Senin, 07 Mei 2018

Trip to Ende and Labuan Bajo: Part 2

0

Day 3: 12 April 2018

Sekitar jam 8 pagi, kami sampai di Bandara Komodo, Labuan Bajo. Walau sepertinya hanya pesawat kami yang mendarat, bagasinya keluarnya lama banget. Mungkin ada hampir 40 menit kami nunggu bagasi. Sementara itu mbanggi sudah telpon pihak hotel Green Prundi untuk minta dijemput. Setelah urusan perbagasian beres, kami menuju pintu keluar dan menunggu jemputan. Sekitar jam 9an, mobil Green Prundi akhirnya nampak, kamipun berangkat menuju hotel. Bersiap untuk perjalanan jauh, ternyata oh ternyata hotelnya dekat sama bandara, 5 menit juga nyampe, hahhaa.

Sesampai di hotel, kami pun cek in sembari nanya-nanya apa bisa pesan makanan (lapaaaar, belum sarapan, haha). Alhamdulillah bisa pesan makanan ternyata, kami pun pesan spagheti dua porsi. Oiya, karena masih pagi, kami belum bisa masuk kamar. Akhirnya sembari menunggu, mbanggi pesan juga ke resepsionis untuk sewa motor. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya kami bisa masuk kamar, heehe. Sampai di kamar, yang pertama dicari adalah colokan, dan nyari tahu apakah film Harry Potter bisa ditonton juga pakai tv yang di sini, wkwkwk. Kami coba utak-atik playernya, tapi nggak bisa. Akhirnya mbanggi minta tolong ke resepsionis, terus teknisi datang dan ngajarin cara pakainya. Tapi sayangnya, resolusi filmnya terlalu kecil untuk tv yang di sini, jadilah cuma bisa putar satu  film Harpot ke 7 (1). Yaudahlah daripada nggak nonton apa-apa. Di sini kami ngabisin banyak waktu untuk istirahat, makan spagheti, dan bobok siang sampe abis dzuhur.

Setelah sholat dzuhur, kami menuju resepsionis (lagi) untuk pinjam motor. Karena motornya harus diambil, mbanggi lah yang berangkat sama mas-masnya untuk nyewa motor ke luar. Cuaca di luar panas banget, btw. Tapi ya mumpung di sini, dan kami cuma punya satu hari ini untuk beli oleh-oleh di Labuan Bajo. Sekitar jam 1 siang, akhirnya motor datang, kami pun sepakat untuk beli oleh-oleh dulu di toko suvenir Exotic Komodo yang letaknya seberang-seberangan sama bandara.

Belanja ternyata bikin perut kami krucuk-krucuk lagi. Oh iya, jadi Exotic Komodo ini kayak satu komplek gitu, gengs. Ada toko suvenir, ada hotel, dan ada restorannya juga. Karena nggak tahu mesti makan di mana, akhirnya kami makan di restoran situ. Dan kebetulan hujan tiba-tiba turun, sekalian ngiyup dulu. Setelah menerima buku menu, aku dan mbanggi sama-sama tertarik sama sup ikan (tulisannya sih cita rasa lokal Labuan Bajo gitu). Akhirnya kami sama-sama pesan sup ikan kuah asam, cuma bedanya punya mbanggi kuahnya ada rasa pedasnya. Pesanan datang dan wooooow, porsinya banyak juga, haha.

Rasanya segeeeerrr bangeeet.. Terus ikannya juga enaaak, empuk kenyal-kenyal gitu. Huaah, recommended banget, deh. Kalau ke sini, kudu coba menu sup ikan kuah asam/pedas ini pokoknya.

Setelah makan dan menunggu hujan lumayan reda, aku dan mbanggi memacu motor kembali ke hotel. Daripada riweuh nyari masjid/mushola di perjalanan, mending kami sholat ashar dulu di hotel, sekalian mulangin barang belanjaan, haha. Sekitar jam 4 sore, kami capcus ke Bukit Silvia. Sebenernya ada beberapa rekomendasi dari mas-mas resepsionis, yaitu goa batu cermin sama Bukit Cinta yang katanya bagus banget untuk lihat sunset. Tapi, setelah disambi browsing, kami tertarik ke Bukit Silvia aja.

Lokasi perbukitan itu harus melewati daerah pelabuhan terlebih dahulu. Mudah nemuin jalan di Labuan Bajo ini karena sedikit sekali persimpangan jalannya. Di perjalanan, hujan turun, tapi ngga begitu deras. Pun nanggung kalau mau pakai jas hujan, karena sudah lumayan dekat. Oiya, perjalanan menuju bukit Silvia ini lumayan berkelok-kelok dan menanjak. Jalannya sudah diaspal bagus, walau ada beberapa meter nanti yang masih rusak. Kami juga melewati wilayah proyek-proyek gitu, hati-hati yaa, karena banyak kendaraan besar juga. Sekitar 20 menit waktu yang kami tempuh untuk sampai di bukit Silvia.

