Rabu, 16 September 2020

Pertemuan Paling Indah

0

12 Juli 2020
.
Jam setengah 4 sore lagi santai-santai ngobrol sama suami, sampai tiba2 aku ngerasa ada bunyi "puk" dari dalem perut. Sempet ngebatin apaan ya tadi, tapi lanjut aja ngobrol. Pas ke kamar mandi, barulah sadar kalau ada cairan yang mengalir, yang setelah kukonfirmasi ke mama, fix ini air ketuban. Yap, ketubanku pecah.
.
Buru-buru aku sama suami capcus ke RSIA yg emang tempat kontrol rutin dan kami rencana lahiran di sana. Jam 5 baru dipanggil bidan untuk observasi. VT sama bidan, hasilnya ngga ada pembukaan dan posisi bayi masih tinggi. Akhirnya cek denyut jantung janin selama 20 menit. Jam setengah 6an, dokter Della ambil alih utk VT (lagi) dan USG. Hasil masih sama, ditambah fakta kalau ketuban di dalem perut udah tinggal dikit banget nget nget. Aku diberi opsi induksi atau operasi hari itu juga. Dipanggil lah suami ke ruang observasi, kami ngobrol.
.
Ngga pernah kebayang kalau aku mesti operasi, tapi saat itu aku cuma mikir kondisi bayi yg udh ga bisa berenang2 tanpa ketuban. Apakah dia ngga akan tersiksa dgn jalan induksi? Apakah dia akan bertahan melaluinya? Akhirnya setelah diskusi sama suami, aku juga sempet telpon mama, kami mutusin utk operasi aja. Bismillah 😊
.
Singkat cerita. Jam 18.35, suara tangisnya memenuhi telingaku. Dokter Della mengangkatnya, menunjukkan kondisi bayiku yg agak hijau krna ketuban dah habis. Aku cuma bisa nangis sembari membatin "alhamdulillah, allahu akbar, Allah yg menuntun keputusan operasi ini" 🥰
.
Azkiya Almahyra, terima kasih sudah sangat baik hati selama berada di perut mama 38 minggu ini. Terima kasih sudah bertahan di tengah ketuban yg tinggal sedikittt. Terima kasih sudah menjadikan aku dan @rizkhap seorang mama dan ayah 😊
.
We love you, Nak 😘
.
.
.
#birthdate #birthstory

0 komentar:

Posting Komentar