Senin, 31 Desember 2012

my great 2012 :)

2


Posting ke dua di akhir tahun. Posting sejenis ini sudah saya lakukan di tahun lalu, dan sepertinya berniat untuk merutinkannya di tiap malam pergantian tahun. Yah, untuk sekedar flashback, sudah melalui apa saja tahun ini, sudah pergi ke mana saja, dan sudah melakukan apa saja. Okay, let’s start this from January !

January
Bulan pertama di tahun ini, kudu ngejalanin KKN. Awalnya shock berat gara-gara dapet KKN di Sampang, desa yang paling terpencil pula. Tapi, Alhamdulillah, Allah mempertemukan saya dengan keluarga baru. Keadaan memang tidak mudah selama di sana, tapi karena kelompoknya asyik, bawaannya seneng terus. Sempat ngalamin kejadian-kejadian yang berkesan selama di sana. Mulai “siraman” waktu ulang tahun, “diminta” sama ibu-ibu di masjid agung Sampang, sampai dapet surat pesan-kesan dari murid-murid kelas 6 SDN Birem 2.. what a wonderful KKN :)


Hadiah Terindah dari Tuhan

0


Alana membuka pintu dan melihatku terbaring. Tebakanku benar, ekspresi wajahnya tidak pernah berubah. Mata yang sayu miliknya mengguratkan sendu yang semakin mendalam karena alis matanya membentuk garis yang menurun. Ekspresi khasnya jika melihat sesuatu yang membuatnya merasa iba dan khawatir. Ia membuka jaket warna merah mudanya. Jaket yang kuhadiahkan untuknya satu tahun yang lalu. Ia lalu mendekati tempat tidurku.

“Gimana rasanya? Sudah enakan?”, tanyanya sambil mengelus rambutku.
“Lumayan. Kok tumben kamu jam segini udah pulang?”
“Hari ini aku nggak ngajar, sayang..”, Alana kemudian membuka plastik putih berisi sekeranjang penuh buah-buahan. “Kamu mau yang mana?”, lanjutnya.

Sabtu, 24 November 2012

Cinta itu Kendaraan Pribadi, bukan Angkot

2

Malam ini hari Sabtu, hari di mana banyak orang keluar rumah, pergi melepas penat yang dirasakan. Aku pun malam ini juga pergi, tapi bukan untuk melepas penat, tapi melepas baterai jam tangan alias ganti baterai. Jam tangan ini satu-satunya yang aku punya, karena modelnya pas untuk dipakai kapan saja, untuk acara apa saja, jadi kenapa harus punya banyak kalau satu saja sudah bisa untuk banyak kebutuhan. Mmm, tapi intinya bukan itu sih, aku bukannya mau membicarakan jam tangan kesayanganku. Hehe

Di perjalanan pulang, aku melewati salah satu halte yang aku suka. Ini halte biasa sih, ada tempat duduknya, ada atapnya, dan seperti halte pada umumnya, halte ini juga berwarna biru. Aku memang suka warna biru, tapi bukan karena itu aku suka halte ini. Tapi, halte ini dikelilingi kincir angin kecil-kecil di sekeliling atapnya. Kincir-kincir itu berputar-putar terkena angin dari pengendara yang lewat. Itu yang membuat aku menyukainya, lucu. :)

Melihat halte, aku jadi memikirkan hal konyol. Kira-kira, apa ya hubungannya halte sama cinta..

Hahahaha, nggak nyambung banget kan? :p

Tapi tunggu deh, halte itu kan tempat pemberhentian, tempat di mana orang turun untuk pindah dari angkot satu ke angkot yang lain.. Jadi, adakah yang sudah bisa menebak hubungan antara halte, angkot, dan cinta?

Cinta itu ibaratnya kendaraan pribadi, bukan kendaraan umum alias angkot.. Kok bisa gitu?

Kalo kita naik kendaraan umum (anggep aja angkot), kita pasti berhenti di suatu tempat kan, anggep aja kita berhenti di halte. Setelah itu, kita bakal ganti ke angkot yang lain. Begitu seterusnya, sampe kita nyampe ke tujuan kita. Begitulah ketika kita bertemu dengan orang yang salah. Orang itu ya angkot, kita bersamanya cuma sampe batas waktu tertentu aja, kemudian kita berhenti, karena ternyata orang itu meninggalkan kita. Kemudian kita menunggu angkot yang lain. Begitu seterusnya..

Beda banget ceritanya kalo kita sudah bertemu dengan orang yang tepat, anggaplah itu kendaraan pribadi. Kalo kita naik kendaraan pribadi, kita nggak butuh tempat untuk berpindah. Kita nggak mengenal apa yang disebut dengan halte. Kendaraan pribadi yang terus menerus bersama sama kita, ke manapun, kapanpun. Kendaraan pribadi yang nemenin kita, mau panas, mau hujan, mau ada angin, atau apapun, sampai kita kembali ke rumah.

Memang bertemu dengan orang yang tepat, merasakan cinta yang sebenarnya, nggak semudah kita memilih kendaraan pribadi mana yang mau kita beli. Terkadang, kita justru harus naik angkot dulu, untuk kerja sehari-hari, sampai akhirnya dapet duit. Lalu, naik angkot lagi buat nyampe showroom, baru deh, dapet kendaraan pribadi yang kita idam-idamkan. Kalau sudah begitu, yang bisa kita lakukan adalah, setidaknya, benar-benar mempelajari rute yang akan kita tempuh. Jangan asal naik angkot tanpa tahu tujuannya ke mana, yang ada nantinya cuma rasa lelah.

Tulisan ini hanyalah sekelumit pemikiran yang terjadi ketika aku naik angkot di malam hari, dan melewati halte kesukaanku. Buatku, cinta itu memiliki begitu banyak penafsiran. Oleh karenanya, setiap orang memiliki pemahamannya masing-masing tentang cinta, dan memiliki kebebasan untuk itu. Ini pemahamanku, bagaimana dengan kamu?


semoga segera mendapatkan kendaraan pribadi yaa, begitupun dengan aku.. :)

salam :)

Sabtu, 17 November 2012

Persiapan, Bukan Kesiapan :)

2

Berawal dari salah satu akun favorit saya, @nulisbuku yang ngadain twit-event #puisimalam bertema "hujan". Entah saya kesambet apa, sampai-sampai bisa ngtweet begini:

@nulisbuku: hujan akan tetap turun tak peduli siapa yang bawa payung. karena hidup adalah persiapan, bukan kesiapan. #puisimalam

Setelahnya saya masih kerasa biasa aja. Saya baru menyadari bahwa ada sesuatu dalam tweet itu, setelah twit saya itu diretweet puluhan kali. Saya pun mencoba membaca kembali tweet tersebut, mencoba mendalami lagi maknanya. Sampai akhirnya saya terbawa dalam satu pemikiran panjang...

hidup adalah persiapan, bukan kesiapan..

Ya, hidup memang tentang persiapan, bukan kesiapan. Mulai dari yang sederhana aja sih, masalah ujian sekolah, atau ujian tengah semesternya anak kuliahan. Ujian itu tetep akan dilaksanakan sesuai jadwalnya kan, nggak peduli kitanya udah siap apa belum, udah menguasai materi apa belum, udah hapal rumus apa belum. Sidang skripsi. Sidang bakal tetep berjalan sesuai waktu yang udah ditentukan, kan. Nggak peduli kitanya udah siap mental apa belum, nggak peduli kita udah selesai nyiapin slide buat presentasi apa belum. Ditinggalin pacar, bakal tetep ditinggal juga kan kalo dia memang bukan jodoh kita. Nggak peduli kitanya masih sayang, masih cinta, belum bisa lupa, dan sebagainya.

That's why, kita yang harus memahami semua itu dengan cara melakukan persiapan yang matang. Karena bukan kondisi dan situasi yang akan menyesuaikan dirinya dengan kita, tapi sebaliknya. Yang lagi UTS, ya persiapkanlah dengan cara belajar yang bener. Yang udah deket-deket sidang skripsi, siapkanlah mental, dan segala sesuatunya supaya bisa bener-bener siap dan semua berjalan lancar. Yang lagi punya pacar, siapkanlah hatimu, tanamkan di dalamnya, bahwa segala sesuatu hanyalah titipan-NYA, termasuk perasaan sekalipun..

Pada dasarnya ini hanyalah sebuah pemikiran yang timbul akibat hal sepele, ngetwit. Tapi, yah, semoga bisa berguna dan jadi bahan pengingat. Utamanya buat saya, dan syukur-syukur berguna buat yang membaca juga.

Jangan lihat siapa yang bicara, tapi apa yang dibicarakan :)

Oh ketinggalan..

Actually, bukan hanya hidup yang butuh persiapan, tapi kematian pun juga, jadi, persiapkan juga mulai sekarang ya.. *ngomong sama kaca

Kamis, 15 November 2012

Sabtu, 03 November 2012

Nyanyian untuk Maria

0

Aku datang lagi sore ini, seperti biasa dengan membawa gitar kesayangan yang kubeli sekitar 5 tahun yang lalu. Rumah ini juga tidak banyak berubah semenjak dua tahun lalu aku mulai sering mengunjunginya, menapaki teras yang sekelilingnya ditumbuhi bunga-bunga beraneka warna. Rumah ini begitu teduh, sama seperti seseorang di dalamnya, yang selalu memberi keteduhan untuk gersang kehidupanku sebagai anak rantau yang jauh dari sanak saudara.

Aku mengetuk pintu beberapa kali sampai akhirnya perempuan ini keluar. Masih dengan tatanan rambut favoritnya, rambut dicepol sekenanya, kadang dengan tusuk konde, kadang bahkan hanya dengan sebatang pulpen. Sebarisan giginya yang rapi dan sepasang lesung pipinya menyambut kedatanganku. Aku memilih duduk di teras rumah, menikmati senja yang sebentar lagi akan berganti malam.

Maria, nama perempuan yang sedang menata dua cangkir berisi teh hangat di sebelahku, diletakkannya juga sepiring kecil biskuit rasa kelapa kesukaanku. Aku bercerita tentang apa saja yang kualami seharian. Tentang aku yang terlambat masuk kuliah, tentang bos tempatku bekerja paruh waktu yang hari ini uring-uringan, bahkan aku menceritakan tentang anak kecil yang mengumpat karena aku tak sengaja menyenggol sepedanya dengan leher gitarku dalam perjalanan ke rumah Maria.

Sebentar kemudian, aku memeluk gitarku di depan dada, aku sedang bersiap menyanyikan sebuah lagu. Hari ini ulang tahun Maria dan aku sama sekali tidak membawa hadiah, bodohnya, aku baru ingat ketika aku baru sampai di depan rumahnya.

"Aku nyanyi aja ya buat kamu..", kataku. Maria pun tersenyum dan mengangguk.

