Sabtu, 05 Desember 2015

Tentang Memulai

0

Saya nggak pernah suka lari. Waktu SMP, di mata pelajaran olahraga, pasti ada yang namanya lari kelilingin lapangan upacara di belakang yang luaas banget. Masuk SMA juga nggak jauh beda, tiap awal semester di mata pelajaran olahraga, diawali dengan lari keliling komplek sebanyak 3 atau 4 kali. Ujian praktek olahraga, ada juga tuh lari muterin lapangan KONI. Ujung-ujungnya, pas ngelamar kerja, ada tes kebugaran yang adalah tidak lain tidak bukan juga lari keliling lapangan KONI selama 12 menit. Yang terbaru sih, waktu diklat prajabatan, tiap pagi ada agenda lari keliling pusdiklat.

Dan saya masih pada satu kesimpulan yang sama, nggak suka sama yang namanya lari. 

Tapi, sehubungan dengan jarum timbangan yang makin hari makin bergeser ke kanan, mau nggak mau saya harus ketemu lagi sama si "lari" ini. Biasanya tiap Jumat pagi saya memang sempatkan olahraga, beberapa bulan lalu rajin pingpong, terus bosen, balik ikutan senam aerobik di gedung seberang kantor. Lalu, beralih ke olahraga yang seumur-umur nggak pernah saya suka, lari. Kenapa lari? Karena dengan lari ini ternyata memang jauh lebih "berasa" dibanding sama senam dan pingpong.

Kemarin adalah hari Jumat ke empat, sejak saya memutuskan untuk berakrab-akrab dengan olahraga ini. Sekarang tiap Jumat pagi, saya lari ngelilingin lapangan banteng, lapangan di sebelah kantor. Waktu pertama kali nyoba lari di sini, satu putaran aja rasanya udah setengah mati. Sekitar 1 jam lari, cuma sanggup sampai lima putaran, sementara temen saya udah entah putaran ke berapa. Tapi untungnya si teman ini menyemangati:

"Bertahap kali, Ul. Aku juga awalnya bisa 3 kali putaran aja udah stres banget rasanya.."

Okelah. Sampai minggu depannya saya coba lagi lari, minggu depannya lagi, dan minggu depannya lagi juga. Syukurlah, apa yang dikatakan teman saya itu benar adanya, hahahaha.

Jumat kemarin saya berhasil sampai tiga belas putaran dalam 45 menit. Ya memang nggak lari terus, diselingi sama jalan. Tapi, itu udah kemajuan yang luar biasa banget buat saya, yang seumur-umur nggak pernah suka lari.

Memulai itu memang nggak mudah. Tapi, ketika kita sudah berhasil memulai, PR selanjutnya yang nggak kalah susah adalah berkomitmen untuk melanjutkan apa yang sudah kita mulai. Baru minggu ke empat sejak saya memutuskan untuk mulai lari. Masih panjang perjuangan untuk membuat jarum timbangan bergeser ke arah kiri, huahaha.

Pada akhirnya,

In some cases, the only thing you have to do is just beat no one, but yourself.

0 komentar:

Posting Komentar