
Bosan main sambung kata, kami bikin sesi K3DB live. Rasanya amazing banget kehidupan dikorek-korek, curhat di bawah langit malam yang diterangi cahaya bulan. Botol sambalnya Ria yang jadi saksi cerita hidup kita berlima di Cibodas kala itu. What's in Cibodas stay in Cibodas :p

Jam 1 malam, sesi K3DB berakhir, kami udah ngantuk banget. Sampai jumpa besok pagi :)

Pagi menjelang, hawa dingin menyergap. Sayup-sayup terdengar suara ribut. Ternyata Ria yang pilek-pilek sejak semalam, hahahaha. Alergi dingin ternyata diaaa, jadi di luar tenda kami berdua, sudah berjajar tisu-tisu yang menemani Ria semalaman. Ciyan Ria :p

Rencananya, kami akan trekking ke Cibeureum agak siang. Jadi, pagi ini agendanya santai-santai, makan pagi alias sarapan, baru deh beres-beres. Setelah semua barang beres di mobil, baru nanti kami naik menuju air terjun Cibeureum.

Pagi itu tim bala-bala dapat jatah nyantai duluan. Para ikhwan giliran masak dulu. Mas Yogi masak martabak mie, roti maryam. Iman dan Rusdi bikin teh dan masak sop. Sopnya isinya apa? Sudah tentu wortel dan sawi sisa bala-bala semalam, hehehe.

roti maryam, yummy :9
bala-bala, adonan semalam ditambahin sayur lagi
sop, isinya wortel, sawi, cabe, sosis, dan royco :p
uwuwuwu, masak berdua :3
Sementara itu, aku dan Ria bersantai-santai, sunbath-ing dan berayun-ayun di hammock :D

like a boss :p
enak ya Ria?
Pas ketika semua masakan sudah matang dan terhidang siap disantap. Datanglah seorang anak manusia yang nyusulin ke tenda kami. Siapakah dia???

Hapis!
pas banget dateng pas mau sarapan -__-


Setelah makan, main sambung kata, dan ngobrolin ini itu, kamipun beres-beres tenda, dan tak lupa berfoto bersama.. :D
foto dulu sebelum diberesin
foto dulu sebelum diberesin (1)
bye buper :)


Sekitar jam 11an, kami siap trekking ringan menuju air terjun. Cemilan dipilah-pilih mana yang mau dibawa, air minum juga. Checking pula siapa yang udah bawa jas hujan, siapa yang belum. Mas Yogi beli beberapa jas hujan sesuai keperluan. Kecuali si Iman, dia katanya mau sekalian mandi aja kalau kehujanan.. :p

Iman didapuk sebagai minimarket berjalan :D
Track pendakian sungguh mengasyikkan, wkwkwk. Lumayan menanjak di awal-awal, tapi untungnya track-nya kayak sudah dibentuk jadi undak-undakan bebatuan gitu, jadi nggak susah. Bener-bener track wisata banget. Walaupun gitu, aku yang udah lama nggak lari, lumayan berasa pegel juga, hahaha.

Di samping kiri-kanan track, pengunjung akan dinaungi pepohonan dan berbagai macam tanaman. Nyaman banget, dan fresh banget udaranya. Makanya suka agak sebel kalau ada orang ngerokok di tempat kayak gini. Kan pengen hirup napas dalam-dalam, eh yang kehirup malah asap rokok. Zonk banget -_____-

Sekitar satu jam perjalanan, hujan turun menemani langkah kami. Jas hujan pada dipakai, kecuali Iman si Satria Baja Hitam :p

go go power ranger!
bersama satria baja hitam :D


foto dulu di jembatan :D
Jam menunjukkan pukul 13.30 ketika kami akhirnya sampai di air terjun Cibeureum.. Yeaay!

