Minggu, 19 Agustus 2012

seperti kamu :)

0

pagi meyakinkan aku bahwa ia kan datang lagi
sekalipun gulita akan merenggutnya beberapa saat

pelangi meyakinkan aku bahwa ia akan tetap indah
sekalipun hujan dan mendung akan lebih dahulu tampak sebelumnya

bintang meyakinkan aku jika ia tetap di tempatnya semula
sekalipun terang akan membuatnya tidak tampak

mereka sama
seperti kamu :)

Sabtu, 18 Agustus 2012

kunjungan ke dua

0

Pagi ini aku sengaja mengundang kepedihan
Ternyata masih terasa nyerinya
Tapi aku berjanji aku tak akan meneteskan air mata lagi untukmu

Dan ternyata di samping pusaramu ini
Air mataku tetap saja menetes
Tapi tenang saja, aku segera buru-buru mengusapnya
Aku sama sekali tak ingin airmataku ini jatuh ke tanah
Menyesap di rongga-rongganya
Kemudian sampai kepadamu
Memberi tahukan bahwa masih saja kepediahn ini aku rasakan

Hari ini aku mengantarkan mama
Yang belum sempat mengunjungimu pertama kali dulu

Ramadhan sudah akan berakhir
Kuharap kamu juga sudah tenang di sisiNYA









~~ 17 agustus 2012

Sabtu, 04 Agustus 2012

nikmati saja waktu ini :)

4

Nikmatilah hari ini, kataku sambil memandangi langit senja. Warnanya kemerahan, matahari berpendar dengan gelap. Sementara kamu di sampingku sedang sama khidmatnya menikmati senja. Nikmati saja, karena mungkin saja senja esok atau esoknya lagi sudah bukan aku yang menemanimu. Berada di sampingmu sambil sekedar bercerita tentang kelelahan hari ini, kemudian menyeruput teh hangat buatanku yang hampir selalu kemanisan. Kamu selalu protes, aku selalu tertawa dan meminta maaf, tapi kamu juga selalu menghabiskannya. Senja selalu saja indah, seindah caranya mempertemukan kita di taman kota waktu itu, dua tahun yang lalu. Aku sedang menunggu orang lain saat itu, tapi ternyata kamu yang datang, dengan percaya diri menepuk pundakku dari belakang. Kamu salah orang ternyata, tapi kita malah bicara banyak hal setelahnya. Sampai sekarang pun aku masih saja suka menertawakanmu karena kejadian itu, dan aku tetap saja suka wajahmu yang bersemu merah jika peristiwa itu kita bicarakan.


Nikmati saja hari ini, batinku sambil tersenyum ketika pesanan kita sama-sama datang. Hari ini aku dan kamu sedang meluangkan waktu sejenak, untuk bertemu berdua, mengisi perut di siang bolong. Semangkuk mie ayam dan sepiring nasi padang sudah di hadapan. Menu favorit kita. Nikmati saja saat-saat seperti ini. Karena mungkin suatu saat nanti, kamu akan datang lagi ke tempat ini, dengan orang yang berbeda. Mungkin bukan aku lagi yang berada di hadapanmu. Mungkin bukan denganku lagi kamu menghabiskan sepiring nasi padang kesukaanmu. Yah, mungkin juga nanti kamu tidak akan memesankan mie ayam ke pelayan, karena kamu harus menghapal menu favorit yang lain, bukan lagi menu favoritku.


Nikmati saja waktu ini, gumamku nyaris tanpa suara. Ini sudah malam dan kita belum juga pulang dari kampus. Sejenak mencoba bersantai dari kesibukan mempersiapkan event esok hari. Kamu masih dengan gitar kesayanganmu. Sedangkan aku terus saja merajuk supaya kamu menyanyikan salah satu lagu Sheila on 7 yang sama-sama kita suka. Buat Aku Tersenyum. Dan kita malah bernyanyi bersama, lalu merekamnya. Suaramu memang bagus, beda dengan suaraku yang acak adut. Rekaman ini akan menjadi saksi kalau kita pernah menikmati waktu bersama-sama, menyanyikan lagu yang kita suka. Nikmati saja, karena mungkin nanti akan ada suara indah yang mendampingi suara dan petikan gitarmu. Mungkin juga nanti buat aku tersenyum hanya sebuah lagu lama, tanpa keistimewaan apapun di hatimu.


Bangku taman ini dingin, tapi aku merasa hangat setiap kamu duduk di sampingku. Tidak ada yang kita lakukan selain menceritakan hal-hal yang sudah lewat sekitar satu minggu lebih. Aku sedang menunggu dijemput, dan kamu menyempatkan untuk sekedar menemani aku. Tidak lama, satu jam mungkin. Sedangkan rindu ini masih belum menuntaskan lembaran-lembarannya untuk diceritakan. Nikmati saja rindu ini. Karena mungkin beberapa waktu ke depan, bukan aku lagi yang kamu rindukan. Mungkin juga bukan aku yang kamu cari saat waktu demikian tak bersahabat dan tak memungkinkan untuk bertemu. Mungkin bukan aku yang bisa meredamkan letupan-letupan rindu di dalam hatimu.


Adzan telah berkumandang dan aku segera berwudhu. Lalu kamu ikut, dan segera menempatkan sajadahmu di depanku. Kita sholat berjama'ah. Lantunan ayat suci darimu, seringkali aku rindukan ketika mukena sedang kukenakan tanpa ada kamu di dekatku. Jadi saat ini aku ingin menikmatinya saja. Saat-saat menjadi makmum yang mengikuti gerakan sholatmu sebagai imam. Kadang aku berharap punya kesempatan untuk mencium punggung tanganmu seusai sholat. Itu yang rutin kusebut dalam doa, berharap aku punya kesempatan untuk menjadi makmummu, selamanya.


