Tampilkan postingan dengan label book. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label book. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 September 2017

Book Review: Tentang Kamu by Tere Liye

0

Image result for tentang kamu tere liye
pict taken from goodreads.com

Assalammu'alaikum wr wb

Beralih sejenak dari seri petualangan Raib, Seli, dan Ali, kali ini aku mau mengulas sedikit novel karya Tere Liye (lagi) yang berjudul Tentang Kamu. Sekilas ketika membaca judulnya, aku agak-agak berprasangka kalau ini adalah novel yang berkisah tentang cinta nan menye-menye. Tapi, kembali mengingat bahwa orang di balik buku ini adalah Tere Liye, I always expect more than just an ordinary story. I believe that there must be something special about this book. 

Dan aku nggak salah.. :)

Tentang Kamu bercerita tentang seorang pengacara muda bernama Zaman Zulkarnaen. Dia bekerja di sebuah firma hukum di London, yang mengkhususkan bidangnya pada hukum waris. Pada suatu pagi, dia mendapatkan tugas yang istimewa, menyelesaikan kasus warisan senilai 19 triliun rupiah yang ditinggalkan oleh seorang wanita bernama Sri Ningsih.

Siapa yang menyangka, penugasan itu akan membawa Zaman menelusuri kisah hidup Sri Ningsih yang sarat makna.

Petualangan Zaman dimulai di Paris. Bukannya pergi ke menara Eiffel, ia justru harus mengunjungi sebuah panti jompo tempat Sri Ningsih menghembuskan napas terakhirnya. Di sana Zaman bertemu dengan Aimee, seorang pengurus panti yang sabar dan baik hati. Melalui Aimee, pengacara muda itu mendapatkan cerita soal asal muasal Sri Ningsih sampai ke London. Dari tangan Aimee pula, Zaman mendapatkan diary Sang Pemilik Warisan, yang nantinya akan menjadi bekal utama Zaman untuk menuntaskan tugas pentingnya kali ini.

Fokus utama novel ini adalah kehidupan Sri Ningsih yang sangat-sangat tidak mudah, dan betapa mengesankannya cara wanita itu menuntaskan episode hidupnya dengan sangat apik. Terlebih lagi, bukan hanya apik untuk dirinya sendiri, tetapi diri Sri Ningsih telah menetap di hati banyak orang yang mengenalnya. Menjadi inspirasi yang tak pernah mati karena kebaikan hati dan budinya.

Sedang Zaman Zulkarnaen, tak ubahnya adalah diri kita yang sedang menelusuri jejak kehidupan Sri Ningsih. Aku sendiri paling terkesan dengan petualangan Zaman di Pulau Bungin. Aku turut merasakannya sesaknya, dan hampir putus asanya. Tere Liye pun dengan apik menggambarkan situasi "sumpek" yang ada di sana.

Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari novel ini. Kalau boleh kubilang, novel ini komplit. Perjuangan hidupnya ada, sejarahnya ada, pelajaran budayanya ada, bahkan kisah cinta yang bikin melelehnya pun ada.

Cobalah nanti kalian baca kisah cinta Sri Ningsih dengan Hakan Karim. Bagaimana cara mereka bertemu, bagaimana pengorbanan yang dilakukan Hakan, kehilangan mendalam yang mereka alami, dan banyak lagi. Kisah cinta yang inspiratif, dan jauh dari galau-galauan :p

Ah iya, selain komplit, kisah dalam buku ini juga bisa dibilang kompleks. Aku curiga Tere Liye mesti menggambar pohon masalah dulu sebelum menyelesaikan Tentang Kamu. Banyak masalah yang saling bertautan, tokoh-tokoh yang saling bersinggungan, dan tentu saja..

Tere Liye tak pernah lupa menyiapkan kejutan di akhir cerita!

Spoiler dikit, setelah menjelajah berbagai tempat, nanti Zaman akan kembali ke salah satu tempat yang pernah disinggahinya. Untuk apa? Menemui siapa? :)

Buku ini memang tebal, 524 halaman. Jujur akupun nggak sanggup menghabiskannya dalam sekali duduk. Bahkan, sempat aku tinggal beberapa lama, sampai akhirnya aku lupa cerita sebelumnya, dan mulai baca dari awal lagi. Tapi sungguh, sama sekali nggak menyesal baca novel bersampul cokelat ini :D

Akhir kata, Sri Ningsih adalah sosok yang benar-benar sempurna untuk frase "hati selapang lautan" :)

Sampai jumpa di review-review selanjutnya, Insya Allah.

Wassalammu'alaikum wr wb.. :)

Minggu, 03 September 2017

Book Review: Bintang by Tere Liye

0

Image result for bintang by tere liye
pict from: goodreads

Assalammu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh :)

Beberapa waktu yang lalu terkaget-kaget waktu temen posting buku ini di instagram. What? Emang udah terbit? Kapan? Bukannya yang terakhir terbit tuh yang Matahari?

Dan aku memang ketinggalan update banget. Bintang udah terbit beberapa bulan lalu. Oh Em Ji. Langsung lah aku nyari waktu untuk beli. Beli online di website langganan, udah abis stoknya. Mau ke toko buku kok ya nggak sempat-sempat. Sampai akhirnya, buku ini kebeli juga, sekalian waktu itu beli kado buat orang kantor yang lagi promosi. Hihi finally!

Buku ini masih bercerita soal petualangan tiga sekawan, Raib, Ali, dan Seli. Kalau pada lupa, Raib adalah keturunan klan Bulan yang bisa menghilang, sementara Seli adalah keturunan klan Matahari yang bisa mengeluarkan petir dari tangannya. Lalu Ali? Ali adalah manusia biasa dari klan Bumi, yang bisa berubah jadi beruang ketika dalam kondisi terdesak.

Nah, buku ini adalah lanjutan dari buku Matahari yang belum aku buat review-nya. Haha. Nanti aku buat ya, sekarang yang ini dulu :p

Alkisah, sekembalinya dari petualangan mereka sendirian ke klan Bintang. Sendirian means tanpa melibatkan Miss Selena dkk, ya. Hal itu bermula saat Ali mencoba mesin jelajah buatannya, yang dinamai Ilo. Dengan mesin itu mereka bertiga pergi ke klan Bintang yang berada di bawah tanah, mendekati inti bumi. Singkat cerita, kepergian mereka saat itu membuahkan informasi penting, bahwa penguasa klan Bintang yang jahat memiliki rencana untuk meMeruntuhkan pasak bumi untuk menghancurkan kehidupan tiga klan lain di permukaan, yaitu klan Bumi, Matahari, dan Bulan!

Membaca buku Bintang, kita akan diajak menjelajahi klan Bintang yang menakjubkan. Negeri itu terdiri atas ruang-ruang yang berbeda karakteristik, namun bentuknya selalu simetris. Ruangan-ruangannya dihubungkan oleh lorong-lorong yang juga berbeda level, bergantung pada tingkat keamanannya untuk dilewati.

Banyak kejutan yang menanti di setiap ruangan, terutama ruangan tidak berpenghuni. Bisa saja ada monster buas, atau bahkan angin topan besar yang menghadang. Tiga sekawan tidak pergi sendirian kali ini, ada satu pasukan khusus yang menyertai, dengan dipimpin Miss Selena tentunya.

Dari segi gaya penceritaan, aku nggak bisa berkomentar banyak. Tere Liye masih saja membuatku sayang kalau nggak menghabiskan buku ini dalam sekali duduk. Ritmenya tuh, pas! Penulis favoritku ini selalu tahu bagaimana caranya mengakhiri satu bab, untuk akhirnya membuat penasaran dengan cerita di bab berikutnya. Masih juga dibuat kagum dengan imajinasinya dalam membuat cerita.

Ada beberapa hal penting yang terjadi di petualangan kali ini. Apa itu? Ya baca sendiri, lah, masa aku kasih tau di sini. Spoiler dong, hehe.

Ah iya, dugaan kalau ini adalah buku terakhir, sepertinya perlu dipikirkan ulang, deh :p

Di akhir bab, tiga sekawan dan pasukan akan mengalami dilema besar. Mereka diharuskan mengambil pilihan yang dua-duanya berisiko. Pilihan apa itu? Silakan beli bukunya dan dibaca :D

Anyway, seperti biasa, yang aku suka dari buku karangan Tere Liye adalah selalu ada pelajaran baik yang diberikan, entah tersirat, ataupun tersurat.

