Sabtu, 11 Juni 2016

Trip to Belitung: Part 1

0

15 April 2016, keinginan yang sudah lama terpendam itu akhirnya berkesempatan jadi nyata juga. Sejak nonton film Laskar Pelangi bertahun-tahun yang lalu, nggak butuh waktu lama untukku menjadikan Belitung sebagai salah satu destinasi impian yang akan aku kunjungi suatu saat nanti, entah kapan. Yaiyalah, waktu itu aku masih SMA, mana kepikiran untuk pergi ke Belitung, nggak ada duit. Barulah dua bulan yang lalu, akhirnya Allah mengabulkan keinginan untuk menjelajahi Belitung.

Rasa senang, excited, penasaran, nggak sabar, ah campur-campur deh semuanya! Rasanya mirip-mirip sama pas aku akhirnya berhasil mengunjungi Bosscha di Bandung, setelah sebelumnya kepengeeeen banget ke sana gara-gara habis nonton film Petualangan Sherina :D

Back to Belitung, berawal dari ajakan temen baik bernama Lalak yang penempatan kerjanya di Lubuklinggau (harus banget disebutin kotanya ya, :p), berangkatlah kami, 8 orang dari kota yang berbeda-beda, dari latar belakang yang berbeda-beda. Yang menyatukan kami cuma satu, keinginan untuk liburan!

Trip kali ini bisa dibilang juga sebagai trip reuni. Why? Karena, dari 8 orang personil liburan, 6 diantaranya sudah saling mengenal sejak kuliah. Aku sama Lalak temen seangkatan, deket karena sama-sama di HIMA. Empat orang lelaki, mas Fian, mas Topenk, mas Anjar, dan mas Dwitya, kesemuanya adalah kakak angkatan semasa kuliah, anak HIMA juga. Hanya dua orang nih yang benar-benar baru, Dian dan Dita.

Tanggal 15 April, pagi hari, aku dengan sumringah berangkat ke Bandara Soetta. Setelah saling kabar-kabaran, katanya sih mas Anjar sama mas Fian sudah ada di bandara (mereka nginep!), sementara Lalak, mas Topenk, dan mas Dwity masih di perjalanan menuju ke bandara.

Sesampainya di bandara, aku langsung cek in lah, langsung ke ruang tunggu, trus capcus ke mushola untuk sholat subuh. Setelah sholat, langsung ketemu mas Dwity, Lalak, dan mas Topenk, kami lalu menuju ruang tunggu depan gate pemberangkatan, eh sudah ada mas Fian dan mas Anjar. Nostalgia lah kami, salam-salaman, mengingat betapa lamanya nggak jumpa. Sejak mereka lulus kali ya, jadi yaa adalah sekitar 3 tahunan nggak ketemu.

Kami duduk terpisah-pisah di pesawat. Daaan, pesawat fuuuull sama karyawan/ti dari salah satu perusahaan besar yang mau outting. Kerennyaaaa, outting ke Belitung dong! *iri, hahaha

Penerbangan dari Jakarta menuju Belitung sangatlah singkat. Aku yang biasa pelor banget di perjalanan, bahkan nggak sempat tidur. Gara-garanya, baruuu aja mau siap-siap tidur, eeeh pesawat udah mau landing. Huft.

Sekitar jam setengah 8 pagi, kami sampai di Bandara Tanjung Pandan, Belitung. Here we go, lets start the holidaaay!

foto dulu setelah turun dari pesawat :D

Di dalam bandara, akhirnya ketemu dengan dua personil lain, Dita dan Dian. Entah apakah lingkaran pertemanan yang semakin luas, atau apakah karena dunia memang ternyata sesempit daun kelor, ternyata Dita kerja di tempat yang sama dengan Lukman, another PHKI member, hehe. Lingkaran pertemanan yang beririsan di sana sini, dan fakta bahwa kami berdelapan semua adalah orang Jawa, Jawa Timur, Jawa Tengah, bener-bener punya andil untuk bikin kami berdelapan cepat akrab satu sama lain, kayak udah temenan lama gitu :D

Liburan kali ini, aku menyebutnya dengan liburan cantik, karena kami ikutan paket wisata visitbelitong, yang mana adalah, kalau ikut paket wisata, otomatis nggak perlu bingung transportasi, penginapan, makan, sewa kapal, dan segala tetek bengek liburan lainnya. All we gonna do is just enjoying this holiday. Semua sudah ditanggung sama agen wisata, kami tinggal duduk manis menikmati.

elf ini yang selama tiga hari akan mengantar kami kemana-mana :)

Pagi-pagi, di kala perut belum terisi, tawaran Mie Atep sebagai destinasi pertama yang akan kami kunjungi adalah serupa oase di padang pasir. Yes, we do need a breakfast!

mie atep yang legendaris dan lezat :9

Aku yang sebelum berangkat liburan udah browsing-brwsing, tau kalau mie atep itu pake kuah udang. Dilema hati dan perut. Aku alergi seafood macam udang cumi dll, tapi perut udah keroncongan nggak karuan minta diisi. Akhirnya okelah, nekad, aku tetep ikutan pesan mie atep-nya. Oh iya, tour guide kami, mas Dedi namanya, nawarin pada mau minum apa. Kami sempat bingung dan mau minum es teh aja, tapi segera setelah mas Dedi bilang bahwa minuman khas Belitung adalah jeruk kunci, oke kami sepakat mau minum itu!

