Selasa, 07 Mei 2013

Perempuan Dalam Mimpi (Episode 2)

0

Aku kembali lagi ke kafe ini, berharap, ya, bertemu dengannya lagi, perempuan dalam mimpiku itu. Aku masih mengingat pandangan herannya kemarin. Aku memakluminya. Kalau saja aku berada di posisinya, dihampiri orang asing yang mengaku melihatku di dalam mimpinya. Lebih parah, mungkin aku malah tidak akan mengucapkan sepatah katapun, tidak seperti perempuan itu, yang masih mengucapkan kata "sorry" sebelum meninggalkan aku yang berdiri terpaku.

Aku mengingat lagi alasanku ke kota ini. Pekerjaanku di Jakarta semakin menyiksa, sama menyiksanya dengan perempuan yang selalu hadir dalam mimpiku itu. Malam tadi, aku memimpikannya kembali. Sedikit lebih beruntung, di mimpiku, perempuan itu sempat menyebutkan namanya. Adzana. Buatku, mimpi itu bukan malah membuatku lega. Pertama, aku merasa pernah melihatnya. Dan sekarang, aku merasa pernah mendengar namanya. Bukan hanya dalam mimpi itu saja.

Tiba-tiba dadaku berdegup kencang. Entah kenapa. Aku memegangi dadaku. Sampai tiba-tiba sosok itu lewat di depanku. Rambut panjang hitamnya yang lurus, kedua alis yanag nyaris bertaut, bibir tipis yang saling mengatup. Aku tak mungkin salah. Perempuan dalam mimpiku.

Dia duduk lagi di smoking area, seperti kemarin. Aku memutar otak, menghadirkan pertanyaan-pertanyaan dan mewajibkan diriku sendiri untuk menjawabnya. 

Apa aku harus menemuinya lagi? Iya.

Kalau dia sangka aku pengganggu? Masa bodo.

Kalau dia pergi seperti kemarin? Tunggu lagi besok di sini.

Apa aku harus menanyakan namanya? Tidak, tebak langsung aja, seperti di mimpi.

Jadi aku memutuskan untuk berjalan mendekati mejanya. Dia mendongakkan wajah. Astaga, garis wajah yang sempurna. Dan, dan, dia mirip sekali dengan....

"Kamu lagi? Mau apa?," tanyanya ketus.

"Aku mau.."

"Mau bilang aku perempuan di mimpi kamu?," tukasnya sambil tertawa sinis dan mulai menyeruput segelas milktea dingin di hadapannya.

"Aku mau tanya, nama kamu, Adzana kan?"

Sepersekian detik kemudian aku melihat dia tersedak, milktea-nya sedikit tumpah. Dia menatap semakin keheranan ke arahku.

0 komentar:

Posting Komentar