Kali ini, pelajaran yang aku dapat adalah, jangan sekali-sekali meremehkan status/pekerjaan orang lain. Karena, bisa saja mereka memberikan peranan penting dalam hidup kita nantinya. Seperti Baar dan kawan-kawannya yang bekerja di Ruangan Padang Sampah. Mungkin mereka dipandang sebelah mata oleh penduduk ruangan yang lain. Tapi siapa sangka, merekalah yang punya peranan penting untuk membantu perjalanan rombongan Miss Selena dalam rangka menyelamatkan kehidupan empat Klan!

Baiklah, sepertinya cukup sampai di sini dulu review-nya, ya. Hmm... Kira-kira judul buku lanjutannya, apa ya? #eh #spoiler :p

Wassalammu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Senin, 12 September 2016

Book Review: Metafora Padma by Bernard Batubara

0

pict taken from goodreads.com

Bernard Batubara adalah salah satu penulis favoritku. Hampir setiap dia nerbitin buku baru, aku selalu beli. Kenapa aku bilang hampir? Karena, yang aku beli adalah buku kumpulan cerpennya. Untuk novel, aku belum pernah baca karyanya, hehe. So, ketika aku tahu Bara baru aja nerbitin buku kumpulan cerpen, langsung lah aku beli. Dan, Metafora Padma-nya Bara kali ini habis dalam sekali duduk saja :p

Terakhir kali baca karyanya Bara adalah kumpulan cerpennya yang berjudul "Jatuh Cinta adalah Cara terbaik Untuk Bunuh Diri" (bisa lihat review nya di sini). Dari segi jumlah/tebal halaman, Metafora Padma jauh lebih tipis dari buku sebelumnya. Tapi, ada satu kesamaan dari kedua buku ini, yaitu sama-sama punya atmosfer suram. Suram? Iya, suram abis.

First of all, ada 11 cerpen dalam Metafora Padma yang bakal membuatmu terhanyut dalam kesuraman peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya. Menurutku, ada beberapa cerpen yang implisit banget, dan aku nggak bisa nangkep makna atau maksud sebenarnya. But, seperti yang aku bilang sebelumnya, kalau kamu berharap menemukan kisah-kisah manis nan unyu-unyu karena terpikat sama cover-nya yang bergambar bunga mawar merah, siap-siap saja kecewa. Beberapa kali aku sempat bergidik ngeri (fyi, aku nggak seberapa suka sesuatu yang sadis-sadis, thats why aku nggak suka nonton film thriller T.T), tapi yaa karena penasaran, aku terusin aja bacanya, hehe. 

Anyway, Metafora Padma memang nggak berisi kisah manis penuh romansa, tapi nggak berarti Bara kehilangan kemampuan untuk mempesonakan pembacanya. Bara berhasil menciptakan setting yang terasa dekat sekali dengan pembacanya. Bikin aku berasa ada di situasi yang sedang dia gambarkan dalam cerita. Ambillah kisah pahit Harumi dalam cerpen Perkenalan, masa lalu Fu yang kelam lewat cerpen "Es Krim", dan sembilan cerpen lainnya yang yaaah at least bisa bikin aku ngebatin "astagaaa.." sambil berasa miris-miris gimana gitu T.T 

Wondering mengapa Bara bikin kumpulan cerpen yang suram-suram begitu (dan ada beberapa cerpen yang setting-nya sama), terjawab sudah ketika aku selesai membaca bukunya dan baca bagian "ucapan terima kasih"..

Tidak lupa: Glori Paputungan, terima kasih. Kamu yang sudah memberi saya keberanian untuk menceritakan apa yang sebetulnya tidak ingin saya ceritakan.

Penasaran sesuram apa atmosfer dalam buku ini? :p     

Sabtu, 03 September 2016

Book Review: The Architecture Of Love by Ika Natassa

0

pict taken from goodreads.com
Actually sudah cukup lama merampungkan baca buku ini, tapi baru sempat bikin reviewnya sekarang. Setelah Critical Eleven (bisa baca review yang aku buat di sini), aku memutuskan untuk beli buku terbarunya Ika Natassa, The Architecture Of Love. Novel juga, masih soal romansa juga.

Novel Ika kali ini menceritakan seorang penulis bernama Raia, yang sedang mengalami writer's block parah. Setelah menelurkan karya hebatnya, tiba-tiba dia jadi stuck nggak bisa nulis apa-apa lagi. Tidak ada satu karya pun yang bisa dia hasilkan, layar laptopnya tetap kosong walau dia sudah berusaha mati-matian mengetik setidaknya sebuah cerita. Jadilah Raia memutuskan untuk pergi jauh sejenak, berharap bisa menemukan inspirasi di tempat barunya nanti. New York jadi pilihan Raia untuk menyehatkan jiwa penulisnya lagi.

New York memang menyimpan banyak cerita, tapi, sampai musim berganti pun, Raia tidak kunjung menemukan secuil ide untuk karya barunya. Di tengah rasa frustasinya, Erin, sahabat Raia, yang juga memberi tumpangan hidup untuk Raia selama di New York, mengajak Raia pergi ke pesta tahun baru yang digelar teman-teman kuliahnya. Di sanalah Raia bertemu dengan River, lelaki yang nantinya menjadi chapter baru dalam cerita hidup Raia.

Novel The Architecture of Love ini, sebagaimana novel romantis lainnya, menurutku punya ending yang mudah untuk ditebak. Jadi, buat aku pribadi, dari segi jalan cerita, nggak begitu mengaduk-aduk perasaan. Nggak sampai bikin terenyuh, apalagi sampai menitikkan air mata, walau ada part sedihnya juga. Kalau diminta ngasih nilai, ummm 3 of 5 lah. Itu juga bukan tentang story-nya yang bikin aku kasih nilai 3, tapi hal lain yang justru lebih menarik daripada keseluruhan kisah Raia dan River itu sendiri. What was that?

Aku suka banget cara Ika Natassa menciptakan tokoh-tokoh dalam buku ini. Harus aku akui bahwa, Ika punya kemampuan bikin penokohan yang kuat dan menarik, dengan detail-detail yang bikin aku mikir "astaga kepikiran banget yaa bikin tokoh yang punya kebiasaan macam ini..". River, tokoh utama lelaki dalam novel ini, diceritakan sebagai sosok yang cool, nggak banyak bicara, fully passionate in architecture. Di antara semua sifat/karakter yang manly banget macam itu, River punya kebiasaan lucu yaitu nyobain popcorn bioskop. Dia bahkan punya daftar urutan popcorn terenak di bioskop-bioskop New York. Hal-hal semacam ini yang bikin aku suka baca novelnya Ika Natassa, penokohan yang kuat dan menarik.

Sementara itu, my con's about this novel adalah terlalu banyak detail penceritaan yang menurutku nggak seberapa perlu, yang berakibat pengen langsung nge-skip aja ke halaman berikutnya. Mungkin ini juga pengaruh PoV orang ke tiga, jadi penulisnya kudu menjelaskan sejelas mungkin perasaan atau sesuatu yang lagi ada di pikiran para tokohnya. Oh iya, dalam novel The Architecture of Love ini juga bisa dijumpai part yang pakai gaya penceritaan dua sisi, seperti yang Ika tulis sebelumnya di Critical Eleven.

Overall, I'm not gonna say that this is a must buy novel. Tapi, kalau kamu suka memperhatikan hal-hal kecil selain jalan cerita (yang biasanya jadi fokus utama penikmat fiksi) seperti aku, misal tertarik dengan detail penokohan atau cara penulisnya menggambarkan setting cerita, bolehlah coba dinikmati karya terbaru Ika Natassa ini.

Jadi, setelah ini baca buku apa lagi ya? :)

Minggu, 17 Juli 2016

Travel is... (II)

1

Travel is Learning That The Journey is As Memorable As The Destination*



Bahkan, kadang bukan hanya sama memorabelnya, tapi jauh lebih memorabel dari destinasi atau tempat tujuan itu sendiri.

Empat tahun yang lalu, aku dan beberapa teman memutuskan untuk pergi berpetualang ke Pulau Sempu, Malang. Kondisi kami saat itu adalah, belum ada yang pernah ke sana, nekad nggak pakai pemandu, dan musim hujan yang bikin medannya jadi berlumpur luar biasa tinggi. Perjalanan yang kami estimasikan cukup beberapa jam saja, cukup hanya dengan menginap semalam dan pulang besok harinya, berubah menjadi perjalanan yang sangat lama, perjalanan yang memang menjadi salah satu perjalanan yang nggak akan pernah bisa aku lupakan. Singkat cerita, kami berjalan dengan speed yang lambat karena kelelahan dan mencari jalan, kami tidur di bawah pohon di tengah hutan tanpa tenda, beberapa perbekalan dicuri monyet, kami berbagi beberapa mie instan dan air yang sudah luar biasa menipis. Tapi di perjalanan itulah kami menemukan teman-teman sejati yang saling melindungi, menyemangati, dan nggak saling menyalahkan apapun satu sama lain. Waktu itu kami pikir kami aja yang lebay bisa sampai nginep di tengah hutan segala, tapi ternyata, keesokan harinya ketika perjalanan pulang, kami berpapasan dengan rombongan yang senasib dengan kami, nginep dulu di tengah hutan sebelum akhirnya mengecap pesona Segara Anakan. Fiuh, jangan pernah meremehkan apapun ketika akan traveling ya!

