Senin, 10 Oktober 2016

Umpan Lambung

0

pict taken from asfanforever.wordpress.com

Sebagai stasiun besar di Ibu Kota, Gambir tidak pernah sepi dari hari ke hari. Barisan orang lalu lalang dari loket satu menuju loket lainnya. Suara mesin pemanggil antrian otomatis menggema di ruang tunggu pintu utara. Stasiun bukan hanya tempat orang-orang yang bergembira karena pulang, tapi juga tempat dimana wajah-wajah yang digelayuti rindu mencoba tetap tegar. Sesekali pun bisa dijumpai rona yang penuh semangat karena pertama kali menjejak tanah rantauan.

Di salah satu bangku melingkar, seorang lelaki duduk dengan satu koper hitam berukuran tanggung di depannya. Tangannya menggenggam bungkusan kertas berisi roti rasa kopi. Sesekali matanya diarahkan ke luar, memandang jam tangannya sebentar, lalu kembali sibuk mengisi rongga mulutnya. Di tengah kesibukannya mengunyah, ada sorot gelisah yang tampak di kedua matanya. Seperti menunggu sesuatu yang tak kunjung datang.

“Rendi!”

Belum sempat lelaki itu menelan rotinya, orang yang sedari tadi ditunggunya itu sudah menepuk-nepuk pundaknya lumayan keras.

“Astagaa, biarlah saya telan dulu rotinya, bro. Jangan main peluk saja kamu ini. Lagian kita kan sama-sama laki-laki, nggak enak juga dilihat orang.”

“Soriii, bro! Ndak kira lah saya masih sempat ketemu kamu.”

“Bukan main. Sudah berapa lama kamu di Jakarta?”

“Hmmm, kira-kira hampir empat tahun saya di sini, Ren, kenapa memang?”

“Nggakpapa, saya kira kamu bakal nyapa saya pakai lu-gua, hahaha”

Lelaki bernama Rendi itu pun menggeser tempat duduknya, memberi tempat untuk orang yang sudah dinantikannya sejak tadi.

“Saya boleh lama di rantauan, tapi logat sepertinya lebih kuat melekat, Ren. Sama lah seperti kamu. Ah iya, maaf ya tiga bulan ini saya sibuk sekali, ndak bisa temani kamu keliling-keliling Jakarta.”

“Nggakpapa, saya paham lah kesibukannya anak buah Bu Menteri.”

“Ah, jangan gitu lah. Saya kan cuma remah-remah roti, Ren, kayak yang kamu makan itu. ”

Lalu keduanya tergelak.

“Ah iya, apa kabar si Rania?”

“Kami dah lama putus, Ren. Sudahlah nggak usah dibahas. Kamu sendiri gimana? Masih sama yang dulu?”

“Sama lah nasib kita, bro. Ah iya, saya jadi ingat, kapan hari saya ketemu salah satu spesies perempuan yang unik banget.”

“Unik gimana, Ren?”

“Sejak pertama saya lihat dia di tempat ngopi itu, saya langsung ngerasa ada yang beda sama dia. Pertama, dia selalu sendirian. Ke dua, dia nggak pernah pesan kopi, padahal di situ menu default-nya ya kopi.”

“Ke tiga?” lelaki di sebelah Rendi ini mulai tampak penasaran, kedua alisnya nyaris saling bertautan.

“Yang ke tiga, yang baru saya tahu waktu saya nekad ngajak dia ngobrol.”

“Ngajak ngobrol? Serius, Ren?”

“Saya serius. Hal ke tiga yang bikin dia beda adalah, dia begitu terbuka sama orang asing.”

“Jadi orangnya ramah, gitu?”

Rendi terlihat berpikir sejenak.

“Nggak bisa dibilang ramah juga, sih, bro. Dia itu dingin malahan sebenarnya. Tapi dia bisa bikin saya yang orang asing ini, nyaman ngobrol sama dia.”

“Hmm, aneh.”

“Kita selalu bisa ngerasain kan, kalau orang yang kita ajak bicara itu ngerasa nggak nyaman sama kita? Itu yang nggak saya rasakan ketika ngobrol sama dia.”

“Kok kayaknya kamu terkesan banget sama dia, Ren? Suka ya?”

“Sudah cukup lah saya nggak mau LDR lagi, bro. Nanti putus lagi, gagal kawin lagi lah saya.”

“Jangan galau gitu, lah, Ren!”

“Eh saya nggak galau. Coba lah bro, kalau waktumu luang di hari Jumat malam, kamu pergi ke tempat ngopi di Atrium situ, tuh. Cari perempuan yang duduk di sebelah jendela besar.”

“Kalau ada banyak perempuan yang duduk di sebelah jendela besar?”

“Perempuan ini eye-catching banget, bro. Dia punya dua lesung pipi yang kelihatan jelas banget kalau dia ketawa. Rambutnya pendek sebahu. Kalau kamu cari tipe perempuan yang unik. Saya sarankan sekali kamu coba temui perempuan ini, bro.”

Setelah mengamati jam tangannya beberapa saat, Rendi tampak bersiap-siap. Diikuti teman bicaranya sejak tadi, mereka menuju area parkiran sebelah kiri. Tepat waktu, bus Damri berwarna putih baru saja melewati palang pintu masuk.