If there were no words
No way to speak
I would still hear you

If there were no tears
No way to feel inside
I'd still feel for you

Aku meminum tehku sedikit, lalu kupandangi wajah Maria. Wajah ini, yang selalu aku rindukan setiap hari. Senyuman Maria yang bisa membuat amarahku yang cepat meledak ini seketika menghilang. Maria yang selalu mendengarkan aku, apapun yang aku ceritakan.

Dan Maria lah, perempuan yang selalu mendengarkan apapun yang aku nyanyikan dengan gitarku. Aku berjanji pada diriku sendiri supaya terus menyanyi untuknya, biar dia dia mendengar apa yang aku rasakan, biar ia tahu semua cinta yang kujadikan nyawa dalam tiap nada, sekalipun ia tidak akan pernah bisa menyanyi bersamaku..

And even if the sun refuse to shine
Even if romance ran out of rhyme
You would still have my heart
Until the end of time
You're all i need
My love, my valentine

terlambat

0

"Selamat ya, cerpenmu dimuat lagi..", kataku pada Lova. Gadis cantik ini sedang duduk di sebelahku, sama-sama menunggu jam kuliah berikutnya yang masih sekitar satu jam lagi.

"Makasih, Gery! Aku seneng banget, deh! Oh iya, dulu pas pertama kali dimuat, aku ga jadi bisa traktir kamu, kan, nanti, kalo aku ambil honor yang kali ini, kamu aku traktir ya!", jawabnya riang. Mata lebarnya menyipit, tawanya lepas. Aku begitu sulit untuk tidak terpesona padanya, khususnya pada saat-saat seperti ini. Saat kebahagiaan begitu jelas terpancar dari raut wajahnya.

"Gampang lah itu, hehe..". Aku menjawab ajakannya singkat. Aku sedang menimbang-nimbang lagi susunan kata yang sudah kupilih tadi malam. Sekitar satu tahun aku selalu berada di samping Lova. Mendampinginya dalam tiap tawa, sedih, dan saat-saat terberat dalam hidupnya. Berada di samping Lova membuatku semakin ingin untuk terus menjaganya. Sampai detik ini, rasa cinta itu pun semakin membesar dan memenuhi rongga-rongga hatiku.

"Kamu kenapa, Ger? Kok kayak ngelamun terus dari tadi? Kamu ada masalah? Cerita, dong!", tegur Lova membuyarkan lamunanku. Lova menghadapkan kepalanya tepat di hadapanku. Sumpah, aku grogi!

"Nggak kok, nggak papa.. Kamu sendiri keliatannya girang banget, jangan-jangan ada yang bikin girang selain karena cerpenmu dimuat ya?", candaku.

"Aaaa, keliatan banget ya? Mukaku merah ya? Hahahaha..", Lova menghindari pandanganku dan menutup mukanya dengan telapak tangan. Seketika aku merasa ada yang sudah terjadi tanpa sepengetahuanku.

"Mmm, tadi malem, aku jadian sama Arlan..", katanya malu-malu. Seketika kurasakan dadaku seperti mau runtuh.


Di saat ku mencoba merajut kata
Dan berharap semua jadi sempurna
Tiba-tiba ada yang lain yang mencuri hatinya
Hilang sudah kesempatanku dengannya

Jumat, 02 November 2012

Ini Bukan Aku -- Payphone

0

Aku terpaku, dari tadi kita membisu. Wajahmu, menunduk, memelas, sambil sesekali memandangi mataku. Aku sendiri masih bertanya-tanya dalam hati, bagaimana bisa?

*          *          *

"Arina, kamu ini cantik, tinggi, modal yang lebih dari cukup untuk bisa jadi seorang model. Besok, aku kenalin sama Dido, dia sahabat baik aku, papanya punya agency model.."

"Tapi, Ndre, aku.."

"Aaah, udah deh, sekarang kamu coba baju yang ini, atau yang ini? Eee, mbak, tolong cariin yang pas ya buat pacar saya..", kata Andre pada salah satu pegawai butik. Siang ini aku batal mengirimkan cerpen, Andre mengajakku berbelanja ke sebuah butik besar di kotaku. Sudah kukatakan aku tidak pernah pergi ke butik atau semacamnya, itu bukan gayaku. Tapi, entahlah, akhir-akhir ini, obsesinya menjadikan aku seorang model menjadi lebih menggebu seribu kali lipat. Aku cuma bisa menurut, aku tahu, Andre hanya berusaha membuatku menjadi lebih "wanita". Dan kurasa tidak ada salahnya aku mencoba untuk menjadi model. Iseng saja lah, lagipula aku sudah semester akhir, kesibukanku tidak terlalu banyak.

"Waaahh, kamu cantik banget, Yang.. Sumpah!", Andre menatapku lekat-lekat, matanya seperti mau keluar. Minidress biru muda dengan aksen pita ini memang bagus sekali. Ya, walaupun rasanya ingin sekali kutambahi panjang ujungnya beberapa centimeter.

"Habis ini, kita ke studio foto ya..", Andre memasukkan baju belanjaanku ke mobil, lalu berjalan menuju kursi depan.

"Ngapain?", tanyaku sambil membetulkan sabuk pegaman.

"Ya foto dong, Sayang.. Nanti kamu foto sama baju-baju tadi, biar besok bisa aku kasih ke Dido.."

"Aduh, tapi aku kan nggak bisa make-up-an, ntar fotonya jelek.."

"Gampanglah, nanti bisa minta tolong orang studionya kok. Kamu nggak usah khawatir, ya..", katanya sambil melihat ke arahku, seakan meminta persetujuan. Aku tersenyum dan mengangguk.


*          *          *

"Kamu nggak bisa ngertiin aku banget sih, Rin! Aku bilang nggak bisa ya nggak bisa!", bentak Andre padaku. Malam itu aku mendapat kabar bahwa dua hari lagi, aku akan show di luar kota. Sempat terlintas untuk mengajak Dinar, adikku, tapi dia sedang dalam minggu-minggu UAS. Akupun tak sampai hati minta ditemani mama yang sehari-hari sudah sibuk dengan urusan kerja dan rumah tangga. Aku bisa saja mengajak Nessa, sahabatku untuk ikut, tapi sekarangpun dia bekerja paruh waktu di kantor penerbitan. Aku tentu tak bisa seenaknya menyuruh dia membolos kerja. Pilihan terakhir jatuh pada Andre, toh dia yang biasanya mengurusi show-ku, di manapun itu. Tapi kali ini dia menolak. Untuk yang ke lima kalinya.

"Ya tapi kenapa? Aku belum pernah ke Jakarta sendirian. Show-ku yang kemarin-kemarin kamu selalu bisa, tapi kenapa akhir-akhir ini kamu selalu nolak, sih?", tanyaku penasaran.

"Kamu kan tahu, aku sekarang jadi manajernya Cherryl juga. Dia juga ada show di Jogjakarta. Makanya aku nggak bisa nemenin kamu!"

Deg! Cherryl, perempuan cantik luar biasa, yang bisa membuat lelaki manapun terpesona, tampaknya sudah menancapkan pesonanya di hati Andre. Aku sudah menangkap gelagat mencurigakan dari keduanya. Beberapa kali aku menemukan mereka berdua sedang makan malam di restoran dekat butik langgananku. Tadinya kupikir itu hanya sebatas hubungan kerja. Dan sebenarnya, sampai detik ini, aku masih berharap instingku salah.

"Oh gitu, jadi sekarang kamu lebih prioritasin Cherryl?"

"Aku capek ngomong sama kamu, Rin!"

"Aku nggak pernah minta jadi model. Aku nggak pernah suka dandan dari dulu. Aku emang nggak biasa pake baju-baju yang bagusnya selangit. Aku juga nggak pernah tahan diliatin orang, jadi pusat perhatian, jalan lenggak-lenggok di depan orang banyak. Tapi selama ini aku kesampingkan itu semua. Demi siapa? Demi kamu, Ndre. Aku seneng ngeliat kamu semangat pengen daftarin aku jadi model. Aku suka liat kamu yang seneng banget waktu aku beneran diterima jadi model. Kamu harus tahu, Ndre, selama aku jadi model, yang bikin aku bertahan ya cuma kamu..", panjang lebar aku memuntahkan semua yang aku rasakan. Di tempat ini, tidak ada yang bisa mendengarkan kami. Aku dan Andre sengaja memilih tempat duduk yang ada di balkon. Kami suka restoran ini, karena ada balkon, balkon tempat kami biasa makan beratapkan langit.

"Yaudahlah, nggak usah cengeng gitu. Pokoknya aku nggak bisa nemenin kamu, titik.", Andre tetap saja dingin. Entah apa yang ada di pikiran dan hatinya, dia sama sekali tidak tersentuh sedikitpun dengan apa yang aku bicarakan.

"Aku bukan cengeng, aku cuma.."

"Yaudah, kalo kamu nggak mau berangkat!", cepat sekali Andre memotong kata-kataku. Malam ini aku seperti makan malam bersama orang lain. Tiba-tiba handphone Andre berbunyi.

"Halo. Iya, udah kok. Tunggu ya, bye..", setengah tertawa dia menjawab panggilan itu. Aku bisa mendengarkan dengan jelas, perbedaan nada bicara yang baru saja dia tunjukkan.

"Cherryl?", tanyaku to the point.

"Bukan urusan kamu. Aku pulang duluan.", Andre memakai jaketnya kemudian meniggalkan aku sendiri. Aku memandangi punggungnya yang menjauh. Perlahan aku mendekati tepi balkon, dan melongok ke bawah. Itu Andre, dijemput Cherryl. Dan ya, aku melihat dengan jelas tangan Andre yang melingkar mesra di pinggang Cherryl. Ini sudah terlalu jelas, batinku. Lalu hujan pun turun, dari kedua mataku.

I'm at a payphone trying to call home
All of my change I spent on you
Where have the times gone, baby it's all wrong
Where are the plans we made for two?

*          *          *

"Jadi sebenarnya apa yang bikin kamu ke sini? Apa yang bikin kamu punya keberanian untuk menemui aku lagi?", tanyaku pada sesosok manusia yang sedari tadi mengatupkan bibirnya di depanku. Lelaki itu hanya diam. Mungkin dia merasa bersalah, atau malu?

"Maafin aku, Rin. Tapi, aku bener-bener masih sayang sama kamu.."

"Masih? Lalu ke mana kamu setelah malam itu? Pergi ke mana kamu setelah membentak-bentak aku? Jangan pikir aku nggak tahu.". Gigi-gigiku gemeletuk pelan, aku sedang menahan amarah yang begitu hebat. Amarah yang sudah lama hilang, sebelum pemicunya datang ke rumahku sore ini.

"Aku minta maaf, Rin. Aku mau kita ulang semuanya dari awal lagi.."

