Tampilkan postingan dengan label poem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label poem. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Mei 2016

Pertanyaan

0

Sudut yang kau diami
Terka yang aku tinggali
Apakah setapak jalan itu bisa kembali mengundang jejak?

Mengiba pada kesempatan
Tapi urung membuat cipta
Bahkan keberanian tak bisa menyampaikan indah barisan tanya
Lalu adakah sepasang langkah yang diam, akan menemukan cara untuk sekedar berpapasan?

Duhai malam,
Sabit dan bintang bertemu dalam gelapmu
Burung hantu dan purnama bernyanyi demi menyambut sunyimu
Sudikah kau sampaikan doaku ke langit, di damainya sepertiga-mu?

Senin, 09 Mei 2016

menghidupkanmu lagi

0

satu pertanyaan yang mengundang memori
kembali menguar ke permukaan
memenuhi atmosfer

kemudian lancang sekali bayangan itu menari-nari
menarik untuk dilupa
tapi mempesona ketika diingat
siapa yang salah?

aku kah?
yang dengan polosnya menjawab tanpa tendensi
kamu kah?
yang memang hanya datang satu kali
lalu menggugah dari kejauhan untuk sesekali

tidak ada yang salah
mungkin hanya takut akan jawaban
tanpa pernah mencoba melempar tanda tanya
sekali saja

Senin, 01 Februari 2016

untitled ke sekian

0

Kamu pernah merasakannya?
Rasa ketika kau tahu senja tak seharusnya segelap ini
Rasa ketika kau tahu mestinya hujan tidak sederas ini
Rasa ketika akhirnya kau sadar, harusnya bukan itu yang kau rasakan

Rasa ketika kau tahu bukan jawaban itu yang mestinya kau katakan
Atau bahkan pertanyaannya yang salah
Atau diri yang terlalu memberi toleransi
Atas deviasi tanya jawab yang hadir di luar batas wajarnya

Suatu saat mungkin kau akan paham
Kalau aliran ini tak semestinya turun ke muara yang itu
Kau hanya sengaja mengeruk lebih dalam
Sengaja membelokkannya
Sampai di ujung sana kau akhirnya mengerti
Bukan ke muara yang ini, ia harus berhenti

Sabtu, 30 Januari 2016

(another) Untitled

0

Ada satu senja yang ingin kulewatkan
Ada saat hujan yang tak mau kunikmati terlalu lama
Ada nyanyian yang sengaja tak lagi kuputar ulang

Karena semua membawa ke satu ingatan
Sementara cerita membawa kita berlainan arah

Selasa, 09 Desember 2014

untitled #3

0

kelak jika ada alunan musik yang membawa masa lalu kembali,
jangan menyalahkan lagu-lagu yang biasa kita nyanyikan bersama.

kelak jika gerimis datang dan tiba-tiba kau mengingat jas hujan biru tuamu yang ada padaku,
jangan salahkan air langit untuk ingatan itu.

kelak jika kau bermain ke pantai dan rindu melihatku berkecipak air di sana,
jangan salahkan indahnya pantai atas hadirnya kerinduan.

bukan salah siapa-siapa
bukan salah jalan yang bercabang
bukan salah hati yang tidak lagi menemukan rumah di masing-masingnya
bukan salah harap yang sedang tinggi-tingginya
ini hanyalah cuilan takdir
itu saja.

Sabtu, 06 Desember 2014

Buket bunga

5

Buket bunga yang diletakkan di teras sekian lama
Pernah terlihat seorang berjas cokelat membawanya
Di depan pintu, menanti

Anak kecil pernah melewati rumah itu
Terkesan dengan buket bunga
Warna-warni
Bahkan beberapa kali kupu-kupu mampir
Tapi ia teringat pesan ibunya
Jangan ambil apapun yang bukan miliknya
Ia pun pergi

Seorang wanita muda pun  pernah melihatnya
Dengan tatapan penuh iba
Dan sayang
Saat kuntum wangi itu menunjukkan masa layunya mulai datang
Menguning di sana-sini
Beberapa sudut yang berubah warna