“Jam berapa pesawatmu balik Bontang?”

“Masih jam 9 nanti. Mending nunggu daripada ketinggalan pesawat, kan.”

“Tiga bulan di Jakarta, kamu sudah belajar banyak dari macetnya kota ini, Ren.”

Rendi tertawa. Kemacetan Jakarta, sesuatu yang dia benci itu sebentar lagi mungkin akan jadi sesuatu yang dia rindukan suatu saat nanti.

“Saya berangkat, bro. Kapan-kapan mainlah ke Bontang.”

“Beres. Salam buat ibu bapak dan adik-adikmu, ya, Ren.”

“Siap. Oke, sampai ketemu lagi, bro!”

Sekali lagi mereka berdua berpelukan. Salam perpisahan dari dua orang teman akrab semasa kuliah. Rendi yang memilih kembali ke pangkuan kampung halaman, sementara lelaki yang dipanggilnya “bro” ini masih belum lelah berkelana, menjajaki tempat-tempat baru yang belum pernah dia jamah sebelumnya.

Sebelum benar-benar naik ke bus, Rendi menoleh ke arah teman baiknya itu sambil berkata,

“Perempuan itu… Namanya Faya.”

***

Gambir masih penuh dengan hiruk pikuk kesibukannya. Sementara teman baik Rendi juga sedang sibuk menimbang-nimbang.


Besok kan, hari Jumat.

Selasa, 04 Oktober 2016

Percakapan di Pesisir

3

pict taken from yogyakarta.panduanwisata.id

Seperti biasa aku selalu harus mengaduk-aduk isi tasku dulu untuk bisa menemukan name-tag yang terselip di antara notes, payung, dompet, dan penghuni tasku yang lain. Tote bag, model tas paling favorit, sekaligus paling menyusahkan karena hanya ada satu kantong untuk semua barang. Favorit tapi menyusahkan? Yeaa, karena kerumitan macam itulah yang membuatku disebut perempuan.

“Makanya name-tag tuh dipakai, jangan dimasukin dalam tas!”

Haikal tiba-tiba sudah ada di sebelahku, melepas sejenak name-tag yang diselipkan di sakunya, dan taraaaaaaa… pintu terbuka.

“Nggak mau ah, ntar penumpang-penumpang angkot jadi tahu namaku semua dong. Kalau aku digodain ntar gimana?” sahutku cuek.

“GR amat, lu.”

Tepat sebelum Haikal masuk ruangannya (yang notabene bersebelahan dengan ruanganku), kutarik sedikit jaket hitamnya.

“Kal, Kal, tunggu bentar,” pintaku.

“Apaan?”

“Kal kapan liburan lagi, Kal? Masa terakhir kali liburan bareng temen-temen di sini kan hampir setahun yang lalu. Mumpung lagi musim panas, nih.”

“Musim panaaaas, kayak di Eropa aja ada musim panas segala. Hahahaha. Hmm, liburan ya? Boleh juga ide lu. Lu mau kemana? Ke gunung? Ke kota? Ke goa? Atau ke pantai?”

“Pantai!”

“Yaudah, nanti gua cari destinasi yang pas. Mau ambil cuti sekalian?”

“Ih jangan, sayang cutinya. Weekend aja.”

“Okelah.”

***

Dermaga Pulau Pari menyambut kami berdelapan yang hampir tiga jam mengarungi lautan. Pulau ini adalah salah satu dari gugusan Kepulauan Seribu, salah satu destinasi yang tepat untuk sejenak menghilangkan penat di ibu kota. Kalau kantong cekak, bisa naik kapal dari dermaga Kaliadem. Tapi kalau ada uang lebih, naik kapal via Ancol tentu lebih nyaman dibandingkan berdesak-desakan dalam kapal yang bersandar di Muara Angke ini.

Setelah turun dari kapal, bisa ditebak, aku mengamati mereka bertujuh yang sedang asyik wefie dengan action-cam milik Haikal. Haikal melambaikan tangannya, isyarat untuk mengajakku berada dalam satu frame dengan mereka. Tiga jepretan, lalu kami berjalan lagi mengikuti Bang Salim, tour guide kami selama di Pulau Pari ini.

“Lu kenapa sih, nggak biasanya lu pendiem gini?”

“Nggakpapa kok, I’m okay.”

“Yailah pakai ngeles segala. Kenapa? Gara-gara ini open trip? Kamu jadi berasa jalan-jalan sama orang asing, gitu?”

“Ah, you know me so well, lah, Kal. Aku kan emang ngerasa lebih nyaman kalau liburan sama orang yang aku kenal.”

“Lu kenal gua. Lagian kan lu tau sendiri, pas gua lempar ajakan di grup kantor, weekend ini banyak yang pada pulang kampung. Sementara lu buru-buru pengen ngetrip. Jalan tengahnya ya ini. Nikmatin aja, nggak selamanya stranger itu annoying. Okay?”

Aku menarik napas panjang, “Okay, boss.”

Agenda pertama dan utama di siang hingga sore hari nanti adalah snorkeling. Berita buruknya aku nggak bisa berenang, tapi berita baiknya adalah nggak perlu bisa berenang untuk ikutan snorkeling. Yeay!