Nikmati saja, ya, nikmati saja. Karena yang terjadi, yang kita rasakan hari ini belum tentu terulang untuk esok hari. Bahwa segala sesuatunya adalah titipan, maka aku begitu menghargai setiap waktu yang kita lewatkan bersama-sama. Nikmati saja hari ini, karena mungkin keindahan perasaan ini tidak akan terjadi dua kali. Mungkin aku juga tidak lagi menjadi seseorang yang kamu rindukan. Mungkin aku tidak lagi akan tersenyum mendapati sms manismu sebelum tidur. Mungkin kamu tidak lagi suka memutar rekaman kita. Dan mungkin juga jika ternyata kita tidak berjodoh..


Tenang saja, aku ingin ketika saat-saat itu datang, aku dan kamu masih tetap bisa tersenyum. Tersenyum ketika tidak sengaja saling mengingat. Tersenyum untuk sepotong waktu indah yang pernah kita lalui. Tersenyum, karena sama-sama merasa bersyukur telah menjalani segala sesatunya dengan sangat indah.. :)

Sabtu, 21 Juli 2012

good bye for(ever).. :')

0

Jam 1 malam aku tersentak bangun dari tidur, entah karena pa. Lalu setelahnya aku mencoba tidur lagi. Jam 3 tepat aku terbangun karena alarm. Aku menunggu sampai setengah jam, lalu sholat malam, dan sahur. Setelah sahur, kurasakan perut ini melilit sekali. Akhirnya aku diare, minum obat dan kupaksakan puasa. Biasanya, setelah sholat Subuh, aku akan terlelap tidur, tapi tidak seperti biasanya, aku tetap terjaga sampai pagi. Lalu di luar dugaan, handphone-ku berdering.. Lalu.........



Aku masih ingat, kamu salah satu temen yang paling doyan main ke rumahku.. Biasanya sama Surya, Wenda, Ririn, Uci, Yara, dan anak-anak cewek yang lain.. Selalu Surya kamu ajak, biar kamu nggak jadi cowok sendiri..

Aku masih ingat juga, waktu kita dipacok-pacokin dulu, seisi sekolah sampe tahu.. Bahkan orang tua kita juga.. Hahahahaha

Aku masih ingat gimana aku selalu nggak suka kamu buntutin kalo pergi ke mana-mana.. Gimana judesnya aku kalo nyuruh kamu pergi biar nggak ngikutin aku terus...

Aku masih ingat, kamu baik sekali, nganterin aku sore-sore naik sepeda, cuma buat ngasih tau toko tanaman yang bisa aku tuju pas sekolah minta murind-muridnya bawa tanaman. Padahal siangnya kamu udah beli, tapi sorenya kamu tetep mau nemenin aku sama anak-anak..

Aku masih ingat, aku nggak mau kamu boncengin motor.. Waktu itu kita kelas 6 SD, dan kayaknya kamu baru bisa naik motor.. Setelah capek maksa dan nggak berhasil, bukannya pulang, kamu malah ngikutin aku jalan kaki sampe ke rumah.. Kamu, nuntun motormu cuma buat jalan kaki sama aku....

Aku masih ingat, waktu kamu dulu khitan dan semua temen sekelas dateng ke rumahmu.. Setelah makan-makan, mamamu minta bantu aku beres-beres, seketika itu juga anak-anak pada rame nggojlokin aku...

Aku masih ingat, pernah malam-malam kamu ke rumahku, naik sepeda, hujan pula, cuma buat nganterin tongkat pramuka punyaku. Padahal aku cuma nitip, nggak minta dianterin saat itu juga.. Sampe-sampe masmu ngejemput dan nyuruh kamu pulang...




Banyak cerita di masa kecil kita, masa-masa indah di SDN Tenggilis Mejoyo II/ 585. Waktu rumahku masih di tenggilis. Waktu aku pindah di rumgkut, kamu juga sempet ke rumah sama anak-anak.. Ah iya, kita juga sempat reunian pas udah kuliah..

14 Januari, ada telpon dari nomer nggak ak kenal, dan seperti biasa nggak aku angkat. Ternyata kamu sms, ngabarin kalo kamu ganti nomer. Sudah, itu aja. Dan kita nggak pernah kontak-kontakan sama sekali...

12 Juni, malam-malam kamu ngechat aku lewat facebook, tanya gimana kabarku, kuliahku, keluargaku.. Setelah beberapa percakapan singkat, aku pamit offline, waktu itu aku lagi capek banget...
Dan ternyata itu yang terakhir..


Ya Allah, aku mohonkan dia tempat terindah di sisiMU.. Dia anak baik. Dia sayang papa mamanya, masnya, adik-adiknya, eyangnya. Dia baik sama temen-temennya.. 


Selamat jalan teman baikku semenjak kita sama-sama kecil, Ricky Fajariyanto, di bulan suci Ramadhan ini, semoga Allah Memberikan ketenangan dan tempat terindah buatmu dan dek Rico.. Semoga papa, mama, mas Aldo, dek Ario, eyang, dan semua keluarga bisa tabah dan ikhlas dengan kepergian kalian..


