Minggu, 20 November 2016

Batas yang Jelas

7

pict taken from picture.4ever.eu

Lapangan Banteng di hari Sabtu bisa dipastikan tak akan pernah sepi. Mulai anak muda sampai lansia, dari yang sekedar jalan santai hingga ditemani pelatih lari. Tempat ini terbagi menjadi tiga area. Area pertama adalah lapangan sepakbola, kemudian di sebelahnya ada jogging track, dan area ke tiga adalah taman. Mereka yang biasa lari pagi nggak hanya memfavoritkan jogging track, tapi juga area taman yang punya pemandangan pepohonan hijau nan menyejukkan mata.

Pagi itu matahari masih malu-malu bersembunyi. Sementara di ujung jogging track, Haikal sedang membenahi ikatan sepatunya, memastikannya erat dan terasa nyaman. Beres dengan sepatu, Haikal menegakkan badannya dan memulai pemanasan ringan. Hanya perlu waktu sepuluh menit, sampai badannya dirasa siap untuk lari pagi hari ini.

“Kal!”

“Ah, datang juga, lu, akhirnya. Sejak kapan lu bangun pagi pas weekend begini, ha?”

“Sejak dulu, lah, bro! Yuk ah!”

Yang Haikal tahu, Vero tak pernah absen untuk bangun siang di kala weekend. Yang Vero tahu, dia harus bangun pagi hari ini, menemui Haikal, dan memenuhi rasa penasarannya sejak pulang dari liburan ke pantai dua bulan yang lalu.

“Mau liburan ke mana lagi, lu?”

“Rencananya sih ke Lombok, Kal, hehe..”

“Kapan?”

“Bulan depan. Gua udah beli tiket, udah pesen penginapan juga. Tinggal berangkat aja.”

“Ooh.”

Dua sahabat itu terus berlari mengelilingi lapangan. Bulatnya matahari mulai nampak di samping gedung kembar Djuanda. Sejuk pagi perlahan menghangat. Vero dan Haikal membicarakan masa dimana mereka masih sering bertemu, berdiskusi banyak hal, dan sering pergi ke tempat-tempat eksotis bersama teman satu geng pecinta alam mereka yang kini sudah tersebar ke seluruh penjuru Indonesia.

“Kal, lu nggak mau ngadain open trip lagi?”

“Nggak tau. Belum ada rencana. Kenapa? Lu mau ngajak gua liburan?”

“Bukan ngajak lu, lah!” sahut Vero cepat.

“Lah terus?”

“Gua pengen ketemu lagi sama temen lu, tuh.”

“Temen gua? Temen gua yang mana?”

“Yang waktu itu ikut liburan.”

“Kanaya maksud lu?” reflek Haikal membelalakkan kedua matanya dan menatap Vero.

“Biasa aja dong, respon lu gitu amat. Nggak suka?”

“Bukan gitu, gua kaget aja. Kenapa lu pengen ketemu sama dia? Lu ngutang sama dia ya? Astaga kebiasaan lu sejak jaman kuliah nggak berubah juga ya. Kebangetan, lu pikir Kanaya itu ibu kantin? Sini lah lu bayar lewat gua aja, ntar gua sampein ke Kanaya.”

“Sembarangan, lu! Gua kasih keringet baru tau rasa lu!” ancam Vero sambil mengacungkan handuknya yang sudah separuh basah. Lalu keduanya tergelak.

“Jadi, apa yang bikin lu pengen ketemu sama Kanaya?”

“Nggak tau, Kal, gua penasaran aja sama dia.”

“Penasaran kenapa?”

“Haduh, masa gua mesti cerita panjang lebar dulu, sih?”

“Ya iyalah, Kanaya kan temen gua. Lagian, siapa tahu ada yang bisa gua bantu. Kali aja rasa penasaran lu bisa cukup terselesaikan dengan ketemu gua.”

“Dasar, lu!”

Vero seperti berpikir sejenak, mencoba memutuskan akan memulai ceritanya dari mana.

“Lu inget nggak, waktu itu kalian pada kesiangan nggak ngejar sunrise?”

“Hmm, iya inget.”

“Waktu itu, gua sama Kanaya pergi berdua buat ngelihat sunrise di Pantai Pasir Perawan.”

“Masa?! Pas kami pada bangun, si Kanaya lagi nyiap-nyiapin sarapan, kok.”

“Dia memang balik duluan, ninggalin gua yang masih nikmatin sunrise, sembari kepikiran kata-katanya.”

“Kata-kata apa?” kedua alis Haikal bertautan.

“Yaah, ada beberapa hal yang kami bicarain waktu itu. Gua tertarik sama filosofinya dia tentang pantai. Tapi di sisi lain, gua juga terheran-heran sama nggak ramahnya dia waktu gua tanya kapan bisa liburan bareng lagi.”

Haikal tertawa, matanya sejenak menatap arak-arakan awan di langit, mencoba mengingat peristiwa tiga tahun lalu.

