Kamis, 12 September 2013

sesal

2

"Ini sudah ke berapa kalinya kamu selingkuh, sih?"

"Banyak!"

"Kamu nggak ngerti-ngerti juga, ya?"

"Ngerti apa ya? Kan selama ini kamu oke-oke aja, toh?"

Yak, sedikit lagi, beberapa detik lagi. Semoga dia benar-benar meledak dan meninggalkanku pergi!

"Selama ini aku bertahan sama kamu. Dan ternyata kamu emang nggak berubah."

"So? Dari awal aku udah peringatin kamu, kan? Aku udah bosen sama kamu. Kamunya yang nggak mau ngerti."

Oke, setelah ini. Setelah ini. Mungkin setelah ini dia akan menggebrak meja dan benar-benar membenciku. Syukurlah, ayo dipercepat. Kebebasaaan, aku dataaaangg!

"Oke kalo emang itu mau kamu."

"Jadi kita put... uss.. kan...? Nay?"

Aku bahkan tidak bisa mengerti dengan diriku sendiri. Sedetik yang lalu aku mati-matian berharap Naya membenciku da meninggalkanku, seperti yang kuinginkan sejak lama. Tapi.. Tapi.. Melihat matanya yang berkerjap-kerjap susah payah menahan air mata. Dan, entah ini perasaan macam apa. Tiba-tiba seperti ada sesuatu yang membuatku merasa bahwa... Sepertinya aku salah.

"Iya, kita putus."

Naya menghilang di balik pintu kafe. Sementara ada jerit tertahan di hati kecilku. Hati kecil yang tak pernah kudengarkan, bahwa sungguh cinta Naya adalah tempat ternyaman untuk pulang.

Aku terlambat.

2 komentar:

  1. sedikit tapi nampol banget maknanya :"")

    BalasHapus
  2. hihi, makasiih udah baca dan komeen.. salam kenal :D

    BalasHapus