"Kenapa? Karena sekarang aku jadi penulis hebat? Karena karirku dulu sebagai model nggak secemerlang karirku pas jadi penulis seperti sekarang? Iya? Udahlah, Ndre, lebih baik kamu pulang. Nggak ada tempat buat kamu di sini. Apalagi di hati aku."

I gave you my love to borrow
But you just gave it away
You can't expect me to be fine

Sekali lagi Andre melihat ke dalam mataku, mencoba menemukan sisa-sisa cinta di sana. Tapi kupastikan dia tidak akan menemukan apapun. Semuanya sudah hilang. Perasaan mendalamku yang dia sia-siakan. Dan aku tidak cukup bodoh untuk mau bertahan untuknya. Akhirnya Andre pulang. Aku menarik napas panjang. Mimpi apa aku semalam sampai-sampai dia berani mendatangiku?

Aku melangkah menuju ruang kerja kecil di lantai 2. Kuambil laptopku di salah satu sisi rak. Selintas aku mengamati buku-bukuku yang sudah menjadi Best Seller. Aku kemudian menyadari kebodohanku selama ini. Bukan sepenuhnya salah Andre, aku yang mengiyakan keinginan Andre supaya aku menjadi model. Hanya saja, dia memperburuknya dengan pengkhianatan.

Tapi aku bersyukur, karena dari sanalah aku menemukan aku yang lama hilang. Aku dengan kecintaanku menulis di waktu senja. Aku dengan kecintaanku pada ketenangan. Aku dan kecintaanku terhadap susunan kata dan diksi, dan permainan perasaan lewat alfabet. Sampai akhirnya aku kembali lagi ke sini.

Aku membuka laptopku dan duduk di kursi. Sebentar aku mengamati diriku sendiri. Celana pendek, kaos oblong kedodoran. Ah, aku mencintai diriku. Dari balkon ini, aku bisa melihat langit yang kemerahan. Senja, aku datang. Jemariku pun mulai menari, gemulai bersama mimpi..

Selasa, 30 Oktober 2012

lelaki kirimanmu

0

Aku membenarkan letak dudukku. Di sini, di taman ini, aku sedang menikmati senja. Kali ini buku sktsaku ketinggalan, jadi aku tidak akan melukis senja seperti biasanya. Biasanya aku akan melukis hamparan awan-awan yang membentuk berbagai formasi di angkasa. atau sekedar mengabadikan warna merah senja yang selalu berhasil membuatku merasa damai. Tapi yang ada di tasku cuma notes kecil.

Aku membuka notesku. Entahlah, mungkin iya, aku masih belum bisa melupakannya. Serta merta jemariku menulis lagi tentangnya. Tentang kecuekannya, tentang kesukaannya pada musik rock, tentang rambut acak-acakannya, tentang jaket jinsnya yang dicuci dua bulan sekali, semua tentangnya. Sampai tak kusadari, air mataku menetes perlahan.

"Hei, kamu ngapain?", suara yang kukenal, telapak tangannya membelai pundakku lembut. Cepat kuhapus air mataku.

"Eh, Alfan, udah lama?", tanyaku.

"Nggak, barusan aja nyampe. Mendung nih, sayang, pulang aja, yuk..", ajak Alfan. Aku mendongak, melihat langit, ternyata benar, warnanya kelabu. Aku segera menutup notes kecilku, kemudian berjalan di sebelah Alfan.

Alfan menggamit tanganku, dan tersenyum. Demi Tuhan, ini senyum paling damai yang pernah kulihat. Senyuman ini yang pertama kali membuat tangisanku berhenti, di pusara kala itu.

Reno, aku harap kamu yang mengirimkan Alfan untuk menggantikan kamu di sisiku. Alfan, yang membuat hariku kembali berwarna, setelah kamu tiada..

dan kau hadir menrubah segalanya
menjadi lebih indah

perahu kertas :)

4

Nindi memutar-mutar gantungan handphone-nya. Gantungan kecil, talinya berwarna biru, sementara di ujungnya, digantungkan cincin manik-manik nerukuran kecil. Sekarang jam 12.15, seperti siang-siang yang kemarin, Nindi menghabiskan waktu di kantin. Alena dan Rika, dua sahabatnya, belum juga datang. Jadi Nindi hanya duduk diam, pandangannya menyapu seluruh kantin. Lalu, deg! Nindi menangkap sosok lelaki itu lagi. Belakangan ini, Nindi selalu bertemu dengannya, setiap jam makan siang. Nindi sama sekali tidak mengenal lelaki itu, tapi entah kenapa, ada sesuatu yang membuatnya begitu menarik di mata Nindi.

Lelaki itu duduk di hadapan Nindi, selisih 4 meja. Nindi berpura-pura mempermainkan gantungan handphone-nya, tapi pandangannya tidak lepas dari lelaki itu. Sebenarnya, lelaki yang diamatinya itu biasa saja. Potongan pendek dibelah pinggir, kemeja kotak-kotak oranye, dan celana jins. Sekilas tidak ada yang spesial, Nindi juga tahu itu. Yang Nindi tidak tahu, kenapa setiap melihat dia, Nindi merasa telah demikian dekat mengenalnya.

"Hayo ngapain?!", Alena mengagetkan Nindi.
"Ciye, Nindi, handphone-nya baru. Lihat dooong..", Rika serta merta menyambar handphone di tangan Nindi yang masih melongo kaget.
"Aaah, handphone baru tapi tetep aja, gantungannya yang itu, cincin manik nggak jelas.. Kamu masih ngarep ya?", ledek Alena sambil mulai menulis pesanan di kertas yang ada di meja.
"Biarin ah, Lenaa, gantungan gantungan aku juga, kok kamu yang ribet.. Udah ah, lagi nggak pengen ngomongin itu..", sahut Nindi. "Eh, kalian, ada yang tau nggak, cowok itu?", sambungnya sambil berbisik. Kedua sahabatnya pun langsung mengikuti pandangan Nindi. Sejenak kemudian, keduanya kompak menggeleng.
"Kenapa emangnya?", tanya Rika penasaran.
"Nggak papa sih, aku cuma ngerasa nggak asing aja sama dia, padahal kenal aja nggak. Hahaha, udah deh, nggak penting..", Nindi menertawakan dirinya sendiri.

*          *          *

Pikiran Nindi masih melayang ke kejadian di kantin tadi. Bukan, bukan kejadiannya, tapi lelaki itu. Lelaki yang belakangan ini selalu ditemuinya di jam makan siang. Lama kelamaan, Nindi penasaran juga, siapa sebenarnya orang itu.

"Astaga!", Nindi mengerem motornya. Untunglah, melamun sebentar tidak menjadikan refleknya kehilangan sensitivitas, tuas rem segera ditariknya sebelum menabrak mobil di depannya yang mengerem mendadak. Nindi mengelus dadanya. Baru saja ia akan tancap gas, dilihatnya seorang anak perempuan kecil yang terduduk di trotoar pinggir jalan. Dia memakai seragam, tentulah ada sesuatu yang membuatnya harus duduk sendirian seperti itu. Nindi pun akhirnya menghampiri anak kecil itu.

"Adek kenapa duduk sendirian di sini?", tanya Nindi sambil membuka helmnya.
"Aku kesasar, kak..", anak kecil itu nyaris terisak.
"Hah? Yaudah yuk, kakak anterin pulang. Rumah kamu di mana??"
"Mmm, perumahan Pemuda V, tapi nomernya Ica lupa.."
"Oooh, perumahan Pemuda, kakak tau daerah situ, ntar kita cari sama-sama ya rumah kamu. Yuk, naik, kakak bonceng.."

Nindi membatin, jauh juga anak kecil ini sekolah, padahal masih SD, tapi sudah sekolah jauh dari rumah. Nindi mengingat-ingat masa kecilnya yang indah di Bandung. Sampai Sekolah Dasar, sekolahnya selalu dekat rumah. Hal itu juga yang membuatnya selalu pulang terlambat, karena suka keluyuran dulu naik sepeda bersama teman-temannya.

"Kak, kakak namanya siapa?", tanya Ica  sambil melongokkan kepalanya ke bahu kanan Nindi. Dari spion, Nindi bisa melihat pipi gembul Ica yang putih menggemaskan.

"Wah, kakak belum kenalan ya? Hehe, nama kakak Nindi, kamu Ica kan? tadi kamu udah sebut nama kamu..", jawab Nindi.
"Makasi ya kak, uda mau nganterin Ica."
"Sama-sama, lagian, kamu kok bisa kesasar? Nggak dijemput?"
"Harusnya dijemput sama kakaknya Ica, tapi dia katanya ada kuliah sampai jam 2 siang, Ica kan capek nunggunya, lama.."
"Terus kamu mau pulang sendiri gitu?"
"Iya kak, Ica pikir Ica udah hafal jalannya, eh ternyata Ica lupa, hehehe"
"Dasar, lain kali jangan gitu ya, mending naik taxi aja, atau tunggu sampai dijemput sama kakakmu. Bahaya, kamu kan masih kecil. Kamu kelas berapa sih?", tanya Nindi.
"Kelas 1 kak.."
"Tuuh kan, jangan pulang sendiri deh, mending tunggu di sekolah aja sampe dijemput, ya?"
"Iya, kak!"

Sekitar setengah jam perjalanan, akhirnya sampai juga Nindi di perumahan Pemuda V. Sedikit lagi, sabar ya, perut, batin Nindi sambil mengelus-elus perutnya. Tadi siang dia cuma minum segelas cappuchino gara-gara terlalu sibuk mengamati "lelaki makan siang"-nya itu.

"Nah, kalo uda di sini, Ica hafal, kak! Nanti, depan itu belok kiri, terus belok kanan, tinggal nyari rumah yang pagarnya warna biru, cuma rumahku!", kata Ica lantang, dia tampak ceria sekali.

Benar saja, menemukan rumah Ica tidaklah susah, satu blok cuma rumahnya yang berpagar biru mengkilat. Nindi sebenarnya memutuskan untuk segera pulang, tapi Ica menahannya. Anak kecil itu menggamit tangan Nindi dan mengajaknya masuk ke ruang tamu.

"Kakak tunggu di sini bentar, ya. Ica mau panggil kakak Ica dulu..", lalu Ica meninggalkan Nindi sendirian. Nindi duduk di sofa berwarna merah maroon, disandarkannya kepalanya. Hari ini panas sekali, dan dia belum makan siang. Sambil menyandarkan kepala, Nindi menelusuri setiap sudut ruang tamu dengan kedua matanya. Tiba-tiba, ia merasa tertarik dengan bingkai foto berukuran tanggung yang ada di dinding. Isinya ada banyak sekali foto. Merasa sangat tertarik, Nindi setengah malas mengangkat badannya, melangkahkan kaki mendekati bingkai foto itu,  diamatinya satu per satu. Sampai pada satu foto, alisnya nampak bertaut, seperti sedang berpikir, mengingat-ingat sesuatu. Belum habis rasa penasarannya, Ica keluar sambil menggandeng kakaknya.