Walau dalam hati sempat bertanya-tanya sih, masa es jeruk dikasi kunci? (kunci adalah sejenis bumbu masakan, red.)

Tak lama kemudian, pesanan kami datang. Mari makaaan!

selamat makaaan :D


Mie atep adalah makanan khas Belitung yang terdiri dari mie, tauge, potongan tahu, dan dihiasi topping beberapa potong udang kecil serta emping. Tak ketinggalan juga siraman kuah kental (dari yang aku baca di internet sih, itu kuah kaldu udang gitu) yang manis rasanya. Agak deg-degan juga makannya, hahahaha. Tapi yaudahlah, kalau ntar gatal-gatal kan bisa minum ctm :p Oiya, terkuak sudah yang namanya jeruk kunci tuh nggak seperti apa yang kami bayangkan. BUkan es jeruk dikasih kunci, tapi kunci di sini adalah nama jenis jeruk khas Belitung. Bentuknya mirip jeruk nipis, warna hijau tua gitu :D

Di sinilah tragedi terkuaknya porsi makan si Dita ketahuan. Sebagai awamnya orang baru kenal, tentulah kami masih malu-malu sama Dita dan Dian (kecuali mas Topenk dan mas Fian yang always malu-maluin, ya). Tapi segeralah suasana malu-malu yang unyu itu pecaaaahh ketika Dita makan mie-nya Dian yang nggak habis. Selamat ya Dit, ini akan jadi bahan bullyan selama tiga hari ke depan :D

Selesai makan, perjalanan dilanjutkan menuju replika SD Muhammadiyah atau SD Laskar Pelangi. Letaknya memang lumayan jauh dari tempat kami sarapan, jadi mas Dedi nyaranin untuk bobok-bobok cantik aja dulu. Tapi yaaa, kan sayang! Bahkan aku si pelor sejati, ngerasa sayang untuk melewatkan setiap jengkal kota Belitung ini. Satu hal yang aku kagumi sejak pertama kali mendarat di Belitung adalah, langitnya yang aduhai bersiiiiihh sekali. Deretan awan-awan putih itu bener-bener terlihat sangat dekat, bahkan sangat jelas lekukan-lekukan gumpalannya. Masya Allah indahnya.. :)

Sepanjang perjalanan, kami jadi nebak-nebak lokasi syuting film Laskar Pelangi.

"Di film kan ini nih jalannya yang pas dia naik sepeda.."
"Masa sih?"
"Iyaa, kan di persimpangan gini nih, persis!"

Kemudian kami melewati jalan/persimpangan yang sama persis dengan yang tadi.

"Lah ini juga persimpangan toh!""
"Oh iya, ya.."

Kamipun menyerah nebak lokasi syutingnya yang mana, hahahaha.

Sesampainya di SD Laskar Pelangi, kami langsung disambut dengan lagu soundtrack film yang sama. Berasa banget dah feel Laskar Pelangi-nya!

Foto di depan sekolah :D

Satu hal yang pasti adalah, di sini tuh puanaaaas! Sunblock itu wajib hukumnya. Tapi, panas hanyalah setitik dari besarnya pesona yang dipunyai Belitung. Sebagai kota pesisir, yaa wajar sih kalau panasnya ora umum, hehehe. Di sini, kami menghabiskan banyaaak waktu untuk foto-foto, bahkan sampai ngerekam video segala!

hup!!

maafkan pose kami :p
Setelah puas bermandi keringat di SD Muhammadiyah Gantong, kamipun bertolak ke destinasi selanjutnya, yaitu Museum Kata Andrea Hirata. Salah satu tempat yang aku penasaran banget. Aku suka pergi ke galeri seni, dan mungkin Museum Kata bisa jadi tempat favoritku juga nantinya. Setelah menempuh perjalanan yang nggak seberapa lama, sampailah kami di Museum Kata!

