Tampilkan postingan dengan label family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label family. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Desember 2020

Hari Bersejarahku

0


Bulan Desember sudah hampir sampai di ujungnya, pertanda saatnya membuat postingan akhir tahun. Tahun lalu, aku absen bikin postingan macam itu. Entah, akhir 2019 atau awal 2020 itu bawaannya maleeeeesss banget. Apa karena bawaan hamil ya? Hahaha, alesaaan.

Sebenarnya, banyak hal mengesankan di tahun 2020 ini. Tapi semua hal mengesankan itu sama-sama tentang si bayi. Mulai dari pertama kali melihat wujudnya yang masih serupa sebutir kacang ijo, mendengarkan detak jantungnya, menikmati gerakan-gerakan kecilnya lewat layar usg, melihat bentuk wajahnya, sampai akhirnya menyaksikannya diangkat dari dalam perutku waktu lahiran. Ya, 2020 ini adalah tentangmu, anakku.

Maka di tahun ini, hanya ada satu hari yang paling bersejarah dalam hidupku, 12 Juli 2020 pukul 18.30 WIB, saat di mana aku terlahir sebagai seorang ibu :)

Sebagai seorang ibu, aku malah merasa diuntungkan dengan adanya pandemi ini. Kantor yang menerapkan WFH mulai bulan Maret benar-benar serasa angin surga. Karenanya aku terbebas dari rutinitas naik krl pagi-sore, bisa cuti mepet banget lahiran (in my case malah ngajuin cutinya setelah lahiran, gegara keburu brojol duluan, wkwk), dan yang pasti diidam-idamkan semua working mom adalah bisa bareng-bareng sama anak tiap hari, bahkan sampai usianya sekarang udah hampir 6 bulan. Sungguh nikmat tiada tara :)

 Banyak hal yang kupelajari sejak masa kehamilan sampai sekarang si bayi sudah bisa diajak bercanda. Tapi satu pelajaran yang paling mendasar adalah:

ketika sudah ada kehidupan yang ditiupkan dalam rahimnya, maka hidup seorang wanita tak akan pernah sama lagi.

Poros kehidupan sudah berganti posisi, ada seseorang yang jauh lebih penting daripada dirinya sendiri. Anaklah prioritas utamanya. Sedari dalam kandungan, begitu diperhatikan asupan-asupan yang masuk dalam perutnya, karena itu juga yang akan berperan untuk tumbuh kembang janinnya. Apalagi ketika bayi itu sempurna telah lahir ke dunia, masya Allah, akhirnya aku merasakan bagaimana rasanya seluruh perhatian tercurah untuk makhluk mungil ini. Belajar menyusui meski awalnya lecet-lecet dan sakit, kurang tidur di minggu-minggu awal (dan seterusnya, haha), belajar memandikan, dan lain sebagainya.

Sebagai alumni persalinan caesar, pasca lahiran adalah masa yang lumayan berat. Mulai dari belajar duduk, miringin badan, sampai belajar jalan. Kalaupun sudah lancar, masih ada sisa nyeri di otot perut kalau dipakai bangun dari posisi tidur, sakit punggung, badan yang masih cepat lelah, dan tentu saja perkara jahitan (jahitanku sempat ada yang lubang dan mesti jahit ulang sebanyak 2 jahitan).

Menjadi ibu baru berarti juga penuh dengan kegalauan. Galau kok ASI nya keluar dikit doang kalau dipompa, galau pas ngga bisa nenangin bayi yang lagi nangis, galau dan takut pas bayi cegukan, pun galau kenapa bayiku kok pup mulu tiap abis nyusu. Tambah galau lagi pas mama dan nenek udah harus pulang ke Surabaya. Besar sekali pertanyaan untuk diri sendiri, sanggup ngga ya aku ngurusin bayiku sendiri?

Alhamdulillah sampai lewat 5 bulan ini, pertanyaan besar itu terjawab juga, ku sanggup rawat bayi gembulku. Masih inget banget awal aku nyoba mandiin si bayi, aku hampir jatuh gegara punggung belum kuat dipakai jongkok lama terus tiba-tiba berdiri. Untung aja belakangku tembok, jadi bisa langsung nyandar. Akhirnya, bak mandi bayi ditaruh di atas kasur tiap mau mandi, dikasi tatakan biar nggak basah, wkwkwk. Udah makin mahir juga nyari posisi yang sama-sama enak untuk nyusuin bayi. Makin paham juga arti tangisan dia, apakah haus, kesel, bosen, minta gendong, atau lainnya. True, being a mother is a never ending learning.

Semesta-ku pun berubah total. Mau ngapa-ngapain mesti mikirin bayi dulu. Sesimpel mau ke minimarket juga mesti mastiin si bayi udah bobo atau udah kenyang. Missing my single time? Yes, sometimes. Kadang rindu juga pergi kelayapan semau sendiri tanpa mesti mikirin siapapun. Kadang rindu ngemall bareng temen, curhat-curhatan. Rindu ke salon creambath pijit berjam-jam dengan santai dan tenang. Dan bahkan kurindu teman-teman kantorku beserta rutinitasnya. Hahaha, banyak sekali yew yang kurindukan :p

But it's ok, kerinduan itu toh hanya muncul kadang-kadang. So far hari-hariku membahagiakan sekali dengan lihat senyuman si bayi, tatapan matanya ketika lagi menyusu, dengerin suara imutnya kalau lagi teriak-teriak atau ketawa. Masya Allah, she brings so much joy and happiness into my life :)

Kelamaan nggak nulis, tulisanku jadi nggak sistematis begini yak, wkwk. Akhir kata di akhir tahun ini, aku bersyukur atas apa yang Allah karuniakan kepadaku. Suami yang pengertian (walau sering ngeselin juga, hahaha), anak yang lucu dan sempurna, keluarga yang sehat dan berkecukupan, pekerjaan yang baik, udara gratis untuk bernafas, kemudahan untuk menjalankan ibadah, dan banyaaak nikmatNya yang tidak bisa dihitung satu per satu. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah.

Selamat datang 2021, semoga banyak hal baik terjadi di tahun depan :)

Sabtu, 30 Mei 2020

Selangkah Lebih Dekat

0



Halo, assalammu'alaikum dekbaby nya Mama sama Ayah :)

Waktu terasa berjalan amat cepaaat, nggak berasa sekarang udah masuk minggu ke 31. Berhubung belum 35 week, masih belum bisa ketemu Dokter Della, akhirnya kita kontrol lagi ke Klinik Kehamilan Sehat, beberapa hari sebelum Lebaran.