Pintu rumah itu masih saja tertutup
Hingga buket bunga itu tinggal tali pengikatnya saja
Sementara isinya telah tenggelam
Menyatu dengan tanah sebagai hara

Sampai suatu saat hujan turun
Dua telapak tangan terulur dari jendela, mencoba meraba hujan

Ia tersenyum, menangkupkan kedua tangan ke depan hidungnya
Seperti sedang mencium wangi bunga

Ah, mungkin seperseribu hara itu ada yang terbawa uap sampai ke awan
Turun sebagai hujan
Yang akhirnya sampai kepada penghuni rumah...

Walau lama.

Senin, 01 Desember 2014

Untitled #2

0

Ilalang yang pada angin ia tak membangkang
Dedaunan jingga yang pada musim gugur tak pernah merajuk
Sebab musim pun pada masa ia harus takluk
Puja puji seakan pupus, sebab memang ada kalanya tunduk jadi jalan yang cuma satu

Liukan angin membawa ilalang pulang
Pun tanah jadi senyaman-nyamannya rumah
Sementara hujan dan panas adalah masing-masing satu kepastian

Lalu apa yang masih perlu dirisaukan?

Minggu, 30 November 2014

atas nama perempuan, kan?

0

kalau saja sejenak bisa mengambilmu dari keramaian
mungkin sebentar saja mengartikan sepi
yang jarang bisa kau jamah

kalau saja pinta kecil bisa membuatmu kalah
mungkin mencoba tau bagaimana rasanya mengalah
coba buat angkuhmu luruh untuk sesaat

tanyakan pada malam yang sabar menanti pagi
atau malah tak sabar datang ketika sore baru memasuki hari
sudahkah kau coba merenungi diri?
apa yang kau tanam hari ini
inikah yang benar ingin kau tuai nanti?

pikirkan lagi
dari lain sisi
bukankah atas nama perempuan kau lahir di dunia?
maka sudah sepantasnyalah ia kau jaga

Selasa, 25 November 2014

Sajak Sore yang Hujan

1

sebuah kolaborasi sajak di sore yang hujan..


Hujan adalah anak-anak
Berlarian berkejaran
Menjerit riang
Bernyanyi lagu dolanan
Di atas genteng, aspal dan hujan itu sendiri
Hujan menjerti riang
Dan menari-nari


Hujan adalah permainan
Ramai rintiknya menghadirkan genangan
Aroma tanahnya banyak dipuja
Tapi tak terhitung juga yang berkeluh kesah
Seakan lupa pernah merindunya saat terik berkuasa


Hujan adalah kanvas
Dingin kesendirian. Putih
Hangat kebersamaan. Merah
Kanvas yang dibentangkan semalaman
Paginya rerumputan lebih ceria. Hijau
Tanah makin bijak. Coklat
Sajak beranak-pinak
Tak terhitung jumlahnya. Pelangi

Rabu, 29 Oktober 2014

bawa aku ke pantai

2


bawa aku ke pantai
pasang, surut
ah, mungkin demikian pula hidup

pasang ataupun surut
indahnya pantai tidak akan meredup
ah, mungkin demikian pula harusnya aku

langkah harus tetap dijejak
jikapun ada yang tertinggal, biar ombak yang menghapusnya
jejak yang tidak mengikuti
memang harusnya tertinggal di sana
mengendap, tertutup lagi dengan pasir yang dibawa riak

jejak yag pernah ada
tapi tak lagi terlihat
memang harusnya begitu

bawa aku ke pantai
terbit dan tenggelam matahari
indah di masing-masing sudutnya
berlawanan
tapi sama mempesona

begitulah hidup harus dibawa
senang susah memang berbeda
tapi sama membawa hikmah

Sabtu, 12 Juli 2014

Di Hari Hujan

0

Meresahi rindu yang datang
Melangkahi barisan angan-angan
Malam yang kelam tak bisa jadi tempat sembunyi
Dari rasa sepi yang menundukkan hati

