Tampilkan postingan dengan label love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label love. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Oktober 2019

Honeymoon Trip: Magelang dan Jogjakarta

0

Sekitar satu bulan sebelum acara nikah, Malang resmi kami coret untuk tujuan honeymoon. Padahal aku juga udah nyusun itinerary dll nya. Tapi yaudah, jadwal cuti dan pindahan kos memang nggak memungkinkan, yah memang belum berjodoh sama Bromo, jadi kami memutuskan untuk pilih destinasi yang relatif lebih dekat. Aku pilih Jogja (kota favorit) dan Magelang untuk trip kali ini. Mau napak tilas adegan-adegan di AADC 2, hahaa.

Daftar tempat wisata, pembagian hari, tempat nginap dll-nya aku yang urus, biar sesuai sama kemauanku, hehee. Memang nggak sempat bikin itin yang detail banget kayak pas mau ke Malang, karena keterbatasan waktu. Tapi at least udah tahu mau kemana aja dan ngapain aja. Satu hari setelah resepsi, hari Senin tanggal 29 Juli 2019, honeymoon trip kami dimulaaaaiii :D

Senin, 29 Juli 2019

Kereta kami berangkat jam 21.30 di stasiun Senen. Karena aku belum sempat packing untuk liburan, jadi dari rumah Om di Cibubur, kami mampir dulu ke kosanku untuk packing sejak siang hari. Sekitar jam 7 malam, berangkatlah ke stasiun dan langsung cari makan untuk ganjal perut biar nggak rewel selama sekitar 7 jam perjalanan ke Jogja. Setelah isi perut, kami cabs ke peron dan naik kereta. Tepat waktu, malam itu kereta meluncur menuju destinasi favorit sepanjang masa: Jogjakarta :)

Selasa, 30 Juli 2019

Selasa pagi, kereta kami berhenti di Stasiun Tugu yang saat ini sudah disebut Stasiun Yogyakarta. Dari sana, kami jalan menuju pintu keluar, dan menikmati Jalan Malioboro yang lebih sepi dari biasanya. Selain masih pagi, yaiyalah sepi, kan lagi hari kerja, wkwkk. Kebetulan doi udah lamaaaaa banget nggak ke Jogja. Beda sama aku yang tiap tahun hampir nggak pernah absen untuk main-main ke kota ini. Jadilah kami foto-foto melulu. Puas foto-foto, perut mulai kerucukan, akhirnya kamipun mencari makanan yang pas untuk disantap pagi-pagi. Setelah melewati beberapa stand makanan, pilihan jatuh pada soto ayam kampung yang nikmat, dekat Malioboro Mall.


Kenyang makan soto, kami lanjut ke agenda selanjutnya. Maunya aku ajak suami ke Beneng Vrederburg, tapi doi ngga mau, akhirnya kami cuma foto-foto di depannya. Karena waktu check in hotel masih lama, kami mutusin untuk ngurus ATM suami dulu. Yap, ATM doi ketelen pas sebelum resepsi, jadi yaudah lah mumpung ada kantor Bank B** di Malioboro, sekalian aja ngurus ATM. Tapi ganti ATM ngga semudah itu ferguso, kami harus ngurus surat kehilangan dulu. Jalanlah kami dengan nggeret koper dan memanggul keril, kami ke kantor polisi terdekat yang ternyata nggak dekat-dekat amat, hahaha. Sekitar jam setengah 10, kami selesai ngurus ATM, dan langsung menuju halte bus transjogja terdekat. Loh mau kemana? Mau ke Magelang :D

Jadi gini, rencananya kami akan menginap di Magelang 2 malam, baru nanti hari Kami balik ke Jogja dan menginap semalam aja. Kenapa naik transjogja? Biar seru lah semi backpacking gitu, hehee. Pertama kami naik bus transjogja nomor 8 sampai halte Ngabean, lalu transit naik transjogja nomor 9 menuju terminal Jombor. Nanti kami akan naik bus jurusan Borobudur dari sana. Tarif transjogja nggak banyak berubah, cukup Rp 3.500 aja udah bisa kemana-mana, asal nggak keluar dari halte.

naik transjogjaa
Sesampainya di terminal Jombor, kami langsung menuju bus jurusan terminal Borobudur, karena penginapan yang kami booking memang letaknya persis di sebelah Candi Borobudur.


