Sabtu, 12 Maret 2016

Book Review: Jodoh by Fahd Pahdepie

2



pict taken from goodreads.com


For the first time membaca karyanya Fahd Pahdepie. Saya sering mendengar maupun melihat namanya di sosmed, tapi baru kali ini berkesempatan untuk membaca bukunya. Judulnya Jodoh. Please jangan bilang saya galau, jangan bilang saya baper makanya milih buku ini, hahahaha. Awalnya sih saya tertarik sama covernya yang didominasi warna merah menyala. Ketika tahu nama pengarangnya, hmm, saya jadi ingin baca bukunya.

Novel Jodoh bercerita tentang sepasang anak manusia bernama Keara dan Sena. Lewat buku ini, saya seperti diajak untuk menyaksikan frame demi frame kisah cinta keduanya, mulai dari masa kanak-kanak, remaja, hingga mereka dewasa. Saya salut dengan gaya menulis Fahd yang bisa membuat saya seolah turut melihat, turut ada di sana dan menjadi bagian dalam cerita, walau tidak dengan menjadi tokohnya, ya. Biasanya, hal seperti ini akan bisa dirasakan ketika penulisnya menggunakan sudut pandang orang ketiga, tapi, Fahd dengan sudut pandang orang pertama-nya, bisa membuat saya merasakan hal yang serupa.

Kalau boleh saya bilang, secara keseluruhan isi cerita, bisa tertebak arahnya kemana, endingnya akan seperti apa, tapi menariknya adalah, Fahd bisa membuat saya tetap sabar dan menikmati jalan cerita. Itu keren, karena biasanya kalau merasa sudah bisa menebak ending, bacanya jadi males-malesan, hehe.

Oh iya, ada satu pemahaman mengenai kehidupan, mengenai takdir Tuhan, yang membuat saya sangat terkesan dalam novel ini. Dalam suatu percakapan antara Keara dan Sena mengenai hidup dan takdir..

"Takdir barangkali juga bekerja dengan cara semacam itu. Tuhan menyiapkan kemungkinan-kemungkinan dengan hukum sebab-akibat... Tentang takdir, mungkin Tuhan menyiapkan titik-titik peristiwa dengan jumlah kemungkinan yang tak terbatas itu. Lalu kita menentukan ke titik mana kita bergerak, ke titik-titik mana kita melanjutkan konsekuensi dari skenario yang kita pilih di titik takdir sebelumnya. Kita menyebut apa-apa yang sudah kita pilih, apa-apa yang sudah kita alami, sebagai nasib."

Dari keseluruhan cerita, saya paling suka bagian ini. Sedikit banyak, bagian ini bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari pernyataan bahwa "Segala sesuatunya sudah dituliskan oleh Tuhan". Yap, tulisan atau skenario Sang Maha Sutradara kehidupan tentulah tidak bisa disamakan dengan karya makhluk manapun. Jutaan atau bahkan skenario yang jumlahnya tak terbatas, hal ini telah menjelaskan pernyataan mengenai ketentuan Tuhan yang bisa diubah dan tidak, dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami.

Kalau kamu menyukai cerita-cerita yang sweet, dibumbui dengan sedikit puisi-puisi dan quote yang menarik, serta jalan cerita yang nggak menuntutmu mengerutkan dahi, buku ini cocok untuk kamu. Lalu bagaimana untuk kamu-kamu yang sedang menanti jodoh, apakah buku ini cocok juga, hmmm, hahaha, entahlah, kalau penasaran ya silakan beli bukunya :)

2 komentar:

  1. Sempet booming banget di sosmed.. Saya juga penasaran banget. Lagi-lagi saya tuh kurang suka dengan pengambilan nama karakter yang terlalu dipaksakan indah;Keara dan Sena.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lagi-lagi? Berarti sudah pernah baca karya Fahd yg lain ya? :D

      Hapus