 




Kami jadi orang yang pertama sampai di sini. Beberapa menit, bukit Silvia serasa milik pribadi. Tapi itu nggak berlangsung lama, orang-orang segera berdatangan. Untungnya sih, setelah kami puas foto-foto, hehe. Menurut gmaps, ada satu bukit Amelia letaknya berdekatan sama bukit Silvia, Awalnya kami berniat ke sana, tapi demi melihat jalan yang harus kami lalui penuh dengan bocah-bocah SMA yang lagi nongkrong, kami urungkan niat. Tujuan kami berikutnya adalah bukit Cinta. Lagi-lagi dituntun gmaps, dan nggak seberapa jauh letaknya dari bukit Silvia.

Tapi zoooonk, sampai sana, bukit Cinta-nya udah nggak ada apa-apanya, kosong. Dan tanahnya kayak udah diratain gitu. Aku dan mbanggi pun beranjak dari situ, mencoba mengikuti orang-orang yang lanjut perjalanan ke arah kiri. Nah dari jauh nampak pak polisi, wah, kami urung deh lanjutin perjalanan. Bukan apa-apa, mbanggi ada SIM, cuma tempat sewa motor kami tuh nggak mau kasi STNK motornya. Nggak lucu juga sih kalau ditilang pas liburan gini. Yasudah, akhirnya kami mutusin untuk balik aja ke hotel, lagian mendung, kayaknya sunset nggak akan kelihatan. Di luar dugaan, matahari tiba-tiba mulai nampak. Aku dan mbanggi yang udah di jalan pulang jadi bimbang, sunsetnya sepertinya sayang untuk dilewatkan. Tapi untuk kembali ke bukit Silvia juga sudah lumayan jauh, dan mempertimbangkan gelapnya jalan yang harus dilalui kalau kami pulang setelah sunset. Motor kami terus melaju ke jalan pulang, sampai kami melewati kafe yang kece di pinggir jalan.

"Mbak, kayaknya liat sunset dari kafe situ, asik deh," celetukku. Tak perlu perdebatan, mbanggi langsung melipirkan motornya ke parkiran kafe sembari bilang, "Kita perasaan ngafe mulu, ul,". Hahahaha.

Kafe kece ini namanya Escape Bajo. Ada dua lantai, dan ada sisi outdoor maupun indoor. Karena mau nonton sunset, kami pilih yang outdoor. Setelah pesan minum dan cemilan (pisang goreng), kami segera duduk dan tenggelam dalam indahnya pemandangan.





This place is the perfect place to enjoy sunset. Suasananya enak, nggak seberapa ramai. Sunset di depan mata, laut luas, langit jingga. Masya Allah, syahdu.

Dari lubuk hati yang terdalam, aku dan mbanggi merekomendasikan kafe Escape Bajo untuk kalian yang lagi main ke Labuan Bajo. Kafenya kece, harga makanan dan minumannya terjangkau banget, rasanya enak, dan kru kafe yang ramah-ramah (bahkan sampai mas yang jaga parkirnya juga ramah banget). Mau banget balik ke sini suatu saat nanti kalau ada kesempatan.


Waktu berjalan amat cepat ketika kita sedang menikmatinya. Sebelum terlampau gelap, aku dan mbanggi pun melanjutkan perjalanan untuk kembali ke hotel. Tapi, kami mau sekalian balikin motor dulu ke tempat sewa yang letaknya di daerah pelabuhan. Sampai tempat sewa, kami balikin motor dan ambil KTP jaminan mas-mas resepsionis (KTP mbanggi kan jadi jaminan di hotel, jadi mas-mas resepsionis ngasi KTP nya untuk jaminan motor). Kami pun telpon hotel untuk minta dijemput. Ternyata mobilnya lagi dipakai jemput customer lain, yaudah kami nunggu. Lima belas menit berlalu, tidak ada tanda-tanda. Eh ada ding, sebenernya mobil Green Prundi sempat sekali melintas, tapi kami barus sadar pas dia udah jauh. Akhirnya kami telpon lagi ke hotel, kami diminta nunggu sebentar lagi karena mobilnya udah berangkat untuk jemput kami. Aku dah mulai rese, kesel jemputannya nggak dateng-dateng. Total mungkin 30 menit kami nunggu, sampai akhirnya mobil datang juga. Alhamdulillah. Ngobrol-ngobrol sama pak sopir, ternyata emang dia nggak dapat info yang jelas soal siapa yang harus dia jemput, dikirain mau jemput bule, wkwkwk.

Sesampai di hotel, mbak resepsionis langsung menyambut mobil kami dengan wajah khawatir banget. Aku yang awalnya masi bete karena kelamaan nunggu, jadi luluh seketika karena ternyata banyak yang mengkhawatirkan kami, hiks. Belum cukup sampai di situ, pas mbanggi nyerahin KTP yang dijaminkan untuk sewa motor, kami baru tahu kalau ternyata itu KTP sang manajer hotel. Ya ampun, terharunya kami, service excellent! Serasa di rumah sendiri :"

Malam itu aku dan mbanggi beberes, packing ulang, ngabisin pisang goreng dari Escape Bajo, dan tak lupa lanjut nonton Harry Potter, hehe.

