Sabtu, 14 April 2012

ini sabtu malam, bukan malam minggu :)

0

Sudah menjadi rahasia umum kalau weekend itu sangat-sangat dinantikan oleh sejuta umat. Bahkan mungkin sejak hari Jumat, banyak yang sudah mulai menyusun rencana untuk mengahbiskan weekend-nya. Hari Sabtu merupakan hari yang identik dengan acara apel-mengapel, pacar-memacar, hangout, dan sebagainya, yang jelas have fun lah. Bisa dipahami sih, setelah bekerja atau kuliah satu minggu penuh, tentu sebagai sewajarnya manusia, kita perlu yang namanya refreshing. Nah, akhir minggu dinilai menjadi waktu yang tepat untuk menjalankan kegiatan refreshing itu.

Yang seringkali menjadi masalah adalah ketika keinginan untuk refreshing itu tidak dibarengi dengan kemampuan si empunya keinginan. Misalnya saja, ada yang pengen kencan tapi nggak punya pacar. Ada yang pengen diapelin tapi ternyata lagi LDR-an. Ada juga yang lagi nggak bisa jalan ke mana-mana gara-gara nggak punya duit atau nggak ada yang ngajakin. Kondisi-kondisi semacam itulah yang akhirnya menjadi sumber dari kegalauan mayoritas orang. Sebagai buktinya, setiap hari Sabtu datang, timeline di twitter selalu ramai sama orang-orang yang menggalau gara-gara hal-hal yang saya sebutkan di atas. Hehe.

Saya sendiri bukan termasuk orang yang sangat mengagungkan hari Sabtu sebagai hari refreshing sedunia, atau hari kencan sedunia. Seumur-umur, sampai hari ini, saya belum pernah yang namanya menargetkan secara khusus “mau malem mingguan ke mana” atau “mau ngapain ya malem minggu ntar”. Buat saya, hari Sabtu ya sama aja kayak hari-hari yang lain. Bahkan nggak jarang, saya malah ngabisin hari Sabtu dengan berkutat sama yang namanya tugas kuliah. Hahaha.

Saya heran sama orang-orang yang kemudian membuat target-target khusus terkait hari Sabtu malamnya. Sebenernya nggak masalah juga sih, namanya juga pengen menghibur diri. Tapi masalahnya, kalo semua keinginan itu nggak bisa terpenuhi, maka mereka-mereka akan memasuki tahapan galau secara massal. Akibatnya, ada yang uring-uringan di timeline twitter, ada yang  mengeluarkan statement-statement ngenes nan lebay, dan banyak lagi ekspresi kekecewaan karena gagal Sabtu malaman. saya jadi kasihan, padahal seharusnya kan masih banyak yang bisa dilakukan kalo emang lagi nggak bisa ke mana-mana pas hari Sabtu malam. Misalnya nyicil tugas kuliah, daripada numpuk-numpuk kan. Kalo emang pengen rehat, bisa nyantai-nyantai aja di rumah, ngabisin waktu buat bareng sama keluarga. Kalo diitung-itung, pasti mayoritas waktu kita diabisin buat di luar rumah kan. Apalagi buat mahasiswa, orang kantoran, dan lain-lain. Seringnya rumah Cuma buat numpang tidur, mandi, sama sarapan. Nah, momen weekend nggak boleh dilewatkan untuk mencoba berlaku adil sama keluarga. Bantu-bantu orangtua, lebih banyak ngobrol, nonton tv bareng, atau malah main-main bareng sama papa, mama, adek, kakak di rumah juga nggak kalah seru.

Jangan sampai lupa setiap hari itu sama. Sama-sama harus kita syukuri karena Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk bernafas. Sama-sama harus kita manfaatkan sebaik-baiknya karena waktu itu sifatnya sangat terbatas. Sama-sama harus kita gunakan dengan bijaksana. Dan juga, sama-sama terlalu sangat berharga kalo dilewatkan dengan acara menggalau ria. Lagian, banyak cara untuk refreshing. Nggak perlu selalu harus keluar rumah, kan. Ngelakuin hobi aja udah bisa dibuat refreshing, dan bisa dilakukan kapan saja.