Sesuai perkiraan, aku suka tempat ini! Museum kata ini benar-benar seperti namanya. Banyak quote, banyak buku, banyak tulisan-tulisan yang menginspirasi di dalamnya. Bisa dijumpai juga novel Laskar Pelangi yang sudah diterjemahkan dalam banyak bahasa. Ada tempat untuk kirim kartu pos, ada foto-foto yang indah, ada asal-usul batu meteor, bahkan adaa warung kopi di dalamnya, warung Kupi Kuli namanya. Overall, it is a cute place ever!





what a cute place <3

spot-spot lucu :D

keren :)
Banyak banget spot foto yang bagus di tempat ini, hehe. Tapi sayangnya, segera setelah sholat Jumat, kami harus cabs ke tempat berikutnya!

Destinasi berikutnya adalah Vihara Dewi Kwan Im. Seperti yang sudah-sudah, matahari bersinar dengan teriknya, bikin keringat mengucur deras. Tapi di sisi lain, cuaca seperti ini memang lebih mendukung untuk liburan, daripada hujan dan nggak bisa kemana-mana kan. Vihara Dewi Kwan Im bentuknya berundak-undak. Maksudnya, bangunannya kayak berdiri di perbukitan gitu, dan terdiri dari beberapa bangunan. Patung Dewi Kwan Im yang tinggi besar ada di bagian belakang. Namun sayangnya, saat itu Patungnya sedang direnovasi, jadi ditutup terpal putih gitu deh. Tapi nggakpapa, pemandangan dan Vihara ini nggak kalah indahnya. Dari atas, kami bisa melihat pemandangan hijau di bawah, serta pemandangan bangunan Vihara yang amat manis didominasi warna merah juga pink.






pemandangan hijau yang tampak

pinky :D

Puas berfoto, kami lanjut perjalanan ke Pantai Burung Mandi. Letaknya nggak jauh dari Vihara, jadi nggak perlu waktu lama untuk mencapainya. Sore yang tenang di Pantai Burung Mandi adalah salah satu sore ternikmat yang pernah ada. Matahari sudah bersinar lembut, langit teduh, suara ombak, pemandangan kapal kayu nelayan, canda tawa, serta satu batok kelapa muda...

peacefull :)

sore yang selow :3

pantai indah ini baru pemanasan!


Pesona Pantai Burung Mandi ini baru pemanasan. Di hari kedua, mata dan hati ini akan terus terusan dibuat takjub dengan ciptaanNYA yang maha indah. Setelah menikmati sore di Pantai Burung Mandi, kamipun pulang alias menempuh perjalanan menuju penginapan yang letaknya di pusat kota, jadi yaa lumayan jauh. Dan, karena hari mulai gelap, kamipun tertidur di sepanjang jalan menuju penginapan. Sampai jumpa esok hari! :D

Jumat, 10 Juni 2016

Travel is... (1)

2




Travel is discovering the part of yourself that you never knew existed before

Beberapa hari yang lalu, seorang teman kantor mengembalikan buku yang dipinjamnya dariku, Critical Eleven-nya Ika Natassa. Tiba-tiba aku ingat, dulu belum nuntaskan baca quote-quote tentang travelling yang ada di beberapa halaman terakhirnya. Ada banyak quote, yang terhadap beberapanya, kuanggukkan kepala kuat-kuat tanda persetujuan. Nah, berhubung sudah lamaaaaa sekali blog ini kering kerontang, sudah dua bulanan, hiks, aku jadi tertarik untuk mengulas beberapa quote yang aku banget dalam beberapa seri postingan. Kali ini, aku ingin sedikit mengulas tentang quote yang ada di atas itu tuh..

Travel is discovering the part of yourself that you never knew existed before

Totallyyyyyy true!

Melakukan perjalanan membuatmu menemukan sisi lain dirimu yang selama ini nggak kamu ketahui. Ini benar-benar aku rasakan banget. Travel di sini adalah salah satu fase hidupku sebagai perantau. Sudah dua tahun lebih aku hidup di Jakarta, sendirian, nggak ada saudara.

Dulu ketika kuliah, aku membayangkan gimana rasanya hidup jauh dari keluarga. Aku membayangkan gimana rasanya hidup sendirian, ngekos, apa-apa dilakoni sendiri, dan bahkan untuk makan malem atau makan sahur juga mesti mikirin sendiri. Dalam benakku, tentulah aku akan mengalami fase itu ketika sudah berkeluarga nantinya, ngurusin rumah tangga, jadi emak-emak. 

Aku anak tunggal yang belum pernah jauh dari keluarga, sejak lahir sampai kuliah ya di Surabaya terus, nggak merantau kemana-mana. Berangkat kuliah, sudah ada sarapan. Pulang malem, makanan sudah di meja. Sahur, bangun lalu bantu dikit-dikit, langsung makan. Semua berjalan begitu nyamannya, sampai akhirnya takdir membawaku ke tempat lain, keluar dari zona nyaman selama dua puluh dua tahun, ya, dua puluh dua tahun!

