Senin, 26 Agustus 2019

Surat Cinta Untukmu

2

Assalammu'alaikum, suamaayy.. Ini hari Senin, kamu pasti sibuk dengan semua report itu, sementara aku di rumah karena sakit, lalu iseng mencoba mengisi lagi blog yang baru berisi tiga postingan saja di tahun ini. Anggap saja aku rindu menulis, anggap saja ini surat cinta :p

Flashback ke bulan April tahun 2018, di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, tempat pertama kita bertemu, saling berjabat tanpa menyebut nama. Aku pikir yang bersamamu itu pacarmu, ahahhaa, eh ternyata saudara. Kta nggak banyak ngobrol selama di sana, karena kamu emang pendiem banget. Aku juga males berakrab-akrab, karena lagi liburan. Mending juga nikmatin pemandangan daripada susah-susah maksain nyari bahan pembicaraan, wkwkww. Tapi aku dan mbanggi cukup akrab sama tante Umi. Beberapa kali kami nongkrong bertiga di kamar. Entah sholat, atau sekedar pakai sunblock. Tante rasa kakak banget deh, asik banget soalnya tante Umi, nggak kayak kamu yang diem mulu :p


Momen ini adalah yang paling aku inget. Malem itu kapal jadi gelap banget, aku bertanya-tanya, jangan-jangan genset mati. Ternyata itu settingan buat kamu yang lagi berusaha motret bintang-bintang di langit. Pelan-pelan aku nyamperin kamu, kutanya "motret apa?", kamu cuma jawab singkat "milkyway". Terus aku ngacir deh, duduk-duduk di tepi kapal. Eh tapi pas mau ngefoto, kan aku niatnya pindah duduk di kursi makan aja biar nggak jadi photobomb, tapi tiba-tiba kamu bilang "Eh di situ aja udah". Taraaaa, jadilah foto itu :)

Rabu, 06 Februari 2019

Sharing Session: Seleksi Beasiswa LPDP

4

pict from amsterdamnews.com

Sesuai judulnya, sharing session, jadi postingan ini nggak akan berisi tips and trick atau kiat sukses atau apapun itu yaa, karena aku sendiri pun belum berkesempatan untuk menjadi salah satu awardee LPDP. Jadi disclaimer dulu nih di awal, di sini aku sifatnya hanya sharing tahapan tes yang harus dilalui ketika mengikuti seleksi beasiswa magister LPDP.

Jadi, sejak awal tahun 2018 aku sudah bertekad untuk daftar beasiswa. LPDP menjadi salah satu lembaga yang aku incar, karena menyediakan beasiswa dalam negeri. Oia, LPDP provide banyak jenis beasiswa ya, ada beasiswa magister, beasiswa S3, beasiswa thesis, beasiswa penelitian, dan lain-lain. Jadi, ada baiknya mulai sekarang kalian coba berkunjung ke website-nya, kemudian download buku panduannya. Hal itu juga yang aku lakukan sebagai langkah awal daftar beasiswa: buka web, download buku panduan, dan bikin akun di sana. Bikin akun dulu aja, ngisi data-data. Untuk melanjutkan ngisi form beasiswa, kalian harus firm dulu soal jurusan dan universitas yang kalian tuju, karena sekali diisi nggak akan bisa diganti.

Aku mengawali upaya dengan mencari tahu proses seleksi LPDP dari temen yang sudah terpilih menjadi awardee. Alhamdulillah dia dengan senang hati share ini itu, tips ini itu. Nah, salah satu hal penting yang harus disiapin untuk beasiswa LPDP ini adalah ESAI. Untuk kategori Beasiswa Afirmasi (TNI, POLRI, PNS), ada 2 esai yang harus disiapkan, yaitu Esai Kontribusiku untuk Indonesia dan Esai Rencana Studi. Untuk kategori yang lain, harus juga menyiapkan satu Esai lagi yaitu Esai Keberhasilan Terbesarku. Esai-esai ini akan menjadi salah satu komponen yang harus dipenuhi untuk tahap pertama: seleksi administrasi.

1. Seleksi Administrasi
Pada tahap seleksi administrasi, kita akan diminta untuk mengupload kelengkapan dokumen. Jadi beasiswa LPDP ini fully online yaa prosesnya. Pengumuman dan segala yang berhubungan dengan tahapan seleksinya diumumkan di akun masing-masing, email, dan sms. Beberapa dokumen yang harus diupload antara lain ijazah terakhir, sertifikat TOEFL/IELTS, dan esai-esai yang udah aku sebutkan di atas tadi.
Saran: Jangan sampai miss satu dokumen pun yaa, diperhatikan baik-baik dokumen apa saja yang harus diupload, dan ketentuan untuk maisng-masing dokumennya seperti apa.

