Sabtu, 10 Maret 2018

Sebuah Alasan

4

Related image
pict taken from dw.com

Faya dan Marsha turun dari mobil, membawa barang bawaan masing-masing dan langsung menuju resepsionis. Wira mengikuti keduanya, lalu duduk di sofa cokelat dekat jendela. Tak lama kemudian, kedua sahabat karib itu menghampiri Wira.

"Udah selesai check-in nya, kami mau ke kamar dulu. Kamu langsung pulang?" tanya Faya.

"Iya, mau langsung pulang. Sorry ya nggak bisa nemenin, kalau nggak karena ada acara 100 hari kakekku, aku udah ajak kalian keliling Bandung. Tapi kuakui pilihan hotel kalian tepat banget, dekat dari mana-mana. Kalau mau ke alun-alun, museum Asia Afrika, atau foto-foto di Braga, tinggal jalan dikit aja."

"No worries lah kalau pergi-pergi sama traveller macam Faya," kata Marsha sembari menyikut lengan Faya.

*
"Ah, weekend cepet banget berlalu Udah hari Minggu aja. Besok udah senin, huh. Mau kemana nih kita last day ini, Fay?"

"Ummm, ke museum Asia Afrika aja, gimana?"

"Boleh. Yuk."

Bandung bisa dibilang adalah kota kesayangan mereka berdua. Faya yang sering penat dengan hiruk pikuk Jakarta, telah biasa menghabiskan weekend nya di Ibu Kota Jawa Barat ini. Bahkan jika harus pergi sendiri saja, Faya tak keberatan, ia sudah beberapa kali solo travelling ke luar pulau, kalau hanya ke Bandung saja mah, keciiiil. Sedangkan Marsha, tidak akan pernah bisa melupakan tanah kelahirannya. Ia lahir dan sempat bersekolah di Bandung, sebelum kedua orangtuanya dipindahtugaskan ke Sumatera dan memutuskan untuk menetap di sana. Maka pertemuan Faya dan Marsha bukanlah suatu kebetulan, mereka bekerja di kantor yang sama, hanya dipisah beberapa ruangan saja. Dengan hobi yang nggak jauh berbeda, mereka cepat menjadi sahabat. Ah, ya, bukankah memang tak ada yang kebetulan di dunia ini? Semua sudah digariskan, manusianya saja yang tak tahu.

Setelah mengisi buku tamu, mereka mulai menjelajahi museum. Museum Asia Afrika ini mudah sekali ditemukan. Dari alun-alun, tinggal menyeberang dan berjalan kaki sebentar, sampailah di museum yang menyimpan sejarah Konferensi Asia Afrika bertahun-tahun silam. Museumnya pun tak seberapa besar, tapi cukup mampu memberikan gambaran betapa pentingnya penyelenggaraan KAA di masa itu.

Bandung hari itu amatlah cerah, tapi seperti ada mendung yang menggelayut di wajah Faya. Ada bimbang di hatinya. Tapi juga dirasanya tak mungkin untuk menahan pertanyaan-pertanyaan di benaknya lebih lama lagi.

Faya tengah berdiri di depan kotak kaca berisi alat pemutar piringan hitam.

"Masa sih kamu nggak suka sama Wira? Dia tuh baik, lho. Aku lihat kalian sering barengan juga, kan?"

"Kalau menurutku, si Wira ada perasaan deh sama kamu, Fay."

"Cie cieee yang beberapa hari ini diantar jemput sama Wira terus..."

"Eh Fay, Wira sama mbak Nanda tuh emang deket gitu ya? Apa karena emang mereka udah kenal lama?"

"Sebenernya kamu cocok banget lho Fay, sama si Wira"

Perkataan-perkataan Marsha seperti berdengung di telinga Faya. Perempuan berlesung pipi itu mengambil napas panjang, berusaha meredam sesak di dadanya.

"Sha.."

"Ya, Fay?" sahut Marsha sambil menghampiri Faya.

"Perasaan akhir-akhir ini kamu nggak pernah lagi nanya-nanya atau ngecengin aku sama Wira.."

Hening sejenak.

"Mmm, bukannya malah bagus? Kamu kan katanya nggak suka kalau aku cengin sama Wira. Iya kan?"

Faya tersenyum dan merapikan anak rambutnya ke belakang telinga.

"Betul. Kalau gitu, gimana kalau gantian aku yang cengin kamu sama Wira?"

"Maksudnya?" tanya Marsha tak paham.