Ada yang bikin aku deg-degan di kunjungan kali ini, apa lagi kalau bukan soal posisi dekbaby. Seperti yang sudah kuceritakan di postingan sebelumnya, posisi dekbaby di usia kehamilanku yang 7 bulanan tuh masih melintang. Jadilah setelah kontrol waktu itu, aku ikutan prenatal yoga yang salah satu materinya soal optimalisasi posisi janin. Tentulah kelasnya onlen yaaa, si covid bener-bener nyusahin emang. Tapi thanks to teknologi yang membuat segalanya mungkin. Oh ya, kelas prenatal yoga yang aku ikutin ini digelar sama klinik BWCC, instrukturnya seorang bidan, namanya mbak Pipit. Selain bidan, beliau juga instruktur yoga, dan ahli hypnobirthing juga. Biasa di sesi pendinginan tuh praktek hypnobirthingnya, selalu sukses bikin ketiduran dan rileks banget.

Ikut kelas prenatal yoga ini menurutku penting banget, karena ilmu yang kita dapat tuh nggak hanya soal gerakan dan manfaat gerakan yoganya, tapi juga pas sesi sharing itu banyak ilmu yang didapat. Mbak Pipit suka sharing soal proses lahiran dua anaknya, terus juga ditanya-tanya kondisi kehamilan kita gimana, keluhan-keluhan selama kehamilan ada atau nggak, plus tips-tips biar lahirannya lancar. Selain cat pose, yang fungsinya membantu bayi untuk parkir alias mencari posisi yang tepat untuk persiapan lahiran, latihan napas perut juga penting banget.

Jadi, demi mengingat posisi dekbaby yang masih melintang, aku rajin mengulang gerakan cat pose dan latihan napas setiap selesai sholat. Ditambah gerakan sujud beberapa kali hitungan. Jadi, di edisi kontrol kali ini, aku penasaran banget posisi dekbaby apakah kepalanya udah di bawah atau belum.

Tibalah saat USG! Jeng jeng jeeeenngg... Dokter bilang, "oooh, udah di bawah ini kepalanya". Alhamdulillah, aku pun bisa bernapas lega. Nggak sia-sia rupanya aku rajin latihan napas, sujud, dan cat pose. Dan berdoa sama Allah tentunya, supaya dekbaby bisa berubah posisi. Oiya, yang nggak kalah penting juga adalah sounding terus ke baby, kasih tau kalo kita lagi ikhtiar untuk lahiran, meminta dia untuk ikhtiar juga, pokoknya banyak-banyak afirmasi positif buat diri sendiri dan dekbaby :)

Di usia kehamilan yang hampir 8 bulan ini, utamanya ketika ternyata posisi kepala baby sudah di bawah, aku ngerasain sakit/nyeri di bagian pangkal paha. Omaigattt sakitnya tiap dipakai gerak, dipakai jalan, dan lain-lain. Pas aku tanyakan ke dokter, dokter bilang itu wajar karena ya beradu sama tulang kepala bayinya. Aku diminta untuk lebih banyak jalan kaki, nggak terlalu banyak duduk, tapi nggak terlalu banyak berdiri juga. Hahaha, gimana nggak kebanyakan duduk lah kalau lagi WFH begini kan. Akhirnya aku mengagendakan jalan pagi minimal tiga kali seminggu, minimal sejauh 1 km. Dan it works sih, karena nyeri di pangkal paha kirinya makin berkurang rasanya, dibuat jalan juga udah nggak susah. Alhamdullillah :)

Selain nyeri di paha, aku juga udah mulai berasa begaaahhh perutnya, hehe. Sejauh ini bobot udah naik 9 kg, tapi kata dokter, baby-nya masih selisih 200 gr-an dari bobot seharusnya, tapi masih oke. Jadi aku nggak diminta untuk naikin bobot baby, cuma disuruh rajin minum vitamin sama nutrisi makanannya dijaga. Tidur juga udah mulai nggak nyaman, berusaha miring ke kiri terus walau kadang berasa pegel. Mulai sering kebelet buang air kecil juga.

Di antara semua ketidakmudahan menjalani trimester tiga ini, satu tendangan kecil dari dekbaby mampu meruntuhkan semua kelelahan dan sakit yang dirasakan. Ajaib memang. Di satu waktu aku bisa ngerasa engap, sakit di paha, bete maksimal, tapi ketika dekbaby di perut bergerak-gerak, seketika senyum tersungging, lupa sama semua rasa bete yang tadi. Adanya cuma happy :)

Delapan bulan, kita sudah selangkah lagi lebih dekat ya, dekbaby Mama. Semoga Allah lancarkan dan mudahkan segalanya untuk pertemuan kita. Sehat-sehat dan kuat-kuat untuk bertumbuh dan berkembang di dalam perut Mama ya, Aamiin :)

Sampai bertemu di sesi kontrol berikutnya, insya Allah :)

Kamis, 21 Mei 2020

Melihat Wajahmu untuk Pertama Kalinya

0



Bismillahirrahmaanirrahiim

Hari itu tanggal 20an April, sudah waktunya kontrol lagi ke dokter. Mama sama Ayah udah sepakat sejak awal kalau kita akan ketemuan sama dokter satu bulan sekali, biar segala sesuatunya bisa terpantau secara teratur. Panik dan bingung adalah ketika Mama dan Ayah berangkat ke RSIA, daftar seperti biasa, tapi ternyataaaaa gegara covid-19 ini, RS memberlakukan peraturan baru, antara lain Bumil yang boleh cek ke dokter adalah yang usia kehamilannya minimal 35 minggu dan/atau ada keluhan berat. Mama yang masih belum genap 7 bulan dan nggak ada keluhan berarti, otomatis nggak masuk kriteria itu. Bingung harus bersyukur atau gimana, tapi yasudah, akhirnya Mama pulang, sambil memutar otak harus cek/usg di mana. Bagaimana mungkin Mama sama sekali nggak ngecek kandungan sampe 2 bulan ke depan. Itu nggak mungkin banget!

Akhirnya Mama browsing sana-sini soal klinik kehamilan yang deket rumah. Alhamdulillah nemu, Klinik Kehamilan Sehat, namanya. Tanggal 25 April tepatnya, Mama sama Ayah berkunjung ke sana. Protokol kesehatan untuk penanggulangan covid-19 sudah tampak di pintu masuknya, bikin secure sih, insya Allah aman kalo kayak gitu kondisinya. Sebelum masuk klinik, Mama sama Ayah diminta ngisi formulir kondisi kesehatan, pake hand sanitizer, pake masker, dan dijelaskan tata cara periksa selama ada pandemi ini. Setelah masuk, kursi di ruang tunggunya juga menerapkan physical distancing.

Beberapa saat Mama agak ngerasa amazed sama kliniknya. Nggak begitu besar, memang. Tapi ternyata klinik ini sudah punya banyak cabang di berbagai kota. Beberapa di antaranya juga udah mengakomodasi proses kelahiran pervaginam alias normal. Tapi kalau yang di tempat Mama periksa kali ini sih, baru klinik untuk periksa aja, belum melayani persalinan.