Jadilah manusia yang mudah merasa bahagia, bahagia kan nggak butuh alasan. That’s why happiness doesn’t need “y” (baca: why ; english). Dan yang nggak kalah penting, jangan sampai mengubah keinginan menjadi tuntutan yang akhirnya malah menyiksa diri sendiri.

Oh iya, Saturday Night itu artinya Sabtu Malam lho, cek di kamus deh, bukan Malam Minggu ;)

Jumat, 13 April 2012

aku bahagia denganmu

3

Seperti biasa, tidak begitu banyak waktu yang kita habiskan bersama-sama. Tidak, kita tidak pernah jalan-jalan berdua ke bioskop atau ke mall. Tidak, kita tidak pernah makan malam berdua dengan suasana yang super duper romantis dilengkapi temaram cahaya lilin. Tidak, kita juga tidak pernah menghabiskan malam minggu untuk berkeliling kota.

Tidak banyak waktu, karena kita sama-sama sibuk. Tapi, banyak waktu untuk saling merindukan. Banyak waktu untuk saling menumbuhkan pengertian. Banyak waktu untuk saling memahami cinta. Banyak waktu untuk mendukung mimpi masing-masing.

Sore ini pun sama saja. Kamu akan pulang, sedangkan kita sepakat untuk saling bertemu sebentar saja. Jadi kita bertemu, kurang dari satu menit. Berbicara sedikit kata, minimalisasi bahasa eksplisit. Beberapa simpulan senyum dan tatapan mata seperti sudah lebih dari cukup.


Dan bahkan dengan beberapa detik itu saja, aku bahagia denganmu.

Senin, 09 April 2012

Cinta : Kata Benda atau Kata Kerja?

1


Siapa sih yang masih asing dengan kata “cinta”? Berbagai kosa kata dirangkai hanya demi mencoba menerjemahkannya ke dalam definisi-definisi yang lebih mudah dicerna. Kata demi kata pun begitu lancar untuk menceritakan maknanya. Apalagi ketika sedang jatuh cinta, berjuta inspirasi seperti melayang-layang di kepala untuk bisa mengisahkannya seindah mungkin. Tidak bisa dipungkiri bahwa satu kata itu telah menjadi inspirasi banyak orang. Manis-pahitnya, senang-susahnya, sudah banyak kita selami dalam berbagai bentuk, entah itu terselip melalui musik, disemburatkan lewat karya sastra, atau bahkan hanya dengan kalimat sederhana “aku cinta kamu”.

Kemudian, cinta itu mulai didefinisikan secara terpisah. Banyak interpretasi yang melekat dalam benak setiap orang. Semua itu tidak lepas dari perbedaan persepsi yang dimiliki oleh setiap manusia. Ada yang mendefinisikan cinta itu adalah pengorbanan. Ada juga yang mendefinisikan cinta sebagai sarana take and give, dan masih banyak lagi macamnya. Sepengamatan saya, cinta itu sudah menjadi konsumsi sehari-hari, dan baru-baru ini, kosa kata yang baru melejit (galau, Red.) juga dikaitkan dengan erat sama yang namanya cinta. Wah wah, sepertinya hidup itu penuh sama yang namanya cinta ya. Memang sih, sepintas demikian.

Tapi, pernah nggak sih, terlintas, sebenernya cinta itu kata benda atau kata kerja? Nah lho, yang mana ya..

Kata benda, seperti kita tahu, ada meja, kursi, tas, buku, dan lain sebagainya. Udah pada lulus SD kan? hehehe. Sekilas, nangkep nggak, apa yang tercermin dari kata benda itu sendiri? Iya, kata benda itu stuck, nggak ada kelanjutannya. Jadi, kalau suatu saat ada yang menyatakan cinta sama kamu, coba deh dilihat, ada tindak lanjutnya atau nggak. Kalau setelah menyatakan cinta, kemudian selesai, sudah, ya berarti buat orang itu, cinta cuma sekedar kata benda. Bahkan, mungkin nggak bisa disebut dengan kata benda. Karena, kata benda pun pasti ada wujudnya kan. Kalau sayakatakan”ada meja” siapapun yang mendengarkannya pasti menuntut bukti dengan mengatakan “mana ada meja?”. Dan saya sebagai pembuat statement “ada meja” harus bisa membuktikan keberadaan meja itu. Demikian juga sama yang namanya cinta. Kalau seseorang cuma bisa bilang “aku cinta kamu”, tanpa bisa membuktikan keberadaan cintanya, yaaa gitu deh. Pasti bingung kan, kalau disebut kata benda aja nggak pantes, mau disebut apa dong? Angin lalu?