Januari 2014, aku resmi hidup di Jakarta, setelah penempatan, aku ngekos sendiri. Seperti anak-anak kos pada umumnya, semua dikerjain sendiri. Nyapu, nyuci, ngepel, beres-beres, dan segala tetek bengek pekerjaan rumah yang dulunya enteng, terasa "lumayan". Terutama soal nyuci, kalau di rumah dulu kebantu mesin cuci, di kosan nggak ada mesin cuci, hahaha.

Tapi yaaa, Alhamdulillah, aku bahkan sempat ngerasa amazed sama diriku sendiri (narsis, hahaha), nggak nyangka aja kalau ternyata aku bisa, dan nggak butuh waktu adaptasi yang lama. Bahkan aku mulai belajar masak, walau belum ekspert dan nggak berani nyuruh orang lain makan masakanku, sih, hehe. Setahun yang lalu, ketika Ramadhan pertama yang kulewatkan sendiri saja di kosan, aku bener-bener belajar ngerasain gimana jadi ibu yang mesti nyiapin sahur para anggota keluarga. Bangun lebiiiih pagi, masak nasi, masak lauk, sahur, cuci peralatan masak, dan lain sebagainya.

Ada perasaan hangat yang menjalar di hati, mengetahui bahwa ternyata aku bisa melalui semua itu.. :)

Itu tentang merantau. Baru-baru ini, aku juga ngelakuin something yang belum pernah aku lakukan sebelumnya.

Naik gunung.

Aku suka travelling, terutama wisata alam. Tapi, aku selalu menghindari yang namanya naik gunung. Selain takut ketinggian, aku lumayan gampang capek kalau mesti jalan yang nanjak-nanjak gitu. Nah, sekitar akhir Maret lalu, setelah meyakinkan diri sendiri dengan mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai calon destinasi, berbekal fisik yang udah lumayan nggak lemah-lemah amat karena tiap Jumat rutin lari di lapangan banteng, aku menerima ajakan teman kantor untuk ngebolang naik Papandayan.

Mungkin orang-orang yang sudah pernah naik gunung yang lebih "canggih" dari Papandayan bakal ketawa aja lihat postingan ini. Karena, Papandayan itu bisa dibilang gunung wisata, gunung yang ramah pendaki amatiran macam aku, hehehe. Tapi, buatku, memutuskan naik Papandayan itu suatu langkah besar. Langkah besar untuk menantang diriku sendiri.

Alhamdulillah, dengan diiringi restu Ilahi, restu mama, dan kawan-kawan seperpendakian yang baik hatinya, aku bisa lancar naik Papandayan, sampai turun, dan balik ke Jakarta lagi, tanpa kendala yang berarti. Banyak pelajaran berharga yang aku dapatkan dari perjalanan kala itu. Pelajaran bahwa, naik gunung itu serupa menantang diri sendiri dan mengetahui keterbatasan diri dalam saat yang bersamaan. Gimana yaa, cara ngungkapinnya. Misal nih, ketika bertemu medan yang sulit, yang kalau temanmu yang lewat tuh bisa gampang dan enteng aja dengan berjalan biasa, aku merasa "ah temenku bisa lewat kok, masa aku enggak?". Nah tapi, aku juga mesti tahu, aku nggak biasa bawa barang bawaan berat dan mungkin akan bikin nggak seimbang, beda sama temanku yang udah expert pendaki, jadi aku lewatin medan sulit itu dengan cara yang berbeda, merosot misalnya :p

Dan terbukti memang, travelling sedikit banyak akan membantu kita lebih mengenali diri kita sendiri, mengenali limitasi-limitasi diri yang ternyata kita buat terlalu ketat sendiri, menyadari bahwa batasan-batasan akan kemampuan diri itu ternyata selama ini terkungkung oleh ketakutan-ketakutan yang kita ciptakan sendiri.

Jangan takut keluar dari zona nyaman. Jangan takut memulai suatu perjalanan. Jangan takut berada di tempat yang baru. Karena, kadang, hal-hal buruk itu hanya ada di kepala kita sendiri. Ketakutan-ketakutan itu hanyalah imajinasi dalam otak kita sendiri.

DO TRAVEL, AND FIND THE NEW YOU!  

Minggu, 22 Mei 2016

Pertanyaan

0

Sudut yang kau diami
Terka yang aku tinggali
Apakah setapak jalan itu bisa kembali mengundang jejak?

Mengiba pada kesempatan
Tapi urung membuat cipta
Bahkan keberanian tak bisa menyampaikan indah barisan tanya
Lalu adakah sepasang langkah yang diam, akan menemukan cara untuk sekedar berpapasan?

Duhai malam,
Sabit dan bintang bertemu dalam gelapmu
Burung hantu dan purnama bernyanyi demi menyambut sunyimu
Sudikah kau sampaikan doaku ke langit, di damainya sepertiga-mu?