Setelah daftar, Mama dipanggil perawat untuk didata (karena pasien baru). Selanjutnya, cek tekanan darah dan berat badan. Alhamdulillah tekanan darah normal, dan (akhirnya) bobot Mama mencapai angka 60, hahaha. Ini berarti naik 7 kilo dari sebelum Mama hamil. Nggakpapa, yang penting kamu sehat, Nak. Kelar cek awal, Mama diminta menunggu dipanggil masuk ke ruang periksa.

Syukurlah Mama dapat urutan ke tiga, masih sepi. Karena saking semangatnya mau ketemu anak sholehahnya Mama nih, jadi Mama sama Ayah berangkat lebih awal. Setelah dipanggil, Mama sama Ayah masuk ke ruang periksa. Mama langsung diarahkan ke bed untk USG. Awalnya USG 3D kayak biasanya, yang hitam putih itu. Mama dijelasin beratnya kamu, posisi kamu (yang ternyata masih nyungsang dengan kepala di perut Mama sebelah kiri), dan HPL. Nah, setelah itu adalah sesi yang Mama tunggu-tunggu banget!

Akhirnya, Dokter mengalihkan untuk USG 4D dan tadaaaaaa...

Masya Allah, untuk pertama kalinya Mama bisa melihat wajah kamu, Nak :")

Yang paling menarik perhatian ya hidung kamu, hihihi. Perpaduan hidung Mama yang lebar, dan hidung Ayah yang mancung :D

Rasanya terharuuu sekali bisa lihat wajah bayi yang sehari-hari nemenin Mama bangun pagi nyiapin sahur, ikutan Mama rapat via aplikasi Zoom, bergerak-gerak heboh setiap Mama ngerasa laper, dan kemana-mana Mama bawa di dalam perut selama hampir 7 bulan ini. Sehat-sehat ya, Nakku :)

Selesai periksa, Mama dipesankan dokter supaya banyak-banyak sujud (biar kamu segera berputar alias pindah posisi kepala di bawah), banyak minum air putih, dan minum vitamin dengan teratur pastinyaa. Alhamdulillah so far puas dengan pelayanan di klinik ini. Walaupun Mama nggak terlalu banyak diskusi dengan dokternya, beda kalau pas sama dokter Della. Nggakpapa, sementara aja kita periksa di sini, sampai 35 weeks nanti bisa ketemu dokter Della lagi :)

Sampai jumpa di USG bulan depan ya, Nak. Mama dan Ayah sayang sekali sama kamu :)




Kamis, 16 April 2020

Dua Degup Dalam Satu Tubuh

0

11 weeks you
Bismillah, deg-degan mau bikin postingan kali ini. Karena postingan ini tentangmu, Nak. Tentang degup yang berdetak di dalam tubuhku, yang bersisian dengan degupku sendiri.. :)

Bulan awal, aku tidak menyadari kehadiranmu. Aku malas-malasan bangun pagi, jadi sering dapat KRL yang agak siang. Aku bawa kamu berdesak-desakan dengan banyak orang, sampai pernah suatu ketika aku nyaris pingsan karena kehabisan napas, berada di tengah himpitan manusia yang tinggi-tinggi. Belum cukup sampai di situ, aku bawa juga kamu dinas ke Tasikmalaya, di wilayah desa pesisir, tepatnya. Perjalanan jauh, jalan berkelok, mabuk perjalanan. Super kelelahan, sampai aku ngorok di mobil, disimak para stakeholder, hahahhaa.

Sepulang dinas, aku menyadari bulanan yang belum datang juga. Sampai akhirnya aku tahu, ada yang sudah hadir dalam rahimku :')

Setelahnya, bulan kedua, adalah bulan yang memabukkan. Sickness yang tak hanya aku rasakan ketika morning saja. Beberapa kali aku ambil cuti karena pusing di pagi hari, sampai nggak sanggup berangkat ke kantor. Jangankan ngantor, bangun saja sulit. Mual dan muntah yang tak bisa aku prediksi. Kadang pagi, siang, sore, pun malam hari. Tapi aku tetap berusaha makan teratur, walaupun jarang makan nasi, karena nggak selera dan eneg aja bawaannya kalau lihat nasi. Susu hamil pun cuma aku minum tiga kali, nggak sangguppp mualnyaaah >.<

Sejak bulan ke 2, kita rutin periksa setiap bulan. Aku sama Rizki nggak sabar setiap nunggu jadwal kontrol, kami nggak sabar ketemu kamu, walau hanya lewat layar monitor. Minggu ke 11 adalah pertama kalinya kami mendengarkan degup jantungmu. Masya Allah, rasanya ada keajaiban yang sedang hidup dalam diriku.. :)

Sejak tahu kamu sedang bertumbuh di dalamku, aku ekstra hati-hati membawa diri. Apalagi di minggu-minggu awal. Aku bangun dan berangkat lebih pagi dari biasanya, supaya bisa dapat tempat duduk di KRL. Nggak terhitung berapa kali aku bersitegang dengan orang yang nggak percaya kalau aku hamil dan perlu tempat duduk (secara perutnya belum nampak buncit). Sampai akhirnya punya pin bumil pun, aku juga masih harus berjuang untuk dapat tempat duduk. Jakarta keras, tapi aku lebih kuat, karena ada kamu :)

Memasuki bulan ke 4, mual-mual tiba-tiba saja menghilang, berganti doyan makan apapun juga. Alhamdulillah, jadi lebih seger badan karena udah nggak muntah. Aku juga bisa banyak makan biar kamu juga terpenuhi nutrisinya. Nggak lupa juga kuminum vitamin yang diresepkan dokter. Oh iya, dokter yang selama ini menemani kami bertemu kamu tiap bulan, namanya Dokter Della. Dokter favorit di RSIA tempat kita rutin ketemuan, yang nyari jadwalnya harus satu bulan sebelum jadwal konsultasi.