Bus jurusan Borobudur ini memang nggak senyaman bus transjogja, tapi ya gimana lagi, adanya ini. Tanpa AC, dan jarak antar tempat duduknya sempit banget, akhirnya dengan barang yang bejibun itu kami pilih duduk di bangku paling belakang. Perjalanan menuju Borobudur ditempuh dalam waktu sekitar satu jam. Sampai di terminal Borobudur, kami lanjut naik becak menuju penginapan pertama: Cempaka Guesthouse Borobudur. Seperti namanya, penginapan ini lokasinya persis di sebelah candi megah yang sudah terkenal di seantero dunia. Masuk sedikit lewat gang sempit dari pinggir jalan, dan taraaaaaa sampai deh..
kamar kami ada di sebelah kiri
Sampai di penginapan, yang pertama ada di pikiranku adalah: hmmm sesuai ekspektasi. Memang sengaja cari penginapan yang tenang dan nyaman. Ternyata sih bonus lumayan instagramable, tapi waktu itu lagi males foto-foto, hahaha. Cempaka guesthouse ini hanya punya beberapa kamar, kalau nggak salah hitung sih mungkin nggak sampai sepuluh kamar. Kami pesan Deluxe Room, dengan ukuran kamar yang luasnya cukup lah untuk 2 orang. Fasilitas ada heater, kopi teh dkk, lemari tempat nggantung baju, ada tv juga, wifi, toiletries lengkap. Nilai plus banget kamar mandinya yang super nyaman dengan bathtub yang bikin betah berendem lama-lama. Lagi-lagi nggak aku foto, hehe, coba browse aja langsung ya : Cempaka Guesthouse Borobudur. Oh iya, di sini juga nyediain jasa sewa motor lho, jadi kami nggak perlu bingung nyari persewaan motor. Sehari biayanya Rp90.000, di luar bensin.

Hari pertama ini sebenernya kami punya banyak rencana. Sore mau ke Borobudur, lalu jalan-jalan di sekitar. Yak, tapi rencana tinggal rencana, kami lelah dan lebih memilih untuk leyeh-leyeh aja sambil beli makanan untuk ganjal perut. Literally leyeh-leyeh, tidur siang, bangun-bangun udah hampir jam 5, haha parah. Akhirnya sekitar abis maghrib kami mulai lapar dan memutuskan untuk jalan ke luar nyari makan. Beneran jalan kaki nih, karena motor baru mulai disewa besok paginya, untuk pergi ke Air Terjun.

Jalan kaki sekitar jam 7 malam, ternyata udah lumayan sepi, ngga kayak di Jakarta (yaiyalah). Warung-warung di pinggir jalan udah pada tutup, sampai akhirnya kami lihat ada warung yang masih menyala lampunya, walau bapak pemilik warung kayaknya lagi beberes mau tutup, wkwkwk. Akhirnya kami makan di sana, saya pesan bakmie godhog, Rizki pesan bakso pakai nasi. Rasanya not bad, apalagi bapak dan ibunya melayani dengan super baik. Selesai makan, kami ngobrol-ngobrol sama ibu pemilik warung sekalian bayar, kami pun nanya dimana ATM terdekat. Sebenernya nggak jauh, tapi kalau jalan ya capek, mbak, itu yang dibilang si Ibu. Di luar dugaan, kami dipinjami motor, dong. Huhuu terharuuuu. Akupun nitipin KTP sebagai jaminan, ga tega si Ibu baik banget <3

Hari pertama di Magelang kami tutup dengan urusan per-ATM-an, makan, dan leyeh-leyeh, belum satupun destinasi yang kami kunjungi. Yah nggakpapa, namanya juga honeymoon, yang penting quality time berdua :)

Rabu, 31 Juli 2019


Sebelum berangkat jalan-jalan, kami sarapan dulu. Untuk sarapan, kami ditanya sehari sebelumnya, mau sarapan ala indo atau ala western. Kalau western ya pakai sandwich gitu deh. Karena perut orang indo, yaudahlah pesen sarapan ala indo aja, alias nasi goreng, wkwkk. Surprisingly, it tasted gooood. Nasi goreng yang dimasak bersama potongan wortel dan buncis. Nyaaammm..


Destinasi pertama adalah Air Terjun Kedung Kayang yang lagi hits di medsos. Seperti di foto, kami berangkat ngga pagi-pagi amat, tapi masih lumayan teduh di sana. Sepanjang perjalanan mata dimanjain sama pemandangan sawah, Gunung Merapi dan Merbabu di kanan-kiri, serta hawa sejuk yang makin lama makin berasa dingin. Perlu waktu sekitar satu jam untuk sampai ke air terjun ini. Sampai di tempat wisata, setelah parkir motor, kami masih harus jalan sedikit sekitar 15 menit. Sempat berunding untuk ke bawah air terjun atau cukup lihat dari atas aja. Tapi mengingat kami nggak bawa baju ganti untuk basah-basahan, yaudah deh cukup dari atas aja, foto-foto.

Sampai di spot foto, ada 2 spot yang sudah nggak asing lagi kalau kita jumpai foto air terjun ini di medsos. Dan memang masyaallah yaaa pemandangannya emang relaxing banget...

ku lupa ini Merbabu atau Merapi, wkwk
pemandangan air terjun dari atas
berdua <3
baguuus pemandangannya, sukaa


Matahari lumayan terik, tapi anginnya dingin. Hawa begini nih yang biasanya bikin kulit gosong, wkwkwk. Setelah puas foto-foto, kamipun jalan balik. Tapi demi lihat mushola dan warung, akhirnya kami pesen mie instan dulu, sholat, baru deh lanjut ke destinasi berikutnya. Awalnya mau memperbanyak stok foto ig di Pinusan Kragilan. Tapi doi seperti kurang berminat. Akhirnya kami memutuskan untuk capcus ke air terjun lagi. Kali ini namanya air terjun Grenjengan Kembar.