Di hatiku seharusnya kamu pulang
Di jiwaku harusnya kamu tinggal
Namun keyakinan ini meletihkan
Sebab kamu tak pernah sadar

Dalam sunyi aku bernyanyi
Tentang cinta yang tak pasti
Yang lamat-lamat menyiksa batin
Hening, tapi membuat mati

Jumat, 11 Juli 2014

berhentilah :)

0

berhentilah menangis
masih ada pagi yang harus kamu isi
masih ada simfoni yang harus kamu iringi
masih ada cerita yang harus kamu bagi

berhentilah meratap
masih ada lembar buku kehidupan yang harus kamu beri warna
masih ada banyak langkah yang harus kamu jejakkan
masih ada bahagia yang menunggu di depan

berhentilah
berhentilah
kembalilah seperti kamu yang aku kenal

Tak Lagi Ada

0

barisan kata maaf
lalu ungkapan rasa sesal
sementara di hati hanya satu yang kurasa
kecewa

bagaimana bila lepaskan saja?
semua angan yang sempat melayang
segala harap yang belum sedikitpun memudar
memori tentang tawa tangis yang saling kita bagikan
dulu

tidakkah kamu lelah mengulang?
karena aku tak bisa lagi berjanji
tak mampu lagi bertanya mengapa
mungkin beranjak habis rasa percaya

bagaimana bila tak lagi bersama?
mungkin kau lebih bahagia
jika tiada ku di setiap langkah

bagaimana bila tak lagi saling menggenggam?
mungkin kau lebih baik bersamanya
jauh dariku selamanya

mungkin semuanya kan jadi lebih indah
tanpa ada aku di sana

Senin, 07 Juli 2014

Cerita Ilalang

0

Ilalang yang kelelahan
Dipermainkan angin semilir
Ditiup ke utara, selatan
Dilambaikan ke timur juga barat
Tapi ia senantiasa kembali ke posisinya semula

Ilalang yang dikhianati senja
Katanya ilalang akan semakin indah di kala langit menjadi jingga
Tapi ternyata senja bukan miliknya saja
Ada arakan awan-awan yang lebih mempesona
Terpikirkah seandainya awan dan ilalang itu bersahabat?

Ilalang yang seketika ingin kebebasan
Pergi tanpa pamit
Mungkin rebah ke tanah
Atau mungkin terbang tanpa tuju dan arah

Ilalang yang kemudian tertidur lelap
Beristirahat dari dunia yang sering tidak ramah padanya..

Jumat, 04 April 2014

sepasang bunga

0

sepasang bunga
saling mengenal sejak masih sama-sama benih
kecil dan rapuh
kemudian bertumbuh satu satu
musim berganti
yang satu tumbuh lebih dulu dan mengamati
apa yang satu lagi akan juga tumbuh seindahnya?
maka kedua bunga itu saling mengamati
satu dengan penuh kagum
satu dengan rasa harap dan spekulasi
mungkin memang demikian

Senin, 24 Maret 2014

rindu

0

ini rasa rindu yang dulu pernah aku tertawakan
ini rasa rindu yang dulu pernah aku kesampingkan
ini rasa rindu yang pernah kusangka tak akan sebegitu menyiksa

ini rasa rindu yang pada akhirnya membuatku menangis hanya karena membaca pesan singkat
bahwa aku amat dirindukan
dan bahwa akupun nyatanya sekarang amat rindu