Waktu terasa berjalan begitu cepat, Nak, sekarang sudah minggu ke 26 kamu ada di rahimku. Bulan ke 5 adalah bulan dimana pertama kali aku merasakan gerakan-gerakan kecilmu. Awalnya memang nggak begitu terasa. Tapi semakin lama, sampai sekarang, aku bisa merasakan tendangan-tendangan kamu kalau aku lagi lapar. Pasti kamu juga lapar ya? Minta mamam ya? :3

Sekarang, aku bahkan bisa melihat perutku bergerak-gerak kalau kamu lagi gerak-gerak di dalam. Masya Allah, tumbuh dan berkembanglah dengan sehat dan sempurna ya di dalam rahimku. Semoga aku bisa membuatmu nyaman selama di sana. Maaf kalau aku masih suka malas jalan pagi, malas berjemur pagi. Segera, aku sedang mempersiapkan saat-saat pertemuan kita di dunia luar, Nak. Insya Allah nanti akan menjadi peristiwa indah yang tidak akan aku lupakan :)

Aku mengawali postingan tahun ini dengan tulisan tentangmu, Nak, karena aku amat bersyukur atas kehadiranmu sejak akhir tahun 2019. Bismillah ya, Nak, kami sudah menyiapkan nama yang berisi doa kami untukmu. Semoga kamu nanti juga suka :)

Oh iya, beberapa hari yang lalu, nenek dan iyut uti bikin pengajian 7 bulanan di Surabaya. Ngundang 5 orang takmir masjid untuk doa-doa di rumah. Mendoakanmu, mendoakan aku juga. Nak, mereka menyayangimu seperti aku menyayangimu juga. Aku bisa mengelusmu setiap hari, setiap aku ingin. Mereka juga mengelusmu melalui doa-doanya dari jauh, melalui rindu-rindu yang mereka sampaikan kepadaku, juga melalui senyum bahagia mereka setiap aku tunjukkan perkembangan-perkembanganmu. Sayangi mereka juga nanti ya, Nak :)

Di sini pun juga banyak yang sayang sama kamu, babeh, nyak, om, pakde, bude, mas, dan banyaak lagi. Doa-doa ketika memasuki bulan ke 4 juga sudah dipanjatkan. Sama tulusnya, sama khidmatnya :)

Wah, udah lumayan panjang. Next, sepertinya masih akan jadi postingan tentangmu, Nak. Aku begitu bersemangat ingin mencatatkan setiap proses kehamilan ini. Aku ingin mengabadikannya, hingga nanti kamu bisa membacanya sendiri :)

Udah malam, Nak. Yuk kita istirahat. Ayah dan Mama sayang kamu, A :)

Kamis, 17 Oktober 2019

Menuju Halal : Pilah-Pilih Vendor Pernikahan

3

Menarik waktu kembali ke belakang, beberapa bulan yang lalu ketika tanggal lamaran baru ditetapkan, sekitar akhir tahun 2018. Kami sepakat untuk lamaran tanggal 3 Maret 2019, dan aku mau pernikahan maksimal dilangsungkan 6 bulan setelah acara lamaran, yang berarti mentok bulan September 2019. Minta pendapat keluarga, dan mempertimbangkan permintaan nenekku supaya akad dilaksanakan pas tanggal lahirku, dipilihlah tanggal 21 September 2019 sebagai tanggal akad nikah.

Udah banyak temen yang ngingetin kalau bikin acara nikahan di Jakarta harus cepet-cepet cari vendor, utamanya soal gedung, karena saking ramainya dan rebutan, biasanya udah mulai booking gedung dari setahun sebelumnya. Jadilah bahkan sebelum lamaran, aku udah mulai browsing-browsing soal gedung dan katering. Dua hal itu menurutku komponen inti banget untuk acara nikahan, jadi aku prioritaskan dulu. Kalau soal undangan, suvenir, dan printilan lain malah belum terlalu khawatir, tapi untuk jaga-jaga yaa aku kadang iseng cari-cari juga lewat instagram.

Era sosmed benar-benar membantu banget gengs. Kalo dibuat persentase, kayaknya 80% informasi vendor tuh aku dapat dari instagram, jadi jangan capek dan bosen scroll-scroll ya, wkwkwk. Oiya, yang nggak kalah penting, cari juga blog atau postingan yang isinya pengalaman nyiapin acara nikahan, ini juga sangat membantu untuk nambah-nambah referensi, syukur-syukur kalau ada review-nya juga.

Okedeh tanpa berpanjang lebar lagi, ini dia vendor yang aku pakai untuk acara nikahan bulan Juli kemarin. Loh kok jadi Juli? Iya, karena berbagai alasan, terutama faktor kesehatan orang tua, nikahan aku dimajukan jadi bulan Juli. Total persiapan untuk acara akad dan resepsi cuma sekitar 2 bulan. Alhamdulillah semua lancar :D

1. Gedung
Setelah beberapa kali browsing, tanya-tanya kontak gedung, dan survei langsung, pilihan jatuh ke Aula Sarbini Taman Wiladatika, Cibubur. Kenapa pilih di sini? Pertama karena lokasinya dekat dengan rumah keluarga aku, dan posisi dia nggak jauh dari pintu tol, jadi relatif lebih mudah dicari. Untuk ukurannya, cukup untuk 300 undangan alias 600 orang. Biaya sewa under 10 juta (belum termasuk charge). Aku sarankan langsung ke sana aja, ke kantor pemasarannya, biar bisa langsung ngobrol sama marketingnya, termasuk soal booking tanggal dan referensi katering rekanan. Biaya booking tanggal nggak mahal kok, aku kemarin 2 juta aja. Oh iya, di sini juga banyak guesthouse dan kamar-kamar yang disewakan ya, jadi kalau kalian ada saudara dari luar kota, nggak perlu susah nyari penginapan yang jauh.

2. Undangan
Aku udah rajin browsing undangan bahkan sejak sebelum lamaran, hahaha. Dari awal aku udah pengen undangan yang bernuansa vintage dan simpel gitu. Setelah follow beberapa akun ig, akhirnya pilihan jatuh pada akun @separopicture. Desain undangannya unik-unik, harga terjangkau, dan adminnya baik banget. Di kala aku nyaris jadi bridezilla, adminnya sabar banget tiap aku nanya-nanya progress pengerjaan undangan udah sampai mana. Mereka juga langsung solutif ngubah pesananku jadi order prioritas pas ada perubahan tanggal nikah yang awalnya September jadi Juli. Salut, doi bisa menyelesaikan undangan sebanyak 300 pcs bahkan lebih cepat dari waktu yang mereka janjikan. Dan jelas, undangannya aku suka banget, sesuai ekspektasi, temen-temenku juga pada suka :D

3. Suvenir
Sejak awal, yang kumau adalah suvenir yang usefull, misal pouch. Hampir sama kayak undangan, aku udah searching dari jauh hari. Setelah membandingkan satu akun dengan akun yang lain, satu bentuk dengan bentuk yang lain, akhirnya aku mutusin order suvenir di akun @nguliksouvenir. Desain aku modifikasi dari browsing dan tambahin detailnya sendiri. Aku mau gambarnya kapal, tempat dimana aku dan suami pertama kali ketemu.. eaaa.. Sebelas dua belas sama vendor undangan, adminnya juga baik dan sabar banget. Aku tanya-tanyain mulu pengerjaan suvenirnya udah sampai mana, aku ingetin lagi dan lagi kalau waktu udah mepet, tapi ga pernah sekalipun marah. Yang lebih mengherankan, suvenir udah dikirim duluan baru minta pelunasan, huhu ku terharu banget.