Hampir satu jam perjalanan menuju air terjun ke dua di perjalanan kami ini, setelah sempat tergoda mampir ke hutan pinus tempat selfie, melewati rumah-rumah penduduk, sampai akhirnya menemukan plang petunjuk nama air terjun, aku mulai ragu. Rizki tetep yakin untuk lanjutin perjalanan dengan naik motor, walau jalanannya sempit banget dan masuk hutan gitu. Gmaps juga sudah ngga begitu membantu. Tapi yaudah kami tetap maju. Ada beberapa spot selfie tapi kok sepi banget dan berdebu, kayak udah lama banget nggak dikunjungi. Perasaanku nggak enak, tapi suami masih yakin. Kami ngelewatin jembatan kayu yang hiasan-hiasannya udah lusuh, aku udah nyaranin balik aja, tapi nanggung katanya.

Sampai di satu titik yang doi yakin motor bakal susah ngelaluinnya, aku turun dan jalan beberapa meter ke depan. Cek sama foto yang ku browsing di sosmed, lalu sampailah pada satu kesimpulan:

Air terjunnya kering, lagi kemarau :(

itu turun lagi beberapa meter, tapi karena surut, ya ngga ada pemandangan apa2, hiks
Kecewa sih, tapi yaudah lah. Akhirnya kami balik lagi menuju penginapan. Lihat waktunya dulu, kalau masih cukup, maunya mampir ke hutan pinus (teteeeeup). Sampai Ketep Pass, sekitar setengah 3 sore dan akhirnya kami mesti realistis kalau nggak mungkin mampir ke mana-mana lagi karena sore nanti kami mau ke Borobudur nikmatin sunset. Kamipun pilih untuk nongkrong makan mendoan di salah satu warung yang berjajar di seberang Ketep Pass.

ngemil with the view...
Jam 3an, kami cabs pulang ke penginapan. Perjalanan sekitar satu jam sampai penginapan, lalu kami sholat ashar dan leyeh-leyeh sebentar. Jam setengah 5an, kami berangkat ke Borobudur yang cuma sepelemparan batu dari tempat kami. Belajar dari pertama kali aku ke Borobudur, siang hari, puanas banget. Dan memang sore hari adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi Borobudur. Suasana udah adem, nggak terlalu ramai orang, dan yaaa, view sunsetnya memang menjanjikan :)

bapak satpamnya rada ganggu pemandangan -_-
pict by me :p


Sunset di Borobudur mengingatkan aku pada momen nonton sunset di Candi Ratu Boko. Nggak bisa nyari sunset di pantai, di candi pun jadi, wkwk. Cuman ya emang kudu pinter-pinter nyari spot untuk foto (spot instagramable maksudnya). Kalo cuman sekedar pengen duduk-duduk nikmatin sunset sih banyak spot yang bisa ditempati. Kami nggak bisa terlalu lama di sini, karena jam 17.15 udah diumumin untuk segera turun dan capcus dari area candi.

Namanya area candi, pasti dikelilingi taman yang luaaaas. Setelah kaki lumayan lelah, sampai juga di gerbang keluar. Kamipun segera ambil motor di parkiran, lalu mengisi perut di warung bakso di sekitaran Borobudur. Baksonya lumayan enak, cuma sayangnya aku lupa namanya apa, hehe. Yak, petualangan hari ini ditutup dengan sunset yang indah. Besok, rencananya kami akan berburu sunrise di Punthuk Setumbu yang berdasarkan Gmaps jaraknya cuma 15 menit dari penginapan. See you tomorrow :D

Kamis, 1 Agustus 2019

Awalnya kami bimbang mau berangkat jam berapa ke Punthuk Setumbu. Mau berangkat setelah subuh, takutnya udah ketinggalan sunrisenya. Tapi mau berangkat sebelum subuh juga takutnya tempat sholat di sananya ngga nyaman. Akhirnya setelah mempertimbangkan ini itu, kami tetap sholat subuh dulu, baru deh berangkat.


Benar aja, sekitar jam setengah 6an kami udah sampai di lokasi. Setelah parkir motor, kami lanjut ke tempat berburu sunrise-nya. Jadi kami harus menyusuri tangga untuk sampai ke teras pandangnya. Tenang, nggak begitu menanjak, dan nggak begitu jauh juga, jadi bisa dinikmati lah perjalanannya. Kalau mau beli cemilan atau minuman juga bisa beli di warung-warung yang berjejeran di pinggir jalur tangga. Oh iya ternyata di sini ada mushola-nya, mungkin memfasilitasi pengunjung yang dari jauh ya, yang nggak sempat sholat subuh dulu.