Day 4: 13 April 2018

Pagi itu aku dan mbanggi dah siap-siap untuk lanjut perjalanan Sailing Trip Labuan Bajo. Wuuuuu so exciteeeeddd! Kata mbanggi yang kontakan sama orang tripnya, kami bakal dijemput jam setengah 10 untuk ke pelabuhan. Jadi dong aku sama mbanggi nyantai, jam 8 kami baru keluar kamar mau sarapan. Lah ternyata jemputan udah datang. Akhirnya kami minta tolong ditungguin bentar buat sarapan. Mungkin 15 menit doang kami sarapan, terus cek out. Demi melihat mbak resepsionis yang sama dengan yang semalam menyambut kami  dengan wajah khawatir, kami pun mengajaknya wefie, wkwkwkwk.


Setelah cek out beres, kami langsung naik mobil dan diantar ke pelabuhan Kampung Ujung. Nampak di pelabuhan banyak kapal (yaiyalah), aku dan mbanggi penasaran nanti bakal naik kapal yang mana, hhehe. Sinar matahari yang menyengat, sementara tempat duduk yang ada di dermaga lagi penuh lelaki, sungkan juga kalau tiba-tiba nimbrung. Akhirnya kami berdiri aja di pinggir dermaga, menikmati pemandangan, sembari mbanggi watsapan sama mas Tarsi, Tour Leader kami. Anyway, laut di sini jernih banget, bahkan di daerah pelabuhan sekalipun. Saking jernihnya, kita bisa lihat ikan-ikan yang berenang di dalamnya.

Sekitar setengah jam-an menunggu, setelah mas Tarsi datang, kami diinfokan kalau akan ada 10 orang dalam satu kapal nantinya. Daripada kelamaan nunggu di dermaga, akhirnya mas Tarsi minta kami dijemput ke kapal aja. Kapal kami namanya All Star. Akhirnya kami dijemput pakai boat kecil dan cabs ke kapal. Melewati beberapa kapal lain, aku penasaran banget kapal All Star tuh yang mana, wkwk. Sampai akhirrnya boat udah nampak jelas banget arahnya, akhirnya kapal All Star keliatan juga.

Kru kapal bantuin angkat ransel kami yang segede gaban, sementara aku dan mbanggi langsung ke bagian depan kapal yang dijadikan semacam ruang makan gitu. Ada satu meja besar, dan satu kursi panjang di dua sisinya. Untungnya di meja udah ada cemilan, jadi ngga garing-garing amat nunggunya.

Sekitar jam 11an, setelah semua peserta lengkap dan pembagian kamar selesai, kapal pun mulai melaju menuju pulau Kanawa. Total ada 10 peserta di kapal kami. Aku dan mbanggi, tiga serangkai dari Sukabumi (Michael, Robert, Billy), sepasang sejoli (Jessy dan masbul Paul), tante-ponakan yang macam kaka-adek (Rizky dan mba Umi), and the only one who takes solo trip: David (relax David, you're not alone anymore, wkwkwk). Selama perjalanan, ngerasa sayang banget untuk memejamkan mata karena pemandangannya bagus banget. Laut biru yang luas, diselingi pulau yang berbukit-bukit berwarna hijau.





Sekitar jam setengah 1an, kami merapat ke pulau Kanawa.




Di sini juga kami sesi pertama snorkeling. Aku udah lamaaa banget ngga snorkeling, sejak pengalaman kebawa arus pas di Lombok tahun kemaren, hehe. Awalnya kagok juga, dan takut kebawa arus lagi. Tapi alhamdulillah, lautnya tenang.



Setelah puas main-main di Kanawa, kami lanjut perjalanan ke Gili Lawa. Butuh sekitar dua jam perjalanan untuk sampai ke sana. Oh iya, di Gili Lawa nanti kami bakal trekking. Hunting sunset di atas bukit.

pemandangan selama perjalanan
pemandangan selama perjalanan (1)
nanti naik ke sini nih..


Jalur trekking di Gili Lawa bikin syok, karena curam banget. Aku dan mbanggi udah baca Bismillah aja terus, biar sanggup naik sampai atas. Kami mulai naik sekitar jam 4-an sore, dimana cahaya matahari lagi terasa panas-panasnya. Belum juga setengah perjalanan, udah ngos-ngosan, wkwkwk. Trio Sukabumi udah duluan jauh, padahal si Michael tadinya pesimis banget bisa naik, eh ternyata cepet-cepet aja jalannya tuh bertiga. Apalagi si David, wah entah udah sampai mana dia. Aku dan mbanggi dikit-dikit melipir, duduk, minum. Susul menyusul sama masbul dan Jessy, plus mba Umi dan Rizky. Semua orang pada pakai sepatu, at least sendal gunung, kecuali Rizky yang setia sama swallow-nya, hahahaha.


