Senin, 03 Maret 2014

Pilihan ke Dua

2

Pagi ini badan rasanya njarem semua, dan mata beraaat banget buat dibuka. Berangkat kerja dengan suasana hati yang nggak begitu bersemangat. Sampai kantor belum dijejali satu pun pekerjaan sampai jam segini. Apalah guna berangkat kerja kalo sampai kantor cuma bengong? Kalau yang lain mungkin hepi dengan ke-tidak-ngapa-ngapain-nya, saya sebaliknya. Saya merasa nggak berguna. Ya walaupun sudah dijelasin sih, esensi dari OJT cpns itu beda banget sama OJT perusahaan swasta. Menurut surat edaran, OJT untuk cpns itu sebagai pengenalan suasana kerja aja, dan memang belum boleh dikasi pekerjaan yang tanggung jawabnya besar. Hoahm. Jadilah saya harus menerimanya dengan lapang dada, walaupun rasanya udah pengen banget sibuk ngerjain ini itu

Kalo rasa males mulai muncul, saya ngakalinnya dengan cara inget-inget usaha saya dulu, sama pengorbanan keluarga juga buat nganterin saya sampai bisa ke sini. Kerja di kementerian keuangan memang bukan pilihan pertama saya. Selesai kuliah, saya ngelamar kerja di dua tempat, PCPM Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan. Alhamdulillah keduanya sampai tahap akhir, dan BI yang benar-benar jadi keinginan terbesar saya. Mungkin kalo diibaratkan SNMPTN, BI itu pilihan pertama, Kemenkeu pilihan ke dua. Dan Tuhan menakdirkan pilihan ke dua itu untuk saya.

Sejak lulus SD, saya selalu mendapatkan pilihan pertama. Saya masuk di SMP pilihan pertama saya. Lulus SMP, saya pun berhasil masuk SMA pilihan pertama. Bahkan ketika masuk kuliah, saya juga diterima di jurusan pilihan pertama saya. Baru kali ini, saya mendapatkan pilihan ke dua.

Postingan ini saya tulis untuk berbagi pelajaran, tentang penerimaan diri atas pilihan ke dua yang harus saya dapatkan. Saya merasakan kekecewaan, walau tidak begitu besar. Karena saya tahu, Kemenkeu pun juga bukan instansi sembarangan, saya bersyukur sekali bisa diterima di sini.

Di sini, saya belajar untuk berbahagia dan bersyukur dengan pilihan ke dua. Kalau rasa malas mulai menyerang, adakala nya  saya berandai-andai, bagaimana jika saya diterima di BI? Mungkin pekerjaannya akan lebih menantang, lebih menarik, lebih ini, lebih itu, dan segudang lebih yang lainnya. Tapi kemudian saya ingat, bukankah yang kita inginkan bukan selalu yang kita butuhkan? Saya menginginkan BI, tapi mungkin bukan BI yang sebenarnya saya butuhkan.

Dan, bukankah Allah SWT selalu memberi yang kita butuhkan?

Seketika itu juga saya merasa damai. Kemenkeu, nggak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Orang-orangnya bersahaja, minim sekali persaingan. Di sini, saya nggak perlu susah-susah mikir padu padan baju buat kerja, nggak perlu ribet gaya-gayaan, karena baju kerja ada aturan untuk tiap harinya. Di sini, orang-orangnya sederhana, salah satu hal yang bikin saya betah.

Di sini, saya memang nggak bekerja sesuai passion saya di dunia ke-sumber daya manusia-an, seperti apa yang saya pelajari pas kuliah dulu. Tapi, ini juga yang membuat saya harus membuktikan salah satu kelebihan yang saya tulis pas psikotes, yaitu "mau belajar". Di sini, saya benar-benar dituntut belajar hal-hal yang baru, yang belum pernah saya jumpai sebelumnya.

Postingan ini saya tulis bukan dalam rangka menyombongkan diri, tapi untuk sama-sama berbagi. Pilihan ke dua tidak selalu buruk, dan tidak selalu harus kita sesali (terlebih jika kita sudah mengusahakan yang terbaik). Pilihan ke berapapun itu, inilah yang Allah SWT pilihkan untuk saya. Pilihan ke berapapun itu, jika rasa syukur sudah menjadi pondasinya, Insya Allah segala sesuatunya akan terasa lebih ringan..

*ngomong sama cermin* 
:)

2 komentar:

  1. hilangkan berandai2.. karena kata2 "seandainya" itu adalah pintu masuknya syetan. "Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)
    Semangat bareng2 yooooo

    BalasHapus
    Balasan
    1. uwuwuu.., yoo semangaaaatttt :DDD

      iyaaa de', eh, maksudnya mbak fitrii :p
      heehehe

      Hapus