Senin, 09 Mei 2016

menghidupkanmu lagi

0

satu pertanyaan yang mengundang memori
kembali menguar ke permukaan
memenuhi atmosfer

kemudian lancang sekali bayangan itu menari-nari
menarik untuk dilupa
tapi mempesona ketika diingat
siapa yang salah?

aku kah?
yang dengan polosnya menjawab tanpa tendensi
kamu kah?
yang memang hanya datang satu kali
lalu menggugah dari kejauhan untuk sesekali

tidak ada yang salah
mungkin hanya takut akan jawaban
tanpa pernah mencoba melempar tanda tanya
sekali saja

Minggu, 27 Maret 2016

Trip to Papandayan Part 3

3


Semalaman aku nggak bisa tidur. Mmm, bisa sih, tapi berkali-kali kebangun. Gara-gara apalagi kalau nggak karena parno babi hutannya nyerang tenda lagi. Tiap ada suara, aku selalu kebangun, sekalipun itu cuma suara kresek-kresek mbak titis yang lagi mbenahi sleeping bag-nya. Nggak cuma itu, aku juga berkali-kali mimpi tasku ditarik-tarik babi. Pokoknya berharap banget segera pagi deh, nggak tenang setiap lihat arloji yang menunjukkan waktu dini hari.

Akhirnya subuh menjelang, aku dan mas imam beranjak ke mushola. Terlihat banyak pendaki yang sudah memulai perjalanannya lagi menuju hutan mati atau mungkin malah ke tegal alun. Barisan cahaya head lamp terlihat beriringan menuju satu jalur yang sama. Padahal hawa masih dingin banget, apalagi selesai wudhu, baaaahh menggigil euy!

Selesai sholat subuh, kami kembali ke tenda, bersiap-siap mau ke hutan mati, lalu lanjut ke tegal alun. Masih mencoba menggenapkan nyawa karena tidur yang nggak pulas semalaman, aku ngobrol absurd sama mbak titis. Mulai ngomongin mimpi babi, sampe tempat-tempat perawatan muka yang nggak ada satupun yang pernah aku jamah. Lagi asik-asik ngobrol, tiba-tiba tenda kami gerak-gerak. Grasak-grusuk. Aku yang pertama kali nyadar.

"Ih mbak, kok gerak-gerak, nih?"

Aku kayak membeku seketika. Mungkinkah babinya kembali?

Refleks aku langsung nutup tenda, dan manggil-manggil mas yogi serta mas imam (manggil siapa lagi coba kalau nggak manggil mereka).

"Mas yog.. Mas yog.. Mas imam.. Duuuh, ada babi nih kayaknyaaa.. Aduuu.."

Terdengar mas imam malah manggil mas yogi juga. Duh, gawat, jadi keinget kejadian di malam harinya, kan, yang kami manggil-manggil mas yogi. Aku makin panik.

Sampai tiba-tiba...

Terdengar suara cekikikan mas yogi, yang perlahan jadi ketawa ngakak.

Baiklah, siluman babi pagi itu dipersembahkan oleh keusilan mas yogi.. -_______-

Dan ketakutanku atas serangan babi di pagi itu jadi bahan ceng-cengan sepanjang jalan menuju hutan mati. Tapi, fakta mengungkap ternyata bukan cuma aku yang mimpiin tuh babi, mas imam juga, hahaha.

"Tega-teganya mas yogi. Aku semaleman mimpi babi melulu, tau!"

"Sama aul, saya juga. Ngeri kalau tiba-tiba babinya masuk tenda, kan bolong itu tendanya," kata mas imam.

"Mimpi sih mimpi mas, tapi kenapa mesti bangunin saya juga?" sahut mas yogi.

Kamipun ketawa-ketawa. Kesimpulannya adalah hanya mbak titis yang tidurnya pules banget malam tadi.

Karena hujan di hari sebelumnya, jalur awal menuju hutan mati jadi becek parah. Jadi kami mencari jalur lain untuk menghindari beletokan tadi, agak melipir ke hutan gitu deh. Memang tetep aja tanahnya becek, tapi nggak seberapa parah. Dalam perjalanan ini juga kami menyadari bahwa suara "krik krik krik" yang terdengar di area camp ternyata adalah suara pipa air.

"Saya kira suara serangga.." kata mas imam menyadari kekhilafannya, wkwkwk :p

Kami start perjalanan dari tenda sekitar jam 6 kurang dikit. Barang bawaan sebagian besar kami tinggalkan di tenda. Mas imam dan mbak titis tetap bawa tas besarnya, mas yogi bawa tas ransum, sementara aku bawa tas kecil berisi barang berharga (uang urunan, red.). Medan menuju hutan mati tidak terlalu berat, sesekali ada tanjakan, tapi lebih banyak landainya. 

menjelang Hutan Mati



Tiga puluh menit berjalan, sampailah kami di hutan mati.

view Hutan Mati


Masya Allah kerennyaaaaa... <3

oranye sunrise nya masih kelihatan <3

Keren!