Walau panas, keringetan, haus, dan ngap banget, tapi pemandangan dari atas memang juara!

Oh iya gengs, jalur trekking naik dan turun di Gili Lawa ini berbeda ya. Jalur naiknya memang curam banget, tapi nanti kita akan lewat jalur yang jauh lebih landai pas turunnya. Selain pemandangan yang amazing, takut turun lewat jalur curam itu yang bikin semangat untuk lanjut sampai atas, hehe. Perlu waktu sekitar satu jam untuk sampai ke puncak Gili Lawa (kalau dikit-dikit melipir kayak aku dan mbanggi, wkwk).





Ngga ngerti lagi, Masya Allah bagus banget pemandangannya, sampe terharu.





beautiful sunset <3
that sky.. <3


Kami sampai lagi di bawah ketika hari sudah lumayan gelap, jadi mesti pake senter handphone untuk nerangin jalurnya. Tapi alhamdulillah kami termasuk yang tepat waktu, sih. Dari  kapal, kami masih bisa lihat barisan cahaya yang menuruni bukit.

Hari berlalu dengan tubuh lelah, tapi bahagia. Pas makan malem, yang ada di pikiran cuma mandi terus tidur. Yes, i'm the only one yang nungguin makan malem dulu baru mandi, hahaha.

Hari pertama sailing trip yang menyenangkan pun ditutup dengan tidur nyenyak :)

Sampai jumpa di hari berikutnya, di postingan part 3 :D

Selasa, 24 April 2018

Trip to Ende and Labuan Bajo : Part 1

0

Flashback sebentar ke bulan Februari tahun 2017, di atas bukit Seger, Lombok, aku dan mbak Anggi meratapi hari terakhir liburan kami. Sambil menunggu sunset, kami ngobrol.

"Yaaah, besok dah balik Jakarta aja yak.."

"Iyaa.. Tahun depan kemana ya?"

"Labuan Bajo apa?"

Beberapa hari sepulang dari Lombok, mulai browsing-browsing soal Labuan Bajo. Terutama soal tiketnya, hahahaha. Mayan menguras dompet bro, tiket PP-nya seharga 2 kali lipat tiket PP kami ke Lombok. Tapi yaudah nggapapa, keinginan untuk ke Labuan Bajo masih bertahan.

Menjelang akhir tahun 2017, aku dan mbanggi dah ngobrolin mau liburan kemana di awal tahun 2018. Kenapa awal tahun? Karena biasanya awal tahun tuh kerjaan belum pada menumpuk. Jadilah beberapa destinasi kami jadikan opsi, salah dua-nya adalah Labuan Bajo dan Sabang. Sudah banyak obrolan ini itu, akhirnya sepakat Labuan Bajo. Tapi drama belum berhenti sampai di situ. Karena satu dan lain hal, kami ngga sepakat soal waktu liburannya. Terus yaudah, aku merelakan pas mbanggi bilang "ul, kalo aku ke labuan bajo duluan gapapa ya?". Aku dah sempet nyari-nyari alternatif liburan, ke Sabang, ke Bromo, gitu-gitu lah.

Eh tapi beberapa minggu kemudian, mbanggi nanya lagi "beneran ya kalo setelah maret kamu bisa? tapi april-nya awal-awal aja.". Akupun setuju. Mbanggi sampai bikin grup watsap. Oiya, ada satu temen mbanggi yang mau ikutan, namanya mbak Elay. Tapi, seiring berjalannya waktu, mbak Elay nggak jadi ikutan.

Jadi, kembalilah aku dan mbanggi liburan berdua saja.. Hahahha

Setelah sepakat soal waktu, kami masih harus merundingkan apa mau cuma ke Labuan Bajo atau mau explore Flores juga. Mengingat harga tiketnya lumayan, kayaknya sayang kalau cuma ke Labuan Bajo. Singkat cerita, kami memutuskan untuk ke Ende juga, menengok kecantikan Danau Kelimutu.

Okelah, latar belakang cerita liburannya cukup sampai sini aja.

Let the story of our long trip to Ende and Labuan Bajo begins!

Day 1: 10 April 2018

Syukurnya, pesawat liburan kali ini tuh jamnya ada di jam normal, jam 08.45. Jadi, kami nggak perlu deg-degan bangun kesiangan kayak tahun kemaren, hahaha. Dan tetap sih, kami punya kewajiban saling membangunkan. Kali ini, aku yang berhasil ngebangunin mbanggi, yeaaay.. 1 sama yak! :p

Dari kosanku, kami pesen taksi online ke bandara. Alhamdulillah nggak ada kendala selama perjalanan ke bandara. Oh iya, rencananya, trip kami diawali dari Ende dulu, baru ke Labuan Bajo. Jadi hari ini kami naik pesawat ke Ende. Perlu diketahui bahwa nggak ada pesawat direct Jakarta - Ende. Di perjalanan ini, kami harus transit dua kali. Pertama transit di Surabaya, ke dua transit di Kupang.