Perahu kami bergerak dari spot snorkeling satu ke spot berikutnya. Masing-masing spot punya kelebihan tersendiri. Di spot pertama, nggak terlalu banyak ikan di sana, tapi terumbu karangnya memang jempolan, warna-warni, bentuknya pun macam-macam. Lain lagi dengan spot ke dua, di sini bisa dijumpai banyak jenis ikan kecil-kecil. Kalau saja nggak ada larangan, rasanya mau aku masukin plastik saja deh, ikan-ikannya.

Hobi sepertinya memang bisa jadi bahan pembicaraan yang paling asyik. Kami berdelapan yang baru bertemu hari ini, bisa langsung akrab hanya karena sharing tentang tempat-tempat wisata yang pernah kami kunjungi. Aku nggak begitu banyak bicara, tapi juga sudah nggak sependiam sebelumnya. Haikal benar, nikmati saja.

Sore itu kami menikmati sunset di Pantai Lipi. Pantai yang luas, dengan rerimbunan tanaman bakau di beberapa sisinya. Bakau punya peran yang besar untuk menjaga kelestarian pesisir. Bukan hanya meredam gelombang, lebih dari itu, bakau pun jadi habitat yang nyaman untuk ikan-ikan kecil di sana. Dan tentu saja, jadi spot foto yang unik untuk turis-turis macam kami ini.

***
Jam lima kurang lima belas, tiga perempuan di sebelahku nggak berhasil kubangunkan. Ada agenda mengejar sunrise pagi ini di Pantai Pasir Perawan, dan jujur saja aku sama sekali nggak ingin melewatkannya. Seandainya harus ke sana sendirian pun, aku nggak masalah. Toh hanya perlu bersepeda selama selama 5 menitan untuk sampai ke sana.

Akhirnya kuputuskan untuk berangkat sendirian saja. Setelah merapatkan jaket, aku membuka pintu rumah, dan tiba-tiba..

“Mau kemana?”

“Astaghfirullah!”

“Eh, maaf, kaget ya?”

“Astaga, kamu udah bangun toh, ternyata? Kirain masih molor kayak yang lain. Udah sholat subuh?” tanyaku sambil menghela napas panjang demi meredakan debar jantungku yang nyaris lepas karena tak menyangka ada Vero di teras rumah.

“Udah tadi di masjid.” jawabnya.

“Oooh, bagus deh.” Aku segera menghampiri sepedaku dan bersiap berangkat.

“Eh pertanyaanku belum kamu jawab. Kamu mau kemana?”

“Mau ngejar sunrise ke Pantai Pasir Perawan.” jawabku cuek.

“Ikut.”

Jadilah pagi itu, kami berdua mengayuh sepeda demi bisa menikmati sunrise. Sebenarnya aku nggak berharap Vero ikut, akan lebih menyenangkan kalau aku menyaksikan matahari terbit sendirian saja. Pasti lebih syahdu rasanya.

Benar saja, lima menit kemudian kami sampai. Pantai masih sepi, kami segera duduk senyaman mungkin beralaskan pasir pantai. Sunyi, langit masih gelap. Hanya ada kami, bintang-bintang di langit, dan suara riak ombak dari kejauhan.

“Kamu sering ke pantai?“

Pertanyaan Vero memecah kesunyian diantara kami.

“Nggak juga. At least setahun sekali lah, aku ke pantai. Aku nggak kayak kamu yang traveler sejati, hampir tiap weekend ngebolang kemana-mana.”

“Eh? Ternyata kamu nyimak juga ya ceritaku pas di perahu tadi siang? Aku kira kamu nggak dengerin.”

“Dari jarak sedekat itu, gimana bisa aku nggak nyimak cerita kalian masing-masing.”

“Apa yang kamu suka dari pantai?” tanyanya.

God, haruskah aku bercerita panjang lebar pada stranger satu ini?

“Banyak. Aku suka warna senja yang memantul di air laut. Aku suka dengerin suara ombak. Aku suka bikin jejak-jejak di pasir pantai.”

“Hmm..”

“Satu lagi. Aku suka cara pesisir yakin bahwa ombak, setelah mengambil beberapa butir pasirnya ke lautan, akan menggantinya dengan sesuatu yang berbeda. Mungkin dengan pasir yang baru, mungkin juga dengan cangkang kerang yang mengkilap. Pesisir nggak pernah tahu, tapi dia punya keyakinan dan kesabaran untuk itu.”

Dari sudut mata, aku bisa merasakan bahwa Vero sedang menatapku lekat. Aku menoleh padanya, dan aku benar. Seketika Vero kembali memandang lautan.

“Filosofi yang menarik. Aku aja nggak pernah kepikiran, tuh.”

“Jangan berlebihan.”

“Anyway, kamu sekantor ya, sama Haikal?”

“Iya. Kamu kayaknya udah akrab banget sama dia ya?”

“Gimana nggak akrab, aku temennya sejak kecil. Nasib juga yang membawa kami sama-sama merantau ke Jakarta. Yaah, ketemunya dia lagi, dia lagi.”

“Jodoh kali, kalian berdua.” Aku tertawa. Vero juga.

“Najis.”