Sekarang beralih ke bahasan ke dua, kata kerja. Udah nggak perlu dikasih contoh lah ya, kata kerja itu apa aja, pasti sudah pada tahu. Dan apa sih, yang paling melekat dengan image dari kata kerja? Ada yang tahu? Yup! PELAKSANAAN. Yang namanya kata kerja itu ya, harus dikerjakan. Jadi, kalau kamu berencana menyatakan cinta sama seseorang, pastikan kamu punya keberanian dan usaha yang kuat untuk benar-benar melaksanakan apa yang kamu ucapkan. Sungguh nggak ada artinya kalau kamu cuma bisa bilang “aku bakal selalu cinta sama kamu”, tapi nggak bisa benar-benar menepatinya dan mewujudkannya dalam tindakan nyata.

Kembali sama yang saya bilang bukti. Di sini, bukti nggak selalu berarti pacaran, lho. Tapi, buktikan kalau kamu memang adalah seorang pribadi yang pantas untuk dicintai. Mungkin akan timbul pertanyaan tentang “pribadi yang pantas dicintai tuh yang kayak gimana?”. Sebenarnya jawabannya tuh sederhana aja. Setiap orang pasti punya keinginan, keinginan tentang seperti apa sosok yang mereka idamkan untuk menjadi pendamping mereka. Yah, singkatnya sih, “kita pengen dicintai sama orang yang kayak gimana”, jadilah seperti itu. Kalau kita pengen dapet pendamping yang baik hati, cek dulu, hati kita udah baik belum? Kalau kita pengen dapet pendamping yang jujur, coba dihitung lagi, sebulan ini kita udah bohong berapa kali? Intinya adalah introspeksi diri.

Jangan lupa juga sama janji dari Allah, bahwa lelaki yang baik hanya untuk wanita yang baik, demikian pula sebaliknya. Jadi, baikkan diri sendiri dulu, nanti pasti Allah yang akan mempertemukan kita dengan orang yang tepat, di waktu yang tepat.

So, the conclusion is:

Love is a verb, better you PROVE it, than just SAY it :)

Senin, 02 April 2012

taman, senja hari :)

0

ada masanya bongkah paving ini akan berkisah
tentang daun-daun kering yang bergemerisik
mencoba meronta dari sapuan
atau gelindingan kerikil-kerikil kecil
yang terbuai langkah-langkah kaki

ada waktunya sepetak tanah ini akan bertutur
tentang batang-batang yang mulai digerogoti umur
sampai kadang berlumut
ada juga gemeretak dahan-dahan yang dipermainkan angin
sampai meliuk-liuk

ibadahkan cintamu :)

2

jika mencintai aku adalah suatu kesalahan
maka segeralah mencari tahu
bagaimana caranya mencintai aku dengan benar

jika mencintai aku adalah sebuah dosa
maka sujudlah pada Tuhanmu
mohonlah ampun
jadikan cintamu itu ibadah untuk semataNYA saja

Minggu, 01 April 2012

random

0

pikiranku berkecamuk
sementara ketiadaan memporak-porandakan isi batinku
sepertinya memburuk
bukan salahmu memang, ini kan kata kesepakatan

aku mencoba membaca melalui lilin itu
penerangan seadanya
yang terlihat pun juga seadanya
tapi semoga ketidaktahuan bukan menjadi masalah

terlalu banyak yang membanjiri
aku pun jadi susah untuk memilahi
apalagi sedang tak ada tempat satu lagi
aku memayah, susah
sendiri saja

tapi tak apa, aku tau aku kuat
walaupun aku lelah

Sabtu, 31 Maret 2012

tak ada lagi yang kucari :)