Sampai di bandara, setelah beres check-in dan nge-bagasi-in ransel yang beratnya lumayan bikin punggung pegel, hal pertama yang kami cari adalah makanan. Maklum anak kos belum sarapan, apalagi perjalanan sampai Ende masih panjang. Akhirnya kami mutusin untuk beli roti dan air minum. Tapi jangan salah, melihat ada stand alfa****, mbanggi tergoda mampir dan beli sebentuk pastry gitu. Katanya enak. Mungkin emang enak, soalnya dia nampak lahap dan bahagia makan-nya, wkwkw.

Jam 08.45, pesawat cabs meninggalkan Jakarta menuju Surabaya. Alhamdulillah dapat cemilan, jadi roti yang tadi kami beli bisa disimpan dulu, hehe. Sampai Surabaya jam 10.15, kami diminta untuk keluar pesawat dan menunggu di ruang tunggu. Rasa hati ingin berlari ke rumah, mumpung di Surabaya, hahaa. Sayang transitnya cuma bentar. Sekitar jam 11an kami masuk pesawat kembali untuk terbang menuju Kupang.

wajah masih cerah, wkwk
Pas masuk pesawat, semerbak aroma makanan. Aku dan mbanggi bisik-bisik, jangan-jangan dapat makan, nih. Haha. Beberapa menit setelah take off, ternyata beneran makanan dibagikan. Alhamdulillaah :D Setelah makan, terbitlah kenyang, ngantuk pun datang. Kamipun tidur sampai Kupang.

Oh iya, keberangkatan ke Kupang tadi agak molor, sebabnya ketika sampai bandara El Tari Kupang, kami langsung dipanggil untuk masuk pesawat menuju Ende. Pemandangan indah menghiasi perjalanan dari Kupang ke Ende, karena pesawatnya terbang rendah, jadi pemandangan di bawah nampak jelas.

Pukul setengah 4 sore, kami mendarat di Ende. Setelah ambil bagasi, kami harus segera memutuskan mau naik apa ke desa Moni (desa tempat Kelimutu National Park berada). Jadi, di Ende tuh belum ada taksi komersil. Kalau kita bicara taksi, maka itu berarti carter mobil. Mengingat-ingat artikel blog yang kami baca, ada opsi untuk naik travel. Mbak petugas bandara tetiba nanyain kami mau kemana, kami bilang mau ke desa Moni. Mbaknya nawarin naik taksi, sambil ngasi nomor urut gitu. Dari mbaknya pula kami tahu kalau tarif ke desa Moni itu 500ribu. Tapi masi rancu, 500ribu untuk satu mobil atau per orang. Tapi kami nggak sempat nanya detail karena buru-buru mau sholat. Akhirnya tas kami langsung dibawa ke dalam mobil sama sopirnya. Setelah sholat, kami mikir-mikir lagi, kalau 500ribu untuk satu mobil mah kayaknya mending langsung ke Moni aja. Karena gini, waktu itu udah jam 4 sore, kalau mau ke pangkalan travel berarti kan kami mesti nunggu penumpang lain juga, takut kemalaman sampai Moni.

Di dalam mobil, kami nanya sama sopirnya, 500ribu itu per orang atau per mobil. Ternyataaaa per mobil, hehe. Akhirnya lah kami memutuskan nyewa mobil itu sampai Moni. Nah di perjalanan, kami dan mas Ferdi (sopirnya namanya mas Ferdi, gaes) ngobrol soal transportasi kami untuk ke Kelimutu dan balik ke Ende keesokan harinya. Rencananya, kami mau sewa ojek ke Kelimutu (pihak penginapan bisa bantu nyarikan) dan balik ke Ende naik travel. Di luar dugaan, mas Ferdi nawarin untuk ke Kelimutu sekalian balik ke Ende, dengan tarif 1,3 jeti. Hahaaa. Aku sama mbanggi berunding dulu. Kami sampai bandingin pengeluaran kalau misal naik ojek dan travel. Sebenarnya selisih 200-300 ribu, sih. Seakan paham kebimbangan kami, mas Ferdi bilang "Bisa mba kalau mau nawar..". hahahaaha. Setelah tawar menawar, sepakatlah kami dengan tarif 1,1 juta. Mas Ferdi girang, kami tenang karena transportasi sudah terjamin, hehehe.

Perjalanan dari Ende ke desa Moni memerlukan waktu sekitar 2 jam-an. Sebaiknya sih jangan tidur alias memejamkan mata, karena pemandangan indah terbentang sepanjang perjalanan. Perbukitan, rumah-rumah penduduk. Dan yang nggak kalah menyenangkan adalah hawa dinginnya. Mas Ferdi nih service excelent banget. Kalau ada spot bagus, dia melipir dan ngefotoin kami berdua, hehehe. Sempat hujan di perjalanan, tapi nggak lama. Dalam hati kami berharap supaya scuaca cerah selama liburan, hehe.
sungai
perbukitan

Hari sudah gelap ketika kami sampai di penginapan. Kami pesan penginapan yang namanya Watugana Bungalow. Letaknya bener-bener di pinggir jalan utama, plang-nya juga lumayan jelas, kok, jadi nggak susah ditemukan. Penginapan ini masih konvensional banget, nggak ada sistem check-in. Jadi pas kami datang, cukup bilang kalau udah pesen lewat traveloka, langsung deh ditunjukin kamarnya. Kamipun masuk kamar untuk istirahat, setelah janjian sama mas Ferdi besok dijemput jam 4 pagi menuju Kelimutu.