Faya memandangi wajah teman karibnya itu. Belum lama memang mereka saling mengenal. Tapi cerita-cerita yang dibagi, rahasia-rahasia yang diungkap, membuat Faya merasa Marsha tak menyimpan apapun darinya. Seperti ia tak merahasiakan apapun pada Marsha. Tapi ternyata Faya salah.

Faya melangkahkan kakinya ke galeri foto hitam putih. Tersentak, teringat olehnya satu foto yang akhirnya membuat kepingan-kepingan puzzle itu tersusun rapih hanya dalam sedetik saja. Semua pertanyaan di benak Faya, terjawab sudah dalam satu gambar yang banyak berbicara.

"Sha, menurutmu, orang tuh bikin foto untuk tujuan apa ya?"

"Jelas untuk mengabadikan sesuatu, lah, Fay. Kamu aneh banget sih dari tadi ngomongnya. Ada apa?"

"Mengabadikan, ya? Berarti bisa jadi alat bukti ya?"

"Tau ah, Fay. Nggak jelas banget kamu hari ini. Maksud kamu apa sih? Soal Wira, foto, alat bukti. Ini kita lagi ngomongin apa sih sebenernya?" Marsha mulai kehilangan kesabaran.

Sekali lagi Faya menarik napas panjang.

"Sha, apa yang terjadi sama kamu dan Wira?"

"Mmmaksudmu? Aku sama Wira? Nggak ada. Nggak terjadi apa-apa."

"Sha, please. Aku mau kamu jujur. Sekali lagi aku tanya, ada apa dengan kamu dan Wira?" Faya lebih melembutkan suaranya. Hanya satu yang dia harapkan. Kejujuran.

Marsha tak berani menatap kedua mata Faya.

"Sha, kamu tahu kan, aku kenal baik sama adiknya Wira?"

Kartu As! Marsha sadar ia tak bisa berlari lagi.

"Maafin aku, Fay."

Air mata Faya merebak. Kuat-kuat ditahannya, pantang untuknya terlihat lemah di depan orang yang menyakiti hatinya.

"Kenapa sih? Kenapa tega nyembunyiin ini semua dari aku?"

"Maafin aku, Fay. Aku tahu kamu pasti jadi kayak gini karena gimanapun kamu sempet deket sama Wira.."

"No! Bukan itu, Marsha. Cetek banget kalau kamu pikir aku marah karena kamu yang akan jadi calon istrinya Wira. Bukan itu."

Faya menata napasnya. Kedua sahabat itu berjalan beriringan, tanpa kata yang terucap dari bibir keduanya. Sampai di ruang konferensi, jajaran kursi berwarna merah menyambut mereka.

"Kenapa sih, kamu begitu rapi nyembunyiin semuanya? Kenapa kamu sempet-sempetnya ngecengin aku sama Wira, sedangkan di saat yang sama kamu yang justru lagi deket sama dia? Kenapa kamu kurang kerjaan banget bikin aku ngerasa kalau jangan-jangan Wira itu suka sama aku? Kenapa kamu bilang "nggak" waktu kutanya apa kamu deket sama Wira?"

Marsha terdiam.

"Kenapa, Sha? Karena kamu pengen aku nggak curiga waktu kamu tanya-tanya soal Wira? Iya?"

"Maafin aku, Fay."

"Kamu lihat barisan kursi ini, Sha. Orang yang duduk di belakang, mungkin nggak begitu tertarik dengan apa yang ada di panggung sana. Orang yang duduk di depan, mungkin pengen lihat dengan lebih jelas. Orang yang duduk di sebelah kita, bisa jadi karena terpaksa aja, nggak ada tempat lain yang kosong," Faya berkata panjang lebar sambil menerawang ke arah depan, ke arah puluhan bendera Negara yang tergantung di sebelah gong besar.

"Manusia punya kepentingannya masing-masing, sampai kadang nggak peduli sama perasaan manusia lainnya. Sekarang aku ngerti, kepentinganmu itu sebenernya cuma Wira. Bersahabat denganku itu cuma alatnya," lanjut Faya.

Beberapa menit mereka hanya terdiam. Faya yang masih tak habis pikir, Marsha yang tak tahu harus berkata apa lagi setelah semua rahasianya terbongkar.

"Adik Wira yang kasih tau aku soal semuanya. Termasuk kenapa aku nggak masuk daftar sahabat yang diundang di acara kalian berdua waktu itu."

Faya menggamit tasnya dan berdiri.

"Inilah kenapa aku ajak kamu ke museum, Sha. Biar kamu dan Wira cukup jadi sejarah aku aja. Orang-orang yang ada di masa lalu aku, yang mungkin nggak akan aku lupakan, tapi akan aku jadikan pelajaran."