"Kak Ical, ini kak Nindi, yang udah nganterin Ica pulang..", kata Ica, kuncir duanya belum dilepas, menambah kelucuan gadis kecil itu.

"Oh, maaf ya, ngerepotin, makasih udah nganterin Ica pulang..", kata kakak Ica. Nindi setengah melamun memandang lelaki yang ada di hadapannya. Lelaki yang ada di seberang mejanya tadi siang.

"Oh, iya, sama-sama. Aku Nindi..", katanya sambil menjabat tangan kakak Ica.

"Aku Faisal, bentar ya, aku ambilin minum, kamu pasti kehausan..", Faisal berlalu meninggalkan Nindi yang masih terbengong-bengong. Kebetulan macam apa ini? pikirnya. Tak lama kemudian, Faisal kembali dengan segelas jus jeruk. Nindi tidak bisa menyembunyikan rasa hausnya, diminumnya jus itu sampai tinggal separuh. Faisal tertawa kecil melihat tingkah Nindi.

"Eh, maaf ya, hehe, aku haus banget..", kata Nindi malu-malu.

"Nggakpapa, kalo habis aku ambilin lagi. Kamu naik motor ke sini?"

"Iya. Mm, oh iya, aku boleh tanya sesuatu nggak?"

"Boleh, tanya apa emangnya?"

"Itu, foto itu, itu foto kamu waktu kecil?", tanya Nindi sambil matanya mengarah ke bingkai foto di pojok ruang tamu.

"Foto yang mana? Kan di bingkai foto itu ada banyak foto..", jawab Faisal. Nindi berdiri dari tempat duduknya dan menunjuk foto yang sedari tadi membuatnya penasaran. Faisal mengikuti Nindi dari belakang, dilihatnya foto yang ditunjuk Nindi.

"Oh yang itu, iya, itu foto kecilan aku, waktu masih TK, kenapa memangnya?"

"Dua perempuan yang di belakang kamu itu, guru kamu ya? Namanya Bu Mira sama Bu Anis, ya?"

"Lhoh, Nin, kok kamu bisa tau?", Faisal tampak kaget dan memandangi Nindi.

"Kamu, Faisal Andriawan? Dulu TK nya di TK Pembina 1, di Bandung?", tembak Nindi.

"Iyaaa.. Tunggu tunggu.. Mmm..", Faisal menggumam lirih sambil mengamati wajah Nindi lekat-lekat. Dipandangi seperti itu, Nindi jadi salah tingkah. Dia berdoa dalam hati, semoga wajahnya tidak berubah sewarna tomat.

"Jangan bilang kamu Nindi yang tukang nangis dulu itu??"

"Hahahaha, sial, kenapa kamu inget di bagian yang itu, sih?", Nindi tergelak, begitu juga Faisal. Tak butuh waktu yang lama, keduanya segera terlibat pembicaraan yang menyenangkan, mengenang masa kecil mereka.

*          *          *

Nindi masih tidak habis pikir dengan semua kejadian hari ini. Kebetulan yang menyenangkan, yang sama sekali tidak terduga. Di atas motor, Nindi tersenyum-senyum sendiri. Keyakinannya tidak pernah salah, itu yang selalu dia pegang.

Matahari sore perlahan mulai menghilang ke peraduannya. Menyisakan warna senja yang memerah indah. Sementara itu, fragmen kenangan bermain-main di pelupuk mata Nindi.

Seorang gadis kecil sedang menangis karena cincin mainannya direbut oleh temannya yang nakal. Kemudian anak laki-laki kecil itu datang, membawakan cincin manik-manik kecil. Seketika gadis kecil itu tersenyum, lupa akan tangisnya. Tapi, gadis kecil itu tidak pernah lupa, lelaki yang memberikan cincin manik-manik itu, lelaki pertama yang membuat tangisnnya berhenti...


ku bahagia kau telah terlahir di dunia
dan kau ada di antara milyaran manusia
dan ku bisa dengan radarku menemukanmu..

Sabtu, 27 Oktober 2012

when you're gone

0

Aku membawa baki kecil berisi secangkir teh hangat dan beberapa biskuit ke balkon kamar. Ini sore, sebentar lagi matahari turun dan pulang ke peraduannya. Pemandangan itu yang sedang sangat ingin aku lihat. Beberapa hal tidak berjalan baik hari ini, aku gagal masuk tim paduan suara, tugas kelompokku tidak selesai tepat waktu. Suaraku memang sedang sedikit serak sejak beberapa hari yang lalu, jadi seharusnya aku tidak begitu bodoh untuk tetap ikut audisi. Tapi nyatanya aku tetap ikut, audisi itu tepat di malam minggu, jadi apa lagi yang bisa kulakukan untuk membunuh waktu selain ikut audisi itu?

Senja di balkon ini memang senja paling nyaman dan indah. Sekarang aku bisa menyaksikan lagit sedang kemerahan, dengan beberapa ekor burung yang beterbangan kembali ke sarangnya. Angin berhembus sepoi-sepoi. Seketika saja aku merasa sendiri, amat sendiri. Biasanya di jam-jam ini, handphone-ku akan berbunyi, sekedar mengingatkan aku untuk keluar memandangi senja, biar aku merasa lebih baik. Tapi aku tahu hal itu tak akan terjadi lagi, jadi aku matikan handphone-ku sejak tadi.

Aku menyeruput teh hangatku pelan-pelan. Tiba-tiba aku mendelik, dan reflek menahan mulutku supaya tetap terkatup. Sial, aku rupanya salah memasukkan garam ke dalam tehku. Aku menutup mata dan memaksa menelan teh yang ada dalam mulutku. Cepat-cepat kumasukkan biskuit manis ke mulutku. Beberapa kunyahan, lalu aku sadar biskuitku tinggal satu. Hampir saja aku berdiri untuk mengambil biskuit lagi, tapi aku segera teringat. Tidak ada lagi yang akan menghabiskan biskuit yang tak habis kumakan.

Aku memang sedang tidak baik-baik saja, Rian. Aku masih saja berharap saat ini kamu ada di sampingku, melihat senja kesukaan kita, bersama-sama.

I've never felt this way before
Everything that I do reminds me of you

Melepaskan

0

Reva memandangi lelaki di hadapannya. Pandangan matanya datar, tanpa ekspresi. Tepatnya ia sudah lelah dan bosan. Lelaki ini, seperti tidak pernah punya rasa marah, sakit hati, dan sejenisnya. Reva tidak habis pikir, cara apa lagi yang harus ia gunakan, supaya lelaki ini sadar, kalau Reva tidak pernah sedikitpun menaruh hati padanya.

Bukan sekali dua kali lelaki itu menyambangi kampus Reva, mencari-cari Reva di antara ratusan mahasiswi yang ada. Dan dengan mudah, Reva pasti bisa ditemukannya. Bagaimana tidak, lelaki itu sepertinya punya radar khusus yang bisa menangkap keberadaan Reva. Sebanyak itu pula Reva harus menahan gejolak hatinya untuk tidak memarahi lelaki itu. Lelaki yang mengumbar perasaan cintanya di jejaring sosial, menyebut nama Reva, sampai-sampai teman-teman kampusnya tahu.

Tidak kurang pula pagar betis yang diberikan sahabat-sahabat Reva untuk menghalau lelaki itu. Entah sebatas membicarakannya, menyindir, atau pernah sekali, Heksa, sahabat Reva yang paling cablak, terang-terangan mengatakan bahwa Reva sudah punya pacar. Saat itu, untuk pertama kalinya, Reva dan sahabat-sahabatnya menangkap ada rasa kaget dan kecewa di raut lelaki pemuja Reva itu. Mungkin, hari itu akan hari terakhir untuknya menyimpan cinta untuk Reva, tapi ternyata itu salah besar. Karena, sekarang, lelaki itu sedang berdiri di hadapan Reva, membawa sebuket bunga sebagai hadiah ulang tahun Reva.

"Bawa pulang aja bunganya", kata Reva datar.
"Tapi, ini aku bawa buat kamu, Va..", katanya memelas.
"Aku nggak minta"
"Tapi aku mau ngasih"
"Aku nggak mau dikasih"
"Va, sampai kapan kamu mau ngerti kalo aku cinta banget sama kamu?"
"Diki, sampai kapan kamu mau ngerti kalo aku gak cinta sama kamu?!!", setengah kesal dijawabnya pertanyaan lelaki pemujanya itu.

"Reva, aku bakalan tetep nunggu kamu.."

"Denger ya, aku nggak pernah minta kamu tunggu. Dan sepertinya kamu perlu belajar lebih banyak, karena perasaan orang nggak akan bisa dipaksa, seperti aku yang nggak bisa suka sama kamu, sekuat apapun kamu maksa aku. Cinta itu ada beberapa sisi, kamu belum belajar salah satu sisinya. Melepaskan."

Reva berlalu meninggalkan Diki yang cuma bisa menunduk. Gagal lagi, entah yang ke berapa kali. Diki memandangi punggung Reva yang mulai menghilang di lorong kampus. Disimpannya kembali bunga untuk Reva.

"Mungkin lain kali", gumamnya sambil tersenyum dan mengamati foto Reva di dompetnya.

Lihat aku di sini
Kau lukai
Hati dan perasaan ini
Tapi entah mengapa
Aku bisa memberikan maaf padamu

Minggu, 21 Oktober 2012

terima kasih karena kau mencintaiku :)

0

"Fay, besok malem ini keluar yuk, aku udah beli tiket konsernya band favorit kita nih..", kata Dito bersemangat, berharap wanita di ujung telpon sana menyambut antusiasmenya itu dengan positif.

"Ha? Besok malem ya? Bentar-bentar, mmmm", Fayza terdengar menggumam. Sampai sekitar 5 detik lamanya, dia menjawab juga ajakan Dito.

"Maaf Dit, aku besok ternyata harus lembur, nggak tau sampai jam berapa..", kata Fayza pelan.

"Yaelah, sehari aja, kamu kan freelance juga toh di sana, masa ijin nggak lembur sehari aja nggak bisa?"

"Bukan masalah freelance atau nggak, kerjaanku emang numpuk, dan deadline-nya lusa, jadi besok udah harus selesai semua editannya. Kamu kan tau, beberapa hari ini aku ninggal kerjaan gara-gara diminta tolong nutorin adek-adek angkatan yang seminggu lagi UTS."

"Ini udah yang ke berapa kalinya coba, kamu selalu nggak bisa pas aku ajakin keluar. Kamu jangan sibuk-sibuk lah, mana waktu buat aku?", Dito mulai kesal, nada bicaranya seperti diburu emosi.