Berbatang-batang pepohonan yang meranggas nggak menyisakan daun barang sehelaipun, tanah yang berwarna putih (tanah kapur nih sepertinya), guratan warna kuning di kejauhan sisa sunrise, asap dari kawah, dan latar pemandangan gunung-gunung (entah gunung apa) benar-benar membuat mata dan hati ini terpesona. Sudah banyak orang yang ada di sana, mungkin mereka sudah jalan sebelum matahari menampakkan terangnya. Tapi, hutan mati, bahkan seusai sunrise tetap nggak kehilangan eksotismenya.

eksotis

Happy banget rasanya bisa sampai sejauh ini. Kamipun foto-foto di berbagai sisi, berbagai pose, berbagai ekspresi. Setelah puas foto-foto, kami sepakat untuk makan bekal dulu. Makanlah kami beberapa jelly, roti, biskuit, dan minum air mineral. Perut lapar memang, tapi sedikit makan lebih baik daripada kekenyangan. Sambil makan, kami berunding apa mau ke puncak atau nggak. Disepakati bahwa kami akan muncak, biar sah naik gunungnya, hahaha.



entah itu gunung apa :p

kawah di bawah yang selalu berasap

ngeri fotonya

Jam 7.20, kami mengemasi ransum dan memulai lagi perjalanan ke tegal alun. Kami berempat belum ada yang tau jalan ke tegal alun, tapi mengamati beberapa kelompok yang melanjutkan perjalanan, kami mulai bisa "menggambar" jalur menuju tegal alun. Ada beberapa yang lewat jalur nan terjal, ada yang menghilang di balik rimbun pepohonan, sepertinya sih jalur yang lebih landai. Kamipun akhirnya memilih jalur yang landai aja, nyari aman aja lah kalau bawa amatiran mah :p

Setelah berjalan beberapa jauh, kami agak nggak yakin dengan jalan yang diambil. Tapi, begitu melihat akang-akang jualan tahu goreng, legalah kami, pasti jalur ini benar yang dilalui orang-orang yntuk mencapai tegal alun.

jual tahu di situ, bro!

"Kalau ke tegal alun lewat sini ya, kang?"

"Iya, ada dua jalur. Kalo lewat yang kanan, itu yang terjal. Kayak itu tuh yang pada naik.."

Mata kami mengikuti arah yang ditunjuk si akang, lalu terlihatlah jaket dan tas warna-warni di atas sana, naik dengan medan yang curamnya banget-banget. Aku bergidik, ngeri.

"Nah, kalau mau yang agak santai, ini lurus aja, terus belok kiri, situ yang landai. Tergantung kemampuan aja.."

Mas imam langsung menyarankan ambil jalan yang landai aja, mungkin karena nggak tega sama aku dan mbak titis, haahahaha. Kamipun segera pamitan melanjutkan perjalanan.

Jalur lumayan menanjak, sesekali landai. Kemudian, sampailah kami di jalur yang sudah dekat dengan tegal alun (karena papasan dengan banyak orang di sini). Jalur menanjak banget (sampai harus pegangan bebatuan dan tanaman sekitar) kombinasi tanah dan bebatuan. Aku menelan ludah dan membatin "buset kudu naik sini, nih?". Tapi terlalu sayang untuk kembali kan, jadiin aja dah!

salah satu jalur yang bikin jiper, haha

Di jalur yang curam dan nggak seberapa lebar ini, kita kudu sabar berbagi jalan dengan orang-orang yang akan turun, gantian. Tapi senang sih, setiap papasan, selalu saling kasih bantuan dan semangat.

"Aul, kepikiran nggak ntar turunnya gimana?" tanya mas imam tiba-tiba. Seperti bisa baca pikiranku aja nih orang, haha.

"Hahaha, kepikiran sih mas. Ah, tapi nggak usah dipikirin deh. Turun masalah nanti, yang penting sekarang naik dulu," kataku.

"Sip."

Jalur yang lumayan menyiksa itu kami tempuh selama sekitar 10-15 menit. Hingga akhirnya jalur melandai, diikuti pemandangan padang edelweis yang cantik...

tegal alun <3


bunga bunga yang cantik :3

Di situ kami langsung sibuk ngambil foto, foto pemandangan ataupun foto di sendiri alias selpi, hehe. Tak lama kemudian, iseng kami kumat. Gara-gara mas yogi bilang,

"Eh kayak yang di film india ya, joget-joget di rerimbunan gitu.."

Akhirnyalah kami bikin video lucu-lucuan, timbul tenggelam di antara rerimbunan edelweis, hahaha. Kocak abis :D

jurus tendangan angin!



tinggian bunga atau gunungnya?



gerak dikit, cekrek!