Faya keluar museum dengan hati lega. Bebannya hilang separuh. Separuhnya lagi, biar waktu yang membantunya untuk luruh.

Sebelum benar-benar melewati pintu keluar, dilihatnya sekali lagi Marsha yang masih terduduk di kursi.

"Maafin aku juga, Sha. Tapi setiap orang berhak melakukan apapun untuk kedamaian hatinya masing-masing, selama nggak merugikan orang lain. Maafin aku harus pergi."

***
Sore di Taman Ismail Marzuki itu terasa panjang ketika Erick menamatkan cerita Faya.

"Karena itulah, tetaplah menjadi orang asing buat saya."

Erick terdiam. Permintaan macam apa ini? Bagaimana ia bisa mendekati Faya, kalau Faya memintanya untuk tetap jadi orang asing baginya.

"Atau..."

"Atau apa, Fay?" Erick seperti mendengar harapan.

"Atau anda bisa buktikan bahwa satu-satunya kepentingan anda itu adalah saya, bukan yang lain."

Senin, 01 Januari 2018

Review Film Ayat-Ayat Cinta 2

2

Image result for ayat ayat cinta 2
pict from: kapanlagi.com

Baruuu aja tadi sore selesai nonton film ini, setelah kemarin baca review orang yang spoiler banget, hahaha. Sebelum nonton, aku udah berusaha melepaskan bayang-bayang cerita dalam novelnya. Sejak menamatkan novel Ayat-Ayat Cinta 2, aku udah feeling kalau bakalan susah ini untuk difilmkan. Buat yang sudah baca, pasti paham betapa banyaknya tokoh-tokoh yang bersinggungan dengan hidup Fahri, daaan that makes jalan cerita di novel itu luar biasa banyak cabangnya. Dari segi kerumitan cerita, menurutku novel AAC 2 itu lebih kompleks jika dibandingkan dengan novel pertamanya.

Oke, sekali lagi, sebelum mulai baca review, lupakan dulu cerita dalam novelnya, ya! Jangankan jalan cerita, itu di poster yang kasat mata aja udah kelihatan kan bedanya, Hulya nggak berjilbab.

Aih, malah bahas novelnya, haha. Sorry sorryyy, yukdah bahas filmnya..

Fahri masih juga menjadi pusat perhatian dalam film ini. But wait, tentunya dia sudah lulus kuliah, bahkan sudah bergelar Doktor dan menjadi pengajar di universitas ternama. Ditemani Hulusi, preman yang pernah ditolongnya di Turki, Fahri menjalani hidupnya di Edinburgh, tanpa Aisha. Kemanakah Aisha? Aisha hilang tanpa kabar setelah menjadi relawan di Palestina.

Dari segi penokohan, tokoh Fahri yang mengalami kesedihan mendalam berhasil dibawakan dengan baik oleh Fedi. Nggak melankolis, tapi nampak dari sorot matanya yang kadang-kadang kosong. Sama seperti film terdahulu, Fahri masih juga digambarkan sebagai sosok yang sangat baik hati dan suka menolong. Dan karena pribadinya itulah, banyak perempuan yang terpikat. Mungkin yang membuat film AAC 2 ini ingin menonjolkan sisi kesetiaan Fahri pada Aisha, yang kira-kira digambarkan "walaupun digilai banyak perempuan, tapi dia tetap setia menunggu Aisha". Tapi jadinya malah blunder, karena sisi lain Fahri jadi terkesan diabaikan. Misal, sisi smart-nya, sisi yang aku lihat hilang dari tokoh Fahri di film ini. 

Sementara dari sisi alur cerita, menurutku di 1/4 awal film tuh kayak kecepetan. Kemunculan alias pengenalan setiap tokohnya terkesan terburu-buru dan dipaksakan. Tiba-tiba aja gitu muncul si Misbah di depan rumah, Hulya di dalam kelas. Hampir ke pertengahan sampai akhir film, speed alurnya mulai melambat, dan paling lambat di ending, sih. Sayangnya, walaupun melambat di ending, endingnya nggak bombastis-bombastis amat. Jadi ngerasa sayang gitu tadi di awal kenapa cepet-cepet banget.