4. Sanggar Rias (Make up dan attire)
Setelah fix pilih katering rekanan gedung, aku ditawari 2 pilihan sanggar rias (rekomendasi dari kateringnya). Mempertimbangkan bahwa Sanggar Tiara yang udah lebih sering kerja sama dengan katering ini, akhirnya aku pilih sanggar Tiara aja. Bulan Juni aku sowan ke sanggarnya untuk lihat-lihat sekaligus langsung pilih baju dan fitting. Mereka punya banyak koleksi, jangan khawatir. Terus juga mengakomodasi keinginan kita banget, misal mau kerudungnya dibentuk syar'i, mau bajunya agak dilonggarin, dll. Juli awal langsung fitting akhir, dan tanggal 28 Juli dipakai deh pas resepsi. Super kilat? Pastinya, wkwkwk. Akupun udah nggak ada waktu untuk trial make up, udahlah pasrah aja sama periasnya. Alhamdulillah make up pas hari H bagus dan aku suka banget, temen-temen juga pada bilang manglingi, hehe.

5. Katering
Daaan tibalah gongnya, katering! Aku juga udah rajin nyari info katering sejak sebelum lamaran. Iseng aja gitu kontak katering, minta info paketannya. Terus dibandingin satu sama lain. Pada akhirnya, aku ambil katering rekanan gedung (psst bisa ngurangin charge juga lho kalo pake rekanan, hehe). Manna Cipta Rasa Katering (cek ig nya di @mannaciptarasa), kupasrahkan hari H resepsi padanya. Jadi katering ini udah langsung sepaket semua, mulai makanan, rias+baju (pake sanggar rekanan dia, Sanggar Tiara), mc, dokumentasi, dan dekorasi.
Alhamdulillah pilihan yang tepat karena semuanya memuaskan sekali. Makanan enak banget dan banyak porsinya, selesai acara masih banyak banget makanan yang kami bawa pulang, hehehe. Temen-temen juga pada bilang makanannya enak-enak, sampe nambah. Dekorasi pas sesuai keinginan, mereka punya banyak referensi. Dokumentasi apalagi, dapet albumnyaa bagus banget, dan 1 foto yang dicetak super gede plus bingkainya.

Yaaaps, itulah vendor-vendor yang mendukung acara resepsi aku beberapa bulan yang lalu. Alhamdulillah dipertemukan dengan vendor yang baik dan amanah semuanya. Oh iya, aku ada tips buat kalian yang mau nyiapin acara pernikahan nih:

1. Cari info sejak jauh hari, karena beberapa vendor ada ngasih promo di jangka waktu tertentu. Misal kalau udah booking bulan September, walau acara masih tahun depan, masih kena harga tahun ini, alias nggak kena harga baru yang udah naik.

2. Tanyalah sedetail mungkin ke vendor, nggak perlu takut dibilang cerewet. Kalau mereka baik, pasti nggak keberatan punya klien sebawel apapun, haha.

3. Jangan malas bikin perbandingan alternatif vendor. Aku kemarin bikin excel perbandingan, misal untuk katering, itu aku bikin kolom2, kalau vendor A harga sekian dapet apa aja. Untuk vendor suvenir malah lebih detail, vendor B untuk harga sekian dia ukuran pouchnya berapa, bahannya apa. Detail banget kaaan, thanks to jiwa perfeksionisku dah.

4. Last but not least, jangan lupa selalu ngobrol dan pertimbangin segala sesuatu dengan pasangan dan keluarga yaa :)

Okeeey, semoga postingan ini cukup membantu kegalauan kalian yang lagi nyiapin hari bahagia ya. Semoga lancar segala persiapannya, rukun dan bae-bae sama calon (biasanya bakal sering berantem kalo deket hari H), semangat memberikan yang terbaik untuk hari baiknya nanti :)

Rabu, 09 Oktober 2019

Honeymoon Trip: Magelang dan Jogjakarta

0

Sekitar satu bulan sebelum acara nikah, Malang resmi kami coret untuk tujuan honeymoon. Padahal aku juga udah nyusun itinerary dll nya. Tapi yaudah, jadwal cuti dan pindahan kos memang nggak memungkinkan, yah memang belum berjodoh sama Bromo, jadi kami memutuskan untuk pilih destinasi yang relatif lebih dekat. Aku pilih Jogja (kota favorit) dan Magelang untuk trip kali ini. Mau napak tilas adegan-adegan di AADC 2, hahaa.

Daftar tempat wisata, pembagian hari, tempat nginap dll-nya aku yang urus, biar sesuai sama kemauanku, hehee. Memang nggak sempat bikin itin yang detail banget kayak pas mau ke Malang, karena keterbatasan waktu. Tapi at least udah tahu mau kemana aja dan ngapain aja. Satu hari setelah resepsi, hari Senin tanggal 29 Juli 2019, honeymoon trip kami dimulaaaaiii :D

Senin, 29 Juli 2019

Kereta kami berangkat jam 21.30 di stasiun Senen. Karena aku belum sempat packing untuk liburan, jadi dari rumah Om di Cibubur, kami mampir dulu ke kosanku untuk packing sejak siang hari. Sekitar jam 7 malam, berangkatlah ke stasiun dan langsung cari makan untuk ganjal perut biar nggak rewel selama sekitar 7 jam perjalanan ke Jogja. Setelah isi perut, kami cabs ke peron dan naik kereta. Tepat waktu, malam itu kereta meluncur menuju destinasi favorit sepanjang masa: Jogjakarta :)

Selasa, 30 Juli 2019

Selasa pagi, kereta kami berhenti di Stasiun Tugu yang saat ini sudah disebut Stasiun Yogyakarta. Dari sana, kami jalan menuju pintu keluar, dan menikmati Jalan Malioboro yang lebih sepi dari biasanya. Selain masih pagi, yaiyalah sepi, kan lagi hari kerja, wkwkk. Kebetulan doi udah lamaaaaa banget nggak ke Jogja. Beda sama aku yang tiap tahun hampir nggak pernah absen untuk main-main ke kota ini. Jadilah kami foto-foto melulu. Puas foto-foto, perut mulai kerucukan, akhirnya kamipun mencari makanan yang pas untuk disantap pagi-pagi. Setelah melewati beberapa stand makanan, pilihan jatuh pada soto ayam kampung yang nikmat, dekat Malioboro Mall.