2. Seleksi Berbasis Komputer
Setelah lolos seleksi administrasi, tahapan selanjutnya adalah seleksi berbasis komputer (SBK). Nah, SBK ini baru diterapkan tahun 2018 kemarin, jadi cek-cek lagi kebijakan seleksi yang dibuat LPDP ya, siapa tahu ada perubahan. Ada 3 bagian dalam tahapan SBK ini, yaitu Tes Intelegensia Umum, Tes Kepribadian, dan Esai on The Spot. Kalau nggak salah ingat, waktu totalnya sekitar 2,5 jam. Untuk bagian Esai On The Spot, skemanya bisa berbeda-beda. Kalau aku sih, waktu itu diberikan satu artikel yang endingnya diminta untuk memberikan saran/usulan kebijakan pemerintah.
Saran: Makan dan istirahat yang cukup sebelum tes, supaya badan dan pikiran fresh. Banyak-banyak baca berita terkini untuk persiapan esai on the spot. Biasakan bikin esai yang runtut (pembuka, isi, penutup). Selesaikan dulu 3 bagian itu, baru nanti ditambah-tambahin lagi bagian isinya. Ini untuk mengantisipasi esai yang belum selesai ketika waktunya sudah habis.

3. Seleksi Substansi
Lolos SBK, lanjut tahap seleksi substansi. Tahapan ini terdiri atas 3 bagian, yakni verifikasi dokumen, leaderless group discussion (LGD), dan tes wawancara. Verifikasi dokumen ya cukup siapkan semua dokumen yang sudah kamu upload (versi aslinya). LGD sebenernya mirip-mirip sama Focus Group Discussion, jadi nanti kita akan dibagi kelompok-kelompok beranggotakan 7-8 orang. Kita akan diberikan waktu sekitar 30 menit untuk mendiskusikan satu topik (given pada saat itu juga) dan mengambil kesimpulan. Sedangkan untuk tes wawancara, persiapkan baik-baik rencana studi, dan esai yang sudah kamu siapkan. Pertanyaan dari para interviewer berpatokan dari esai yang kita tulis tadi. Walau demikian, pertanyaan-pertanyaannya ya unpredictable sebenernya, karena pasti berkembang dari jawaban kita juga.
Saran: Banyak cari tahu berita-berita terkini (atau bahkan yang lama juga) karena topik LGD itu bisa tentang apapun. Ya, apapun. Jadi banyak banget kemungkinannya.

Dari tiga tahapan tadi, aku ngga lolos di seleksi substansi. Dan sedihnya, kalau ngga lolos seleksi substansi, kita cuma punya satu kesempatan lagi untuk ikut beasiswa LPDP. Semoga besok-besok kebijakan ini nggak berlaku lagi, hehehee *ngarep. Makanya, sekarang aku masih siap-siap dulu yang matang banget, karena cuma tinggal punya satu kesempatan lagi untuk ikutan, hiks. Nah, buat temen-temen yang berminat untuk daftar LPDP, pelajari bener program studi yang jadi pilihan kalian (apa aja mata kuliahnya, tiap semester ambil berapa sks, bahkan juga prodi yang sekiranya match juga dengan kamu tapi ngga kamu ambil. Siapkan jawaban, alasan, dan pertimbangan terbaik kamu ketika memilih program studi itu. Ini penting banget pas wawancara.

Nah, sekian dulu yaa sharing session pengalaman pertamaku daftar beasiswa, hehe. Jangan patah semangatttt kalau belum keterima *self note*. Masih ada kesempatan yang lain, dan beasiswa yang lain. Semangat sekolah lagiiii :)

Jumat, 25 Januari 2019

Besarnya Rasa Syukur

0



Pagi tadi, hujan turun di bawah langit abu-abu Jakarta. Rintik hujan yang menderas tercetak jelas di balik jendela. Baru sekitar dua mingguan aku pindah kos di tempat yang sekarang, pindah ke tempat yang jauh lebih baik daripada sebelumnya. Siapapun yang pernah tahu kos lamaku pasti nyaranin untuk segera pindah, karena ventilasi udaranya yang kurang memadai. Selain itu, aku merasa cukup nyaman dengan fasilitas yang sudah ada. Tapi beberapa bulan lalu aku sakit batuk-pilek sekitar satu bulan, dan itu yang bikin aku tergerak untuk pindah kosan. "Aku mau cari kos yang ada jendelanya," itu tekadku. Dan alhamdulillah, info adek OJT mempermudah aku menemukan calon tempat tinggal baru :)

Kembali di pagi tadi, saat aku memandang jendela dan merasakan angin semilir yang menelusup masuk lewat celah yang sengaja kubiarkan sedikit terbuka, tiba-tiba terbesit rasa syukur yang amat dalam. Sederhana saja, aku mensyukuri jendela kamarku. Lalu terpikir pula, "Kenapa coba nggak dari dulu aja aku ngekos di sini". Pagi dan hujan mungkin adalah perpaduan yang sempurna untuk berdialog sejenak dengan diri sendiri. Dialog yang diam-diam menghadirkan pemahaman dalam benak dan hati ini, bahwa...