Sempu, 2012.
Sekitar empat bulan yang lalu, aku dan tiga orang teman kantor berangkat untuk menjelajahi Gunung Papandayan di Garut. Berangkat cuma berempat, yang mana dua orang diantaranya masih amatiran soal mendaki gunung. Let's say Papandayan adalah gunung yang sudah ramah pendaki amatir, bahkan pendaki cilik sekalipun, tetaplah bagiku ini perjalanan yang mendebarkan. Kami liburan ala bolang, nggak ikut open trip atau semacamnya. Di trip Papandayan ini, kami dioper-oper angkot, kami sempat bermasalah dengan orang di pasar, kami kehujanan, salah satu tenda kami juga diserang babi hutan. Tapi di perjalanan ini, aku mendapatkan banyak pelajaran. Tentang menaklukkan diri sendiri, menoleransi rasa takut, dan tentang pengalaman pertama mendaki. Selalu ada yang baru di tiap perjalanan yang dilakukan.. :)

Lain lagi dengan setahun yang lalu, aku pergi ke salah satu kota besar di pulau seberang. Aku pergi mengunjungi landmark-landmark di sana, makan makanan khasnya, pergi ke tempat-tempat wisatanya, dan hadir di event membahagiakan salah seorang karib sahabat. Aku pergi ke sana dengan catatan destinasi yang aku kunjungi. But more than that, i went there with a big question in my mind. Pertanyaan yang memang aku perlu sekali jawabannya. Sampai pada akhirnya, rangkaian perjalanan itu memberikan jawaban yang aku butuhkan. Aku belajar berani mencari jawaban, sekalipun hasilnya mungkin jauh dari harapan.

Dan pada akhirnya, destinasi-destinasi yang aku idamkan itu memang akan selalu teringat bagaimana indahnya, akan selalu bisa aku gambarkan bagaimana detil mengagumkannya, akan selalu mampu aku ceritakan lagi dan lagi jika ada yang bertanya.

Tapi, setiap celoteh canda dan obrolan ringan di malam hujan itulah yang bisa membuatku tersenyum ketika mengingatnya. Kesusahan, kesenangan, dinamika dalam perjalanan itulah yang membuatku tidak lelah untuk mengenang. Orang-orang yang menemani dan membuat perjalanan itu lebih dari sekedar liburan biasalah yang akan selalu membuat ingin mengulang semuanya lagi. Semua pelajaran dalam perjalanan itulah yang meninggalkan jejak mendalam di hati, membuat diri ini tidak pernah sama lagi setiap menyelesaikan satu perjalanan baru. Entah itu pemahaman baru, keberanian baru, pengetahuan baru, atau bahkan ketidaktahuan baru.

Belitung, 2016.

Destinasi akan bertahan dalam setiap foto yang kita abadikan, tapi kisah-kisah dalam perjalananlah yang membuat diri dan hati kita kaya akan rasa.. :)




Quote Ika Natassa dalam Critical Eleven

Sabtu, 12 Maret 2016

Book Review: Jodoh by Fahd Pahdepie

2



pict taken from goodreads.com


For the first time membaca karyanya Fahd Pahdepie. Saya sering mendengar maupun melihat namanya di sosmed, tapi baru kali ini berkesempatan untuk membaca bukunya. Judulnya Jodoh. Please jangan bilang saya galau, jangan bilang saya baper makanya milih buku ini, hahahaha. Awalnya sih saya tertarik sama covernya yang didominasi warna merah menyala. Ketika tahu nama pengarangnya, hmm, saya jadi ingin baca bukunya.

Novel Jodoh bercerita tentang sepasang anak manusia bernama Keara dan Sena. Lewat buku ini, saya seperti diajak untuk menyaksikan frame demi frame kisah cinta keduanya, mulai dari masa kanak-kanak, remaja, hingga mereka dewasa. Saya salut dengan gaya menulis Fahd yang bisa membuat saya seolah turut melihat, turut ada di sana dan menjadi bagian dalam cerita, walau tidak dengan menjadi tokohnya, ya. Biasanya, hal seperti ini akan bisa dirasakan ketika penulisnya menggunakan sudut pandang orang ketiga, tapi, Fahd dengan sudut pandang orang pertama-nya, bisa membuat saya merasakan hal yang serupa.

Kalau boleh saya bilang, secara keseluruhan isi cerita, bisa tertebak arahnya kemana, endingnya akan seperti apa, tapi menariknya adalah, Fahd bisa membuat saya tetap sabar dan menikmati jalan cerita. Itu keren, karena biasanya kalau merasa sudah bisa menebak ending, bacanya jadi males-malesan, hehe.

Oh iya, ada satu pemahaman mengenai kehidupan, mengenai takdir Tuhan, yang membuat saya sangat terkesan dalam novel ini. Dalam suatu percakapan antara Keara dan Sena mengenai hidup dan takdir..

"Takdir barangkali juga bekerja dengan cara semacam itu. Tuhan menyiapkan kemungkinan-kemungkinan dengan hukum sebab-akibat... Tentang takdir, mungkin Tuhan menyiapkan titik-titik peristiwa dengan jumlah kemungkinan yang tak terbatas itu. Lalu kita menentukan ke titik mana kita bergerak, ke titik-titik mana kita melanjutkan konsekuensi dari skenario yang kita pilih di titik takdir sebelumnya. Kita menyebut apa-apa yang sudah kita pilih, apa-apa yang sudah kita alami, sebagai nasib."

Dari keseluruhan cerita, saya paling suka bagian ini. Sedikit banyak, bagian ini bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari pernyataan bahwa "Segala sesuatunya sudah dituliskan oleh Tuhan". Yap, tulisan atau skenario Sang Maha Sutradara kehidupan tentulah tidak bisa disamakan dengan karya makhluk manapun. Jutaan atau bahkan skenario yang jumlahnya tak terbatas, hal ini telah menjelaskan pernyataan mengenai ketentuan Tuhan yang bisa diubah dan tidak, dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami.

Kalau kamu menyukai cerita-cerita yang sweet, dibumbui dengan sedikit puisi-puisi dan quote yang menarik, serta jalan cerita yang nggak menuntutmu mengerutkan dahi, buku ini cocok untuk kamu. Lalu bagaimana untuk kamu-kamu yang sedang menanti jodoh, apakah buku ini cocok juga, hmmm, hahaha, entahlah, kalau penasaran ya silakan beli bukunya :)

Jumat, 11 Maret 2016

Book Review: Hujan by Tere Liye

4

pict taken from goodreads.com


Kisah tentang Hujan karya penulis kenamaan Tere Liye ini diawali dengan percakapan antara paramedis bernama Elijah dan seorang gadis yang duduk di sofa hijau. Diceritakan bahwa, di jaman itu, di tahun 2040-an, teknologi pengobatan telah berkembang sangat pesat melebihi apa yang dapat kita bayangkan. Telah ditemukan oleh para ilmuwan medis pada saat itu, metode untuk bisa menghapus ingatan tertentu sesuai keinginan. Dan, gadis di sofa hijau itu menjadi salah satu pasien yang ingin menghapus ingatannya, menghapus ingatan tentang hujan.

Dua orang anak manusia bernama Esok dan Lail, dipertemukan dengan cara yang tidak biasa dalam takdir kehidupan mereka. Bencana alam, letusan dahsyat gunung purba membawa petaka bagi dua per tiga wilayah bumi, mendatangkan gempa bumi di negara Esok dan Lail, mereka yang sedang dalam perjalanan berangkat sekolah, terjebak di kereta bawah tanah. Ketika dalam usaha evakuasi lewat tangga darurat, malang, mereka justru sama-sama kehilangan anggota keluarganya. Esok kehilangan kakak-kakaknya, Lail kehilangan ayah dan ibunya. Sungguh bukan peristiwa yang menyenangkan, namun dari sanalah cerita tentang keduanya dimulai, ketika masing-masing dari mereka menjadi sangat berarti untuk satu sama lain.