Kenyang makan soto, kami lanjut ke agenda selanjutnya. Maunya aku ajak suami ke Beneng Vrederburg, tapi doi ngga mau, akhirnya kami cuma foto-foto di depannya. Karena waktu check in hotel masih lama, kami mutusin untuk ngurus ATM suami dulu. Yap, ATM doi ketelen pas sebelum resepsi, jadi yaudah lah mumpung ada kantor Bank B** di Malioboro, sekalian aja ngurus ATM. Tapi ganti ATM ngga semudah itu ferguso, kami harus ngurus surat kehilangan dulu. Jalanlah kami dengan nggeret koper dan memanggul keril, kami ke kantor polisi terdekat yang ternyata nggak dekat-dekat amat, hahaha. Sekitar jam setengah 10, kami selesai ngurus ATM, dan langsung menuju halte bus transjogja terdekat. Loh mau kemana? Mau ke Magelang :D

Jadi gini, rencananya kami akan menginap di Magelang 2 malam, baru nanti hari Kami balik ke Jogja dan menginap semalam aja. Kenapa naik transjogja? Biar seru lah semi backpacking gitu, hehee. Pertama kami naik bus transjogja nomor 8 sampai halte Ngabean, lalu transit naik transjogja nomor 9 menuju terminal Jombor. Nanti kami akan naik bus jurusan Borobudur dari sana. Tarif transjogja nggak banyak berubah, cukup Rp 3.500 aja udah bisa kemana-mana, asal nggak keluar dari halte.

naik transjogjaa
Sesampainya di terminal Jombor, kami langsung menuju bus jurusan terminal Borobudur, karena penginapan yang kami booking memang letaknya persis di sebelah Candi Borobudur.


Bus jurusan Borobudur ini memang nggak senyaman bus transjogja, tapi ya gimana lagi, adanya ini. Tanpa AC, dan jarak antar tempat duduknya sempit banget, akhirnya dengan barang yang bejibun itu kami pilih duduk di bangku paling belakang. Perjalanan menuju Borobudur ditempuh dalam waktu sekitar satu jam. Sampai di terminal Borobudur, kami lanjut naik becak menuju penginapan pertama: Cempaka Guesthouse Borobudur. Seperti namanya, penginapan ini lokasinya persis di sebelah candi megah yang sudah terkenal di seantero dunia. Masuk sedikit lewat gang sempit dari pinggir jalan, dan taraaaaaa sampai deh..
kamar kami ada di sebelah kiri
Sampai di penginapan, yang pertama ada di pikiranku adalah: hmmm sesuai ekspektasi. Memang sengaja cari penginapan yang tenang dan nyaman. Ternyata sih bonus lumayan instagramable, tapi waktu itu lagi males foto-foto, hahaha. Cempaka guesthouse ini hanya punya beberapa kamar, kalau nggak salah hitung sih mungkin nggak sampai sepuluh kamar. Kami pesan Deluxe Room, dengan ukuran kamar yang luasnya cukup lah untuk 2 orang. Fasilitas ada heater, kopi teh dkk, lemari tempat nggantung baju, ada tv juga, wifi, toiletries lengkap. Nilai plus banget kamar mandinya yang super nyaman dengan bathtub yang bikin betah berendem lama-lama. Lagi-lagi nggak aku foto, hehe, coba browse aja langsung ya : Cempaka Guesthouse Borobudur. Oh iya, di sini juga nyediain jasa sewa motor lho, jadi kami nggak perlu bingung nyari persewaan motor. Sehari biayanya Rp90.000, di luar bensin.

Hari pertama ini sebenernya kami punya banyak rencana. Sore mau ke Borobudur, lalu jalan-jalan di sekitar. Yak, tapi rencana tinggal rencana, kami lelah dan lebih memilih untuk leyeh-leyeh aja sambil beli makanan untuk ganjal perut. Literally leyeh-leyeh, tidur siang, bangun-bangun udah hampir jam 5, haha parah. Akhirnya sekitar abis maghrib kami mulai lapar dan memutuskan untuk jalan ke luar nyari makan. Beneran jalan kaki nih, karena motor baru mulai disewa besok paginya, untuk pergi ke Air Terjun.

Jalan kaki sekitar jam 7 malam, ternyata udah lumayan sepi, ngga kayak di Jakarta (yaiyalah). Warung-warung di pinggir jalan udah pada tutup, sampai akhirnya kami lihat ada warung yang masih menyala lampunya, walau bapak pemilik warung kayaknya lagi beberes mau tutup, wkwkwk. Akhirnya kami makan di sana, saya pesan bakmie godhog, Rizki pesan bakso pakai nasi. Rasanya not bad, apalagi bapak dan ibunya melayani dengan super baik. Selesai makan, kami ngobrol-ngobrol sama ibu pemilik warung sekalian bayar, kami pun nanya dimana ATM terdekat. Sebenernya nggak jauh, tapi kalau jalan ya capek, mbak, itu yang dibilang si Ibu. Di luar dugaan, kami dipinjami motor, dong. Huhuu terharuuuu. Akupun nitipin KTP sebagai jaminan, ga tega si Ibu baik banget <3

Hari pertama di Magelang kami tutup dengan urusan per-ATM-an, makan, dan leyeh-leyeh, belum satupun destinasi yang kami kunjungi. Yah nggakpapa, namanya juga honeymoon, yang penting quality time berdua :)

Rabu, 31 Juli 2019


Sebelum berangkat jalan-jalan, kami sarapan dulu. Untuk sarapan, kami ditanya sehari sebelumnya, mau sarapan ala indo atau ala western. Kalau western ya pakai sandwich gitu deh. Karena perut orang indo, yaudahlah pesen sarapan ala indo aja, alias nasi goreng, wkwkk. Surprisingly, it tasted gooood. Nasi goreng yang dimasak bersama potongan wortel dan buncis. Nyaaammm..


Destinasi pertama adalah Air Terjun Kedung Kayang yang lagi hits di medsos. Seperti di foto, kami berangkat ngga pagi-pagi amat, tapi masih lumayan teduh di sana. Sepanjang perjalanan mata dimanjain sama pemandangan sawah, Gunung Merapi dan Merbabu di kanan-kiri, serta hawa sejuk yang makin lama makin berasa dingin. Perlu waktu sekitar satu jam untuk sampai ke air terjun ini. Sampai di tempat wisata, setelah parkir motor, kami masih harus jalan sedikit sekitar 15 menit. Sempat berunding untuk ke bawah air terjun atau cukup lihat dari atas aja. Tapi mengingat kami nggak bawa baju ganti untuk basah-basahan, yaudah deh cukup dari atas aja, foto-foto.

