Rabu, 14 Agustus 2013

Tak Ada CInta yang Lahir

0

"Raffaaaa, kamu gendutaaan..," Loli mencubit gemas perut Rafa yang sedikit buncit. Beda sekali dengan perawakannya beberapa tahun yang lalu.

"Auw!! Sakit, Lol ! Itu, si Vanya juga gendutan, kok..,"

"Enak aja! Aku langsing, kok.. Cuma pipinya doang yang gendutan, dikit pula!," sahutku membela diri.

"Hahaha, sudahlah kalian ini. Dari dulu emang cuma badanku yang paling keren, niiihh...," Leo menyahut sambil memamerkan otot lengannya. Tidak heran, dari dulu dia memang yang paling rajin olahraga.

Rumah makan ini masih saja tidak berubah, sejak beberapa tahun yang lalu, sebelum kami berpencar satu-satu karena pekerjaan. Sejak masa kuliah, kami suka sekali menghabiskan waktu di sini. Spot favorit kami ada di bagian taman, di mana ada satu meja dengan sofa rotan bulat berjumlah 5 buah, pas sekali dengan jumlah kami.

Aku memandangi satu sofa kosong, ada yang hilang. Ada yang tak datang dan duduk di situ seperti biasanya.

"Reno gimana kabarnya, sih? Kenapa dia nggak dateng?" tanya Raffa.

"Dia nggak bisa, ada meeting mendadak katanya, tadi aku telpon dia.." kata Leo.

Ya Tuhan, aku rindu..

Aku memandangi langit malam yang dihiasi bintang-bintang. Kalau saja ada satu yang jatuh, aku mau mengajukan satu permohonan, supaya semua bisa diulang, supaya tidak ada cinta yang lahir di hati kami berdua.

0 komentar:

Posting Komentar