Overall, menurutku ada beberapa hal yang bikin film ini terasa kurang greget:

1. Momen-momen penting gagal ditonjolkan. Misalnya aja waktu event debat-nya Fahri. Alih-alih menampakkan sisi smart-nya Fahri dengan bikin adegan perdebatan yang seru dan penuh argumentasi mengagumkan, malah nenek Catarina yang jadi bintang utama. Punahlah ekspektasiku melihat Fahri berdiri gagah di podium dan dipandang dengan raut kagum para penonton debat, yang ada malah tangis-tangisan ala sinetron -___-

2. Minim sweet things yang dewasa. I mean, hal-hal sweet di film ini tuh rasanya malah cheesy abis. Fahri yang dikasi kue-kue, Hulya yang nyaris nyelimutin Fahri, dan yaa yang macam-macam itu lah. Jadi bukan tersentuh nih, tapi tepok jidat sendiri saking cheesy-nya.

3. Banyak adegan-adegan yang nggak perlu. Misal nih, adegan Brenda-Hulya (Brenda ngejelasin kalau dia nggak ada apa-apa sama Fahri), adegan pelepasan kepindahan Fahri ke Oxford (pake acara dadah-dadah dan tepuk tangan rame-rame gitu loh, I'm not sure orang-orang bule bakal lebay kayak gitu), daaaan of course adegan di bagian ending (adegan operasi plastik). Ini bagian paling fatal yang seharusnya bisa diganti sama adegan lain yang lebih menyentuh.

Tapi tenang aja, masih ada nilai-nilai positif yang bisa diambil dari film ini, kok. Salah satunya adalah jangan membalas keburukan dengan keburukan pula, tapi balaslah dengan kebaikan. Ini terjadi sama Keira, gadis yang antipati banget sama Islam. Walaupun tingkahnya nyebelin banget , tapi tetap Fahri memperlakukan dia dengan baik. Dari AAC 2 juga bisa dipelajari adab bertetangga yang baik itu seperti apa.

Kalau ditanya nangis atau nggak di sepanjang film, hmmm, iya dikit di tiga adegan saja:

1. Adegan Fahri mergokin Keira yang lagi coret-coret mobilnya.

2. Adegan Nenek Catarina di belakang Sabina yang lagi berdoa.

3. Adegan nikahan Hulya-Fahri (nangis lihat Sabina-nya sih).

Ah iya, ada satu hal yang menarik, yaitu pas semua orang pada sibuk bantuin Fahri persiapan ikut debat. Ada Fahri, Misbah, Hulusi, dan Hulya. Tiba-tiba aku jadi berasa nonton AAC 1, inget nggak yang part Maria bantuin Fahri dan temen-temennya ngerjain tugas kuliah? Nah tuh, persis! Hulya jadi kelihatan kayak Maria. And guess what, setelah dipikir-pikir (dan ditonton), in the end Hulya dan Maria tuh sebenernya ada di posisi yang sama.

Haaaa.. Thats all, review dari aku. Sorry to say, tapi memang biasa aja filmnya, hehe. Jauh dibandingkan AAC 1, apalagi dibanding novelnya. Entah ya, di AAC 1 tuh juga ada perbedaan sama novelnya, tapi perbedaan yang termaafkan, karena "isi" novelnya nggak hilang di dalam film. Tapi perbedaan-perbedaan antara AAC 2 dengan novelnya tuh bikin kesel.

Ada hal lain yang bikin kecewa di film ini?

Ada.

Apa?

Gaya berjilbab-nya Hulya. Kirain ketika Fahri meminta Hulya pakai jilbab, dan Hulya bilang "berjilbab tapi belum sesempurna Aisha", yang terpikir di benak adalah Hulya pakai jilbab tapi belum sampai berniqob, atau jilbabnya belum sebesar yang dikenakan Aisha. Tapi jeng jeng jeeeeeng.... Jilbabnya masih kelihatan leher dan rambutnya dong -____________-

Dah lah segini aja review aku soal AAC 2. Kalau pengen dapat sesuatu yang lebih "berisi", bacalah novelnya.

Sabtu, 30 Desember 2017

2017: The Turning Point

0

Seperti yang sudah-sudah, di penghujung tahun 2017, aku bikin postingan untuk flashback apa saja yang sudah dilalui selama satu tahun ini. Mengawali tahun dengan perasaan kehilangan, tapi kemudian begitu cepat Allah menggantikan kehilangan itu dengan kesempatan untuk melancong ke salah satu tujuan wisata yang kuimpikan sejak lama. Alhamdulillah :)

Setelah berpikir cukup lama, aku memutuskan untuk membagi postingan kaleidoskop 2017 ini menjadi 5P (People, Place, Pride, Plan, Prayer). Yoklah dimulai aja dari bagian yang pertama, People :D

PEOPLE
Tahun 2017 adalah tahunnya aku bertemu dan mengenal banyak orang baru. Tapi yah, banyak yang datang, beberapa pula ada yang pergi. Hmm, bukankah hidup memang demikian ya? Ada yang datang, ada yang pergi. Ada yang meninggalkan, ada yang ditinggalkan. Rangkaian pertemuan dan perpisahan.

