Sabtu, 31 Maret 2012

tak ada lagi yang kucari :)

0

Aku tergesa turun dari angkot yang kunaiki sepulang kuliah. Hari ini Rama menghubungiku dan meminta aku meluangkan sedikit saja waktu untuknya. Nanti setelah kuliah, demikian kataku. Semester ini aku sangat menghindari bolos kuliah, sudah semester 6. Maka itu, walaupun kuliahku baru selesai jam 6 sore, aku tetap menyanggupi untuk menemaninya. Sudah agak lama sejak Rama menggandeng seorang perempuan di sampingnya saat itu. Sejak saat itu juga pesan singkatnya tidak pernah meramaikan ponselku lagi. Kadang ada semacam sesuatu yang hilang, mengingat dulu kami begitu sering menghabiskan waktu bersama-sama.

Agak cepat kulangkahkan kaki ke dalam taman. Taman ini favorit kami. Letaknya di tengah kota, memang, tapi suasananya enak. Ada air mancur kecil di bagian tengahnya, dikelilingi kursi taman mungil yang cantik dan nyaman. Aku sangat menyukai tempat ini. Bahkan ketika kami tidak bayak lagi mengunjungi tempat ini bersama-sama, aku masih sering ke sini ketika aku ingin sendirian. Kuedarkan pandangan ke seluruh sudut taman, mancari sosok Rama. Biasanya dia tidak sulit ditemukan. Badan berotot dan kulit yang gelap itu seringkali terlihat begitu mencolok. Apa mungkin karena ini sudah agak malam ya, makanya aku agak sulit menemukannya. Setelah beberapa menit aku hanya menoleh ke sana kemari, tiba-tiba seseorang menyambar tas yang kulingkarkan di bahu kiriku.

"Hei ?!", reflek aku menarik tasku. Sementara orang itu malah terus menggenggamnya dan malah menarikku untuk mengikutinya.