Innalillahi Wa Innailaihi Roji'uun..
15 Juni 1991-21 Juli 2012


tahun ini tak akan ada sms selamat Idul Fitri darimu lagi, kamu tak pernah absen selama ini, memohon maaf dan menitipkan salam untuk mama dan nenekku. Tapi kini sudah habis masamu, akupun masih berusaha ikhlas (kata mas Agus, kalo akunya sedih, kamu nggak bisa tenang).. Kamu salah satu teman terbaik yang aku punya. Maafin semua salah-salahku yaa, semua sikap dan perkataan yang mungkin pernah bikin kamu marah atau jengkel.. Insya Allah, Allah memberimu tempat terindah di sisiNYA :')

Kamis, 12 Juli 2012

nanti dan ketika :)

2

nanti ketika aku sangat sedih
dan air mata bahkan tak bisa jadi penyembuh perih
aku ingin kamu di sampingku saja
tanpa banyak bertanya dulu
temani aku, walau sunyi pun tak apa

nanti ketika aku sangat marah
sampai tak satu pun kata yang bisa keluar dari mulutku
tolong pahami aku
jika kamu tak cukup kuat menghadapi diamku,
biarkan aku menenangkan diriku sendiri dulu
akupun tak mau melukaimu

nanti ketika aku sangat lelah dan putus asa
hingga melangkah saja seperti sangat berat bagiku
aku ingin kamu tersenyum saja untukku
di situ ada harapan, jika kamu belum tahu
harapan dengan energi indah yang bisa menjalari hatiku

nanti jika aku teramat sangat rindu
aku ingin kamu memaklumiku
untuk setiap pesan yang mungkin mengganggu
untuk setiap kemanjaan yang mungkin mengesalkanmu
ketahuilah, aku sedang berharap kamupun merindukan aku


nanti dan ketika
keinginan
banyak nanti dan ketika yang ingin aku lewatkan denganmu
berharap Tuhan akan menyelipkan kata "selamanya" setelah kata "kita"
:)

Kamis, 28 Juni 2012

Ketika Ketulusan Menulis Diuji :)

2

Semakin banyak media menulis saat ini membuatku pusing. Hingga kadang ketulusan dalam menulis pun rasanya seperti mendapat ujian tersendiri. Bagaimana tidak, ada kalanya aku sengaja mencari topik bahasan. Supaya menarik, supaya banyak yang membaca, supaya dapet komen banyak, supaya jadi highlight, supaya jadi headline, dan banyak supaya supaya lainnya. Aku akui itu melelahkan. Kesenangan menulis bisa terhapus begitu saja ketika tulisan yang sengaja diatur sedemikian rupa malah sepi pembaca.

Untung saja itu belum sering kualami. Jadi aku berusaha mengembalikan semua ke jalur awalnya. Di media itu, orientasiku menulis jadi sedikit berubah. Gaya dan tujuan menulispun menjadi lebih bervariasi. Ini bagus untuk pengembangan diri. Tapi aku tidak mau kesenanganku hilang.

Menulis itu kesenangan, bukan kewajiban ataupun tuntutan. Itu yang selama ini selalu aku pegang kuat. Sehingga perasaan lega dan senang setelah menempatkan tanda "titik" di akhir tulisan itu tetap bisa dipertahankan. 

Karena bagiku, sebenarnya, menulis itu bukan tentang orang lain. Tapi lebih pada diriku sendiri. Bahwa pembaca, follower, komentar, dan semua efek dari tulisan yang aku buat hanyalah bonus. Bonus yang hanya akan membuatku semakin senang, dan tidak mempengaruhi kesenanganku setelah berhasil membuahkan satu tulisan.

Semangat menulis, supaya jarak otak sama tangan semakin dekat, supaya apa yang tertuang di kepala bisa lancar dituliskan jari-jari tangan :)
(itu kata Raditya Dika :p)

Kamis, 21 Juni 2012

jangan marahi aku, ya.. :)

2

Hujan yang rintik perlahan menderas. Aku masih berada di sisi jendela, sambil memegangi ponsel, berharap dia bergetar. Pesan dari siapa lagi jika bukan pesan darimu yang kutunggu. Seharian tanpa pesanmu, ternyata begini rasanya. Khawatir, penasaran akan apa yang merenggutmu dari detikan saja waktu menekan keypad untuk mengabariku. Laptopku masih menyala, cerpenku masih seperempat jalan, pikiranku terisi olehmu, penuh.

Jangan marahi aku ya, kalau kamu tahu aku seperti ini. Menghabiskan beberapa waktu hanya untuk menunggu pesanmu. Tenang saja, semua masih pada kadarnya yang tepat.

Jangan marahi aku yaa, kalau aku kadang tak tahu waktu ketika mengirimkan pesan berisi rindu. Sungguh aku tak ada niat sedikitpun untuk mengganggu harimu. Aku hanya rindu. Ya, sesederhana itu. Hanya saja, aku selalu ingin mengatakannya padamu. Sambil diam-diam berharap kamu juga merindukan aku di sana.

Jangan marahi aku yaa, kalau kadang aku cemburu. Aku hanya akan menikmatinya sendirian saja. Atau mungkin sesekali bertengkar dengan diriku sendiri, menertawakan kekanak-kanakanku. Percayalah, sejauh ini aku bisa mengatasinya sendirian. Dan kamu harus tahu, aku cemburu bukan karena aku tak percaya, tapi cemburu itu wajar, karena kamu berarti banyak buatku.