Menurutku pribadi, pemandangan yang lebih magis dan menarik malah bukan sunrise-nya, tapi pemandangan Borobudur yang tertutup kabut pagi.



suka banget sama berkas matahari menembus awan
Selesai menikmati view dan sejuknya Punthuk Setumbu, kami pun kembali ke penginapan untuk sarapan, bebersih, dan siap-siap untuk check out cabs ke Jogja. Nggak naik becak seperti awal kedatangan kami di Magelang, kali ini kami pesan ojek online. Sempat mempertimbangkan nerus aja sampai Jogja sekalian, tapi naik bis memang pilihan yang lebih ekonomis, wkwkwk. Akhirnya kami turun terminal Borobudur dan naik bis sampai terminal Jombor. Sampai di Jombor udah siang banget dan panas, tak sanggup lagi naik transjogja, maka ojol kembali jadi pilihan. Sekitar jam 4 sore, kami sampai ke penginapan yang letaknya di sekitaran Malioboro. Terfavorit, nginap dekat Malioboro itu emang strategis banget karena kemana-mana deket. Mau belanja deket, mau ke stasiun deket, mau cari makanan apalagi, deket banget.

Hari ini agenda kami nggak muluk-muluk, pokoknya mau makan bakmie jogja, kata suami. Baiklah, aku rekomendasikan bakmi Mbah Gito, walau udah tau ngantrinya luar biasa. Tapi kapan lagi kan, mumpung ke Jogja ini.

Sebelum cabs ke bakmi Mbah Gito, kami mampir dulu ke Tempo Gelato. Tempat makan eskrim yang udah pasti aku kunjungi kalo ke Jogja :9


Kalap beli cup yang buesar, dan ternyata Rizki ngga seberapa doyan eskrim, wkwkwk. Jadilah kami cuma berhasil ngabisin 3/4 eskrimnya. Kami lanjut mampir dulu ke alun-alun Kidul. Rizki penasaran pengen coba lewatin 2 beringin kembar. Doi ngga percaya kalo sebelum jalan kudu diputer-puter dulu badannya. Sebenernya udah hampir berhasil, tapi dia ngga percaya tiap aku arahin, hahaha. Dan malu-malu dilihatin orang, padahal yang nyobain kan ngga cuma dia doang.



Sebelum bener-bener cabs ke Mbah Gito, kami menyempatkan diri beli jajanan favorit, apa lagi kalau bukan telor gulung, wkwk. Kami makan sambil duduk di pinggir alun-alun. Ada hal menarik di salah satu sisi alun-alun. Kami melihat beberapa anak usia sekolah yang duduk melingkari seorang mbah-mbah perempuan, mereka seperti sedang wawancara. Rizki yang penasaran langsung ikut menghampiri, ngobrol lah dia sama salah satu anak laki-laki. Ternyata benar masih anak sekolah, ada tugas wawancara gitu. Selesai wawancara, mereka ngasih mbah itu sekotak martabak manis alias terang bulan. Entah Rizki hatinya lagi mellow atau gimana, dia nyamperin mbah dan ngasih something. Di luar dugaan, si Mbah malah nawarin terang bulan itu ke Rizki. Masya Allah yaa, memang kita ngga perlu kaya dulu untuk bisa memberi. Asli terharu. Sebagai orang yang terbiasa dengan kerasnya Jakarta, kelembutan hati si Mbah bener-bener barang langka yang nggak mudah dijumpa.


Sesampainya di Mbah Gito, seperti biasa, ramainya luar biasa. Waiting list nggak seberapa panjang, cuma mas pelayannya udah bilang kalau mungkin makanan harus ditunggu ready nya selama 2 jam. Ya tapi karena nggak tau kapan lagi bisa ke sana, kami iyain aja. Benar, nggak lama kami langsung dapat duduk di dalam, cuma ya itu, nunggu makanannya lama. Tapi alhamdulillah nggak sampai 2 jam, perut kami udah terisi penuh, hehe.

Hari ini ditutup dengan nikmatnya bakmi Jogja, besok agendanya adalah belanjaaaaa, yeaaayy :D

Jumat, 2 Agustus 2019

Yak, ini adalah hari terakhir kami honeymoon, hiks, kembali ke kehidupan nyata. Setelah sarapan, kami langsung cabs ke Pasar Beringharjo. As usual beli bebatikan, dan nyari blangkon mini buat Zhafran si gemes. Puas belanja, kami balik ke hotel. Rizki sholat Jumat, aku beres-beres persiapan check out.