Air terjun Cibeureum 
Air terjun Cibeureum (1)
Setelah sholat di mushola, dan minum minuman hangat yang dijual di sana, kami nyari tempat duduk yang pewe. Hujan masih turun, jadi kami memutuskan untuk ngiyup dulu. Dingin banget hawanya, sampai kami bisa mengeluarkan asap ketika bicara :D

<3
adem ya, rus?


adem ya, pis?
Para ikhwan pada menggigil di sini, wwkwkwk. Demi menghangatkan badan, kami jalan sedikit ke sisi kanan air terjun, katanya ada curug lagi. Jalanlah kami ke sana... Dan inilah yang kami temukan...

beauty :)
flower :)

flower (1)
ngapain sih, ul?
bukan kaki aku
Curug yang nggak seberapa besar, tapi indah. Sekelilingnya banyak bunga, airnya jernih, bebatuan di dasar curugnya warna-warni.. <3


happy :D
jump!
happy!
si lebay baju hitam :p
Jam setengah 4 sore, kami ucapkan sampai jumpa ke air terjun Cibeureum :)

Perjalanan turun memang lebih singkat daripada waktu naik. Sekitar jam 5 sore, kami sudah sampai bawah. Setelah sholat ashar, kami berjalan kembali menuju ke parkir mobil. Sebelumnya, nggak lupa kami menghidupkan perekonomian lokal dengan cara beli suvenir. Aku as usual beli gantungan kunci. Iman dan Rusdi, di luar dugaan, beli kaktus! Soooo unyu :3

Sesampainya di mobil, kami rapikan semua bawaan. Ikhwan pada mandi, aku dan Ria jaga mobil. Adzan magrib berkumandang, kami sholat sebelum pulang.

Perut yang keroncongan memaksa kami untuk singgah makan sejenak di bakso solo. Nikmatnya makan anget-anget di tengah udara dingin. Saking laparnya, kami lupa pesan minum. Hahahah

Puas makan, kamipun bersiap pulang. Hapis pulang sendiri naik motor. Sementara kami berlima pulang naik mobil. Perjalanan nyampai Jakarta membutuhkan waktu kurang lebih selama 4 jam, plus waktu istirahat alias bobok sebentar :D

Sepanjang jalan kami main sambung kata, sampai ngantuk-ngantuk, sampai eror. Demi nemenin mas Yogi biar tetap fokus nyetirnya. Makasi mas Yogi :D

Senin dini hari, kami telah sampai di tempat tinggal masing-masing. Alhamdulillah, Rihlah Bolangs yang pertama berjalan lancar.. :)

-----------------------------------------------------------------------------------------

Setiap perjalanan pasti membawa hikmah dan pelajaran baru. Di setiap perjalanan, akan ada lagi orang-orang baru yang kepadanya kamu bisa meletakkan rasa percaya dengan nyaman.. :)

Aku jadi tahu jawaban paling tepat ketika ada yang bertanya kenapa aku suka travelling.

Sebab travelling adalah salah satu cara untuk bersyukur.

Mensyukuri nikmat rezeki yang Allah beri.

Mensyukuri orang-orang baik hati yang Allah kirim.

Mensyukuri indah alam raya yang Allah cipta.

Mensyukuri momen, rasa, dan pelajaran yang Allah sisipkan dalam setiap perjalanan.

-----------------------------------------------------------------------------------------

Sisi terbaik dari perjalanan kali ini adalah teman seperjalanan yang senantiasa saling mengingatkan waktu sholat. Alhamdulillaah :)

Jazakumullah khair untuk:
Mas Yogi yang udah setia nyetirin pulang-pergi
Ria yang jadi bu bendahara trip
Iman yang kasih suggest soal tepung di malam itu
Rusdi yang telah sah dilantik jadi koordinator Bolangs

Terima kasih untuk sharing session yang "mengesankan", wkwkwk. 
------------------------------------------------------------------------------------------

Pulang travelling, adalah pulang dengan rasa syukur yang membuncah, rasa syukur yang baru, rasa bahwa Allah amat menyayangi diri kita :)

Sampai jumpa di Rihlah selanjutnya... Insya Allah :)





Khafidz, Ria, Aku, mas Yogi, Rusdi, Iman