Sabtu, 01 Agustus 2015

Book Review: Nomadic Heart

0




Sudah agak lupa kapan beli buku ini, yang jelas, niat dan minat membacaku sih baru-baru ini aja muncul (lagi) nya. Setelah tuntas baca bukunya Benzbara yang "jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh diri", buku selanjutnya yang jadi sasaranku adalah buku ini, judulnya "Nomadic Heart". Lama banget nggak baca buku yang bernuansa traveling. Ah, apalagi traveling itu sendiri, udah lama nggak ngelakuinnya, uwaaa.. *malah curcol*

Lanjut ngomongin bukunya yaa.. Hehe.. Buku berjudul Nomadic Heart ini sebenarnya nggak bisa dibilang buku baru, terbitan tahun 2013, sebuah karya dari seorang travel writer bernama Ariy (yang nantinya adalah sebagai duet nulis di buku dosen saya, tentang traveling juga). Kalau ditanya apa yang bikin aku tertarik untuk membeli buku ini, yaaa karena buku ini bertema traveling. Pertama melihat cover, baca kata-kata di belakang bukunya, pikiranku langsung berekspektasi, bahwa buku ini akan bercerita tentang banyak perjalanan, tentang banyak pelajaran yang didapatkan dalam perjalanan itu sendiri. 

Dan...

Ekspektasiku nggak berlebihan, berhasil aku puaskan ekspektasi itu dalam buku ini. Gaya bercerita yang sederhana, beberapa perumpamaan lucu, itu yang bikin aku ngerasa begitu dekat sama pengalaman yang diceritakan sang penulis. Terdiri dari beberapa bagian, Ariy menceritakan pengalaman-pengalamannya traveling ke berbagai negara, bertemu berbagai macam orang dengan karakter yang macam-macam pula, bersua dengan perbedaan budaya, dan bertoleransi dengan banyak hal. Bisa terasa sekali kecintaan Ariy terhadap traveling, bisa dirasakan pula bahwa traveling memberikannya banyak hal (yang mungkin hanya ia sendiri yang tahu).

Kalau aku laki-laki, mungkin aku nggak akan keberatan traveling sendirian kemana-mana. Sounds so fun ketika Ariy bercerita tentang tidur di stasiun, di mushola, being lost di tempat-tempat yang baru, dan lain sebagainya. Tapi, aku nggak bisa membayangkan kalo itu terjadi di aku. Lha wong berangkat dinas aja ribet, apalagi backpacking sendirian macam si Ariy ini, hahaha.. Buatku sih, backpacking alone sebagai perempuan yaa hanya bisa dibayangkan saja bagaimana rasanya.. :p

By the way, aku suka dengan banyak nilai yang dishare Ariy melalui bukunya ini. Di sini, bisa dilihat bagaimana pentingnya membawa prasangka baik sepaket dengan kewaspadaan. Pentingnya memahami budaya di tempat kita berada. Bertoleransi dan memahami karakter manusia, dan banyak lagi yang lainnya.

Ariy berhasil membuatku semakin yakin, bahwa traveling itu bukan kegiatan ngabis-ngabisin duit seperti yang sering dikatakan orang. Lebih dari perjalanan fisik, hati kita pun turut dibawa, dan melakukan perjalanan.. :)

Dan yang tidak kalah penting, di buku ini, terlihat pula bagaimana satu kebaikan itu memang akan menjadi rantai dengan kebaikan-kebaikan lainnya, yang pada akhirnya akan kembali pada diri kita sendiri.. :)

Happy traveling :D

0 komentar:

Posting Komentar