Rizki balik dari sholat Jumat, udah beres semua, kami check out dari hotel, lalu menuju ke stasiun untuk nitipin barang-barang. Siang ini, sebagai agenda penutup, kami berencana pergi ke Parangtritis. Aku belum pernah ke sana, walau ke Jogja udah berkali-kali banyaknya. Setelah urusan titip menitip barang sudah beres, kami cabs makan siang dulu di Spesial Sambel, wkwkwk. Tempat favorit, walau nunggu makanannya lumayan lama. Akhirnya, hampir jam 3 sore, kami baru bisa jalan ke Parangtritis.


Perjalanan ke Parangtritis membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Sebenernya deg-degan juga nih keburu atau nggak waktunya. Waktu menunjukkan pukul 4 sore ketika kaki kami menjejak pasir Pantai Parangtritis. Sensasi yang berbeda, melihat hamparan lautan biru yang berpadu dengan pasir berwarna legam, dan ombak yang bergulung-gulung di kejauhan. Hembusan angin yang lumayan kencang agak bikin belibet sama kerudung. Tapi aku tetap happyyyyy sekali bisa main ke pantai lagi sejak terakhir ke Labuan Bajo tahun lalu <3




Kami nggak sempat nungguin sampai sunset, takut ketinggalan kereta. Akhirnya jam 5 sore kami cabs balik ke Jogja. Jam 8 malam, kereta membawa kami ke Jakarta, petualangan Magelang - Jogja sudah sampai di ujungnya.

Alhamdulillah, akhirnya pergi ke salah satu kota kesayangan ini bersama suami tercinta. Insya Allah masih banyak tempat-tempat yang akan kita kunjungi berdua, masih akan jauh langkah-langkah kaki ini kita jejakkan beriringan, dan masih panjang waktu-waktu yang kita habiskan untuk bergandengan tangan.

I love you, mas suamayyy.. selamat menempuh petualangan terpanjang sebagai keluarga :)

Senin, 26 Maret 2018

Pembicaraan tentang Kanaya

0

Image result for galeri nasional indonesia
pict from betraveler.wordpress.com

Matahari belum bersinar begitu terik ketika Haikal memarkir motornya. Dibukanya helm, kemudian dirapikannya masker dan kedua sarung tangannya di dalam jok. Haikal memutar badan, dipandangi sejenak Gedung A Galeri Nasional Indonesia yang sekarang hanya berjarak beberapa puluh meter saja dari tempatnya berdiri. Dulu setiap ada pameran, Haikal tak pernah absen datang ke sini. Tapi itu sudah lama, sebelum komunitas sepeda mengambil jatah waktunya mengagumi karya seni di Galeri ini.

Haikal melangkah santai menuju pintu masuk. Pukul sembilan, harusnya sudah buka, sih, gumamnya dalam hati. Benar saja, sudah ada petugas di bagian pendaftaran. Seperti biasa, acara di sini selalu gratis, ia hanya diminta untuk mengisi buku tamu dan menitipkan barang-barang yang tidak diperlukan. Hari ini, bukan karya seni yang membawa langkah Haikal kemari, tapi ada satu dan lain hal yang harus ia bicarakan dengan sahabatnya. Haikal menarik napas panjang, seperti mencoba melepaskan sesuatu, atau sekedar mencoba meyakinkan dirinya sendiri?

Galeri Nasional Indonesia ini terdiri dari 3 bagian bangunan. Gedung A, yang paling besar, nampak seperti bangunan utama, letaknya di tengah-tengah. Kemudian, di samping kiri adalah gedung B dan gedung C, bersebelahan. Di bagian belakang, adalah gedung D, cukup luas jika dibandingkan dengan gedung C dan D yang sebenarnya lebih cocok disebut ruangan, karena ukurannya yang tak seberapa besar.

Hari ini ada pameran untuk komunitas-komunitas seni yang ada di Jakarta. Otomatis karya-karya yang dipamerkan adalah milik anggota komunitas-komunitas itu yang sebelumnya sudah diseleksi terlebih dahulu oleh panitia. Dan seperti yang sudah bisa Haikal tebak, Vero berhasil lulus seleksinya.

"Vero!" kencang Haikal menepuk bahu sahabatnya.

"Wah, datang juga lu, bro!" raut wajah Vero tak bisa menyembunyikan kegembiraan. Senang sahabatnya mau datang dan berbagi rasa bangga dengannya.

"Datang lah, kapan sih gua pernah langgar janji sama lu? Hahaha. Eh, mana nih, maha karya lu?"

"Hehe, sini sini gua tunjukin."

Dua sahabat itu berjalan beriringan. Haikal memperhatikan lukisan-lukisan yang berjajar di dinding. Di bawah masing-masing lukisan, tertera judul dan nama pembuatnya. Haikal jadi penasaran, lukisan seperti apa yang dibuat Vero. Sambil berjalan, Haikal teringat tujuan utamanya ke tempat ini.

"Ver, lu masih pengen ketemu lagi sama Kanaya?"