Setelah gegoleran beberapa saat, menyadari batere hp yang menipis, aku nyari colokan. Dan ternyataaaa tidak ada colokan sodara-sodaraaaa, wkwkwkw. Jadilah semalam itu kami mengandalkan powerbank saja. Tapi perlu digarisbawahi ya gaes, kamar yang kami pilih adalah kamar paling murah, mungkin kalau kamar yang agak mahalan ya ada colokannya. But overall, kamarnya bersih, kamar mandinya juga bersih, jadi nggak masalah buat kami. Salah satu cara kami nekan pengeluaran adalah dari segi penginapan. Karena buat kami penginapan tuh hanya untuk numpang tidur, naruh barang, numpang mandi, jadi yaaa as long as kamarnya bersih, akses ke jalannya mudah, it's okay.

Setelah beberes sebentar, kami mutusin untuk nyari makan, laper. Untunglah di seberang jalan ada tempat makan, kayak kafe gitu. Kamipun makan di situ. Aku bingung mau pesan apa, akhirnya pilih nasi goreng. Menunya pake bahasa inggris gitu, kan. Mbanggi lihat-lihat menu, terus nunjuk "rice noodle" sambil ngomong "Oh, nasi mawut, nih. Udahlah ini aja."

rice noodle
Setelah pesan, dengan sabar kami menanti makanan. Perut udah krucuk-krucuk kelaparan, mata juga ngantuk. Bisa dibilang seharian kami ada di perjalanan, pegel juga ternyata. Datanglah makanan kami. Surprisingly enak lho nasi goreng yang aku pesan, nyaaaamm. Makanan mbanggi pun datang juga. Daaaaaan, baru ngeh kalo rice noodle itu bihun yak. Hahahahaha. Kami makan dengan lahaaaap, emang kelaparan sih.

Setelah makan, kami beli air mineral botol gede untuk bekal besok. Sekitar jam 8 malem, kami balik ke penginapan, dan bobok syantik.

Day 2: 11 April 2018
Alarm membangunkan kami jam setengah 4 pagi. Setelah bebersih, kamipun siap-siap. Nggak banyak yang kami bawa, cuma hp, kamera, air minum. Sembari nunggu dijemput, kami makan roti yang kemaren dibeli di bandara, wkwkwk. Jam 4 lewat, mas Ferdi belum menampakkan batang hidungnya. Padahal katanya dia jam 4 mau jemput sekalian gedorin pintu. Oiya, anjing peliharaan pemilik penginapan tuh nggak diiket, jadi mas Ferdi juga berperan sebagai pawang anjing buat aku dan mbanggi, hehe. Kami mulai gelisah pas jam 4 lewat 10 dia belum dateng juga. Mbanggi usaha nelponin, nggak diangkat. Kami dah siap-siap mau nyari ojek aja, yatapi kan ojek ke Kelimutu nggak asal lewat aja di jalanan. Mbanggi gelisah, aku udah pasrah aja. Yaudahlah ngga dapat sunrise juga nggapapa. Tapi alhamdulillah, setelah percobaan telpon ke sekian, akhirnya diangkat juga. Doi kesiangan bangun, haha. Sekitar jam 4.20 kami cabs ke Kelimutu.

Jalan menuju Kelimutu berkelok-kelok parah, dan dingin hawanya. Sepanjang jalan nggak nampak ojek pun. Jam 5 pagi, kami sampai di parkiran Taman Nasional Kelimutu. Oh iya, di pintu gerbang, kita harus beli tiket masuk dulu. Tenang, murah kok. Satu orang 5ribu, dan satu mobil 10ribu, jadi kami harus bayar 20ribu saja. Setelah sholat subuh, kami mulai jalan menuju puncak Kelimutu.

Jalur untuk trekking-nya nggak terjal, dan udah jelas banget jalurnya memang. Karena masih gelap banget, mas Ferdi nampak khawatir melepas aku dan mbanggi, dia sampai nawarin mau ngantar sampai atas, wkwkw. Tapi karena ada rombongan yang berangkat juga, kami optimis ngga akan nyasar. Selama masih gelap, gemintang tampak jelas sekali di langit, Masya Allah, kayak lautan bintang. Perjalanan menuju puncak memakan waktu sekitar 45 menit. Yang lumayan bikin ngap tuh tangga-tangga pas udah mau nyampai atas. Tapi kelelahan itu terhibur dengan pemandangan langit oranye yang indah, bahkan sebelum matahari benar-benar muncul. Aku dan mbanggi mempercepat langkah, nggak ingin ketinggalan menyaksikan sunrise di puncak.

pemandangan selama trekking

pemandangan selama trekking (1)
Sampai di puncak, kami mengambil posisi paling mantap menanti sunrise.

danau Kelimutu

pendaran matahari <3

Sekitar jam 6 pagi, matahari mulai menampakkan sinarnya.