Jika terlalu cepat menemukan, mungkin rasa syukurku tidak akan sebesar ini.. :)

Lalu ingatan melayang saat berbulan-bulan lalu, saat belum datang sakit batuk-pilek yang panjang itu. Belum begitu merasa butuh adanya ventilasi, adanya jendela kamar. Belum merasa butuh pentingnya sirkulasi udara yang baik, biar kalau sakit virusnya nggak muter-muter di dalam kamar terus. Mungkin, kalau saat itu aku sudah pindah di kos yang sekarang, rasa syukurku akan biasa-biasa saja. Jendela kaca ini nggak akan terasa seperti karunia, tapi sekedar dua bilah kaca untuk menikmati langit senja.

Rasa syukur sepertinya juga beriringan dengan keinginan atau kebutuhan. Bayangkan saja, es jeruk yang tadinya hanya berupa keinginan, ketika terbeli atau didapatkan, ya sudah, paling-paling hanya merasa senang sebagai konsekuensinya. Tapi coba saja ketika es jeruk itu datang ketika kita merasa amat haus, di tengah panas terik, ia telah menjelma jadi kebutuhan. Ketika es jeruk ada di depan kita, masya Allah, pasti setiap tegukan tidak lepas dari rasa syukur yang membuncah. 

Tepat waktu, dan selalu tepat apa yang kita butuh. Bukankah itu janji Allah terhadap umatNya? Menurut Allah, inilah saat yang tepat untuk pindah kos, dengan fasilitas yang pas sedang aku butuhkan juga. Terkesan lebay? Mungkin. Tapi, sekecil apapun hal di dunia ini bisa terjadi hanya karena jika ada izin Allah. Jangan sampai lupa itu.

Maka persoalan jodoh pun bisa dianalogikan serupa. Ketika telah menemukan orang yang tepat, jika dalam hati terbesit mengapa baru dipertemukan sekarang, maka jawabannya adalah..

Jika tidak dipertemukan di saat ini, di saat yang tepat, mungkin kamu tidak akan mensyukuri kehadirannya sebesar ini. Mungkin kamu tidak akan menghargainya sebaik ini. Mungkin kamu tidak akan bertekad menjaganya sehati-hati ini. Mungkin kamu tidak akan menyayanginya setulus ini :) 

Jumat, 04 Januari 2019

2018: A Year Full of Surprise

0



Tak terasa 2018 sudah sampai di penghujungnya. Seperti biasa, tahun ini pun berjalan sangat cepat, tapi Alhamdulillah, tidak berlalu begitu saja. Setiap tahun punya keistimewaannya masing-masing, dan tahun 2018 istimewa karena penuh kejutan. Yang namanya kejutan, bisa menyenangkan, bisa menyedihkan, bisa berupa hal baik, atau juga kejadian yang tidak diinginkan. Tapi kesemuanya itu membentuk suatu keseimbangan yang menempa dan membentuk diriku yang sekarang.

So, inilah kejutan-kejutan di 2018-ku!


LAMA RASA BARU adalah hal-hal lama yang (tiba-tiba) dilakukan kembali di tahun ini.

Pemandu Grup PPAB YISC Al Azhar 2018
Terakhir kali jadi pembina/pemandu/pendamping macam gini tuh waktu kuliah semester 5, waktu itu jadi kakak pendamping peserta ospek jurusan. Nah kali ini, di awal tahun, aku nyoba daftar jadi kakak pemandu grup Program Penerimaan Anggta Baru YISC Al Azhar tahun 2018. Satu kelompok dapat dua orang kakak pemandu. Kebagian grup 17 (yang akhirnya dinamakan Lubabah), aku duet sama kak Andin. Handle grup memang gampang-gampang susah, secara satu grup isinya heterogen banget, baik dari segi usia, pekerjaan, latar belakang, dan lain-lainnya. But overall, fun kok, ketemu macem-macem personality itu seru dan menarik.. :)  




