Minggu, 22 November 2015

Book Review: "Critical Eleven" by Ika Natassa

2

pict taken from goodreads.com


Semalam menyelesaikan baca novel Critical Eleven karya Ika Natassa. Booming banget novel ini, bahkan sebelum terbit. Saya sempat mau ikut pre-order yang bertanda tangan, tapi kayaknya lupa deh nggak jadi daftar, hahaha. Beberapa teman merekomendasikan novel ini, saya akhirnya jadi penasaran juga lama-lama. Terakhir kali saya baca karya Ika Natassa adalah "A Very Yuppy Wedding" yang saya inget banget, hasil minjem dari salah satu dosen (gaul kan dosen saya? :p). Jadilah, saya masukkan Critical Eleven sebagai salah satu buku yang saya beli di toko buku online langganan.

Entah kebetulan atau apa, dua buku yang saya rampungkan baca beberapa hari belakangan, ada hubungannya sama traveling, melakukan perjalanan. Dan begitu juga halnya dengan Critical Eleven ini, ada hubungannya sama pesawat. Tanya Baskoro dan Aldebaran Risjad, dua tokoh utama dalam novel ini, mengawali perjalanan cintanya dari pertemuan singkat dalam pesawat. 

Memutuskan menikah setahun setelah perkenalan pertamanya, membuat mereka harus mempertanyakan lagi akan dibawa kemana pernikahan mereka setelah satu tragedi yang mengubah dan mengguncang kehidupan rumah tangga mereka. Total.

Dikisahkan secara menarik, bergantian melalui sudut pandang Ale dan Anya, membuat saya bisa memahami apa yang dirasakan masing-masing tokohnya. It feels like, Ale dan Anya secara bergantian mengajakku duduk minum kopi, saling berhadapan, dan membagi apa yang mereka rasakan terhadap satu sama lain. Ale yang tidak ragu sedikitpun atas rasa cintanya, Anya yang dalam keraguan begitu besar belum bisa mengambil keputusan. You know, rasanya asyik seperti dijadikan teman curhat oleh tokoh utama dari novel yang saya baca.

Honestly, I put high expectation on this novel, mengingat banyaknya rekomendasi yang datang, dan besarnya kehebohan yang ditimbulkan. Dan, mungkin karena itu juga, menurut saya, novel Critical Eleven ini nggak sampai membuat perasaan saya teraduk-aduk. Merasa sedih iya, tapi nggak sampai menangis. Saya malah lebih suka bagian-bagian lucu percakapan Ale dan Harris, adiknya. Bagian itu bisa bikin saya tertawa beberapa kali. But still, novel ini worth to read.. :)

Overall, yang paling saya suka adalah pemilihan main topic novel ini, problem utamanya. Saya nggak akan cerita di sini tentang problem utamanya ya, kalian harus baca sendiri, hehehe. Saya juga suka bagaimana Ika menggambarkan cara Tanya berduka, terkungkung dalam lukanya. Dan sekali lagi, saya juga suka banget sama gaya penceritaannya Ika Natassa yang santai, yang bisa membuat pembaca merasa dekat dengan tokohnya. Ya seperti yang saya bilang tadi, seperti diajak curhat gitu lah.. :D

Kalau kalian mencari novel yang kisahnya nggak macam kisah cinta ABG, novel ini cocok untuk kalian baca! 

Last but not least, thanks so much Ika for many quotes about traveling in the end of this book, I love it so muuuuch :D

Salam, dan selamat membaca :)

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. apa satu tragedi yang dimaksud di atas. itu bikin saya pengen pinjem bukunya

    BalasHapus