Tak lama, matahari mulai menampakkan dirinya perlahan. Lingkaran berwarna keemasan itu demikian indah dan membius. Aku dan Vero berhenti berbicara. Kami hanya bisa takjub menyaksikan pemandangan yang langka ini. Pemandangan yang nggak akan bisa dijumpai di Jakarta, mengingat gedung-gedung pencakar langitnya sudah memenuhi pandangan ke angkasa. Jangankan sunrise, bintang saja sudah jarang bisa terlihat.

“Mmmm.. So, kapan ya bisa liburan bareng lagi kayak gini?” tanya Vero sambil memusatkan pandangannya padaku.

Aku berdiri, membersihkan bagian belakang celanaku dari pasir pantai yang mungkin masih menempel.

“Pantai ini. Liburan ini. Buatku nggak lebih dari sekedar tempat singgah dari rutinitas.”

Tatapan heran Vero mengikutiku.

Aku tersenyum, kemudian melangkah pergi menuju pohon tempat sepedaku kusandarkan.


Senin, 03 Oktober 2016

Kedai, Perkenalan, dan Perempuan Berlesung Pipi

1

pict taken from www.maketheworldcyou.com


“Selamat sore, selamat datang, mau pesan apa?”

“Hmm, lychee tea dingin for today. Thanks,” begitu saja lalu perempuan itu langsung melangkah meninggalkan kasir menuju tempat duduk favoritnya di sebelah jendela besar.

Mall ini bukanlah mall elite, tapi lokasinya yang strategis sungguh menjadi godaan tersendiri untuk dikunjungi. Apalagi, di tempat ini, di kedai kopi ini, perempuan itu seperti menemukan dunianya. Dia tak pernah suka tempat yang terlalu ramai, dan tempat ini memberikan suasana yang sesempurna keinginannya.

“Lihat deh, apa gua bilang, dia selalu duduk di situ.” seorang pelayan lelaki memulai percakapan dengan temannya.

“Siapa maksud lu?”

“Tuh, cewek yang tadi pesen lychee tea dingin,” katanya sambil mengangkat sedikit dagunya ke arah tempat duduk di sebelah jendela besar.

“Bukannya hampir tiap Jumat malam dia ke sini ya?”

“Yoi, dan selalu sendirian, hahaha”

“Ngapain lu ketawa? Lu pengen nemenin? Sana aja coba kalau berani.”

“Ngaco, lu.”

“Lah kok ngaco? Walaupun terkesan dingin, tuh cewek manis juga, lho. Lu pernah perhatiin dua lesung pipinya waktu senyum dan bilang ‘thanks’, nggak? Manis bener, cuy!”

“Dasar mata keranjang, lu!”

“Apanya yang mata keranjang? Gua Cuma ngomong fakta. Ah udahlah, gua mau beresin meja yang di sebelah sana dulu.”

Percakapan dua pelayan akhirnya terhenti. Tak ada yang salah dari apa yang mereka bicarakan sedari tadi. Mulai soal frekuensi kunjungan, tempat duduk favorit, sampai dua lesung pipi yang tampak ketika perempuan itu tersenyum.

Sebenarnya tidak banyak yang bisa dilihat dari balik jendela besar yang ada di salah satu sudut kedai ini, hanya ada persimpangan Senen yang dipenuhi kendaraan bermotor dan pemandangan fly over yang sepertinya tidak bisa banyak membantu mengurai kemacetan arus kendaraan yang menuju ke arah Matraman. Tapi ada satu hal yang disukai perempuan berlesung pipi itu:

warna-warni lampu mobil dan motor yang ada di jalanan.

Kerlip-kerlip itu mengingatkannya pada masa kecil yang indah di kampung halaman, tempat kakeknya dulu rajin mengajaknya berburu kunang-kunang. Tapi semuanya hanya tinggal kenangan. Kakeknya telah lama tiada, pun kampungnya, sudah berganti wajah menjadi kota besar.

Perempuan itu baru saja hampir berhasil menyendok sepotong lychee dari dalam gelas, ketika mendadak seorang lelaki duduk di hadapannya.

“Sorry, saya boleh duduk di sini?”

Dengan lesung pipi yang masih tersembunyi, perempuan berambut sebahu itu mengedarkan pandangannya ke sekitar, sebelum akhirnya menjawab, “Sepertinya masih banyak kursi yang kosong, kan?”

“Iya, saya tahu. Mmm. Saya hanya mau ngobrol sebentar, boleh?”

Perempuan itu menyandarkan tubuhnya ke sofa.

“Tergantung, mas.”

“Tergantung?” tanya lelaki itu tak paham.

“Iya, tergantung. Tergantung apakah kita akan sering bertemu lagi atau nggak.”

“Oh, itu. Saya sudah lama mengamati kamu yang sering berkunjung ke tempat ini, duduk di kursi yang sama, di hari Jumat malam. Bisa dibilang frekuensi kunjungan kita sama. Saya hanya tiga bulan di Jakarta. Lusa tugas saya selesai di sini, saya akan kembali ke Bontang sesegera mungkin. Jadi hampir bisa dijamin kalau kita nggak akan bertemu lagi.”

“Okay, good then. First, yang ingin saya tanyakan adalah, kenapa kamu ingin ngajak saya ngobrol?” perempuan itu merapikan anak rambutnya ke belakang telinga, seperti bersiap untuk mulai mendengarkan.