Jangan marahi aku yaa, kalau kadang aku khawatir akanmu. Efeknya, mungkin aku akan lebih cerewet dari biasanya. Tapi, yakin deh, itu bukan maksudku untuk mengganggumu, aku hanya ingin kamu lebih memperhatikan dirimu.

Jangan marahi aku yaa, kalau kamu membaca tulisanku tentangmu. Karena ini caraku. Bukankah berbicara itu tak harus dengan suara? Itu yang pernah kamu katakan. Maka aku menulis ini, dan banyak lagi tulisan yang aku buat tentangmu.

dan berharap kamu bisa untuk sekedar tersenyum saat membacanya.. :)

Sabtu, 26 Mei 2012

menikmati mencintaimu :)

8

Malam meninggi sementara aku masih saja berkutat dengan laptop, buku, jurnal, dan segala hal yang memaksaku menunda hak kedua mata untuk terpejam. Untung saja sepiring nasi goreng sudah kulumat habis sebelum kesibukan kembali menyita waktuku malam ini. Tak sedikitpun perhatianku berpaling dari laptop, sampai akhirnya ponselku berbunyi, ada sms.


“jangan kecapekan, istirahat sebentar..”


 Ah, kamu selalu tahu aku suka memaksa diriku sendiri. Memforsir fisik dan pikiran terlalu keras, menuntut perfeksi dari apapun yang kukerjakan. Aku sedikit tersenyum membaca pesanmu. Lalu akupun menurut, kuletakkan laptopku. Berpindah duduk di sofa sepertinya menyenangkan. Jadi aku beralih ke sofa empuk di sebelah tempat tidurku. Akhirnya aku tergoda untuk rebahan. Sambil mengingat-ingat kapan tepatnya kamu menjadi sosok yang benar-benar hapal dan paham tentang diriku.


Mungkin satu tahun yang lalu. Sejak kesamaan hobi kita mulai dikenal dan diperhatikan oleh mereka. Lucu
ketika menyadari bahwa kita sama-sama suka menyanyi dan menulis. Apa saja. Tanpa disadari kemudian kita menjadi dekat. Sampai sekarang.


Banyak yang tidak memahami kita, tapi siapa peduli? Yang penting kita paham dengan apa yang kita jalani. Kadang-kadang aku hanya bisa menjawab pertanyaan maupun pernyataan mereka dengan senyuman. Beberapa pertanyaan lucu kerapkali terlontar dari mereka. Mulai dari “Kok namanya di hapemu gitu, sih? Kenapa nggak diganti sayang atau ayang atau apa gitu?”. Lalu ada lagi yang menanyakan benarkah aku tidak pernah sekalipun jalan berdua denganmu, pergi ke bioskop, jalan-jalan ke mall, atau makan malam di malam minggu. Aku menggeleng saja, sambil tetap tersenyum.


Aku tak perlu mengganti namamu dengan sebutan apapun di ponselku. Karena aku tak butuh hal semacam itu untuk mengingat bahwa kamu adalah salah satu orang tercintaku. Aku ingin menjadi orang yang memilikimu dengan sama, dengan nama yang sama. Dan bahwa rangkaian huruf juga tidak berpengaruh besar dengan keadaan hati. Jadi kukira itu sama sekali tidak penting.


Aku juga tidak perlu memintamu mengantarku pulang atau menjemputku berangkat ke kampus. Aku memang tak bisa mengendarai motor, tapi aku telah sangat terbiasa naik angkot. Aku bisa ke mana-mana sendiri. Aku tidak mau merepotkan siapapun, terlebih itu kamu, yang memang belum punya ikatan tanggung jawab apapun denganku.


Aku tidak perlu memiliki waktu spesial untuk berdua saja denganmu. Karena semua waktuku itu istimewa, terlebih jika kulewatkan bersamamu. Aku tidak perlu jalan-jalan berdua bersamamu ke mana-mana hanya untuk menunjukkan kamu adalah milikku. Aku tidak perlu makan malam romantis denganmu hanya untuk mengetahui bahwa kamu mencintai aku.


Kamu mencintai aku dengan sederhana, akupun begitu. Kita tak punya banyak waktu yang dihabiskan berdua. Tapi tak masalah, dengan begitu kita terbiasa untuk mensyukuri dan menghargai sedikit waktu yang kita punya. Aku menikmati setiap waktu yang terlewat, setiap rindu yang tertahan di hati, setiap cinta yang meletup-letup kecil setiap hari. Aku menikmati setiap pembicaraan, setiap cerita, setiap hal kecil yang kamu bagikan. Aku menikmati mencintai dan dicintai olehmu. :)

Jumat, 27 April 2012

SEMPU part1 : Menanti Pagi

2

Hari Rabu tanggal 22 Februari, 11 orang mahasiswa ekonomi membulatkan tekad buat berlibur ke Sempu. Setelah beberapa hari melakukan persiapan mengenai apa-apa yang harus dibawa, kita pun nekad berangkat, walaupun dapat tugas segudang buat proyekdari Pak Aria. Jam 8, elf yang ngangkut kita pun berangkat. Awal perjalanan, biasalah, pada rame gojlok-gojlokan, ilok-ilokan. Tapi itu pun nggak bertahan lama. Sekitar satu jam berlalu, semua anak pun udah pada berpindah ke pulau mimpi. Entah mimpi apa, mimpi ke Sempu mungkin.