0

Aku tergesa turun dari angkot yang kunaiki sepulang kuliah. Hari ini Rama menghubungiku dan meminta aku meluangkan sedikit saja waktu untuknya. Nanti setelah kuliah, demikian kataku. Semester ini aku sangat menghindari bolos kuliah, sudah semester 6. Maka itu, walaupun kuliahku baru selesai jam 6 sore, aku tetap menyanggupi untuk menemaninya. Sudah agak lama sejak Rama menggandeng seorang perempuan di sampingnya saat itu. Sejak saat itu juga pesan singkatnya tidak pernah meramaikan ponselku lagi. Kadang ada semacam sesuatu yang hilang, mengingat dulu kami begitu sering menghabiskan waktu bersama-sama.

Agak cepat kulangkahkan kaki ke dalam taman. Taman ini favorit kami. Letaknya di tengah kota, memang, tapi suasananya enak. Ada air mancur kecil di bagian tengahnya, dikelilingi kursi taman mungil yang cantik dan nyaman. Aku sangat menyukai tempat ini. Bahkan ketika kami tidak bayak lagi mengunjungi tempat ini bersama-sama, aku masih sering ke sini ketika aku ingin sendirian. Kuedarkan pandangan ke seluruh sudut taman, mancari sosok Rama. Biasanya dia tidak sulit ditemukan. Badan berotot dan kulit yang gelap itu seringkali terlihat begitu mencolok. Apa mungkin karena ini sudah agak malam ya, makanya aku agak sulit menemukannya. Setelah beberapa menit aku hanya menoleh ke sana kemari, tiba-tiba seseorang menyambar tas yang kulingkarkan di bahu kiriku.

"Hei ?!", reflek aku menarik tasku. Sementara orang itu malah terus menggenggamnya dan malah menarikku untuk mengikutinya.