Selasa, 18 Maret 2014

pernah kita takutkan

0

dulu
keadaan ini pernah kita takutkan
pernah menjadi sesuatu yang kita risaukan
pernah menjadi hal yang benar-benar kita pertanyakan

tapi sekarang tidak lagi

bukan karena kita sudah punya solusinya

tapi karena kita tidak lagi ada

suatu saat nanti

0

suatu saat nanti
yang kamu sesali tidak akan kembali
yang kamu sakiti tidak akan lagi peduli
yang kamu tinggalkan ternyata tak membuka pintunya lagi

suatu saat nanti
pasti tahu
dan mengerti
mengapa hujan turun
mengapa masih harus menari di saat badai menggemuruh
mengapa bisa menikmati panasnya matahari

bohong bila semua tidak selalu beralasan
bohong bila mencintai tidak perlu alasan
bila demikian adanya
maka kamupun akan meninggalkan dan berhenti mencinta tanpa alasan juga

semua ada alasannya
semua terjadi selalu ada pesan yang tersimpan di sana
entah sekarang
entah nanti
entah kapan pesan itu akan terbuka

suatu saat nanti
kamu pasti mengerti

Selasa, 25 Februari 2014

this is our way

0

--dipublish kembali, dipublish melalui notes fb pada 28 oktober 2011--


dan inilah hari-hari yang tak pernah kami rencanakan
kami menjalaninya dengan cara kami
kami saling mengerti tanpa meminta yang lain untuk mau dan bisa memahami


dengan cara yang seperti ini
kami belajar tentang menikmati jarak
lalu kami berhasil mendudukkan jarak sebagai pagar yang membatasi kami untuk tetap ingat terhadap apa yang telah kami perjanjikan sendiri dengan diri masing-masing



dengan cara yang seperti ini

maka kami tidak membuat janji-janji yang berpeluang untuk teringkari
menjalani apa yang ada hari ini, dan tetap tersenyum untuk kata entah yang ada pada langkah-langkah kami esok hari



dengan cara seperti ini

kami menjaga segala sesuatu agar tetap pada kadarnya
saling menjaga kesiapan agar kami lebih realistis dan ikhlas ketika DIA tidak menggariskan kami sebagai jodoh



dengan cara seperti ini

kami menjaga hati kami masing-masing untuk tidak tertutup dan menyempit



bagaimanapun aku menyukai segala sesuatu tentangnya
aku suka melihatnya tersenyum

aku suka melihat air mukanya yang sedikit khawatir ketika petang datang dan belum sesendok nasi pun masuk ke dalam perutku

aku suka mendengarnya bernyanyi

aku suka melihatnya memainkan jemarinya di antara dentingan senar

aku suka mendengarnya melantunkan ayat suci ketika sholat berjamaah

aku suka mendengarkannya berbicara

aku suka ketidakpiawaiannya nggombal, di mana kami jadi lebih sering tertawa karenanya

aku suka ketika suatu saat tiba-tiba dia datang dengan sekotak nasi dan obat waktu aku sakit di kampus

aku suka membaca tulisannya di blog

aku suka kata-kata sederhananya, yang tanpa dia sadari seringkali membuatku tersenyum sendirian


semua ini adalah cara kami

caraku dan caranya
menjaga dalam jarak
menghindari menjadi permisif terhadap sesuatu yang telah kami perjanjikan dengan diri masing-masing

dan kami hanya tinggal menjalani cerita-cerita yang telah digariskanNYA
menjagakan senyum untuk setiap memori yang berjalan

supaya yang indah akan tetap menjadi indah :)

Minggu, 02 Februari 2014

Meraba Jejak

0

Berjingkat-jingkat dalam tapak
Mengira-ngira, setiap terkaan ada sanksinya
Lalu pijakan pun, satu demi satu dilalui
Yang tertinggal, tetaplah di belakang
Pijakan depan yang jadi perhatian

Sudahkah benar ditinggalkan?
Jika pijakan yang di belakang ternyata masih mampu membuat pandangan beralih kembali

Sejauh inipun
Ada di sini karena pernah memijak yang dulu
Ada di titik ini karena sempat melalui titik, koma, pun tanda tanya yang sebelumnya
Jadi apa sudah siap??

Siap, katanya sudah siap untuk pergi
Pergi ke mana?
Tak tahu, ini masih terlalu awal untuk memilih
Apalagi memutuskan