Sahabat Bolangs


Ria, Tika, Uni Amel, Hanik, Tyas, Rinda, Mba Titin, Mbak Ridha, Mbak Rida, Ovi, Novi, Mbak Andin,
Iman, Mas Rahmad, Khafidz, Rusdi, Mas Yogi, Mas Nanda, Mbak Ipon
Akhir tahun 2016 aku memutuskan untuk daftar jadi anggota Youth Islamic Study Club (YISC) Al Azhar. Apa itu YISC? Simplenya sih, YISC itu tempat belajar Al-Qur'an dan ilmu agama Islam. Nah, sebelum memulai program studinya, kita diwajibkan untuk mengikuti Maperaba. Dari sekitar 400-an anggota baru, dibagi menjadi 20 kelompok. Aku masuk di kelompok 13, yang isinya satu profesi semua (nggak tahu sih apa memang pembagiannya berdasarkan profesi ya :p). Mereka inilah orang-orang yang pertama kali kukenal di YISC. Orang-orang yang langsung berisik bahkan sejak pertemuan pertama di tanggal 7 Januari. Bersama mereka juga nantinya aku ngetrip ke beberapa tempat (ini dibahas di bagian Place aja, ya, hehe)

Faqih Fiddin Family


Masih tentang YISC, mereka inilah teman-teman sekelas SII (Studi Islam Intensif). Hampir setiap minggu ketemu, ditambah weekend-weekend yang sibuk untuk nyiapin Tafaqquh Fiddin. Banyak suka duka yang dijalanin sama mereka. Potluck pertama, latihan drama yang nggak pernah komplit, latihan yel-yel yang komplitnya cuman sekali (dan sempat ngganti gerakan pas H-beberapa menit sebelum tampil, wkwkwk), sampe ikutan lomba tumpeng pas ultahnya YISC. Nggak akan terlupakan juga pencapaian kita pas TF yaaa, best yel-yel dan juara 1 performance, Alhamdulillah <3



Frans Seda Squad

Mbak Rina, Mbak Nana, Mbak Novia, Mas Rahman, Yudha, Mbak Tiwi, Mbak Nathalia, Mas Pras,
Anggita, Audra, Ipeh, Mas Puguh, Ana, Mbak Radhika, Arif, Andreas, Bening, Mas Hendra,
Mas Syarif, Mas Wachid, Mas Radit.
Sekitar bulan Oktober, aku kembali join Kemenkeu Mengajar. Pengalaman seru ngajar anak-anak SD di event yang sama di tahun sebelumnya, nggak bikin kapok, malah bikin nagih pengen ngerasain lagi. Pengen nyobain metode ngajar yang nggak aku pakai di tahun sebelumnya. Tiba saat hari briefing, alias hari dimana kami bertemu pertama kalinya dengan kelompok masing-masing, akhirnya aku mengenal juga anggota kelompok yang beberapa minggu sebelumnya hanya berinteraksi lewat grup whatsapp.

Frans Seda. Apa kesan pertama dari member grup ini? Muda dan bersemangat! Kesan selanjutnya? Heboh, wkwkwk.



PLACE
Tahun 2017 nggak begitu sering travelling kayak tahun lalu, hehe. Tapi mengagendakan liburan jauh setahun sekali itu tetap wajib :p. Liburan jauhnya ke Lombok, selebihnya menyesuaikan dengan waktu dan kondisi dompet :p

Lombok, Nusa Tenggara Barat

bukit merese
sunrise in gili trawangan
Trip pertama di tahun 2017. Trip yang berkesan dan banyak kenangannya. Berawal dari randomisasi dua orang anak manusia yang suka jalan-jalan, aku dan mbak Anggi yang belum mengantongi izin cuti kala itu, yang sedang nongkrong-nongkrong ngopi cantik dan makan singkong keju, tetiba membeli begitu saja tiket PP Jakarta-Lombok untuk akhir bulan Februari, hahaaha. Jelajah Lombok dalam waktu 5 hari 4 malam. Gonta-ganti hotel setiap hari, sarapan nasi goreng hampir tiap pagi, dan banyak pengalaman lucu lainnya. Cerita selengkapnya bisa dibaca di sini (Part 1) dan di sini (Part 2).

sunset vew from bukit pantai seger

Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur

kakaban <3
sunset in maratua
Diidam-idamkan sejak lama, Alhamdulillah kesampaian tepat setelah galau melanda, hehe. Sedihnya satu kali, bahagianya berkeali-kali. Maratua yang indah, Kakaban yang memesona dengan ubur-ubur imutnya.