"Yaudah lah, kamu pergi aja sama Rumi, biasanya kalo aku nggak bisa kan kamu pergi sama Rumi.", sahut Fayza cuek.

"Lhoh?! Sebenernya yang pacarku tuh kamu atau Rumi, sih?!"

tut.. tut.. tut..

Dito memutuskan sambungan telepon. Sementara Fayza hanya bisa geleng-geleng, seolah sudah terbiasa. Gadis manis berlesung pipit itu menyeruput segelas kopi yang tinggal separuh, kemudian kembali berkencan dengan leptopnya.

*          *          *

Sabtu, 20 Oktober 2012

sebentar saja :)

0

sebentar saja
aku ingin kamu duduk di sampingku
sore ini, di tempat ini
tempat favoritku, di bawah rindang dedaunan
mungkin dengan secangkir teh
dan sebuah gitar yang dawainya akan membuat indah suara kita

sebentar saja
aku ingin masuk ke dalam ruang hatimu
membuka tirai di tiap sudut-sudutnya
sambil berdebar sendiri
mencoba menenangkan hatiku yang sedang mencari namaku di sana

sebentar saja
aku ingin kamu meneliti seharimu ini
apa saja yang kamu alami
apa saja yang kamu rasakan
ceritakan padaku
maka aku akan sabar, menunggu cerita tentang rindumu untukku

sebentar saja
aku ingin menelusuri jejak-jejak dalam matamu
menggeledah bayang yang pernah disimpan retinamu
barangkali aku akan menemukan bayanganku

sebentar saja
aku ingin berada di pantai ini denganmu
duduk di atas pasir halus
membiarkan kaki-kaki kita disapa riak-riak air
mungkin kita saling diam
tak masalah, sunset nya indah
langit oranye itu terasa hangat
oh, bukan langitnya, ternyata karena kamu

Kamis, 18 Oktober 2012

Alice Elize

0

Aku merasa asing memasuki tempat ini. Bukan sok suci, hanya saja, rasanya sudah lama sekali, sejak malam itu, aku sudah tidak pernah ke sini lagi. Mataku juga agak tidak terbiasa lagi dengan remang dan kelap-kelip semacam ini, pun musik yang berdentum kencang. Seperti ikut memukul-mukul jantungku rasanya. Semua perpaduan itu membuatku semakin tidak konsen untuk mencari sosok Alice.

Mungkin ada sekitar 15 menit aku mencari-cari, sampai akhirnya aku berhasil menemukan wanita itu. Tidak banyak berubah, batinku. Bahkan tidak berubah sama sekali sepertinya. Aku menghampiri mejanya, lalu segera saja dia menyambutku. Sambutan khas untukku, sejak 3 tahun yang lalu. Alice membentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan memelukku erat. Ah tidak, sangat erat, aku sampai bisa merasakan seolah tubuhku mau ambruk ke belakang. Aku berusaha melepaskan pelukannya, dan aku bisa menangkap dengan jelas sorot mata keheranan yang dia berikan untukku. Biasanya, aku memang selalu memeluknya balik, mengelus rambutnya, dan mencium kedua pipinya. Tapi, itu sudah lama, sepertinya. 

Aku lalu duduk di depan kursinya. Aku mengamati setiap inci wajah Alice. Dia masih saja cantik, terlalu cantik untuk riasan-riasan yang kadang terlalu tebal itu. Matanya yang cokelat tua begitu serasi dengan hidung mancungnya. Lalu rambut ikal panjangnya membingkai sempurna wajah putih tirus dengan pipi yang merona. Melihat wajahnya saja sudah melahirkan kekaguman.

Kau bagaikan iblis, iblisku yg manis.

Jumat, 12 Oktober 2012

kamu (tak) harus tau

0

Aku menatap wajahnya lekat-lekat. Matanya, mata bulat yang selalu suka kupandangi dari kejauhan. Biasanya akan ada binar-binar yang cemerlang, yang pada akhirnya mampu kutangkap. Segera saja binar itu bisa membuat hatiku bahagia seharian. Bibirnya, bibir mungil yang nyaris selalu menyunggingkan senyuman. Aku selalu suka melihatnya tertawa, sampai kedua matanya menyipit. Dia begitu ramah dan menyenangkan.

Sore ini kuberanikan diri menemuinya. Jadi, di taman ini, aku sudah merencanakan semuanya. Aldi, sahabat baikku, yang juga temannya, banyak membantuku untuk membuat pertemuan ini. Sudah terlalu lama, aku menyimpan semuanya sendirian.  Menyimpan degup-degup yang kunikmati sendirian saja. Aku begitu kecil, dan selalu saja merasa tak pantas untuknya.

Kami bertatapan lama, mulutku serasa terkunci rapat. Kata-kata yang sedari tadi sudah kususun, seperti hilang seketika. Aku hanya diam, dan menatapnya.

“Aku suka kamu, Filia..”, akhirnya hanya itu yang bisa kuucapkan.

Aku bernapas lega, dan kuberikan kotak kecil padanya. Isinya, foto-foto Filia yang kupotret sejak dulu. Aku merasa berdosa terus menyimpannya, sementara dia tak tahu. Jantungku seperti berhenti berdetak sejenak ketika tangannya menyentuh tanganku sedikit dengan perantara kotak kecil berwarna biru.

Aku melangkah pergi. Meninggalkan Filia yang bengong tak mengerti. Biarlah, dia hanya perlu tahu aku suka sekali padanya. Tanpa harus tahu mengapa, sejak kapan, atau sampai kapan. Biarlah itu menjadi urusanku saja.


Dan kamu hanya
Perlu terima
Dan tak harus memahami
Dan tak harus berfikir
Hanya perlu mengerti
Aku bernafas untukmu

Minggu, 07 Oktober 2012

dengar bisikku :)

0

Sore merayap pelan, tapi pasti. Panas yang sedari tadi menyengat kulit, kini berganti dengan keteduhan. Sementara dua anak manusia sedang duduk bersebelahan. Tidak terdengar satu kata pun yang meluncur dari keduanya. Laki-laki dan perempuan itu hanya melihat ke arah laut, yang sebentar lagi akan ikut berwarna oranye, sewarna langit.

"Kamu nggak papa? Dari tadi bersin terus..", tanya lelaki itu.

"Nggak papa, Alan, aku nggak papa. Tapi entah kalau sepulang dari sini nanti..", jawab si perempuan sambil tetap saja menerawang jauh, seakan mencari-cari ujung lautan. Beberapa detik kemudian, dia tampak merapatkan jaketnya, berjaga-jaga bila hawa menjadi tak bersahabat.

"Ini bukan yang ke dua atau ke tiga kali kan, kita bertengkar.."

"Iya, terus?"

"Kamu nggak capek? Jujur aja aku capek, Lis..", Alan langsung menuju topik pembicaraan. Topik yang membawa mereka harus berada di tempat ini. Pantai tempat mereka saling menyatakan cinta, tempat mereka bernapas lega setelah mengetahui perasaan masing-masing.

"Kamu nyalahin aku?", tanya Elisa sambil menghela nafas panjang. Dihirupnya aroma laut, berharap bisa memberinya sedikit ketenangan.

"Kan, mulai lagi.."

"Apanya, Lan? Nada bicara kamu itu seolah aku yang selalu bikin kita bertengkar. Padahal aku juga udah jelasin kan penyebabnya apa..", bantah Elisa.

"Oke, yang kemarin ini, aku sengaja nggak bilang sama kamu kalo aku habis jalan sama Fara. Apa bedanya, kalo aku bilang, pasti kamu juga bakal marah kan? Padahal kamu juga tahu aku nggak pernah ngapa-ngapain sama dia, meskipun dulu dia pernah suka sama aku.."

"Setidaknya, kalo kamu bilang, aku akan marah sama diriku sendiri yang selalu cemburu, selalu nggak bisa nerima deketnya kamu sama dia. Setidaknya, aku nggak bakal marah karena kamu bohong sama aku.."

Lalu keduanya terdiam. Tidak ada yang tahu apa yang sedang berkecamuk di kepala dan hati masing-masing. Elisa dan Alan, dua manusia dengan karakter yang bertolak belakang. Alan yang cuek dan pelupa, sementara Elisa, perasaannya begitu halus dan sensitif. Tidak jelas apa yang bisa membuat mereka saling jatuh cinta dan bertahan sampai detik ini. Hari ini, seharusnya mereka sedang merayakan satu tahun jadian. Seharusnya, saat ini suasana hati mereka tidak dalam kondisi yang kacau. Perbedaan yang mencolok, membuat mereka seringkali bertengkar. Walaupun pertengkaran itu tidak pernah lebih dari satu hari. 

"Jadi mau kamu apa?", tanya Elisa.

Alan tidak menjawab. Untuk yang kesekian kalinya, kesunyian menyergap mereka berdua. Angin berhembus semakin liar, bukan hanya menyejukkan, tapi seperti ingin membekukan hati mereka. 

"Aku sayang sama kamu"

Kalimat itu terucap bersamaan, tanpa dikomando, bahkan mereka tidak saling melihat. Sampai beberapa detik lamanya, Alan dan Elisa sama-sama tertegun. Kemudian mereka saling memandang. Elisa tersenyum sambil berkaca-kaca, sementara Alan menatapnya lama. Senyuman ini yang selalu dicarinya, senyuman ini yang selalu memaklumi hal-hal kecil yang seringkali ia lupakan. Senyuman ini, yang membuatnya bertahan.

Segerombolan camar terbang di langit yang kemerahan, mereka pulang ke sarangnya. Alan dan Elisa juga pulang, saling pulang ke hati satu sama lain.

Dengar bisikanku oh dinda
Coba lapangkan dada kita
Trima aku apa adanya
Jujur hati yang kita jaga

Terdiam

5

"Ssst, dia lagi ngeliat kamu tuh, Nda..", Lina menyikut-nyikut tanganku sambil berbisik. Sementara aku tetap saja hanya berani menunduk.

"Heh, jangan berisik dong, Lin. Ntar dia tau, kan aku malu..", kataku mulai salting.

"Ciee ciee, aku panggilin orangnya ya?", Lina mulai usil. Kucubit lengannya yang gembul, biar tau rasa. Aku terkikik melihatnya meringis kesakitan.

Aku dan Lina sedang asyik ngobrol ketika kami berdua menjaga stand pendaftaran seminar nasional yang diadakan himpunan kami dua minggu lagi. Suasana corner sedang sangat ramai saat itu. Tapi, aku tak mengerti bagaimana bisa kedua mataku ini begitu jeli untuk menangkap sosoknya. Sosok laki-laki yang mencuri perhatianku sejak beberapa bulan yang lalu.