Sampai di spot foto, ada 2 spot yang sudah nggak asing lagi kalau kita jumpai foto air terjun ini di medsos. Dan memang masyaallah yaaa pemandangannya emang relaxing banget...

ku lupa ini Merbabu atau Merapi, wkwk
pemandangan air terjun dari atas
berdua <3
baguuus pemandangannya, sukaa


Matahari lumayan terik, tapi anginnya dingin. Hawa begini nih yang biasanya bikin kulit gosong, wkwkwk. Setelah puas foto-foto, kamipun jalan balik. Tapi demi lihat mushola dan warung, akhirnya kami pesen mie instan dulu, sholat, baru deh lanjut ke destinasi berikutnya. Awalnya mau memperbanyak stok foto ig di Pinusan Kragilan. Tapi doi seperti kurang berminat. Akhirnya kami memutuskan untuk capcus ke air terjun lagi. Kali ini namanya air terjun Grenjengan Kembar.

Hampir satu jam perjalanan menuju air terjun ke dua di perjalanan kami ini, setelah sempat tergoda mampir ke hutan pinus tempat selfie, melewati rumah-rumah penduduk, sampai akhirnya menemukan plang petunjuk nama air terjun, aku mulai ragu. Rizki tetep yakin untuk lanjutin perjalanan dengan naik motor, walau jalanannya sempit banget dan masuk hutan gitu. Gmaps juga sudah ngga begitu membantu. Tapi yaudah kami tetap maju. Ada beberapa spot selfie tapi kok sepi banget dan berdebu, kayak udah lama banget nggak dikunjungi. Perasaanku nggak enak, tapi suami masih yakin. Kami ngelewatin jembatan kayu yang hiasan-hiasannya udah lusuh, aku udah nyaranin balik aja, tapi nanggung katanya.

Sampai di satu titik yang doi yakin motor bakal susah ngelaluinnya, aku turun dan jalan beberapa meter ke depan. Cek sama foto yang ku browsing di sosmed, lalu sampailah pada satu kesimpulan:

Air terjunnya kering, lagi kemarau :(

itu turun lagi beberapa meter, tapi karena surut, ya ngga ada pemandangan apa2, hiks
Kecewa sih, tapi yaudah lah. Akhirnya kami balik lagi menuju penginapan. Lihat waktunya dulu, kalau masih cukup, maunya mampir ke hutan pinus (teteeeeup). Sampai Ketep Pass, sekitar setengah 3 sore dan akhirnya kami mesti realistis kalau nggak mungkin mampir ke mana-mana lagi karena sore nanti kami mau ke Borobudur nikmatin sunset. Kamipun pilih untuk nongkrong makan mendoan di salah satu warung yang berjajar di seberang Ketep Pass.

ngemil with the view...
Jam 3an, kami cabs pulang ke penginapan. Perjalanan sekitar satu jam sampai penginapan, lalu kami sholat ashar dan leyeh-leyeh sebentar. Jam setengah 5an, kami berangkat ke Borobudur yang cuma sepelemparan batu dari tempat kami. Belajar dari pertama kali aku ke Borobudur, siang hari, puanas banget. Dan memang sore hari adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi Borobudur. Suasana udah adem, nggak terlalu ramai orang, dan yaaa, view sunsetnya memang menjanjikan :)

bapak satpamnya rada ganggu pemandangan -_-
pict by me :p


Sunset di Borobudur mengingatkan aku pada momen nonton sunset di Candi Ratu Boko. Nggak bisa nyari sunset di pantai, di candi pun jadi, wkwk. Cuman ya emang kudu pinter-pinter nyari spot untuk foto (spot instagramable maksudnya). Kalo cuman sekedar pengen duduk-duduk nikmatin sunset sih banyak spot yang bisa ditempati. Kami nggak bisa terlalu lama di sini, karena jam 17.15 udah diumumin untuk segera turun dan capcus dari area candi.

Namanya area candi, pasti dikelilingi taman yang luaaaas. Setelah kaki lumayan lelah, sampai juga di gerbang keluar. Kamipun segera ambil motor di parkiran, lalu mengisi perut di warung bakso di sekitaran Borobudur. Baksonya lumayan enak, cuma sayangnya aku lupa namanya apa, hehe. Yak, petualangan hari ini ditutup dengan sunset yang indah. Besok, rencananya kami akan berburu sunrise di Punthuk Setumbu yang berdasarkan Gmaps jaraknya cuma 15 menit dari penginapan. See you tomorrow :D

Kamis, 1 Agustus 2019

Awalnya kami bimbang mau berangkat jam berapa ke Punthuk Setumbu. Mau berangkat setelah subuh, takutnya udah ketinggalan sunrisenya. Tapi mau berangkat sebelum subuh juga takutnya tempat sholat di sananya ngga nyaman. Akhirnya setelah mempertimbangkan ini itu, kami tetap sholat subuh dulu, baru deh berangkat.


Benar aja, sekitar jam setengah 6an kami udah sampai di lokasi. Setelah parkir motor, kami lanjut ke tempat berburu sunrise-nya. Jadi kami harus menyusuri tangga untuk sampai ke teras pandangnya. Tenang, nggak begitu menanjak, dan nggak begitu jauh juga, jadi bisa dinikmati lah perjalanannya. Kalau mau beli cemilan atau minuman juga bisa beli di warung-warung yang berjejeran di pinggir jalur tangga. Oh iya ternyata di sini ada mushola-nya, mungkin memfasilitasi pengunjung yang dari jauh ya, yang nggak sempat sholat subuh dulu.

Menurutku pribadi, pemandangan yang lebih magis dan menarik malah bukan sunrise-nya, tapi pemandangan Borobudur yang tertutup kabut pagi.



suka banget sama berkas matahari menembus awan
Selesai menikmati view dan sejuknya Punthuk Setumbu, kami pun kembali ke penginapan untuk sarapan, bebersih, dan siap-siap untuk check out cabs ke Jogja. Nggak naik becak seperti awal kedatangan kami di Magelang, kali ini kami pesan ojek online. Sempat mempertimbangkan nerus aja sampai Jogja sekalian, tapi naik bis memang pilihan yang lebih ekonomis, wkwkwk. Akhirnya kami turun terminal Borobudur dan naik bis sampai terminal Jombor. Sampai di Jombor udah siang banget dan panas, tak sanggup lagi naik transjogja, maka ojol kembali jadi pilihan. Sekitar jam 4 sore, kami sampai ke penginapan yang letaknya di sekitaran Malioboro. Terfavorit, nginap dekat Malioboro itu emang strategis banget karena kemana-mana deket. Mau belanja deket, mau ke stasiun deket, mau cari makanan apalagi, deket banget.

Hari ini agenda kami nggak muluk-muluk, pokoknya mau makan bakmie jogja, kata suami. Baiklah, aku rekomendasikan bakmi Mbah Gito, walau udah tau ngantrinya luar biasa. Tapi kapan lagi kan, mumpung ke Jogja ini.