“Kenapa lu ketawa?”

“Kanaya itu memang nggak ramah sama orang asing. Pertama kali gua ketemu Kanaya tuh di jembatan penyeberangannya halte Tosari. Waktu itu, kami sama-sama kejebak hujan. Dia lagi galau gara-gara baru ngerasain yang namanya merantau. Gua ajak ngobrol, dan defensif banget sikapnya. Bahkan, nyebut nama aja dia nggak mau.”

“Segitunya?”

“Iya, segitunya. Lumayan tengsin juga waktu itu, gara-garanya gua udah sebut nama dan ngulurin tangan, eeeh dia malah bilang kalau nggak biasa kenalan sama orang asing. Baru kali itu rasanya gua ditolak kenalan sama cewek, biasanya kan cewek yang rebutan pengen kenal gua.”

“Ckckck, pede amat lu, bro.”

“Hahaha. Yah, jadi jangan kaget sih, kalau dia jutek sama lu.”

“Tapi gua tetep pengen ketemu dia lagi, Kal.”

“Ngapa sih? Lu suka ya sama dia?”

Vero diam, bingung. Harus dijawab apa lah pertanyaan Haikal ini?

“Gua belum bisa bilang gitu, sih. Tapi gua tertarik sama dia. Eh tapi dia masih single, kan?”

“Setahu gua sih, masih.”

Cuaca Sabtu pagi itu amat bersahabat. Sinar matahari yang menghangatkan, sesekali angin sepoi pun bertiup, memberi kesejukan untuk meringankan lelah. Jogging track sedang tak begitu ramai, orang-orang lebih tertarik pergi ke area taman, sedang ada festival Flona di sana.

“Kal, udahan yuk, udah belasan kali muter nih, udah lima kilometer kayaknya.”

“Lemah, lu. Yaudah yuk duduk bentar di tribun.”

Tribun yang ada di lapangan Banteng ini memang tak begitu besar. Hanya terdiri dari beberapa tingkat, dan letaknya di sisi kiri gerbang masuk.

Haikal menenggak habis air dalam botol minumnya, sementara Vero sibuk melemaskan otot-otot kakinya.

“Jadi gimana, Kal? Gimana caranya gua bisa ketemu Kanaya lagi?”

“Lu tahu nggak, kenapa gua lebih pilih lari di sini, daripada area taman yang di sebelah itu?”

“Ya kan lagi ada acara di situ, Kal.”

“Aduh, bukan itu alasannya. Jogging track ini jaraknya jelas. Satu kali putaran, 400 meter. Batasannya juga jelas, tuh lu perhatiin ada bendera-bendera kecil di ujung lapangan, di paving pembatasnya bahkan ada tulisannya juga tiap 50 meter.”

“Hubungannya sama Kanaya tuh, apaan?”

“Bro, gua kenal lu sejak lama. Lu tuh baik sama semua orang, dan kebaikan lu juga sering disalahartikan. Walaupun lu nggak bermaksud kayak gitu.”

Haikal menghela napas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya.

“Kanaya itu emang jutek sama orang asing. Karena apa? Karena sekalinya dia udah kenal sama orang, apalagi udah deket sama orang, dia bakalan baik banget, percaya banget, dan banget-banget yang lainnya. Konsekuensinya, kalau disakitin, dia akan ngerasa sakit banget juga.”

“Menurut lu, gua bakal nyakitin dia gitu?”

“Kagak. Gua cuma mau ngingetin, lu mesti bikin batasan-batasan yang jelas soal perlakuan-perlakuan lu nanti ke Kanaya, ini nyambung sama jogging track yang gua bilang tadi. Kalau emang lu memposisikan diri lu sebagai teman, jangan lu lakuin hal-hal yang ngelewatin batas itu. Ibaratnya kalau temenan tuh perhatiannya level 2, jangan lu lebay ngasih perhatian sampai level 5.”

“Hmm, ya, paham gua.”

“Satu lagi.”

“Apa?”


Haikal menegakkan posisi duduknya lalu tegas berkata, “Kanaya itu rumah. Kalau lu belum mantap, kalau lu baru pengen singgah sebentar, cukuplah lu berada di terasnya aja.”

7 komentar:

  1. saya suruh anak saya temenan sama Mbak Aul ya.
    biar dia ketularan pinter berimajinasi kayak Mbak Aul.

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduuuh, such an honor for me nih, kalau pak Roni bilang begini :D monggoo Pak, dengan senang hati :D

      Hapus
  2. suka banget sama closingnya. “Kanaya itu rumah. Kalau lu belum mantap, kalau lu baru pengen singgah sebentar, cukuplah lu berada di terasnya aja.”

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi, terima kasih fitria.. Ikuti terus ceritanya yaa :D

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Diawali dr judul dan diakhiri dengan kalimat yg keren , ditunggu kelanjutan ceritanya

    BalasHapus