Setelah puas foto-foto dan istirahat, kamipun mulai mencari jalan untuk ke puncak. But, we really dont have idea about the track. Kalau lihat peta, semestinya ke arah kanan. Kamioun sempat bertanya ke rombongan yang lagi foto-foto, tapi mereka juga nggak tahu. Akhirnya kami coba-coba cari jalan sendiri. Mas yogi di depan, mencari jalan. Kami mulai memasuki rerimbunan edelweis, mayan juga edelweisnya setinggi aku (berarti nggak tinggi-tinggi amat ya, oke fine).

"Ada jaring laba-laba mas, berarti nggak ada yang lewat sini, nih," tutup mas yogi.

setelah nggak nemu jalan muncak, foto aja dah :p



Baiklah, sepertinya kami harus mengubur niat untuk muncak. Kami kembali ke jalan semula, melanjutkan perjalanan balik ke Pondok Saladah. Sebelum benar-benar turun, kami ketemu mas-mas yang lagi duduk-duduk. Mas yogi yang kayaknya masih penasaran pun menyempatkan bertanya.

"A' kalau puncaknya tuh sebelah mana sih?"

"Puncaknya papandayan?"

Kami mengangguk.

"Kalau puncak papandayan mah nanti ke hutan mati tuh turun, terus naik lagi, itu baru puncak 1. Dari puncak 1 turun, terus naik lagi, itu puncak 2."

Aku melongo, "Balik aja deh, yuk." >.<

sebelum balik, selpi dulu :D

Akhirnya kami lanjut perjalanan untuk turun kembali ke camp. Di jalur yang tadi, jalan turun terasa lebih berat daripada waktu naik. Waktu naik kan tantangannya berat badan sendiri, gimana ngangkatnya. Nah kalau turun, di jalur macam itu, gimana caranya ngelawan rasa takut jatuh, takut kepeleset, karena kalau sampai jatuh nggelundung tuh nggak ada lucu-lucunya. Serem sih yang ada.

Senada dengan waktu naik, kali inipun kami berpapasan dengan rombongan yang baru naik dari bawah. Dari atas, jalur ini nampak lebih curam. Hii.

Ada ibu muda yang nanyain kami, beliau terlihat kelelahan.

"Duh, ini nanjaknya masih berapa jauh lagi ya? Saya mau nanya sama yang cewek aja, deh."

Kami sempet ketawa. "Dikit lagi kok, Bu, beneran deh. Semangaat!" jawabku dan mbak titis.

Setelah sampai dasar jalur, aku nyeletuk, "Ibu tadi nggak mau nanyain kalian yang cowok biar standarnya sama kali, ya. Hahaha"

Celetukan itupun dibalas oleh mas imam dan mas yogi dengan...

"Ketauan tuh pasti sering diboongin laki-laki.."

"Iya, makanya nggak percaya sama cowok-cowok.."

Kamipun ngakak tak terkira.

sebelum lanjut perjalanan, jajan tahu dulu :D

Kami sampai di Pondok Saladah sekitar jam setengah 11 siang. Mbak titis langsung beberes mau mandi katanya. Sementara aku selonjoran sebentar di dalam tenda. Mas yogi dan mas imam dengan baik hatinya malah siap-siap masak untuk makan kami sebelum menempuh perjalanan pulang. Di sini saya merasa gagal sebagai wanita, hahaha.

sibuk, chef? :p

Chef alam bebas alias mas yogi segera menyiapkan peralatan guna memasak ransum kami yang tersisa. Menu kami siang itu adalah, kimbo semur daging, indomie rasa sop buntut, sekaleng ikan sarden, dan buah kelengkeng. Tadaaaaa, makan besaaaarrr!

makanan ini yang membuatku naik sekilo >.<

Kami sepakat untuk turun setelah sholat dhuhur. Rombongan Furqon cs sudah duluan turun sejak tadi, kami kan jadi pakai mobil yang sama untuk balik ke terminal, jadi biar cepet, Furqon nyaranin untuk turun lewat jalur hutan mati belok kiri, alias bukan turun via jalur kami naik ke Pondok Saladah ini. Katanya sih bisa hemat waktu banget.