Honestly, sunrise di Kelimutu ini adalah salah satu sunrise tercantik yang pernah aku saksikan. Selain faktor cuaca yang lagi cerah (jadi mataharinya bisa kelihatan bulat banget), kombinasi pemandangan di sekitarnya juga bikin cantik. Di sini juga ada beberapa pedagang minuman/makanan panas, bisa untuk menghangatkan diri di tengah terpaan hawa dingin.


Anyway, setelah matahari muncul menerangi semuanya, pemandangan jadi semakin indah, Masya Allah..






penjelasan soal Danau Kelimutu (Danau Tiga Warna)


Betah kami ada di puncak untuk foto-foto dan menikmati segelas teh panas sembari mengamati pemandangan sekitar.



Setelah puas, kami pun jalan turun menuju parkiran. Namun, perjalanan kami tak mulus. Ada beberapa kera kecil yang ngelihatin dan nampak mau mengikuti kami. Karena gelagat kami yang keliatan banget takut sama itu kera, sampai ada mas-mas guide yang bantuin kami turun beberapa anak tangga, wkwk. Dasar cemen emang, sama anjing takut, sama kera juga takut, wkwk.

Perjalanan turun juga menyuguhkan pemandangan indah, lho!






Sekitar jam 8 pagi, kami cabs kembali ke penginapan untuk bebersih, beberes, dan melanjutkan perjalanan ke Ende lagi. Jam 9an, mas Ferdi sudah jemput kami lagi. Oiya, sebelum kembali ke Ende, kami mampir ke Desa Adat Suku Wologai. Rumah-rumah di desa adat ini sebenarnya sudah tak lagi dihuni. Desa ini baru dihuni kembali ketika ada upacara adat saja.




Selama di perjalanan, mas Ferdi nanyain selama di Ende nanti kami jalan-jalannya naik apa. Kami bilang lah kalau mau nyewa motor. Nah ternyata mas Ferdi punya kenalan sewa motor, tuh. Akhirnya kami setuju untuk sewa motor di temennya dia. Sekitar jam 12 siang, kami sampai di penginapan. Di Ende ini kami menginap di Hotel Syifa, namanya. Salah satu pertimbangan kami pilih hotel ini adalah karena dekat dengan bandara, secara pesawat kami ke Labuan Bajo tuh hari Kamis pagi, jadi biar ngga jantungan keburu-buru ke bandara-nya. Setelah menyelesaikan urusan keuangan sama mas Ferdi, kami gegoleran di kamar, sembari nonton Harry Potter, hahaha. Yap, mbanggi bawa flashdisk yang isinya film-film, katanya sih buat jaga-jaga kalau bosen di kapal. Motor bakal diantar jam 2 an nanti, jadi masi ada banyak waktu untuk leyeh-leyeh.

Setelah sholat dzuhur, kami pun siap-siap nyari makan. Jadi, happynya, hotel kami ini diapit 2 tempat makan, hehehe. Makan siang kami sepakat belok ke aneka sambal yang ada di sebelah kiri hotel. Kami pesan ayam bakar dan sambal terasi matang. Tapi eh tapi, lamaaaaa banget datangnya, haha. Tapi (lagi) di luar dugaan, sambalnya enak banget! Walau agak kurang pedes, tapi enak. Harganya juga nggak mahal, berdua cuma 65 rebu, udah sama minum. Sekitar jam 2 siang, motor datang, dan mbanggi diminta nganterin yang punya motor untuk balik ke rumahnya dulu, wkwkwk.

Setelah motor di tangan, kami pun menuju destinasi pertama: Rumah Pengasingan Bung Karno. Untuk ke tempat ini, entah kami mesti mutar-mutar berapa kali, hahaha. Oiya, di Ende nih super aman, gengs. Motor diparkir gitu aja di pinggir jalan, aman. Tapi ya dikunci ya, itu sebagai bentuk ikhtiar kita menjaga, hehe.






Rumah pengasingan Bung Karno bisa dibilang berukuran relatif kecil, tapi cantik. Syukurlah rumah ini masih terawat dengan baik. Nggak ada tiket masuk, kita hanya akan diminta untuk mengisi buku tamu dan sumbangan sukarela untuk perawatan rumah ini.

Kelar foto-foto, kami lanjut mencari Taman Perenungan Bung Karno yang berdasarkan gugel maps sih udah deket situ. Dan lagi-lagi kami mutar-mutar beberapa kali karena nggak nemu pintu masuknya, hahaha. Setelah putaran ke sekian, akhirnya kami nemu pintu masuknya yang tersembunyi antara beberapa truk gitu.