Tiba-tiba Vero menghentikan langkahnya, kaget. Sudah beberapa minggu berlalu sejak pembicaraan tentang Kanaya tak pernah lagi dibahas. Lalu tak ada angin tak ada hujan, Haikal menyebut lagi nama itu. Nama yang punya kesan tersendiri untuk Vero.

"Kenapa emangnya?"

"Gapapa. Lu udah nemu cara belum untuk ketemu dia lagi?"

"Belum, Kal," Vero menunduk sebentar dan mulai berjalan lagi.

"Gua mau bantuin lu."

"Serius lu, Kal?" mata Vero terbelalak.

"Iye, tapi jangan seneng dulu. Ada syaratnya. Syaratnya tuh, lu ha--"

"Yaelah, syarat apaan sih? Lu ama temen baik sendiri kok gitu amat. Pelit."

"Setdah! Jangan suudzon dulu. Ini syaratnya bukan buat gua, tapi bu--"

"Hah? Kanaya ngajuin syarat apaan?" sergah Vero tak sabar.

"Ver, lu jangan asal motong omongan gua melulu dong. Mau denger nggak sih sebenernya?"

"Hehe, sori, Kal. Gua penasaran."

"Syaratnya, lu harus sabar."

"Sabar? Itu doang?"

"Bukan 'doang', Ver. Gua serius dengan kata-kata gua, lu harus sabar. Lu harus mulai semua dari awal, dari nol banget. Lu harus memulai semuanya sebagai teman. Lu lupain dulu kalau lu ngerasa tertarik sama Kanaya. Posisikan lu sebagai teman aja, teman yang ingin kenal sama dia, nggak lebih."

Vero berhenti melangkah, dibentangkannya tangan kanannya ke sebuah lukisan.

"Ini, hasil karya gua, Kal," katanya bangga.

Di hadapan mereka, nampak lukisan kampung nelayan. Rumah-rumah di tepi laut, pijakan-pijakan kayu, serta cahaya matahari yang membuat permukaan air laut berkilat-kilat semacam kristal. Ada dua nelayan di dua kapal yang berbeda. Nelayan pertama sedang membuang sauh, sedangkan nelayan kedua nampak akan pergi melaut. Haikal memandangi lukisan itu lekat-lekat. Sejurus kemudian, dia malah bertanya.

"Lu yang mana, Ver?"

"Kenapa lu bisa tau kalau salah satu nelayan itu ngegambarin gua?" tukasnya cepat, malah balik bertanya. Haikal tertawa.

"Heh, kita nggak baru sehari dua hari kenal. Udah cepet jawab, lu yang mana?"

"Gua yang pegang sauh, mau nurunin sauh."

"Oooh, udah capek berlayar rupanya, pak nelayan?" ditinjunya pelan bahu Vero.

"Gua mau nyari tempat berlabuh, Kal, bukan lagi sekedar tempat bersandar."

"Ada banyak hal yang terjadi sampai bikin Kanaya susah banget percaya sama orang baru. Itu juga yang bikin dia selalu abai sama orang-orang yang bilang tertarik sama dia walau baru beberapa hari kenal."

Vero mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Tapi jadi ada satu hal yang mengganggu pikirannya. Tiba-tiba Haikal berjalan menuju satu lukisan abstrak di dinding seberang lukisan Vero. Dipandanginya lukisan itu lamat-lamat.

"Lu lagi nyoba ngartiin lukisan ini, Kal?" tanya Vero.

"Kagak. Gua lagi mikir, bahkan lukisan semrawut gini, pasti punya arti. Pelukisnya pasti punya maksud dan tujuan nih ngelukis kayak ginian," kata Haikal dengan mimik serius.

"Semrawut lu bilang? Sembarangan lu, Kal!"

Haikal nyengir. Sadar kata-katanya tadi bisa berbahaya kalau didengar si pembuat lukisan.

"Eh, perasaan tadi di awal-awal, lu bilang mau bantuin gua. Lu mau bantuin apaan, Kal?"

"Lah, kan gua udah bantuin kasih tau kalau lu harus sabar. Itu tips deketin Kanaya, lho. Gimana sih, lu," jawab Haikal sambil membungkuk mengamati satu karya tiga dimensi. Patung, lagi-lagi bentuk abstrak, seabstrak dirinya.

"Cuman itu? Lu nggak pengen ketemuin gua sama Kanaya, gitu?"

Haikal menegakkan badannya lagi dan menatap Vero.

"Kanaya suka datang ke sini. Kalau lu beruntung, lu akan ketemu dia hari ini. Gua bilang ke dia, ada pameran bagus di Galeri Nasional. Lu pantengin tuh semua pengunjung, jangan sampe ada yang kelewatan. Kalau perlu, lu tukeran tempat aja sama yang jaga buku tamu di depan! Hahahaha."

"Sialan lu!"

Keduanya tergelak, tapi tak lama. Banyak pengunjung yang kemudian menatap ke arah mereka berdua. Berisik.