Semuanya bermula sejak hari itu, di mana mata kami bertemu secara tak sengaja. Aku sering menjumpainya di lobi kampus, tempatnya biasa bercengkrama dengan teman-temannya. Aku tak tahu namanya, tapi sosoknya, entah kenapa, mencuri perhatianku. Sejak saat itu, aku semakin sering mengamatinya. Sampai suatu hari lelaki itu memakai jaket angkatannya, ah aku jadi tahu jurusannya.  Mulailah aku mencari-cari informasi tentangnya. Dan akhirnya, akun facebook-nya kudapatkan.

Hari demi hari aku tetap saja merasa penasaran. Semakin lama, aku semakin sering dan suka mengamatinya. Melihatnya saja bisa membuatku salah tingkah. Begitu memalukan, aku tahu itu. Tapi, beginilah pembawaanku.

Sekarang aku berdua dengan Lina di sini, sementara Fahri, lelaki yang berbulan-bulan ini kuamati dari jauh, duduk sendiri di seberang kami. Aku jadi tak tenang. Sepertinya posisi dudukku selalu salah. Lalu kurasakan jantungku berdebar semakin kencang. Seperti ada rasa hangat yang menjalari tiap urat-urat tubuhku. Sejalan dengan sosoknya yang berjalan mendekat. Aku mencengkeram lengan Lina kuat-kuat. Mataku tidak berkedip.

"Eee, mau daftar seminar..", Fahri berdiri tepat di depanku. Mataku dan matanya bertemu secara sengaja.

Oh Tuhan, aku mau pingsan !

Mataku terus tertuju padamu
Ingin kusapa dirimu
Namun kumasih malu tuk hampiri dirimu
Ku terdiam aku menunggu
Aku terpaku

Jumat, 05 Oktober 2012

ini cinta

2

Aku duduk di depan Merlin. Perempuan ini begitu menakjubkan, pikirku. Handphone-nya tampak berdering terus menerus selama 15 menit kami berada di kafe ini. Kafe tempat kami biasa menghabiskan waktu bersama. Aku mengenal Merlin sejak semester 1. Keramahannya, membuatku selalu betah untuk berdekatan dengannya. Tahun ini tidak terasa, semester terakhir kami di tempat kuliah yang sama. Aku mengambil konsentrasi manajemen keuangan, sementara dia lebih memilih sumber daya manusia untuk didalami. Tentu saja, pilihan yang tepat. Merlin begitu mudah untuk menyeruak masuk ke kerumunan manusia, dan kemudian dengan penuh analisis mampu memahaminya.

"Hhh, akhirnya berhenti bunyi juga..", Merlin menghela napas sambil memejamkan mata sebentar. Aku tahu dia kelelahan. Tempat magangnya begitu banyak memberi pekerjaan.

"Udah, cepet dimakan tuh eskrimnya, leleh ntar..", saranku.

"Hehe, iyaa..", jawabnya. Segera saja ia begitu sibuk menyendoki eskrim mocca favoritnya. Sementara aku hanya tersenyum, dia seperti tidak makan selama beberapa hari, begitu lahap, sekalipun itu cuma eskrim. Aku begitu mengenalnya, eskrim tidak akan mampu membuatnya kenyang.

"Anyway, gimana skripsimu?", Merlin menanyaiku sambil mendelik lucu. Mata bulatnya itu, begitu jernih.

"Dosen pembimbingku lagi ke Perancis, nganggur dulu. Kamu sendiri?"

"Ini lagi ngerjain bab 3. Matilah aku kena statistik-statistik gitu, pas kuliah dulu sering ku bolosin..", kemudian Merlin pun tergelak. Aku juga, bagaimana aku tak bisa ikut tertawa melihatnya. Aku begitu suka melihatnya tertawa.

Mungkin ada sekitar satu setengah jam kami berbincang-bincang di sana. Aku sangat merindukan saat-saat seperti ini. Berada di dekatnya, membuatku damai. Mendengar lelucon-leluconnya, memperhatikan setiap detail cerita yang dia sampaikan. Sungguh, aku tidak pernah ingin kehilangan ini semua.

Sampai seorang lelaki menghampiri tempat duduk kami.

"Oiya, Edo,, kenalin, ini Farhan, pacar aku, hehe.. Lama kita ga ketemu, jadi baru sempet ngenalin sekarang deh..", kata Merlin ceria. Aku begitu suka melihat binar matanya yang seperti ini. Walaupun bukan karena aku.

Adakah diriku
Oh singgah di hatimu
Dan bilakah kau tahu
Kaulah yang ada di hatiku


Minggu, 30 September 2012

Apalah arti menunggu

8

Fika membuka matanya pelan, sinar matahari memberkas menyusupi kamarnya. Hari ini hari Minggu, dan bangun siang adalah salah satu hobinya untuk menghabiskan waktu bersantai seharinya ini. Dikerjap-kerjapkan mata bulatnya, kemudian diliriknya kalender kecil di sisi tempat tidur. Tanggal 27, ada bulatan merah, dan bulatan itu seperti menyadarkannya akan sesuatu. Selimutnya segera disibakkan, rambut Fika masih acak-acakan, tapi itu tetap tak dapat menutupi kecantikannya, bahkan di saat baru bangun tidur seperti ini.

Fika meraih frame foto warna biru muda, ditatapnya gambar seseorang di situ dalam-dalam. Bibirnya tersenyum, tapi sinar matanya seperti menahan perih yang dalam. Perih yang disimpannya sendiri saja. Perih yang ditahannya atas nama cinta.

"Selamat pagi, Derry.. Ini tanggal 27 yang ke tigapuluh, semoga kamu benar-benar pulang.."

Dua tahun lebih Derry meninggalkan Fika, ke pulau terpencil di perbatasan, mengikuti orang tuanya. Tidak tahu kapan kembali, tapi lelaki itu menjanjikan satu waktu.

"Tunggu aku pulang, di tanggal ini, tanggal di mana aku pergi. Aku akan kembali di tanggal ini.."

Masih diingat betul oleh Fika, bagaimana pada saat itu airmatanya tidak berhenti mengalir. Beberapa bulan setelahnya, komunikasi masih berjalan lancar. Sampai suatu saat, di waktu yang tak diingatnya lagi, komunikasi mereka benar-benar terputus. Tidak ada lagi pesan pagi yang membuat Fika tersenyum seharian. Tidak ada juga pesan di malam hari, yang bisa membuat Fika tidur dengan rasa bahagia. Tidak ada lagi, sampai hari ini. Tapi Fika tidak pernah lelah. Setiap tanggal 27, ia selalu mampir ke stasiun, tempat salah satu keretanya membawa sebelah hatinya pergi.

___________________________________________________________________________

Fika memarkir motornya dan masuk ke dalam stasiun. Kemudian sosok lelaki yang amat dikenalnya itu tampak turun dari kereta. Setengah tak percaya, ia menguek-ucek matanya. Tapi, senyumnya yang merekah itu seketika berubah menjadi isak tangis.

Di ujung sana. Derry, dengan seorang wanita yang ia kecup keningnya. Seperti rindu, seperti cinta yang ada di antara mereka. Sementara Fika hanya bisa pulang.. Sendirian..

Sekarang aku tersadar
Cinta yang ku tunggu tak kunjung datang
Apalah arti aku menunggu
Bila kamu tak cinta lagi

Sabtu, 29 September 2012

If you're not the one :)

6

Hujan merambahi sore senduku hari ini. Aku sendirian di rumah, dengan pikiran yang mulai berkecamuk sejak siang tadi. Biasanya aku sangat suka tidur siang, jika sedang tidak ada kerjaan. Kebetulan, pekerjaanku sebagai editor freelance sedang tidak begitu ramai request. Jadi aku bisa sedikit bersantai. Tapi tidak dengan hari ini. Beberapa jam yang lalu, air mataku sempat tumpah.

Seseorang yang entah siapa, mengirimkan foto melalui akun whatsApp-ku. Foto Aldi, pacarku, dengan seorang wanita. Memang itu foto biasa, aku tidak mendapati keduanya sedang berpelukan atau semacamnya, yang bisa mengundang berbagai penafsiran. Tapi, seseorang itu mengatakan bahwa wanita yang ada di foto itu adalah mantan kekasih Aldi. Tidak biasanya dia tidak memberitahuku jika akan pergi atau bertemu dengan seseorang.

Aku mempermainkan handphone-ku, menimbang-nimbang apa aku akan menelepon Aldi atau tetap tersiksa dengan prasangkaku sendiri. Aku menerawang ke luar jendela. Ingatanku melayang ke waktu kurang lebih setahun yang lalu. Saat Aldi menyatakan cintanya padaku. Sungguh aku tidak melihat sedikitpun kebohongan di dalamnya. Aku dan dia memang tidak sering saling mengatakan cinta. Tapi itulah yang membuat sensasinya tetap sama.

Sabtu, 22 September 2012

pulanglah, cinta

0

Rio mengucek-ucek matanya sekali lagi. Matanya tidak gatal, tapi ada yang membuatnya merasa janggal. Seakan tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya. Sesosok wanita yang telah lama dikenalnya. Bukan hanya lama, tapi sangat lama. Bertahun-tahun, sampai dua tahun yang lalu wanita itu pergi. Sementara Rio membuat perjanjian dengan hatinya sendiri, bahwa ia akan menjaga hatinya untuk wanita itu seorang. Entah sampai kapan, jangka waktu yang ia sendiri tak tahu pasti.

Lalu wanita itu sekarang berada di sana. Di sudut taman, dengan sebuah buku yang digenggamnya. Ia tampak sibuk membaca. Sambil sesekali dibenarkan letak poninya yang mulai kepanjangan. Rupanya ia belum menyadari kehadiran Rio di sana. Pelan-pelan Rio menghampiri wanita itu.

"Tania?", tanyanya pelan. Wanita cantik di depannya mendongakkan kepala. Rio membelalakkan matanya seperti masih saja tak percaya.

"Rio? Kamu ngapain di sini?", wanita itu tampak kaget. Suaranya terdengar sedikit bergetar.

"Kapan kamu kembali ke sini? Kenapa nggak kasih tau aku?"

"Aku.. Aku..", suara Tania semakin lirih. Kemudian air mata mulai membanjiri kedua pipinya yang lembut. Seperti ada yang menyesaki dadanya sejak lama, berranta-rantai kalimat keluar dari mulut mungilnya. Banyak yang terjadi selama dua tahun ia meninggalkan Rio. Impiannya sebagai balerina profesional masih jelas tergambar di matanya yang jernih. Tapi cahaya semangat itu terlihat mulai meredup. Rio tak sanggup berkata-kata. Wanita yang demikian dicintainya, ditunggu sekian lama. Tania yang sedang menangis di depannya, seperti bukan Tania yang selalu tersenyum ceria untuknya dua tahun yang lalu.