Seminar Pekan Kekayaan Negara
Sudah lamaaaaa sangat nggak pernah bikin event. Setelah pas kuliah non stop bikin acara-acara setiap tahun, masuk kerja langsung bum! Lupa caranya handle event, hahaha. Tapi di bulan Oktober, tetiba diajak gabung jadi panitia acara seminar di kantor. Aku yang biasanya jadi MC dan terima jadi aja susunan acara, sekarang "dipaksa" bikin rundown, make sure rundown-nya jalan, mastiin pic per kegiatan. Akhirnya kembali merasakan hal-hal seru kayak gini, nggak sekedar bikin nota dinas di depan komputer atau duduk nyatat hasil rapat. Penyegaran banget sih buat aku :D


Kemenkeu Mengajar 3
Kegiatan volunteering yang udah aku ikuti sejak tahun 2016, sejak tahun pertamanya dilaksanakan. Setiap tahun selalu ada rasa baru, karena dipertemukan dengan orang-orang yang berbeda di satu kelompok, mencoba metode mengajar yang berbeda dari tahun sebelumnya, dan pastinya ketemu dengan anak-anak yang karakternya begitu berwarna-warni. Kemenkeu Mengajar tuh kegiatan yang bikin dilema. Sebelum hari H, ribeeeet banget nyiapin ini itu sampai rassanya kapok. Tapi begtiu setelah hari H, jangan ditanya deh, pasti berasa recharge dan nggak mau ketinggalan untuk ikutan lagi di tahun depan!





SEPULUH TRIP di tahun 2018, baru aku sadari pas ngedaftar udah kemana aja aku tahun ini. Jadi wisatawan dalam kota Jakarta dan luar kota.

Bandung Trip
Ini bisa dibilang birthday trip, hehehe. Pas weekend aku ultah, pergi ke Bandung sama Cece. Di sana kami nginap di hotel dekat Braga, strategis banget tempatnya, alhasil kami kemana-mana jalan kaki (Masjid Raya, Museum Asia Afrika, landmark Braga, makan di Warung Lima Rasa). Sisanya, sudah pasti main di mall, wkwkwk. Ah jadi pengen ke Bandung lagi :D


Purwokerto Trip
Trip yang lumayan not well prepared, haha. Berhubung mbak Dani habis lahiran bakal segera capcus ke Papua ngikut suaminya, aku sama mbak Tika nyamperin dia di Purwokerto. Nengokin Shanum yang masih baby banget, sekalian jalan-jalan lah. Di sana dijamu dengan sangat amat menyenangkan sama keluarga mbak Dani (disuruh makan mulu, wkwk, apalagi mendoan, dah ga keitung berapa lembar). Jalan-jalan juga ke Baturraden, makan sroto, es durian). Waktu itu kami nginap di deket rumah mbak Dani, kamarnya ada di lantai 2, dan pemandangannya pegunungan. Sore-sore, mandang gunung, langit senja yang bersemu oranye, dan adzan yang berkumandang. Syahdu!


Jogja Trip
Tahun ini tiga kali ke Jogja! Tapi yah, Jogja memang selalu menyenangkan dan menenangkan untuk didatangi lagi dan lagi, nggak ada kata bosan sama sekali. Maret ke Jogja terus ke Solo dalam rangka nikahan mas Alam. Mei ke nikahan mas Yogi. Agustus liburan sama Cece. Jogja oh Jogja, sekarang aja aku udah pengen lagi ke sana :)




Ende-Labuan Bajo Trip
Ini diaaa gong-nya liburan tahun ini. Setelah berbagai pergolakan, akhirnya berangkat juga di bulan April, sama mbak Anggi. Ke Ende, kami menengok Danau Kelimutu yang terkenal di uang lima ribuan itu. Ke Labuan Bajo, kami menjajal rasanya sailing trip, menginap di kapal dan terapung berhari-hari di lautan. Banyak cerita, banyak tawa, banyak pengalaman, dan banyak pemandangan indah yang disaksikan. Nggak nyesel sama sekali, walau pas balik Jakarta langsung seret dompetnya, hahaha. Oiya., catatan perjalanan kami bisa dibaca di sinidi sinidi sini, dan di sini :D



Magelang Trip
Setelah dari nikahan mas Yogi, cabs ke Magelang nikahan si Ucup. Gileee, wedding traveller emang, wkwkwk. Duluu banget pernah ke Magelang, tapi nggak sempat menengok Candi Borobudur. Kali ini aku nggak mau kehilangan kesempatan, jadilah for the first time, aku ke Borobudur jugaaa  :D



Hutan Mangrove Trip
Bulan Juni, tak sanggup menahan hasrat ingin ngetrip, aku sama mbak Anggi jadi wisatawan dalam kota, kami nyobain ke Hutan Mangrove di Jakarta Utara. Bagus buat foto-foto, cuman udah mulai banyak sampah, sedih. Udah dibikinin tempat bagus, tapi kitanya sendiri malas ngejaga kebersihannya. Hiks..