"Kal, sedekat itu, dan se-ngerti itu lu sama Kanaya. Kenapa nggak lu gebet aja sendiri sih, si Kanaya?"

Haikal menghela napas, mengulur waktu mencari kata-kata yang tepat.

"Gua nggak bisa sama Kanaya," hanya itu yang muncul dari mulut Haikal.

"Kenapa?" tanya Vero.

Haikal terdiam. Diingatnya peristiwa dua tahun yang lalu. Peristiwa yang membuat Haikal yakin, bahwa pada suatu titik, keberadaannya hanya akan menjadi air mata untuk Kanaya.

Peristiwa yang selalu diingat Haikal, dan akan ia tutup rapat-rapat sebisanya.

Minggu, 20 November 2016

Batas yang Jelas

7

pict taken from picture.4ever.eu

Lapangan Banteng di hari Sabtu bisa dipastikan tak akan pernah sepi. Mulai anak muda sampai lansia, dari yang sekedar jalan santai hingga ditemani pelatih lari. Tempat ini terbagi menjadi tiga area. Area pertama adalah lapangan sepakbola, kemudian di sebelahnya ada jogging track, dan area ke tiga adalah taman. Mereka yang biasa lari pagi nggak hanya memfavoritkan jogging track, tapi juga area taman yang punya pemandangan pepohonan hijau nan menyejukkan mata.

Pagi itu matahari masih malu-malu bersembunyi. Sementara di ujung jogging track, Haikal sedang membenahi ikatan sepatunya, memastikannya erat dan terasa nyaman. Beres dengan sepatu, Haikal menegakkan badannya dan memulai pemanasan ringan. Hanya perlu waktu sepuluh menit, sampai badannya dirasa siap untuk lari pagi hari ini.

“Kal!”

“Ah, datang juga, lu, akhirnya. Sejak kapan lu bangun pagi pas weekend begini, ha?”

“Sejak dulu, lah, bro! Yuk ah!”

Yang Haikal tahu, Vero tak pernah absen untuk bangun siang di kala weekend. Yang Vero tahu, dia harus bangun pagi hari ini, menemui Haikal, dan memenuhi rasa penasarannya sejak pulang dari liburan ke pantai dua bulan yang lalu.

“Mau liburan ke mana lagi, lu?”

“Rencananya sih ke Lombok, Kal, hehe..”

“Kapan?”

“Bulan depan. Gua udah beli tiket, udah pesen penginapan juga. Tinggal berangkat aja.”

“Ooh.”

Dua sahabat itu terus berlari mengelilingi lapangan. Bulatnya matahari mulai nampak di samping gedung kembar Djuanda. Sejuk pagi perlahan menghangat. Vero dan Haikal membicarakan masa dimana mereka masih sering bertemu, berdiskusi banyak hal, dan sering pergi ke tempat-tempat eksotis bersama teman satu geng pecinta alam mereka yang kini sudah tersebar ke seluruh penjuru Indonesia.

“Kal, lu nggak mau ngadain open trip lagi?”

“Nggak tau. Belum ada rencana. Kenapa? Lu mau ngajak gua liburan?”

“Bukan ngajak lu, lah!” sahut Vero cepat.

“Lah terus?”

“Gua pengen ketemu lagi sama temen lu, tuh.”

“Temen gua? Temen gua yang mana?”

“Yang waktu itu ikut liburan.”

“Kanaya maksud lu?” reflek Haikal membelalakkan kedua matanya dan menatap Vero.

“Biasa aja dong, respon lu gitu amat. Nggak suka?”

“Bukan gitu, gua kaget aja. Kenapa lu pengen ketemu sama dia? Lu ngutang sama dia ya? Astaga kebiasaan lu sejak jaman kuliah nggak berubah juga ya. Kebangetan, lu pikir Kanaya itu ibu kantin? Sini lah lu bayar lewat gua aja, ntar gua sampein ke Kanaya.”

“Sembarangan, lu! Gua kasih keringet baru tau rasa lu!” ancam Vero sambil mengacungkan handuknya yang sudah separuh basah. Lalu keduanya tergelak.

“Jadi, apa yang bikin lu pengen ketemu sama Kanaya?”

“Nggak tau, Kal, gua penasaran aja sama dia.”

“Penasaran kenapa?”

“Haduh, masa gua mesti cerita panjang lebar dulu, sih?”

“Ya iyalah, Kanaya kan temen gua. Lagian, siapa tahu ada yang bisa gua bantu. Kali aja rasa penasaran lu bisa cukup terselesaikan dengan ketemu gua.”

“Dasar, lu!”

Vero seperti berpikir sejenak, mencoba memutuskan akan memulai ceritanya dari mana.

“Lu inget nggak, waktu itu kalian pada kesiangan nggak ngejar sunrise?”

“Hmm, iya inget.”

“Waktu itu, gua sama Kanaya pergi berdua buat ngelihat sunrise di Pantai Pasir Perawan.”