“Pertama, saya penasaran kenapa kamu selalu terlihat sendirian. Saya, hampir-hampir nggak pernah pergi sendirian. Saya selalu butuh teman bicara, teman ngobrol. Biasanya saya ke sini sama teman-teman, dan hari ini terpaksa saya harus pergi sendirian. Itu juga yang akhirnya membuat saya berani menghampiri kamu, supaya saya punya teman ngobrol, walau sebentar.”

“Memangnya apa yang salah dengan menghabiskan waktu seorang diri saja? Saya kasih tahu nih, mas. Saya kerja di kantor rata-rata 9 sampai 10 jam dalam sehari. Maka dalam jangka waktu itu juga saya berinteraksi dengan orang lain. Di akhir weekday, inilah waktu yang saya pilih untuk me time, menghabiskan waktu sendirian. Main sama temen paling kalau lagi ada yang ngajak ketemuan aja. Saya prefer istirahat kalau weekend.”

“Hmm, menarik. Kamu nggak ngerasa risih gitu, tiap ada orang yang pandangannya seolah bilang ‘ih kok sendirian doang, sih’? Kebanyakan orang akan merasa risih kalau mendapatkan pandangan itu, saya salah satunya.”

“Ngapain musingin orang?” perempuan itu tertawa kecil, kedua lesung pipinya terlihat jelas.

Lelaki di hadapannya tertawa terbahak, seperti mendengar lelucon yang paling konyol. Lalu sejenak kemudian pandangannya beralih ke novel bersampul merah tua di pangkuan perempuan itu.

“Kamu suka baca?” tanyanya.

Si perempuan berlesung pipi kemudian mengangkat novel yang baru dibacanya separuh itu.

“Ya, saya suka baca. Kamu tahu Tere Liye?”

“Iya tahu. Tapi saya nggak ngikutin bukunya, sih. Salah satu penulis favorit kamu?”

“Yeaa, bisa dibilang begitu. Ini novel Matahari, lanjutan seri Bumi dan Bulan, kalau suatu saat kamu penasaran dan ingin baca. Saya saranin sih, kamu baca mulai buku pertamanya. Ceritanya nyambung.”

“Oooh, nice. Ah iya, kamu sudah lama kah di Jakarta?”

“Kalau satu tahun lima bulan itu dibilang lama, berarti iya, saya sudah lama di Jakarta.”

“Kamu betah?”

“Betah aja.”

“Saya tiga bulan di Jakarta, rasanya sudah pengen balik ke Bontang aja sejak minggu pertama.”

“Why?”

“Jakarta macetnya ampun-ampunan, beda dengan di Bontang.”

Kali ini, perempuan itu yang terbahak.

“Ya iyalah!” tuntas tertawa, perempuan itu memandang ke luar jendela. Kemacetan masih mengular, dia menghela napas panjang dan melanjutkan kata-katanya.

“Buat saya, mas, Jakarta adalah tempat dimana hal-hal baik dalam hidup saya bermula. Pekerjaan yang baik, kondisi finansial yang baik, kehidupan yang lebih baik. Kemacetan hanyalah nila setitik yang menurut saya seharusnya nggak akan merusak susu sebelanga, kebaikan-kebaikan lain yang ada di kota ini. Saya selamanya nggak pernah setuju dengan peribahasa itu, anyway.”

“Begitukah? Mungkin memang saya harus tinggal lebih lama di Jakarta ya, supaya nggak hanya dapat macetnya aja?”

“Bisa jadi, mas.”

“Okay, sepertinya saya harus duluan. Terima kasih ngobrol-ngobrolnya, walau sebentar.”

“It’s okay. Saya masih akan di sini, silakan duluan.” jawabnya pendek.

Lelaki berbaju biru tua itu sudah berjalan beberapa langkah sampai akhirnya memutuskan untuk kembali menuju tempat duduk di samping jendela besar.

“Sorry, boleh saya tahu nama kamu? Saya Rendi,” ucapnya sambil mengulurkan jabat.

Perempuan berlesung pipi itu sejenak ragu.

“Just call me Faya.”
   


Minggu, 02 Oktober 2016

Dua Jam Sebelum Terbang

0




Aku selalu suka penerbangan di pagi hari. Itulah sebabnya, bisa dihitung dengan jari aku naik pesawat ketika hari sudah gelap. Aku lebih suka memandang angkasa yang benderang, dibanding mengamati kerlip lampu kota dari ketinggian. Jadi sepagi ini, di kala orang-orang lebih memilih bergelung di balik selimutnya berteman hawa dingin hujan, aku sudah turun dari mobil dan melangkahkan kaki masuk bandara.

Penerbanganku masih sekitar dua jam lagi, jadi aku memutuskan untuk mampir dulu ke kedai kopi sejuta umat. Segelas green tea frappe dan dua potong risol sepertinya cocok mengganjal perut untuk sementara waktu.

Salah besar jika aku mengira sepagi ini orang-orang belum berminat minum kopi. Kedai ini penuh sekali. Ah, ada satu kursi kosong ternyata, di depan seorang perempuan muda. It’s okay, semoga dia mau sharing meja denganku.