Summer turned to winter
And the snow it turned to rain
And the rain turned into tears upon your face
I hardly recognized the girl you are today
And, God, I hope it's not too late

"Tania, kamu yang aku tunggu, dan itu nggak berubah sampai detik ini..", Rio menatap Tania sambil tersenyum. Hangat digenggamnya kedua telapak tangan Tania. Setelah melihatnya tersenyum, Rio merasa lega. Didorongnya kursi roda yang kini merengkuh tubuh Tania, penuh cinta.

'Cause you are not alone
And I am there with you
And we'll get lost together

Sejumput rindu buat Bunda

0

Bun, apa kabar? Aku di sini baik-baik aja. Bunda juga kan? Bun, aku kangen banget sama bunda. Sudah lama kita nggak ketemu. Tapi, aku emang selalu kangen sama bunda. Tiap mau makan, aku inget kalo bunda yang selalu masakin aku sama adek. Bunda selalu bingung mau masak apa, karena aku sama adek sering rebutan dimasakin sama bunda. Biasanya, bunda pasti dengan sabar menenangkan aku sama adek, dan janji bakal masakin apa yang kita minta, tapi gantian.

Tiap mau berangkat sekolah, aku juga selalu inget tangan lembut bunda yang nggak pernah lupa untuk mengelus rambutku. Kemudian mengecup keningku dengan sayang, berpesan agar aku belajar yang rajin di sekolah. Lalu bunda akan mengantarku sampai ke pagar, melihatku sampai hilang dari pandangan bunda.

Bun, Arinda sayang banget sama bunda. Bunda juga pasti sayang sama Arinda. Doain Arinda supaya bisa sukses, bisa buat bunda dan ayah bangga dan bahagia punya Arinda. Arinda kangen sama bunda..

Arinda menyeka buliran bening yang mengalir dari sudut matanya. Album foto itu masih terbuka lebar. Foto masa kecilnya dengan seorang wanita cantik. Wanita yang dipanggilnya bunda, yang sudah ada di surga.

Oh bunda ada dan tiada dirimu kan selalu
ada di dalam hatiku..

Kamis, 20 September 2012

Ulang Tahun Pertama

2

Vera melangkahkan kaki jenjangnya ke arah taman kecil di dekat rumahnya. Senja yang indah, langitnya merah, seperti menemani makhluk indah itu berjalan sendirian. Di tangannya ada kotak kecil yang dipegangnya dengan sangat hati-hati. Cardigan merah hati yang membalut kulit putihnya itu semakin dirapatkannya. Walau senja ini indah, anginnya kerapkali tak bersahabat sejak beberapa hari belakangan.

Taman itu tidak begitu besar. Ada beberapa mainan anak-anak seperti bandulan dan perosotan. Air mancur yang agak besar berdiri kokoh di bagian tengah. Sementara pohon-pohon rindang seperti memayungi bangku kayu yang tersebar di sekeliling taman. Vera memilih bangku kayu yang berada paling dekat dengan dengan air mancur. Ia suka sekali menikmati cipratan kecil air yang kadang mampir ke pipi tirusnya.

Gadis cantik itupun duduk. Dibuka juga kotak kecil yang sedari tadi dibawanya. Isinya cheesecake, dengan irisan stroberi sebagai topping. Sebatang lilin kecil diletakkan di atasnya, lalu dinyalakan. Cepat-cepat vera menangkupi nyala lilin dengan kedua telapak tangannya. Khawatir angin aan membuatnya padam.

happy birthday to me
happy birthday to me
happy birthday happy birthday
happy birthday to me

fuuuhh.. Vera meniup lilin di atas kue itu. Kemudian dia tersenyum. Dua lesung pipinya terlihat jelas.

"Biasanya kita lakuin ini tiap salah satu dari kita ulang tahun kan, Sam? Ini pertama kali aku melewatkannya sendirian..", katanya pelan. Matanya seperti menerawang jauh.

Vera mengambil sesuatu dari tas mungilnya. Kertas segiempat berwarna pink keemasan. Bertuliskan Samuel & Nindita.

Semoga kalian berbahagia..

Aku hancur ku terluka
Namun engkaulah nafasku
Kau cintaku meski aku
Bukan di benakmu lagi
Dan kuberuntung
Sempat memilikimu…

aku gila di kafe!

0

Malam ini dingin, dan aku memilih untuk menikmatinya sendirian saja. Jadi di sinilah aku, di kafe pinggir jalan. Sengaja aku pilih bangku yang berada di luar. Dalam hati aku cekikikan sendiri, berharap bisa mendapat peluang lebih besar untuk menikmati makhluk-makhluk kece yang mungkin lewat. Pikiran konyol, tapi itulah aku.

Aku meminum moccafruit blend-ku dengan malas. Ah, malam ini beda sekali dengan malam-malam biasanya. Buktinya, sudah sekitar setengah jam aku di sini, memandangi jalan, dan belum ada satupun sosok yang bisa mengalihkan perhatianku. Oke, bahkan untuk sekedar membuatku menoleh juga tak ada. Tambah bosanlah aku.

Eh tapi, tunggu. Aku lihat laki-laki ganteng! Oh Tuhan, jantung ini seperti mau copot. Dia tipeku banget! Rambut acak-acakan, jaket dan celana jeans. Sepatu keds yang seperti setahun tak dicuci. Seketika aku merasa di kafe ini hanya ada aku dan dia. Ah, dia duduk tepat di seberang mejaku! Dia tidak boleh tahu aku sedang mengamatinya. Lebih parah, dia tak boleh tahu aku sedang senyum-senyum sendiri nggak jelas.

Your stare was holdin’,
Ripped jeans, skin was showin’
Hot night, wind was blowin’
Where you think you’re going, baby?

Pikiranku jadi melayang ke mana-mana. Berharap aku bisa duduk di kursi di sebelahnya. Sekedar menemaninya ngobrol, atau mengelap sisa makanan di sudut bibirnya. Aduuuh, mikir apa aku ini. Tapi dia ganteng, sumpah. Aku berani taruhan, pasti di luar sana banyak perempuan yang tergila-gila padanya.

Oh my, dia melihat ke arahku! Aku lemas. Entah setan apa yang merasukiku saat ini. Kuubek-ubek tasku, mencari bolpoin, dan cepat kusobek kertas kecil. Aku menuliskan nomor handphone-ku. Aku menarik napas panjang, berharap parfumnya bisa terhirup dari jarak sejauh ini. Aku mabuk!

Aku berjalan menuju mejanya, kertas kecil sudah digenggaman. Oke, tinggal tersenyum, taruh di mejanya, dan lari secepat kilat. Tinggal selangkah lagi ke mejanya. Dan malaikat seperti menepuk jidatku.

It’s hard to look right,
At you baby,
But here’s my number,
So call me, maybe?

Bodoh, aku tak akan segila itu. Aku menertawai diriku sendiri.

Rabu, 19 September 2012

mereka bukan kita

0

Malam mulai menunjukkan arogannya. Angin yang dingin, tak lagi sepoi. Gulita yang memakan cahaya sampai tak bersisa. Aku mulai merapatkan jaketku, menarik retsletingnya sampai ke pangkal leher. Kalau sampai lebih dingin lagi dari ini, akan kupakai capuchon-nya, batinku. Lalu aku melihatmu, masih saja tenang dengan kaos oblong tipis berwarna biru tua kesayanganmu. Kamu sama sekali tidak tampak kedinginan.

Tunggu dulu, ada yang jauh lebih dingin sepertinya. Keadaan hatimu saat ini. Siang tadi kamu mengirim pesan singkat padaku, bahwa kamu ingin bicara. Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres, jadi kuiyakan saja ajakanmu keluar malam ini. Jadi di taman ini, yang ayunannya kadang kita pakai untuk nostalgia semasa kecil. Kita akhirnya duduk berdua. Berdekatan, tapi entah aku merasa sangat jauh. Satu jam berlalu dalam hening, tidak ada yang membuka suara. Demi Tuhan aku membenci kamu yang sangat ahli dengan diam-mu. Rasanya ingin sekali kujitak kepalamu, sampai kamu marah, sampai kamu ngomel, sampai kamu menjitakku balik. Asalkan jangan diam seperti ini.

I'm counting the seconds until you break the silence
So please just break the silence!

Sampai akhirnya aku tak tahan, dan memberanikan diri untuk bicara. Aku menatap ujung kakiku yang juga diam.
"Kamu sebenernya mau ngomong apa sih? Cepetan dong. Nyadar nggak kalo dari tadi kita cuma diem-dieman?", kataku. Sementara kamu masih saja diam.

"Edo, kamu nggak denger aku dari tadi bersin-bersin? Aku lagi flu, tapi aku belain ikut kamu ke sini. Tapi kamunya malah diem aja. Ada apa sih? Kalo kamu nggak ngomong juga, mending aku pulang. Aku bisa cari taxi", aku mulai kesal. Kamu tak bergeming. Aku kehabisan kesabaran. Kutinggalkan bangku yang dingin ini, biar kamu bisa menikmatinya sendirian. Baru selangkah, kamu menahan lenganku.

Lalu bicaralah kamu. Seperti sekian lama memendam sesuatu. Kata-kata tidak berheti berluncuran dari mulutmu. Ternyata kamu bisa juga peduli dengan kata-kata oranglain. Kata-kata yang demikian sering menyudutkan kita. Bahwa kita amat berbeda. Bahwa kamu begitu. Sedangkan aku begini. Bahwa aku sebenarnya bisa mendapatkan yang lebih baik, dan bla bla bla. Aku bahkan tak sanggup mengingat semuanya secara keseluruhan.

Dan malam ini, aku menangkap dengan sangat jelas, rasa takut kehilangan yang amat dalam, yang berpendar berkilat-kilat dari kedua matamu. Aku hanya tersenyum.

"Mereka tahu apa tentang kita? Mereka nggak tahu apa-apa, dan nggak perlu tahu. Mereka nggak perlu memahami apa-apa, selama aku dan kamu ngerti gimana caranya ngejalanin apa yang kita perjuangkan, sampai detik ini..", kataku sambil menatap matanya dalam-dalam.

Di perjalanan pulang, aku membagi headset ke sebelah telinganya...

So you see, this world doesn't matter to me
I'll give up all I had just to breathe
The same air as you till the day that I die
I can't take my eyes off of you



Minggu, 16 September 2012

untukmu :)

0

untuk seseorang yang menyimpan rindunya semalaman

untuk seseorang yang mengalahkan egonya

untuk seseorang yang menunggu pagi dengan rindu yang mengetuk-ngetuk dadanya

untuk seseorang yang sebaris pesannya di pagi hari bisa membuatku tersenyum seharian

untuk seseorang yang kesabarannya melahirkan kekaguman

untuk seseorang yang kekuatannya tidak bisa kubayangkan




untuk kamu, yang kukirimi pesan rindu
semoga esok pagi rindumu masih untukku

Sabtu, 15 September 2012

Hidangan itu Bernama Masa Lalu

0

"Lagu ini saya persembahkan buat salah satu pengunjung restoran ini. Seorang wanita, yang sangat saya cinta sampai detik ini. Mungkin dia sedang berpura-pura tidak mengenal saya sekarang, tapi tak apa, melihatnya pun saya sudah bahagia.."