“Masa?! Pas kami pada bangun, si Kanaya lagi nyiap-nyiapin sarapan, kok.”

“Dia memang balik duluan, ninggalin gua yang masih nikmatin sunrise, sembari kepikiran kata-katanya.”

“Kata-kata apa?” kedua alis Haikal bertautan.

“Yaah, ada beberapa hal yang kami bicarain waktu itu. Gua tertarik sama filosofinya dia tentang pantai. Tapi di sisi lain, gua juga terheran-heran sama nggak ramahnya dia waktu gua tanya kapan bisa liburan bareng lagi.”

Haikal tertawa, matanya sejenak menatap arak-arakan awan di langit, mencoba mengingat peristiwa tiga tahun lalu.

“Kenapa lu ketawa?”

“Kanaya itu memang nggak ramah sama orang asing. Pertama kali gua ketemu Kanaya tuh di jembatan penyeberangannya halte Tosari. Waktu itu, kami sama-sama kejebak hujan. Dia lagi galau gara-gara baru ngerasain yang namanya merantau. Gua ajak ngobrol, dan defensif banget sikapnya. Bahkan, nyebut nama aja dia nggak mau.”

“Segitunya?”

“Iya, segitunya. Lumayan tengsin juga waktu itu, gara-garanya gua udah sebut nama dan ngulurin tangan, eeeh dia malah bilang kalau nggak biasa kenalan sama orang asing. Baru kali itu rasanya gua ditolak kenalan sama cewek, biasanya kan cewek yang rebutan pengen kenal gua.”

“Ckckck, pede amat lu, bro.”

“Hahaha. Yah, jadi jangan kaget sih, kalau dia jutek sama lu.”

“Tapi gua tetep pengen ketemu dia lagi, Kal.”

“Ngapa sih? Lu suka ya sama dia?”

Vero diam, bingung. Harus dijawab apa lah pertanyaan Haikal ini?

“Gua belum bisa bilang gitu, sih. Tapi gua tertarik sama dia. Eh tapi dia masih single, kan?”

“Setahu gua sih, masih.”

Cuaca Sabtu pagi itu amat bersahabat. Sinar matahari yang menghangatkan, sesekali angin sepoi pun bertiup, memberi kesejukan untuk meringankan lelah. Jogging track sedang tak begitu ramai, orang-orang lebih tertarik pergi ke area taman, sedang ada festival Flona di sana.

“Kal, udahan yuk, udah belasan kali muter nih, udah lima kilometer kayaknya.”

“Lemah, lu. Yaudah yuk duduk bentar di tribun.”

Tribun yang ada di lapangan Banteng ini memang tak begitu besar. Hanya terdiri dari beberapa tingkat, dan letaknya di sisi kiri gerbang masuk.

Haikal menenggak habis air dalam botol minumnya, sementara Vero sibuk melemaskan otot-otot kakinya.

“Jadi gimana, Kal? Gimana caranya gua bisa ketemu Kanaya lagi?”

“Lu tahu nggak, kenapa gua lebih pilih lari di sini, daripada area taman yang di sebelah itu?”

“Ya kan lagi ada acara di situ, Kal.”

“Aduh, bukan itu alasannya. Jogging track ini jaraknya jelas. Satu kali putaran, 400 meter. Batasannya juga jelas, tuh lu perhatiin ada bendera-bendera kecil di ujung lapangan, di paving pembatasnya bahkan ada tulisannya juga tiap 50 meter.”

“Hubungannya sama Kanaya tuh, apaan?”

“Bro, gua kenal lu sejak lama. Lu tuh baik sama semua orang, dan kebaikan lu juga sering disalahartikan. Walaupun lu nggak bermaksud kayak gitu.”

Haikal menghela napas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya.

“Kanaya itu emang jutek sama orang asing. Karena apa? Karena sekalinya dia udah kenal sama orang, apalagi udah deket sama orang, dia bakalan baik banget, percaya banget, dan banget-banget yang lainnya. Konsekuensinya, kalau disakitin, dia akan ngerasa sakit banget juga.”

“Menurut lu, gua bakal nyakitin dia gitu?”

“Kagak. Gua cuma mau ngingetin, lu mesti bikin batasan-batasan yang jelas soal perlakuan-perlakuan lu nanti ke Kanaya, ini nyambung sama jogging track yang gua bilang tadi. Kalau emang lu memposisikan diri lu sebagai teman, jangan lu lakuin hal-hal yang ngelewatin batas itu. Ibaratnya kalau temenan tuh perhatiannya level 2, jangan lu lebay ngasih perhatian sampai level 5.”

“Hmm, ya, paham gua.”

“Satu lagi.”

“Apa?”


Haikal menegakkan posisi duduknya lalu tegas berkata, “Kanaya itu rumah. Kalau lu belum mantap, kalau lu baru pengen singgah sebentar, cukuplah lu berada di terasnya aja.”