TMII Trip
Akhirnya, setelah hampir 5 tahun di Jakarta, aku tau juga yang namanya Taman Mini Indonesia Indah, wkwk. Yah walaupun waktu itu TMII lagi rame buangeeet, sampe sempet salah masuk acara orang (acaranya make salah satu anjungan, ya meneketehe), macet pula di dalemnya, tapi terima kasih sudah ngajakin ke sini ya, Ky. Sah juga aku jadi orang Jakarta :p


Ragunan Trip
Ini  pun nggak direncanakan, karena kebetulan ada yang ngadain acara di sana, terus ikut datang fun walk di sana. Ternyata Ragunan bagus banget ya (ndeso tenan). Banyak wahana-wahananya, bersih, terus kayak banyak bangunan-bangunan menarik yang bisa dinaiki, dipanjat, pun dijadikan tempat foto-foto (teteeep ya). Ini juga pertama kalinya aku ke Ragunan, setelah sebelumnya cuman pernah naik busway yang jurusannya ke sana, hehe.



Tulungagung Trip
Oktober, nikahan sohib travelling-ku. Hati rasanya campur aduk. Happy pastinya lihat mbak Anggi akhirnya menikah dengan masnya. Tapi di sudut terdalam, ada sedih juga karena pasti udah nggak akan sebebas dulu kalau mau jalan-jalan. Oiya, btw ini trip tek-tok yang bikin aku sadar bahwa badanku sudah nggak semuda dulu, wkwkwk. Dulu pernah tek-tok Jakarta-Kediri, rasanya biasa aja Tapi kemarin, tek-tok Jakarta-Tulungagung rasanya udah remuk aja punggung. Hampir nggak bisa bangun tidur siang, nyaris ketinggalan kereta, wkwk. 


Ancol Trip
Baru-baru ini, sih, ke Ancol. Gegara pengeeeen banget jalan-jalan ke pantai, tapi angin dan ombak sedang nggak bersahabat. Yaudah, akhirnya ke Ancol deh, yang deket aja. Surprisingly, ada pasir putih yang masih bersih di pantai Ancol (kayaknya sih bagian baru, katanya dulu nggak ada). Lumayan lah, setidaknya ke pantai. Cukup tutup mata, rasakan hembusan angin, dengarkan deburan ombak, dan bayangkan pantai-pantai indah di Nusa Tenggara :p




FIRST TIME, yang pertama kalinya. Ya gitu, pengalaman pertama. 

Khatam Terjemah Al-Qur'an
Bener-bener pengalaman pertama nyelesain baca terjemah Al-Qur'an. Alhamdulillah diberi kesempatan untuk join PINBAKU39.2 di Daarut Tauhiid Jakarta, dan bertemu dengan sodari-sodari Tumbuh 8 yang selalu saling mengingatkan. Ini pencapaian buatku, karena sebelumnya kalau baca terjemah ya sepotong-sepotong aja, kalau lagi pengen, belum pernah secara utuh dari awal sampai akhir. Oiya, yang mau join, sekarang udah ganti nama jadi Kelas Mentari Hati, cus cari infonya di instagram yaa :)


Artikel Pertama
Bulan Juli, bulan bersejarah dimana untuk pertama kalinya aku nulis artikel yang serius (soal kerjaan) dan dimuat di media resmi kantor. Rasanya campur aduk. Ada seneng, bangga, tapi juga takut kalau tulisan itu jadi memancing "huru hara", karena mungkin ada salah penafsiran, hehe. Tapi alhamdulillah sejauh ini aman, sih. Next pengen nulis yang kayak gitu lagi, semoga bisa :D



Seleksi LPDP 
Yap, tahun ini pertama kalinya berusaha daftar beasiswa. Sudah sampai tahap akhir, tapi yah memang belum rezeki. Mungkin kurang persiapan, mungkin belum begitu matang, mungkin memang belum waktunya. Nggakpapa, belajar dari kesalahan, untuk daftar lagi tahun depan. Sedih sih, pasti, tapi yasudah, mari menghabiskan jatah gagal. Satu hal yang penting adalah ketika sudah mencoba dan mengusahakan yang terbaik namun gagal, mungkin ada sedih, tapi bukan penyesalan.. ;)


SWEET SURPRISE yang benar-benar tidak disangka-sangka.