Membaca buku ini, serasa kembali membaca karya Tere Liye yang mainstream, mainstream dalam arti nggak seperti yang saya rasakan ketika membaca Bumi dan Bulan yang penuh dengan imajinasi. Walaupun begitu, saya tetap terpesona dengan cara Tere Liye menggambarkan teknologi dan kehidupan masa depan dalam novel ini. Gaya deskriptif-nya saya suka sekali.

Hal lain yang membuat saya selalu suka dengan karya Tere Liye adalah selalu ada pesan baik tentang kehidupan yang bisa diambil dalam tiap karyanya. Sama halnya dengan novel Hujan ini, banyak pesan yang bisa dipetik, entah itu berupa quote secara langsung, maupun tersirat saja dalam ceritanya. Dalam Hujan, saya belajar banyak bahwa, menunggu, tidak akan terasa lama, tidak akan terasa membuang waktu semata, ketika kita mengisinya dengan sesuatu yang bermakna, atau bahkan melakukan banyak hal yang bisa menginspirasi orang banyak. Duhai, hidup hanya satu kali, bukankah semua manusia intinya hanya menanti ajal saja? Yang membedakan mereka semua adalah apa yang mereka lakukan untuk mengisi penantiannya itu.. :)

Pesan penting lainnya dalam novel ini adalah, baik buruk memori kita di masa silam, itulah yang membentuk diri kita saat ini. Segala kisah itu, baiknya dipeluk erat, dengan penerimaan yang baik, dengan rasa ikhlas yang meringankan, karena itu adalah bagian dari hidup kita saat ini.

Ending yang mengejutkan, itu yang bisa saya sampaikan dari keseluruhan cerita tentang Hujan. Hujan adalah cerita tentang cinta, persahabatan, pertemuan, dan tentang pilihan untuk melupakan. Siap menari di bawah hujan? :)

Minggu, 28 Februari 2016

Book Review: "Bulan" by Tere Liye

0

pict taken from goodreads.com


Setelah petualangan mendebarkan Raib, Seli, dan Ali di Klan Bulan, perjalanan mereka dilanjutkan dalam buku ini, Bulan, buku kedua dari serial "BUMI". Buku ini saya dapatkan secara tidak sengaja dari seorang teman, melalui acara tukar buku. Awalnya yaa asal aja, minta bukunya Tere Liye, nah dapat lah buku Bulan ini. Setelah saya selesai baca buku "Bumi", tertulis di halaman belakangnya "bersambung di Buku Bulan". Lah, pas banget!

Kalau di buku "Bumi" menguak asal-usul si Raib, maka di buku "Bulan" ini, kita akan disuguhkan sedikit riwayat dari Seli. Seli, teman Raib yang ternyata juga memiliki kemampuan khusus. Jika Raib bisa menghilang, maka Seli bisa mengeluarkan petir dari kedua tangannya. Hal ini tidak lain dan tidak bukan adalah karena Seli keturunan spesial dari Klan Matahari. Kondisi masa lalu mengakibatkan Seli dan orang tuanya harus tinggal di bumi.

Demi menjaga kelangsungan hidup yang damai antara empat Klan, petinggi-petinggi dari Klan Bulan mencari dukungan dari Klan lainnya, mereka menyasar Klan Matahari. Raib, Seli, dan Ali kembali diajak untuk pergi ke Klan Matahari oleh para petinggi Klan Bulan, yaitu Av, Miss Selena, dan Ily (anak tertua Ilo, baca buku Bumi dulu yah, makanya :D). 

Berbagai hal terjadi di luar dugaan ketika mereka sampai di Klan Matahari. Mulai terpaksa ikut Festival Bunga Matahari, melalui banyak rintangan yang belum pernah dijumpai sebelumnya untuk bisa menemukan bunga matahari yang mekar pertama kali, sampai harus menghadapi misi rahasia Fala-tara-tana II, Sang Ketua Konsil. Banyak yang harus dikorbankan, persahabatan dan kekuatan mereka benar-benar diuji, mampukah mereka menjalani itu semua?

Dalam buku ini, kembali saya dibuat terpesona oleh imajinasi Tere Liye ketika menggambarkan kondisi di Klan Matahari. Susunan nama penduduknya, nama tempat dan kota di sana, macam-macam binatang dan tumbuhan yang ada di sana, dan masih banyak lagi yang lain. Bagian ending yang tidak terduga, membuat saya nggak sabar menunggu buku selanjutnya yang katanya akan terbit di tahun ini, buku "Matahari".

Siap berpetualang lagi di dunia fantasi milik Tere Liye? Segera beli dan baca bukunya yaaa ! :D


Sabtu, 27 Februari 2016

Book Review: Bumi by Tere Liye

0

pict taken from goodreads.com


Awal melihat novel ini di box best seller toko buku deket kosan, aku langsung tertarik. Tertarik karena cover nya yang bergambar telapak tangan? Tertarik dengan judulnya yang cuma satu kata "Bumi"? Tertarik karena pengarangnya yang Tere Liye (yang ini iya, sih)? Tapi, yang paling bikin tertarik pengen baca adalah setelah aku baca sinopsis di belakang bukunya.

........... Namaku Raib. Dan aku bisa menghilang.

Aku orangnya memang suka berimajinasi. Lalu sekalinya tau Tere Liye punya buku fiksi fantasi begini, wah, nggak pakai pikir panjang deh, langsung beli! Di kepalaku langsung menerka-nerka nih. Tere Liye kan biasanya nulis buku yang kalem, penuh maknsa hidup nan filosofis gitu. Lah kalau nulis buku yang bergenre fantasi bakal kayak apa yaa?

Lewat buku ini, maka aku langsung nggak merasa salah menempatkan Tere Liye sebagai salah satu penulis favorit yang aku tunggu-tunggu karyanya! Tere Liye memang serba bisa.

Bumi adalah buku pertama dari serial "BUMI", jadi akan ada lanjutannya nih buku. Kisah diawali dengan penceritaan mengenai si Raib, tokoh utama dari buku ini. Raib adalah seorang gadis biasa berumur 15 tahun. Dia hidup bersama ayah dan ibunya, menjalani kehidupan yang normal layaknya remaja lain di usia serupa. Hanya ada satu yang berbeda, Raib punya kemampuan khusus. Menghilang!

Dalam buku "Bumi" ini, Tere Liye berkisah tentang petualangan Raib bersama teman-teman baiknya, Seli dan Ali. Dunia yang dikira sederhana, ternyata menyimpan kehidupan yang kompleks, berjalan secara bersamaan, namun tidak pernah bersinggungan. Ada Klan Bulan, Klan Bumi, Klan Matahari, dan Klan Bintang. Tidak ada yang menyadari itu semua, sampai seorang dari Klan Bulan melompati dimensi, menemui Raib di bumi. Setelah tahun-tahun berlalu, akhirnya Raib, Seli, dan Ali, mengetahui jati dirinya masing-masing. Masa lalu mulai terkuak, lalu pertempuran semakin tidak terelakkan!

Setelah membaca novel Rindu-nya Tere Liye yang selow abis, membaca novel Bumi ini, mataku seperti nggak mau lepas dari bukunya. Pengen baca teruuuus sampai tuntas. Novelnya seru banget! Di buku ini, masih dijumpai di beberapa part, gaya nulis khas dari Tere Liye yang kalem, sabar, runut, dan filosofis. Tapi sisanya, aku diajak berimajinasi, diajak bertualang ke tempat-tempat yang tidak terbayangkan. Aku diajak turut merasakan kecemasan para tokohnya, ketegangan dalam perang, dan mendalami karakter-karakter yang ada dalam buku ini. Rasanya amazing!

Aku bisa bilang bahwa, ini adalah sisi lain dari Tere Liye. Salah satu yang harus dibaca! :D

Kamis, 28 Januari 2016

Book Review: Rencana Besar by Tsugaeda

2


pict taken from goodreads.com



Belum lama ini saya menuntaskan baca buku ke dua-nya Tsugaeda, lalu karena penasaran akhirnya memutuskan untuk segera baca buku pertamanya yang berjudul Rencana Besar. Novel Rencana Besar masih punya nafas yang sama dengan Sudut Mati, yaitu konfliknya sekitaran masalah korporasi. Kalau sudah baca Sudut Mati, di sana disebut-sebut nama sebuah Bank, namanya Universal Bank of Indonesia atau disingkat UBI. Nah, di novel Rencana Besar ini, saya jumpa lagi dengan UBI, tapi bukan hanya sebagai setting sampingan, malah, UBI dalam novel ini menjadi keseluruhan nyawa.