Jumat, 30 Maret 2012

Awal untuk Mimpi

0



Aku memandangi sosok-sosok yang lama sudah kukenal. Canda tawanya, sedu sedannya, tangis sedihnya, luka bahagianya, dan segala sesuatu yang begitu lekat dengan perjalanan selama ini. Bukan suatu perjalanan yang singkat, bukan pula perjalanan yang mudah. Entah berapa detik yang kita lewati bersama, menyatukan segala beda di bawah satu atap yang sama.
Rasanya baru kemarin saja, kita mencari nama-nama kita di depan pintu kelas. Menerka-nerka kelas mana yang akan menjadi tempat kita. Menanti dengan cemas, siapa yang akan menjadi teman-teman kita. Mungkin sekarang, kita masih dengan kecemasan yang sama seperti saat itu. Berada di ambang pintu perpindahan jenjang. Cemas tentang seperti apa dunia baru itu nantinya. Dengan orang-orang baru di dalamnya, orang-orang yang tentu banyak tak sepaham dengan koridor kita. Sedikit berdebar, menanti bagaimana rasanya berpisah dengan satu sama lain yang sudah lebih dari seorang teman. Mungkin lebih tepat disebut saudara.
Ini hari Minggu dan aku berada di tempat kesayangan ini. Tempat di mana seluruh kenangan mengguratkan kisah-kisahnya di dinding yang bisu. Kelas-kelas yang menyaksikan kegaduhan serta kekhusukan kami ketika panggilanNYA diserukan. Masih terekam juga dengan baik, bagaimana koridor-koridor ini telah menyatukan langkah-langkah kita. Semuanya masih manis di ingatan. Memori masih segar pula untuk diputar kembali di dalam kepalaku ini.
Sekolah tercinta ini tidak seperti biasanya. Malam ini saja, banyak hiasan-hiasan yang dipasang, kursi-kursi dan beberapa meja yang disusun menghadap panggung sederhana. Tempat ini menjadi yang terpilih di antara sekian pilihan. Mungkin karena memang di siniliah kita ingin menghabiskan waktu-waktu terakhir kita. Tempat di mana semua orang terkasih menapakkan kakinya setiap hari, setiap pagi. Kita memulai segalanya dari tempat ini, maka ketika akan lepas, di sinilah kita semua ingin menghabiskan waktu. Mungkin sekali ini saja, sebelum semua tenggelam dengan dunianya masing-masing. Ya, ini waktunya kita bermain-main dengan kenangan dan harapan.
“Hei, kamu mikir apa’an sih?”, tanya Vita membuyarkan lamunanku.
“Ah, nggak kok, cuma seneng aja ngeliat kita pada tampil beda malem ini. Cantik-cantik, ganteng-ganteng”, jawabku sekenanya. Akan repot kalau harus menceritakan bait-bait pikiran yang sejak tadi berkelebatan di otakku.
Hari ini semua memakai pakaian terbaiknya, berdandan sebaik-baiknya. Ada beberapa yang memakai gaun, beberapa lagi menggunakan setelan jas bak akan hadir ke pesta dansa, dan banyak lagi macam kostum hari ini. Aku sendiri lebih memilih memakai terusan merah berdetail lucu. Ini sudah yang terbaik, aku sudah berusaha menyingkirkan celana jeans dan kaosku. Jadi, kata kalian, memang aku cantik hari ini. Hahaha.
Beberapa murid pun mulai menampilkan persembahan-persembahan mereka. Segera malam yang awalnya hiruk pikuk dengan obrolan itu mulai diselingi dengan melodi-melodi gitar, alunan keyboard, dentuman drum, dan merdunya penyanyi-penyanyi profesional maupun dadakan. Sesekali riuh tepuk tangan membahana sebagai pertanda bahwa betapa kita menikmati acara dan suasana malam ini. Semuanya sederhana, tapi kesederhanaan itulah yang membuat malam ini semakin berkesan.
Tiba sudah di penghujung acara. Kulihat tidak seorang pun meninggalkan tempat duduknya sejak awal tadi. Kursi-kursi masih terisi penuh, bahkan sebagian lebih memilih untuk duduk di bawah, beralaskan plester lapangan tempat anak-anak lelaki bermain bola. Aku merasa sedikit berbeda, mungkin berdebar. Beberapa menit lagi aku akan maju ke panggung kecil itu. Aku didaulat untuk membacakan puisi karyaku untuk acara puncak. Akupun mulai berjalan ke belakang panggung sambil sesekali memainkan kertas naskah di tanganku. Sumpah aku gugup. Tapi, di belakang panggung sudah ada kamu. Iya, kamu. Lelaki yang mengambil hatiku sejak beberapa bulan yang lalu. Masih dengan sederhanamu, kamu tersenyum dan menghampiriku. Akupun tersenyum, sedikit tenang.
“Ayo, semangat..”, katamu pelan.
“Aku deg-degan, tau !”, tukasku cepat. Dan mungkin tanpa sadar aku memanyunkan bibirku beberapa senti, lalu seperti biasa dia selalu tertawa jika melihatku seperti itu. Tawanya membuat debarku berkurang. Berkurang untuk membaca puisi nanti, tapi bertambah di satu sisi yang lain. Debark berpindah untukmu, dan fakta bahwa kita tidak akan berada di tempat yang sama lagi setelah ini.
Ah, namaku dipanggil sudah. Senyummu mengantarkan aku menaiki tangga kecil menuju panggung.
“Lho, kok sendirian ? Sam di mana ?”. Ah, sial. Bagaimana bisa pertanyaan seperti itu dilontarkan di sini. Ternyata memang benar, cerita cinta tentang aku dan kamu itu sudah diketahui seisi sekolah. Aku cuma tersenyum menanggapinya. Tapi entah bagaimana adanya dengan wajahku yang tak tahan malu. Memerah kurasa.
                                                                        *****
Aku menatap langit-langit kamarku. Sekarang jam dua malam, dan aku baru saja merebahkan punggungku di atas tempat tidur. Cerita hari ini adalah salah satu yang terindah, selama tiga tahun aku hidup bersama di sekolah menengah atas yang kucintai ini. Segalanya masih berputar-putar di kepala. Rasanya terlalu singkat. Rasanya aku ingin punya waktu yang lebih lama lagi untuk terus membuat cerita-cerita baru bersama kalian. Tapi tak apa, bukankah kalian tak pergi ke mana-mana? Bukankah jarak dan waktu terlalu remeh untuk menjadi penghalang ikrar persaudaraan kita? Aku tersenyum simpul, karena kuyakin jawabannya “iya”.
Lalu biarkanlah semua berjalan seperti semestinya. Yang perlu kita yakini adalah, hari ini masih merupakan awal, di mana kita akan meletakkan pijakan-pijakan baru untuk masa depan kita. Masih ingat mimpi-mimpi yang pernah kita tuliskan bersama? Inilah yang harus dilewati untuk bias mencapainya. Berjanjilah bahwa persaudaraan ini telah tertanam kuat. Dan aku minta, supaya fragmen-fragmen indah kita, bisa kalian simpan di      sudut hati yang paling dalam.