Sebelum cabs ke bakmi Mbah Gito, kami mampir dulu ke Tempo Gelato. Tempat makan eskrim yang udah pasti aku kunjungi kalo ke Jogja :9


Kalap beli cup yang buesar, dan ternyata Rizki ngga seberapa doyan eskrim, wkwkwk. Jadilah kami cuma berhasil ngabisin 3/4 eskrimnya. Kami lanjut mampir dulu ke alun-alun Kidul. Rizki penasaran pengen coba lewatin 2 beringin kembar. Doi ngga percaya kalo sebelum jalan kudu diputer-puter dulu badannya. Sebenernya udah hampir berhasil, tapi dia ngga percaya tiap aku arahin, hahaha. Dan malu-malu dilihatin orang, padahal yang nyobain kan ngga cuma dia doang.



Sebelum bener-bener cabs ke Mbah Gito, kami menyempatkan diri beli jajanan favorit, apa lagi kalau bukan telor gulung, wkwk. Kami makan sambil duduk di pinggir alun-alun. Ada hal menarik di salah satu sisi alun-alun. Kami melihat beberapa anak usia sekolah yang duduk melingkari seorang mbah-mbah perempuan, mereka seperti sedang wawancara. Rizki yang penasaran langsung ikut menghampiri, ngobrol lah dia sama salah satu anak laki-laki. Ternyata benar masih anak sekolah, ada tugas wawancara gitu. Selesai wawancara, mereka ngasih mbah itu sekotak martabak manis alias terang bulan. Entah Rizki hatinya lagi mellow atau gimana, dia nyamperin mbah dan ngasih something. Di luar dugaan, si Mbah malah nawarin terang bulan itu ke Rizki. Masya Allah yaa, memang kita ngga perlu kaya dulu untuk bisa memberi. Asli terharu. Sebagai orang yang terbiasa dengan kerasnya Jakarta, kelembutan hati si Mbah bener-bener barang langka yang nggak mudah dijumpa.


Sesampainya di Mbah Gito, seperti biasa, ramainya luar biasa. Waiting list nggak seberapa panjang, cuma mas pelayannya udah bilang kalau mungkin makanan harus ditunggu ready nya selama 2 jam. Ya tapi karena nggak tau kapan lagi bisa ke sana, kami iyain aja. Benar, nggak lama kami langsung dapat duduk di dalam, cuma ya itu, nunggu makanannya lama. Tapi alhamdulillah nggak sampai 2 jam, perut kami udah terisi penuh, hehe.

Hari ini ditutup dengan nikmatnya bakmi Jogja, besok agendanya adalah belanjaaaaa, yeaaayy :D

Jumat, 2 Agustus 2019

Yak, ini adalah hari terakhir kami honeymoon, hiks, kembali ke kehidupan nyata. Setelah sarapan, kami langsung cabs ke Pasar Beringharjo. As usual beli bebatikan, dan nyari blangkon mini buat Zhafran si gemes. Puas belanja, kami balik ke hotel. Rizki sholat Jumat, aku beres-beres persiapan check out.

Rizki balik dari sholat Jumat, udah beres semua, kami check out dari hotel, lalu menuju ke stasiun untuk nitipin barang-barang. Siang ini, sebagai agenda penutup, kami berencana pergi ke Parangtritis. Aku belum pernah ke sana, walau ke Jogja udah berkali-kali banyaknya. Setelah urusan titip menitip barang sudah beres, kami cabs makan siang dulu di Spesial Sambel, wkwkwk. Tempat favorit, walau nunggu makanannya lumayan lama. Akhirnya, hampir jam 3 sore, kami baru bisa jalan ke Parangtritis.


Perjalanan ke Parangtritis membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Sebenernya deg-degan juga nih keburu atau nggak waktunya. Waktu menunjukkan pukul 4 sore ketika kaki kami menjejak pasir Pantai Parangtritis. Sensasi yang berbeda, melihat hamparan lautan biru yang berpadu dengan pasir berwarna legam, dan ombak yang bergulung-gulung di kejauhan. Hembusan angin yang lumayan kencang agak bikin belibet sama kerudung. Tapi aku tetap happyyyyy sekali bisa main ke pantai lagi sejak terakhir ke Labuan Bajo tahun lalu <3




Kami nggak sempat nungguin sampai sunset, takut ketinggalan kereta. Akhirnya jam 5 sore kami cabs balik ke Jogja. Jam 8 malam, kereta membawa kami ke Jakarta, petualangan Magelang - Jogja sudah sampai di ujungnya.

Alhamdulillah, akhirnya pergi ke salah satu kota kesayangan ini bersama suami tercinta. Insya Allah masih banyak tempat-tempat yang akan kita kunjungi berdua, masih akan jauh langkah-langkah kaki ini kita jejakkan beriringan, dan masih panjang waktu-waktu yang kita habiskan untuk bergandengan tangan.

I love you, mas suamayyy.. selamat menempuh petualangan terpanjang sebagai keluarga :)

Senin, 26 Agustus 2019

Surat Cinta Untukmu

2

Assalammu'alaikum, suamaayy.. Ini hari Senin, kamu pasti sibuk dengan semua report itu, sementara aku di rumah karena sakit, lalu iseng mencoba mengisi lagi blog yang baru berisi tiga postingan saja di tahun ini. Anggap saja aku rindu menulis, anggap saja ini surat cinta :p

Flashback ke bulan April tahun 2018, di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, tempat pertama kita bertemu, saling berjabat tanpa menyebut nama. Aku pikir yang bersamamu itu pacarmu, ahahhaa, eh ternyata saudara. Kta nggak banyak ngobrol selama di sana, karena kamu emang pendiem banget. Aku juga males berakrab-akrab, karena lagi liburan. Mending juga nikmatin pemandangan daripada susah-susah maksain nyari bahan pembicaraan, wkwkww. Tapi aku dan mbanggi cukup akrab sama tante Umi. Beberapa kali kami nongkrong bertiga di kamar. Entah sholat, atau sekedar pakai sunblock. Tante rasa kakak banget deh, asik banget soalnya tante Umi, nggak kayak kamu yang diem mulu :p


Momen ini adalah yang paling aku inget. Malem itu kapal jadi gelap banget, aku bertanya-tanya, jangan-jangan genset mati. Ternyata itu settingan buat kamu yang lagi berusaha motret bintang-bintang di langit. Pelan-pelan aku nyamperin kamu, kutanya "motret apa?", kamu cuma jawab singkat "milkyway". Terus aku ngacir deh, duduk-duduk di tepi kapal. Eh tapi pas mau ngefoto, kan aku niatnya pindah duduk di kursi makan aja biar nggak jadi photobomb, tapi tiba-tiba kamu bilang "Eh di situ aja udah". Taraaaa, jadilah foto itu :)