Finally jam setengah 2 kami cabs dari Pondok Saladah menuju camp David lewat jalur yang disarankan sama Furqon. Tadi kabut udah sempat turun, kami berdoa biar hujan nggak turun dulu seperti sehari sebelumnya. Alhamdulillah cuaca cerah banget malahan. Kami kembali menyusuri jalur ke hutan mati.
foto dulu sebelum meninggalkan hutan mati nan eksotis

Sampai di hutan mati, kami mencari-cari arah, belok kirinya sebelah mana ya? Setelah foto-foto sebentar (hutan mati di siang hari ketika sepi orang tuh suasananya beda banget, jadi senduuu banget deh), kami mengamati beberapa pendaki yang kayaknya mau turun, mereka lewat ujung kiri hutan mati. Jadilah kami mengikuti para pendaki itu.

sebelum menikmati jalur terjal

Dan ternyataaa, jeng jeeeeengg, terjal bro jalurnya! Nggak sempet kepikiran foto-foto deh selama ngelewatin jalur terjal itu. Yang ada di pikiran cuma gimana caranya biar nggak kepeleset kerikil-kerikil dan bebatuan. Beberapa kali aku lebih pilih duduk dan merosot karena takut jatuh (semoga sih nggak ada yang kena reruntuhan kerikil di bawah, haha). Dari jalan itu, kami bisa lihat jalur yang kami lewati kemaren pas naik ke Pondok Saladah di kejauhan. Berarti memang bener, jalur terjal ini memangkas banyak waktu perjalanan jadi lebih singkat. Tapi ya nggak nyantai juga nih, harus ekstra hati-hati biar nggak tergelincir.


Jam menunjukkan pukul 15.45 ketika kami sampai di camp David dan ketemu sama Furqon cs. Dari sana, kami langsung naik mobil menuju terminal. Perjalanan cukup jauh, kami menghabiskan waktu perjalanan dengan tidur. Jam 5 sore kami tiba di terminal, sekaligus berpisah dengan Furqon cs yang masih mau nanti-nanti dulu pulangnya.

Kami berempat memilih rute yang berbeda, yaitu naik bis yang ke Cililitan, bukan Pasar Rebo, karena dinilai lebih dekat dengan tempat tinggal kami yang ada di Jakpus semua. Tidak ada yang bisa diceritakan di perjalanan pulang, karena kami berempat sukses tertidur pulas sampai Jakarta.

Jam setengah 10 malam, bis sampai di terminal Cililitan. Kembali kami memesan uber untuk mengantar kami ke kosan satu per satu.

Trip Papandayan berakhir tanggal 20 Maret, jam 10 malam, di Jakarta.


Terima kasih aku ucapkan untuk mbak titis yang sudah menemaniku di trip kali ini, menjadikanku bukan satu-satunya wanita di rombongan. Makasih ya mbak, bahkan kamu baru aja kelar diklat sehari sebelum berangkat, dan lagi agak nggak enak badan. But, we did it well, mbak! Kita berhasil naik Papandayan!





Terima kasih untuk mas imam yang sudah ikutan trip, menemani mas yogi ngejagain dua orang amatiran naik gunung ini, hehe. Terima kasih sudah paham banget sama aku dan mbak titis yang perlu sering berhenti karena ngos-ngosan capek, dan selalu membantu milihin jalan yang aman dan nyaman buat dilalui. 



Last but not least, terima kasih untuk mas yogi, yang sudah bikin trip ini, nyari info ini itu. Terima kasih sudah sangat multi tasking selama tiga hari ttrip, jadi porter, fotografer, juga koki. Sebagai anak gunung sejati, thanks sudah sabar ngetrip bareng aku dan mbak titis yang masih newbie, hahaha. Akhirnya kamu ke Papandayan juga ya, setelah satu tahun lebih berlalu sejak awal kamu pindah ke Jakarta. Congrats! :D





Terima kasih gaes telah menjadi teman seperjalanan yang hebat karena kesabaran, bantuan, dan lain sebagainya. Ini adalah perjalanan pertamaku naik gunung, dan aku melaluinya bersama partner yang tepat. Banyak kesan dan pelajaran yang bisa diambil selama perjalanan. Kalau ditanya kapok atau nggak naik gunung, Insya Allah sih nggak kapok. Tapi tetep kalau ditanya pilih gunung atau pantai, aku lebih suka ke pantai, hahaha.

Akhir kata,
Setiap destinasi pasti punya cerita, tapi partner seperjalanan-lah yang membuat cerita itu punya makna :)

Sampai jumpa lagi di petualangan selanjutnya :D




Bonus, siapa tahu berguna untuk yang nyari info trip ke Papandayan:
Bis ekonomi AC Jakarta-Garut/Garut-Jakarta Rp 52.000 per orang
Angkot dari terminal Guntursari ke pasar Cisurupan Rp 20.000 per orang plus biaya ngikat tas Rp 5.000 per orang
Mobil dari pasar Cisurupan ke camp David Rp 35.000 per orang (ternyata mobil ini bisa disewa juga dari camp David langsung ke terminal, cuma Rp 45.000 per orang!), ada juga yang pakai pick up dengan biaya yang lebih murah (makin banyak orangnya, makin murah tarifnya)
Uang masuk Papandayan Rp 10.000 per orang
#visitPapandayan