Dikisahkan UBI sedang diguncang kasus hilangnya sejumlah uang dari pembukuan perusahaan secara misterius. Setelah melalui penyelidikan rahasia, diperoleh tiga nama yang diduga menjadi tersangka, Rifad, Reza, dan Amanda. Ketiga pegawai itu memiliki karakter yang sangat berbeda satu sama lain. Reza pegawai yang sedang mengalami demotivasi, Amanda adalah pegawai teladan nan cemerlang karirnya, sementara Rifad adalah pemimpin Serikat Pekerja UBI yang kharismatik dan punya ribuan pengikut setia. Kasus yang awalnya sepele, ternyata punya latar belakang yang amat rumit. Perjuangan bertahun-tahun untuk sebuah pengungkapan. Dengan kata lain, kasus uang raib itu hanyalah kasus pembuka.

Membaca novel ini, saya kembali dibuat terkagum-kagum oleh Tsugaeda. Menurut saya, berbeda dengan Sudut Mati yang gaya penceritaannya cepat, Rencana Besar memiliki ritme yang naik turun. Ritme akan sangat lambat di bagian awal, makin cepat hingga (seperti) klimaks di bagian tengah, lalu saya diajak untuk slow down memahami latar belakang konflik yang terjadi. Novel ini membuat saya belajar sabar. Dengan alur maju-mundur, setiap konflik dalam novel ini dapat dipahami dengan baik, nyata, dan sangat rasional.

Sepertinya sudah menjadi ciri khas Tsugaeda, menciptakan banyak tokoh, konflik yang njelimet, dan menghadirkan letupan-letupan kejutan yang membuat pembacanya tak sabar untuk menuntaskan halaman demi halaman dalam sekali baca saja. Lagi-lagi saya memundurkan waktu tidur karena baca novel ini, haahaha. I think you'll do the same thing with me when you got this book on your hand :p

Tidak ada cara lain memecahkan kasus dalam Rencana Besar, selain menuntaskan bukunya sampai halaman akhir. Pelakunya benar-benar unpredictable! Anyway, novel ini adalah novel ke dua setelah 5 cm, yang bisa membuat saya terhanyut sampai merinding haru. Di bagian mananya? Kalian harus baca sendiri untuk tahu di bagian mananya! :D

Harus saya katakan, sekarang Tsugaeda menjadi salah satu penulis yang saya nantikan karya-karyanya kedepan nanti.. :D

Sabtu, 23 Januari 2016

Book Review: Sudut Mati by Tsugaeda

4

pict taken from goodreads.com

Tempo hari menengok koleksi buku yang masih terplastik rapi alias belum dibaca, lalu langsung mantap memilih buku Sudut Mati karya Tsugaeda. Buat saya, ini adalah genre uji coba, karena berbeda dengan genre yang selama ini saya baca, yang nggak jauh-jauh dari novel filosofis, perenungan hidup, metropop, dan sejenisnya. Novel Sudut Mati ini berkisah tentang perkara-perkara yang timbul karena adanya konflik korporasi. Novel yang penuh intrik di sana-sini, sampai-sampai bikin saya rela menunda tidur malam hanya demi menuntaskan novel ini dalam sekali baca!

Saya nggak ada ekspektasi apapun dengan buku ini, karena nama penulisnya juga saya baru dengar, belum pernah baca karyanya yang lain pula. Tapi begitu membaca, satu bab, dua bab, tiga bab, mata seperti nggak mau lepas dan pengen cepet-cepet nuntasin, karena bikin penasaran banget! 

Saya kagum dengan cara Tsugaeda menuturkan konflik-konflik dalam novel ini, runtut, rumit, banyak, tapi nggak bikin pusing, dan tetap terasa masuk akal. Tsugaeda juga menciptakan banyak tokoh dalam novelnya, tapi perbedaan karakter tokohnya bisa terlihat sangat jelas. Dengan gaya penceritaan melalui sudut pandang orang ke tiga, saya seperti diajak melihat keseluruhan cerita dari sudut pandangnya, seperti naik helikopter dan melihat kejadian-kejadian yang terjadi bersamaan, merasa lebih banyak tahu daripada satu per satu tokoh di dalam bukunya. And thats cool! :D

Tokoh utama dalam novel ini adalah Titan, seorang anak dari pengusaha ternama, yang kembali ke tanah air dari studinya di luar negeri, demi satu misi:

mengembalikan apa-apa yang salah kembali ke jalan yang benar.

Heroik sekali ya? Dan demi mewujudkan misi itu, dia harus melalui banyak hal, mengambil banyak risiko, berada dalam keadaan bahaya, dan banyak ancaman lain yang harus dihadapi. Mampukah Titan? No, aku nggak akan ngasih tahu, kalian harus baca sendiri.

Ah iya, salah satu part favorit saya dalam novel ini adalah ketika Titan membuat 32 strategi keuangan palsu dan menyebarkannya pada seluruh direktur utama anak perusahaan untuk bisa mengetahui kebocoran dalam holding raksasanya, untuk menemukan siapa antek Ares yang ada dalam lingkungan internalnya. Itu langkah keren yang nggak terduga banget! Itu cuma salah satu, masih banyak action keren lain dalam novel ini. Masa kalian nggak penasaran? :p


Buat saya pribadi, buku ini termasuk must read!

Sabtu, 05 Desember 2015

Book Review: PINDAH

0

pict taken from goodreads.com

Ada sejarah lucu tentang buku ini, buku kumpulan cerita pendek, judul bukunya "PINDAH", dengan tagline "ada indah di setiap pindah". Mungkin dari sini bisa ketebak arahnya mau kemana. Hahaha.

Jadi, pertama kali aku berjumpa dengan buku ini adalah tahun 2013, di salah satu toko buku favorit dekat kampus yang lumayan sering aku kunjungi. Saat itu aku sedang dalam masa move on, hahaha, jadi, begitu lihat sampulnya, wah langsung berasa jatuh cinta, berasa kalau buku ini bakal "aku banget nih". Tapi, waktu itu, berhubung anggaran terbatas, aku urung beli, dan malah beli komik detektif conan, yang memang rajin banget aku ikuti.

Waktu berjalan, tahun 2014 di Jakarta, aku ketemu buku ini lagi pas lagi ke tokobuku dekat kosan. Udah mau beli banget sih waktu itu, tapi sayangnya kuurungkan lagi. Apa pasal? Saat itu aku masih dalam masa prihatin, baru digaji di bawah satu juta perbulan, jadi kudu selektif banget, kalau nggak butuh-butuh banget ya nggak beli. Jadilah, sekali lagi lolos tuh buku, nggak jadi kebeli.

Sampai sekitar dua bulan yang lalu, aku akhirnya bener-bener beli buku ini lewat toko buku online, hehehe. Akhirnya, rasa penasaranku bisa terhapuskan juga! :D

Kesan pertama waktu aku buka plastik pembungkus buku ini adalah, buku ini unik banget! Sampul bukunya berbentuk bukaan kardus, gitu. Terus di dalamnya ada semacam gift berbentuk jaring-jaring kubus/kotak kardus yang beneran bisa dirangkai jadi kotak kardus kecil. Kesan pindah-annya kuat banget.. :)

Seperti yang aku bayangkan sebelumnya, buku ini memang berisi kumpulan cerpen yang tema besarnya adalah perihal move on. Ada 11 cerita pendek yang dikisahkan oleh 8 orang penulis. Ke-sebelas-sebelasnya sama-sama punya sisi manis, sisi nyesek, sisi sedih, dan beberapa sisi lain yang umumnya kita rasakan kalau harus move on, harus pergi dari sesuatu yang awalnya tiada, lalu ada, dan akhirnya menjadi kembali pada ketiadaannya.

Kalau kamu lagi mau move on, aku bisa bilang bahwa buku ini lumayan tepat untuk dibaca. Kemungkinannya ada dua sih, bakal bikin nangis bombay karena ingat kisah diri sendiri, atau malah menemukan semacam pencerahan tentang bagaimana melaksanakan dan menjalani proses move on itu sendiri.

Perkara pindah itu memang tidak pernah mudah, tapi juga tidak sepenuhnya sulit. Menjalani kepindahan itu memang tidak pernah sederhana, tapi juga tidak sepenuhnya rumit. Semua itu pilihan, antara ya dan tidak, antara berhenti dan berjalan, antara menetap saja dan pergi jauh melesat. Dan kita manusia, adalah kuncinya. Waktu hanya membantu.

