Senin, 31 Oktober 2016

Kesempatan Pertama

0


pic taken from linkedIn


Jumat malam, salah satu rumah sakit besar di kawasan Jakarta Pusat itu masih juga tampak sibuk. Ambulance silih berganti memasuki pintu gerbang. Beberapa perawat dan dokter tampak tergesa melayani pasien yang seperti tak habis-habis datangnya. Faya yang tak begitu suka berada di tengah hiruk pikuk yang menyayat hati itu memilih untuk terus berjalan ke arah timur, melewati bangunan Unit Gawat Darurat, hingga tibalah dia di taman rumah sakit.

Taman itu cukup luas, ada air mancur di tengahnya, sementara di tepi-tepinya berjajar bangku-bangku dari kayu. Hanya tinggal dua bangku yang kosong, Faya akhirnya memilih untuk duduk di bangku yang paling dekat dengan air mancur. Setelah meneguk air mineral yang dia bawa kemana-mana, Faya menengok jam tangannya sebentar, lalu mengeluarkan tab dari tasnya. Tak lama, Faya tenggelam dalam e-book yang baru didownloadnya siang tadi.

Ketenangan Faya tiba-tiba terusik oleh dering handphone-nya sendiri.

Nomor yang tidak dikenal. Kalau dulu jaman kuliah, telepon semacam ini akan langsung di-reject-nya. Tapi sejak bekerja, kebiasaan itu tak lagi bisa dilakukannya. Telepon dari nomor tak dikenal bisa saja berhubungan penting dengan pekerjaannya.

“Halo, selamat malam. Iya benar, saya Faya. Apa? Kartu nama? Astaga. Oke, nggak jauh kok. Saya di RSPAD. Terima kasih banyak.”

Faya menghela napas panjang dan tak henti-henti mengutuki dirinya yang ceroboh.

Tak sampai sepuluh menit kemudian, handphone-nya kembali berdering.

“Halo? Iya. Saya di tamannya, mas. Tahu nggak? Oke. Saya pakai cardigan warna biru muda, ya.”

Faya berdiri dari tempat duduknya sambil terus mengarahkan pandangan ke gerbang taman. Lalu lelaki berseragam biru tua itu muncul. 

“Maaf ya, mas. Jadi merepotkan.”

“Ah nggakpapa, kok.”

“Tadi saya habis ambil pesanan kartu nama, malah ketinggalan. Untung ada mas....eh mas siapa ya?”

“Erick.”

Mereka berjabat tangan. Dalam hati, Erick akhirnya membenarkan kata-kata Rendi di stasiun sore itu. Ya, perempuan ini memang cantik, dan welcome dengan orang asing.

“Faya keberatan kalau saya ikut duduk sebentar di sini?” tanya Erick.

“Ah, nggak, silakan.”

“Jadi...Kamu ngapain di rumah sakit?”

“Cuma mau konsultasi kesehatan sebentar. Kebetulan, teman SMA saya dulu ada yang jadi dokter di sini.” Jawab Faya seraya merapatkan cardigan-nya, angin sepoi di malam hari memang terasa lebih dingin dari yang seharusnya.
“Ooh. Kamu sering ya, ke kedai kopi itu?”

Faya mengangguk. “Yaaa, hampir tiap Jumat malam saya ke sana. Kamu sering ke sana juga, kah?”

“Hmm, nggak juga. Eh by the way, baju batik di hari Jumat. Kalau tebakan saya benar, jangan-jangan kita dari Instansi yang sama, ya?” cepat-cepat Erick mengalihkan pembicaraan, mana mungkin dia bilang kalau dia pergi ke kedai itu atas saran Rendi.

Faya memperhatikan seragam lelaki di sampingnya itu.

“Kayaknya sih, begitu. Kebetulan yang lucu, ya.”

Sejenak Faya tersenyum. Matanya menyipit, kedua lesung pipinya terlihat jelas. Namun bagi Erick, itu adalah sejenak yang lama.

“Kamu kok sama sekali nggak kelihatan takut atau risih, sih, sama orang asing?” tanya Erick yang sebenarnya sedari tadi sudah terpesona dengan keramahan Faya. Rendi benar, perempuan ini unik.

“Memangnya kenapa harus takut atau risih?”

“I dont know, tapi normalnya orang kan nggak welcome sama orang asing, apalagi perempuan.”

“Jadi saya nggak normal gitu, maksudnya?”

“Eh, nggak gitu, Fay.” ralat Erick cepat. Wajahnya tampak merasa bersalah, sementara Faya malah tertawa.

“Berhati-hati dengan orang asing itu perlu, tapi waspada dengan orang terdekat itu malah harus,” jawab Faya sambil memandang air mancur di tengah taman. 

“Kok gitu?”

Faya menarik napas panjang, seperti bersiap untuk bicara panjang lebar.

“Orang asing itu nggak punya kepentingan apapun sama hidup kita. Sekali dia datang, lalu pergi, sudah. Sementara orang terdekat justru sebaliknya. Pernah dengar pepatah yang bilang bahwa orang yang paling kamu cintai itu adalah orang yang punya peluang paling besar untuk menyakitimu?”

“Iya, pernah.”

“Thats it! In my opinion, orang asing justru bisa jadi pemerhati yang paling tulus, pemberi doa yang  tanpa pamrih. ”

“Gimana dengan sahabat? Tiap orang selalu punya sahabat, orang yang dipercaya.”

“Saya punya banyak sahabat. Sahabat saya ada di mana-mana. Bapak-bapak yang kebetulan duduk bersebelahan dengan saya di kereta, teman backpacking di Belitung yang bahkan saya udah lupa namanya, lelaki yang tiba-tiba ngajak saya ngobrol di kedai kopi. Saya bersahabat dengan cara yang berbeda. ”

“Luar biasa. Baru kali ini saya ketemu orang seperti kamu.”

“Apanya yang luar biasa? Dikhianati teman terbaik itu bukan pengalaman yang menyenangkan, mas. Jadi yaa, seperti inilah saya yang sekarang.”

Keheningan menyergap mereka berdua selama beberapa detik. Faya yang selalu terbuka dengan orang asing. Erick yang sedari tadi ingin masuk lebih jauh lagi menyelami pemikiran-pemikiran Faya. Gemericik air mancur menghiasi diam keduanya.

“Jadi kurang lebih, manusia yang satu akan memberikan jejak pada kehidupan manusia yang lain , ya? Sementara mereka nggak tahu, seberapa dalam dan seberapa besar pengaruh jejak mereka itu nantinya.”

“Yap. Makanya jaga sikap, kita nggak akan tahu bahwa jejak kita itu bisa saja mengubah cara pandang, atau bahkan hidup seseorang,” pungkas Faya sambil tetap memandang air mancur di depannya, sampai tiba-tiba handphone-nya berdering.

“Yaa, Gin? Udah? Oke aku ke ruangan.” Faya memasukkan handphone-nya ke dalam tas, berkemas.

“Mas Erick saya duluan, ya. Thanks sudah bawain kartu nama saya ke sini.”

“You’re welcome. Saya juga mau pulang. Sampai ketemu lagi, Fay.”

Keduanya berdiri lalu beranjak pergi ke arah yang berlawanan. Seperti teringat sesuatu, cepat-cepat Faya memanggil lelaki yang sejak tadi menjadi teman ngobrolnya itu.

“Mas Erick!”

Lelaki yang dipanggilnya itu menoleh. “Ya, Fay?”

“Nomor saya, tolong segera dihapus, ya. Thanks.”

0 komentar:

Posting Komentar