Pukul 11 siang sudah ada beberapa anak yang bangun, ternyata sudah nyampe Malang. Nah, dari sini, perjalanan yang kita pikir udah deket, ternyata salah banget. Masih ada sekitar 3 jam lagi yang harus ditempuh buat nyampe ke Sendang Biru. Yaudah, kita pun pasrah menerima perjalanan yang masih lama. Untunglah hawanya udah adem, jadi bisa agak terhibur. Sepanjang perjalanan, aku, Umsi, sama Sarah mandangin perutnya Boli yang udah kayak agar-agar kebanyakan air, genjur-genjur gitu. Hahahaha. Maaf ya Bol, habisnya bosen juga sih, 6 jam perjalanan. Mana ni rasanya tepos banget, jadi kita kan pengen cari hiburan gitu, yang bisa bikin ketawa, nah sasarannya akhirnya perutmu deh..:p

Sekitar jam setengah satuan, perjalanan mulai meliuk-liuk nggak jelas. Ini yang sempet bikin kita pusing. Apalagi Boli, udah ngempet muntah aja dia. Bener-bener nggak sumbut sama badannya, gede-gede tapi mabukan. Wakakak. Tapi emang jalannya bikin pusing kok. Mungkin sekitar setengah jam kemudian, kita akhirnya sampe di Sendang Biru. Semangat banget buat segera turun dari elf, soalnya capek duduk selama 6 jam. Dari Sendang Biru, keliatan pulau Sempu di seberangnya. Bener-bener masih hutan lebat. Aku sempet ngeri ngeliatnya.Tapi yaudalah, emang udah diniatin kesana. Masa mau mbalik lagi.

Setelah nurunin barang, kita gentian buat sholat.Sementara aku, Boli, ma Bunda pergi ke pos penjagaan  di 
sana, niatnya mau minta ijin gitu. Kebetulan, di sana juga ada peta pulau Sempu yang ditaruh pigura gitu, dan ternyata pulaunya luas banget, sementara Segara Anakan yang jadi tujuan kita tuh ada di ujung selatannya, masih jauh dari Sendang Biru. Aku langsung ngebayangin gimana perjalanan yang bakal kita tempuh nantinya. Bapak penjaganya nawarin pake pemandu, tapi kita bertiga tentu nggak bisa mutusin sendiri, mesti persetujuan anak-anak dulu. Kata bapaknya, medannya Sempu kalo musim  ujan gini tuh bahaya, apalagi dari kita belum  ada yang pernah kesana. Bunda udah pernah sih, tapi dua tahun yang lalu. Dalam hati aku mikir, mending  pake pemandu  aja, daripada terjadi yang aneh-aneh. Tapi  tetep, keputusan  ada di anak-anak semuanya.

Kelar sholat dhuhur, anak cewek nyempetin diri buat makan siang dulu. Sebelum menempuh perjalanan yang kita pada nggak tahu seberat apa, nggak ada salahnya untuk ngisi perut dulu. Setelah makan, kita langsung pesen perahu. Dan ternyata anak-anak memutuskan untuk nggak pake pemandu, biar kerasa mbolangnya, katanya sih gitu. Yaudah, aku sih ngikut aja. Akhirnya kita naik perahu buat nyeberang ke Pulau Sempu. Lautnya bagus banget. Sekitar beberapa menit kemudian,  pulau Sempu mulai keliatan. Hutan banget ! mbuli langsung berubah mukanya, trus bilang “takut, pulang aja yuk”, spontan aku juga ikutan ngangguk. Tapi nggak mungkin juga kita cuma mbalik berdua, hehehe. Akhirnya  kita tetep  memberanikan diri buat ngelanjutin perjalanan.

Setelah turun dari perahu, kita jalan ke pesisir. Sebelum masuk hutan, kita nyiapin barang bawaan, nyiapin mental, dan berdoa tentunya, biar semua lancar nggak ada kendala apapun. Pelan-pelan kita memasuki hutan. Baru di  pintu hutan, kitadibuat terkejut sama beratnya medan. Luar biasa rasanya disambut sama pemandangan pohon-pohon besar yang tumbang,  jalanan yang berlumpur banget karena musim hujan. Sejenak kitaterdiam. Bener-bener terdiam. Aku nggak tahu apa yang ada di pikiran anak-anak. Yang jelas aku kaget, dan langsung nggak tahu apakah aku sanggup ngadepin medan yang kayak gitu. Akhirnya semua memantapkan langkah. Belum terbiasa sama medan, beberapa orang mulai jatuh, beberapa hamper jatuh.  Entah gara-gara kepeleset, keberatan bawaan, ataupun badan yang nggakseimbang waktu berpijak di lumpur yang dingin dan licin. Seketika rasa jijik dibuang jauh-jauh. Mau nggak mau kita harus ngelewatin itu semua. Waktu kita ngerasa perjalanan udah lumayan jauh, ada bapak pemandu sama 3 orang bapak-bapak yang lewat mendahului kita dari belakang.  Bapak pemandu itu bilang, kalo mau cepet, tangan harus dihindarkan dari barang bawaan. Tapi gimana bisa, barang bawaan kita banyak banget. Ada tenda, kompor, dan banyak bahan makanan lainnya. Kita mutusin buat tetep bertahan. Dan yang paling bikin shock, itu bapak bilang gini,

“Masih 70 meter, masih ada 2,4 km lagi, kalo nggakcepet, bisa-bisa kalian malem nyampe sana.”

Aku langsung melotot. Apa ? 70 meter ?sekian lama perjalanan, keringat udah sebutir-butir jagung, tapi masih 70 meter ? buseeeeett..