Jadi, sudah siap mengemasi masa lalumu dalam kotak kardus? Selamat pindah.. :)

Minggu, 22 November 2015

Book Review: "Critical Eleven" by Ika Natassa

2

pict taken from goodreads.com


Semalam menyelesaikan baca novel Critical Eleven karya Ika Natassa. Booming banget novel ini, bahkan sebelum terbit. Saya sempat mau ikut pre-order yang bertanda tangan, tapi kayaknya lupa deh nggak jadi daftar, hahaha. Beberapa teman merekomendasikan novel ini, saya akhirnya jadi penasaran juga lama-lama. Terakhir kali saya baca karya Ika Natassa adalah "A Very Yuppy Wedding" yang saya inget banget, hasil minjem dari salah satu dosen (gaul kan dosen saya? :p). Jadilah, saya masukkan Critical Eleven sebagai salah satu buku yang saya beli di toko buku online langganan.

Entah kebetulan atau apa, dua buku yang saya rampungkan baca beberapa hari belakangan, ada hubungannya sama traveling, melakukan perjalanan. Dan begitu juga halnya dengan Critical Eleven ini, ada hubungannya sama pesawat. Tanya Baskoro dan Aldebaran Risjad, dua tokoh utama dalam novel ini, mengawali perjalanan cintanya dari pertemuan singkat dalam pesawat. 

Memutuskan menikah setahun setelah perkenalan pertamanya, membuat mereka harus mempertanyakan lagi akan dibawa kemana pernikahan mereka setelah satu tragedi yang mengubah dan mengguncang kehidupan rumah tangga mereka. Total.

Dikisahkan secara menarik, bergantian melalui sudut pandang Ale dan Anya, membuat saya bisa memahami apa yang dirasakan masing-masing tokohnya. It feels like, Ale dan Anya secara bergantian mengajakku duduk minum kopi, saling berhadapan, dan membagi apa yang mereka rasakan terhadap satu sama lain. Ale yang tidak ragu sedikitpun atas rasa cintanya, Anya yang dalam keraguan begitu besar belum bisa mengambil keputusan. You know, rasanya asyik seperti dijadikan teman curhat oleh tokoh utama dari novel yang saya baca.

Honestly, I put high expectation on this novel, mengingat banyaknya rekomendasi yang datang, dan besarnya kehebohan yang ditimbulkan. Dan, mungkin karena itu juga, menurut saya, novel Critical Eleven ini nggak sampai membuat perasaan saya teraduk-aduk. Merasa sedih iya, tapi nggak sampai menangis. Saya malah lebih suka bagian-bagian lucu percakapan Ale dan Harris, adiknya. Bagian itu bisa bikin saya tertawa beberapa kali. But still, novel ini worth to read.. :)

Overall, yang paling saya suka adalah pemilihan main topic novel ini, problem utamanya. Saya nggak akan cerita di sini tentang problem utamanya ya, kalian harus baca sendiri, hehehe. Saya juga suka bagaimana Ika menggambarkan cara Tanya berduka, terkungkung dalam lukanya. Dan sekali lagi, saya juga suka banget sama gaya penceritaannya Ika Natassa yang santai, yang bisa membuat pembaca merasa dekat dengan tokohnya. Ya seperti yang saya bilang tadi, seperti diajak curhat gitu lah.. :D

Kalau kalian mencari novel yang kisahnya nggak macam kisah cinta ABG, novel ini cocok untuk kalian baca! 

Last but not least, thanks so much Ika for many quotes about traveling in the end of this book, I love it so muuuuch :D

Salam, dan selamat membaca :)

Jumat, 20 November 2015

Book Review: Rindu by Tere Liye

0

pict taken from goodreads.com


Salah satu tanda aku excited dan masih akan sabar menghabiskan satu novel tebal adalah ketika aku nggak memutuskan untuk membaca bagian endingnya di beberapa lembar terakhir. Seperti ketika aku merampungkan baca novel Rindu-nya Tere Liye beberapa hari yang lalu. Novel yang tuebel (you know, orang Jawa Timur, apalagi Surabaya, suka banget nambahin huruf "u" untuk mengganti kata "banget", so tuebel means tebal banget :p) ini aku baca tiap hari pas sepulang kantor, mungkin baru selesai dalam lima hari.

Ini adalah novel pertama Tere Liye yang berhasil aku tamatkan, karena sebelumnya aku cuma baca kumpulan cerita pendeknya aja. Dan, ketika aku sampai pada halaman terakhir buku ini, aku langsung ngebatin:

Ini sih sama briliannya dengan cerpen-cerpen yang Tere Liye buat.

Sedikit petunjuk, buku ini menceritakan tentang suatu perjalanan besar Kapal Blitar Holland yang mengangkut para Jamaah Haji pada tahun 1930-an. Kapal itu bukan hanya membawa manusia dengan darah suku dan keturunan yang bermacam-macam, tapi juga beragam pertanyaan yang menghuni hati dan kehidupan para penumpangnya..

Suatu perjalanan jauh atas nama kerinduan, dan terjawabnya segala pertanyaan yang mengganjal di hati para tokoh dalam cerita.. (then somehow aku jadi merasa jadi bagian dalam cerita ini, kayak ngaca)

Seperti biasa, Tere Liye selalu berhasil menciptakan quotes yang bisa membuat pembaca (dalam hal ini sih, aku) langsung mengangguk setuju, atau minimal merasa "ya ampun aku banget, nih". Buku ini berhasil bikin aku serasa membaca buku sejarah, tanpa merasa bosan. Ah iya, yang sangat-sangat aku kagumi adalah, aku sampai-sampai mikir kalau Tere Liye itu hidup di jaman yang dijadikan setting dalam cerita. Dengan sudut pandang orang ketiga, aku nggak hanya merasa didongengi oleh Tere Liye sebagai pembuat cerita, lebih dari itu. Aku merasa kalau Tere Liye sedang menceritakan pengalaman pribadinya, seolah dia turut ada dalam tiap adegan dalam buku ini.

Semua yang dituliskan terasa nyata, aku bahkan bisa merasakan bulu kudukku berdiri waktu....... (baca sendiri aja deh, ya :p)

Banyak hal yang bisa dipelajari dari novel Rindu ini. Aku belajar bahwa segala pertanyaan pasti akan menemukan jawabannya, asalkan kita mau berusaha mencari tahu. Sekecil apapun pertanyaan, kalau kita memutuskan untuk memendamnya dalam hati saja, ya di sanalah dia akan berdiam. Sampai kapanpun. Dan boleh jadi pertanyaan itu memberi satu ruang kosong dalam hidup kita, yang kita tak pernah tahu bagaimana cara mengisinya.

Ada salah satu quote yang paling aku suka dalam novel tebal ini:

"Kisah cinta dalam novel, film, sinetron, itu semua ada yang menulis. Tapi kisah cintamu, Allah Yang Menulis Skenarionya.. Yakinlah ia akan jadi kisah yang hebat dan indah"

Aku membaca part itu sambil tersenyum dan diam-diam berdoa dalam hati :)

Wait, jangan lupa dan jangan sampai kelewatan untuk membaca Epilog yang mempesona nan unpredictable di bagian akhirnya, yaa.. :D

Salam dan Selamat Membaca :)

Kamis, 12 November 2015

Book Review: Menjelajah Belanda Dalam "Holland" by Feba Sukmana

2

Sore ini baru saja menyelesaikan satu novel. Novel? Sejak kapan suka baca novel? Yea, biasanya memang aku lebih suka baca antologi cerpen, dan jarang bisa betah baca novel (kecuali untuk novel-novel yang banyak direkomendasikan). Tapiiii, karena akhir-akhir ini keinginanku untuk bikin novel sedang muncul lagi, maka aku memutuskan untuk 'latihan' baca novel, memperbanyak referensi. Jadilah aku beli beberapa novel, dan berlatih melahapnya satu demi satu.

And finally, Holland karya Feba Sukmana berhasil kurampungkan. Novel ini aku beli di toko buku dekat kos. Dont judge a book by its cover?

pict taken from goodreads.com


Ummm, i dont think so. Honestly, sometimes i do judge a book by its cover, hehe. Awal tertarik karena ngelihat cover bukunya yang lucu, gambar sudut kota berwarna hitam putih, dibingkai dengan warna oranye yang lumayan menyolok. Aku baca sekilas sinopsis di sampul belakangnya, dan langsung mbatin "ok, i'll read it", kemudian membayarnya ke kasir.