ubur ubuuuur :3

Cibodas Trip

Curug Cibereum
Bersama Sahabat Bolangs (walau hanya berenam, hiks) nyobain kemping syantik di Taman Nasional Gede-Pangrango. Kempingnya tetep di tenda biasa, masak sendiri, tapi yaa toilet bersih sudah tersedia, aliran listrik terjamin adanya, warung-warung pun berjejer di luar area camp, hahaha. Di sini juga kami naik-naik dikit meuju air terjun Cibeureum. Banyak kejadian lucu juga, misal pas bikin adonan bala-bala yang keenceran, Iman yang jadi minimarket berjalan, Ria yang pilek semalaman, bahan makanan yang udah kayak orang mau kemping seminggu, sampai soal K3DB yang bikin kehidupan terkorek-korek, wkwkwk. Bisa dibaca ceritanya di sini :D

Kebun Raya Cibodas


Jakarta Trip (TIM, Masjid Ramlie Musofa, Ancol, TIM)

Masjid Ramlie Musofa
Ini trip dalam kota sama Bolangs, wkwk. Trip dadakan dan random. Awalnya cuma mau nonton film Surau dan Silek, akhirnya jadi jalan kemana-mana.. :D

Curug Bidadari, Sentul

Curug Bidadari
Ini termasuk unplanned trip, hahaha. Trip sama Bolang (lagi) :)


Gombong, Jawa Tengah


Another wedding trip, hahaha. Kali ini nikahan Stevie. Aku, mbak Titis, dan Danar, berangkat ke Gombong.


Solo dan Yogyakarta

Dapat diklat di Jogja, aku dan Cipi sekalian aja ikutan Pak Bos Adi ke Solo. Alhamdulillah keluarga Beliau amat welcome dengan kehadiran dua anak (buah) yang nginthilin bosnya ini, hahahaha. Wisata di Solo means wisata kuliner. Selama dua hari di Solo, udah nggak kehitung makanan yang masuk dalam perut. Solo emang rajanya kuliner enak dan murah <3

kupat tahu favorit <3
Diklat di Jogja selama lima hari, tiap malem wisata kuliner juga. Aku dan Cipi lanjut sampai hari Minggu. Udah diniatin kami pengen pergi ke pantai dan dataran tinggi. Bahkan sebelum berangkat diklat, kami sudah nyusun itinerary :p

Ratu Boko
Tempo Gelato <3
Mangunan
Imogiri
Pantai Indrayanti

Pulau Pari, Kepulauan Seribu

sunrise :)
Mengunjungi Pulau Pari untuk ke dua kalinya, yang pertama pas tahun 2014. Trip bersama Bolang (lagi), hehehe. Banyak yang berubah dari Pulau ini dalam jangka waktu tiga tahun. Rameeee banget sekarang. Nggak mengubah keindahannya, cuman suasananya udah beda aja. Yang beda juga sih kali ini nginepnya di tenda, bukan di homestay :p. Banyak kejadian menarik, mulai dari mas Yogi dan mas Rahmad yang hampir ketinggalan turun dari kapal, sebelahan sama tenda bocah-bocah, tips naik hammock, hampir tenggelam (terimakasih masih dikasih kesempatan hidup, ya Allah), sampai jadi rombongan kucel yang makan di dalem restoran :D




PRIDE
Nggak ada pencapaian besar di tahun ini, tetapi beberapa hal kecil berhasil membuat diri ini seolah mengukir prestasi, wkwkwk. 

Swim

ilustrasi, sebelum hampir kelelep, hahaha
Setelah pengalaman keseret arus di Lombok dan nyaris tenggelam di pulau Pari, tekad untuk belajar berenang itu semakin tak tertahankan. Bersama dua orang teman kantor, akhirnya ikut les privat berenang. Alhamdulillah sekarang udah bisa berenang  mengambang, maju, maju sambil gerakin kaki ala gaya katak (tanpa tangan, soalnya masih belom bisa sinkron-in gerakan tangan dan kakinya, hahaha). Mengalahkan rasa takut tenggelam dan takut kuping ini kemasukan air. Bismillah, semangat terus latihan biar bisa berenang sungguhan!

5 KM in 45 Minutes

partner lari :D
Tahun ini ikutan event Oeang Run lagi :D Berhasil pecahin rekor sendiri, lari 5 km dalam waktu 45 menit. Setelah sebelumnya vacuum lari berbulan-bulan, rasanya lumayan ngos-ngosan parah, hehe. 

