Rabu, 16 Oktober 2013

pesan terakhir

0

"And then, kenapa kamu masih sendiri?", tanya Arik.

Lila terus saja melihat langit, sementara Arik tidak henti memandanginya. Terlihat olehnya wajah Lila yang begitu manis, lesung pipinya terlihat bahkan ketika dia tidak sedang tersenyum.

"I don't know, Rik. Kalo aku bisa, kalo aku mau, aku udah ganti pacar berapa kali sejak aku putus sama Dean beberapa tahun yang lalu. Entahlah, aku ngerasa enjoy dengan situasi yang kayak gini. Sendiri, lebih bebas mau ngapain aja. Dan, yang pasti.."

"Yang pasti? Apa yang pasti?"


"Yang pasti, aku nggak perlu takut disakitin..", Lila mengatakannya sambil tersenyum. Senyum yang nyatanya sudah merebut hati Arik sejak pertama mereka bertemu.

"Tapi, berdua jelas lebih baik daripada sendirian, La.."

"Ohya?? Dean terlanjur membuatku tidak berpikir seperti itu, Rik.."

"Lila, bukalah hati kamu. Mana bisa kamu sendirian terus. Mau sampai kapan??"

***

"Hei. Lagi apa kamu di sana?? Cuma mau kasi kabar, aku belum bisa bikin Lila luluh hatinya. Tapi tenang aja, aku nggak akan pernah lupa sama pesan terakhirmu. Aku pasti jagain dia, Dek.."

Sore itu, di depan pusara bertuliskan nama Dean, Arik menyeka gundah hatinya dengan sedikit senyuman.





inspired by: two is better than one-- boys like girls

0 komentar:

Posting Komentar