Walaupun shock (lagi), kita memutuskan untuk tetep ngelanjutin perjalanan. Tanah yang licin banget karena basah bener-bener jadi penghalang buat kita semua. Sebenernya bisa lewat pinggir-pinggir yang nggak ada lumpurnya, tapi curamnya itu nggak nguati, licin juga. Jadi kita nggak berani ambil risiko, daripada kepeleset, jatuh, trus keseleo kan malah berabe. Kita pun ambil jalan yang di tengah, nyemplungin kaki di lumpur yang makin bikin berat kaki buat jalan. Beberapa menit awal, aku, itsna, sarah masih bertahan pake sepatu ma sendal. Suatu ketika, sandalnya mbuly mendelep di lumpur. Diapun ngubek-ngubek lumpur pake kakinya, tapi tuh sandal nggak ketemu-ketemu. Yoga pun berinisiatif membantu. Dia ikut main celup-celup berhadiah. 

Kenapa berhadiah ? karena ternyata banyak sandal yang juga mendelep di situ. Setelah beberapa kali ubek-ubek tapi nggak dapet sandalnya Sarah, dia pun pasrah dan memutuskan buat nyeker saja. Jadilah yang masih bertahan pake alas kaki cuma aku, itsna, sama bunda. Satu jam berlalu, sepertinya barang bawaan memang turut jadi penghambat. Satu per satu barang bawaan ditinggalin di sepanjang jalan yang kita lewatin. Awalnya beberapa lembar banner, ditinggal di deket pohon. Kemudian kresek yang isinya amunisi alias perbekalan juga dibuang. Nggak ketinggalan juga, ikan yang udah kita beli sebanyak 7 kg akhirnya juga ikutan dibuang, diikuti beberapa botol air mineral 1,5 literan. Barang-barang yang sekiranya masi lengket di tangan langsung diiket-iket di tas. Sedikit membantu memang, tangan jadi lebih leluasa buat nyari pegangan. Di rute “pembuangan” itu juga si Wiwid kena insiden kesiram minyak tanah punggungnya. Kasian, panas banget katanya. Kamu sabaro ya, wid..

Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, dan belum ada tanda-tanda segara anakan. Sementara badan udah mulai payah. Semakin sering berhenti istirahat, terutama aku yang mulai cepet capek. Perjalanan malah semakin berat, menanjak. Riza sama bolet yang nyari jalan di barisan depan, sesekali ngeliat kompas dan nyari jalan mana yang sekiranya bener dan bisa dilalui. Hari mulai gelap dan kita belum nyampe. Aku mulai takut. Nggak lucu banget kalo kesasar malem-malem di tengah hutan kayak gitu. Perjalanan dihentikan sejenak, kita ngumpulin senter. Senter dibagi-bagi buat bagian depan, tengah, dan bagian belakang. Nggak semua senter dipake, hemat beb. Mungkin sekitar jam 6an, aku udah mulai frustasi. Pengen pulang aja. Mulai inget mama yang agak keberatan aku berangkat, nenek yang nggak biasanya ngebantuin aku packing, sampai kelabang yang ngerambatin kakiku pas aku di kamar mandi rumah, paginya, sebelum berangkat. Entah apakah itu pertanda atau apa, aku juga nggak tahu. Lalu aku mulai nangis. Maaf yaaa, teman-teman, pasti aku nyebelin banget waktu itu. Entahlah, perasaanku campur aduk. Antara pengen pulang sama sedih karena mesti bikin kalian repot. Aku emang jarang banget nangis, tapi sekalinya nangis ya gitu, susah berhenti. 

Setelah ngelewatin jalan batu yang sempit, udah mulai nggak ada sinyal. Nggak beberapa jauh dari situ, karena udah gelap buanget, anak-anak mutusin buat istirahat semua, duduk selonjoran di tempat yang lumayan nggak berlumpur, walaupun tetep aja becek. Entah apa yang ada di pikiran kita masing-masing waktu itu. Ngeliat kalian yang capek jadi bikin aku pengen nangis lagi deh. Hahaha. Aku juga masih inget waktu Bolet nenangin aku yang lagi nangis, waktu itu sih kerasa so switnya, tapi pas diinget-inget lagi di surabaya, nggak banget deh Bol.. :p

Mungkin sekitar 15 menit kita selonjoran bareng. Tapi akhirnya bunda, bolet, riza jalan buat nyari tempat yang agak layak buat nginep malem itu. Jam di tanganku udah nunjukin dua jarum yang mengarah ke angka 12 dan angka 8. Nggak ada pilihan lain, memang harus nginep di hutan malam itu. Sambil anak2 terus nyuruh aku usaha buat ngehubungin pak perahu, ngabarin kalo kita kemaleman di tengah hutan. Kitapun mikir kalo besok minta dijmput langsung di segara anakan aja, kalo bisa. Aku terus nyoba ngehubungin, tapi sinyal yang byar-pet-byar-pet bener-bener jadi penghambat. Ada sekitar 15 menit anak-anak yang nyari jalan balik lagi ke tempat istirahat sementara kita. Mereka nemu tempat yang lebih layak, di bawah pohon besar. Deg. Kan biasanya di pohon besar banyak begituannya. Tapi ya sudahlah, darurat, lagian di hutan kayak gitu, kayaknya nggak cuma pohon besar yang ada penunggunya, di mana-mana juga ada.