Novel yang aku baca kali ini, berkisah tentang seorang gadis bernama Kara, yang dalam misi pencarian jati dirinya. Alur hidup membawanya jauh ke negeri kincir, Belanda. Di kota pelajar (mungkin semacam Yogyakarta di Indonesia) Leiden, Belanda, dia menempuh pendidikan S2, dan pada akhirnya menemukan banyak jawaban atas ceceran pertanyaan yang disimpan jauh, disimpan lama dalam benaknya. Di negara tulip itu pula, batin Kara banyak bergolak, mengalami pencarian dan pertemuan yang serupa kepingan-kepingan puzzle--yang sedikit demi sedikit mulai menampakkan gambar utuhnya.

Membaca karya Feba Sukmana ini, kita akan dibawa berkelana jauh ke negeri Belanda, khususnya kota Leiden. Salah satu kenikmatan membaca adalah imajinasi kita bisa bebas liar menciptakan lukisan dari kata-kata yang kita cerna. Feba menggambarkan sudut-sudut kota Leiden dengan sangat apik, dengan sangat detail. Aku bisa membayangkan rasa dinginnya, aku bisa membayangkan bagaimana tokoh-tokoh dalam novel itu begitu menikmati bersihnya udara ketika berbaring di rerumputan. Keren! Satu lokasi yang paling aku suka dari penggambaran Feba adalah kastel de Burcht, sebuah kastil tua yang ada di atas bukit. Ah, aku jadi membayangkan berada di situ, sekedar membaca novel sambil minum teh di puncaknya, dan sesekali menerawang jauh menikmati indahnya panorama sekitar kastel. Hmmm..

Oh iya, karena bersetting di Belanda, kita juga bisa menemukan beberapa kata dan kalimat sederhana dalam bahasa Belanda dalam novel ini. Nggak cuma itu, banyak sejarah mengenai Indonesia dan Belanda dibahas di sini, jadi sambil baca cerita, secara nggak langsung aku juga belajar sejarah. Semacam sambil menyelam minum air gitu, deh :)

Aku suka gaya penceritaan Feba. Melalui sudut pandang orang ke tiga, penggambaran mengenai para karakternya jadi terkesan gamblang dan obyektif. Untuk aku, novel ini nggak terlalu bikin aku seperti naik roller coster dan mengaduk-aduk perasaan, sih. Tapi, Feba Sukmana berhasil membuatku betah, berhasil me-maintain rasa penasaran sampai menuntaskan akhir cerita. Beberapa detail dalam ceritanya juga sempat bikin aku salah sangka dan senyum-senyum sendiri sambil membatin "good, ini bukan seperti cerita-cerita di ftv atau sinetron".

Ada salah satu kebetulan yang lucu, karena salah satu pesan penting dari novel ini, adalah hal yang baru saja aku pelajari sungguhan dalam hidup. Tentang keberanian, tentang berjuang mendapatkan jawaban. You know, lebih baik mendapatkan jawaban yang mungkin tidak siap kita hadapi, daripada terus tenggelam dalam pertanyaan, kan? Aku sih setuju sama pemahaman seperti itu. Dan, nggak ada yang perlu disesali dari sesuatu yang sudah diperjuangkan.. ;)

Overall, ini adalah novel yang indah dan menyenangkan untuk dibaca dari Feba Sukmana, kamu sudah baca??

Senin, 31 Agustus 2015

Book Review: The Ho[S]tel

0

Terimakasih bukunya, mr. Sony dan mas Ariy :)

Actually sudah selesai baca buku ini sejak 2 mingguan yang lalu, tapi selalu kelelahan tiap udah sampai kosan, dan akhirnya mengabaikan laptop yang teronggok di sudut kamar. Kasur jauh lebih menggoda, hehehe. Tapi, hari ini, sekalian lah nungguin pengisian e-performance alias penilaian kinerja di kantor (yang masih eror-eror mulu), diniatin posting untuk nge-review buku ini :D

Dimulai dari asal usul buku ini. Jadi, buku ini adalah sebuah karya kolaborasi dari Ariy dan Sony (ah, kagok banget nyebut nama doang macam begini, haaha), di mana salah satunya adalah dosen aku di kampus. Yap, Bapak Sony Kusumasondjaja. Awalnya aku ngereview bukunya mas Ariy yang nomadic heart, terus nge-mention penulisnya, lalu malah dikasi buku ini secara gratis plus tanda tangan plus ucapan dari penulisnya.. Hahahaha.. Big thanks, mr, Sony and mas Ariy :D

Buku berjudul The Ho(s)tel ini menceritakan pengalaman dua orang penulisnya, yang notabene memang penghobi traveling. Seperti yang diungkapkan mas Ariy di bagian mukadimah (halah, mukadimaaaah :p), pengalaman yang dibagikan oleh dua penulis ini sifatnya saling melengkapi. Kalau yang satu referensi travelingnya kebanyakan negara Asia, maka satunya lebih sering traveling ke Eropa. Jika mas Ariy cenderung memilih gaya backpacker, maka pak Sony lebih ala koper. Dua hal yang saling melengkapi itulah yang menjadikan buku ini terasa lengkap dan sesuai banget buat referensi dua gaya traveling sekaligus :D

Salah satu hal yang aku sukai dari buku non fiksi macam begini adalah:
1. Bacanya santai
2. Karena pengalaman sendiri, biasanya ceritanya itu akan terasa sangat akrab, serasa ngalamin sendiri gitu deh :D

Dan kedua hal itu aku dapatkan di buku ini. Penggambaran suasana dan emosinya tuh dapet banget. Traveling memang sejuta rasanya, bukan cuma ketika kita berada di tempat-tempat wisatanya, tapi cerita-cerita tentang tempat kita merebahkan punggung pun nggak jarang juga membawa memori-memori khusus yang akan terkenang selalu :D

Total ada 19 pengalaman seru mas Ariy dan mr. Sony dalam mengarungi bahtera traveling nya masing-masing. Rasanya masih amazed ngebaca salah satu cerita dimana mr. Sony marah-marah banget gara-gara dituduh ngambil asbak (pasalnya aku biasa ngelihat beliau itu cool banget kalo di kampus), jadi ngebayangin beliau marah-marah sampe segitunya tuh rasanya lumayan ngeri deh kayaknya, hahaha. Bahkan aku ikutan merinding juga pas baca pengalaman mas Ariy nginap di hotel horor di Cina (antara merinding, tapi juga pengen ketawa sih, :p).

Ngebaca pengalaman traveling (khususnya bagian inap-menginap) dari dua penulis ini berhasil bikin aku ngakak, merinding, bahkan mengangguk dan menggelengkan kepala sendirian. Mengangguk pas baca something yang ternyata juga aku banget, misal mas Ariy yang doyan nyetel TV semalaman ketika ngerasa "nggak nyaman", juga pikiran-pikiran parno kalo ada bed kosong di sebelah bed sendiri. Aku banget ituuu.. hahahaha

Anyway, di buku ini aku nggak cuma bisa membaca pengalaman nginap di negeri orang, tapi juga banyaaaak tips yang berguna banget untuk traveling (fyi, tips ini ada di tiap akhir cerita, lho!). Kebayang banget betapa buku ini berguna banget buat orang-orang yang hobi traveling alias melancong kemana-mana :D

Akhirul kata, buku ini bener-bener kaya referensi maupun tips bagi penyuka traveling. Membaca buku ini juga somehow bikin aku pengen traveling sendirian (duh tapi, mengingat aku wanita dan ngga punya ilmu beladiri, urung deh kalo mesti traveling sendirian jauh-jauh :p).

Mau tahu cerita-cerita lain di buku ini? Baca sendiri lah, dijamin langsung pengen nyobain tips-tips yang udah dishare di buku ini deh.. Pasti!

:D 

Sabtu, 01 Agustus 2015

Book Review: Nomadic Heart

0




Sudah agak lupa kapan beli buku ini, yang jelas, niat dan minat membacaku sih baru-baru ini aja muncul (lagi) nya. Setelah tuntas baca bukunya Benzbara yang "jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh diri", buku selanjutnya yang jadi sasaranku adalah buku ini, judulnya "Nomadic Heart". Lama banget nggak baca buku yang bernuansa traveling. Ah, apalagi traveling itu sendiri, udah lama nggak ngelakuinnya, uwaaa.. *malah curcol*

Lanjut ngomongin bukunya yaa.. Hehe.. Buku berjudul Nomadic Heart ini sebenarnya nggak bisa dibilang buku baru, terbitan tahun 2013, sebuah karya dari seorang travel writer bernama Ariy (yang nantinya adalah sebagai duet nulis di buku dosen saya, tentang traveling juga). Kalau ditanya apa yang bikin aku tertarik untuk membeli buku ini, yaaa karena buku ini bertema traveling. Pertama melihat cover, baca kata-kata di belakang bukunya, pikiranku langsung berekspektasi, bahwa buku ini akan bercerita tentang banyak perjalanan, tentang banyak pelajaran yang didapatkan dalam perjalanan itu sendiri. 

