Rabu, 17 April 2013

waiting your call

0

phone love wait call graphic

Masih teringat jelas di kepalaku. Beberapa tahun silam, gadis cantik itu menggenggam tanganku erat. Mata bulatnya digenangi air. Seperti luka, seperti keterpaksaan. Aku hanya bisa menyeka tetesan itu dengan punggung tanganku. Aku mencoba tersenyum, supaya dia merasakan juga bahwa akupun berusaha kuat. Supaya kekuatanku sampai kepadanya. Pada akhirnya, aku hanya sanggup melihat langkahnya yang menjauh. Memandangi punggungnya, sampai hilang di balik pintu.

Masih juga terdengar nyata, ketika ia bernyanyi di dalam mobilku. Ya, dia suka sekali menyanyi. Aku tak pernah keberatan, suaranya indah. Walaupun, seandainya suaranya cempreng sekalipun aku akan tetap tidak keberatan mendengarnya bernyanyi. Suaranya, ada energi tersendiri ketika aku mendengarkan suaranya. Aku merasa hidup.

Aku mengamati ponsel-ku. Memutar-mutarnya sejenak. Aku menimbang-nimbang niatku. Aku sudah membeli pulsa lebih untuk agenda yang satu ini. Tapi mungkin, aku terlalu takut memulai.

"Ayo, telponlah.. Telpon aku, sedetik saja..", batinku.

Aku meletakkan ponselku menjauh. Aku teruskan memandangi langit-langit kamar. Aku bisa melihat bibir mungilnya yang bergerak-gerak lucu ketika bernyanyi. Aku masih ingat perjalanan jauh yang kami habiskan bersama. Sepanjang jalan dia bernyanyi, aku diam menikmati. Sampai-sampai dia tertidur pulas di sebelahku. Tanpa sadar aku tersenyum, tapi juga merasa pedih.


Waiting for your call, I'm sick, call I'm angry
Call I'm desperate for your voice
Listening to the song we used to sing

Aku segera menyambar ponselku, berharap kalau...

"Halo? Miranda??"

"Miranda? Kamu masih belum bisa ngelupain dia ya?", suara di seberang tampak sedih dan tersakiti.

Aku menunduk, merasa bersalah mengakuinya pada kekasihku.

0 komentar:

Posting Komentar