Post Card from Kak Muti (Desember)
Di suatu sore, terkaget-kaget dapat kartu pos di atas keyboard. Dan ternyata dari Kak Muti yang lagi sekolah di Australia. How sweet you are, Kak, aku terharu. Sama sekali nggak ada ekspektasi bakal dikirimi kartu pos dengan tulisan yang bikin hati meleleh. Thankyou, Kakmuuut. Semoga sukses sekolahnya, semoga selalu dijaga Allah kapanpun dan dimanapun berada :*



--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Flashback setahunan ini, banyak yang datang dan pergi, ada cerita tentang jatuh dan bangun, banyak tawa dan sesekali tangis, limpahan syukur yang kadang tertutup oleh khilaf kecewa.

Alhamdulillah, Alhamdulillah. Sekali lagi, Allah yang paling tahu apa yang terbaik, Allah yang paling tahu kapan waktu yang tepat, dan pasti Allah yang lebih tahu apa yang paling kita butuhkan. Itu pelajaran berharga yang di tahun ini, banyak diingetin lagi sama Allah untuk meyakininya lagi dan lagi. Keep husnudzon, keep husnudzon.

Salah satu kejadian yang paling berkesan ya pas ditolak beasiswa. Aku nggak terbiasa dengan kegagalan (terakhir kali ngerasain ditolak tuh sama BI pas ngelamar kerja tahun 2013), dan sekarang harus ngalamin. Rasanya pahit sih, nyesek, karena udah sampai tahap akhir, udah deket banget. Tapi aku ngerasa banget bahwa Allah itu Maha Baik. Tepat pada hari pengumuman, aku nangis karena nggak keterima. Tapi alhamdulillah, Allah kirimkan seseorang biar aku nggak menjalani hari itu sendirian. Besoknya pun, berkesempatan nonton mini konser Kahitna (terus dapat bunga pulak, wkwk). Besokannya lagi, ketemuan sama orang-orang yang melipur lara hati.

Dan benarlah adanya ketika ada yang Allah ambil, maka akan ada pengganti yang Allah siapkan. Manusia datang dan pergi dari kehidupan manusia yang lain, meninggalkan jejak, pelajaran, dan membuat mereka tidak sama lagi. Berasa banget Allah memilihkan yang tepat, yang memang aku butuhkan, dan ya, melalui cara yang tidak disangka-sangka. Semoga semuanya dimudahkan dan dilancarkan Allah :)

Anyway, tahun ini adalah tahun yang memalukan buatku sebagai seorang blogger, karena cuma menghasilkan 8 postingan. Haduh ampun. Seperti yang sudah-sudah, di tahun 2019 aku bertekad lebih sering lagi posting, menghidupkan kembali blog ini seperti dulu. Semoga bisa konsisten beneran.

Tahun 2019, semoga segalanya lebih baik lagi. Personality yang lebih baik, ibadah yang lebih baik, kebiasaan yang lebih baik, hobi yang lebih baik, status yang lebih baik (eh :p), yah semuanya lah pokoknya. Tetap yakin bahwa sebaik-baik skenario adalah yang Allah atur, semoga diberikan kemampuan untuk selalu mengejar ridho Allah, bukan pandangan manusia.

Sekian dulu postingan kaleidoskop 2018 kali ini. Semoga 2019 menjadi tahun yang penuh berkah untuk kita semua. Aamiin :)  

Minggu, 03 Juni 2018

Trip to Ende and Labuan Bajo: Part 4

0

Day 6: 15 April 2018

Hari ke tiga alias hari terakhir sailing trip, for the first time in my life, akhirnya merasakan juga yang namanya mabuk laut. Jadi, subuh kan bangun, emang terasa goyang banget kapalnya, tapi masih belum berasa pusing, karena posisi tidurnya melintang, jadi terasanya cuma goyang ke depan-belakang kayak diayun-ayun aja gitu. Terus keluar kamar mau ke toilet, wudhu. Pas keluar kamar baru deh tau kondisi laut kayak apa ombaknya. Lanjut masuk toilet, di sanalah ku terombang-ambing ke sana kemari gegara goyangan kapal. Langsung pusing, muntah. Balik ke kamar, sholat, dan habis itu nggak sanggup ngapa-ngapain selain duduk dengan megangin tas kresek buat nadahin muntah.