Dan...

Ekspektasiku nggak berlebihan, berhasil aku puaskan ekspektasi itu dalam buku ini. Gaya bercerita yang sederhana, beberapa perumpamaan lucu, itu yang bikin aku ngerasa begitu dekat sama pengalaman yang diceritakan sang penulis. Terdiri dari beberapa bagian, Ariy menceritakan pengalaman-pengalamannya traveling ke berbagai negara, bertemu berbagai macam orang dengan karakter yang macam-macam pula, bersua dengan perbedaan budaya, dan bertoleransi dengan banyak hal. Bisa terasa sekali kecintaan Ariy terhadap traveling, bisa dirasakan pula bahwa traveling memberikannya banyak hal (yang mungkin hanya ia sendiri yang tahu).

Kalau aku laki-laki, mungkin aku nggak akan keberatan traveling sendirian kemana-mana. Sounds so fun ketika Ariy bercerita tentang tidur di stasiun, di mushola, being lost di tempat-tempat yang baru, dan lain sebagainya. Tapi, aku nggak bisa membayangkan kalo itu terjadi di aku. Lha wong berangkat dinas aja ribet, apalagi backpacking sendirian macam si Ariy ini, hahaha.. Buatku sih, backpacking alone sebagai perempuan yaa hanya bisa dibayangkan saja bagaimana rasanya.. :p

By the way, aku suka dengan banyak nilai yang dishare Ariy melalui bukunya ini. Di sini, bisa dilihat bagaimana pentingnya membawa prasangka baik sepaket dengan kewaspadaan. Pentingnya memahami budaya di tempat kita berada. Bertoleransi dan memahami karakter manusia, dan banyak lagi yang lainnya.

Ariy berhasil membuatku semakin yakin, bahwa traveling itu bukan kegiatan ngabis-ngabisin duit seperti yang sering dikatakan orang. Lebih dari perjalanan fisik, hati kita pun turut dibawa, dan melakukan perjalanan.. :)

Dan yang tidak kalah penting, di buku ini, terlihat pula bagaimana satu kebaikan itu memang akan menjadi rantai dengan kebaikan-kebaikan lainnya, yang pada akhirnya akan kembali pada diri kita sendiri.. :)

Happy traveling :D

Minggu, 14 Juni 2015

Jatuh Cinta adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri

1

Whaaat?? Jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh dirii? Yap, itulah memang judul buku terbaru dari Bernard Batubara. Sekilas didengar pasti judulnya membuat kita mengernyitkan dahi. Demikian pula itu yang aku rasakan ketika tahu judul buku barunya si Bara. Demi rasa penasaran dengan isi dari buku yang judulnya unik itu, aku sampai ikut pre order bukunya. Dan berhasil dapet tanda tangannya Bara juga, yeaaayy!! :D

Kalau umumnya jatuh cinta itu pasti kebayang yang manis-manis, bahagia, berjuta rasanya, maka dalam buku ini yang ada malah kebalikannya. Bisa dibilang bahwa ini sisi lain dari tulisannya Bara. Biasa ngebaca tulisan Bara yang sweet, dengan tema mainstream, tapi tetep dengan tata bahasa yang bikin "melayang" dan tersenyum plus menghela napas panjang saking sweetnya. Lalu kali ini baca tulisan Bara yang suramnya ampun-ampunan.

But, he did great!

Aku kagum banget dengan cara Bara menghadirkan kesan/rasa suram dalam tiap cerita di buku ini. Oh iya, buku ini bentuknya kumpulan cerita pendek, bukan novel. Aku memang lebih suka baca kumpulan cerita pendek daripada baca novel (mungkin karena ini juga ya, aku sampai sekarang belum keturutan untuk bisa bikin novel). Dan menurutku, setiap cerita dalam buku ini ajaib! :)

Ada 15 cerita pendek dalam buku ini, dan setiap cerita dilengkapi dengan ilustrasi yang menarik. Aku suka gambar-gambar hitam putih di setiap awal ceritanya. Alih-alih jadi punya gambaran (dan tepat) tentang isi ceritanya, aku malah jadi penasaran banget pengen baca ceritanya, nagih banget untuk langsung dihabiskan dalam satu periode ngebuka bukunya. Macam kalau lagi baca komik detektif Conan gitu, deh! :D

Selain tema-tema cerita yang antimainstream, banyak sisi yang dibawa Bara dalam cerita-ceritanya di buku ini. Ada sisi sosial masyarakat, budaya/tradisi, sampai hal-hal update yang sering terjadi saat ini. Buku yang kaya, kalau aku bilang. Kaya akan pengetahuan, kaya akan imajinasi, kaya akan rasa-rasa seputar cinta yang seringkali luput dari pandangan kita jika sudah berbicara tentangnya, tentang cinta.

Kalau kalian mencari cerita cinta yang nggak mainstream, buku ini adalah buku yang sangat tepat. Sisanya, aku selalu suka cara Bara bercerita (tentang tokoh, tentang POV, tentang jalan cerita), aku selalu suka diksi yang dipakai oleh Bara, dan aku suka pengetahuan-pengetahuan baru yang dibawa Bara dalam tiap ceritanya (entah itu tentang bahasa lokal, adat, or everything yang bikin cerita-ceritanya selalu berwarna).

What a very veeerrryyyy goood job, Bara! I'm waiting for your new book :)  

Jumat, 15 November 2013

10 pertanyaan untuk cinta

0

Aku adalah kunang-kunang.

Dalam gelap aku terbang, dalam gelap aku terang.


Dan jadilah kau senja. Karena gelap kau ada, karena gelap kau indah.


Aku hanyalah kunang-kunang dan engkau hanyalah senja.


Saat gelap kita berbagi. Saat gelap kita abadi.



-- salah satu puisi dalam buku Cinta Itu, Kamu by Moammar Emka

Senin, 02 September 2013

trave(love)ing

0

Hai-haiii lama nggak posting nih ya.. Hehehe.. Belakangan ini sedang sibuk banyak hal, tapi no problemo, hari ini aku akhirnya mengobati kerinduan untuk posting di akun ini. Postingan kali ini berupa review singkat mengenai novel yang baru selesai aku baca beberapa waktu yang lalu, judulnya TRAVE(LOVE)ING...

Buku ini mengisahkan perjalanan 4 orang teman yang dilandasi peristiwa patah hati. 4 orang dengan destinasi yang berbeda dengan 1 motivasi yang sama, yaitu move on!

Dendi Riandi, melakukan perjalanan ke Bangkok demi mengejar seseorang, dan mengalami serangkaian kejadian menarik dengan supir tuk-tuk.

Grahita Primasari liburan ke Bali bersama teman-temannya, mencoba menghabiskan waktu untuk melupakan.

Mia Haryono mendapatkan kesempatan emas pergi pelatihan ke Dubai, pergi jauh dengan tujuan utama menciptakan jarak untuk bisa lepas.

Roy Saputra berpetualang ke negeri tetangga bersama Arya, temannya.

Keempatnya sedang dalam suasana hati yang sama, patah hati. Banyak hikmah yang bisa diambil dari novel ini, terutama buat kalian yang sedang dalam usaha move-on.

Buat aku sendiri, ada something yang sangat menggelitik dalam novel ini..

Ada satu kesamaan, yaitu melakukan perjalanan sebagai pelampiasan gara-gara patah hati. Hahahaha, curcol ceritanya ini :p . Masih inget waktu dulu patah hati, untuk pertama kalinya jalan-jalan sendirian di mall. Dan yaa, lumayan efektif mengobati kegalauan hati, sih. 

Tapi, yang jelas, setiap orang punya caranya masing-masing untuk move-on. Misalnya, ada yang harus menemukan orang baru untuk dicintai, harus pergi jauh dari rutinitas, atau yang lain. Pada dasarnya, melupakan itu bukanlah solusi. Biasanya, semakin kita mencoba melupakan, malah semakin kuat kita mengingat.

Setiap orang yang pernah ada di hati kita, pada dasarnya akan tetap ada di sana. Hanya saja, mungkin mereka akan pindah ke ruangan yang berbeda.

Solusinya adalah melepaskan, mengikhlaskan..

Sebab, bagaimana kamu akan menangkap anugerah Tuhan yang lain, jika kamu belum mengosongkan tanganmu? :)