MC-ing more

MC-ing sosialisasi PMK
after MC-ing Pengambilan Sumpah Jabatan Direksi
Stakeholder mulai merambah ke subdit tetangga, hehehe. Thanks for the chances, mates! :)

Kemenkeu Mengajar 2

puzzle KN
Kali ini nggak hanya join sebagai Relawan, tapi juga sebagai Panitia di bidang rekrutmen. Nyobain gimana rasanya jadi bagian HRM, bidang yang jadi impian sejak kuliah dulu. Sampai konsentrasi pun ambilnya Manajemen SDM, hehe. Pas kembali jadi Pengajar, merasakan kebanggaan dan kebahagiaan tersediri juga, karena apa? Karena berhasil mengatasi ketakutan diri sendiri untuk ngajar kelas kecil, hahaha. Pengalaman tahun kemarin kewalahan buangeeeetttt. Tapi Alhamdulillah tahun ini berbalik 180 derajat, well done! Kalau mau tahu ceritanya, bisa disimak di sini :)




PLAN

Awal tahun 2017, banyak rencana terpampang di benak, banyak tekad berjejal di dalam dada. Rencana untuk nerbitkan/bikin buku/novel, rencana untuk daftar beasiswa S2, rencana untuk menikah (eh ini rencana atau keinginan, sih?), rencana untuk posting lebih sering. Mungkin kurang upaya, mungkin kurang sungguh-sungguh, mungkin kurang berdoa sama Allah.

Tapi yang terpenting dari belum terwujudnya semua rencana itu adalah belajar. Belajar dari kesalahan, belajar dari kegagalan, belajar untuk memperbaiki segala sesuatunya.

Jadi apa rencana untuk tahun 2018? Masih sama. Masih berencana untuk ngejar beasiswa. Masih berencana untuk bikin buku/novel/kumpulan cerpen. Masih berencana untuk lebih sering menulis/posting. Dan yaa, masih berencana untuk menikah (rencana aja, perkara sama siapa-nya ya masih minta sama Allah :'').

Cuma itu rencananya? Nope. Tapi itu saja yang dituliskan di sini, sisanya biarlah hanya aku dan Allah yang tahu.. Hehe

PRAYER

Seperti judul postingan, bisa dibilang bahwa 2017 ini adalah one of my turning point. Nggak ada pencapaian besar yang kasat mata, karena untukku, 2017 lebih ke spiritual journey. Titik balik dimana aku punya pandangan baru tentang menjalani hidup. Titik dimana  aku belajar menempatkan harapan. Titik dimana aku sadar kalau selama ini aku kurang banget memperjuangkan akhirat.

Tahun ini, satu doa baik telah mengubah motivasi menulisku. Menjadi penulis besar yang bermanfaat untuk umat. Jika tidak jadi penulis besar, setidaknya aku bisa menjadi penulis yang bermanfaat. Maka sejak saat itu, semoga Allah memberikan kemampuan untukku konsisten menyelipkan nilai-nilai kebaikan (atau bahkan nilai-nilai Islam) dalam setiap tulisanku.

Alhamdulillah untuk semua yang terjadi di tahun 2017, entah itu yang membahagiakan, menyedihkan, mengecewakan, mengagetkan, sampai yang mengharukan. Tidak ada air mata yang tidak dibarengi dengan senyuman. Percaya dengan janji Allah dalam Q.S. Al-Insyirah ayat 6-7, "Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.".  Garis bawahi kata "bersama", dan Allah menyebutkannya dua kali.

Doa untuk tahun 2018, semoga langkah kaki ini dituntunNya ke jalan yang benar, jalan orang-orang yang Allah ridhoi. Semoga Allah senantiasa mendekatkan dan menempatkan di sekeliling orang-orang baik. Semoga Allah memberi kemampuan untuk senantiasa husnudzon, bersyukur, dan istiqomah. 

Semoga akan lebih banyak orang yang melantunkan doa, bukan sekedar bertanya "kapan?", wkwkwwkwk :p

Akhirnyaaaa, di penghujung tahun ini, aku mengucap hamdalah.

Alhamdulillaahirobbil 'alamiin :)

cheerfully welcoming 2018 :D

Kamis, 14 Desember 2017

Kajian Tauhiid: K.H Abdullah Gymnastiar dan Ustadz Abdul Wahab

0

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Kajian Tauhiid 12 November 2017
oleh: K.H. Abdullah Gymnastiar dan Ustadz Abdul Wahab

1. Ada 3 ilmu yang harus dipelajari dan diamalkan dalam Islam, yaitu Aqidah, Syari'at, dan Akhlaq.

2. Aqidah adalah pegangan hidup. Syari'at adalah jalan hidup. Akhlaq adalah perilaku hidup.

3. Aqidah
- pelajari dan dalami rukun Iman.
- sudahkah mengenal Allah? tidak akan bisa cinta jika tidak mengenal Allah terlebih dahulu. kenali sifat-sifatNya.
- kenali diri sendiri dgn cara mengenali 5 potensi manusia, yakni akal, nafsu, hati, fisik, dan ruh.