Mbanggi yang baru bangun langsung heran dan nanya aku kenapa, cuma satu kata yang keluar "mabok". Terus pas dia sudah selesai sholat, dengan so sweetnya mbanggi bikinin teh panas, uwuwuwuwu :3. Di saat diri sendiri mengalami mabuk, bisa-bisanya aku lupa kalau cara ngatasin mabuk salah satunya jangan berada di ruangan yang sempit. Dulu-dulu kalau pas naik kapal, dan ada temen yang mabuk, pasti langsung kuajak duduk di luar biar kena udara bebas, dan mata bisa lihat pemandangan, biar nggak fokus ngerasain mualnya perut. Baru setelah minum teh beberapa teguk, aku mutusin keluar kamar dan gabung ngobrol di meja makan. Engga sih, ngga ikut ngobrol, secara masih mabok, wkwkwk. Tapi udah lumayan banget setelah keluar kamar sih.


Sekitar jam 6 pagi, kami sampai di Pulau Padar. The sun is already rising, but it's okay, view dari puncak Padar akan tetap bagus walaupun udah kelewatan sunrise, hehe. Trek di pulau Padar nih jauuh lebih ringan dibandingkan Gili Lawa. Selain karena sudah ada tangga-tangganya, medannya pun nggak curam. Jadi yaa lumayan lah buat sekalian olahraga syantik pagi-pagi.




Ini belum puncak, tapi sudah secantik ini :)



Butuh waktu sekitar 40-45 menit untuk sampai spot foto sejuta umat yang liburan di Labuan Bajo, heheh. Tapi itu karena sering berhenti buat foto-foto, ya. Beda sama kayak di Gili Lawa, sejam-an karena emang engap, haha.

Sampai atas, these are what we've got :)





Tak lupa family photo session :D








Setelah puas foto-foto, kami pun turun untuk kembali ke kapal, melanjutkan perjalanan ke last destination, Pulau Kelor.



Perjalanan menuju Pulau Kelor ternyata lumayan lama, hampir 3 jam. Jadilah dengan waktu yang ada, kami manfaatkan untuk sarapan dan packing. Hiks. Packing.

Sekitar jam 11 siang, sampailah kami di Pulau Kelor. Di sini nggak semua orang turun ke pulau sih, Billy yang lagi nggak enak badan stay di kapal untuk istirahat. Aku sama mbanggi tetep turun, tapi udah males pakai sunblock, hahaha.





Sebenernya di sini juga ada bukit lagi. Cuman, karena panasnya ampun-ampunan, udah nggak bernafsu lagi naik bukit, wkwk. Kami nggak lama di Pulau Kelor, mungkin cuma sekitar satu jam. Jam 12 kami balik ke kapal untuk pulang ke pelabuhan Kampung Ujung.

Setengah 2 tet, kami sudah berada di pelabuhan untuk menanti jemputan ke tempat masing-masing. Tiga serangkai masih nginap semalam lagi, Jessy dan masbul juga. Aku, mbanggi, mba Umi, Rizky, dan David dijemput dengan mobil yang satu lagi. Hanya aku dan mbanggi yang balik Jakarta hari itu juga. Pesawat kami jam setengah 4 sore, dan masih akan transit selama 7 jam di Bali.

Sampai di bandara, hal pertama yang kami cari adalah minuman dingin! Mbanggi beli kopi yang nggak ada rasa kopinya, wkwkwk. Pesawat kami tiba on time, jadi sekitar jam 5 sore aku dan mbanggi udah menginjakkan kaki di Bali. Kami memutuskan untuk ngejar sunset di Kuta. Karena macet, kami baru sampai di Kuta hampir jam setengah 7 malam. But surprisingly, sunset nya masih nampak, walau sedikit.


Kuta ramai bangeeet, ahaha. Ngga bisa dapat foto yang ngga ada orangnya. Setelah nonton sunset, atas informasi bapak grab yang kami naiki sebelumnya, ada Nasi Pedas Bu Hanif yang terkenal nggak seberapa jauh dari Kuta, dan halal. Jadilah dengan berbekal gmaps, jalan kaki, aku dan mbanggi ke sana demi mengisi perut yang keroncongan. Dan memang bener, mantap banget nasinyaaa, porsinya banyak, enak, sambelnya pedes banget, trus muraaah. Aku pesen nasi, lauk sate lilit, ayam pedes manis, krecek, plus urap, cuma 21reb. Nyaaamm. Setelah makan, kami lanjut perjalanan beli oleh-oleh di Krisna yang deket bandara. Seperti biasa lah, kalau perempuan beli oleh-oleh yaa, pasti lama, wkwkwk. Lelah belanja, kami mampir ke tempat makan gelato yang ada di seberang jalan. Nggak lama, kami langsung capcus balik ke bandara. Saking udah lelah dan ngantuknya, kami udah nggak ingat untuk foto-foto pulang. Biasa ritualnya foto pas berangkat dan pulang liburan, hahaha. Jadi foto pulang yang kami punya cuma ini..