“Permisi, mba. Saya boleh duduk di sini?” tanyaku sambil mencoba menemukan kedua matanya yang menerawang ke pintu masuk gerbang keberangkatan, seperti menunggu sesuatu. Atau seseorang?

“Oh, boleh. Kosong kok, silakan,” katanya sambil tersenyum, membuat kedua lesung pipinya terlihat jelas.

Aku pun duduk, dan segera menyeruput green tea frappe-ku. Green tea frappe dingin. Bahkan di hari yang dingin pun aku tetap suka minuman dingin. Aku tak pernah suka minuman panas, menurutku itu tidak bisa menghilangkan dahaga sama sekali. Perempuan muda di depanku ini hanya diam. Aku juga tidak mengajaknya berbicara. Entahlah, sepertinya dia juga tidak begitu berminat untuk mengobrol.
Kebekuan itu hanya bertahan sekitar sepuluh menit, sampai kulihat air matanya menetes dan membuatku hampir tersedak.

“Mba, perlu tisu?” aku mengangsurkan sekotak tisu travel pack-ku kepadanya. Dia tersenyum, mengambil beberapa lembar, lalu terdiam lagi.

Tepat sebelum aku mengeksekusi potongan terakhir risol di piring, perempuan ini akhirnya bicara juga.

“Saya boleh cerita?” tanyanya.

What? Cerita? Memangnya kita saling kenal? Tapi demi melihat matanya yang masih berkaca-kaca..

“Sure, why not. Mba mau cerita apa?” kataku akhirnya. Tak ada ruginya aku mendengarkan, toh penerbanganku masih lama.

“Kamu pernah nggak, sengaja ingin pergi dari seseorang yang kamu sayangi?” tanyanya sambil menatapku. Matanya mengerjap-ngerjap, seolah mencegah tetesan air matanya mengalir lagi.

“Mmm, nggak pernah, sih, mba. Kenapa memangnya?”

“Itu yang sedang saya lakukan sekarang. Pergi dari orang yang saya sayangi selama tiga tahun belakangan ini.”

Hening sejenak, aku bingung harus bagaimana menanggapinya. Haruskah aku melempar pandangan bersimpati? Atau cukup ucapan “oh” saja? Mimpi apa lah aku dicurhati orang yang tidak aku kenal pagi-pagi seperti ini.

“Hah? Kenapa harus pergi Mba?”

Aku mencoba terlihat tertarik dengan ceritanya, siapa tahu itu bisa sedikit menghibur hatinya. Sok sekali, padahal aku sendiri sedang butuh dihibur.

“Karena nggak akan ada masa depan buat kami berdua..” kalimatnya terasa menggantung, dan yaaa, aku mulai penasaran sungguhan.

“Mmm, memangnya dia siapanya Mba? Pacar Mba?”

Tiba-tiba dia tersenyum, kemudian menarik napas panjang, seperti bersiap untuk bercerita panjang lebar.

“Jakarta sudah lebih dari sekedar kota rantauan buat saya. Dua tahun pertama yang sepi, sampai di tahun ke tiga, dia datang dan hari-hari indah saya pun dimulai. Dua tahun lamanya kami dekat, mencoba saling tahu kesukaan masing-masing, pergi ke kedai kopi setiap hari Sabtu, berkirim kabar ketika sedang berjauhan, dan banyak lagi hal-hal indah yang sampai sekarang masih melekat di ingatan saya. “

Aroma kopi menguar di seantero kedai. Hiruk pikuk orang-orang yang mengobrol di sana-sini seketika seperti hilang suara di telingaku. Entah bagaimana caranya, perempuan berbaju merah maroon di depanku ini seakan menghipnotis aku untuk turut meresapi ceritanya, menyelami luka yang sedang merayapi hatinya, sejenak lupa kalau aku sendiri punya luka yang harus disembuhkan.

“Hmm, lalu?” tanyaku ragu-ragu.

“Lalu setahun yang lalu, kami memutuskan untuk membawa hubungan kami ke arah yang lebih serius.”

“Pernikahan?” tanyaku tercekat.

“Tepat. Tapi semua tidak berjalan dengan mulus seperti bayangan kami sebelumnya.”

“Why?”

“Difference.”

“Perbedaan apa?”

“Perbedaan yang nggak mungkin untuk disatukan.”

“Bukannya segala sesuatu pasti ada jalan keluarnya, Mba? Memangnya perbedaan apa yang sampai nggak mungkin untuk disatukan?” tanyaku tak paham.

“Jalan keluarnya hanya satu, saya atau dia dilahirkan kembali. Dan itu mustahil, kan? Kita nggak pernah bisa memilih rahim tempat kita berdiam hingga lahir ke dunia.”

Dia tertawa kecil, tawa yang pahitnya bisa terasa sampai ke ulu hati. Aku masih tak paham juga perbedaan apa yang dia bicarakan. Tapi, memperkirakan bahwa mempertanyakan perbedaan itu akan membuat luka hati perempuan ini semakin menganga lebar, kuurungkan niatku.

“Ehm, lalu kalian memutuskan untuk berpisah, gitu?”

“Saya yang mundur. Pernikahan itu bukan hanya menyatukan dua orang anak manusia. Lebih dari itu, pernikahan itu momen bersatunya dua keluarga. Kalau sejak awal keluarganya nggak bisa menerima saya, untuk apa bersikeras dilanjutkan. Itu yang ada dalam pikiran saya.”