Pengunjung restoran itupun beberapa ada yang terlihat memandang sekeliling, mungkin mencari tahu siapa sosok wanita yang dibicarakan si penyanyi di panggung kecil bagian depan. Restoran itu belum lama berdiri, namun pelanggannya tidak perlu diragukan lagi banyaknya. Bukan hanya menjual makanan dan sajian lain yang memanjakan lidarh, tapi suasana dan kenyamanan juga turut memegang andil dalam membuat konsumen selalu saja kembali ke sana. Ada panggung kecil di bagian depan, dengan beberapa alat musik seperti gitar dan piano. Affan sendiri sudah setahun bekerja di sana, sebagai pengisi live music setiap malam.

Pelan dan syahdu dimainkannya lagu itu. Lagu lama dari grup band favoritnya, Kahitna. Seketika restoran itu hening, seakan-akan setiap orang di sana sedang turut merasakan emosi yang disampaikan Affan melalui lagunya.

Meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan
Semua takkan mampu mengubahku
Hanyalah kau yang ada di relungku
Hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta
Kau bukan hanya sekedar indah
Kau tak akan terganti..

Affan mengakhiri lagunya dengan senyuman, sambil menatap seorang gadis berponi di ujung ruangan. Gadis itu tampak tak nyaman. Seperti ada masa lalu yang menjalari hati dan pikirannya. Belum habis makanan di mejanya, gadis itu tampak menggamit lengan kekasihnya, dan mengajaknya pergi.

Sekali ini Saja

4

Adisti menerawang jauh ke langit senja yang memerah. Terlihat segerombolan burung camar di sana, mungkin hendak pulang ke sarangnya. Angin mulai meniupkan hawa dingin, belum begitu menusuk, namun Adisti mulai merasa tak nyaman. Perlahan ia merapatkan cardigan biru tua bertuliskan huruf R berwarna merah. Huruf itu tertulis kecil, tidak begitu nampak. Sekali lagi angin memainkan rambut indahnya yang digerai sebahu, jepit cokelat yang dikenakannya tak sanggup menahan kemauan angin. Alhasil rambut lurusnya itu seakan terbang ke sana kemari.

"Senja ini dingin sekali..", gumamnya nyaris tak terdengar. Wajah ayunya mulai terlihat gundah. Mata yang biasanya berbinar indah jika sudah bertemu pantai itu pun seperti berkilat-kilat menggenang. Ada sesuatu yang ditahannya agar tak membuncah keluar. Ditatapnya ombak yang bergulung-gulung kecil mendekati kakinya. Lalu Adisti mundur sedikit, menghindar. Tak lama kemudian, gadis itu mengamati arloji di tangan kirinya, sudah hampir malam. Akhirnya, ia mengambil napas dalam-dalam sambil menyeka buliran-buliran bening yang sudah tak sanggup ditahannya.

Tuhan bila waktu dapat kuputar kembali
Sekali lagi untuk mencintanya
Namun bila waktuku telah habis dengannya
Biarkan cinta ini
Hidup untuk sekali ini saja

Adisti memutar tubuh dan mulai melangkah ke mobilnya. Masih melekat di ingatannya, Rinal yang memohon-mohon agar Adisti menunda kepergiannya ke London. Dua minggu saja, lelaki itu meminta Adisti untuk menghabiskan waktu dengannya lebih dulu, sebelum berangkat meninggalkannya. Saat itu, Adisti menganggap kekasihnya itu amat kekanak-kanakan. Bukan sekali itu Adisti harus meninggalkannya ke London karena libur kuliahnya sudah habis. Namun baru saat itu, Rinal demikian kukuh untuk menahannya lebih lama. Adisti hanya tertawa melihat tingkah lakunya, dan tetap memutuskan pergi. Sampai hari ini dia begitu menyesali semuanya.
Sebentar Adisti meraba tulisan R di cardigannya. Tepat di sebelah kiri, tempat jantungnya berdetak. Tempat inisial orang yang begitu dicintainya. Orang yang ia hadiri pemakamannya siang tadi.

Selasa, 11 September 2012

surat rindu buat Aira

0

Dear, Aira..

Hai, apa kabar kamu? Semoga baik-baik saja ya di sana. Bagaimana kabar Ibu, Bapak, dek Farhan? Semoga kalian sekeluarga selalu dalam lindungan Tuhan..

Hari ini, kuputuskan untuk mengirim email untukmu, Ra. Karena sepertinya aku ingin bercerita banyak hal. Akan terlalu panjang jika aku bercerita lewat sms. Apalagi kalau bercerita lewat telepon, habis banyak nanti pulsaku. Kan kamu tahu sendiri, aku di sini serba sangat hemat, Ayah sama Ibu nggak bisa ngasih sangu banyak-banyak tiap bulan. Kamu pasti maklum. Iya, kan? :)

Jakarta bukan tempat yang seindah aku bayangkan dulu, Ra. Di sini macet tiap hari. Aku harus berangkat pagi-pagi, kos ku lumayan jauh dari kampus. Kalau mau kos yang di deket kampus, harganya mahal banget, uangku nggak cukup, jadilah aku pilih yang agak jauh. Di sini juga nggak ada padang rumput luas kayak di desa kita, Ra. Hehehe. Jujur aja, aku kangen pas kita suka ngabisin waktu di padang rumput deket rumah..

Akhir-akhir ini, aku suka inget kalo kita keluar rumah pagi-pagi banget. Cuma untuk ngelihat matahari terbit, yang muncul dari balik gunung. Aku kangeeen banget. Aku kangen nikmatin pagi sama kamu, Ra. Inget nggak, biasanya kamu masih pake baju tidur. Aku juga masih bawa-bawa sarung. Lalu kita jalan beberapa menit sampai padang rumput. Di sana kita biasa cerita-cerita, nyanyi-nyanyi sambil nunggu matahari terbit

Ingatkan engkau kepada,
Embun pagi bersahaja,
Yang menemani mu,
Sebelum cahaya

Inget lagu itu kan? Itu lagu yang biasa kita nyanyiin di padang rumput. Iya, kita sering ada di sana, sebelum cahaya, sebelum matahari. Aku sudah download lagu itu, Ra, dan seringkali aku dengerin kalo aku lagi kangen kamu. Norak ya? :p

Yaudah, segini dulu deh.. Salam buat Bapak, Ibu, dek Farhan juga.. Bilangin, 4 tahun lagi, kamu aku lamar :)


dari lelakimu,
Yudho




Aira membaca email itu sekali lagi. Perlahan dihapusnya air mata rindu yang mulai menggenang di sudut matanya. Lalu sesungging senyum indah pun tergambar.

jingga kita

0

Sore ini seperti biasa aku masih saja di kampus. Kampus yang semakin penuh sesak oleh kehadiran mahasiswa baru berjumlah seribu lebih. Sesekali aku menguap, melihat sekilas pada jam yang melingkari tangan kiriku. Jam 5 sore, dan aku masih berdiam di bangku taman ini. Rapat event tahunan kampusku masih satu jam-an lagi. Aku mengamati jingga yang mulai memudar di langit. Sebentar lagi petang datang.

Jingga ini, yang biasanya kunikmati bersamamu. Seketika aku merasakan ada yang hilang, lagi. Beberapa bulan yang lalu, kita masih sering menikmati sore bersama-sama. Kamu bukan aktivis kampus sepertiku, tapi kamu demikian sabar menemaniku. Walaupun itu menungguiku rapat, yang jelas-jelas rapat itu bukan kepentinganmu. Kamu selalu membawakan aku makanan kecil, kamu tau aku selalu suka makan. Tanpa terasa makanan itu akan cepat sekali habis, seiring kita yang suka mengagumi langit senja. Selalu ada cerita yang membuat senja kita berlalu begitu cepat.

Aku suka ceritamu, tentang apapun itu. Kamu itu, orang paling ekspresif yang pernah aku kenal. Kalau bercerita, kamu selalu menggerak-gerkkan anggota tubuhmu, terutama tangan. Seakan-akan kamu ingin menggambarkan apa yang kamu ceritakan itu supaya lebih nyata di hadapanku. Ah iya, dengan mata bulat besar yang hampir setiap saat kurindukan. Ketika bercerita, matamu seringkali membulat lucu, sambil wajahmu menggambarkan ekspresi yang bermacam-macam.

Yah, bagaimana mungkin aku bisa membohongi hatiku sendiri kalau aku begitu merindukan kamu?

Tiba-tiba, aku menangkap sosok yang sepertinya amat kukenal. Rambut yang dikuncir kuda itu bergoyang ke sana kemari, sejalan dengan langkah si empunya kaki. Nindira. Masih saja, kuncir kudamu tak pernah bisa lepas. Kamu paling benci mengurai rambutmu. "Nusuk-nusuk mata lho..", begitu katamu ketika kutanya. Kamu ternyata menyadari keberadaanku di taman. Langkahmu terhenti, agak terlihat kikuk dari sini. Mata kita bertemu. Kita sama-sama terdiam. Lalu kulihat kamu seperti mulai akan berjalan ke arahku. Sontak aku mengemasi tasku, beranjak pergi, entah ke mana. Sambil tak lupa aku tersenyum kecil, untukmu.

Aku tak akan sanggup lagi mendengarkan suaramu, karena bagaimanapun aku tak ingin keputusanku goyah. Tentulah batas kesabaranmu ada kalanya berlaku juga. Masih teringat jelas di benakku, beberapa bulan yang lalu. Hari itu ulang tahunmu ke dua puluh satu, dan aku masih saja berkutat dengan rapat, rapat, rapat lagi. Sampai satu hari itu lewat, jam dua belas malam tinggal sejarah yang tak bisa kuulang. Aku melupakannya, maaf. Aku tahu bukan salahmu jika akhirnya kamu lebih memilih untuk menghabiskan waktumu bersamanya. Ya, dia yang lebih bisa mengingat segala hal spesial tentangmu. Sementara aku begitu pelupa. Aku tidak bisa melupakan ketika kamu memohon maaf padaku, karena pergi dengan lelaki itu tanpa seijinku. Bukan, aku bukannya membencimu. Tapi aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Aku tak mau melukaimu lagi, Nindira. Cukup sekali itu saja aku harus melihatmu berlinang air mata. Cukup sekali itu saja aku membuatmu sedih. Cukup sekali saja.

Kalau ku ingat-ingat lagi sayang
Hatiku berhenti di kamu
Cerita kita tiada yang bisa gantikan