Setelah dari sana, kami coba mencari Pantai Ria (sebelumnya kami googling pantai di Ende, muncullah pantai Ria yang katanya menjadi pantai favorit di sana untuk menghabiskan sore. Ternyata letaknya juga nggak jauh. Jadi wilayah pantai Ria (dan beberapa pantai lainnya) itu ada di dekat rumah Pengasingan Bung Karno. Tapi ternyata setelah sampai sana, pantainya pantai nelayan gitu, gengs, jadi yaaa memang agak kotor gitu. Jadilah kami cuma menyusuri jalan tepi pantai itu pakai motor, hehe. Waktu udah mendekati ashar, aku dan mbanggi melipir ke masjid yang tadi sempat kami lewati, kami jamaah di sana.

Sekitar jam 4 sore, kami akhirnya memilih untuk ngeskrim, mengingat udara udah panas banget (tapi gluduk-gluduk kayak mau hujan). Mbanggi sempat bilang kalau mas Ferdi tadi ngewatsap nanyain kami kemana aja hari itu. Yang lucu sih pesan terakhirnya:

"Hati-hati ilang ya mbak,"

Hhahahaa.

Kami pun melipir ke kafe yang nggak seberapa jauh dari hotel, namanya Caste Hogen Ice Cream. Kafenya luar biasa kekinian dan instagramable. Cocok untuk ngadem dan foto-foto.




Sebelum adzan maghrib berkumandang, aku dan mbanggi pulang ke penginapan. Kami bebersih dan beberes, daaaan nonton Harry Potter lagi, hahahaha.

Sekitar jam 8 malam, kami keluar untuk nyari makan. Kali ini kami ke tempat makan di sebelah kanan hotel. Karena sebenernya mata udah ngantuk, kami malas makan yang ribet, pilihan jatuh ke bakmie jawa. Dan di luar dugaan (lagi), rasanya enaaaak, sedep, seger :9 Perut kenyang, kami pulang ke hotel dan beberes barang-barang untuk lanjut ke Labuan Bajo esok hari.


Day 3: 12 April 2018

Pesawat kami ke Labuan Bajo berangkat jam 07.25. Kemarin mbanggi udah bilang ke mbak resepsionis kalau hari ini minta diantar ke Bandara. Awalnya kami minta diantar jam 6 pagi, tapi katanya bandara belum buka jam segitu. Selain itu, bandara kan dekat banget, jadi bisa lah kalau jam setengah 7 aja berangkat dari penginapan. Nah ternyata pas kami check out, mobil yang ngantar ke bandara udah berangkat, hiks. Daripada nungguin balik (yang entah jam berapa baliknya), akhirnya kami milih naik ojek aja. Cuma bayar 5ribu, hehe.

Sesampai di bandara, jeng jeeeeengggg, kami kebarengan sama rombongan anak (SMA atau kuliah) gitu deh yang mau study tour ke Labuan Bajo juga. Bandara Ende itu kecil gengs, kedatangan sama keberangkatan jadi satu pintu. Loket check in juga cuma 3, pakai meja biasa aja gitu. Udah gitu, ini yang check in barengan ini semuanya ngantri, nggak perwakilan doang. Udah gitu (lagi), ini bocah-bocah yang baru dateng pada ngga ngantri di belakang, tapi langsung ke depan meja check in bareng temen-temennya. Hadeeuhh. Lima belas menit antrian nggak bergerak. Akhirnya aku dan mbanggi diajakin bapak-bapak untuk bikin antrian sendiri di samping, di luar antrian bocah-bocah tadi. Alhamdulillah it works, akhirnya kami dilayanin juga, berhasil check in juga. Kami pun jalan menuju pesawat. Daaaaan, kami sepesawat sama bocah-bocah tadi, haha.

Pesawat ke Labuan Bajo terbang rendah, dan hanya perlu waktu sekitar 30 menitan.



Sekitar jam 8 pagi, kami sampai di Labuan Bajo.. Yeaaayyy :D

Part 1 sampai sini dulu yaaa, sampai jumpa di part 2 :)

Rincian pengeluaran selama di Ende

1. Pesawat Jakarta - Ende (2 kali transit, Surabaya dan Kupang) : Rp1.350.000/ orang
2. Pesawat Ende - Labuan Bajo: Rp400.000/ orang
3. Makan di kafe depan penginapan desa Moni: Rp107.000 berdua (harga makanan/minuman di Ende tuh nggak mahal, kok, hampir sama kayak di Jakarta)
4. Sewa Mobil/ taksi untuk Ende - Moni (Kelimutu) - Ende: Rp1.150.000/ mobil (include bensin dan sopir)
5. Sewa motor jalan-jalan di Ende: Rp100.000/ motor
6. Masuk kampung adat Wologai: Rp20.000 berdua
7. Masuk Taman Nasional Kelimutu: Rp20.000 (per orang Rp5.000, mobil Rp10.000)
8. Penginapan di Moni, Watugana Bungalow: Rp201.000
9. Penginapan di Ende, Hotel Syifa: Rp300.000