Jumat, 30 Maret 2012

Awal untuk Mimpi

0



Aku memandangi sosok-sosok yang lama sudah kukenal. Canda tawanya, sedu sedannya, tangis sedihnya, luka bahagianya, dan segala sesuatu yang begitu lekat dengan perjalanan selama ini. Bukan suatu perjalanan yang singkat, bukan pula perjalanan yang mudah. Entah berapa detik yang kita lewati bersama, menyatukan segala beda di bawah satu atap yang sama.
Rasanya baru kemarin saja, kita mencari nama-nama kita di depan pintu kelas. Menerka-nerka kelas mana yang akan menjadi tempat kita. Menanti dengan cemas, siapa yang akan menjadi teman-teman kita. Mungkin sekarang, kita masih dengan kecemasan yang sama seperti saat itu. Berada di ambang pintu perpindahan jenjang. Cemas tentang seperti apa dunia baru itu nantinya. Dengan orang-orang baru di dalamnya, orang-orang yang tentu banyak tak sepaham dengan koridor kita. Sedikit berdebar, menanti bagaimana rasanya berpisah dengan satu sama lain yang sudah lebih dari seorang teman. Mungkin lebih tepat disebut saudara.
Ini hari Minggu dan aku berada di tempat kesayangan ini. Tempat di mana seluruh kenangan mengguratkan kisah-kisahnya di dinding yang bisu. Kelas-kelas yang menyaksikan kegaduhan serta kekhusukan kami ketika panggilanNYA diserukan. Masih terekam juga dengan baik, bagaimana koridor-koridor ini telah menyatukan langkah-langkah kita. Semuanya masih manis di ingatan. Memori masih segar pula untuk diputar kembali di dalam kepalaku ini.
Sekolah tercinta ini tidak seperti biasanya. Malam ini saja, banyak hiasan-hiasan yang dipasang, kursi-kursi dan beberapa meja yang disusun menghadap panggung sederhana. Tempat ini menjadi yang terpilih di antara sekian pilihan. Mungkin karena memang di siniliah kita ingin menghabiskan waktu-waktu terakhir kita. Tempat di mana semua orang terkasih menapakkan kakinya setiap hari, setiap pagi. Kita memulai segalanya dari tempat ini, maka ketika akan lepas, di sinilah kita semua ingin menghabiskan waktu. Mungkin sekali ini saja, sebelum semua tenggelam dengan dunianya masing-masing. Ya, ini waktunya kita bermain-main dengan kenangan dan harapan.
“Hei, kamu mikir apa’an sih?”, tanya Vita membuyarkan lamunanku.
“Ah, nggak kok, cuma seneng aja ngeliat kita pada tampil beda malem ini. Cantik-cantik, ganteng-ganteng”, jawabku sekenanya. Akan repot kalau harus menceritakan bait-bait pikiran yang sejak tadi berkelebatan di otakku.
Hari ini semua memakai pakaian terbaiknya, berdandan sebaik-baiknya. Ada beberapa yang memakai gaun, beberapa lagi menggunakan setelan jas bak akan hadir ke pesta dansa, dan banyak lagi macam kostum hari ini. Aku sendiri lebih memilih memakai terusan merah berdetail lucu. Ini sudah yang terbaik, aku sudah berusaha menyingkirkan celana jeans dan kaosku. Jadi, kata kalian, memang aku cantik hari ini. Hahaha.
Beberapa murid pun mulai menampilkan persembahan-persembahan mereka. Segera malam yang awalnya hiruk pikuk dengan obrolan itu mulai diselingi dengan melodi-melodi gitar, alunan keyboard, dentuman drum, dan merdunya penyanyi-penyanyi profesional maupun dadakan. Sesekali riuh tepuk tangan membahana sebagai pertanda bahwa betapa kita menikmati acara dan suasana malam ini. Semuanya sederhana, tapi kesederhanaan itulah yang membuat malam ini semakin berkesan.
Tiba sudah di penghujung acara. Kulihat tidak seorang pun meninggalkan tempat duduknya sejak awal tadi. Kursi-kursi masih terisi penuh, bahkan sebagian lebih memilih untuk duduk di bawah, beralaskan plester lapangan tempat anak-anak lelaki bermain bola. Aku merasa sedikit berbeda, mungkin berdebar. Beberapa menit lagi aku akan maju ke panggung kecil itu. Aku didaulat untuk membacakan puisi karyaku untuk acara puncak. Akupun mulai berjalan ke belakang panggung sambil sesekali memainkan kertas naskah di tanganku. Sumpah aku gugup. Tapi, di belakang panggung sudah ada kamu. Iya, kamu. Lelaki yang mengambil hatiku sejak beberapa bulan yang lalu. Masih dengan sederhanamu, kamu tersenyum dan menghampiriku. Akupun tersenyum, sedikit tenang.
“Ayo, semangat..”, katamu pelan.
“Aku deg-degan, tau !”, tukasku cepat. Dan mungkin tanpa sadar aku memanyunkan bibirku beberapa senti, lalu seperti biasa dia selalu tertawa jika melihatku seperti itu. Tawanya membuat debarku berkurang. Berkurang untuk membaca puisi nanti, tapi bertambah di satu sisi yang lain. Debark berpindah untukmu, dan fakta bahwa kita tidak akan berada di tempat yang sama lagi setelah ini.
Ah, namaku dipanggil sudah. Senyummu mengantarkan aku menaiki tangga kecil menuju panggung.
“Lho, kok sendirian ? Sam di mana ?”. Ah, sial. Bagaimana bisa pertanyaan seperti itu dilontarkan di sini. Ternyata memang benar, cerita cinta tentang aku dan kamu itu sudah diketahui seisi sekolah. Aku cuma tersenyum menanggapinya. Tapi entah bagaimana adanya dengan wajahku yang tak tahan malu. Memerah kurasa.
                                                                        *****
Aku menatap langit-langit kamarku. Sekarang jam dua malam, dan aku baru saja merebahkan punggungku di atas tempat tidur. Cerita hari ini adalah salah satu yang terindah, selama tiga tahun aku hidup bersama di sekolah menengah atas yang kucintai ini. Segalanya masih berputar-putar di kepala. Rasanya terlalu singkat. Rasanya aku ingin punya waktu yang lebih lama lagi untuk terus membuat cerita-cerita baru bersama kalian. Tapi tak apa, bukankah kalian tak pergi ke mana-mana? Bukankah jarak dan waktu terlalu remeh untuk menjadi penghalang ikrar persaudaraan kita? Aku tersenyum simpul, karena kuyakin jawabannya “iya”.
Lalu biarkanlah semua berjalan seperti semestinya. Yang perlu kita yakini adalah, hari ini masih merupakan awal, di mana kita akan meletakkan pijakan-pijakan baru untuk masa depan kita. Masih ingat mimpi-mimpi yang pernah kita tuliskan bersama? Inilah yang harus dilewati untuk bias mencapainya. Berjanjilah bahwa persaudaraan ini telah tertanam kuat. Dan aku minta, supaya fragmen-fragmen indah kita, bisa kalian simpan di      sudut hati yang paling dalam.

Sabtu, 24 Maret 2012

hanya terlihat lebih indah :)

2

A : "coba kamu liat juga bintangnya pas di Sempu, baguuus banget.."
B : "hanya terlihat lebih bagus kan ?"

Itulah salah satu petikan percakapanku dengan seseorang, melalui sms. Setelah sehari sebelumnya aku dan 10 orang teman pergi berpetualang di Pulau Sempu. Salah satu momen tak terlupakan adalah waktu kami tiduran bersama di tepi pantai. Kepala menghadap ke langit, bersua dengan keindahan maha dahsyat ciptaanNYA. Langit malam Sempu yang penuh taburan bintang. Berharap ceritaku mendapat respon semacam "oh yaa? pasti bagus" atau "waah, jadi pengen liat juga". Tapi ternyata salah. Hahaha. Kamu selalu tidak terduga memang.