“Dia tahu, hari ini Mba pergi?” selidikku demi melihat dua koper besar berwarna biru muda di belakang kursinya. Perempuan ini pasti mau pergi dalam waktu lama.

“Nggak. Tapi kalau kamu menebak saya diam-diam berharap dia datang ke sini dan mencegah saya pergi, kamu benar.”

Aku hanya bisa menatapnya iba, dan diam-diam mencoba membayangkan betapa hancurnya hati perempuan ini terpaksa meninggalkan orang yang dia sayangi. Tunggu. Mencoba? Benarkah aku mencoba?

“Hanya dengan cara seperti ini, saya bisa membuatnya berhenti memperjuangkan saya di hadapan keluarga besarnya.”

Sejenak perempuan berambut pendek ini melihat arloji pink yang melingkar di pergelangan tangannya, memastikan waktu. Lalu dipindahnya ponsel dan dompetnya dari atas meja ke dalam ransel kecil yang sedari tadi ada di pangkuannya.

“Okay, time’s up. Saya harus pergi. Eh, terima kasih ya, sudah mendengarkan saya bercerita, padahal kita nggak saling kenal.”

“It’s okay, Mba. Semoga dengan cerita sama saya, beban di hati Mba bisa sedikit berkurang.”

Kami berdua berdiri, saling bersalaman. Entah kenapa tak satu pun dari kami yang berniat menanyakan nama. Bergegas dia melewati meja kami menuju pintu keluar kedai.

Aku yakin masih banyak cerita perpisahan yang terpendam dalam setiap langkah-langkah yang menjejak lantai bandara ini. Perpisahan tidak pernah indah, bagaimanapun bentuknya. Di sela-sela kebanggaan menerima beasiswa ke luar negeri, ada anak yang diam-diam sedih meninggalkan orang tuanya di tanah air. Di balik bergengsinya amanah tugas ke kota besar, ada seorang ibu yang tidak rela harus berpisah dengan bayi mungilnya barang sehari pun.

Tidak ada orang yang suka dengan perpisahan. Tidak ada.

Aku memandang jendela, hujan masih juga turun dengan derasnya. Bayangan Vero menari-nari dalam kepalaku. Apa yang akan dilakukan lelaki itu jika tahu aku benar-benar pergi? Bohong jika tadi kukatakan bahwa aku tidak pernah dengan sengaja pergi meninggalkan orang yang aku sayangi. Itulah yang sedang kulakukan sekarang. Dan kalau saja aku tidak bertemu perempuan tadi, mungkin sudah kusobek tiket dalam genggamanku ini, mencoba mengulang semua dari awal lagi. Tapi kini tekadku sudah bulat, demi teringat kata-kata perempuan itu sebelum kami benar-benar berpisah tadi…

“Adalah menyakitkan ketika saya dan dia duduk bersisian, namun sebenarnya ada jarak bernama perbedaan yang membentang demikian luas. Dengan kepergian saya, jarak tak kasat mata itu akan mewujud dalam angka, nyata senyata nyatanya. Keadaan itulah yang pada akhirnya akan membuat kami lebih mudah memaafkan diri kami sendiri karena menemukan alasan yang tepat untuk saling berhenti berharap dan mengandaikan masa depan yang sejak awal sebenarnya tidak pernah ada untuk kami.”



God, bagaimana bisa perempuan tadi seakan membuatku bercermin?

Senin, 12 September 2016

Book Review: Metafora Padma by Bernard Batubara

0

pict taken from goodreads.com

Bernard Batubara adalah salah satu penulis favoritku. Hampir setiap dia nerbitin buku baru, aku selalu beli. Kenapa aku bilang hampir? Karena, yang aku beli adalah buku kumpulan cerpennya. Untuk novel, aku belum pernah baca karyanya, hehe. So, ketika aku tahu Bara baru aja nerbitin buku kumpulan cerpen, langsung lah aku beli. Dan, Metafora Padma-nya Bara kali ini habis dalam sekali duduk saja :p

Terakhir kali baca karyanya Bara adalah kumpulan cerpennya yang berjudul "Jatuh Cinta adalah Cara terbaik Untuk Bunuh Diri" (bisa lihat review nya di sini). Dari segi jumlah/tebal halaman, Metafora Padma jauh lebih tipis dari buku sebelumnya. Tapi, ada satu kesamaan dari kedua buku ini, yaitu sama-sama punya atmosfer suram. Suram? Iya, suram abis.

First of all, ada 11 cerpen dalam Metafora Padma yang bakal membuatmu terhanyut dalam kesuraman peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya. Menurutku, ada beberapa cerpen yang implisit banget, dan aku nggak bisa nangkep makna atau maksud sebenarnya. But, seperti yang aku bilang sebelumnya, kalau kamu berharap menemukan kisah-kisah manis nan unyu-unyu karena terpikat sama cover-nya yang bergambar bunga mawar merah, siap-siap saja kecewa. Beberapa kali aku sempat bergidik ngeri (fyi, aku nggak seberapa suka sesuatu yang sadis-sadis, thats why aku nggak suka nonton film thriller T.T), tapi yaa karena penasaran, aku terusin aja bacanya, hehe. 