Akhirnya kita ngelanjutin perjalanan. Ngelewatin lumpur-lumpur lagi. Celanaku kemasukan binatang lagi. Haduuduuh, jadilah aku sempet ngerengek lagi waktu itu. Jalanku melambat juga. Sekitar jam 9 tepat, kita nyampe di pohon besar. Semua langsung ambil posisi masing-masing buat tidur. Baru naruh pantat, sebar-sebar garam, terus cari posisi yang lumayan pewe buat tidur, aku ngeliat laba-laba di deket tanganku. Hwaduuduuhh.. parno banget aku..

Setelah duduk beberapa saat, anak-anak nyari kayu, ranting kering, dan apapun lah yang bisa buat bikin api unggun. Sementara bunda masak mie buat maem kita-kita. Jadilah malem itu kita maem mie, dibagi-bagi. So sweet pokoknya, satu mie buat beberapa orang. Paling kasian sama anak-anak cowok, mereka belum pada maem siang. Kelar maem, kita ambil posisi buat tidur. Baru lima menit eh udah kedengeran aja suara dengkuran. Cepet bangeet, kitapun langsung nyari sumber suara. Setelah diusut baik-baik, ternyata si Hendra udah terlelap dengan mantapnya. Hahaha, terbuaik Hendra.


Malem-malem di situ, ngeri banget sebenernya. Aku liat ke langit yang ketutup rimbunnya pepohonan (plis jangan langsung mikir ke rambutku). Nggak keliatan apa-apa. Cuma ada sedikit celah yang bikin aku bisa liat bintang-bintang. Kilat mulai menyambar-nyambar. Hatiku dipenuhi was-was lagi, gimana kalo hujan. Kita semua bakal basah kuyup, belum lagi medan yang bakal tambah berat kalo jadi hujan. Dalam hati aku berdoa semoga Allah melindungi kita semua. Sudah cukup nginep di tengah hutan, jangan ada yang aneh-aneh lagi. Setelah beberapa kali ganti formasi tidur, Sarah akhirnya tidur di sebelah kananku. Aku nyoba meremin mata, tapi nggak bisa. Aku parno takut tiba-tiba wajahku kejatuhan apaa gitu. Akhirnya aku ambil handuk di dalem tas, jadilah itu handuk tak buat nutupin mukaku. Mungkin itu pose tidurku yang paling aneh, soalnya aku sama sarah gandengan selama tidur. Hehehe,, romantisnya kita mbuuuul :3

Mau gimana-gimana juga tetep aja aku nggak bisa tidur nyenyak. Kaki rasanya cenut-cenut semua, kemeng. Belum lagi suara kresek-kresek kayak ada orang jalan di sebelahnya sarah, sukses bikin aku nggak tidur 
nyenyak. Suara-suara monyet juga bikin takut. Sementara malam meninggi, kilat jadi makin sering keliatan. 
Suara ombak juga kedengeran, pertanda sebenernya kita udah mulai deket sama segara anakan. Yah, kuakui itu sedikit menghibur. Entah berapa kali aku kebangun-tidur lagi. Berkali-kali ngerasa merinding, entah kenapa. Hawa juga semakin dingin. Emang nggak sedingin coban, tapi tetep lumayan bikin kedinginan, padahal aku udah pake jaket. Dalem hati aku berdoa semoga malam ini cepet berganti pagi. Malam itu, aku ngerasa di antara hidup dan mati. Kepasrahan penuh sama Yang Kuasa. Kita pada nggak tahu, masih bisa ngelihat pagi atau nggak. Beberapa kali pohon-pohon di sana ngeluarin suara kresek-kresek semacam lagi dinaikin sama monyet. Untuk yang ke sekian kalinya aku bangun dan ngelihat arloji. Agak damai rasanya ngelihat waktu udah nunjukin jam 4 pagi. Tapi aku belum beranjak dari posisi semula. Walau jam 4 pagi, suasana masih kayak tengah malem, masih mencekam. Tiba-tiba, ada suara monyet lagi bertengkar (lagi). Kali ini deket banget suaranya. Nggak ada satupun dari kita yang bergerak. Gandenganku sama sarah makin rapet, serapat frekuensi doaku, supaya tuh monyet-monyet cepet pergi. 

Syukurlah setelah beberapa menit berlalu, nggak kedengeran lagi suara monyet di deket tempat kita tidur. Alhamdulillah, pagi datang. Rasanya pengen sujud syukur aja, masih bisa ngelihat pagi.

Sabtu, 21 April 2012

CINTA PLATONIS, apaan tuh?

9

Berawal dari salah satu posting saya yang berjudul “aku bahagia denganmu”, saya mengenal istilah ini, cinta platonis. Jadi ceritanya, postingan saya itu dikomen sama salah seorang teman, dia bilang kalo kisah dalam postingan itu sejenis cinta platonis. Nah, jujur aja, saya nggak familiar dengan istilah itu, yang familiar cuma dari segi “Plato”-nya,yaitu nama seorang filsuf jaman dulu, temennya Socrates dkk. Akhirnya, karena ketidaktahuan saya mengenai cinta Platonis, saya putuskan buat browsing-browsing, dan akhirnya ketemulah.

Cinta Platonis, menurut Plato, pada umumnya, penggunaan paling benar dari cinta manusia adalah untuk mengarahkan pikiran seseorang untuk mencintai ketuhanan. Singkatnya, dengan cinta platonis asli, orang lainyang terlihat cantik atau indah akan mengilhami pikiran dan jiwa dan mengarahkan perhatian seseorang untuk hal-hal yang bersifat rohani.” (Sumber : Wikipedia)
 
Jadi dengan kata lain, cinta Platonis itu adalah cinta yang bisa membuat kita semakin mendekatkan diri sama Yang Kuasa. Begitu mulianya ya, cinta yang seperti ini. Beda jauh dengan cinta yang orientasinya seksual atau nafsu belaka. Cinta yang demikian itu mengerikan.
 