Rabu, 21 Maret 2012

DIA tidak tidur :')

2

somehow, tiba-tiba teringat percakapan sama seseorang. Udah lama sih ngobrolnya, dan sempet terlintas juga buat nge-post obrolan itu.. Nggak sempet-sempet, mungkin sekarang waktunya udah tepat.. :)

Singkatnya, obrolan saat itu mengarah ke kehidupan masing-masing kami. Saling bercerita. Lalu nyangkut ke temennya, lalu mulailah ngebanding-bandingin. Dia berkeras bahwa hidupnya lebih susah..

Ada sedikit rasa pengen tertawa. Bagaimana bisa seseorang menilai orang lain begitu saja, bahkan tentang kehidupan pribadinya ?

Senin, 19 Maret 2012

aku tidak pernah :)

2

pernah membayangkan bahwa tatap-tatap mata kita akan menjadi hal yang paling dirindukan selama seminggu ?
di tengah ketidakmampuan kita untuk saling bertemu
saling menyapa
aku tidak pernah

pernah membayangkan bahwa nyanyi-nyanyi itu selalu menjadi pengantar tidur ketika rindu mulai ramah menyapa kita setiap malam datang ?
di waktu kelelahan sehari mulai luruh dan diganti kerinduan
aku tidak pernah

pernah membayangkan jika barisan kata-kata itu mampu memanjakan hati masing-masing kita yang dilabuhi gejolak implisit ?
di saat ungkapan hati itu lebih mudah diterjemahkan oleh diksi dan frasa
aku tidak pernah

pernah membayangkan jika pesan-pesan di setiap pagi menjadi salah satu wujud rasa syukur ketika Dia memperkenankan kita menikmati mentarinya lagi ?
waktu kita saling ingat tentang rasa yang belum berubah seiring hari yang berganti
aku tidak pernah

pernah membayangkan kalau satu tarikan senyum itu mampu menggugurkan letih di setiap ruas-ruas diri ?
saat kita beberapa detik saja berpapasan dan menyempatkan diri untuk sekedar saling tersenyum
aku tidak pernah


maka biarkanlah semua menjadi tidak terduga
aku tidak pernah membayangkan semuanya terjadi seperti pada detik ini
mencemaskanmu yang kelelahan
entahlah, aku hanya ingin menulis
betapa aku tidak memprediksi hari-hari indah ini akan mampir atas nama aku dan kamu
iya, mungkin masih aku dan kamu
karena nanti ijin Tuhan yang akan mengubahnya jadi "kita"

:)

Kamis, 15 Maret 2012

tersenyum karenamu :)

0


"gimana caranya bikin kamu senyum?" 
pertanyaan itu meluncur begitu saja dari keluguanmu 
sebentar kemudian aku tertegun, bingung 
cara ? 
aku bahkan telah banyak tersenyum karenamu, tanpa kamu sadari 

melihatmu bergurau dengan teman-temanmu 

mendengarkanmu bernyanyi 

Minggu, 11 Maret 2012

aku juga harus pergi :)

0

Angin sepoi mempermainkan rambut sebahuku. Camar membelah merahnya langit. Senja ini masih sama indahnya sejak kami bertemu pertama kali. Masih sama indahnya seperti saat berpuluh kali kami menikmati kebersamaan di sini. Ya, di pantai ini, tempat semua keindahan yang terjadi di antara kami. Semua masih sama indahnya, hanya saja, mungkin dua orang yang duduk di sini tak lagi dengan hati dan rasa yang sama.

Sesekali kulirik sosok lelaki di sampingku. Matanya masih menerawang jauh ke depan, entah ke mana. Mungkin ke arah tenggelamnya matahari, atau malah menerawang ke masa lalu ketika pertama hatinya tertaut padaku. Sudah satu jam lebih dan kami hanya diam.

terimakasih, kamu :)

2

Malam itu aku cuma tertegun memandangi layar handphone. Masih merasa tak percaya. Bagaimana bisa hal-hal implisit yang kita ungkapkan melalui baris-baris kata itu seperti sangat mampu menangkap makna. Bagaimana bisa pembicaraan yang seimplisit itu ternyata menemukan titik temunya dan mengerti maksud satu sama lain. Belum lagi kalimatmu yang membuatku merasa sangat-sangat damai.

Sudah lama aku merasakan, tapi mungkin waktunya belum tepat untuk bicara. Tapi tiba-tiba malam itu datang, dan barisan kata itu muncul demikian lancar. Bertukar pendapat. Antara kamu dan aku, itu mulanya. Lalu kutemukan bahwa selama ini ternyata kita merasakan hal yang sama.

Minggu, 04 Maret 2012

Allah is the only reason for you to change :)

0

 When you’re right, no one remembers. When you’re wrong, no one forgets


those tweet, reminds me bout something :)


Yeah, kebanyakan memang seperti itu kan ya. Ketika seseorang berbuat baik, maka itu bukanlah hal spesial dan dengan mudahnya akan segera hilang dari ingatan. Namun ketika seseorang berbuat buruk, maka selamanya akan kekal dalam ingatan, tidak peduli seberapa besar kesalahan seperti itu. Entahlah apakah itu semua memang kecenderungan manusia, ataukah karena doktrin semasa kecil dengan peribahasa "karena nila setitik rusak susu sebelanga" ??