Anyway, Metafora Padma memang nggak berisi kisah manis penuh romansa, tapi nggak berarti Bara kehilangan kemampuan untuk mempesonakan pembacanya. Bara berhasil menciptakan setting yang terasa dekat sekali dengan pembacanya. Bikin aku berasa ada di situasi yang sedang dia gambarkan dalam cerita. Ambillah kisah pahit Harumi dalam cerpen Perkenalan, masa lalu Fu yang kelam lewat cerpen "Es Krim", dan sembilan cerpen lainnya yang yaaah at least bisa bikin aku ngebatin "astagaaa.." sambil berasa miris-miris gimana gitu T.T 

Wondering mengapa Bara bikin kumpulan cerpen yang suram-suram begitu (dan ada beberapa cerpen yang setting-nya sama), terjawab sudah ketika aku selesai membaca bukunya dan baca bagian "ucapan terima kasih"..

Tidak lupa: Glori Paputungan, terima kasih. Kamu yang sudah memberi saya keberanian untuk menceritakan apa yang sebetulnya tidak ingin saya ceritakan.

Penasaran sesuram apa atmosfer dalam buku ini? :p     

Sabtu, 03 September 2016

Book Review: The Architecture Of Love by Ika Natassa

0

pict taken from goodreads.com
Actually sudah cukup lama merampungkan baca buku ini, tapi baru sempat bikin reviewnya sekarang. Setelah Critical Eleven (bisa baca review yang aku buat di sini), aku memutuskan untuk beli buku terbarunya Ika Natassa, The Architecture Of Love. Novel juga, masih soal romansa juga.

Novel Ika kali ini menceritakan seorang penulis bernama Raia, yang sedang mengalami writer's block parah. Setelah menelurkan karya hebatnya, tiba-tiba dia jadi stuck nggak bisa nulis apa-apa lagi. Tidak ada satu karya pun yang bisa dia hasilkan, layar laptopnya tetap kosong walau dia sudah berusaha mati-matian mengetik setidaknya sebuah cerita. Jadilah Raia memutuskan untuk pergi jauh sejenak, berharap bisa menemukan inspirasi di tempat barunya nanti. New York jadi pilihan Raia untuk menyehatkan jiwa penulisnya lagi.

New York memang menyimpan banyak cerita, tapi, sampai musim berganti pun, Raia tidak kunjung menemukan secuil ide untuk karya barunya. Di tengah rasa frustasinya, Erin, sahabat Raia, yang juga memberi tumpangan hidup untuk Raia selama di New York, mengajak Raia pergi ke pesta tahun baru yang digelar teman-teman kuliahnya. Di sanalah Raia bertemu dengan River, lelaki yang nantinya menjadi chapter baru dalam cerita hidup Raia.

Novel The Architecture of Love ini, sebagaimana novel romantis lainnya, menurutku punya ending yang mudah untuk ditebak. Jadi, buat aku pribadi, dari segi jalan cerita, nggak begitu mengaduk-aduk perasaan. Nggak sampai bikin terenyuh, apalagi sampai menitikkan air mata, walau ada part sedihnya juga. Kalau diminta ngasih nilai, ummm 3 of 5 lah. Itu juga bukan tentang story-nya yang bikin aku kasih nilai 3, tapi hal lain yang justru lebih menarik daripada keseluruhan kisah Raia dan River itu sendiri. What was that?

Aku suka banget cara Ika Natassa menciptakan tokoh-tokoh dalam buku ini. Harus aku akui bahwa, Ika punya kemampuan bikin penokohan yang kuat dan menarik, dengan detail-detail yang bikin aku mikir "astaga kepikiran banget yaa bikin tokoh yang punya kebiasaan macam ini..". River, tokoh utama lelaki dalam novel ini, diceritakan sebagai sosok yang cool, nggak banyak bicara, fully passionate in architecture. Di antara semua sifat/karakter yang manly banget macam itu, River punya kebiasaan lucu yaitu nyobain popcorn bioskop. Dia bahkan punya daftar urutan popcorn terenak di bioskop-bioskop New York. Hal-hal semacam ini yang bikin aku suka baca novelnya Ika Natassa, penokohan yang kuat dan menarik.

Sementara itu, my con's about this novel adalah terlalu banyak detail penceritaan yang menurutku nggak seberapa perlu, yang berakibat pengen langsung nge-skip aja ke halaman berikutnya. Mungkin ini juga pengaruh PoV orang ke tiga, jadi penulisnya kudu menjelaskan sejelas mungkin perasaan atau sesuatu yang lagi ada di pikiran para tokohnya. Oh iya, dalam novel The Architecture of Love ini juga bisa dijumpai part yang pakai gaya penceritaan dua sisi, seperti yang Ika tulis sebelumnya di Critical Eleven.

Overall, I'm not gonna say that this is a must buy novel. Tapi, kalau kamu suka memperhatikan hal-hal kecil selain jalan cerita (yang biasanya jadi fokus utama penikmat fiksi) seperti aku, misal tertarik dengan detail penokohan atau cara penulisnya menggambarkan setting cerita, bolehlah coba dinikmati karya terbaru Ika Natassa ini.

Jadi, setelah ini baca buku apa lagi ya? :)