Nah, pertanyaannya, jaman sekarang ini, masih ada nggak sih, yang namanya cinta Platonis? Seperti yang kita tahujaman udah semakin nggak bener. Pornografi di mana-mana, gaya pacaran juga semakin mengkhawatirkan, dan yang pasti, banyak pula cinta yang mulai bergeser dari maknanya. Banyak cinta yang menjadi korban salah penafsiran. Hal ini yang pastinya membuat kita ragu-ragu akan keberadaan cinta Platonis itu sendiri. Mungkin sekarang sudah nggak banyak sih, tapi bukan berarti nggak ada. Saya yakin, di luar sana masih ada manusia-manusia yang punya cinta semacam ini.
 
Manusia-manusia yang dekat dengan Tuhannya..
 
Manusia-manusia yang mendekatkan diri sama Tuhan, pasti tahu bagaimana cara menempatkan cintanya. Mereka tahu bagaimana harus mengendalikan perasaan cintanya. Mereka juga tahu bagaimana caranya mencintai dengan benar, mencintai dengan cara yang direstui oleh Tuhan.
 
Cinta yang didasari kedekatan dengan Tuhan itu memberikan rasa damai yang lebih besar lho. Nggak bisa dipungkiri kan, kalo cinta itu datangnya dari Tuhan juga, jadi mendekatlah sama Yang Menciptakan cinta, mendekatlah sama Yang Memiliki hati-hati manusia.
 

Ingatlah, bagian terbaik dari mencintai dan dicintai seseorang adalah ketika cinta itu membuat kita semakin mencintai Tuhan :)

Rabu, 18 April 2012

Nyanyi dalam Diam

0

Secangkir teh sore ini, menemani hangatnya senja di hadapan kita. Matahari mulai turun, tapi entah degupan jantung kita. Rasanya sudah sejak lama aku lupa rasanya duduk berdua seperti ini. Aku bahkan tidak bisa menahan diriku untuk tidak tersenyum. Ini bukan di tepi pantai yang sunsetnya indah, dengan angin sepoi dan beberapa batang lilin yang meromantiskan suasana. Ini hanya teras rumahku. Dan di sebelah tanganmu hanya gitar butut yang demikian kau sayangi, gitar pertama warisan dari ayahmu. Gitar butut, bukan piano yang elegan. Tapi aku merasa segalanya amat sangat berharga.


Sedari tadi kita terdiam, kau tahu kan? Kau sadar kan? Sesekali menyeruput teh hangat buatanku yang entah bagaimana rasanya, aku sendiri tak berani menyeruputnya. Aku terlalu terkejut melihatmu, dengan satu simpul senyum menggelendot di kusen pintu. Benar, ini sudah hampir limabelas menit dan tidak sepatah katapun keluar dari mulutmu, mulutku juga. Kita terpana dalam diam. Tapi, ah, aku ingat, bukankah dulu seringkali kita berbicara dengan cara seperti ini? Iya. Aku ingat sekarang. Aku memperhatikan semua gerak-gerikmu, dan akhirnya aku paham. Segala ungkapan yang memang lama sudah tidak bisa kubaca darimu.

Kamu tidak perlu mengatakan kamu rindu. Aku sudah melihatnya dengan jelas dari caramu menatapku. Ada yang berbeda, sungguh. Sekalipun aku tidak bisa menjelaskannya padamu, di mana letak perbedaan itu. Pokoknya aku tahu saja. Berkali-kali kamu menengok arlojimu. Tenanglah, aku tahu kamu rindu, kuamini doa di hatimu, biar waktu ini tidak begitu cepat berlalu.

Kamu juga tidak perlu mengatakan kamu cinta. Aku sudah tahu, lewat simpulan senyum setiap kita bertemu. Lebih tepatnya, senyum yang tidak pernah aku tahu alasannya. Otomatisasi yang membuatku menyadari ada kutub magnetku yang menyentuh kutubmu. Jadi selalu begitu, ketika kedua mata ini bertemu, sepertinya ada yang kita bicarakan, kemudian bibir ini seperti saling sepakat untuk tersenyum. Bisa menjelaskannya secara ilmiah? Aku tidak bisa, mungkin kamu juga. Tapi cinta bisa.

"Aku pulang dulu..", akhirnya kamu bersuara. Kalimat pertama yang kamu ucapkan sepanjang sore ini. Aku cuma memandangmu, seakan ingin berkata bahwa ini masih terlalu singkat. Lalu seketika itu juga, kamu tidak jadi melangkah, kembali ke dudukanmu semula.

"Gimana kalo kita nyanyi dulu aja?", tiba-tiba kamu berkata demikian dan mengacak rambutku. Aku tertawa kegirangan, tapi tetap dalam sunyi, hanya mulutku yang bergerak.


Rasakan resahku, dan buat aku tersenyum...


Petikan gitar dan suaramu serasi sekali. Aku hanya melengkapinya dengan senyum. Kamu memang bisa merasakan resahku, kamu juga membuatku tersenyum. Tapi sayang, mungkin aku tidak akan pernah bisa menyandingkan suaraku dalam lagu itu, dan dalam lagu lainnya juga. Tidak bisa. Tapi mencintaimu aku bisa.