Sampai sekitar jam setengah 3 pagi di Jakarta, perjuangan belum usai. Taksi ngantri pake banget. Akhirnya bela-belain install aplikasi myblueb*** demi bisa order taksi. Udah bisa order, eh si bapak taksinya salah masuk pintu keberangkatan. Kami akhirnya ke pintu keberangkatan. Dan, walhasil dimarahin sama petugas bandara karena nggak boleh njemput di terminal keberangkatan. Untunglah bisa diselesain sama bapak taksinya. Hampir jam 4 pagi, aku sampai kosan. Dan masih harus mendaki sampai kamarku di lantai 3, hahaha.

Well, Senin, 16 April 2018, liburan edisi Ende dan Labuan Bajo (plus Bali dikit) resmi berakhir. Alhamdulillah 'ala kulli haal :)

Seperti biasa, travelling selalu memberikan semanga positif bahwa masih banyak orang baik di dunia ini. Mas Ferdi, driver kami selama di Ende yang sekaligus jadi pawang anjing, khawatir kami nyasar pas naik Kelimutu, dan nyarikan tempat sewa motor pas hari terakhir di Ende. Mbak resepsionis di hotel Green Prundi yang dengan wajah cemasnya menyambut kami waktu kelamaan dijemput. Mas manajer hotel green Prundi yang ngejaminin KTP nya sendiri demi kami bisa nyewa motor.

Ini juga pertama kalinya aku ikut open trip yang pesertanya bisa nge-blend banget. Padahal ya ketemu di hari pertama, akrab langsung di hari ke dua, dan sedih kali pas hari ke tiga tripnya selesai. Billy, Michael, Robert alias Tiga Serangkai Sukabumi yang pada ngelawak mulu kerjanya. Jessy dan Paul alias masbul yang awalnya pendiem, eh hari ke dua udah ikut lompat-lompatan dari atas kapal, wkwk. Mba Umi sang traveller sejati yang udah pernah solo travelling ke yurop (ntaps!), Rizky yang nampak banget passion fotografinya, kerjaanya foto-foto mulu, haha. Dan David, bule berdarah Indonesia yang pergerakannya udah ngga ngerti banget lincahnya ampun-ampunan. Last but not least, mas Tarsi, tour leader kami yang baik hati dan selow banget orangnya :D

Perlu dicatat bahwa sebagian besar foto-foto ketika liburan di Bajo diambil dalam keadaan kami belum mandi, hahahaha. Ya gimana, demi menghemat air tawar supaya kami bisa mandi di hari terakhir, hemat air adalah wajib hukumnya. Jadi kami mandi sekali sehari aja, dan itu pasti pas semua kegiatan udah selesai, sore/malem gitu mandinya. Nah usut punya usut, ternyata karena saking hematnya, air tawar di kapal masih sisa 200 liter! Ohmy, kayaknya emang pada dasarnya males mandi semua ih :p

Buat aku dan mbanggi sendiri, liburan ke Labuan Bajo adalah keinginan sejak pulang dari Lombok tahun kemarin. Banyak hal yang terjadi sampai liburan ini benar-benar terwujud. Mulai takut ngajuin cuti, timing yang kami nggak kunjung sepakat, partner travelling yang awalnya ikut trus nggak jadi, kebimbangan-kebimbangan selama di Ende, dan banyak lagi. Yang nggak berubah sih decision making pas beli tiketnya, sama-sama nggak pakai pikir panjang. Kalau pas ke Lombok dulu kami mutusin beli tiket pas lagi ngopi bareng, ke Bajo kali ini kami cuman komunikasi lewat watsap pas sama-sama lagi di kantor, hahaha. Temenan ama mbanggi emang bahaya :p

Alhamdulillah berkesempatan untuk menikmati liburan yang menyenangkan dan dikelilingi orang-orang baik :)

Sampai jumpa di liburan jauh tahun depan, Insya Allah :)



Rincian Pengeluaran selama di Labuan Bajo
1. Penginapan di Hotel Green Prundi: Rp301.500/ kamar (plus gratis dijemput kapanpun dan kemanapun, plus pelayanan yang oke banget)
2. Sewa motor keliling Labuan Bajo: Rp75.000 plus bensin Rp20.000
3. Sailing trip 3 hari 2 malam (trip operator: Fun Adventure): Rp2.500.000/ orang, all in
4. Pesawat Bali - Jakarta: Rp1.889.964

Selebihnya mah jajan-jajan sendiri, dan nggak banyak juga habisnya. Tergantung seberapa konsumtif orangnya aja, wkwk.