Sabtu, 24 Maret 2012

hanya terlihat lebih indah :)

2

A : "coba kamu liat juga bintangnya pas di Sempu, baguuus banget.."
B : "hanya terlihat lebih bagus kan ?"

Itulah salah satu petikan percakapanku dengan seseorang, melalui sms. Setelah sehari sebelumnya aku dan 10 orang teman pergi berpetualang di Pulau Sempu. Salah satu momen tak terlupakan adalah waktu kami tiduran bersama di tepi pantai. Kepala menghadap ke langit, bersua dengan keindahan maha dahsyat ciptaanNYA. Langit malam Sempu yang penuh taburan bintang. Berharap ceritaku mendapat respon semacam "oh yaa? pasti bagus" atau "waah, jadi pengen liat juga". Tapi ternyata salah. Hahaha. Kamu selalu tidak terduga memang.

Rabu, 21 Maret 2012

DIA tidak tidur :')

2

somehow, tiba-tiba teringat percakapan sama seseorang. Udah lama sih ngobrolnya, dan sempet terlintas juga buat nge-post obrolan itu.. Nggak sempet-sempet, mungkin sekarang waktunya udah tepat.. :)

Singkatnya, obrolan saat itu mengarah ke kehidupan masing-masing kami. Saling bercerita. Lalu nyangkut ke temennya, lalu mulailah ngebanding-bandingin. Dia berkeras bahwa hidupnya lebih susah..

Ada sedikit rasa pengen tertawa. Bagaimana bisa seseorang menilai orang lain begitu saja, bahkan tentang kehidupan pribadinya ?

Senin, 19 Maret 2012

aku tidak pernah :)

2

pernah membayangkan bahwa tatap-tatap mata kita akan menjadi hal yang paling dirindukan selama seminggu ?
di tengah ketidakmampuan kita untuk saling bertemu
saling menyapa
aku tidak pernah

pernah membayangkan bahwa nyanyi-nyanyi itu selalu menjadi pengantar tidur ketika rindu mulai ramah menyapa kita setiap malam datang ?
di waktu kelelahan sehari mulai luruh dan diganti kerinduan
aku tidak pernah

pernah membayangkan jika barisan kata-kata itu mampu memanjakan hati masing-masing kita yang dilabuhi gejolak implisit ?
di saat ungkapan hati itu lebih mudah diterjemahkan oleh diksi dan frasa
aku tidak pernah

pernah membayangkan jika pesan-pesan di setiap pagi menjadi salah satu wujud rasa syukur ketika Dia memperkenankan kita menikmati mentarinya lagi ?
waktu kita saling ingat tentang rasa yang belum berubah seiring hari yang berganti
aku tidak pernah

pernah membayangkan kalau satu tarikan senyum itu mampu menggugurkan letih di setiap ruas-ruas diri ?
saat kita beberapa detik saja berpapasan dan menyempatkan diri untuk sekedar saling tersenyum
aku tidak pernah


maka biarkanlah semua menjadi tidak terduga
aku tidak pernah membayangkan semuanya terjadi seperti pada detik ini
mencemaskanmu yang kelelahan
entahlah, aku hanya ingin menulis
betapa aku tidak memprediksi hari-hari indah ini akan mampir atas nama aku dan kamu
iya, mungkin masih aku dan kamu
karena nanti ijin Tuhan yang akan mengubahnya jadi "kita"

:)