4. Syari'at
Ada 5 tujuan syari'at Islam (Daruriyatul Khams), yaitu:
- Memelihara agama
- Memelihara jiwa
- Memelihara keturunan
- Memelihara harta dan akal
- Memelihara lingkungan

5. QS Al-Hujurat ayat 10
- Bahwa sesama mukmin adalah saudara, tanamkan itu agar hati kita menjadi lebih lembut kepada sesama.
- Saudara itu ada 2, saudara seiman dan saudara dalam kemanusiaan.
- Apabila ada konflik, ada 3 semangat yang harus dijaga utk bisa menyelesaikannya, yaitu semangat bersaudara, semangat solusi, dan semangat sukses bersama.

6. QS. Al-Hujurat ayat 11
3 larangan Allah:
- jangan mengolok-olok/meremehkan
- jangan mencela
- jangan memanggil dengan panggilan yang buruk

7. QS. Al-Hujurat ayat 12
3 larangan Allah berikutnya:
- jangan berprasangka buruk
- jangan mencari-cari kesalahan orang lain
- jangan menggunjing orang lain/ghibah

8. Apabila datang ke majlis ilmu (apalagi di masjid), jangan lupa diniatkan untuk 3 hal:
- niatkan i'tikaf
- niatkan mencari ilmu
- niatkan silaturahim

Perbanyak dzikir, perbanyak istighfar.

Perbanyaklah sholawat, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Ahzab ayat 56
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."

Semoga bermanfaat :)

Wallahu'alam bishshowwab

Kajian Tauhiid: K.H Abdullah Gymnastiar dan Buya Yahya

0

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Kajian Tauhiid 10 Desember 2017
Oleh K.H. Abdullah Gymnastiar dan Buya Yahya

1. Jika ada yang menyakiti hati atau berbuat buruk kepada kita, sikapi sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Ali Imran: 134
"(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan,"

2. Cara menumbuhkan cinta:
A. Doakan saudara-saudara summat, maupun saudara-saudara dalam kemanusiaan
B. Jangan suka menggunjing
C. Jangan mudah percaya kepada pernyataan-pernyataan kebencian

3. Sikap jika menemui perbedaan, pelajari perbedaan itu. Jangan membicarakan perbedaan apabila belum menguasai ilmunya.

4. Ada 4 hikmah apabila ada orang yang berkata/berbuat buruk kepada kita, yaitu:
A. Syukur (bersyukur karena bukan kita yang berperilaku buruk tersebut)
B. Belajar (belajar agar tidak berperilaku yang sama)
C. Sarana taubat (mungkin kita pernah melakukan perbuatan yg sama di masa lalu, dan itu adalah cara Allah Menegur kita, banyak-banyak taubat dan istighfar)
D. Ladang pahala (akan menjadi pahala bagi kita apabila dapat membalas perlakuan buruk itu dengan kebaikan)

5. Q.S. Al-Hujurat 11-12
Janganlah orang mukmin itu:
A. mengolok-olok
B. meremehkan
C. memanggil dgn sebutan yg buruk
D. berprasangka buruk
E. menggunjing
F. mencari-cari kesalahan orang lain

6. Cara untuk mempererat persaudaraan
A. Banyak berdoa dan mendoakan. Doa sendiri adalah bentuk ibadan dan jalan mengubah takdir.
B. Rajin silaturahim
C. Tebarkan salam, sebab salam adalah doa
D. Perbanyak senyum dan menebar energi positif

7. Berbuat baiklah, tapi jangan diingat-ingat kebaikan diri kita. Jangan mengharap balasan kebaikan dari orang lain.
Firman Allah dalam Q.S. An-Nisa': 79
"Kebajikan apapun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apapun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi."

"Apabila menuntut kesempurnaan, maka tidak akan ada orang yang berdakwah. Dakwah itu tidak harus sempurna, asalkan benar ilmunya dan benar cara menyampaikannya. Jika ada kekurangan, maka tugas kita adalah untuk saling menyempurnakan, bukan mencari kesalahan." - Aa Gym

Wallahu'alam bishshowwab :)

Semoga bermanfaat :)